Indonesia
NovelToon NovelToon

"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

Bab 1: Kacamata Buluk dan Calon Suami yang Higienis

Di sebuah kamar yang luasnya hampir setara dengan lapangan futsal, Evelyn Valentina Grant sedang sibuk melakukan ritual harian yang akan membuat penata rias manapun menangis histeris. Ia tidak sedang memulas 'foundation' merk ternama atau memasang bulu mata badai. Sebaliknya, ia sedang berusaha keras terlihat seburuk mungkin.

Evelyn menatap cermin. Rambut pirangnya yang halus sengaja ia sasak sedikit agar terlihat mengembang tidak beraturan seperti sarang burung yang baru saja terkena badai. Ia mengenakan kemeja kebesaran berwarna kuning kunyit yang dipadukan dengan rok plisket berwarna hijau lumut. Kombinasi warna yang sanggup membuat mata siapa pun sakit jika menatapnya terlalu lama.

"Sempurna. Aku terlihat seperti wortel yang layu," gumamnya puas.

Sentuhan terakhir adalah kacamata dengan bingkai hitam tebal dan lensa yang saking tebalnya bisa digunakan untuk membakar semut di bawah sinar matahari. Padahal, mata Evelyn sehat walafiat. Bahkan, ia bisa menembak jatuh seekor lalat dari jarak lima puluh meter dengan mata tertutup sebelah. Tapi hei, ini adalah harga yang harus dibayar demi kebebasan.

"Queen, Anda yakin dengan penampilan ini? Tuan Stefan bisa terkena serangan jantung jika melihat putri bungsunya berubah menjadi asisten laboratorium tahun 80-an," suara berat Edward terdengar dari earpiece kecil yang tersembunyi di balik telinga Evelyn.

Evelyn menyeringai, sebuah ekspresi yang sangat tidak cocok dengan dandanannya. "Ed, dengar ya. Perjodohan ini adalah ide kolot Daddy. Kalau aku terlihat cantik, King Mafia itu akan langsung setuju. Tapi kalau aku terlihat seperti orang yang hobi mengoleksi jamur di kamar mandi, dia pasti akan lari terbirit-birit. Dan itulah rencananya."

"Tapi Queen, Arkan Alesandro Knight bukan pria sembarangan. Dia pemimpin Black Eclipse. Dia dingin, tegas, dan..."

"Dan anti-wanita, kan? Bagus. Kita lihat siapa yang lebih cepat merasa jijik," potong Evelyn sambil membenarkan letak kacamatanya yang melorot.

Sementara itu, di kediaman keluarga Knight, suasana tidak kalah sibuknya. Arkan Alesandro Knight berdiri di depan cermin, mengancingkan kemeja hitamnya dengan gerakan presisi. Wajahnya sangat tampan, dengan rahang yang cukup tajam untuk mengiris kertas. Namun, ekspresinya sedatar aspal jalanan.

"Arkan, kau sudah siap? Ingat, jangan bawa semprotan disinfektanmu ke meja makan. Itu tidak sopan," tegur Antonio Knight, sang ayah, yang muncul di pintu kamar.

Arkan tidak menoleh. Ia memasukkan sebuah botol kecil hand sanitizer ke dalam saku jasnya. "Papa tahu aku benci tempat asing. Terlalu banyak kuman. Terlalu banyak... orang."

Arkan sebenarnya tidak hanya takut kuman. Ia memiliki trauma masa kecil yang sangat spesifik: dikerubungi oleh sekelompok anak laki-laki saat SD karena mereka iri dengan ketampanannya. Sejak saat itu, Arkan merasa terancam jika ada lebih dari tiga orang yang berdiri terlalu dekat dengannya, terutama jika mereka mulai berisik. Baginya, pernikahan adalah mimpi buruk karena itu berarti ada satu orang lagi yang akan menginvasi ruang pribadinya secara permanen.

"Keluarga Grant adalah sahabat Papa. Evelyn adalah gadis yang baik, dia sangat... tenang," Antonio mencoba meyakinkan, meski ia sendiri sudah lama tidak melihat putri sahabatnya itu.

Arkan mendengus. "Tenang? Biasanya wanita akan menjerit saat melihatku. Kalau dia menjerit lebih dari dua desibel, aku akan langsung pulang."

