Indonesia
NovelToon NovelToon

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

1. Menikah

Raya menatap pantulan wajahnya di cermin, jemarinya tanpa sadar menyentuh pipinya sendiri. Ia hampir tak mengenali dirinya. Riasan yang lembut namun elegan membuat wajahnya bersinar. Mata itu tampak lebih hidup, meski di dasar hatinya tersimpan kegugupan yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

Kebaya putih yang melekat sempurna di tubuhnya membuatnya terlihat anggun. Sederhana, tapi berkelas. Seperti sosok yang hari ini akan ia jalani—seorang istri.

"Kamu cantik banget, Ray… Ibu sampai pangling melihatnya," ucap sang ibu dengan mata berkaca-kaca, penuh haru.

Raya tersenyum kecil, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Ini semua berkat MUA yang sudah profesional, Bu," jawabnya ringan sambil menoleh pada Mbak Mira yang berdiri di sampingnya.

Mbak Mira tersenyum bangga. "Bukan cuma karena make up, Mbak. Memang dari sananya sudah cantik."

Suasana hangat itu terpotong saat suara dari luar kamar terdengar.

"Mempelai laki-laki sudah datang! Tolong mempelai perempuan siap-siap. Dalam sepuluh menit lagi akad akan dilaksanakan!"

"Itu suara Om Irwan," gumam Raya pelan.

"Baik, Mas!" sahut Mbak Mira lantang, lalu segera merapikan kembali kerudung Raya, memastikan setiap lipatan jatuh dengan sempurna.

Sementara itu, Pak Santoso dan istrinya bergegas keluar dari kamar pengantin. Wajah keduanya memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan. Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba.

Di halaman rumah yang telah disulap menjadi tempat akad yang sederhana namun indah, rombongan mempelai pria sudah terlihat. Mobil-mobil terparkir rapi, dan beberapa pria berseragam batik turun sambil membawa hantaran.

Pak Santoso melangkah maju dengan senyum lebar, tangannya terulur menyambut seorang pria paruh baya yang berjalan paling depan—ayah dari Kamil.

"Assalamu’alaikum…" sapa Pak Santoso hangat.

"Wa’alaikumussalam…" jawab pria itu, menjabat tangan Pak Santoso erat. "Akhirnya… hari yang kita tunggu datang juga, San."

"Iya…" suara Pak Santoso sedikit bergetar, matanya berbinar. "Terima kasih sudah datang. Silakan, silakan masuk."

Istri Pak Santoso pun ikut menyambut para wanita dari pihak mempelai pria dengan senyum ramah.

"Silakan Ibu… mari masuk," ucapnya lembut sambil menyalami satu per satu.

Beberapa keluarga tersenyum hangat, membalas sapaan dengan penuh sopan santun. Suasana terasa khidmat sekaligus hangat, diiringi lantunan shalawat yang diputar pelan dari pengeras suara.

Di antara rombongan itu, Kamil berjalan dengan langkah tenang. Wajahnya tampan, rapi dengan jas dan peci hitam yang menambah kesan berwibawa. Sekilas, ia tampak seperti pengantin pria pada umumnya.

Namun, jika diperhatikan lebih dalam… ada sesuatu yang berbeda.

Senyumnya.

Tipis. Dingin. Dan entah mengapa… terasa seperti menyimpan sesuatu yang tak diketahui siapa pun.

Pak Santoso sempat menatapnya sekilas, lalu tersenyum bangga.

"Itu Kamil, tampan sekali kan?" bisiknya pada istrinya.

"Iya… tampan sekali," jawab sang istri pelan.

Tak ada yang menyadari… di balik penyambutan hangat itu, ada takdir yang sedang bersiap meruntuhkan segalanya.

Sepuluh menit lagi, akad akan dimulai.

Dan kehidupan Raya… tak akan pernah sama lagi.

Pintu kamar pengantin perlahan terbuka.

