Indonesia
NovelToon NovelToon

Kutunggu Jandamu

Retak

Langkah kaki jenjang itu kembali memijak lantai marmer yang dingin, membawa tubuhnya masuk ke dalam sebuah bangunan yang seharusnya disebut rumah. Zira Falisha, wanita berusia 37 tahun yang kecantikannya seolah tak luntur oleh waktu, menarik kopernya dengan gerakan lesu. Baru saja dua minggu ia menghirup udara kebebasan di Indonesia, mencoba melarikan diri dari sesaknya suasana di London. Namun, baru beberapa langkah ia memasuki ruang tengah, beban yang sempat terangkat itu kini kembali menumpuk, lebih berat dan lebih menghimpit dadanya.

Suara gesekan roda koper di lantai marmer itu tiba-tiba terhenti ketika sebuah suara bariton yang dingin menyambutnya dari arah kanan.

"Masih ingat punya suami?"

Zira menoleh perlahan. Di sana, Raka Tristan Laurent berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Pria berusia 40 tahun itu menatapnya datar, seolah kepulangan istrinya bukanlah sesuatu yang patut dirayakan, melainkan sebuah interogasi yang tertunda.

"Bukankah aku sudah katakan padamu, jika di Indonesia aku akan tinggal lebih lama," sahut Zira dingin. Ia tidak ingin memulai keributan di menit pertama kepulangannya. Ia hanya ingin mencapai kamarnya, merebahkan tubuh, dan memejamkan mata.

Namun, Raka tidak membiarkannya lewat begitu saja. "Bahagia sekali tampaknya bertemu dengan pria yang dulu begitu menyukaimu."

Zira menghentikan langkahnya. Keningnya mengerut dalam, ia memutar tubuh sepenuhnya untuk menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. "Apa maksudmu, Raka?" desisnya tajam.

"Jangan berpura-pura, Zira. Sekarang, katakan padaku. Apa saja yang kalian lakukan di sana?" Raka melangkah mendekat, wajahnya mengeras menahan kecemburuan yang tidak pada tempatnya. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto di mana Zira tengah duduk bersama seorang pria.

Zira memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. "Raka, demi apapun! Kayden adalah sepupu dari ayah Xander, dan kamu tahu betul itu. Dia keluarga!"

"Tapi dia menyukaimu! Semua orang tahu itu!"

"Lalu kenapa kalau dia menyukaiku?! Setidaknya aku tidak gila sepertimu!" sentak Zira. Suaranya melengking, memecah kesunyian rumah yang megah namun hampa itu. Suasana seketika berubah panas, penuh dengan ketegangan yang memicu adrenalin.

"Gila katamu?" Raka melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka dengan alis yang terangkat satu, menantang.

"Ya! Gila! Di sini yang berselingkuh itu kamu, Raka! Kamu mau menjadikanku kambing hitam atas kesalahan menj1jikkan yang kamu buat itu?!" teriak Zira. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata, siap tumpah bersama emosi yang meledak-ledak.

Raka mengangguk-angguk kecil, matanya ikut berkaca-kaca karena amarah. "Sejak awal aku sudah katakan, aku tidak setuju dengan ide bayi tabung menggunakan rahim wanita lain. Tapi kamu yang memaksaku, bukan? Kamu yang mengatur semuanya! Lalu, saat aku bersamanya karena proses itu, kamu justru marah?"

Zira mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Tangisnya pecah, menyuarakan luka yang selama berbulan-bulan ini ia kubur dalam-dalam. "Aku mengizinkan wanita lain mengandung benihmu, Raka. Aku memberikan izin padanya untuk meminjamkan rahimnya agar kamu bisa memiliki keturunan, bukan berarti kamu punya hak untuk mencintainya! Bukan berarti kamu boleh tidur dengannya di luar prosedur medis!"

Zira menarik napas tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. "Aku sadar atas kondisi rahimku yang bermasalah. Aku tahu kedua orang tuamu menuntut cucu dariku setiap hari. Tapi jika pada akhirnya kalian justru jatuh cinta dan bermain di belakangku seperti ini, untuk apa ada prosedur bayi tabung?! Untuk apa aku berkorban menahan harga diriku sebagai istri?!"

