Indonesia
NovelToon NovelToon

- Believe In Magic -

Bab 1 Api yang Tak Terlihat

Langit pagi di kota Riston menggantung pucat, seperti menahan sesuatu yang belum sempat jatuh. Kabut tipis menyelimuti menara-menara Sekolah Sihir Everton, membuat bangunannya tampak seperti ilusi yang bisa hilang jika disentuh.

Di dalam salah satu aula latihan, suara mantra bersahut-sahutan.

“Fira lumen!”

“Ardentis!”

Kilatan cahaya berpendar di udara, sebagian berhasil membentuk bola api kecil, sebagian lain hanya memercik seperti kembang api yang gagal. Para murid berdiri berbaris, tongkat sihir terangkat, wajah tegang antara fokus dan takut salah.

Di barisan paling depan, Evelyn Edison berdiri dengan tenang.

Ia tidak terlihat terburu-buru seperti yang lain. Tidak juga tampak gugup. Jemarinya menggenggam tongkat sihir dengan ringan, seolah benda itu bukan alat, melainkan perpanjangan dari dirinya sendiri.

“Sekali lagi,” suara guru menggema, tegas namun terkendali. “Sihir bukan hanya tentang kekuatan, tapi kendali. Jika kalian tidak bisa mengendalikan sihir kalian, maka sihir itulah yang akan mengendalikan kalian.”

Beberapa murid menelan ludah. Ada yang mengangguk, ada yang semakin gemetar.

“Evelyn.”

Nama itu dipanggil seperti sebuah tanda. Semua mata langsung beralih padanya.

“Perlihatkan.”

Tak ada perubahan ekspresi di wajah Evelyn. Ia melangkah maju satu langkah. Aula terasa lebih sunyi, seperti menahan napas.

Tongkatnya terangkat.

Tak ada mantra yang diucapkan.

Namun udara di sekitarnya berubah.

Cahaya tipis mulai berkumpul di ujung tongkatnya, berputar perlahan, lalu membesar—bukan sekadar bola api biasa. Api itu berwarna biru pucat, hampir transparan, seperti nyala yang lahir dari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar panas.

Api itu melayang, stabil, tanpa getaran sedikit pun.

Beberapa murid menatap dengan mulut terbuka.

Guru yang mengajar memperhatikan dengan mata menyipit, lalu mengangguk pelan. “Kontrol yang sempurna. Tidak ada kebocoran energi, tidak ada fluktuasi. Seperti biasa… mengesankan, Evelyn.”

Satu kalimat pujian itu jatuh ke ruangan seperti batu ke permukaan air.

Dan seperti riak, bisikan pun mulai menyebar.

“Tentu saja dia bisa…”

“Anak kesayangan guru…”

“Ya iyalah, selalu dipuji…”

Suara-suara itu pelan, tapi cukup tajam untuk sampai ke telinga yang tepat.

Evelyn menurunkan tongkatnya. Api biru itu padam tanpa sisa, seolah tak pernah ada.

Ia kembali ke tempatnya tanpa berkata apa-apa.

Namun bisikan itu belum selesai.

“Lihat saja gayanya,” seseorang berbisik, kali ini sedikit lebih keras. “Sok tenang. Padahal cuma cari perhatian.”

“Dia pikir dia siapa?”

“Murahan banget.”

Kata terakhir itu seperti serpihan kaca kecil. Tidak cukup besar untuk melukai dalam-dalam, tapi cukup untuk meninggalkan goresan.

Evelyn mendengarnya.

Tentu saja ia mendengar.

Ia selalu mendengar.

Namun wajahnya tetap datar. Tidak ada perubahan, tidak ada reaksi. Seolah kata-kata itu hanya angin yang lewat, tak cukup kuat untuk menggoyahkan apa pun.

Padahal, jauh di dalam dirinya, sesuatu bergetar.

Bukan karena sakit.

Bukan karena sedih.

Tapi karena… lelah.