Pertemuan itu diadakan di ruang makan kediaman Grant yang didekorasi sangat mewah. Saat keluarga Knight tiba, Arkan langsung mengeluarkan tisu basah alkohol dan mengelap punggung kursinya sebelum duduk. Ia melakukannya dengan wajah sangat serius, seolah-olah sedang melakukan operasi jantung.

Stefan Grant dan Violet Anderson hanya bisa saling lirik, sementara Franco—abang Evelyn—menahan tawa di balik gelas air putihnya.

"Maaf, anakku ini memang sedikit... higienis," ujar Sandra, ibu Arkan, dengan senyum paksa.

"Tidak apa-apa, Sandra. Kami mengerti," sahut Violet ramah. "Evelyn sedang turun sebentar lagi."

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berat dan terseret-seret di tangga. Srak... srak... srak...

Semua mata tertuju ke arah tangga. Arkan sudah menyiapkan mental untuk melihat wanita sosialita dengan gaun terbuka yang akan langsung mencoba menyentuh lengannya. Ia sudah siap dengan gerakan menghindar tingkat tinggi.

Namun, yang muncul adalah sosok dengan baju kuning kunyit yang menabrak warna hijau lumut, rambut yang berantakan, dan kacamata yang memantulkan cahaya lampu kristal hingga matanya tidak terlihat.

Uhuk! Franco tersedak air putihnya.

Evelyn berjalan menunduk, sesekali membetulkan kacamatanya dengan gerakan kikuk yang dibuat-buat. "H-halo... maaf Eve terlambat. Tadi ada rumus fisika yang tanggung untuk diselesaikan," ucapnya dengan suara sengau yang dibuat-buat.

Arkan membeku. Ia menatap Evelyn dari bawah sampai atas.

Evelyn tersenyum dalam hati. Nah, sekarang cepat katakan kau ingin membatalkan perjodohan ini, Tuan Dingin.

Tetapi, reaksi Arkan di luar dugaan. Alih-alih merasa jijik atau ingin muntah, Arkan justru menatap Evelyn dengan binar ketertarikan yang aneh. Mata tajamnya meneliti setiap inci penampilan Evelyn yang berantakan.

Baju tertutup? Bagus, tidak ada kulit yang akan bersentuhan denganku secara tidak sengaja. Kacamata tebal? Bagus, dia pasti tidak akan banyak menatap mataku. Rambut berantakan? Berarti dia tidak menghabiskan waktu berjam-jam di salon yang penuh orang berisik.

"Kau..." Arkan angkat bicara.

Evelyn menegang. "I-iya, Tuan Arkan?"

"Kau suka fisika?" tanya Arkan pendek.

Evelyn berkedip bingung di balik lensa tebalnya. "E-eh? Iya... sangat suka. Terutama hukum gravitasi, karena membuat segala sesuatu tetap berada di tempatnya dan tidak... melayang-layang mendekatiku."

Arkan mengangguk pelan. "Aku setuju."

"Apa?!" Evelyn dan Franco berteriak kompak.

"Papa, aku setuju dengan perjodohan ini. Dia terlihat... aman," ucap Arkan sambil menyemprotkan hand sanitizer ke tangannya dengan gerakan santai.

Evelyn hampir saja menjatuhkan rahangnya ke lantai. Aman? Apa dia buta? Aku terlihat seperti bencana fashion berjalan!

"Wah, luar biasa!" Stefan bertepuk tangan senang. "Aku tahu kalian akan cocok!"

"Tapi Daddy! Eve kan culun! Eve tidak pantas untuk Tuan Arkan yang hebat ini!" Evelyn mencoba melakukan pembelaan terakhir. Ia melirik Arkan, berharap pria itu sadar betapa anehnya dia.

Arkan justru berdiri dan mendekat ke arah Evelyn. Sesuai aturan trauma-nya, ia berhenti tepat di jarak 1,5 meter. Ia menatap Evelyn dengan intens. "Justru karena kau culun. Kau terlihat tidak akan punya banyak teman yang akan datang ke rumah kita dan membuat keributan. Kau juga terlihat tidak akan berani menyentuh jas mahal-ku tanpa izin."