Perasaan sesak itu kini benar-benar meledak. Zira teringat betapa kerasnya ia berjuang. Segala macam program kehamilan telah ia jalani. Dua kali ia mencoba bayi tabung dengan rahimnya sendiri, namun keduanya berakhir dengan kegagalan yang menghancurkan jiwanya. Dokter mengatakan bahwa peluangnya hampir nol, dan di titik lelahnya itulah, ia mengambil keputusan gila, menitipkan benih suaminya di rahim wanita lain. Ia tak pernah menyangka bahwa keputusan itu justru menjadi pintu bagi kehancuran rumah tangganya.

"Sekarang, aku hanya minta satu hal. Berikan aku waktu untuk berpikir, Raka. Berikan aku waktu untuk merenung, apakah aku masih harus bertahan dengan seorang suami yang sudah mengkhianati istrinya!" sentak Zira.

Tanpa menunggu jawaban, Zira berbalik dan menarik kopernya dengan kasar. Ia melangkah menaiki tangga dengan kaki yang gemetar, ingin segera menghilang dari hadapan Raka yang masih terdiam mematung. Namun, baru setengah jalan ia menaiki anak tangga, sebuah suara lembut yang memuakkan terdengar dari arah lantai bawah.

"Apa Kakak marah?"

Zira membeku. Ia menoleh perlahan dan melihat wanita itu. Wanita muda yang kini tengah mengandung, wanita yang menjadi alasan mengapa rumah tangganya berubah menjadi neraka. Wanita itu kini menghampiri Raka dengan wajah yang dibuat seolah-olah sangat prihatin.

Rasa benci seketika menjalar ke seluruh pembuluh darah Zira, mencapai ubun-ubunnya hingga kepalanya terasa ingin pecah. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengepalkan tangan kuat-kuat.

"Ayo kembali ke kamar, kamu harus banyak istirahat. Ingat kondisi bayimu," ucap Raka dengan nada yang jauh lebih lembut, seraya merangkul bahu wanita muda itu untuk membawanya pergi.

Zira mengembuskan napas kasar, pemandangan itu seperti pisau yang mengiris jantungnya berkali-kali. Ia segera berlari menuju kamarnya dan membanting pintu hingga tertutup rapat. Begitu kunci berbunyi klik, pertahanannya runtuh total. Ia menghempaskan kopernya ke lantai dan berlari ke arah lemari besar di sudut kamar.

Zira menarik sebuah kotak kayu yang ia sembunyikan di bagian paling bawah. Kotak itu berisikan tumpukan jarum suntik bekas dan botol-botol obat dari program bayi tabung yang pernah ia jalani. Dengan teriakan histeris, ia melemparkan kotak itu ke dinding.

"ARGHHHHH!"

Suara pecahan kaca dan plastik beradu dengan teriakan frustrasinya. Tak puas sampai di situ, Zira mulai membanting segala macam perabotan yang ada di dekatnya. Lampu tidur, bingkai foto, hingga vas bunga hancur berkeping-keping. Rasa stres dan depresi yang sudah ia bendung selama berbulan-bulan kini menguasai kesadarannya.

Ketika tenaganya habis, Zira jatuh terduduk di atas lantai yang penuh dengan serpihan jarum suntik. Ia menjambak rambutnya sendiri, menangis tersedu-sedu hingga dadanya terasa sakit.

"Kenapa semesta tidak pernah adil padaku ... kenapa? Hiks ... kenapaaaaa!" teriaknya pilu, suaranya teredam oleh dinding kamar yang tebal.

Matanya yang sembab menatap nanar ke arah tumpukan jarum suntik yang berserakan. Jarum-jarum itu adalah saksi bisu betapa ia sudah menyiksa tubuhnya sendiri demi mendapatkan satu nyawa di dalam rahimnya. Namun hasilnya selalu nol. Kosong.

"Apa tidak bisa satu nyawa saja diberikan padaku? Satu saja ... hiks ... satu saja, aku mohon ... aku mohon ...," rintihnya dengan suara serak, memohon pada kekosongan yang tak memberinya jawaban. Di dalam kamar yang kini berantakan itu, Zira merasa menjadi wanita paling malang dan kesepian di seluruh dunia.