Guru kembali melanjutkan pelajaran, menjelaskan tentang struktur energi sihir, tentang bagaimana setiap emosi bisa memengaruhi hasil mantra. Namun bagi Evelyn, suara itu mulai terdengar jauh.

Pikirannya berjalan ke tempat lain.

Tempat yang lebih sunyi.

Murahan.

Ia mengulang kata itu dalam hati, bukan untuk merasakan, tapi untuk mengingat.

Bukan pertama kalinya ia mendengar hal seperti itu. Dan ia tahu, itu juga bukan yang terakhir.

Sejak pertama kali ia menunjukkan kemampuannya, sejak pertama kali ia melampaui batas yang dianggap “normal” oleh murid lain, jarak itu mulai terbentuk.

Awalnya hanya tatapan aneh.Lalu bisikan. Kemudian tuduhan.Dan akhirnya… pengucilan.

Lucunya, tak ada yang benar-benar tahu siapa Evelyn sebenarnya.Tak ada yang bertanya.

Tak ada yang mencoba . Mereka hanya melihat apa yang tampak—kekuatan, ketenangan, jarak—dan langsung menarik kesimpulan.

Sombong.

Dingin.

Tak tersentuh.

Evelyn menarik napas pelan.

Ia pernah mencoba.

Dulu.

Sebelum semuanya berubah menjadi seperti sekarang.

Sebelum ia menyadari bahwa mendekat pada orang lain hanya berarti memberi mereka kesempatan untuk pergi… atau lebih buruk, mengkhianati.

Tangannya sedikit mengencang pada tongkat sihir.

Sihir di dalam dirinya berdenyut pelan, seperti makhluk yang sadar akan pikirannya. Hangat, tapi juga… berat.

Ia sudah belajar satu hal penting.

Di dunia ini, kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.

Itu adalah kelemahan.

Dan kelemahan… selalu dimanfaatkan.

Pelajaran berakhir dengan dentang lonceng halus yang menggema di seluruh aula. Murid-murid mulai bergerak, sebagian mengeluh, sebagian tertawa, sebagian lagi masih membicarakan latihan tadi.

Evelyn berjalan keluar tanpa terburu-buru.

Seperti biasa, tak ada yang berjalan di sampingnya.

Lorong batu Sekolah Sihir Everton terasa panjang dan dingin. Cahaya dari jendela tinggi jatuh dalam garis-garis tipis, membelah lantai seperti potongan waktu.

Di salah satu sudut, suara tawa kecil terdengar.

“Eh, lihat. Si putri es lewat.”

“Jangan dekat-dekat, nanti kita dibekukan.”

Tawa pecah.

Evelyn tidak menoleh.

Langkahnya tetap stabil, seolah suara-suara itu tidak pernah ada.

Namun di dalam dirinya, sebuah kalimat kembali terpatri, semakin dalam, semakin kuat:

Aku tidak butuh mereka.

Ia mengulanginya seperti mantra.

Tidak butuh teman.

Tidak butuh siapa pun.

Karena teman… hanya akan menjadi pengkhianat yang menunggu waktu yang tepat.

Ia sudah melihatnya.

Ia sudah merasakannya.

Dan ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

Angin dari jendela yang terbuka menyentuh wajahnya, membawa aroma hujan yang belum turun. Langit di luar mulai menggelap, seolah menyimpan sesuatu yang lebih besar dari sekadar badai biasa.

Evelyn berhenti sejenak.

Matanya terangkat ke arah langit.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang terasa… familiar.

Sihir di dalam dirinya berdenyut lebih kuat, seperti menjawab panggilan yang tak terdengar.

Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresinya berubah.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Tapi… waspada.

Seolah dunia yang selama ini menjauhinya, kini justru mulai mendekat dengan cara yang tidak ia inginkan.

Dan di tengah langit yang semakin gelap, satu hal terasa jelas—

Apa pun yang akan datang… bukanlah sesuatu yang bisa dihadapi sendirian.

Namun bagi Evelyn Edison, kesendirian adalah satu-satunya hal yang ia percaya.

