Indonesia
NovelToon NovelToon

Catur Mithra

Chapter 1: Seperti Inikah Rasanya Bahagia?

^^^Senin, 13 Agustus^^^

TAP! TAP! TAP!

Derap langkah sepatu siswa SMAN Cempaka 1 menyemarakkan suasana pagi hari itu. Semua murid bergegas masuk karena gerbang sekolah sebentar lagi akan ditutup oleh satpam, terlebih lagi hari ini adalah hari Senin dimana hari diadakannya upacara sekolah sehingga semua murid tak ingin terlambat dan dikenai hukuman oleh kepala sekolah yang terkenal killer. Setelah merasa semua murid sudah masuk satpam menutup gerbang sekolah dan menguncinya, tepat setelah semua gerbang terkunci ada dua siswa yang berdiri di depan gerbang dengan nafas terengah-engah.

"Pak Dani! Bukain gerbangnya dong Pak!" Seru salah satu di antara keduanya. Siswa itu bertubuh tegap atletis, kulit sawo matang, dan rambut acak-acakan. Di seragam bagian dada kanan bertengger pin nama bertuliskan "Bima Wijaya".

Sedangkan siswa lainnya bertubuh tinggi kurus, berkulit putih pucat, dan kacamata bulat yang bertengger di hidungnya. Di seragam bagian dada kanan bertengger pin nama bertuliskan "Azril Erlangga".

Pak Dani—satpam yang bertugas pagi itu melihat siapa yang memanggilnya, setelah tahu siapa yang memanggilnya dia memutar bola matanya. "Kalian lagi, kalian lagi, setiap senin pagi pasti terlambat, apa kalian gak bosan dihukum Pak Kepala Sekolah terus?" Ucapnya sembari membuka gembok gerbang.

"Hehe yah gimana lagi Pak, motorku masih rusak dan Azril belum diizinin punya motor, jadi kita harus jalan kaki hehe" Kata Bima sembari mengusap keringat di dahinya.

"Alesan aja kamu Bim. Yaudah cepet masuk, upacara bentar lagi dimulai loh" Pak Dani 'mengusir' Bima dan Azril.

Bima dan Azril bergegas masuk ke dalam, saat mereka baru mencapai lobby mereka berhenti karena ada seorang siswa yang berdiri menghadang mereka di sana. Pakaian siswi itu terlihat rapi dan bersih, dasi abu panjangnya terpakai rapi di kerah seragam, rambutnya tersisir rapi sebahu, pin namanya tertulis 'Aini Nur Khanza'.

Aini menatap mereka berdua dengan tatapan tajam, lengannya terlipat di dada. "Kalian berdua, sudah diprediksi. Telat lagi. Padahal Pak Kepala Sekolah sudah berkali-kali memperingatkan. Apa alasan kalian kali ini?" Suaranya tegas, seperti ketua OSIS yang sedang menginterogasi anggotanya—dan memang, Aini adalah ketua OSIS.

Bima menghela napas panjang, lalu tersenyum cengengesan. "Aduh, Bu Ketua, ampun deh. Motorku masih di bengkel, nih. Azril? Ya gitu deh, belum diizinin bawa motor." Ia menepuk bahu Azril yang hanya diam sambil menunduk, memperbaiki letak kacamatanya yang miring.

Azril bergumam pelan, "Maaf, Aini."

Aini menggeleng-gelengkan kepala. "Ini udah ketiga kalinya kalian telat di hari Senin. Nanti kalau kalian dihukum bersihin selokan lagi, jangan harap aku bisa bela." Tapi nada suaranya sedikit melunak. "Cepet, cepet! Ambil tas kalian di loker, langsung ke lapangan! Barisannya udah hampir selesai. Aku duluan ya!" Setelah berkata begitu, Aini berbalik dan berlari kecil menuju lapangan upacara, meninggalkan Bima dan Azril yang masih terengah-engah di lobi.

...~•~•~•~...

Suasana kelas XII IPS 2 di jam istirahat biasanya riuh rendah, tapi hari ini terasa lebih sepi karena sebagian besar siswa memilih pergi ke kantin atau ke perpustakaan. Hanya beberapa yang bertahan, salah satunya Azril.

Anak berkacamata itu duduk sendirian di bangku paling pojok dekat jendela. Buku catatan Bahasa Inggris terbuka di hadapannya, pulpen bergerak rapi menuliskan rumus-rumus grammar dan contoh kalimat Past Perfect Tense yang baru saja dijelaskan Bu Dina. Cahaya matahari siang menyelinap masuk, menyinari tumpukan buku di mejanya. Ia sangat fokus, alisnya mengernyit sesekali saat memastikan tulisannya rapi dan tidak ada yang terlewat. Baginya, mencatat ulang pelajaran adalah cara terbaik untuk memahami, dan juga cara untuk menghindari keramaian.

Sebuah benturan keras dan tiba-tiba menghantam bagian belakang kepalanya. Buku catatan itu terdorong hingga hampir jatuh, dan pulpennya melesat ke lantai. Azril membeku. Rasa sakit berdenyut di kepalanya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pelakunya. Bola voli karet berwarna biru putih itu menggelinding pelan di samping mejanya, lalu berhenti.

Tawanya sudah terdengar dari belakang. Suara berat dan meledek itu sangat familiar di telinga Azril. Suara yang sudah ia dengar sejak kelas satu SMP.

"Wih, maap-maap nih! Gak sengaja!" Marcel, siswa bertubuh besar dengan rambut berantakan dan senyum sinis, berjalan mendekat dengan dua temannya. Ia sengaja memukul bola itu ke arah Azril. "Lagian duduknya di pojok, jadi sasaran tembak gue, nih. Nyatet mulu, mau jadi apa lo, Profesor?"

Kedua temannya terkekeh.

Azril masih diam. Tangannya mengepal di bawah meja. Dadanya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang sudah lama terpendam. Ia tahu, melawan atau membalas hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Ia sudah sangat hafal dengan situasi ini.

Ia hanya menunduk lebih dalam, meraih pulpennya yang jatuh, lalu berusaha merapikan kembali catatannya yang sedikit berantakan karena terbentur. Tanpa sepatah kata pun. Hening.

Marcel mengangkat bola volinya, memutar bola itu di ujung jarinya. "Diem aja lo, kayak patung. Sini, muka lo yang pucet itu gue pake nge-pas bola voli deh, biar merah dikit." Ia kembali tertawa, puas dengan reaksi diam yang ia dapatkan.

Namun, sebelum ia sempat berbuat lebih jauh, suara langkah kaki tergesa terdengar dari pintu kelas.

"Oi, Marcel! Lo lagi?! Berhenti!" Bima muncul di ambang pintu dengan sekotak nasi bungkus di tangan. Matanya langsung menangkap situasi: Azril yang membeku, dan Marcel yang berdiri di dekatnya dengan bola voli. Wajah Bima berubah, dari kaget menjadi geram.

Marcel menoleh dengan malas, senyum sinisnya masih terukir sempurna. "Wah, wah, wah, ada bodyguard-nya si profesor dateng juga. Lo mau apa, Bim? Mau belain temen lo yang culun itu?" Ia menunjuk Azril dengan dagunya.

Bima meletakkan bungkus nasi itu kasar di meja terdekat. "Gue kasih tau ya Cel. Jangan macam-macam sama Azril. Ini udah kesekian kalinya lo ngerjain dia. Cari lawan yang seimbang, jangan yang gak bisa lo lawan."

"Hahahaha, denger tuh guys, katanya cari lawan yang seimbang." Marcel berpaling ke dua temannya, lalu kembali menatap Bima dengan tatapan meremehkan. "Maksud lo, lawan yang seimbang itu lo? Lo pikir lo siapa? Pahlawan supernya anak buangan?"

Dua teman Marcel tertawa mendukung. Beberapa siswa yang ada di kelas mulai melirik, ada yang diam ketakutan, ada yang sibuk merapikan peralatan sekolah seolah ingin segera pergi.

Bima melangkah maju, jarak antara dia dan Marcel kini hanya sekitar satu meter. "Turunin tuh bola, Di. Minta maaf sama Azril."

"Minta maaf? Buat apa? Gue cuma 'gak sengaja' kok." Marcel memberi penekanan pada kata gak sengaja dengan nada mengejek. "Lagipula, dari dulu gue lakuin, tuh orang diem aja. Tiba-tiba sekarang lo mau ribut?"

"Karena sekarang gue muak liat muka lo."