Raya melangkah keluar dengan hati-hati, jemarinya menggenggam ujung kebaya putihnya agar tidak tersandung. Langkahnya pelan, anggun, seolah setiap pijakan menyimpan doa dan harapan. Suasana di dalam rumah mendadak lebih hening, beberapa pasang mata menoleh, terpaku pada sosok pengantin perempuan yang berjalan menuju masa depannya.

Raya menunduk sedikit, senyum tipis terukir di bibirnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Antara gugup… dan pasrah.

Di depan, tempat akad telah tertata rapi. Hamparan karpet, meja sederhana, dan kursi yang telah diisi oleh para saksi serta keluarga terdekat. Pak Santoso sudah duduk di sana, mengenakan setelan terbaiknya, peci hitam terpasang rapi. Wajahnya terlihat tegang, tapi juga penuh kebanggaan.

Saat melihat putrinya datang, matanya langsung berkaca-kaca.

Raya menghentikan langkahnya sejenak… menatap ayahnya.

Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.

Ini untuk Ayah… batinnya.

Lalu, tanpa sengaja, pandangannya bergeser ke arah pria yang akan menjadi suaminya.

Kamil Riza Mahendra

Pria itu duduk tegap, terlihat tenang. Raya menatapnya beberapa detik, lalu dengan kikuk ia melemparkan senyum kecil. Senyum yang lebih mirip bentuk sopan santun daripada perasaan yang benar-benar lahir dari hati.

Kamil membalasnya… sekilas. Singkat. Sulit ditebak.

Raya segera mengalihkan pandangannya, lalu melangkah mendekat. Ia menyalami kedua orang tuanya terlebih dahulu.

"Ibu…" suaranya lirih.

Sang ibu langsung memeluknya erat, tak mampu menahan haru.

"Jadi istri yang baik ya, Nak…" bisiknya dengan suara bergetar.

Raya mengangguk pelan, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia lalu menyalami ayahnya. Pak Santoso menggenggam tangan putrinya lebih lama dari biasanya.

"Maafkan Ayah… kalau selama ini belum bisa jadi yang terbaik!" ucapnya pelan.

Raya menggeleng cepat. "Ayah jangan bilang begitu… Raya bahagia."

Meski entah mengapa, ada perasaan aneh yang menyelip di hatinya.

Setelah itu, Raya beralih kepada kedua calon mertuanya. Ia menyalami mereka dengan penuh hormat.

"Mohon doa restunya, Om… Tante," ucapnya sopan.

Keduanya mengangguk, tersenyum tipis.

Acara pun dimulai.

Seorang penghulu duduk di depan, membuka akad dengan khutbah singkat. Suaranya tenang, mengalun mengisi ruangan. Semua yang hadir larut dalam suasana sakral itu.

Hingga akhirnya tiba pada inti dari segalanya.

Ijab kabul.

Pak Santoso menarik napas dalam. Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam tangan Kamil. Suasana mendadak hening. Bahkan suara napas pun terasa begitu jelas.

"Dengan ini saya nikahkan dan kawinkan engkau, Kamil Riza Mahendra dengan putri saya, Raya Aprillia Safitri, dengan mahar seperangkat alat shalat dan perhiasan emas seberat lima belas gram, dibayar tunai."

Hening.

Semua mata tertuju pada Kamil.

Tanpa ragu, pria itu menjawab dengan lantang, suaranya tegas memecah keheningan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Raya Aprillia Safitri dengan mahar tersebut, dibayar tunai."

"Sah!" seru para saksi hampir bersamaan.

Beberapa orang mengucap syukur, terdengar lirih ucapan Alhamdulillah di berbagai sudut ruangan. Senyum dan rasa haru mulai bermunculan.

Raya menunduk, napasnya terasa berat.

Air matanya akhirnya jatuh juga.

Ia kini resmi menjadi seorang istri.

Namun entah mengapa… di tengah kebahagiaan itu, hatinya justru terasa asing.

Seolah… sesuatu yang tak terlihat sedang menunggu untuk menghancurkan semuanya.

"Sudah sah, ya? Aku sudah jadi suaminya, kan?”

Suara Kamil tiba-tiba terdengar lantang, memecah suasana haru yang baru saja menghangat. Ia berdiri dari duduknya dengan tegap, tatapannya menyapu seisi ruangan.