Bab 2 Dunia yang Disembunyikan

Senja di kota Riston turun perlahan, seperti tirai yang ditarik dengan hati-hati. Cahaya keemasan memantul di jendela-jendela tinggi Sekolah Sihir Everton, menciptakan bayangan panjang yang tampak hidup di lantai batu.

Jam empat sore.

Waktu di mana sebagian murid mulai lelah… dan sebagian lainnya justru harus bersiap menghadapi pelajaran yang lebih berat.

Aula kelas utama telah dipenuhi murid. Suasana lebih tenang dibanding pagi tadi, tapi bukan berarti lebih santai. Ada sesuatu dalam udara—sejenis ketegangan halus—seolah pelajaran kali ini bukan sekadar latihan sihir biasa.

Evelyn Edison duduk di bangkunya, sedikit menjauh dari kelompok lain seperti biasa. Tangannya terlipat di atas meja, matanya mengarah ke depan, namun pikirannya belum sepenuhnya hadir.

Bisikan pagi tadi masih tersisa seperti bayangan yang menempel.

Ia mengabaikannya.

Atau setidaknya, mencoba.

Pintu kelas terbuka.

Guru yang sama memasuki ruangan, langkahnya tenang namun membawa aura yang berbeda. Hari ini, tidak ada tongkat sihir di tangannya. Tidak ada buku mantra. Hanya sebuah kristal kecil yang berpendar samar.

Itu saja sudah cukup membuat ruangan menjadi sunyi.

“Pelajaran hari ini,” suara sang guru bergema, “bukan tentang bagaimana kalian menggunakan sihir… tapi tentang memahami dunia tempat kalian hidup.”

Beberapa murid saling pandang.

Topik itu terdengar… berbeda.

Guru itu mengangkat kristal di tangannya. Cahaya lembut menyebar, lalu membentuk bayangan di udara—sebuah gambaran langit luas, dipenuhi bintang-bintang yang berkilau seperti serpihan kaca.

“Dunia ini,” lanjutnya, “adalah dunia fantasi. Dunia sihir. Dunia yang tidak terhubung dengan dunia manusia.”

Bayangan itu berubah.

Kini terlihat sebuah planet—biru, hijau, berputar perlahan di ruang hampa.

“Ini,” katanya pelan, “adalah bumi.”

Beberapa murid terdiam. Sebagian terlihat kagum, sebagian lagi kebingungan.

“Tidak ada satu pun penyihir yang hidup di sana,” lanjut sang guru. “Bumi adalah dunia manusia. Dunia tanpa sihir. Setidaknya… begitulah yang mereka yakini.”

Sebuah jeda.

Seolah kalimat berikutnya memiliki berat yang lebih besar.

“Kita,” ia menunjuk ke seluruh ruangan, “berasal dari dunia yang berbeda. Dari sebuah planet yang telah lama hilang dari penglihatan manusia.”

Bayangan di udara kembali berubah.

Kini terlihat sebuah dunia yang aneh—bercahaya, dipenuhi aliran energi yang berputar seperti sungai cahaya.

“Itulah asal kita. Dunia para penyihir. Sebuah planet yang dulunya sejajar dengan bumi… namun menghilang dari jalur waktu mereka.”

“Menghilang?” salah satu murid akhirnya bertanya.

Guru itu mengangguk pelan. “Bukan hancur. Bukan lenyap. Tapi… tersembunyi.”

“Kenapa disembunyikan?” suara lain menyusul.

“Untuk melindungi.”

Jawaban itu singkat, tapi cukup membuat ruangan kembali sunyi.

Evelyn memperhatikan dengan lebih fokus sekarang.

Matanya tertuju pada bayangan planet yang berpendar itu.

Ada sesuatu dalam penjelasan itu yang terasa… tidak lengkap.

Seperti sebuah cerita yang sengaja dipotong di bagian pentingnya.