___________________________

Rilis juga akhirnyaaaa😆 jangan lupa dukungannya yah kawan, maaciiii🤩

Bentar, aku tuh agak lupa umur pernikahan Zira, dan dimana dia tinggal kalau di cerita papa tiri anti bakteri. Kalau ada yg inget bisa komen yaaah🤧

Luka Zira

Lantai marmer yang dingin itu seolah menjadi saksi bisu runtuhnya martabat seorang istri. Di dalam kamar yang kini lebih menyerupai puing-puing medan perang, Zira Falisha masih menangis. Namun, suara pintu yang terbuka pelan menghentikan isaknya. Raka melangkah masuk. Pria itu tidak lagi berdiri dengan keangkuhan dingin seperti di ruang tengah tadi. Melihat pemandangan di depannya, istrinya yang hancur di antara serpihan jarum suntik, ego Raka seolah luruh seketika.

Raka mendekat, lalu berlutut di hadapan Zira. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut melukai kaca retak, ia meraih kedua tangan Zira. Ia mengelus jemari yang gemetar itu dengan kelembutan yang selama ini dirindukan Zira, sebuah sentuhan yang sempat hilang ditelan ketegangan bulan-bulan terakhir. Zira tersentak, perlahan mengangkat wajahnya yang sembab untuk menatap mata suaminya. Di sana, ia menemukan tatapan sendu yang sarat dengan penyesalan.

"Aku minta maaf padamu, Sayang. Maafkan aku ... maafkan aku," ucap Raka dengan nada lirih, hampir berupa bisikan yang pecah.

Tangis Zira kembali pecah, namun kali ini lebih merambat pada rasa lelah yang amat sangat. Raka menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat. Dalam keheningan yang menyesakkan itu, memori sepuluh tahun pernikahan mereka berputar seperti klise film tua. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Mereka telah melewati badai demi badai, dari tawa di awal pernikahan hingga kesunyian panjang karena tak kunjung hadirnya tangis bayi di tengah mereka.

Rasa lelah telah menghampiri keduanya, menggerogoti kewarasan mereka selama bertahun-tahun menunggu kepastian yang tak kunjung tiba. Berbagai macam bumbu rumah tangga, dari kecurigaan hingga tuntutan keluarga besar, telah mereka telan pahit-pahit. Namun kali ini, badai yang datang jauh lebih besar, badai yang bernama pengkhianatan.

"Bangunlah, jangan di sini," ucap Raka lembut. Ia membantu Zira berdiri, lalu merebahkannya dengan kasih sayang di atas ranjang yang luas.

Raka kemudian mulai memunguti barang-barang yang berhamburan. Saat jemarinya menyentuh jarum-jarum suntik bekas program bayi tabung itu, dadanya terasa sesak. Setiap jarum adalah simbol perjuangan Zira yang menyakitkan, bukti betapa istrinya telah menyiksa tubuhnya sendiri demi impian mereka. Raka menatanya kembali ke dalam kotak kayu dengan tangan yang gemetar, sementara Zira hanya bisa menatapnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi bantal.

"Setelah dia melahirkan ... kamu akan melepaskannya, bukan?" bisik Zira, suaranya parau menuntut kepastian di tengah keraguan yang membara.

Raka terdiam sejenak. Keheningan itu terasa mencekam sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dan mengelus puncak kepala Zira. "Iya ... tidurlah. Istirahatkan pikiranmu."

"Aku benci dikhianati, Raka. Kamu sudah melakukannya sekali," ucap Zira seraya memejamkan mata, membiarkan kegelapan mengambil alih kesadarannya. "Jika kamu mengulanginya lagi ... kamu tahu sendiri apa akibatnya."

Raka hanya terdiam, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Ia keluar dari kamar, meminta asisten rumah tangga untuk membereskan kekacauan di dalam sana. Berdiri di koridor yang sepi, Raka menatap foto pernikahan mereka yang tergantung megah di dinding. Foto yang dulunya menjadi sumber kebahagiaannya, kini tampak seperti monumen bagi retaknya sebuah janji. Ia sendiri tak paham mengapa segalanya menjadi serumit ini. Semua mengalir begitu saja, dari rasa iba kepada wanita pengganti itu hingga berakhir pada kesalahan yang tak termaafkan.

.

.

.

.

Sementara itu, ribuan kilometer dari hiruk-pikuk konflik di sebrang sana, suasana tenang menyelimuti sebuah villa mewah di Bali. Di dalam ruangan luas yang didominasi kayu gelap, suara benturan bola biliar memecah kesunyian.