Evelyn mengepalkan tangannya di balik rok hijau lumutnya. Sialan. King Mafia ini ternyata punya selera yang aneh. Dia menganggapku aman karena aku terlihat seperti antisosial?

"Jadi, kapan pernikahannya?" tanya Arkan pada ayahnya tanpa melepaskan pandangan dari Evelyn.

Evelyn memutar otak. Jika dia tidak bisa membatalkan pernikahan ini sekarang, dia harus membuat hidup Arkan seperti neraka di rumah nanti. Dia akan memastikan Arkan menyesal telah memilih "gadis culun" ini.

"Minggu depan," jawab Antonio mantap.

Evelyn mendesah pasrah. Di balik earpiece-nya, ia bisa mendengar Edward menahan tawa. "Queen, sepertinya rencana 'Wortel Layu' Anda gagal total. Si King Mafia itu ternyata lebih suka sayuran daripada model."

"Diam kau, Ed," desis Evelyn pelan, yang hanya dianggap sebagai gumaman malu-malu oleh para orang tua.

Malam itu, di meja makan mewah tersebut, dua orang paling berbahaya di dunia bawah baru saja menandatangani kontrak hidup bersama. Yang satu mengira dia mendapatkan istri yang tenang dan aman, sementara yang lain sedang merencanakan bagaimana cara meretas rekening bank calon suaminya jika dia berani macam-macam.

Pernikahan ini tidak akan menjadi pernikahan yang normal. Dan Evelyn bersumpah, kacamata tebalnya ini hanyalah awal dari kejutan besar bagi Arkan Alesandro Knight.

Bab 2: Peraturan Radius Satu Meter

Seminggu berlalu secepat kilat, atau lebih tepatnya secepat peluru yang keluar dari moncong glock milik Evelyn. Hari ini adalah hari pertama mereka menempati rumah baru pemberian keluarga Knight. Sebuah mansion minimalis yang sangat modern, terletak di pinggiran kota yang sepi—persis seperti keinginan Arkan yang benci kebisingan.

Evelyn berdiri di tengah ruang tamu dengan koper besarnya yang bergambar kartun kelinci (salah satu properti penyamaran culunnya). Ia masih setia dengan kacamata tebal dan kardigan rajut berwarna ungu muda yang ukurannya dua kali lipat tubuhnya.

"Jadi... ini rumah kita?" tanya Evelyn dengan suara sengau yang dibuat-buat, sambil menatap langit-langit rumah yang tinggi.

Arkan masuk ke ruangan itu sambil membawa botol semprotan disinfektan berukuran besar. Tanpa menyapa istrinya, ia mulai menyemprot gagang pintu, meja, hingga udara di sekitarnya. Sstt! Sstt! Sstt!

"Rumahku," koreksi Arkan dingin. "Kau hanya menumpang di sini karena kertas pernikahan itu. Dan sebelum kita melangkah lebih jauh, ada peraturan yang harus kau patuhi."

Evelyn mengerjapkan matanya yang tertutup lensa tebal. "Peraturan? Seperti... jadwal piket membersihkan jamur?"

Arkan meletakkan botol semprotannya di meja (setelah mengelap meja itu dengan tisu alkohol, tentu saja). Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya dan membukanya dengan sangat formal.

"Peraturan pertama: Radius Satu Meter. Jangan pernah mendekatiku lebih dari jarak satu meter. Jika kau melanggarnya, aku akan menganggapnya sebagai serangan fisik dan aku tidak segan-segan menggunakan alat pertahanan diri," ucap Arkan tegas.

Evelyn menahan tawa. Serangan fisik? Dia pikir aku akan menerjangnya seperti fans fanatik? "O-oh... baik, Tuan Arkan. Eve juga takut kuman... kuman dari orang sombong biasanya lebih galak," gumamnya pelan, namun cukup keras untuk didengar.

Arkan menyipitkan mata. "Apa kau bilang?"

"Eh? Tidak! Eve bilang... kuman di sini sangat banyak!" Evelyn segera meralat sambil berpura-pura ketakutan.

