"Tega kamu Mas, kamu tega memperlakukan aku kayak gini? Apa salahku Mas, apa salahku ke kamu sampai kamu tega menyakiti aku kayak gini?'
Tangis Arimbi pecah. Hari ini tepat tujuh tahun usia pernikahannya dengan Amar Subagyo. Bukan hadiah manis yang ia terima, bukan juga sebuket bunga lili kesukaannya, akan tetapi sebuah fakta yang sangat mengejutkan.
Amar, suaminya yang ia sangat hormati dan juga dicintai ternyata memiliki wanita lain. Tak hanya sekedar wanita idaman lain, akan tetapi istri tersembunyi.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, mereka sudah punya seorang anak perempuan yang usianya satu setengah tahun.
Dunia Arimbi seketika luluh lantah, dadanya sesak, hatinya sakit dan bahkan dia merasa bahwa tak mampu lagi untuk berdiri.
Sedangkan Amar, pria itu membisu. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Tatapannya juga bukannya menyesal, melainkan acuh tak acuh.
"Kalau kamu udah nggak cinta sama aku, kalau kamu udah nggak ingin aku jadi istrimu, kenapa nggak kamu kembalikan saja aku ke orang tuaku?Kenapa harus nyakitin aku kayak gini, Mas? Kenapa?"
Arimbi berteriak. Marah, sedih, sakit, kecewa, itulah perasaannya sekarang. Suami yang begitu dia andalkan, pria yang ia anggap rumah itu, ternyata menyakitinya sedalam ini.
"Dan, katanya kamu nggak pengen punya anak dulu karena kita masih sama-sama muda. Kamu bilang kayak gitu karena katanya kita lagi merintis usaha. Bahkan sampai semua keluargamu mengatakan bahwa aku mandul. Tapi ini apa, ini apa Mas? Kamu punya anak dengan perempuan lain? Sehina itu kah aku di matamu sampai kamu nggak mau aku melahirkan anakmu? Terus kenapa, kenapa kamu nikahin aku hah!"
Arimbi benar-benar lepas kontrol. Dia mengucapkan semuanya tersebut sambil menarik baju Amar.
Namun lagi-lagi Amar hanya diam, dia diam seribu bahasa melihat istrinya histeris.
Mungkin hatinya sudah mati terhadap Arimbi. Dan mungkin hatinya sudah terpatri kepada selingkuhannya.
"Baiklah, baiklah kalau itu yang kamu mau Mas. Kamu nggak akan bicara kan, oke kalau gitu. Sekarang apa mau kamu? Pasti kamu mau cerai kan sama aku? Oke lakukan, tapi aku nggak akan mau ngajuin ke pengadilan. Silakan kamu yang ngajuin. Lalu perusahaan, mari bagi dua perusahaan itu."
"Mana bisa gitu? Itu perusahaan sepenuhnya punya aku! Aku yang memajukan perusahaan itu sampai sebesar sekarang."
Akhirnya Amar bicara juga dan Arimbi hanya menyeringai. Arimbi menghapus air matanya yang dirasa percuma untuk ia tumpahkan.
"Haaaah kamu bari buka mulut pas aku nyinggung soal perusahaan. Memang benar bahwa itu adalah kamu yang membesarkan. Tapi jangan lupa Mas, ada sebagian harta ku di sana. Harta yang ku berikan hasil menjual tanah yang orang tuaku berikan. Dan jangan lupa, aku adalah direktur di sana. Jika kita cerai, aku akan meminta bagian dari perusahaan itu sesuai hukum harta gono-gini. Inget ya Mas, bahwa FA Express (FAE) adalah perusahaan yang kita dirikan bersama setelah kita menikah. Jadi jangan serakah dan culas. Sekarang, pergi dari rumah ini! Atau kamu malah mau ngusir aku? Nggak masalah, baik aku yang akan pergi."
Arimbi meraih hijab instannya. Sekarang rasanya dia tak bisa menunjukkan rambutnya kepada Amar. Hubungan yang sudah akan berakhir itu, membuat Arimbi memantapkan hati untuk menganggap Amar bukan lagi suaminya meski belum ada kata talak dari pria itu.