Udara di kelas XII IPS 2 tiba-tiba terasa panas. Marcel melempar bola volinya ke arah temannya, lalu melangkah maju hingga dadanya hampir menempel dengan dada Bima. "Oke, oke. Lo mau ribut? Gue ladenin. Biar sekalian kelar, biar lo tau siapa yang paling berkuasa di sekolah ini."

Belum sempat Bima menjawab, dorongan keras tiba-tiba datang dari Marcel. Tubuh Bima terhuyung mundur beberapa langkah, tapi dengan cepat ia menyeimbangkan diri. Begitu ia melihat Azril yang sudah berdiri dan menarik-narik ujung seragamnya dari belakang, Bima mengabaikannya. Balas mendorong Marcel hingga siswa besar itu mundur dan hampir jatuh ke bangku.

"HAJAR, BIMA!" teriak seorang siswa dari pojok kelas, spontan.

Seketika itu juga Marcel melayangkan tinjunya ke arah Bima. Namun Bima yang bertubuh atletis dan terbiasa berkelahi dengan cepat menangkis dan membalas dengan pukulan ke arah perut Marcel. Marcel meringis kesakitan, tapi tak mau kalah. Ia bangkit dan mencoba memiting leher Bima.

Kekacauan pun tak terhindarkan. Keduanya bergumul di antara meja dan kursi. Buku-buku berjatuhan, tas terjatuh, dan bangku kayu bergesekan di lantai menciptakan suara berisik yang memekakkan telinga. Siswa-siswa yang tadinya diam berteriak histeris. Beberapa berusaha melerai tapi takut terkena pukulan.

"Awas! PISAHIN! PISAHIN!"

"CEPAT PANGGIL GURU!"

"JANGAN, JANGAN BIMA!"

Teriakan-teriakan itu bersahutan. Azril berdiri terpaku, badannya gemetar. Ia ingin membantu Bima, tapi tubuhnya seperti lumpuh. Kacamatanya miring, pandangannya kabur melihat sahabatnya bergumul dengan Marcel.

Beberapa siswa lelaki akhirnya memberanikan diri. Mereka berhamburan ke tengah, menarik bahu Bima dan Marcel. "Udah! Udah! Stop! STOP!" teriak seorang siswa bertubuh besar bernama Riko, yang merupakan salah satu pemain basket sekolah. Dengan kekuatannya, ia berhasil merenggangkan Bima dari Dion, meskipun kedua tangannya harus menahan dorongan Bima yang masih berusaha maju.

Yang lain segera mengamankan Marcel ke sudut ruangan yang berbeda. Marcel mengusap bibirnya yang berdarah, napasnya memburu. "WOI BIMA! BELOM SELESAI INI!" Ia masih memberontak meskipun ditahan oleh dua orang temannya.

"YA UDAH, LANJUTIN! GUE GAK TAKUT LO, DI!" Bima juga tak mau kalah, meskipun seragamnya sudah koyak di bagian siku dan dasinya melorot tak keruan.

"SUDAH!!!" Riko berteriak sekencang-kencangnya hingga membuat semua orang di kelas terdiam. "KALO KALIAN GAK MAU DI SKORS DAN DI PANGGIL ORANG TUA, BERHENTI SEKARANG JUGA!"

Kata 'skors' dan 'orang tua' seperti siraman air dingin. Bima dan Marcel sama-sama tertegun. Napas mereka masih berat, tapi amarah di mata mereka mulai mereda, berganti kesadaran akan konsekuensi.

Di tengah keheningan yang canggung itu, suara ketukan tumit sepatu yang mantap terdengar dari lorong. Semua kepala menoleh ke pintu.

Aini berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi tapi matanya menyala-nyala. Bukan marah, tapi lebih seperti tidak percaya. Di belakangnya, terlihat Pak Didi, guru BK yang terkenal sangar, sedang berjalan cepat menyusul.

Aini menatap ruangan yang berantakan, lalu matanya beralih ke Bima yang compang-camping, lalu ke Marcel yang bibirnya berdarah, lalu ke Azril yang masih gemetar di pojok dengan kacamata miring. Napasnya memburu.

"Kalian... kalian benar-benar..." Aini tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Tangannya mengepal erat di samping tubuh.

Dan saat itu juga, Pak Didi muncul di belakang Aini. Suara beratnya menggelegar memecahkan keheningan yang tersisa.

"BIMA WIJAYA. MARCEL OLIVER. IKUT SAYA KE RUANG BK. SEKARANG."

Suara Pak Didi menggelegar, membuat semua siswa di kelas XII IPS 2 membeku. Marcel langsung menunduk, mengusap bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu melangkah keluar dengan langkah gontai diikuti dua temannya. Sebelum pergi, ia sempat melirik ke arah Bima dengan tatapan masih menyisakan amarah.

Bima menghela napas panjang. Seragamnya kusut, dasi melorot, siku bajunya robek. Ia merapikan kerah bajunya sebentar, lalu menoleh ke belakang. Mencari Azril di antara kerumunan siswa yang masih terpaku.

Azril masih berdiri di pojok dekat jendela. Kacamatanya miring, rambutnya berantakan, dan tubuhnya masih bergetar. Ia menatap Bima dengan pandangan yang campur aduk—takut, bersalah, dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Bima berjalan mendekat. Setiap langkahnya melewati meja dan kursi yang berantakan. Siswa-siswa lain minggir memberi jalan. Sampai akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Azril.

"Tenang aja Zril, gue baik-baik aja kok." Bima tersenyum. Senyum khasnya yang cengengesan, seolah baru saja ia tidak terlibat perkelahian sengit. Ia menepuk pundak Azril pelan. "Lo tenang aja, jangan kepikiran."

Azril hanya bisa diam. Mulutnya terbuka setengah, tapi tak ada satu kata pun keluar. Ia menatap wajah Bima—sahabatnya yang baru ia kenal satu bulan ini—yang sekarang lebam di pelipis, tapi masih bisa tersenyum lebar.

Bima lalu berbalik, berjalan menuju pintu tempat Pak Didi sudah menunggu dengan tangan bersidekap. Sebelum benar-benar keluar, ia sempat melambaikan tangan ke arah Azril. "Gue balik lagi kok! Jangan nangis ya, Prof!"

Beberapa siswa terkekeh canggung. Yang lain mulai membereskan meja dan kursi yang berantakan.

Azril masih berdiri di tempatnya, bahkan setelah Bima hilang dari pandangan. Matanya terasa panas. Bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dan asing.

Seperti inikah rasanya dibela teman?

Pikirannya melayang satu bulan ke belakang. Hari pertama ia pindah ke SMA Cempaka 1. Duduk di bangku paling belakang, sendiri, berharap tidak ada yang memperhatikannya seperti biasa. Lalu tiba-tiba ada siswa bertubuh tegap dengan rambut acak-acakan duduk di sampingnya dan berkata, "Lu anak baru? Namanya Azril? Gue Bima. Lo anak IPS 2 kan? Yuk makan bareng, gue kenalin lingkungan sekolah kita."

Tanpa alasan. Tanpa motif. Hanya... kebaikan sederhana.

Dan sekarang, siswa itu baru saja berkelahi membelanya.

"Zril, lo gapapa?"

Suara Aini membuat Azril tersentak. Ketua OSIS itu kini berdiri di sampingnya, wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran.

Azril mengangguk pelan. "Aku... aku gapapa, Ai."

Aini menghela napas. Matanya menyapu ruangan yang mulai kembali tertata. "Bima itu... dia sahabat baik, ya? Mau berantem gegara lo."

Azril menunduk. Jari-jarinya merapikan kacamata yang miring. "Kita baru kenal satu bulan, Ai."

Aini terdiam. Lalu tersenyum kecil. "Satu bulan, tapi dia rela ribut sama Marcel yang dikenal brutal itu. Kalau bukan sahabat sejati, apa namanya, Zril?"

Azril tidak menjawab. Ia hanya menggenggam erat pulpennya, menatap pintu kelas tempat Bima baru saja pergi.

Di dalam dadanya, sesuatu yang selama ini mati rasa, mulai berdetak lagi. Rasa hangat yang asing, tapi nyata.

Terima kasih, Bim.

...~•~•~•~...

BUK! BUK! BUK!

Suara pukulan keras dan rutin terdengar dari lapangan belakang sekolah. Matahari sudah condong ke barat, menunjukkan waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Kegiatan ekstrakurikuler telah usai, dan sebagian besar siswa sudah pulang. Tapi di lapangan belakang yang sepi, Bima masih sibuk memukul samsak gantung yang sudah usang.