Kayden Julian Pradipta, pewaris tunggal dinasti Pradipta yang disegani, melepaskan jas hitamnya dengan gerakan maskulin. Ia menyampirkannya pada seorang pelayan wanita, lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Jemarinya yang kokoh meraih tongkat biliar, mengatur posisi dengan presisi seorang pemburu.

Tok!

Bola putih meluncur mulus, menghantam bola target tepat di sasaran hingga masuk ke dalam lubang dengan suara yang memuaskan. Kayden menegakkan tubuhnya. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh perhitungan, seolah bola-bola di atas meja hijau itu adalah musuh yang harus ia taklukkan satu per satu.

"Tuan Kay, kemampuan Anda tidak pernah menurun sedikit pun," puji seorang wanita yang berdiri di sisinya, mencoba memecah suasana.

Kayden hanya melirik sekilas, tak berminat menanggapi basa-basi itu. Di usianya yang ke-31, Kayden adalah sosok yang paling dicari namun paling sulit digapai. Banyak yang bertanya mengapa pria sesempurna dia belum juga mengakhiri masa lajangnya. Mereka tidak tahu bahwa di balik topeng dingin itu, ada api yang terus menyala untuk seorang wanita yang statusnya masih menjadi milik orang lain. Cinta yang terlarang, namun abadi.

"Tuan Kay, Anda harus segera kembali," Elvar Drazien, asisten setia Kayden, mendekat dengan wajah serius.

"Nanti saja, Elvar. Aku belum selesai di sini," jawab Kayden santai, kembali membidik bola berikutnya.

"Nona Kecil demam tinggi."

Seketika, gerakan Kayden terkunci. Ia meletakkan tongkat biliarnya begitu saja dan menyambar jasnya dengan gerakan cepat yang hampir kasar. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah lebar keluar ruangan, meninggalkan asistennya yang terburu-buru mengejar. Baginya, satu kalimat itu adalah perintah tertinggi yang tak bisa dibantah.

Sesampainya di rumah kediamannya yang privat, Kayden lekas turun dari mobil sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia melangkah cepat menuju sebuah kamar dengan pintu bercat warna merah muda yang ceria, satu-satunya warna paling terang di rumah minimalis itu. Begitu pintu terbuka, ia melihat dua orang pengasuh yang langsung berdiri menyingkir, memberikan jalan bagi sang tuan.

"Sudah panggil dokter?" tanya Kayden dingin, namun matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam saat menatap sosok bocah perempuan berusia empat tahun yang tengah terbaring lemah. Pipi bocah itu merah karena panas, napasnya terdengar pendek dan berat.

"Dokter sudah memeriksa, Tuan. Tapi beliau menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit guna pemeriksaan lanjutan karena demamnya tak kunjung turun," lapor salah satu pengasuh dengan nada takut.

Tanpa berpikir panjang, Kayden meraih tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Anak itu begitu ringan, seolah-olah beban dunia ini terlalu berat untuknya. Saat Kayden mulai melangkah keluar, sebuah gumaman lirih keluar dari bibir mungil sang bocah, membuat jantung Kayden seolah berhenti berdetak sesaat.

"Papa ... Mama ... Papa ... Mama ...," rintih anak itu dalam igauannya.

Kayden memejamkan mata sejenak, menelan rasa getir yang mendadak muncul di tenggorokannya. Ia mempererat pelukannya pada bocah itu, seolah ingin menyerap semua rasa sakit yang dirasakannya. Ia terus melangkah menuju mobil di mana Elvar sudah menunggu dengan pintu terbuka.

"Rumah sakit terdekat. Sekarang!" perintah Kayden singkat.

Mobil melaju membelah jalanan Bali yang mulai temaram. Di kursi belakang, Kayden masih mendekap erat bocah bernama Zayra itu, memberinya kehangatan di tengah menggigilnya demam. Ia mengelus kening Zayra dengan penuh kasih, sebuah sisi lembut yang hanya ditunjukkannya pada satu orang ini.

"Tuan ... apa Anda merasa ingatan Nona Zayra mulai kembali? Apakah itu sebabnya dia jatuh sakit?" tanya Elvar pelan, mencoba membaca situasi.

Kayden terdiam cukup lama, menatap keluar jendela di mana lampu-lampu jalan mulai menyala. "Aku belum tahu, Elvar. Tapi kuharap tidak. Belum saatnya."