Arimbi masuk ke kamarnya, dia mengambil koper memasukkan semua baju dan juga barang berharga miliknya. Dua buah koper besar dan sebuah dufle bag ia bawa dari dalam kamar.
Amar bergeming, melihat Arimbi melintas di depannya dengan semua barang-barang itu tak membuat ia bergerak. Hati Amar benar-benar sudah mati. Atau mungkin dia sudah tak punya hati.
Klak
Brummm
Arimbi meninggalkan rumah yang sudah 7 tahun ditempatinya. Ia tidak pernah mengira bahwa ia akan melakukan ini juga.
Hiks hiks Aaaah
Tangis Arimbi pecah lagi, dan kali ini lebih keras dari pada tadi. Hatinya yang amat sangat sakit membuatnya tak lagi mampu menahannya.
Tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya, Arimbi yang sadar bahwa saat ini emosinya tengah tidak stabil memilih untuk menepi. Dia meluapkan semua rasanya itu dengan menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan.
Drtzzzz
Ponselnya berdering. Arimbi melirik sekilas ke arah ponsel itu. Nomor Amar yang masih belum ia ganti di buku teleponnya dengan nama 'suamiku' membuatnya geram sendiri. Alhasil Arimbi langsung mengganti dengan nama tanpa embel-embel apapun saat itu juga.
Drtzzz
Lagi, ponselnya kembali berdering. Tapi kali ini bukan dari Amar melainkan dari sang klien.
Arimbi sebenarnya tidak ingin menjawabnya sekarang ini. Akan tetapi ia harus tetap profesional dengan pekerjaannya. Meski sebenarnya sekarang ini sudah tidak berada di jam operasional.
Pukul sepuluh malam, waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat, namun Arimbi masih berkutat dengan kemalangan yang menimpa rumah tangganya. Lalu sekarang, dia pun harus mengerjakan pekerjaan dadakan.
"Selamat malam, Bu. Saya Ibnu dari AbChia Design (ACD). Mohon maaf mengganggu waktu Bu Arimbi malam-malam begini. Saya ingin menanyakan paket yang kami kirimkan. Paket tersebut amat penting dan sedang ditunggu oleh si penerima. sudah tiga hari ini paket milik kami tidak bergerak dan statusnya ada di gudang hub Jakarta. Kira-kira kapan kami akan mendapatkan paket kami. Saya menghubungi Bu Arimbi karena kami sudah bekerja sama dengan FAE selama setahun belakangan ini. Kami percaya penuh dengan FAE, hanya saja kali ini terlalu lama. Meski paket itu bersifat pribadi, tapi itu adalah paket urgent."
Arimbi mengucapkan istigfar dengan lirih, rasanya sungguh lelah saat ini. Ingin rasanya dia berteriak terhadap orang yang menghubunginya itu. Ia ingin berkata, "Gue capek!! Please jangan dulu ngomong apa-apa. Gue butuh sendiri, gue butuh tenang!" Ya Arimbi ingin berkata demikian. Namun tentu saja itu semua hanya sebatas angannya saja.
Bagaimanapun yang namanya urusan pribadi tak boleh dilibatkan dalam urusan pekerjaan. Mau sebutek apapun isi kepalanya saat ini, Arimbi harus bisa melakukan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan.
"Mohon maaf Pak Ibnu, saya sungguh merasa menyesal mendengar hal tersebut. Saya akan langsung memeriksanya saat ini juga. Dan saya akan memberikan jaminan barang sampai sesuai dengan estimasi pengiriman. Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada Pak Bhumi. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."
"Baik Bu Arimbi, terimakasih untuk follow-up nya. Saya akan sampaikan hal tersebut kepada Pak Bhumi. Kami tunggu kabar baiknya. Mohon maaf mengganggu waktu Anda malam-malam begini. Terimakasih dan selamat malam."
Haaaah
Arimbi menghela nafasnya panjang. Dia juga memejamkan matanya sejenak. Air mata yang masih terasa basah di mata dan pipi itu segera ia singkirkan. Ada hal yang lebih penting untuk saat ini yakni tentang pekerjaan.
"Baiklah, selesaikan malam ini juga karena esok, urusannya udah lain. Mas Amar, aku tunggu surat pengadilan darimu karena aku nggak akan pernah ngajuin tuntutan lebih dulu."
