Bau formalin itu seharusnya menjadi aroma yang paling dibenci Arini setelah aroma rumah sakit tempatnya koma selama tiga bulan. Namun, bagi Arini yang baru saja kembali dari ambang kematian, bau menyengat ini justru terasa seperti pengingat bahwa dia masih bernapas.
Arini menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang di balik jubah hijaunya. Di depannya, sebuah brankar logam mengilat memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip—seolah-olah lampu itu sendiri sedang sekarat. Di atasnya, terbujur kaku sebuah tubuh yang tertutup kain jarik cokelat.
"Rin, serius deh... itu lipstik kamu ketebalan. Mau otopsi atau mau audisi girlband?"
Arini tersentak. Dia melirik ke samping kanan, tempat Mika sedang duduk bersila di atas meja instrumen bedah. Mika mengenakan cheongsam merah modern dengan rambut yang dikuncir dua tinggi. Wajahnya cantik, kulitnya putih porselen, tapi sayangnya, kakinya tidak menapak lantai.
"Mika, bisa diam tidak? Ini hari pertamaku masuk kerja. Kalau aku gagal fokus dan salah potong, karierku tamat!" bisik Arini dengan nada tertahan.
"Duh, Arini sayang... karier kamu itu sudah salah sejak awal. Ingat kan? Kamu itu salah klik! Harusnya ambil Spesialis Kulit dan Kelamin biar bisa dandanin pasien jadi cantik, eh malah nyasar ke Forensik. Sekarang kamu malah dandanin mayat supaya kelihatan 'rapi' di depan hakim," Mika tertawa cekikikan, suaranya terdengar seperti denting lonceng yang bergema di ruangan sunyi itu.
Arini mengabaikannya. Dia meraih pisau bedah—scalpel—dengan tangan yang sedikit gemetar. Namun, baru saja ujung pisau itu menyentuh kulit dingin sang jenazah, sebuah tangan pucat mendadak muncul dari balik kain jarik dan mencengkeram pergelangan tangan Arini.
"DOKTER! JANGAN POTONG DI SITU! ITU TATO TERMAHAL SAYA!"
Arini menjerit kecil, hampir saja melempar pisaunya. Dia mundur tiga langkah hingga punggungnya menabrak lemari pendingin jenazah.
Di atas brankar, sosok hantu laki-laki bertato penuh di lengan kanan bangkit berdiri. Dia tidak berdarah-darah, hanya terlihat sedikit... transparan dan kebiruan.
"A-apa?" gagap Arini.
"Tato naga ini harganya sepuluh juta, Dok! Kalau Dokter bedah di situ, kepalanya naga saya jadi buntung! Nanti di akhirat saya diejek hantu lain!" protes si hantu dengan wajah melas.
"Tapi saya harus memeriksa organ dalam Anda, Pak! Ini prosedur hukum!" Arini mulai berargumen dengan udara kosong—setidaknya itulah yang terlihat jika ada orang normal yang masuk ke ruangan itu.
"Nggak mau! Cari jalan lain! Pokoknya naga saya harus utuh!"
Mika terbang mendekat, mengitari hantu bertato itu. "Heh, Bang Tato! Udah mati aja banyak gaya. Lagian naga lu itu lebih mirip cacing pita tahu nggak? Udah, Rin, belah aja! Biar dia tahu rasa!"
"MIKA, JANGAN MEMPROVOKASI!" teriak Arini frustrasi.
Tepat saat itu, pintu baja ruang otopsi terbuka dengan suara dentuman berat.
Seorang pria jangkung dengan setelan jas charcoal yang sangat rapi masuk. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu pantofel mahal bergema tegas. Wajahnya simetris, rahangnya tegas, dan matanya setajam elang yang sedang mengintai mangsa. Dialah Baskara, tunangan Arini sekaligus Jaksa penuntut yang paling ditakuti di kota ini.
Baskara berhenti tepat di depan Arini. Dia menatap Arini yang sedang berdiri memojok di pojok ruangan dengan tangan terangkat, seperti orang yang sedang mengajak berkelahi udara.
"Arini," suara Baskara rendah dan berat. "Kamu bicara dengan siapa?"
Arini membeku. Dia melihat ke arah Baskara, lalu ke arah Mika yang sedang meletakkkan tangannya di bahu Baskara (meski tangannya menembus jas pria itu), lalu ke arah hantu bertato yang masih protes soal naganya.
"Aku... aku sedang... sedang senam tangan, Bas! Iya, senam tangan supaya otot-ototku tidak kaku setelah koma," Arini melakukan gerakan memutar tangan yang aneh.