Beberapa tamu saling berpandangan, bingung dengan sikapnya yang mendadak berubah.

"Iya… Alhamdulillah, sudah sah, Nak,” jawab Pak Hasan, ayahnya, dengan senyum bangga yang belum sempat pudar.

Namun tidak dengan Pak Santoso.

Dahi pria itu berkerut. Ada sesuatu yang terasa janggal.

Dan detik berikutnya… semuanya runtuh.

"Kalau aku sudah sah menjadi suaminya Raya,” lanjut Kamil dengan suara dingin, “maka saat ini juga aku talak Raya Aprillia Safitri… dengan talak tiga.”

Hening.

Sunyi yang mencekam.

Seolah waktu berhenti berputar.

Raya terbelalak. Tubuhnya membeku di tempat. Ia menatap Kamil dengan mata yang membesar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Apa…?” bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang benar-benar keluar.

"Ibu…” gumamnya lirih.

Sang ibu menatapnya dengan wajah pucat pasi, air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan. Tangannya gemetar, menutup mulutnya sendiri, seakan tak sanggup menerima kenyataan yang begitu kejam.

"Ya Allah… ini apa maksudnya?” suaranya pecah.

Beberapa tamu mulai berbisik panik. Suasana yang tadinya penuh doa berubah menjadi riuh penuh keterkejutan.

Pak Santoso berdiri setengah dari duduknya, wajahnya memerah, napasnya memburu.

"Kamil… kamu… apa maksudnya ini?” suaranya berat, penuh tekanan.

Namun belum sempat ia mendapatkan jawaban—

Bruk!

Tubuhnya tiba-tiba ambruk ke lantai.

"Ayah!!”

Teriakan Raya menggema, suaranya pecah penuh kepanikan. Ia berlari menghampiri, berlutut di samping tubuh ayahnya yang tergeletak tak berdaya.

"Ayah! Ayah bangun… Ayah!” tangisnya histeris, mengguncang bahu Pak Santoso yang sudah tak merespons.

Beberapa pria langsung mendekat, mencoba membantu.

"Cepat! Angkat! Bawa ke rumah sakit!” teriak seseorang.

"Ibu… Ibu…” Raya menoleh, air matanya tak terbendung.

Sang ibu sudah terduduk lemas, hampir pingsan, ditopang oleh beberapa wanita di sekitarnya.

"Pak Santoso kena serangan jantung!” teriak seseorang lagi, membuat suasana semakin kacau.

Di tengah kepanikan itu…

Kamil justru berdiri santai.

"Kamil, kamu apa-apaan sih?!” bentak ayahnya, emosinya meledak.

Namun pria itu hanya tersenyum.

Senyum tipis… penuh kemenangan.

"Ini kan yang Papa mau?” katanya sambil menoleh pada Pak Hasan. “Aku menikahinya. Aku sudah menuruti keinginan Papa.”

Nada suaranya berubah dingin, tajam.

"Tapi… aku menalaknya sesuai keinginanku.”

Ruangan seketika dipenuhi amarah.

"Kamu gila?!”

"Kamu menghancurkan hidup orang!”

"Ini pernikahan, bukan permainan!”

Suara-suara itu menggema, tapi Kamil tak peduli.

Ia justru merapikan jasnya dengan santai, seolah tak ada yang terjadi.

Raya masih terduduk di lantai, memeluk tubuh ayahnya yang lemah. Tangisnya pecah tanpa henti. Dunia yang baru saja ia masuki sebagai seorang istri… kini hancur bahkan sebelum ia sempat menjalaninya.

"Kamil…” panggilnya lirih, penuh luka.

Namun pria itu bahkan tak menoleh.

Dengan langkah tenang, ia berbalik… dan berjalan pergi meninggalkan semuanya.

Meninggalkan kekacauan.

Meninggalkan duka.

Meninggalkan seorang wanita… yang hidupnya baru saja ia hancurkan dalam hitungan detik.

2. Tekad Raya

"Cepat bawa ke rumah sakit!”