TBC
"Kok kamu ke sini, Mas? Apa Arimbi nggak nanyain kepergian kamu?"
"Dia udah tahu, nggak tahu gimana caranya dia tahu. Tapi dia udah tahu semuanya."
Apa?
Seorang wanita dengan pakaian tidur tipis itu awalnya hanya merasa heran, kenapa pria yang tak pernah datang saat malam di hari biasa tiba-tiba muncul. Namun ketika mendengar ucapan pria tersebut, sang wanita kini nampak benar-benar terkejut.
Bukan hanya terkejut tapi wajahnya kini menunjukkan raut penuh tanya. Pertanyaan yang sudah sangat jelaa hingga Amar pun bisa menjawabnya tanpa harus terucap dari bibir.
"Seperti yang aku bilang tadi, dia udah tahu. Tapi aku juga nggak tahu kenapa dia bisa tahu. Pas aku balik tadi, dia langsung ngomong tentang aku dan kamu. Farrah, apa mungkin kamu ngespill tentang kita?"
Farrah Ratnawati, wanita berusia 32 tahun itu menggelengkan kepalanya dengan cepat ketika mendengar pertanyaan Amar. Dia memang suka membuat konten di akun media sosialnya, akan tetapi ia sama sekali tidak pernah menunjukkan tentang hubungannya dengan Amar.
Tiga tahun mereka menjalani rumah tangga secara sembunyi-sembunyi, dan selama tiga tahun itu juga Farrah tak pernah mengungkapkan tentang hubungan pernikahannya dengan Amar.
Memang ia sering membagikan momen ketika mereka bersama, entah saat liburan, babymoon, dan juga kelahiran putri mereka, namun Farrah sama sekali tidak pernah memperlihatkan sosok Amar meski itu hany sekedar bagian tangan, kaki atau bagian lainnya.
Banyak sekali pengikut Farrah yang bertanya-tanya tentang sosok suami Farrah, namun wanita itu tak pernah menjelaskan. Ia bahkan hanya membuat keterangan dengan kata-kata yang membangun atau kata-kata yang bersifat religius. Terlebih di media sosial, sosok Farrah terkenal sebagai sosok yang alim karena pakaian yang dikenakan longgar dan jilbab pun besar.
"Aku beneran nggak pernah nunjukin apapun, Mas."
"Ya udah kalau gitu. Ayo tidur, aku ngantuk dan capek banget sayang."
Amar meraih pinggang Farrah dan menuntunnya ke kamar. Di dalam kamar, ada sebuah box bayi yang mana terdapat anak mereka berdua.
Amar melakukan ciuman lembut di kening sang putri dan membisikkan kata sayang serta cinta. Tatapan pria itu begitu lembut, terlihat sekali bahwa ia sangat mencintai putrinya.
"Anak kita itu, Mas," ucap Farrah sambil memeluk pinggang Amar dari samping.
"Iya, itu anak kita. Hasil cinta aku dan kamu. Makasih sayang karena udah ngasih aku putri yang begitu cantiknya," balas Amar.
Tatapan yang berbinar dan penuh cinta. Amar terlihat sekali sangat mencintai Farrah dan Afira, nama anak mereka. Berbeda dengan tatapan yang ia layangkan terhadap istri sahnya, Arimbi.
Ketika menatap Arimbi, mata Amar hanya dingin dan tak acuh. Seolah Arimbi hanyalah orang asing yang hidup di sisinya.
Malam penuh cinta. Amar tidak peduli sama sekali dengan rasa sakit yang ia berikan terhadap istrinya. Saat ini, dia tengah meneguk kenikmatan bersama istri rahasianya. Suara desahann dua insan yang dimabuk asmara itu mengabaikan seorang manusia yang saat ini tengah mereka zalim.
Bahkan saat ini wanita itu tengah berkutat dengan pekerjaannya. Ya disaat suaminya tengah bergelung nikmat dengan wanita lain, ia saat ini sedang pusing dengan pekerjaan yang ternyata begitu banyaknya.
"Kenapa ini bisa banyak banget yang delay pengirimannya? Kalian bisa kerja nggak sih, hah!" Pekik Arimbi. Ia tak pernah bicara seperti ini sebelumnya. Tapi kali ini kontrol emosinya lepas sehingga ia bicara demikian.