“Hubungan antara dunia kita dan bumi telah lama diputus,” lanjut sang guru. “Tidak ada perjalanan, tidak ada komunikasi. Dan tidak akan pernah ada… selama keseimbangan tetap terjaga.”

Keseimbangan.

Kata itu menggantung di udara.

Evelyn mengernyit tipis.

Sihir di dalam dirinya bergetar pelan lagi.

Seolah kata itu memiliki arti yang lebih dalam dari yang terlihat.

Pelajaran berlanjut dengan penjelasan tentang sejarah singkat pemisahan dunia, tentang batas-batas yang tidak boleh dilanggar, dan tentang bahaya yang mungkin terjadi jika dua dunia itu kembali bersentuhan.

Namun bagi Evelyn, semua itu justru menumbuhkan satu hal:

Rasa penasaran.

Bumi.

Dunia tanpa sihir.

Dunia di mana penyihir… tidak ada.

Bagaimana mungkin?

Bagaimana dunia bisa berjalan tanpa sihir?

Bagaimana manusia hidup tanpa merasakan aliran energi yang baginya terasa seperti napas itu sendiri?

Dan yang paling mengganggu—

Jika benar tidak ada penyihir di sana… kenapa ia merasa sebaliknya?

Dentang lonceng menandai akhir pelajaran.

Murid-murid mulai beranjak, beberapa masih membicarakan apa yang baru mereka dengar.

“Serius? Dunia tanpa sihir? Membosankan banget.”

“Ya jelas, makanya kita di sini, bukan di sana.”

“Bayangin hidup tanpa mantra… kayak hidup tanpa warna.”

Tawa kecil terdengar.

Evelyn berdiri tanpa berkata apa-apa.

Namun kali ini, langkahnya tidak menuju asrama.

Ia berbelok ke arah lorong yang lebih sepi.

Ke tempat yang jarang dikunjungi murid lain.

Perpustakaan.

Pintu kayu besar itu terbuka perlahan saat ia mendorongnya. Aroma buku tua langsung menyambut, bercampur dengan bau khas debu dan sihir yang tertinggal di halaman-halaman kuno.

Cahaya redup menggantung di udara, seolah tidak ingin mengganggu ketenangan tempat itu.

Rak-rak tinggi menjulang seperti hutan diam.

Evelyn melangkah masuk.

Matanya bergerak cepat, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.

Tentang bumi.

Tentang dunia manusia.

Tentang… kemungkinan.

Ia berhenti di salah satu rak yang tampak lebih tua dari yang lain. Tulisan di atasnya hampir pudar, namun masih bisa terbaca:

“Sejarah Dunia yang Hilang.”

Jemarinya menyentuh punggung buku-buku itu.

Satu per satu.

Hingga akhirnya ia menemukan sebuah buku yang terasa… berbeda.

Lebih dingin.

Lebih berat.

Seolah menyimpan sesuatu di dalamnya.

Ia menariknya perlahan.

Debu tipis beterbangan di udara, menari dalam cahaya redup.

Judulnya sederhana.

Namun cukup membuat napasnya tertahan sejenak.

“Gerbang yang Terlupakan.”

Evelyn membuka halaman pertama.

Tulisan di dalamnya tidak seperti buku lain.

Lebih tua.

Lebih… hidup.

Dan di baris pertama, tertulis sebuah kalimat yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat:

“Dunia tidak pernah benar-benar terpisah. Mereka hanya menunggu untuk ditemukan kembali.”

Sihir di dalam dirinya berdenyut kuat.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Seolah sesuatu di dalam dirinya… mengenali kata-kata itu.

Evelyn menatap halaman itu lebih lama.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa dingin yang ia bangun di dalam dirinya.

Rasa ingin tahu. Dan mungkin… Sebuah awal dari sesuatu yang tidak bisa ia hentikan lagi.

Bab 3 Batas yang Tak Terucap

Malam di kota Riston turun tanpa suara, seperti rahasia yang sengaja disembunyikan dari dunia. Lampu-lampu sihir menyala redup di sepanjang jalan berbatu, memantulkan cahaya lembut yang tampak hangat… tapi tidak benar-benar menghangatkan.