"Ada mobil di depan.”

Semua bergerak cepat, penuh kepanikan.

Raya masih berdiri mematung beberapa detik, sampai akhirnya seseorang menarik lengannya.

"Raya, ayo, ikut!"

Seolah tersadar dari mimpi buruk, Raya langsung berlari dengan langkah tersaruk. Kakinya terasa lemas, tapi ia memaksakan diri.

Ia naik ke mobil tetangga tanpa berpikir panjang. Pintu ditutup keras, dan mobil langsung melaju kencang meninggalkan rumah yang baru saja menjadi saksi kehancuran hidupnya.

Sementara itu di rumah, Bu Rahma tak kalah panik. Tubuhnya lemas setelah melihat suaminya tumbang dan mendengar ucapan talak yang mengiris hati.

"Bu… Bu Rahma!”

Beberapa wanita memapahnya.

"Astagfirullah… ya Allah…” lirihnya sebelum tubuhnya ikut lunglai.

Ia dibopong masuk ke dalam kamar utama—kamar yang seharusnya menjadi kamar pengantin Raya dan Kamil. Kamar yang tadi dihias indah dengan nuansa bahagia… kini berubah menjadi tempat penuh duka.

Bu Rahma ditidurkan di atas ranjang. Tangannya gemetar, air matanya terus mengalir tanpa suara.

Di dalam mobil, suasana mencekam.

Raya duduk di samping tubuh ayahnya. Tangannya menggenggam tangan Pak Santoso yang dingin.

"Ayah… Ayah bangun…” suaranya bergetar.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara mesin mobil dan napas panik orang-orang di dalamnya.

Jalanan hari Minggu cukup lengang. Mobil melaju tanpa hambatan berarti. Namun bagi Raya, perjalanan itu terasa begitu lama… seperti tak pernah sampai.

Ia terus mengusap tangan ayahnya.

"Ayah… Raya di sini… Ayah jangan tinggalin Raya!”

Air matanya jatuh tanpa henti.

Kurang dari satu jam, mobil akhirnya memasuki area rumah sakit. Pintu dibuka dengan tergesa.

"Cepat! Tolong!” teriak seseorang.

Beberapa orang langsung turun dan membuka pintu belakang. Saat itu juga, Om Dani—adik Pak Santoso—yang entah sejak kapan sudah menyusul, berlari keluar dari dalam rumah sakit.

"Mana? Mana Kak Santoso?!” wajahnya panik.

"Di sini, Om!”

Om Dani langsung berteriak ke arah dalam.

"Blankar! Cepat bawa blankar!”

Tenaga medis datang dengan sigap. Pak Santoso segera dipindahkan ke atas brankar dan didorong cepat menuju IGD.

Raya berlari di belakangnya, hampir terjatuh beberapa kali.

"Ayah… tunggu… Ayah!”

Pintu IGD tertutup.

Raya berdiri di depan pintu itu, napasnya terengah. Tangannya gemetar hebat. Dunia terasa sunyi… hanya detak jantungnya yang terdengar begitu keras.

Beberapa menit kemudian—yang terasa seperti berjam-jam—seorang dokter keluar.

Wajahnya serius… lalu perlahan berubah sendu.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…”

Kalimat itu seperti menghantam Raya tanpa ampun.

"Pasien sudah tidak ada. Beliau… sudah meninggal sebelum sampai ke rumah sakit. Maafkan kami, kami tidak bisa berbuat apa-apa!”

Semua orang terdiam.

Sunyi.

Hancur.

Raya menatap dokter itu dengan mata kosong. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang keluar.

Seolah otaknya menolak memahami kenyataan itu.

"Ayah…?” bisiknya lirih.

Lalu dalam sekejap—

"AYAAAAHHHH!!!”

Jeritan Raya menggema di lorong rumah sakit. Suaranya penuh luka, penuh kehilangan, penuh kehancuran.

Tubuhnya limbung.

Dunia benar-benar gelap.

Dan detik berikutnya, Raya jatuh tak sadarkan diri.

Raya tersadar perlahan.