"A-anu, itu Bu. Siolnya uang jalan yang seharusnya sudah turun belum turun juga. Jadi supir juga tidak bisa segera berangkat," jawab penanggungjawab gudang yang bernama Surya.
"Kok bisa?"
Mata Arimbi memicing, keningnya berkerut dan nafasnya memburu. Amarah benar-benar menguasai seluruh hati dan pikirannya. Bak gunung berapi, lahar itu sudah ingin meluap. Namun Arimbi masih bisa menahannya sedikit lagi.
Ia langsung menghubungi pihak keuangan untuk menanyakan tentang hal tersebut. Orang yang dihubungi Arimbi nampaknya menjawab dengan sedikit ragu membuatnya berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Segera kirimkan biaya operasionalnya."
"T-tapi, Bu."
"SEKARANG!!!"
Degh!
Semua yang ada di gudang terkejut mendengar teriakan Arimbi. Dan tentu saja orang yang tengah ditelpon nya juga terkejut. Mereka tak pernah tahu sekaligus tidak menyangka bahwa wanita yang begitu lembut dan tenang itu bisa berteriak seperti ini.
"B-baik, Bu."
"Bagus, besok temui aku di kantor."
"Baik."
Arimbi mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia tidak pernah menyangka ada masalah seperti ini di lapangan. Sebagai Direktur Utama, Arimbi seharusnya menerima semua laporan. Tapi mungkin ada laporan yang dikecualikan untuknya. Atau kemungkinan lain ada yang hendak 'bermain' dengannya.
"A-apa Ibu akan ada di sini?" tanya Surya dengan hati-hati. Meski tidak diucapkan, ia jelas bisa melihat bahwa saat ini suasana hati atasannya itu sedang sangat buruk.
"Ya aku akan ada di sini sampai semua barang di gudang ini bersih. Lakukan pekerjaanmu, abaikan saja aku," jawab Arimbi sambil melenggang menuju ke sebuah kursi kosong yang berada tepat di depan sebuah depan kantor kecil tempat dimana Surya mengurus segala administrasi gudang.
Surya hanya bisa pasrah, dia tak berani menginterupsi Arimbi. Wanita yang merupakan istri dari bos utama sekaligus juga pemilik dari FAE ini merupakan orang penting kedua di perusahaan. Semua tahu bahwa Arimbi memiliki kekuasaan yang absolut juga di dalam FAE.
Surya pun memilih untuk kembali bekerja. Dia mulai mengirim supir-supir ekspedisi ke lokasi masing-masing yang telah ditentukan. Namun selama bekerja, pandangan perhatian dan tatapan mata pria itu sesekali terarah kepada Arimbi. Ada sesuatu yang menurutnya janggal dari sang majikan.
"Bu Arimbi kok kayak lain ya?" gumamnya lirih. Sering bertemu meski hanya sekedar urusan pekerjaan, Surya cukup mengetahui sikap dan perangai Arimbi. Terlebih dia bekerja di FAE juga sudah empat tahun lamanya. Sehingga Surya sedikit banyak tahu tentang Arimbi.
Menurutnya Arimbi bukan orang yang gemar melamun seperti ini, ya sedar tadi dia melihat wanita itu memiliki pandangan yang kosong. Dan juga, Surya juga bisa melihat mata sang atasan yang sembab.
Bukan hal yang luar biasa untuk mengetahui apakah seseorang baru saja menangis atau tidak. Surya yang memang selalu fokus dengan lawan bicara bisa melihat dengan jelas bahwa Arimbi baru saja menangis. Wajah yang tampak kusut, mata yang sembab dan jujur penampilan Arimbi kali ini sungguh sangat berantakan.
"Ada apa sebenarnya? Aku nggak pernah lihat Ibu kayak gitu. Meski buru-buru buat ngelihat pekerjaan, Bu Arimbi pasti akan mengenakan pakaian yang rapi. Tapi kali ini dia pakai bajunya kayak asal. Dan bukannya itu piyama?"
Karena ketegangan pembicaraan tadi, Surya tidak terlalu memerhatikan pakaian yang dikenakan Arimbi. Baru setelah ketegangan berakhir, sekarang dia sadar bahwa Arimbi datang ke gudang hanya mengenakan setelan piyama dan jilbab instan saja.