"Peraturan kedua: Jangan menyentuh barang-barang pribadiku. Terutama koleksi jam tanganku dan peralatan kerjaku. Peraturan ketiga: Jangan pernah masuk ke ruang kerjaku di lantai dua. Jika kau masuk ke sana tanpa izin, sistem keamanan laser akan otomatis mengunci pintu dan kau akan terjebak di dalam selama dua belas jam."

Evelyn mendengus dalam hati. Laser? Aku bisa mematikan sistem itu sambil menutup mata dan mengunyah permen karet. "Baik, Tuan. Eve mengerti. Eve hanya akan berada di dapur atau di kamar Eve."

"Bagus. Kamarmu di ujung lorong lantai satu. Kamarku di lantai dua. Jangan pernah naik ke atas kecuali ada kebakaran atau kiamat," tambah Arkan. Ia kemudian berbalik dan berjalan pergi menuju kamarnya yang steril.

Evelyn menatap punggung Arkan dengan tatapan tajam yang tersembunyi di balik kacamata. Begitu Arkan menghilang, ia segera menyeret kopernya ke kamar. Di dalam kamar, ia mengunci pintu, membuang kacamata tebalnya ke tempat tidur, dan membuka laptop canggih yang tersembunyi di dasar koper kelincinya.

"Ed, kau dengar itu? Dia punya sistem keamanan laser. Dia pikir dia sedang tinggal di museum Louvre?" bisik Evelyn ke arah jam tangannya.

"Queen, saya rasa dia hanya paranoid," suara Edward terdengar geli. "Tapi ada kabar buruk. Sebastian Black mulai mengendus keberadaan rumah baru Anda. Dia mengira Arkan menyembunyikan dokumen proyek Knight Company di sana."

Mata Evelyn berkilat. "Bagus. Biarkan tikus-tikus itu datang. Aku sedang bosan berakting jadi gadis culun. Oh ya, periksa juga siapa yang memasang penyadap di bawah meja makan rumah ini. Aku merasakannya saat masuk tadi."

"Penyadap? Arkan tidak tahu?"

"Sepertinya tidak. King Mafia itu terlalu sibuk dengan semprotan disinfektannya sampai tidak sadar ada 'kuman' elektronik di rumahnya sendiri."

Malam itu, saat Arkan sedang sibuk menggosok tangannya dengan sabun antibakteri untuk yang kesepuluh kalinya, Evelyn keluar dari kamarnya dengan sangat senyap. Ia tidak memakai baju ungu mudanya; ia memakai pakaian serba hitam.

Ia merayap ke ruang makan. Benar saja, di bawah meja kayu jati yang mahal itu, terdapat sebuah alat penyadap kecil dengan lampu merah yang berkedip sangat halus. Evelyn tersenyum miring. Ia mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya—sebuah scrambler frekuensi.

"Selamat tidur, pengintip," bisik Evelyn.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Evelyn membeku. Sial, si Higienis turun!

Dengan gerakan kilat, Evelyn berguling ke balik sofa dan memasang kembali kacamata tebalnya yang ia kantongi. Ia meraih sebuah buku yang ada di meja dekorasi—ternyata itu buku panduan memasak—dan berpura-pura membacanya dengan sangat serius di bawah cahaya remang-remang.

Arkan muncul dengan jubah mandi putih bersih dan masker wajah kain. Ia membawa segelas air putih. Ia berhenti saat melihat sosok bayangan di sofa.

"Apa yang kau lakukan di sini jam dua pagi?" tanya Arkan dengan suara baritonnya yang membuat bulu kuduk Evelyn sedikit merinding (kali ini bukan karena takut).

Evelyn menoleh dengan wajah "bingung". "E-eh... Tuan Arkan. Eve... Eve lapar. Tapi Eve bingung bagaimana cara menyalakan kompor yang sangat canggih itu. Jadi Eve membaca buku ini dulu supaya kompornya tidak meledak."

Arkan menatap buku di tangan Evelyn. "Itu buku resep membuat kue tanpa oven. Tidak ada hubungannya dengan menyalakan kompor."

Evelyn tertawa canggung. "O-oh... pantas saja Eve tidak menemukan tombol on/off-nya. Hehe..."