Baskara menyipitkan mata. Dia berjalan mendekat, aroma parfum sandalwood yang mahal langsung menyapu hidung Arini, mengalahkan bau formalin sejenak. Baskara berhenti hanya beberapa inci dari wajah Arini, membuat Arini harus mendongak.
"Tiga bulan koma sepertinya mengganggu fungsi kognitifmu," ucap Baskara datar tanpa ekspresi. Dia mengulurkan tangan, lalu dengan lembut—sangat lembut hingga Arini hampir meleleh—dia merapikan helaian rambut Arini yang keluar dari penutup kepala medisnya. "Jangan memaksakan diri. Kalau kamu masih berhalusinasi, pulanglah. Aku tidak mau laporan otopsi kasus ini cacat hukum karena dokter yang mengerjakannya sedang... tidak stabil."
Arini mengerucutkan bibirnya. Sifat tsundere Baskara memang juara. Bicaranya pedas, tapi tindakannya perhatian.
"Aku sehat, Bas. Aku cuma... sedikit gugup. Kasus ini sangat penting untukmu, kan?"
Baskara terdiam sejenak. Matanya menatap tubuh di atas brankar. "Sangat penting. Ini kunci untuk menjerat sindikat konspirasi yang juga terlibat dalam kecelakaanmu tiga bulan lalu. Aku butuh bukti fisik, Arini. Bukan halusinasi."
Mika, yang sejak tadi menonton, mendadak berbisik di telinga Arini. "Rin, kasih tahu tunangan robotmu itu... si Bang Tato ini nggak mati karena serangan jantung. Tuh, lihat di lubang telinganya. Ada bekas tusukan kecil banget. Kayaknya dia diracun lewat situ."
Arini tersentak. Dia melihat ke arah telinga jenazah. Benar saja, ada bintik merah kecil yang hampir tak terlihat jika tidak diperiksa dengan sangat jeli.
"Bas," panggil Arini pelan. "Bisa beri aku waktu lima belas menit? Aku rasa... aku menemukan sesuatu yang terlewatkan oleh tim olah TKP."
Baskara menatap Arini dalam-dalam, mencari kebohongan di mata tunangannya. Setelah beberapa detik yang terasa selamanya, dia mengangguk kecil.
"Lima belas menit. Aku tunggu di luar. Dan Arini..." Baskara berhenti di ambang pintu, "Jangan bicara sendiri lagi. Itu membuatku... khawatir."
Pintu tertutup.
Mika langsung bersorak. "Cieee, khawatir katanya! Padahal dalam hati dia mau bilang 'Aku sayang kamu, Arini, jangan gila dulu'."
"Diam kau, Mika!" Arini kembali mendekati meja otopsi. Dia menatap hantu bertato itu. "Pak, kalau Bapak mau tato naganya utuh, kasih tahu saya siapa yang menusuk telinga Bapak? Kalau Bapak jujur, saya janji akan menjahit perut Bapak seindah sulaman baju pengantin!"
Hantu bertato itu terdiam, lalu matanya mulai berkaca-kaca (yang anehnya berwarna biru transparan). "Beneran ya, Dok? Janji ya? Oke... jadi gini ceritanya, waktu saya lagi makan seblak..."
Arini mendesah. Dia menarik napas, menyiapkan mental untuk mendengarkan curhatan pertama dari banyak arwah yang akan datang. Menjadi dokter kulit mungkin lebih tenang, tapi menjadi dokter forensik indigo? Sepertinya hidup Arini baru saja dimulai dengan cara yang paling gila.
Suara pintu yang tertutup rapat meninggalkan keheningan yang janggal di ruang otopsi. Arini masih berdiri mematung, menatap pintu baja seolah-olah bayangan Baskara masih tertinggal di sana. Jantungnya masih berdegup tidak keruan, bukan karena takut pada jenazah di depannya, melainkan karena sentuhan dingin Baskara di lehernya tadi.
"Cieee... yang masih bengong. Pipinya merah tuh, lebih merah dari baju aku," ledek Mika. Hantu cantik itu terbang rendah, lalu mendarat dengan anggun di atas brankar, tepat di sebelah kaki jenazah yang kaku.
Arini tersentak, lalu menghela napas panjang. Ia berusaha mengembalikan fokusnya. "Mika, bisa tidak kamu berhenti menggoda? Dan tolong, jangan duduk di atas jenazah. Itu tidak sopan!"
Mika mencibir, bibirnya yang transparan mengerucut lucu. "Dia sudah tidak merasa apa-apa, Rin. Lagian, dia lebih sibuk mikirin tato naganya daripada kehadiranku. Iya kan, Bang?"