TBC
"Pagi sayang?"
"Pagi Mas."
Amar memeluk Farrah dari belakang ketika wanita itu tengah memasak di dapur. Seolah tidak puas dengan apa yang mereka lakukan tadi malam, Amar meraup bibir Farrah sehingga ciuman dalam tak terelakan.
Farrah juga terlena dengan kelembutan bibir dan permainan lidah Amar. Namun suara tangis Afira membuatnya harus mendorong dada Amar. Farrah mendorong lembut suaminya, lalu dirinya melenggang pergi menuju ke kamar dan mengambil sang putri.
"Sayangnya Bunda udah bangun. Haus ya hmmm?"ucap Farrah sambil membawa Afira kedalam pelukannya. Ia lalu duduk di tepi ranjang, menurunkan tali gaun malamnya dan mengeluarkan payuudaranya untuk diberikan kepada sang putri. Dengan lahap, Afira menyedot ASI milik Farrah. Bayi berusia satu setengah tahun itu terlihat mengerjapkan matanya, pertanda bahwa dia tengah senang.
"Aihhh Ayah padahal mah belum beneran puas, Ra. Kamu nyabotase mulu ih,"cibir Amar ketika melihat pemandangan tersebut.
"Kamu mah ada-ada aja, Mas. Oh iya Mas, terus gimana soal Arimbi? Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
Wajah Farrah yang sejak tadi bersinar kini tiba-tiba redup ketika membicarakan istri pertama suaminya. Ia sendiri tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh kepalanya itu, tapi yang pasti saat ini Farrah kebingungan.
Hubungannya dengan Amar yang merupakan suami Arimbi telah diketahui oleh Arimbi. Ada perasaan takut, namun yang paling jelas adalah kebingungan.
Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh wanita itu saat menerima ajakan menikah Amar yang jelas-jelas sudah memiliki istri. Atau mungkin, dia tidak peduli terhdap status sang pria karena sudah diliputi dengan hawa nafsuu.
Sangat berdosa ketika seseorang menjadi pengganggu dalam hubungan rumah tangga orang lain. Apalagi Farrah di sini tahu dengan sangat jelas bahwa pria yang mendekatinya dan kini menjadi suaminya adalah pria beristri.
Memang benar, besar kecilnya dosa seseorang itu adalah hak preogratif atau kekuasaan mutlak yang dimiliki oleh Tuhan yang diberikan kepada hambanya. Namun manusia seharusnya juga bisa mengukurnya sendiri atas perbuatan yang dilakukan.
Farrah di sini adalah seroang wanita. Sesama wanita seharusnya lebih tahu dan lebih bisa mengerti, apa itu rasa sakit karena dikhianati. Tapi Farrah sepertinya mengabaikan hal tersebut. Faktanya dia bahagia, menjalani pernikahan tersembunyi dengan pria yang jelas beristri. Ditambah pernikahan mereka sudah berjalan tiga tahun lamanya dan dikaruniai satu orang anak.
"Kamu nggak usah mikirin itu sayang. Soal Arimbi, biar aku yang urus. Kamu hanya perlu jalanin hari kayak biasa aja. Ngurus Afira dengan baik dan yang jelas, selalu cinta sama aku. Udah gitu aja. Ah iya, nggak usah masak. Nanti kita beli aja. Kalau gitu, aku siap-siap ya buat berangkat ke kantor."
"Iya Mas."
Meski Amar berkata demikian. Meski pria itu berkata kepadanya untuk tenang, tapi Farrah tidak bisa bersikap tenang sekarang ini.
Arimbi yang telah mengetahui semuanya, pasti tidak akan tinggal diam. Selintas ada ketakutan yang menghampirinya, ketakutan jikalau nama baiknya mungkin saja akan tercoreng.
"Ah nggak, pasti Mas Amar akan ngurus semuanya dengan baik. Kita nggak perlu khawatir ya, sayang. Semua pasti akan baik-baik saja,"ucap Farrah sembari mencium kening putrinya yang masih terus menyusuu.
Tak lama kemudian, Afira kembali tidur. Sedangkan Amar dan Farrah saat ini sedang menikmati sarapan paginya. Tak banyak yang mereka perbincangkan. Farrah juga tidak menyinggung perihal Arimbi karena Amar sudah berjanji akan mengurus dengan baik.
