Indonesia
NovelToon NovelToon

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Bab 1: Tante Guru dan Tuan Kaku

​Matahari di atas kebun binatang siang itu cukup terik, namun semangat anak-anak TK Pelita Bangsa tidak surut. Aiswa menyeka keringat di dahi sambil sesekali menghitung jumlah muridnya. Sebagai guru muda, ia harus ekstra waspada, apalagi setelah sesi berenang yang melelahkan namun seru.

​"Anak-anak, tetap dalam barisan ya! Jangan ada yang lepas dari gandengan temannya," seru Aiswa lembut namun tegas.

​Di tengah hiruk-pikuk itu, mata Aiswa menangkap sosok kecil yang kontras. Seorang anak perempuan berbaju pink berdiri mematung di dekat kandang burung. Ia tidak menangis, tapi wajahnya yang cantik terlihat mendung dan bingung.

​Aiswa mendekat, berjongkok agar tingginya sejajar dengan anak itu.

"Halo sayang? Kamu kenapa sendirian? Mama dan Papa kamu di mana?"

​Gadis kecil itu menoleh. Alih-alih menjawab, ia justru menghambur ke pelukan Aiswa, memeluk leher sang guru dengan erat. Aiswa tersentak, namun refleks mengusap punggung kecil itu.

​"Apa kamu... ibu guru dari mereka?" tanya gadis itu pelan, menunjuk murid-murid Aiswa dengan jari mungilnya.

​Aiswa tersenyum manis.

"Iya, benar. Boleh tahu siapa nama kamu?"

​"Boleh aku panggil kamu Tante Guru?" tanya anak itu balik, mengabaikan pertanyaan Aiswa.

​Aiswa tertawa kecil.

"Tentu saja boleh, Sayang. Tapi kamu belum jawab Tante, di mana orang tuamu? Kenapa bisa terpisah?"

​"Aku enggak tahu Tante guru, aku terpisah dari Papa dan Mbak Suci," jawabnya jujur.

​Aiswa segera berkoordinasi dengan Bu Dwika, rekan seniornya.

"Bu, saya bawa anak ini ke aula depan dulu ya untuk diumumkan. Kasihan orang tuanya pasti panik."

​"Oh iya, bawa saja, Ais. Biar anak-anak aku yang pegang dulu," jawab Bu Dwika sigap.

​Di aula, pengeras suara menggema, menyebutkan ada seorang anak yang terpisah dari orangtuanya dengan ciri-ciri, anak perempuan, berusia lima tahun, berbaju pink, bernama Zianna.

Tak butuh waktu lama, seorang pria dengan langkah lebar dan raut wajah tegang muncul. Penampilannya sangat mencolok, setelan jas yang tampak sangat mahal, jam tangan mewah, dan aura dominan yang membuat orang sekitarnya segan.

​Pria itu langsung memeriksa keadaan putrinya dengan teliti.

"Zianna? Kamu tidak apa-apa?"

​Zianna menggeleng, lalu menunjuk Aiswa yang berdiri tak jauh dari sana. Pria itu, Devan Argian Papa Zianna. Devan menoleh menatap Aiswa. Ia menatap Aiswa dengan tatapan tajam dan intens yang cukup lama, terlalu lama sampai Aiswa merasa salah tingkah.

​Duh, ini orang kenapa lihatnya begitu banget sih? Serem! Kayak aku punya utang pinjol saja, batin Aiswa ketakutan.

​Devan melangkah mendekat. Sebuah senyum tipis, sangat tipis, hampir tak terlihat muncul di wajahnya yang kaku.

"Terima kasih."

​"Iya... sama-sama. Lain kali anaknya diperhatikan lagi ya, Pak. Kasihan kalau sampai hilang seperti tadi," ucap Aiswa spontan, sedikit memberi teguran karena gemas melihat orang tua yang lalai.

​"Pak?" gumam Devan dalam hati saat Aiswa pamit pergi.

Dia panggil aku Pak? Apa aku terlihat setua itu di matanya?