Langit-langit kamar yang familiar menyambut pandangannya. Itu kamar Rana—adik bungsunya. Aroma khas minyak telon dan bedak bayi yang masih tersisa di sudut ruangan membuat dadanya sesak. Sejenak, ia diam… kosong.

Matanya berkedip beberapa kali, mencoba mengumpulkan potongan ingatan yang terasa seperti mimpi buruk.

Akad.

Talak.

Ayah jatuh…

Deg.

Suara gaduh dari luar memecah lamunannya. Tangisan… teriakan… dan suara orang-orang yang saling bersahutan. Suara itu bukan sekadar ramai—itu pilu. Itu kehilangan.

Napas Raya mendadak tercekat.

“...Ayah?”

Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat mencerna. Ia bangkit dengan tergesa, hampir terhuyung. Kakinya gemetar saat menyentuh lantai dingin. Tangannya meraih gagang pintu dengan ragu… seolah takut pada kenyataan di baliknya.

Namun saat pintu itu terbuka—

Dunia Raya runtuh untuk kedua kalinya.

Di ruang tengah, terbujur kaku sosok yang paling ia cintai. Tubuh itu sudah diselimuti kain putih. Wajahnya tenang… terlalu tenang.

"Ayah…”

Suara Raya nyaris tak terdengar. Tapi detik berikutnya—

"AYAAAHHH!!!”

Jeritannya memecah udara.

Raya berlari tanpa peduli, menerobos kerumunan orang. Ia menjatuhkan diri di samping jasad ayahnya, memeluk tubuh dingin itu erat, seolah dengan begitu ia bisa mengembalikan kehangatan yang telah hilang.

"Ayaaaah, jangan pergi!” tangisnya pecah, suaranya serak penuh luka. “Ayaaaah… Raya sayang Ayah… bangun Yah… tolong bangun!”

Tangannya gemetar mengguncang pelan tubuh itu, tapi tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Tak ada suara.

Hanya diam.

Dan itu yang paling menyakitkan.

Beberapa orang mencoba menarik tubuh Raya, menenangkannya, tapi ia menolak. Ia terus memeluk ayahnya, seolah takut jika dilepas, sosok itu benar-benar pergi selamanya.

Di belakangnya, bisik-bisik mulai terdengar.

"Kasihan ya…”

"Baru aja nikah dan berstatus istri…”

"Langsung jadi janda…”

"Sekarang yatim pula…”

Setiap kata itu seperti pisau. Menyayat tanpa ampun.

Di sisi lain, Rakha dan Rana juga tak kalah hancur. Rakha berusaha tegar, tapi air matanya tetap jatuh tanpa izin. Sementara Rana, si bungsu, menangis histeris, memanggil ayahnya berulang kali dengan suara kecil yang memilukan.

"AYAAAHHH, katanya besok ayah mau nganter Rana lomba menggambar. Ayah bohong, ayah malah pergi ninggalin Rana. Ayaaah, bangun yah!" Rana mengguncang tubuh ayahnya.

Suasana rumah itu dipenuhi duka yang begitu pekat.

Kemudian, sebuah tangan tua menyentuh pundak Raya dengan lembut.

"Sudahlah, Nak…”

Raya menoleh. Kakeknya berdiri di sana, mata tuanya juga basah, tapi berusaha kuat.

"Sadar… semua yang terjadi hari ini adalah garis tangan yang harus kita terima. Ayahmu telah pergi, yang telah pergi tak akan kembali…” ucapnya pelan, namun tegas. “Kamu anak sulung Santoso… kamu harus tegar. Lanjutkan perjuangannya, wujudkan semua cita-cita ayahmu. Bangkitlah Nak, kamu akan bisa melakukan semuanya. Kakek yakin, selalu ada pelangi setelah badai. Inna ma'al usti yusraa. Sesungguhnya setelah kesulitan, pasti ada kemudahan."

Kata-kata itu menembus hati Raya.

Perlahan, tangisnya mereda. Bukan karena sakitnya hilang—tapi karena ia mulai sadar… kini tak ada lagi tempat bersandar.