Drtzzzz
Ponsel milik Amar yang berada di atas meja berbunyi salah satunya. Amar memiliki dua ponsel, dan semuanya selalu dibawa olehnya. Farrah jelas tahu akan hal itu, karena ponsel yang satunya adalah ponsel khusus yang digunakan Amar untuk berkomunikasi dengan dirinya.
Inilah yang tidak diketahui oleh Arimbi. Maka dari itu, Farrah sangat penasaran bagaimana Arimbi bisa mengetahui tentang dirinya dan Amar.
"Siapa Mas?"tanya Farrah ketika Amar tak kunjung menjawab panggilan itu meskipun sudah beberapa kali ponselnya berdering.
"Arimbi, biarin aja,"jawab Amar santai. Dia mengabaikan panggilan dari wanita yang masih berstatus sebagai istrinya. Bagaimana tidak, Amar belum menjatuhkan talak kepada Arimbi sehingga sampai detik ini mereka masih merupakan pasangan suami istri.
Drtzzzz
Lagi, suara ponsel itu berdering. Tapi kali bukan dari ponsel yang tadi melainkan ponsel satunya. Terang saja Amar terkejut, pun dengan Farrah.
Jelas-jelas ponsel satunya hanya diantara mereka yang tahu. Jadi sangat mengejutkan Arimbi bisa menghubungi Amar menggunakan ponsel yang itu.
"Kamu?"
"Kenapa, kaget ya? Haaah nggak usah sok syok gitu. Nggak usah bertanya-tanya tentang gimana aku mendapatkan nomor hape yang kamu pake buat ngubungin gundikmu. Dan seharusnya kamu tahu lah Mas, jika aku udah megang nomor ponsel mu yang ini, maka berarti aku tahu segala hal yang ada di dalamnya. Dah lah, males banget aku pagi-pagi ngomong bajingan kayak kamu dan gundikmu itu. Cepet ke kantor, ada hal penting yang aku kudu omongin. Meski aku males dan jijik buat lihat wajahmu, tapi aku harus ketemu kamu karena aku nggak mau perusahan yang aku ikut membangun di dalamnya hancur. Cepetan, aku nggak punya kesabaran yang luas."
Tuuuuuuut
Setelah mengatakan kepentingan tentang perusahaan namun dilengkapi dengan cacian, Arimbi memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Arimbi yang bicara tanpa filter itu, cukup membuat wajah Amar merah padam karena marah.
Akan tetapi rasa marah yang dirasakan tidak sebanyak rasa cemas dalam hatinya.
Kata-kata Arimbi tadi ada yang Amar garis bawahi, yakni tentang 'isi ponsel' itu benar-benar cukup mengganggunya.
"Mas?" panggil Farrah ketika melihat Amar tengah melamun. Dia bisa melihat raut kebingungan di wajah suaminya tersebut.
"Ada apa?"
"Maaf Far, aku harus buru-buru ke perusahan."
Amar bangkit dari duduknya dan bergegas pergi. Terlihat sekali pria itu terburu-buru dimana hal tersebut cukup membuat Farrah merasa sedih. Pasalnya, Amar tak pernah meninggalkan meja makan dalam keadaan makanan masih banyak di piring. Selain itu, Amar tak pernah lupa mencium kening atau pipi Farrah ketika akan pergi. Tapi pagi ini, Amar melupakannya. Amar melupakan kebiasaan yang selama ini dilakukannya.
"Apa sepenting itu sampai-sampai dia lari tunggang langgang,"gerutunya.
Sebuah rasa cemburu muncul di hatinya. Ya saat ini Farrah merasa cemburu dengan perlakuan Amar yang sangat terburu-buru menemui Arimbi.
Satu lagi, ada hal yang paling mengganjal dalam hati dan pikiran Farrah. Meski Arimbi sudah mengetahui tentang hubungan Farrah dan Amar, tapi Arimbi tidak langsung minta cerai juga talak. Dan sebaliknya, Amar juga tidak langsung menjatuhkan talak kepada istri pertamanya itu.
"Kenapa nggak langsung selesai aja sih. Biar lebih gampang semuanya."
TBC
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!