Arkan menghela napas panjang. Ia merasa keputusannya menikahi gadis ini memang benar karena dia "aman", tapi ternyata dia juga sedikit bodoh. "Kembali ke kamarmu. Aku akan menyalakan lampu sensor agar kau tidak menabrak tembok."

"Terima kasih, Tuan Arkan yang baik!" Evelyn berdiri dan berlari kecil menuju kamarnya, sengaja menabrak pinggiran meja makan sedikit agar terlihat kikuk.

Begitu pintu kamar tertutup, Evelyn bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya. "Hampir saja. Pria itu punya pendengaran yang tajam juga."

Sementara itu, Arkan berdiri di ruang makan. Ia merasa ada yang aneh dengan meja makannya. Ia berjongkok dan melihat alat penyadap yang tadinya berfungsi, kini sudah mati total terkena gangguan frekuensi.

Arkan menyipitkan matanya. "Apa mungkin si culun itu yang melakukannya? Tidak, dia bahkan tidak tahu cara menyalakan kompor."

Arkan berdiri dan menatap ke arah kamar Evelyn. "Atau mungkin... kuman di rumah ini lebih berbahaya daripada yang kubayangkan."

Bab 3: Misi Penyamaran si Mbak Pel

Pagi harinya, Arkan sudah pergi ke kantor Knight Company dengan pengawalan ketat dari Kenan dan Samuel. Ini adalah kesempatan Evelyn untuk bergerak.

"Ed, aku akan masuk ke kantor Arkan hari ini. Samuel, head hacker-nya Black Eclipse, sepertinya mulai mencoba melacak sinyal EVG di sekitar sini. Aku harus memasang firewall fisik di server utama mereka agar identitasku tetap aman," lapor Evelyn sambil mengunyah roti selai kacang.

"Anda ingin masuk sebagai istri CEO?" tanya Edward ragu.

"Gila kau? Arkan akan pingsan jika aku muncul di kantornya dengan baju kuning kunyit ini. Aku akan masuk sebagai staf cleaning service baru. Kebetulan perusahaan pembersih yang bekerja di sana adalah salah satu anak perusahaan rahasia milik EVG."

Dua jam kemudian, di gedung Knight Company yang menjulang tinggi, seorang wanita dengan seragam biru, masker medis, dan topi yang ditarik rendah sedang sibuk mengepel lantai di koridor lantai paling atas—area ruang kerja Arkan.

Evelyn bekerja dengan sangat efisien. Sambil mengepel, ia menjatuhkan mini-drone seukuran lalat untuk memetakan sensor laser yang dibicarakan Arkan semalam.

"Bos, staf pembersih yang baru itu rajin sekali ya," bisik Kenan pada Arkan yang baru saja keluar dari ruang rapat.

Arkan melirik sekilas ke arah "si mbak pel". Ia mencium sesuatu. Bukan bau pembersih lantai murahan, melainkan aroma sabun bayi yang sangat lembut. Aroma yang sama dengan yang ia cium di rumahnya semalam saat berada di dekat Evelyn.

Arkan berhenti melangkah. Kenan dan Samuel ikut berhenti, bingung.

Arkan berjalan mendekati Evelyn. Evelyn tetap menunduk, tangannya terus mengayunkan pel dengan ritme yang stabil. Sial, kenapa dia mendekat? Ingat radius satu meter, Tuan Higienis! batin Evelyn panik.

Arkan berhenti tepat satu meter di belakang Evelyn. "Kau. Staf baru?"

Evelyn mengubah suaranya menjadi suara wanita paruh baya yang serak. "I-iya, Tuan Besar. Saya baru mulai hari ini. Maaf jika saya menghalangi jalan Tuan."

Arkan menyipitkan mata. Ia melihat tangan wanita itu. Meskipun terlihat kasar karena penggunaan sarung tangan karet, tapi gerakannya sangat terlatih. "Gunakan disinfektan merk ini untuk meja kerjaku. Jangan pakai yang lain," Arkan menyerahkan sebuah botol kecil dari sakunya.

"Baik, Tuan Besar."

Arkan berjalan pergi, tapi ia sempat berbisik pada Kenan. "Periksa latar belakang staf pembersih itu. Aku benci bau sabun bayi di kantorku."