Tangannya yang dibalut perban putih tipis (hasil dari perawatan kecil di ruang BK setelah Pak Didi selesai memberi ceramah panjang lebar) terus memukul dengan ritme teratur. Keringat membasahi kaus oblongnya yang putih. Wajahnya serius, berbeda sekali dengan senyum cengengesan yang biasa ia tampakkan.

Dasar Marcel, keterlaluan.

Pukulannya makin keras.

Tahun lalu Azril sudah dipindah dari sekolah lama karena bulli. Dan sekarang kejadian lagi.

BUK!

Untung gue ada.

BUK!

Tapi...

Pukulannya melambat. Lalu berhenti.

Kenapa ya, gue sampe segitunya bela dia?

Bima menghela napas, meraih botol minum di sampingnya. Ia meneguk air mineral, lalu menyiramkan sisa air ke wajah dan rambutnya. Dingin, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikiran yang berkecamuk.

Ia baru saja mau melanjutkan pukulan ketika suara langkah kaki terdengar mendekat. Bima menoleh.

Azril berdiri di pinggir lapangan, masih dengan seragam sekolahnya yang kusut, memegang dua bungkus plastik. Ia tampak ragu-ragu, seperti anak kucing yang mau masuk ke wilayah asing.

"Bim..." suaranya pelan.

Bima mengangkat alis, lalu tersenyum. "Wih, Profesor dateng! Lo gak pulang?"

Azril berjalan mendekat dengan langkah hati-hati. Matanya mengamati perban di tangan Bima, lalu lebam di pelipisnya. Wajahnya menyesal. "Ini... aku beliin... buat lo." Ia mengulurkan plastik yang ternyata berisi es batu yang dibungkus kain dan sekotak nasi bungkus.

Bima menerimanya, menimbang-nimbang dengan satu tangan. "Es batu dan nasi? Lo mau gue sembuh tapi sekalian kenyang? Efisien juga, Prof."

Azril tersenyum kecil, meskipu masih terlihat canggung. "Buat... buat lebam di pelipis lo. Dan lo pasti laper abis... abis..."

"Abis berantem?" Bima menyelesaikan kalimatnya sambil tertawa. "Iya, gue laper banget. Makasih ya, Zril. Lo perhatian banget."

Azril duduk di samping Bima, di pinggir lapangan yang berumput agak kering. Beberapa saat mereka diam. Suara jangkrik mulai terdengar samar-samar.

"Bim..." Azril memulai lagi, suaranya bergetar sedikit.

"Hm?"

"Gue... Minta maaf. Karena gue lo jadi ribut sama Marcel. Lo bisa kena skors. Lo bisa..." Azril tidak melanjutkan. Tangannya meremas ujung seragamnya sendiri.

Bima menoleh, menatap Azril serius. Lalu ia meletakkan nasi bungkusnya, menepuk pundak Azril. "Eh, denger ya Prof. Jangan pernah minta maaf karena lo jadi korban. Yang salah tuh si Marcel, bukan lo. Lo ngerti?"

Azril mendongak. Di balik kacamatanya yang bulat itu, matanya berkaca-kaca.

Bima melanjutkan, "Gue tau lo baru pindah dari sekolah lama karena alasan yang sama. Dan gue juga tau lo bukan tipe orang yang bisa lawan secara fisik. Tapi denger ya Zril..." Ia menjepit pipi Azril dengan dua jari, mencubitnya gemas. "Selama gue ada, gue gak bakal biarin siapapun ngerjain lo. Ngerti?"

Azril hanya bisa mengangguk, karena kalau bicara, suaranya pasti pecah.

Bima tersenyum lebar. "Nah gitu dong. Udah, makan dulu yuk. Kebetulan lo beli dua. Lo pasti juga belum makan kan?"

Azril mengangguk lagi, kali ini dengan senyum kecil yang mulai muncul di bibirnya.

Mereka makan bersama di pinggir lapangan yang mulai gelap. Lampu-lampu sekolah mulai menyala satu per satu. Sesekali terdengar tawa Bima yang keras, dan tawa kecil Azril yang masih malu-malu.

Dari kejauhan, di balik jendela ruang OSIS di lantai dua, Aini memperhatikan mereka. Seulas senyum tipis mengembang di wajahnya.

Untung ada Bima buat Azril.

Lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

[+62 812-XXXX-XXXX]: Ai, lo tau kan gue suka sama lo dari lama. Tapi kok lo deket banget sama Azril? Apa lo suka sama dia? Jawab!.

Aini mengernyit, membaca pesan itu dua kali. Lalu tanpa berpikir panjang, ia memblokir nomor itu.

Orang aneh.

Namun, di sudut lain sekolah, seseorang memperhatikan layar ponselnya dengan senyum puas setelah pesannya terkirim. Sebuah rencana, sekecil apa pun, mulai tersusun di kepalanya.

...~•~•~•~...

Chapter 2: Sepertinya Dia Tidak Jahat

^^^Selasa, 14 Agustus^^^

Hari Selasa pagi terasa berbeda bagi Azril.

Bukan karena suasana sekolah yang berubah, tapi karena ada sesuatu yang menggelitik di dadanya sejak ia bangun tidur. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang membuat ia tidak sabar untuk segera sampai ke sekolah.

Karena lo jadi korban. Yang salah tuh si Marcel, bukan lo.

Kalimat Bima kemarin sore terus berputar di kepalanya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Azril merasa... dilihat. Bukan sebagai sasaran empuk. Bukan sebagai anak baru yang culun. Tapi sebagai seseorang yang berhak dibela.

Ia mengayuh sepeda tuanya lebih cepat dari biasanya.

...~•~•~•~...

Hari ini Azril tiba lebih awal. Sepeda tuanya ia parkir di rak sepeda yang hanya berisi dua unit lainnya—sebuah prestasi mengingat biasanya ia datang saat bel masuk hampir berbunyi.

"Wah, Zril! Lo berangkat awal pagi ini? Ada yang aneh nih."

Azril menoleh. Bima berjalan mendekat dengan senyum khasnya, kali ini tidak terlambat karena motor kesayangannya akhirnya selesai diperbaiki semalam. Lebam di pelipisnya masih terlihat, begitu juga perban tipis di tangannya, tapi semangatnya tidak berkurang sedikit pun.

"Biasa aja," jawab Azril pelan, berusaha menahan senyum yang mulai muncul di bibirnya.

"Biasa aja katanya, padahal berangkat awal ke sekolah gara-gara mau ketemu gue," Bima menjitak pelan kepala Azril, lalu tertawa lepas. "Yaudah, yuk masuk. Sarapan dulu di kantin, gue beliin."

Mereka berjalan berdampingan memasuki gerbang. Azril yang biasanya selalu menunduk saat melewati satpam atau siswa lain, hari ini sedikit mendongak. Matanya sempat bertemu dengan seorang siswa yang duduk di teras dekat lobi.

Siswa itu memegang sebuah notebook kecil di tangannya. Jari-jarinya gemetar. Wajahnya pucat, dan keringat mulai membasahi dahinya meskipun pagi hari masih sejuk.

Azril hampir saja mengalihkan pandangan-kebiasaan lamanya menghindari kontak mata dengan siapa pun-tapi sesuatu membuatnya berhenti. Siswa itu menatapnya dengan mata yang... familiar. Seperti seseorang yang ingin berbicara tapi tidak bisa.

"Faris!" sapa Bima tiba-tiba, melambaikan tangan ke arah siswa itu.

Faris tersentak. Tangannya langsung sibuk membuka notebook, menulis sesuatu dengan tergesa-gesa. Tulisan tangannya bergetar, tapi masih terbaca:

[Halo. Selamat pagi.]

Bima mendekat, sama sekali tidak canggung dengan cara Faris berkomunikasi. "Lo sendiri aja pagi-pagi? Biasanya kan sama ibumu yang nganterin sampe depan gerbang."

Faris menunduk. Tangannya kembali menulis.

[Ibu ada keperluan. Aku naik angkutan umum sendiri.]

"Wah, keren juga! Berani berangkat sendiri!" Bima mengacungkan jempol. "Udah sarapan? Yuk ke kantin bareng gue sama Azril."

Faris menggeleng cepat. Terlalu cepat. Keringat di dahinya semakin deras, dan tangannya mulai gemetar hebat. Ia menulis lagi dengan tergesa:

[Nanti saja. Aku ke kelas dulu.]