Ceraikan Suamimu Dan Menikahlah Denganku!

"Demamnya sangat tinggi, tapi kami sudah mencoba menyuntikkan penurun panas. Semoga setelah ini suhunya segera turun," ucap sang dokter kepada Kayden.

Pria itu sedang berdiri dengan posisi bersedekap dada sambil menopang dagu, sebuah gestur yang menunjukkan kecemasan mendalam di balik wajahnya yang kaku. Matanya tak lepas menatap ke arah Zayra yang tengah tertidur lelap. Gadis kecil itu tampak begitu rapuh dengan jarum infus yang tertancap di punggung tangan mungilnya.

"Apa ini terjadi karena ingatannya kembali? Bisakah Anda melakukan sesuatu agar ingatannya tidak kembali?" tanya Kayden pelan. Ia menurunkan tangannya, menatap dokter dengan pandangan menuntut yang terselubung ketakutan.

Dokter itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh empati namun tidak menjanjikan keajaiban. "Saya tidak bisa memastikan, apalagi mencegah ingatannya kembali, Tuan. Itu adalah hak Nona Zayra. Otaknya akan secara alami memanggil kembali memori tentang hal-hal yang dia rasa tidak asing. Dia anak yang ceria, aktif, dan sangat menggemaskan. Jika memang ingatannya mulai pulih, Anda mungkin harus menjelaskannya secara bertahap padanya. Kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya dari seorang anak."

Kayden mengangguk pelan, meski hatinya berkecamuk. "Terima kasih, Dok," ucapnya singkat.

Ia melangkah mendekati ranjang pasien. Di sana, Zayra, bocah dengan pipi gembul yang biasanya selalu memanggilnya dengan riang, kini hanya bisa terlelap dalam pengaruh obat. Kayden terdiam, memori tentang awal pertemuan mereka kembali berputar di kepalanya. Pertemuan yang diawali oleh bau aspal panas dan suara dentuman yang menghancurkan kehidupan seseorang.

Empat bulan yang lalu, di sebuah sore yang mendung. Kayden duduk di kursi belakang mobil mewahnya, baru saja menyelesaikan urusan bisnis di Jakarta.

"Apa jadwalku hari ini?" tanya Kayden pada Elvar, asistennya yang duduk di sebelahnya sembari sibuk menatap layar iPad.

"Hanya pertemuan dengan Tuan Carol, Tuan," balas Elvar tanpa mengalihkan pandangan.

"Gantikan jadwalku, katakan aku ada urusan mendadak jadi—"

CKIIITT!

BRAKKK!

Suara decitan ban yang beradu dengan aspal diikuti dentuman keras memotong kalimat Kayden. Mobil yang dikendarai Kayden mengerem mendadak, membuat tubuhnya terdorong ke depan. Di depan mereka, sebuah mobil tampak kehilangan kendali, berguling beberapa kali sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan tol dengan sangat keras. Asap mengepul dari kap mobil yang hancur.

Mata Kayden membelalak. Namun, bukan mobil yang hancur itu yang mencuri perhatiannya, melainkan sesosok kecil yang tergeletak di tengah jalan, hanya beberapa meter di depan depan mobilnya. Bocah itu terlempar keluar dari jendela mobil saat kecelakaan terjadi.

Tanpa menunggu instruksi, Kayden membuka pintu mobil dan berlari menghampiri sosok kecil itu. Darah mengalir dari dahi bocah itu, namun ia masih bernapas. Di dalam mobil yang hancur, kedua orang tuanya sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

"El, cepat panggil ambulans! Sekarang!" teriak Kayden, suaranya memecah kesunyian jalan tol yang mencekam.

Sejak hari itu, Kayden memutuskan untuk merawat anak itu setelah di kabarkan jika orang tua gadis kecil itu tak dapat di selamatkan. Ia memberinya nama Zayra, memberinya identitas baru, dan menjaganya seperti darah dagingnya sendiri. Ia tidak peduli jika dunia menganggapnya gila, ia hanya ingin menyelamatkan satu nyawa yang tersisa dari tragedi itu, sekaligus mengisi kekosongan di hatinya yang ditinggalkan oleh wanita yang tak bisa ia miliki.

"Tuan, urusan administrasi Nona Zayra sudah selesai." Ucap Elvar yang datang setelah mengerjakan tugas yang Kayden perintahkan.