Evelyn menghela napas lega setelah Arkan masuk ke ruangannya. Ia segera menuju ke ruang server yang terletak di balik dinding pantry. Dengan kecepatan cahaya, ia meretas kunci pintu digital dan masuk ke dalam ruangan yang dingin dan penuh suara bising mesin tersebut.

"Oke, mari kita buat sedikit kekacauan, Samuel Whitaker," gumam Evelyn sambil mencolokkan *flashdisk* hitam ke server utama.

Di ruangannya, Samuel tiba-tiba berteriak. "Bos! Sistem kita diserang! Seseorang mencoba menanamkan firewall yang tidak bisa kutembus!"

Arkan langsung berdiri. "Lacak lokasinya!"

"Sinyalnya berasal dari... dalam gedung ini! Lantai ini!"

Arkan langsung berlari keluar. Insting mafianya bekerja. Ia teringat si mbak pel tadi. Ia langsung menuju ruang server, namun saat ia mendobrak pintu, ruangan itu kosong. Hanya ada kabel server yang masih sedikit bergoyang.

Evelyn sudah berada di atas plafon, merayap menuju saluran udara. Ia tersenyum miring melihat Arkan yang tampak marah di bawah sana.

Tiba-tiba, suara alarm gedung berbunyi. Bukan karena peretasan, melainkan karena... asap?

"Kebakaran!" teriak seseorang di koridor.

Evelyn terkejut. Aku tidak membakar apa pun! Ia melihat melalui celah ventilasi, ada dua pria berpakaian hitam—bukan anak buah Arkan—sedang melempar bom asap di lobi lantai atas. Itu anak buah Sebastian Black!

Mereka memanfaatkan kekacauan untuk masuk ke ruang kerja Arkan.

Arkan, yang sedang berada di depan ruang server, tiba-tiba dikerumuni oleh karyawan yang panik berlarian menuju tangga darurat. Trauma Arkan kambuh seketika. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal. Ia merasa oksigen di sekitarnya habis saat orang-orang tak sengaja menyenggol bahunya.

"Jangan... jangan mendekat..." gumam Arkan lemas, ia bersandar di tembok, tubuhnya bergetar hebat.

Kenan dan Samuel terpisah oleh kerumunan massa yang panik.

Evelyn melihat itu dari ventilasi. Ia mendengus kesal. "Pria sombong ini benar-benar punya titik lemah yang merepotkan."

Evelyn menjatuhkan diri dari plafon tepat di depan Arkan. Ia tidak peduli lagi dengan penyamarannya sebagai mbak pel. Ia menarik tangan Arkan—melanggar aturan radius satu meter—dan menarik pria itu masuk ke dalam ruangan pantry yang kosong.

"Tutup matamu dan dengarkan suaraku!" perintah Evelyn dengan suara aslinya yang penuh otoritas.

Arkan yang setengah sadar hanya bisa merasakan kehangatan tangan wanita itu. Anehnya, sentuhan ini tidak membuatnya jijik. Ia justru merasa seperti menemukan jangkar di tengah badai.

"Bernapas, Arkan. Satu... dua... tiga... Ikuti ritmeku," ucap Evelyn sambil menekan dada Arkan pelan untuk membantunya mengatur napas.

Setelah beberapa saat, napas Arkan mulai stabil. Ia membuka matanya dan melihat "si mbak pel" yang kini maskernya sedikit melorot, memperlihatkan bibir yang ranum dan dagu yang indah.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arkan lemah.

Evelyn tersadar. Ia segera menarik tangannya dan membetulkan maskernya. "Saya... saya hanya orang yang tidak ingin Tuan mati di pantry dan membuat saya kehilangan pekerjaan. Cepat pergi, anak buah Sebastian ada di luar."

Evelyn segera keluar dari pantry dan menghilang di tengah asap, meninggalkan Arkan yang masih bingung dengan jantung yang berdegup kencang—bukan karena takut kerumunan, tapi karena sentuhan wanita misterius itu.

Evelyn berlari menuju pintu darurat, ia harus segera kembali ke rumah dan berubah menjadi "si wortel layu" sebelum Arkan pulang.

"Pernikahan ini benar-benar akan menguras tenagaku," keluh Evelyn sambil melompat ke jok motor sport-nya yang tersembunyi di gang samping gedung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!