Ayahnya… benar-benar pergi.

Dengan tangan gemetar, Raya mengusap wajahnya sendiri. Air mata masih mengalir, tapi kini matanya berubah.

Bukan hanya penuh luka.

Tapi juga… penuh tekad.

Raya menggenggam tangan dingin ayahnya erat, seolah tak rela melepaskannya walau satu detik saja. Kepalanya bersandar di sisi tubuh itu, matanya terpejam, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.

"Ayah…” suaranya lirih, hampir tak terdengar di antara isak tangis yang masih tersisa.

"Ayah dengar kan… Raya di sini…”

Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya, meski dadanya terasa seperti diremas.

"Ayah… maafin Raya ya… Raya belum sempat bikin Ayah bangga sepenuhnya. Raya masih sering ngeluh, masih sering manja…” bibirnya bergetar. “Padahal Ayah selalu kuat… selalu jadi sandaran buat kita semua…”

Tangannya semakin menggenggam.

"Tapi Ayah tenang ya…” lanjutnya, suaranya mulai berubah—masih rapuh, tapi ada keteguhan yang perlahan tumbuh. “Mulai hari ini… Raya janji…”

Raya membuka matanya, menatap wajah ayahnya yang kini tak lagi bisa membalas.

"Raya akan mewujudkan semua cita-cita Ayah.”

Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak terisak. Ia berbicara dengan keyakinan yang pelan namun pasti.

"Raya akan jadi kuat… seperti yang Ayah mau. Raya akan jaga ibu, Rakha… jaga Rana… Raya akan gantiin Ayah semampu Raya.”

Ia mengusap lembut tangan ayahnya, seperti dulu saat ayahnya menenangkannya.

"Raya juga akan buktiin ke dunia… siapa Raya sebenarnya.”

Suaranya sedikit meninggi, bukan karena marah—tapi karena tekad yang mulai menyala.

"Raya bukan perempuan lemah… bukan perempuan yang bisa dihancurkan begitu saja.”

Ia menunduk, dahinya menyentuh tangan ayahnya.

"Suatu hari nanti… Raya akan berdiri di tempat yang tinggi… dan semua orang akan lihat… bahwa Raya adalah anak Ayah… yang tidak pernah menyerah.”

Tangisnya pecah lagi, namun di sela itu terselip senyum tipis yang penuh luka.

"Dan saat hari itu datang…” bisiknya pelan, "Raya mau Ayah bangga… walaupun Ayah gak ada di sini lagi…”

Ia terdiam sejenak.

Lalu, dengan suara yang hampir seperti doa—

"Tunggu Raya ya, Yah… Raya pasti bisa…”

Dalam diam, di tengah isak tangis dan doa yang mulai dilantunkan—

Setelah mengucapkan janji di dekat jasad ayahnya yang terbujur kaku, Raya juga bersumpah. Ia akan membalas semuanya.

Kamil Riza Mahendra adalah awal dari kehancuran hidupnya hari ini.

Dan Raya tidak akan membiarkan itu berlalu begitu saja.

"Hancurku hari ini…” batinnya lirih, "akan kubalas… berkali lipat." Tekad Raya.

3. Pemakaman

Langit siang itu mendung, seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti keluarga besar Pak Santoso. Awan kelabu menggantung rendah, angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah. Sejak pagi, rumah duka tak pernah sepi dari pelayat yang datang silih berganti.

Tangis lirih terdengar dari dalam rumah. Beberapa kerabat mencoba menenangkan Bu Santoso yang terus menangis tanpa henti. Kehilangan suami tercinta dalam waktu yang begitu mendadak membuat hatinya seakan ikut runtuh.

Di sudut ruangan, Raya duduk terpaku.

Matanya sembab, wajahnya pucat. Ia bahkan tidak tahu harus menangis atau tidak. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang datang bertubi-tubi. Dalam waktu kurang dari satu jam, hidupnya berubah drastis—menjadi istri, lalu janda, dan kini… kehilangan ayahnya.

Raya menatap ke arah jasad ayahnya yang sudah terbujur kaku, dibalut kain kafan. Dadanya sesak.