Hantu bertato yang tadi berdiri di pojok kini mendekat lagi. Wajahnya yang pucat terlihat sangat memelas. "Dokter cantik... tolong ya, ingat janji Dokter. Jangan sampai naga saya buntung."
Arini memijat keningnya. Benar-benar situasi yang tidak masuk akal. Di satu sisi ada tunangan robot yang menuntut logika, di sisi lain ada arwah preman yang menangisi tato.
"Iya, Pak. Saya janji," sahut Arini pasrah. Ia mulai menggerakkan tangannya, memeriksa area telinga jenazah dengan sangat teliti menggunakan kaca pembesar.
Di bawah lampu operasi yang benderang, Arini menemukan lubang mikroskopis itu lagi. Sangat halus, hampir menyerupai pori-pori kulit jika tidak dilihat dengan seksama. Arini mengambil sebuah jarum tipis dan mencoba memasukkannya ke dalam lubang tersebut.
"Rin, orang yang nusuk itu pakai jarum yang ada racun sarafnya," celetuk Mika tiba-tiba. Wajahnya yang tadinya ceria berubah sedikit serius. "Aku lihat waktu di 'sana' tadi. Arwah Bang Tato ini bingung banget kenapa tiba-tiba badannya kaku pas lagi makan seblak di pinggir jalan."
Arini terhenti. "Berarti ini pembunuhan terencana yang sangat rapi. Pelakunya tahu betul cara mematikan saraf tanpa meninggalkan jejak banyak."
"Dan tahu nggak siapa yang ada di sekitar dia saat itu?" Mika menggantung kalimatnya, membuat Arini menoleh. "Ada orang pakai seragam hitam, mirip pengawal. Dia nggak sengaja nabrak Bang Tato ini, terus 'cekit', Bang Tato ngerasa kayak digigit semut doang."
Arini mencatat semua informasi itu dalam otaknya. Ia merasa seperti detektif yang dibantu oleh informan gaib. Sambil tangannya sibuk melakukan prosedur otopsi yang sebenarnya—tentu saja dengan hati-hati menghindari tato naga si Bapak—Arini terus berdiskusi dengan Mika.
Setengah jam berlalu. Arini selesai menjahit kembali tubuh jenazah itu dengan sangat rapi, jauh lebih rapi dari biasanya.
"Selesai, Pak. Naga Anda masih utuh dan gagah," bisik Arini.
Hantu bertato itu melihat tubuhnya sendiri, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Terima kasih, Dokter! Dokter baik banget. Saya doakan Dokter cepat nikah sama Jaksa galak itu ya!" Setelah berkata begitu, sosoknya perlahan memudar, menjadi butiran cahaya biru yang menghilang ke udara.
Arini tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang aneh di hatinya. Ternyata, menjadi dokter forensik indigo tidak buruk-buruk amat. Ada kedamaian yang bisa ia berikan pada mereka yang telah pergi.
Baru saja ia hendak melepas sarung tangan latexnya, pintu kembali terbuka. Baskara masuk dengan langkah yang sama persis seperti tadi—terukur dan penuh wibawa.
"Lima belas menitmu sudah lewat sepuluh menit, Arini," ucap Baskara sambil melirik jam tangan mekanik di pergelangan tangannya.
Arini berbalik. "Tapi hasilnya sepadan, Bas."
Baskara berhenti tepat di depan Arini. Ruangan ini dingin, tapi keberadaan Baskara entah kenapa selalu membuat suhu di sekitar Arini terasa naik. Pria itu tidak langsung bertanya soal hasil otopsi. Matanya justru menatap wajah Arini yang tampak kelelahan.
"Kamu pucat," gumam Baskara. Tanpa aba-aba, ia mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, menangkup pipi Arini. "Sudah kubilang, jangan dipaksakan. Kamu baru saja bangun dari koma panjang."
Arini tertegun. Sifat tsundere Baskara selalu muncul di saat yang tidak terduga. Bicaranya dingin, tapi tatapannya... tajam namun melindungi.
"Aku tidak apa-apa, Bas. Lihat ini," Arini menunjukkan foto makro yang ia ambil dari lubang di telinga jenazah. "Kematian ini bukan karena serangan jantung alami. Ada tusukan jarum halus di sini. Aku yakin ini racun saraf yang bekerja cepat."
Baskara mengambil tablet dari tangan Arini, matanya menatap tajam foto tersebut. Garis rahangnya mengeras. "Ini... teknik yang sama dengan yang menyerang saksi kunci kasus korupsi bulan lalu."
"Itu artinya, dugaanmu tentang konspirasi itu benar, kan?" tanya Arini.