Tanpa menunggu jawaban, Faris berjalan cepat meninggalkan mereka. Notebook-nya masih tergenggam erat, hampir seperti perisai.

Azril memperhatikan punggung Faris yang menjauh. "Dia... kenapa?"

Bima menghela napas. "Faris? Dia punya gangguan kecemasan sosial. Makanya diajak ngomong aja susah, apalagi kumpul sama banyak orang. Tapi baik kok dia. Cuma butuh waktu aja buat deketinnya."

Azril mengangguk pelan. Ada rasa simpati yang tiba-tiba muncul. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tidak bisa leluasa bergaul. Bedanya, Faris memiliki alasan medis. Azril? Ia hanya takut.

"Ayo, ke kantin," ajak Bima, menarik lengan Azril.

...~•~•~•~...

Kantin sekolah mulai ramai. Pedagang kaki lima yang menyewa lapak di belakang gedung mulai berjajar, menawarkan nasi uduk, bubur ayam, dan gorengan. Aroma masakan bercampur dengan suara tawa dan obrolan siswa yang memadati area tersebut.

Bima dan Azril mengambil nasi bungkus dari langganan Bima-seorang ibu paruh baya yang sudah hafal dengan pesanan "nasi campur ekstra kerupuk" untuk Bima dan "nasi campur tanpa sambal" untuk Azril. Setelah membayar, mereka mencari tempat duduk.

Kantin dipenuhi siswa. Hampir tidak ada bangku kosong.

"Wah, rame amat," gerutu Bima, matanya menyapu area. "Oh, itu ada satu bangku kosong di pojok."

Mereka berjalan ke arah bangku panjang di pojok kantin yang hanya diisi satu orang. Seorang siswa laki-laki bertubuh sedang, dengan rambut agak panjang menutupi dahi, duduk sendirian. Ia menunduk, menyuap nasi kotaknya pelan-pelan, berusaha terlihat sibuk.

Tapi yang menarik perhatian Azril adalah bagaimana siswa-siswa lain di sekitar bangku itu memilih berdiri meskipun bangku lain penuh. Mereka lebih memilih berdesakan di bangku lain daripada duduk di dekat siswa itu.

Azril baru menyadari identitas siswa itu saat mereka semakin dekat.

Elang Darmawan.

Mantan anggota Geng Bhayangkara. Dan salah satu siswa yang paling ditakuti-atau paling dijauhi-di sekolah ini.

Bima berhenti sejenak. Ia menatap Elang, lalu menatap bangku kosong di seberang Elang, lalu menatap Azril. "Yaudah, kita duduk di sini aja. Gak ada pilihan lain."

Azril mengangguk. Ia sebenarnya ragu, tapi perutnya sudah keroncongan dan jam pelajaran pertama sebentar lagi dimulai.

Mereka duduk di bangku yang sama dengan Elang, meskipun di ujung yang berlawanan. Elang tidak mengangkat kepala, tapi sesekali matanya melirik ke arah mereka. Ada sesuatu di balik tatapannya-bukan ancaman, bukan juga kemarahan.

Suasana canggung menyelimuti bangku itu. Bima yang biasanya cerewet tiba-tiba diam, fokus mengunyah nasinya. Azril hanya bisa menunduk, sesekali melirik ke arah Elang yang juga diam membisu.

Kwek-kwek-kwek.

Suara bebek dari ponsel seseorang memecahkan keheningan. Bima mengangkat alis, lalu tertawa kecil. "Itu nada dering siapa? Kocak banget."

Elang menggerakkan tangannya ke saku celana. Ia mengeluarkan ponsel dan menekan tombol merah, membatalkan panggilan masuk tanpa menjawab. Wajahnya sedikit memerah karena malu.

Bima nyaris tertawa, tapi menahannya. Azril justru tersenyum kecil melihat ekspresi Elang yang tiba-tiba menjadi... manusiawi. Bukan sosok menakutkan seperti yang digambarkan siswa lain.

"Maaf," kata Elang pelan. Suaranya serak dan berat, tapi nadanya... sopan.

Bima menggeleng. "Santai aja. Gue suka nada dering lo, kocak."

Elang tidak menjawab. Ia kembali menunduk ke nasi kotaknya, tapi sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat. Senyum kecil yang cepat hilang.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Azril mulai merasa sedikit lebih nyaman. Mungkin Elang tidak seburuk yang orang-orang katakan. Mungkin-

"Eh, tumben lo pada berani duduk di sini."

Suara itu membuat Azril membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.

Marcel berdiri di samping bangku mereka, dua temannya di belakang seperti bayangan. Senyum sinisnya terukir sempurna, matanya bergantian menatap Bima, Azril, lalu berhenti di Elang.

"Wah, ada mantan anak buah gue juga ternyata," Marcel menyeringai. "Elang, lo udah mulai punya teman baru? Padahal gue dulu baik banget sama lo."

Elang tidak menjawab. Tangannya yang memegang sendok berhenti bergerak, tapi ia tetap menunduk. Membisu.

"Lo masih diem kayak patung? Gitu ya cara lo balas budi?" Marcel tertawa. Matanya lalu beralih ke Azril. "Eh, Culun. Lo pindah bangku ya? Nanti kena debu dari langit-langit soalnya bangku ini gak layak buat orang kayak lo."

Bima meletakkan sendoknya. "Marcel, jangan mulai."

"Mulai apa? Gue cuma ngasih saran baik-baik." Marcel melangkah mendekati Azril. "Lo tau kenapa bangku ini kosong? Karena di sini tempatnya orang-orang elit. Kaya. Gak kayak lo berdua."

Tangan Marcel bergerak cepat. BUK! Tinjunya menghantam punggung Azril, tepat di antara tulang belikat. Azril tersentak, tubuhnya terdorong ke depan hingga dagu hampir membentur meja. Rasa sakit menjalar dari punggung hingga ke dadanya. Nasi bungkusnya tumpah.

"AZRIL!" Bima berdiri, tinjunya sudah mengepal. "Marcel, LO-"

"Lo mau apa?" Marcel menantang, dadanya membusung. "Kemarin aja lo udah hampir kena skors gara-gara bela si Culun. Sekarang lo mau bikin masalah lagi? Berani?"

Bima membisu. Ia memang tidak takut pada Marcel, tapi ancaman skors bukan hal sepele. Ayahnya sudah marah besar kemarin, dan ibunya menangis sepanjang malam. Jika ia bermasalah lagi...

Tapi Azril—

Bima sudah melangkah maju ketika Marcel kembali mengangkat tangannya. "Gue ajarin lo supaya tau diri ya Culu—"

Tangan Marcel tidak jadi mendarat.

Seseorang menggenggam pergelangan tangannya erat. Sangat erat.

Marcel menoleh. Matanya membulat. "Elang?! Lo—"

Elang berdiri. Tingginya hampir sama dengan Marcel, tapi sikapnya tidak menantang. Ia hanya menatap Marcel dengan mata teduh yang anehnya justru lebih menekan daripada amarah.

"Cukup, Marcel," kata Elang. Suaranya berat, tapi tenang. Tidak ada nada mengancam, tapi juga tidak ada keraguan.

Marcel mencoba melepaskan tangannya, tapi Elang menggenggam erat. "Lo mau ngelawan gue, Elang? Lo lupa siapa yang bikin lo gak jadi sampah? Gue yang terima lo jadi anak buah gue dulu!"

"Dan gue keluar," Elang membalas, suaranya tetap datar. "Sudah selesai, Marcel. Gue udah bukan bagian dari geng lo lagi."

"Terus lo berani pegang gue? Berani lawan gue?"

"Gue gak ngelawan." Elang melepaskan genggamannya, namun tetap berdiri di antara Marcel dan Azril. "Gue cuma minta lo berhenti. Ini kantin. Banyak yang lihat. Lo gak mau reputasi lo tercoreng gara-gara ribut di tempat umum, kan?"

Marcel terdiam. Matanya menyipit. Ia menatap Elang lama, lalu menatap Bima yang masih siap menyerang, lalu menatap Azril yang masih terduduk di bangku dengan wajah pucat. Sekeliling mereka, siswa-siswa lain mulai memperhatikan. Beberapa bahkan mengeluarkan ponsel, merekam.

"Tch," Marcel mendecak. Ia menarik tangan dari Elang, lalu meludah ke samping. "Lo hoki kali ini, Culun. Dan lo, Elang..." Ia menunjuk wajah Elang dengan jari telunjuknya. "Gue kasih waktu seminggu. Lo minta maaf dan balik lagi ke geng gue, atau lo bakal nyesel. Hidup lo bakal lebih susah daripada sekarang."