"Ayah…” lirihnya hampir tak terdengar.

Tangannya gemetar saat ia mencoba menyentuh ujung kain kafan itu. Dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang biasanya selalu hangat memeluknya.

"Maafin Raya, Yah!” suaranya pecah. “Raya belum sempat bikin Ayah bangga…”

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Satu per satu, hingga berubah menjadi isak yang tak bisa dibendung lagi.

Beberapa orang mendekat, mencoba menenangkan. Namun rasa kehilangan itu terlalu besar untuk sekadar dihapus dengan kata-kata.

Tak lama kemudian, proses pemberangkatan jenazah dimulai.

Suara doa menggema pelan, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Para pelayat ikut mengiringi, langkah mereka berat, suasana hening hanya diisi oleh tangis yang tertahan.

Raya berjalan di antara kerumunan, langkahnya lemah. Beberapa kali ia hampir terjatuh jika tidak ditopang oleh kerabat di sampingnya.

Saat keranda diangkat, Raya menatapnya dengan pandangan kosong.

Itu benar-benar ayahnya.

Ayah yang tadi pagi masih sempat berbicara dengannya… kini pergi untuk selamanya.

"Ya Allah…!” bisiknya pelan, suaranya nyaris hilang terbawa angin.

Di pemakaman, tanah sudah digali. Lubang itu terlihat begitu dalam—seakan menjadi batas antara dunia yang fana dan keabadian.

Hujan rintik mulai turun, menambah suasana sendu.

Satu per satu, orang-orang mengelilingi liang lahat. Doa kembali dipanjatkan. Raya berdiri tak jauh dari sana, tubuhnya kaku, matanya tak lepas dari setiap proses yang terjadi.

Saat jasad Pak Santoso mulai diturunkan ke dalam liang lahat, Raya tak mampu lagi menahan dirinya.

"Ayah…!” teriaknya, suaranya pecah penuh keputusasaan.

Ia melangkah maju, namun segera ditahan.

"Raya, Nak… ikhlasin…” ujar seseorang dengan suara bergetar.

Namun bagaimana mungkin ia mengikhlaskan secepat itu?

Baru saja ia kehilangan segalanya.

Ayahnya adalah tempat terakhirnya bersandar. Satu-satunya orang yang selalu mempercayainya tanpa syarat.

Dan sekarang… semuanya hilang.

Raya jatuh berlutut di tanah yang mulai basah oleh hujan. Tangannya mencengkeram tanah, seolah ingin menghentikan waktu agar tak berjalan lebih jauh.

"Ayah… jangan tinggalin Raya!” tangisnya pilu.

Orang-orang di sekitarnya ikut menunduk, beberapa tak kuasa menahan air mata. Pemandangan itu begitu menyayat hati.

Tanah mulai ditimbun perlahan.

Setiap sekop tanah yang jatuh terasa seperti menghantam hati Raya. Ia hanya bisa menatap, tak berdaya, saat sosok yang paling ia cintai benar-benar menghilang dari pandangannya.

Hingga akhirnya… hanya tersisa gundukan tanah.

Dan keheningan.

Setelah semua selesai, satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Hujan pun perlahan reda, menyisakan udara dingin yang menusuk.

Namun Raya masih di sana.

Duduk diam di depan pusara ayahnya.

Matanya kosong, air matanya sudah hampir habis. Ia bahkan tak tahu harus merasa apa lagi.

"Raya janji, Yah…” bisiknya lirih, suaranya serak.

"Ayah tenang aja… Raya bakal jadi orang yang kuat. Raya bakal wujudin semua cita-cita Ayah…”

Tangannya menyentuh tanah makam itu dengan lembut.

"Raya bakal buktiin… kalau Raya bisa… bikin Ayah bangga…”

Angin berhembus pelan, seolah membawa pergi kesedihan yang terlalu berat.

Namun jauh di dalam hati Raya, luka itu baru saja dimulai.

Dan tanpa ia sadari, hidupnya ke depan… akan jauh lebih keras dari yang pernah ia bayangkan.