Baskara terdiam sesaat, lalu ia menatap Arini dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba, ia menarik Arini ke dalam pelukannya. Bukan pelukan yang mesra dan manis, tapi pelukan yang posesif dan protektif. Wajah Arini terbenam di dada bidang Baskara, menghirup aroma sandalwood dan wangi sabun maskulin yang menenangkan.
"Arini," bisik Baskara di dekat telinganya, suaranya terdengar sangat rendah dan sedikit parau. "Jangan terlibat terlalu jauh. Aku bisa menangani kasus ini. Aku tidak mau kehilangan kamu... untuk kedua kalinya."
Arini merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia ingin membalas pelukan itu, tapi...
"Ekhem! Permisi, Mas Jaksa Posesif. Aku masih di sini lho, nonton gratis!" Mika tiba-tiba muncul tepat di antara kepala Arini dan bahu Baskara, menjulurkan lidahnya nakal.
Arini langsung tersentak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Baskara. Wajahnya panas.
Baskara mengernyit, tangannya masih enggan melepas pinggang Arini. "Ada apa? Kamu tiba-tiba kaget begitu?"
"Ah... itu... ada nyamuk! Iya, nyamuknya gede banget tadi lewat di depan mukaku!" Arini beralasan sambil memukul-mukul udara dengan kikuk.
Baskara menatap langit-langit ruang otopsi yang bersih. "Nyamuk di ruangan steril dengan suhu 18 derajat?"
"Nyamuknya... nyamuk kutub mungkin, Bas. Sudah, ayo kita keluar. Aku lapar," Arini menarik tangan Baskara, berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum Mika berbuat yang lebih aneh lagi.
Baskara hanya mendengus kecil, tapi ia membiarkan Arini menariknya. Sebelum keluar, Baskara menyampirkan jasnya ke bahu Arini lagi, memastikan tunangannya itu tidak kedinginan.
Mika terbang di belakang mereka sambil tertawa kecil. "Dunia memang adil ya. Arini dapat cowok ganteng tapi kaku kayak kanebo kering, dan aku dapat hiburan drakor live tiap hari. Lanjut, Rin! Jangan kasih kendor!"
Arini hanya bisa membatin, Ya Tuhan, kuatkan hamba menghadapi dua makhluk ini.
Baskara tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati. Jika dia bilang akan membawa Arini makan setelah bekerja, maka tujuannya adalah restoran fine dining di puncak gedung tertinggi di kota ini. Tempat yang tenang, mewah, dan seharusnya—sangat privat.
"Bas, apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku bahkan masih memakai baju kerja di balik jasmu," bisik Arini saat mereka berjalan menuju meja yang sudah dipesan.
Baskara menarik kursi untuk Arini dengan gerakan yang sangat kaku tapi sopan. "Kamu pantas mendapatkannya setelah hari yang panjang. Dan bagiku, kamu selalu terlihat... pantas di mana saja."
Arini tersipu. Pujian dari seorang Baskara itu langka, lebih langka daripada menemukan mayat tanpa keluhan di meja otopsinya. Namun, rasa hangat di hatinya tidak bertahan lama.
"Wuih! Mewah banget! Rin, tanya dong ke Mas Jaksa, ada menu bebek peking nggak?"
Suara Mika meledak tepat di telinga Arini. Hantu itu kini sedang asyik bergantungan di lampu kristal besar yang menggantung tepat di atas meja mereka. Arini memejamkan mata sejenak, merapalkan doa agar kesabarannya seluas samudra.
"Kenapa? Kepalamu pusing lagi?" tanya Baskara, suaranya terdengar cemas saat melihat Arini memijat pelipis.
"Tidak, Bas. Hanya... lampunya terlalu terang," bohong Arini.
"Rin, Rin! Lihat ke arah jam dua! Ada saingan kamu tuh!" Mika menunjuk ke arah meja di pojok restoran.
Arini melirik tipis. Di sana duduk seorang hantu wanita dengan gaun pesta tahun 80-an yang robek di bagian leher. Hantu itu sedang menatap sedih ke arah pasangan muda di meja sebelah.
Aduh, jangan sekarang. Tolong, jangan ada yang minta tolong sekarang, batin Arini menjerit.
"Arini, fokus padaku." Suara berat Baskara menarik kembali kesadaran Arini. Baskara mencondongkan tubuh ke depan, menatap Arini intens. "Kita perlu bicara soal pernikahan. Ibuku sudah mulai bertanya-tanya soal tanggal."
Arini nyaris tersedak air mineralnya. "Pernikahan? Bas, aku baru saja bangun dari koma seminggu yang lalu. Apa tidak terlalu cepat?"