Ia berbalik, diikuti kedua temannya. Sebelum pergi, Marcel sempat melirik Bima. "Lo juga, Bima. Jaga baik-baik temen lo. Siapa tau besok... hilang."

Tawanya terdengar samar saat ia menjauh, diselingi bisik-bisik siswa lain yang mulai membubarkan diri.

Kantin perlahan kembali normal, tapi suasana di bangku pojok itu masih terasa berat.

Elang duduk kembali. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengambil nasi kotaknya yang sudah dingin dan mulai makan lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

Azril masih terpaku di bangku. Nasi bungkusnya berhamburan di meja, beberapa butir menempel di seragamnya. Punggungnya masih terasa nyeri, tapi yang lebih mengganggu adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat dadanya sesak.

Bima duduk di samping Azril, tangannya menepuk pundak pelan. "Lo oke, Zril?"

Azril tidak menjawab. Matanya tertuju pada Elang yang duduk di seberang, menunduk, menyuap nasi dengan tenang.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Azril berbicara langsung kepada seseorang yang baru ia temui. Suaranya pelan, sedikit bergetar, tapi jelas.

"Makasih, Elang."

Elang berhenti mengunyah. Ia mendongak, menatap Azril dengan mata yang tadi malam dipenuhi kelelahan, tapi sekarang... ada sedikit kilau. Seperti seseorang yang sudah lama tidak mendengar ucapan terima kasih.

Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menunduk.

Tapi senyum kecil itu muncul lagi. Kali ini lebih lama.

Bima memperhatikan interaksi mereka, lalu tersenyum. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya, membersihkan tumpahan nasi di meja depan Azril. "Besok gue traktir yang lebih enak, ya, Prof. Yang ini udah berantakan."

Azril menggeleng pelan. "Gapapa, Bim."

"Tuh kan, lo baik banget."

Bima lalu menoleh ke Elang. "Oi, Lang. Makasih juga. Lo tadi berani banget megang tangan Marcel."

Elang mengangkat bahu. "Bukan masalah besar."

"Buat lo mungkin bukan. Tapi buat kita, besar." Bima menyodorkan tangannya. "Gue Bima. Itu Azril. Lo udah kenal kan? Sebenernya lo udah kenal lama sama gue, tapi gue rasa kita belum pernah kenalan secara resmi."

Elang menatap tangan Bima beberapa saat. Seolah ia tidak percaya ada seseorang yang mau berjabat tangan dengannya tanpa rasa takut. Perlahan, ia menyambut jabat tangan itu. Genggamannya kuat, tapi tidak mencengkeram.

"Elang."

"Ya, gue tau." Bima tersenyum lebar. "Nah, sekarang kita udah resmi kenalan. Jadi kalau ada apa-apa, lo jangan sungkan ya."

Elang tidak menjawab. Tapi ia tidak melepaskan jabat tangan itu terlalu cepat.

Azril memperhatikan mereka dari samping. Perasaannya campur aduk. Punggungnya sakit, nasi bungkusnya tumpah, dan Marcel mungkin akan kembali lagi. Tapi di saat yang sama...

Ia melihat Elang yang duduk di seberang, yang tadi membelanya meskipun tidak ada keuntungan untuk dirinya sendiri. Ia melihat Bima yang dengan mudah menerima Elang tanpa prasangka. Ia mengingat Faris yang tadi pagi gemetar tapi tetap berusaha membalas sapaan.

Untuk pertama kalinya, Azril merasa bahwa mungkin, di sekolah ini, ada tempat untuk orang-orang seperti mereka.

...~•~•~•~...

Bel pulang berbunyi. Siswa-siswa mulai berhamburan keluar kelas, kecuali beberapa yang masih mengobrol atau merapikan buku.

Azril duduk di bangkunya yang di pojok dekat jendela. Buku catatannya terbuka, tapi ia tidak benar-benar menulis. Pikirannya masih di kantin tadi pagi.

Tangan Marcel yang melayang.

Genggaman Elang yang menghentikannya.

Tatapan Marcel yang penuh amarah.

Dan Elang yang hanya duduk dan makan lagi seolah semua itu biasa.

Azril mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia membuka aplikasi pesan, mengetik sesuatu, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menghapus lagi.

Akhirnya, ia hanya menulis pesan pendek:

[Azril]: Bim, lo kenal deket sama Elang?

Pesan balasan datang cepat:

[Bima]: Gak deket sih. Cuma kebetulan temen sekelas. Emang kenapa?

[Azril]: Dia tadi bantuin kita. Padahal gak kenal.

[Bima]: Iya. Gue juga mikirin itu. Kayaknya dia emang beda dari yang orang-orang bilang.

[Bima]: Besok kita ajak dia makan siang bareng lagi yuk. Biar gak sendiri terus.

Azril membaca pesan itu beberapa kali. Lalu tersenyum kecil.

Ia mengetik balasan:

[Azril]: Oke.

Dari kejauhan, di luar jendela kelas, Azril melihat seseorang berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Rambut agak panjang, langkah berat, pundak sedikit membungkuk.

Elang.

Beberapa siswa yang berpapasan dengannya memilih menyeberang jalan. Seorang siswi kelas bawah bahkan berlari kecil menjauh saat Elang melintas di dekatnya.

Elang tidak bereaksi. Ia hanya terus berjalan, seperti biasa, seperti setiap hari.

Tapi Azril melihat bagaimana pundaknya sedikit menurun setiap kali seseorang menjauh darinya.

Sepertinya dia tidak sejahat yang orang-orang kira.

Azril memasukkan ponselnya ke saku, merapikan buku-bukunya, dan berjalan keluar kelas. Ia tidak menyusul Elang-belum berani sejauh itu. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak berbalik arah saat melihat bayangan mantan anggota geng berjalan di depannya.

Ia hanya berjalan di jalurnya sendiri, dengan pikiran yang mulai terbuka pada kemungkinan baru.

Mungkin, di sekolah ini, mereka yang tersisih bisa bersatu.

TBC

Chapter 3: Lo Baik Baik Aja?

Bel istirahat berbunyi kencang. Para siswa berhamburan keluar kelas, ada yang ke kantin, perpustakaan, taman, atau hanya berdiam diri di kelas seperti Faris. Suara riuh rendah meredup seiring berjalannya waktu, menyisakan keheningan yang justru membuat Faris nyaman.

Ia duduk di bangku paling pojok depan, dekat pintu masuk dan meja guru. Sebuah tempat yang sengaja ia pilih sejak awal semester—jika ia duduk di depan, guru akan lebih mudah melihatnya jika ia perlu menyampaikan sesuatu melalui tulisan. Jauh dari keramaian di belakang, jauh dari tatapan yang menusuk dari belakang, jauh dari paksaan untuk berbicara. Notebook kecilnya terletak di atas meja, selalu dalam jangkauan, selalu siap sedia menjadi jembatan antara dirinya dan dunia luar.

Hari ini, Faris tidak menulis. Tangannya sibuk menggambar sesuatu di buku tulis bergaris itu. Pensil mekanik hitamnya bergerak dengan presisi yang tak terduga—goresan demi goresan membentuk wajah seorang wanita paruh baya dengan senyum lembut. Rambutnya tergerai sebahu, ada kerutan halus di sudut matanya, dan sesuatu yang hangat terpancar dari gambar itu.

Ibunya.

Faris menggambar ibunya setiap kali ia merasa cemas. Entah mengapa, menggambar wajah ibu selalu membuat detak jantungnya melambat, keringat di telapak tangannya mengering, dan dunia terasa sedikit lebih aman. Ia hampir selesai dengan bagian mata—bagian tersulit yang selalu ia simpan untuk terakhir—ketika bayangan seseorang menutupi kertasnya.

"Wahh! Ris, lo bisa gambar sebagus ini kok diem aja?"

Suara itu terlalu dekat. Terlalu keras. Terlalu tiba-tiba.

Faris tersentak. Tubuhnya kaku. Pensil di tangannya terjatuh dan menggelinding ke lantai. Dalam kepanikan, ia mencoba mundur—terlalu cepat, terlalu panik—dan kursinya kehilangan keseimbangan.

KRAAAK!

Pantatnya membentur lantai dingin. Buku sketsanya terbang, mendarat beberapa meter dari tempatnya jatuh, hampir tepat di depan meja guru. Wajah ibunya yang hampir selesai kini terbalik, tercoreng oleh debu lantai.