***

Sementara itu, di tempat yang berbeda…

Mobil hitam milik Kamil melaju membelah jalanan kota tanpa ragu. Wajahnya terlihat tegang, namun ada sorot kepuasan yang tak bisa ia sembunyikan. Tangannya menggenggam setir erat, seolah masih mengingat jelas apa yang baru saja ia lakukan.

Ia baru saja menjatuhkan talak tiga… tepat setelah akad.

Bukan karena emosi. Bukan pula karena terpaksa. Melainkan… pilihan.

Pilihan yang menurutnya adalah bukti cinta.

Beberapa menit kemudian, mobilnya memasuki area parkiran sebuah apartemen mewah. Ia turun dengan langkah cepat, nyaris tergesa. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju lift, menekan tombol lantai tujuan dengan jari yang sedikit bergetar.

Ding.

Pintu lift terbuka.

Kamil melangkah keluar, berjalan menyusuri lorong panjang yang sunyi. Ia berhenti di depan sebuah pintu, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menekan bel.

Tak butuh waktu lama.

Pintu itu terbuka.

Seorang wanita berdiri di sana—Amanda.

Rambutnya tergerai rapi, wajahnya cantik dengan riasan tipis. Namun saat melihat Kamil, keningnya sedikit berkerut.

"Kamil?” suaranya terdengar heran. “Bukannya hari ini lo nikah?”

Kamil tersenyum.

Senyum yang sulit diartikan.

"Boleh gue masuk dulu?” tanyanya pelan.

Amanda mengangguk, meski masih diliputi rasa bingung. Ia memberi jalan, membiarkan Kamil masuk ke dalam apartemennya.

Begitu pintu tertutup, suasana mendadak hening.

Kamil berdiri di tengah ruangan, menatap Amanda lekat-lekat. Seolah memastikan bahwa wanita di hadapannya ini nyata—bukan sekadar angan yang selama ini ia perjuangkan.

"Ada apa, Mil? Lo bikin gue deg-degan,” ujar Amanda sambil menyilangkan tangan di dada.

Kamil menghembuskan napas panjang.

Lalu…

"Aku udah lakuin,” ucapnya pelan, namun tegas.

Amanda mengernyit. “Lakuin apa?”

Kamil mendekat selangkah.

"Aku nikahin dia… dan langsung aku talak.”

Hening.

Wajah Amanda langsung berubah. Matanya membesar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Lo… apa?” suaranya nyaris berbisik.

"Aku talak dia. Talak tiga,” ulang Kamil tanpa ragu. “Selesai saat itu juga.”

Amanda mundur satu langkah.

"Lo serius?” tanyanya, suaranya mulai bergetar. "Lo gila, Kamil?!”

Namun Kamil justru tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan.

"Enggak. Justru ini… bukti kalau aku serius sama kamu.”

Amanda terdiam.

"Semua ini aku lakuin demi kamu, Man,” lanjut Kamil, suaranya melembut. “Aku mau buktiin kalau gak ada siapa pun yang bisa gantikan kamu di hidup aku. Bahkan… pernikahan itu pun gak berarti apa-apa buat aku.”

Setiap kata yang keluar dari mulut Kamil terdengar mantap.

Yakin.

Seolah ia benar-benar percaya dengan apa yang ia katakan.

Namun Amanda justru menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Ada keterkejutan.

Ada ketakutan.

Dan… entah kenapa, ada sedikit keraguan yang mulai menyelinap di hatinya.

"Mil…” ucapnya pelan. “Lo sadar gak sih… apa yang barusan lo lakuin itu?”

Ia tak melanjutkan kalimatnya.

Karena bahkan ia sendiri tak tahu harus menyebutnya sebagai apa.

Cinta?

Atau… kehancuran?

Kamil melangkah lebih dekat, menatapnya penuh harap.

"Gue cuma mau lu tahu,” katanya lirih, “gue rela ngelakuin apa aja buat lo.”

Ruangan itu kembali hening.

Namun kali ini… bukan karena damai.

Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih rumit mulai tumbuh di antara mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!