"Aku tidak suka menunda sesuatu yang sudah pasti," jawab Baskara telak. "Kecelakaanmu membuatku sadar bahwa waktu tidak bisa diprediksi. Aku ingin kamu resmi berada di bawah perlindunganku."
Mika terjun bebas dari lampu kristal dan mendarat tepat di antara mereka. "Aih, romantisnya! Tapi Rin, Mas Jaksa ini posesifnya agak ngeri ya? 'Di bawah perlindungan'? Emangnya kamu saksi kunci?"
Tiba-tiba, Arini merasakan hawa dingin yang berbeda. Bukan dari Mika, tapi dari arah belakangnya.
"Dokter..." sebuah suara parau membisik di tengkuknya. "Dokter... tolong saya..."
Arini membeku. Sosok hantu wanita bergaun 80-an tadi sekarang sudah berdiri tepat di samping kursinya. Wajahnya yang pucat pasi berjarak hanya beberapa senti dari piring Arini.
"Tolong... sampaikan pada laki-laki di meja itu... jangan nikahi perempuan itu. Dia... dia yang meracuniku dulu..." hantu itu mulai menangis, tapi yang keluar bukan air mata, melainkan cairan bening yang berbau amis.
Arini berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat normal di depan Baskara. Tangannya gemetar saat memegang garpu.
"Arini? Kamu pucat lagi. Apa ada yang salah?" Baskara meletakkan tangannya di atas tangan Arini. Sentuhan itu hangat dan kokoh, seolah menjadi jangkar bagi Arini di tengah badai supranatural ini.
"Bas... aku..." Arini menelan ludah. Ia melihat ke arah Baskara, lalu ke arah hantu yang menangis, lalu ke arah Mika yang tiba-tiba diam dan memperhatikan hantu wanita itu dengan serius.
"Rin, kayaknya hantu ini serius," bisik Mika, kehilangan nada bercandanya. "Laki-laki yang dia tunjuk itu... itu anggota dewan yang lagi diincar tim kamu, kan?"
Arini melirik ke meja sebelah. Benar. Itu adalah salah satu saksi yang akan dipanggil Baskara minggu depan. Jika hantu ini benar, maka perempuan cantik yang duduk di depan laki-laki itu adalah seorang pembunuh.
Baskara menyadari arah pandangan Arini. Dia menoleh sedikit, lalu kembali menatap Arini dengan mata yang menyipit curiga. "Kamu mengenali mereka? Itu Pak Darmawan. Kenapa kamu melihatnya seperti itu?"
Arini tahu, jika dia bicara sekarang, Baskara akan menganggapnya gila. Tapi jika dia diam, Baskara mungkin akan membiarkan seorang pembunuh tetap bebas.
"Bas," Arini menarik napas panjang, menatap langsung ke mata tajam tunangannya. "Kalau aku bilang aku merasa ada yang tidak beres dengan wanita di samping Pak Darmawan itu... apa kamu akan percaya padaku?"
Baskara terdiam. Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal. Di sekitar mereka, Mika dan hantu wanita itu menunggu dengan cemas.
Baskara melepaskan tangan Arini, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Secara hukum, 'perasaan' tidak bisa jadi bukti, Arini. Tapi..." Baskara menjeda kalimatnya, matanya menatap Arini dengan tatapan yang dalam dan sedikit lembut. "...aku belajar bahwa instingmu jarang sekali salah. Ceritakan padaku apa yang kamu lihat."
Arini hampir saja menangis karena lega. Baskara tidak percaya hantu, tapi dia percaya pada Arini.
"Aku rasa... dia bukan orang baik, Bas. Bisa tolong selidiki latar belakang istrinya yang pertama?" bisik Arini.
Hantu wanita itu tersenyum tipis, lalu perlahan menghilang.
Mika kembali ceria dan menepuk bahu Baskara (yang tentu saja tidak terasa apa-apa). "Bagus, Mas Jaksa! Gitu dong, percaya sama calon istri!"
Baskara mengangguk pelan, lalu memanggil pelayan. "Kita pulang sekarang. Aku akan minta timku memeriksa data itu malam ini."
Saat mereka berdiri, Baskara kembali menarik Arini mendekat, merangkul pinggangnya dengan erat. "Setelah ini, tidak ada urusan kantor lagi. Aku akan mengantarmu pulang, memastikan kamu tidur, dan tidak ada 'nyamuk kutub' yang mengganggumu."
Arini hanya bisa tersenyum pasrah, sementara Mika di belakang mereka sibuk membuat gestur "hati" dengan tangannya. Kencan ini memang ramai, kacau, dan aneh, tapi entah kenapa, Arini merasa sangat dicintai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!