Faris tidak bisa bergerak. Tangannya gemetar hebat. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya, membasahi seragam putihnya hingga terasa menempel di kulit. Dadanya naik turun cepat, terlalu cepat. Matanya bergerak liar, mencari—mencari notebook-nya, tapi notebook itu ada di meja, terlalu jauh, ia tidak bisa—

Tidak, tidak, tidak, jangan sekarang. Jangan panik. Tarik napas. Tarik napas. Tarik—

"Hehe maaf ya, gue gak bermaksud bikin lo kaget kok."

Suara itu lagi. Masih dekat. Masih terlalu dekat.

Faris mendongak dengan gerakan tersentak-sentak. Bima berdiri di hadapannya dengan tangan terangkat, telapak tangan terbuka, seperti seseorang yang mencoba menenangkan hewan liar. Ekspresinya bersalah, mulutnya membentuk senyum canggung yang tidak sampai ke mata.

"Gue... gue cuma mau lihat gambarnya. Bagus banget, sumpah." Bima berbicara dengan nada lebih pelan sekarang. Jauh lebih pelan dari biasanya. "Gue gak sengaja bikin lo jatuh. Maaf, ya, Ris."

Faris masih tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa seperti batu. Lehernya kaku. Matanya terus bergerak antara Bima, notebook di meja, dan buku sketsa yang tergeletak di lantai dekat meja guru. Ia ingin mengambilnya, tapi kakinya tidak mau bergerak.

Bima mengikuti arah pandangan Faris. "Itu gambar lo, ya?"

Faris mengangguk cepat. Satu kali. Kaku.

Bima berjalan pelan—sengaja diperlambat—ke arah buku sketsa itu. Ia membungkuk, mengambilnya dengan hati-hati, lalu berbalik. "Nih." Ia mengulurkan buku sketsa, tapi tidak mendekat terlalu cepat. Ia menunggu.

Faris meraih buku itu dengan tangan gemetar. Begitu benda itu menyentuh jarinya, ia menariknya cepat, memeluknya ke dada seperti perisai. Napasnya masih tersengal, tapi perlahan mulai teratur.

"Makasih," bisiknya. Hampir tidak terdengar.

Bima tersenyum. Kali ini senyumnya tulus. "Iya. Maaf ya, tadi gue udah ngagetin lo."

Faris menggeleng pelan. Bukan salah Bima. Ini salahku. Aku selalu seperti ini.

Ia bangkit perlahan, mengembalikan kursinya ke posisi semula, lalu duduk kembali. Tangannya masih sedikit gemetar saat meraih notebook dari meja, membuka halaman kosong, dan mulai menulis:

[Gapapa. Gue aja yang panikan.]

Bima membaca, lalu menghela napas. "Lo tuh, Ris. Lo gak usah minta maaf. Gue yang salah."

Faris tidak menjawab. Ia menunduk, memperbaiki buku gambar yang sedikit kusut di ujungnya. Wajah ibunya masih terlihat, meskipun ada coretan debu di pipi kiri. Ia berusaha membersihkannya dengan ujung jari, hati-hati sekali.

"Lo sering gambar?"

Faris mengangguk.

"Bisa gambar pemandangan? Gunung, laut, gitu-gitu?"

Faris mengangguk lagi.

"Keren," kata Bima. Lalu, setelah jeda, "Gue dulu juga suka gambar. Tapi gak sebagus lo."

Faris mendongak sedikit. Matanya bertemu dengan Bima sekilas sebelum cepat berpaling. Ada sesuatu di mata Bima—bukan iba, bukan kasihan. Hanya... ketertarikan biasa. Seperti berbicara dengan teman yang normal.

[Lo bisa belajar kok, menggambar butuh latihan.]

Bima membaca, lalu tertawa kecil. "Wah, gue mah males latihan gambar. Mending main bola."

Faris hampir tersenyum. Hampir.

Mereka terdiam beberapa saat. Bima duduk di kursi di depan Faris, membalikkan badannya sehingga bisa menghadap ke arahnya. Ia tidak memaksa Faris untuk berbicara, tidak menatap terus-menerus. Ia hanya duduk di sana, sesekali melihat ke luar jendela di sisi kanan kelas, sesekali melirik gambar di tangan Faris.

Dan anehnya, kehadiran Bima tidak seseram yang Faris kira.

Biasanya, ketika seseorang terlalu dekat, tubuh Faris akan bereaksi otomatis—jantung berdebar, tangan gemetar, keringat dingin, dan keinginan kuat untuk lari. Tapi sekarang... sekarang ia masih bisa bernapas. Masih bisa duduk diam. Masih bisa membiarkan Bima berada di ruang yang sama tanpa harus melarikan diri.

Mungkin karena Bima tidak memaksa. Mungkin karena Bima mengerti.

Atau mungkin karena Bima adalah orang pertama yang tidak membuat Faris merasa aneh.

Faris mengambil pensilnya yang jatuh. Ia membuka halaman kosong di buku sketsa, lalu mulai menggambar lagi. Kali ini bukan wajah ibunya.

Goresan pertama membentuk lingkaran. Goresan kedua membentuk tubuh. Goresan ketiga, keempat, kelima—dan perlahan, sosok seorang anak laki-laki mulai muncul di atas kertas. Rambut acak-acakan. Senyum lebar. Postur tegap seperti atlet.

Bima.

Faris tidak menyadari bahwa Bima memperhatikan sampai ia mendengar suara pelan di sampingnya.

"Itu... gue?"

Faris membeku. Tangannya berhenti di tengah goresan. Ia tidak berani mendongak.

"Gue makin yakin nih, lo jago banget gambar," kata Bima, nadanya tidak mengejek, tidak berlebihan. Hanya jujur. "Bisa minta tolong nggak suatu hari nanti lo gambar gue lagi? Tapi yang gue lagi main bola gitu. Gue mau kirim ke kakak gue."

Faris mendongak. Matanya membulat sedikit.

"Kakak gue di Malaysia," Bima menjelaskan, suaranya sedikit lebih pelan. "Jadi gue jarang ketemu. Kalau punya foto atau gambar gue lagi main bola, mungkin dia seneng."

Faris menatap Bima beberapa saat. Lalu ia mengangguk.

Satu anggukan kecil. Tapi pasti.

Bima tersenyum lebar. "Makasih, Ris. Lo baik banget."

Faris menunduk lagi, tapi kali ini sudut bibirnya benar-benar terangkat. Senyum kecil yang nyaris tak terlihat, tapi nyata.

Di luar jendela, matahari bersinar terang. Seseorang berlari di lapangan upacara, tawanya terdengar sampai ke dalam kelas. Dunia di luar sana tetap berisik dan ramai dan menakutkan. Tapi di sudut depan kelas XII IPS 2 ini, untuk pertama kalinya, Faris merasa tidak sendirian.

...~•~•~•~...

Bel masuk berbunyi setengah jam kemudian. Bima pamit untuk kembali ke bangkunya di baris tengah, tapi sebelum pergi ia sempat berkata, "Nanti lo tunjukin gambar lo yang lain ya, Ris. Gue penasaran."

Faris hanya mengangguk, tapi tangannya tanpa sadar merapikan buku gambar di atas meja. Mengelus sampulnya pelan. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia membiarkan seseorang melihat gambarnya. Dan orang itu tidak menertawakannya. Tidak juga mengejeknya. Dan tidak menyebutnya aneh.

Mungkin... mungkin tidak semua orang akan menolaknya.

...~•~•~•~...

Bu Dina memasuki kelas dengan langkah mantap, membawa setumpuk buku dan laptop di tangannya. Beliau adalah guru Bahasa Inggris yang terkenal disiplin tapi juga adil—murid yang malas akan ditegur, tapi murid yang berusaha akan mendapat apresiasi. Kacamata bundarnya meluncur di pangkal hidung saat matanya menyapu ruangan.

"Good morning, class."

"Good morning, Miss Dina," serempak siswa kelas XII IPS 2, meskipun dengan semangat yang bervariasi.

"Morning, morning. Silakan duduk. Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang analytical exposition. Minggu lalu kita sudah membahas struktur dan kaidah kebahasaannya. Hari ini kita akan mencoba membaca beberapa paragraf dan mengidentifikasi thesis, arguments, dan reiteration-nya."

Bu Dina membuka laptop, menghubungkannya ke proyektor. Sebuah teks berjudul The Importance of Reading muncul di layar putih.

"Siapa yang bisa membaca paragraf pertama?"