Langkah Evelyn Edison terdengar pelan, teratur, seolah ia sudah tahu ke mana ia akan pergi bahkan sebelum ia mulai berjalan.

Di tangannya, buku “Gerbang yang Terlupakan” masih ia genggam erat.

Ia tidak kembali ke asrama.

Tidak juga ke aula.

Langkahnya membawanya keluar dari area Sekolah Sihir Everton, menuju wilayah yang lebih sepi, lebih sunyi… tempat para guru tinggal.

Rumah-rumah di sana berbeda.

Tidak sebesar menara sekolah, tapi memiliki aura yang lebih berat. Lebih… tua. Seolah setiap dinding menyimpan cerita yang tak pernah diceritakan di kelas.

Evelyn berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan jendela yang memancarkan cahaya kekuningan.

Ia mengetuk.

Satu kali.

Dua kali.

Tak lama, pintu terbuka perlahan.

Seorang wanita paruh baya berdiri di sana. Tatapannya tajam, namun tidak dingin. Ia adalah guru yang mengajar tadi sore.

“Evelyn?” suaranya rendah, sedikit terkejut. “Malam-malam begini?”

Evelyn menunduk sedikit, bukan karena ragu… tapi karena menata pikirannya.

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

Wanita itu mengamatinya beberapa detik, lalu membuka pintu lebih lebar.

“Masuklah.”

Rumah itu hangat, dipenuhi rak buku dan benda-benda sihir yang tersusun rapi. Aroma teh dan kertas tua bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang anehnya… menenangkan.

“Duduk,” kata wanita itu singkat.

Evelyn duduk.

Wanita itu ikut duduk di depannya.

“Apa yang ingin kamu tanyakan?”

Evelyn tidak langsung menjawab. Ia menatap buku di tangannya, lalu perlahan mengangkat wajahnya.

“Adakah caranya… untuk masuk ke dunia manusia?”

Sunyi.

Pertanyaan itu menggantung di udara seperti mantra yang belum selesai.

Tatapan wanita itu berubah.

Lebih dalam.

Lebih serius.

“Tidak ada.”

Jawabannya cepat. Tegas. Tanpa celah.

“Kita adalah penyihir,” lanjutnya. “Dan kamu…” ia menatap Evelyn lebih lama, “adalah calon penyihir hebat. Jangan sampai kamu memikirkan cara untuk masuk ke dunia manusia.”

Evelyn terdiam.

Tidak ada bantahan.

Tidak ada pertanyaan lanjutan.

Namun di dalam dirinya, pikirannya mulai berbisik. Seperti apa manusia…? Apakah mereka benar-benar hidup tanpa sihir?Apakah aku… bisa menjadi salah satu dari mereka?Apakah aku bisa… meminta dilahirkan sebagai manusia? Pertanyaan itu terasa aneh

Terlalu jauh. Tapi juga… terlalu dekat untuk diabaikan.

“Evelyn.” Suara wanita itu memotong pikirannya. “Kamu terlalu banyak berpikir.”

Evelyn mengangkat pandangannya. Wanita itu kini bersandar sedikit, namun auranya terasa lebih berat.

“Manusia takut pada penyihir,” katanya pelan. “Bagi mereka, kita bukan sesuatu yang indah. Kita dianggap makhluk terkutuk.”

Evelyn mengernyit. “Ter… kutuk?”

“Ya.”

“Kenapa?”

Wanita itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti senyum yang menyimpan sesuatu.

“Karena mereka tidak mengerti.”

Ia berhenti sejenak.

“Atau mungkin… karena mereka pernah mengerti.”

Evelyn terdiam lagi.

Kalimat itu terasa seperti teka-teki.

“Hentikan apa yang ingin kamu ketahui,” lanjut wanita itu. “Dunia manusia tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Evelyn menatapnya lurus.

“Maksud anda?”