"Baiklah, terima kasih Elvar," ucap Kayden.

Ia hendak melangkah menuju ruang rawat Zayra kembali, namun langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah Elvar dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aku harus ke London malam ini. Jaga putriku dengan nyawamu, Elvar," ucap Kayden tegas.

Elvar mengerutkan keningnya dalam. "London? Bukankah tidak ada jadwal pertemuan di sana besok, Tuan?"

Kayden tidak menjawab. Ia hanya melangkah pergi dengan langkah lebar, meninggalkan asistennya yang kebingungan. Perjalanan ke London kali ini bukan tentang angka atau saham. Ini tentang luka lama yang kembali terbuka setelah ia menerima laporan dari mata-matanya.

.

.

.

.

Sesampainya di London, Kayden mengendarai mobil sewaan menyusuri jalanan kota yang bersih. Di sebuah sudut jalan yang tenang, ia menghentikan mobilnya. Matanya tertuju pada seberang jalan. Di sana, di depan sebuah kafe mewah, ia melihat seorang pria yang sangat ia kenal, Raka sedang menggandeng mesra seorang wanita muda yang bukan Zira.

Kayden beralih menatap layar ponselnya, membandingkan foto yang dikirim informannya dengan pemandangan di depannya. Senyum sinis terukir di bibirnya. Raka tampak begitu bahagia dengan wanita yang tengah mengandung itu, seolah-olah istrinya yang sedang menderita di rumah tidak pernah ada.

"Jadi benar, ya ... ada sesuatu yang busuk sedang terjadi pada cintaku," gumamnya pelan.

Ia kembali melajukan mobilnya menuju sebuah lokasi lain yang sudah ia hafal di luar kepala. Sebuah toko bunga besar yang menjadi tempat pelarian Zira belakangan ini. Zira, wanita yang ia cintai sejak lama, wanita yang seharusnya ia lindungi, justru berakhir dengan pria pengkhianat seperti Raka.

Kayden memarkirkan mobilnya tepat di depan toko bunga itu. Ia turun dengan karisma yang mengintimidasi, melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi aroma mawar dan lily. Pelanggan sedang cukup ramai hari itu, namun mata tajam Kayden langsung menemukan sosok yang ia cari.

Zira Falisha. Wanita itu sedang tertunduk, merangkai bunga dengan telaten sembari melayani pembeli dengan senyum manis yang dipaksakan. Rambutnya yang indah jatuh menutupi sebagian wajahnya yang tampak sedikit pucat. Kayden berjalan mendekat, berdiri tepat di depan meja kasir tempat Zira berada.

Zira masih tidak menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya tanpa mendongak.

"Bisa aku memesan bunga lily putih? Yang paling segar," ucap Kayden dengan suara baritonnya yang dalam.

Zira tersentak. Suara itu begitu akrab di telinganya. Ia perlahan mengangkat pandangannya, dan seketika matanya membelalak tak percaya. Jantungnya berdegup kencang melihat pria yang seharusnya berada ribuan mil jauhnya kini berdiri di hadapannya dengan senyum tipis.

"Kay? Kamu ... bagaimana bisa kamu ada di sini?!" Zira hampir menjatuhkan gunting bunganya. Ia tidak menyangka Kayden akan menemukannya di tempat persembunyian ini.

Kayden tidak menjawab pertanyaan itu. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah meja, menatap tepat ke dalam manik mata Zira yang berkaca-kaca. Suasana di dalam toko bunga itu mendadak hening, bahkan pelanggan lain seolah membeku merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul.

"Ceraikan suamimu dan menikahlah denganku, Kak," ucap Kayden dengan suara lantang dan penuh penekanan.

Zira terng4nga, mulutnya sedikit terbuka karena syok. Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa basa-basi, tanpa sapaan hangat, seperti sebuah serangan langsung ke pusat jantungnya. Para pelanggan lain di toko itu ikut berbisik, terkejut mendengar lamaran yang begitu blak-blakan dan intens dari pria asing yang tampak sangat berkuasa itu.

"Kamu tahu apa yang kamu minta," bisik Zira.

"Aku tahu persis apa yang aku inginkan," balas Kayden tanpa ragu. "Dan aku tidak akan pulang tanpa jawaban iya darimu."

Degh!

______________

Maap lama langsung triple hihi

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!