Keheningan. Beberapa siswa menunduk, berpura-pura sibuk dengan buku. Yang lain saling melirik, berharap ada yang mengorbankan diri. Bu Dina menghela napas—pemandangan yang sudah biasa.

"Tidak ada yang mau? Baiklah, saya tunjuk."

Mata Bu Dina bergerak dari baris depan ke belakang. Matanya sempat berhenti sekilas di Faris yang duduk di pojok depan—tapi ia langsung mengalihkan pandangan. Bukan karena tidak percaya, tapi karena ia tahu. Ia sudah mengenal kondisi Faris sejak awal tahun. Memaksanya hanya akan memperburuk keadaan.

Pandangannya terus bergerak ke belakang, ke baris paling pojok dekat jendela.

"Azril."

Azril tersentak dari bangkunya di pojok belakang. Ia tidak menyangka namanya akan dipanggil. Biasanya, guru-guru di sekolah lamanya tidak pernah memperhatikan anak di pojok belakang seperti dirinya. Dan di kelas ini, posisinya benar-benar terpencil—jauh dari pintu, jauh dari meja guru, di ujung ruangan yang paling tidak terlihat.

"Coba baca paragraf pertama. Lantang dan jelas."

Azril berdiri perlahan. Dari tempatnya di belakang, ia bisa melihat seluruh kelas terhampar di depannya—punggung-punggung teman sekelas, meja guru di depan, dan di pojok depan dekat pintu, ia bisa melihat Faris yang menunduk, tangannya sudah berada di atas notebook.

Azril menarik napas. Buku teks terbuka di hadapannya, tapi matanya sudah hafal dengan teks itu—ia membaca ulang semalam, seperti biasa. Tapi berdiri di depan kelas, dengan semua mata tertuju padanya...

Dadanya terasa sedikit sesak. Gugup.

"Take your time," Bu Dina berkata lembut dari depan.

Azril menarik napas. Ia membayangkan Bima ada di samping kirinya—dan benar, Bima menoleh dari bangku di sebelahnya, tersenyum cengengesan seperti biasa. Ia membayangkan kata-kata Bima: Lo bisa, Prof.

"Reading is one of the most important skills that a person can develop," Azril memulai. Suaranya pelan di awal, tapi perlahan menguat. "It is through reading that we gain knowledge, expand our vocabulary, and improve our critical thinking. Without the habit of reading, a person may find it difficult to keep up with the rapid flow of information in today's world."

Ia berhenti sejenak, mengecek apakah ada yang salah. Bu Dina mengangguk, matanya menunjukkan persetujuan.

"Continue."

Azril membaca hingga akhir paragraf. Setiap kata keluar dengan jelas, pelafalannya akurat, intonasinya tepat. Siswa-siswa lain mulai memperhatikan—bukan karena iri, tapi karena kagum. Di sekolah yang rata-rata kemampuan Bahasa Inggrisnya pas-pasan, Azril terdengar seperti berbeda.

"Excellent," Bu Dina berkata ketika Azril selesai. Senyumnya tulus, penuh apresiasi. "Pelafalanmu sangat baik, Azril. Intonasi dan ekspresimu juga tepat. Kamu sering berlatih di rumah?"

Azril mengangguk malu-malu. "Iya, Miss. Saya suka baca buku Bahasa Inggris."

"Bagus. Itulah yang disebut dengan kebiasaan baik. Silakan duduk."

Azril duduk kembali, napasnya sedikit lega. Bima dari samping mengacungkan jempol, berbisik, "Keren, Zril! Gak nyangka lo jago Inggris!"

Azril tersenyum kecil, tapi perasaan hangat di dadanya tidak hanya karena pujian Bima. Bu Dina memujinya. Guru itu memujinya di depan kelas. Di sekolah lamanya, guru-guru hanya melihatnya sebagai "anak pindahan yang bermasalah" atau "anak culun yang tidak punya masa depan".

Mungkin sekolah ini memang berbeda.

"Baik, sekarang kita lanjut ke paragraf kedua. Siapa yang mau mencoba?"

Keheningan kembali. Beberapa siswa mulai sibuk dengan ponsel di bawah meja.

Bu Dina menghela napas. "Baik, saya akan tunjuk lagi. Jangan harap kalian bisa menghindar."

Matanya menyapu ruangan. Melewati baris depan. Berhenti di baris tengah. Lalu, dengan pertimbangan yang matang, matanya kembali ke depan.

"Faris."

Faris membeku di kursinya di pojok depan.

Seluruh kelas mendadak sunyi. Beberapa siswa menoleh ke arah Faris dengan tatapan yang tidak bisa diartikan—ada yang iba, ada yang penasaran, ada yang tidak peduli. Tapi bagi Faris, semua tatapan itu terasa sama: seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya. Dan karena ia duduk di depan, semua orang bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tidak ada tempat bersembunyi. Tidak ada punggung orang lain untuk berlindung.

"Faris, tolong baca paragraf kedua," ulang Bu Dina, suaranya lebih lembut sekarang. Ia tahu posisi Faris mungkin membuatnya semakin tertekan, tapi ia juga ingin memberi kesempatan. Siapa tahu kali ini berbeda.

Faris tidak bergerak. Tangannya yang tadinya memegang pensil mulai gemetar. Keringat dingin muncul di dahinya, mengalir pelan ke pelipis. Dadanya terasa sesak, seperti ada yang duduk di atas tulang rusuknya.

Baca. Baca saja. Cuma satu paragraf. Lo pasti bisa. Lo udah latihan di rumah. Lo hafal kata-katanya. Lo—

Tapi lidahnya tidak mau bergerak.

Beberapa siswa mulai berbisik. Suara-suara kecil yang bagi Faris terdengar seperti teriakan.

"Dia kenapa sih?"

"Kayaknya dari dulu gitu deh, gak pernah ngomong."

"Kasihan deh."

Faris menggenggam notebook-nya erat-erat. Tangannya gemetar hebat saat membuka halaman kosong. Ia menulis, tapi tulisannya amburadul, hampir tidak terbaca:

[Saya tidak bisa, Miss.]

Dari bangkunya di pojok belakang, Azril melihat semuanya. Ia melihat punggung Faris yang membeku. Ia melihat bahu Faris yang naik turun cepat. Ia melihat tangan Faris yang gemetar saat menulis. Dan untuk sesaat, ia melihat dirinya sendiri beberapa tahun lalu. Di kelas yang sama. Di posisi yang sama. Dengan ketakutan yang sama.

Tapi tidak ada Bima untuknya saat itu.

Bu Dina membaca tulisan Faris dari tempat dia berdiri. Wajahnya menunjukkan pengertian, bukan kekecewaan. "Baik, tidak apa-apa. Terima kasih sudah mencoba, Faris."

Tapi itu tidak cukup. Faris masih merasakan tatapan-tatapan itu dari belakang. Masih merasakan jantungnya yang hendak meledak. Masih merasakan dunia di sekelilingnya berputar terlalu cepat, terlalu kencang, terlalu—

Tiba-tiba, suara kursi bergeser.

Dari pojok belakang, Azril melihat Bima berdiri. Sahabatnya itu melangkah melewati baris demi baris kursi, mendekati Faris yang masih membeku di kursi depan. Azril tidak tahu apa yang akan dilakukan Bima, tapi dadanya tiba-tiba terasa sesak—bukan penyakit, tapi sesuatu yang lain. Perasaan campur aduk antara khawatir dan... iri? Tidak. Bukan iri. Kagum. Ya, kagum.

Bima berhenti di samping Faris. Tanpa ragu, ia menggenggam pergelangan tangan Faris—tidak erat, tidak memaksa. Hanya... menempel. Seperti jangkar.

"Miss," Bima berkata, suaranya tenang tapi jelas. "Saya mau minta izin temani Faris ke UKS. Dia kelihatan kurang sehat."

Bu Dina menatap Bima, lalu Faris, lalu mengangguk. "Baik. Bawa dia ke UKS, Bima. Kalau perlu, antar dia pulang ya Bima."

Bima mengangguk. Perlahan, ia membantu Faris berdiri. Faris tidak sadar kapan kakinya mulai bergerak, tapi tiba-tiba mereka sudah berada di lorong sekolah, meninggalkan kelas XII IPS 2 yang mulai ramai lagi.

Azril memperhatikan mereka dari belakang. Ia melihat bagaimana Bima berjalan di samping Faris, tidak terburu-buru, tidak memaksa. Ia melihat bagaimana Bima, tanpa diminta, tahu persis apa yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang dalam ketakutan.