Wanita itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Mungkin kekuatanmu hebat,” katanya pelan, tapi tajam, “tapi pemikiranmu… hanya sekecil pemikiran bayi.”

Kata-kata itu jatuh tanpa ampun.

Evelyn tidak langsung bereaksi.

Namun untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang terasa… menusuk.

“Ma… maksud anda?” tanyanya, suaranya tetap tenang, tapi lebih pelan.

Wanita itu menarik napas.

“Kamu terlalu polos, Evelyn.”

Ia menatap gadis itu dalam-dalam.

“Kamu selalu beranggapan bahwa semuanya baik. Bahwa dunia akan berjalan sesuai dengan harapanmu.”

Evelyn mengepalkan tangannya pelan.

“Berhentilah naif,” lanjutnya. “Karena itu… akan menghancurkanmu.”

Sunyi kembali mengisi ruangan. Namun kali ini, sunyi itu terasa lebih berat.Lebih padat.

Lebih nyata. Evelyn menunduk sedikit.

Kata-kata itu berputar di kepalanya.

Naif.

Polos.

Seperti bayi.

Ia tidak marah.

Tidak tersinggung.

Namun ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.Sesuatu yang tidak nyaman.

“Kalau begitu…” katanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “kenapa dunia kita disembunyikan?”

Wanita itu terdiam.Pertanyaan itu tidak dijawab langsung. Waktu seolah berhenti sejenak.Lalu…“Karena tidak semua hal perlu ditemukan kembali.”

Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun.

Namun justru membuat segalanya terasa lebih rumit. Evelyn mengangkat wajahnya.

Tatapan mereka bertemu.Ada sesuatu yang berbeda di mata wanita itu sekarang.Bukan sekadar guru.Bukan sekadar seseorang yang memberi peringatan.Tapi seseorang yang… tahu lebih banyak dari yang ia katakan.

“Pulanglah, Evelyn.”

Suara itu lebih lembut kali ini.

“Ini bukan jalan yang harus kamu tempuh.”

Evelyn tidak langsung berdiri.Ia menatap buku di tangannya sekali lagi. “Gerbang yang Terlupakan.” Judul itu terasa lebih berat sekarang.Seperti bukan sekadar tulisan.

Tapi… undangan.

Perlahan, ia bangkit.

“Terima kasih,” katanya singkat.

Ia berbalik, melangkah menuju pintu.

Namun sebelum ia keluar—

“Evelyn.”

Ia berhenti.

“Ya?”

Wanita itu tidak langsung berbicara.Seolah memilih kata-kata yang tepat.“Atau mungkin… mencoba tidak mengatakan terlalu banyak.”

“Jika suatu hari nanti kamu menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kamu temukan…” Ia menatap Evelyn dalam-dalam.

“Jangan dibuka.”

Evelyn tidak menjawab.Ia hanya mengangguk pelan.Lalu pergi.

Malam menyambutnya kembali. Udara terasa lebih dingin.Langkahnya tetap tenang, tapi pikirannya… tidak lagi sama.Manusia takut pada penyihir…

Makhluk terkutuk…

Naif…

Semua kata itu berputar, bertabrakan, membentuk sesuatu yang tidak bisa ia abaikan lagi. Ia berhenti sejenak di tengah jalan.

Menatap langit yang gelap. Sihir di dalam dirinya berdenyut.

Lebih kuat.

Lebih dalam.

Seolah merespons sesuatu yang belum ia pahami. Evelyn menggenggam bukunya lebih erat.“Kalau memang tidak ada jalan…” bisiknya pelan.“Maka aku akan menemukannya.”

Angin malam berhembus pelan, membawa suara yang hampir tak terdengar.

Seperti bisikan.

Atau… peringatan.

Namun satu hal kini jelas—

Rasa penasaran di dalam dirinya bukan lagi sekadar pertanyaan.

Ia telah berubah menjadi tujuan.

Dan tujuan itu… tidak akan berhenti hanya karena seseorang berkata “tidak.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!