Dan untuk pertama kalinya, Azril bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku bisa menjadi seperti itu? Apakah aku bisa menjadi seseorang yang menolong, bukan hanya ditolong?

Ia menggenggam pulpennya lebih erat. Mungkin suatu saat nanti. Mungkin ia bisa belajar.

...~•~•~•~...

Lorong sekolah sepi. Hanya suara langkah kaki mereka yang bergema di dinding-dinding kosong. Bima tidak melepaskan genggamannya, tapi juga tidak menambah tekanan. Ia hanya berjalan di samping Faris, mengikuti langkahnya yang masih sedikit goyah.

Mereka berhenti di bangku panjang dekat ruang UKS. Bima membantu Faris duduk, lalu duduk di sampingnya. Jarak di antara mereka cukup—tidak terlalu dekat sehingga membuat Faris panik, tidak terlalu jauh sehingga Faris merasa ditinggalkan.

"Lo baik baik aja?" Bima bertanya pelan.

Faris tidak menjawab. Ia masih memegang notebook-nya dengan kedua tangan, buku itu naik turun mengikuti detak jantungnya yang masih kencang.

"Gue minta maaf, ya," Bima berkata lagi. "Gue ambil tindakan sendiri bawa lo keluar kelas. Tapi lo keliatan panik banget, Ris. Gue khawatir."

Faris mendongak. Matanya masih basah, bukan karena menangis, tapi karena keringat yang mengalir dari dahi. Ia membuka notebook-nya dengan tangan gemetar.

[Maaf. Gue udah ngerepotin.]

Bima membaca, lalu menghela napas panjang. Ia menoleh, menatap Faris dengan serius—sesuatu yang jarang dilakukan oleh cowok yang selalu tersenyum itu.

"Denger ya, Ris." Suara Bima pelan, tapi tegas. "Lo gak pernah repotin gue. Lo gak pernah repotin siapapun. Lo cuma... punya caramu sendiri. Dan itu gak masalah."

Faris menatap Bima. Matanya masih merah, masih ada sisa ketakutan di sana. Tapi perlahan, napasnya mulai teratur.

"Lo tau gak?" Bima melanjutkan, suaranya sedikit lebih santai. "Dulu waktu gue kecil, gue juga punya temen yang kayak lo. Susah ngomong di depan umum. Tiap kali disuruh maju ke depan kelas, dia nangis."

Faris menegang.

"Tapi sekarang dia jadi youtuber. Serius. Ngomong di depan kamera, di depan ribuan orang. Keren kan?" Bima tersenyum. "Gue bukan bilang lo harus kayak dia. Tapi gue cuma mau lo tau... orang bisa berubah. Termasuk lo."

Faris menunduk. Tangannya meremas ujung notebook.

[Tapi gue takut.]

"Takut itu wajar, Ris. Siapa yang gak takut?" Bima menyandarkan punggungnya ke dinding. "Gue aja takut. Takut gak bisa jadi pemain bola kayak impian gue. Takut nanti disuruh jadi TKI kayak kakak gue. Takut bikin mama kecewa."

Faris mendongak. Ini pertama kalinya Bima berbicara tentang keluarganya.

"Tapi gue pikir... takut itu bukan alasan buat berhenti. Lo setuju?"

Faris tidak menjawab. Tapi perlahan, sudut bibirnya terangkat. Senyum kecil yang hampir tidak terlihat.

Bima melihat itu dan tersenyum lebar. "Nah gitu dong. Lo cakep kalo senyum."

Faris tersentak, wajahnya memerah. Ia menunduk cepat, menyembunyikan wajahnya di balik notebook. Bima tertawa kecil—tawa yang hangat, bukan tawa yang mengejek.

"Yaudah, lo istirahat di sini dulu. Gue balik ke kelas, takut ditegur Miss Dina."

Bima berdiri. Tapi sebelum pergi, ia menepuk pundak Faris pelan.

"Besok kita lanjut belajar Bahasa Inggris bareng, ya. Gue juga gak jago. Kita belajar sama-sama aja."

Faris mengangguk. Anggukan kecil, tapi pasti.

Bima melambaikan tangan, lalu berjalan meninggalkan Faris di bangku panjang itu. Faris memperhatikan punggung Bima yang semakin menjauh, lalu menunduk ke notebook-nya.

Di halaman kosong di antara tulisan-tulisan sebelumnya, ia menulis satu kalimat. Perlahan. Dengan tangan yang tidak lagi gemetar.

[Hari ini gue nggak sendirian.]

Ia menatap kalimat itu beberapa saat. Lalu ia membalik halaman, membuka buku sketsanya, dan mulai menggambar lagi.

Sosok laki-laki dengan rambut acak-acakan, sedang berdiri di depan kelas, berbicara dengan percaya diri.

Di bawah gambar itu, Faris menulis:

Untuk Bima. Teman pertamaku.

...~•~•~•~...

Sore itu, setelah pulang sekolah, Azril duduk di kamarnya yang sempit. Buku catatan Bahasa Inggris terbuka di hadapannya, tapi pikirannya tidak fokus. Ia mengingat Faris yang gemetar di kelas tadi. Ia mengingat bagaimana Bima langsung berdiri dari bangku di sampingnya, berjalan ke depan, dan membawa Faris keluar.

Bima selalu ada untuk orang lain. Untuk dirinya. Untuk Faris.

Azril menghela napas. Dadanya terasa sedikit sesak—bukan penyakit, tapi rasa hangat yang sama seperti kemarin. Sesuatu yang membuat ia ingin melakukan sesuatu. Membalas kebaikan Bima. Membantu Faris. Menjadi lebih dari sekadar "anak baru yang culun" yang duduk di pojok belakang, jauh dari mana pun.

Ia mengambil ponselnya. Menekan nama Bima di kontak.

Azril: Bim, lo baik-baik aja?

Balasan datang cepat.

Bima: Gue sehat-sehat aja Zril. Lo kenapa?

Azril: Faris, tadi dia pulang bareng lo kan?

Bima: Iya, dia udah masuk kayaknya. Gue anterin sampe rumah. Ibunya udah nungguin di depan rumah

Azril: Lo baik banget Bim.

Bima: Biasa aja. Lo juga pasti bakal gitu kalo ada yang perlu

Azril menatap layar ponselnya. Lo juga pasti bakal gitu kalo ada yang perlu.

Apakah ia akan seperti itu? Selama ini, ia selalu menjadi orang yang dibela, bukan yang membela. Tapi mungkin... mungkin ia juga bisa. Mungkin ia juga punya sesuatu untuk ditawarkan.

Ia mengetik lagi.

Azril: Besok kita belajar bareng? Gue bisa bantu lo dan Faris belajar bahasa Inggris.

Bima: Wah mauuuu! Gue kasih tau Faris nanti!

Bima: Eh lo tahu gak tadi Faris gambar gue di buku gambarnya

Bima: Keren banget sumpah

Azril tersenyum membaca pesan-pesan itu. Di kamarnya yang sempit, di tengah tumpukan buku dan catatan, untuk pertama kalinya ia merasa bahwa ia memiliki tempat. Bukan hanya sebagai murid pendiam yang cuma duduk berdiam diri di kelas. Bukan hanya sebagai korban bulli.

Tapi sebagai teman.

...~•~•~•~...

Di rumahnya yang sunyi, Faris duduk di depan meja belajar. Buku gambarnya terbuka di halaman terakhir yang ia warnai sore tadi—gambar Bima yang belum selesai.

Ia mengambil pensil warna biru untuk seragam, tapi tangannya berhenti. Matanya beralih ke ponsel yang bergetar di sudut meja.

Pesan masuk dari Bima.

Bima: Ris, besok kita belajar bareng ya sama Azril. Lo mau kan?

Faris menatap layar. Jari-jarinya bergetar sedikit saat mengetik balasan.

Faris: Mau.

Hanya satu kata. Tapi satu kata itu terasa berat.

Balasan Bima datang cepat.

Bima: MANTAP! Besok habis sekolah langsung ke rumah Azril aja

Bima: Yaudah gua istirahat dulu ya. Ketemu di sekolah besok

Faris tidak membalas. Tapi ia tersenyum. Senyum kecil yang jarang muncul, tapi kali ini terasa nyata.

Ia mengambil pensil biru, dan mulai mewarnai seragam pada gambar Bima.

Di luar jendela, langit sore berwarna jingga. Hari ini berat. Tapi hari ini juga... ada yang berbeda.

TBC

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!