​Tak lama kemudian, asisten Devan mendekati Aiswa yang hendak kembali ke rombongan, bermaksud memberikan amplop tebal berisi uang sebagai imbalan. Namun, Aiswa dengan tegas menggeleng.

​"Nggak usah, Mas. Uangnya dibawa pulang saja. Pesan saya cuma satu, besok-besok lebih diperhatikan lagi Ziannanya. Sesibuk apa pun, sempatkan melihat anak," ucap Aiswa telak, lalu melenggang pergi tanpa beban.

​Di dalam mobil mewah yang melaju tenang, Devan terdiam. Laporan dari asistennya bahwa wanita itu menolak uang pemberiannya membuat Devan semakin terpaku. Wajah guru TK yang berani menegurnya itu terus berputar di kepalanya.

​"Papa suka Tante Guru, ya?" celetuk Zianna tiba-tiba tanpa filter.

​Devan tersadar dari lamunannya.

"Tante Guru? Siapa?"

​"Dia yang menolong Zianna tadi, Pa. Aku suka panggil dia Tante Guru."

​"Kenapa?"

​"Ya karena aku suka saja," jawab Zianna enteng. "Apa Papa juga suka Tante Guru?"

​Devan terdiam sejenak, menatap jalanan di depannya dengan tatapan yang kini lebih bermakna. Ia mengangguk mantap.

​"Kalau kamu suka... tentu Papa juga suka."

Devan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah spion depan, menatap sang asisten yang hari ini merangkap menjadi sopirnya.

"Lucas."

"Ya, Tuan?"

"Cari tahu semua hal tentang 'Tante Guru' yang dikatakan Zianna tadi. Aku ingin laporannya ada di mejaku besok pagi," perintah Tuan Muda Argian itu dengan nada dingin yang tak terbantah.

Lucas mengangguk patuh.

"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan."

Setelah itu, suasana mobil kembali hening. Devan bersandar pada kursinya, menatap keluar jendela. Namun, pikirannya tidak lagi tertuju pada pekerjaan. Sebuah senyum tipis,kali ini lebih jelas, terbesit di wajahnya saat bayangan wajah polos Aiswa yang berani menegurnya tadi kembali melintas.

Bab 2: Antara Curhat Colongan dan Transferan Sayang

​Aiswa merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa sempat ganti baju. Rasanya tulang-tulangnya seperti dipreteli satu per satu. Mengurus anak-anak TK saat study tour ke kebun binatang ternyata jauh lebih melelahkan daripada lari maraton.

​"Energi mereka itu pakai baterai apa, sih? Nggak habis-habis!" gumamnya pada langit-langit kamar.

Padahal kaki Aiswa rasanya sudah ingin mogok kerja sejak tadi di area kolam renang. Namun, meski badannya remuk, ia tidak bisa menahan senyum saat mengingat tingkah polos murid-muridnya. Menjadi guru TK memang hobi menguji tekanan darah, tapi juga obat moodbooster paling ampuh.

​Ponsel di sampingnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Aditya (Calon Imam).

Seketika, rasa pegalnya seolah terbang dibawa angin. Dengan semangat 45, Aiswa menggeser tombol hijau untuk panggilan video.

​"Halo sayang, assalamualaikum!" sapa Aiswa dengan suara yang sengaja diceriakan.

​"Waalaikumsalam, Cantik," sahut Aditya dari seberang sana dengan suara baritonnya yang menenangkan.

"Gimana hari ini? Capek banget, ya? Mukanya sampai ditekuk begitu."

​Aiswa langsung mengeluarkan jurus andalannya: curhat tanpa titik koma.

Ia menceritakan dari mulai anak yang hampir terpeleset, hingga drama menemukan anak hilang yang membuatnya hampir berubah jadi singa.

​"Kamu beneran bilang begitu ke bapaknya?" tanya Aditya tak percaya.

Ia tertawa kecil membayangkan pacarnya yang biasanya lemah lembut,meski kadang suka tantrum kalau lapar, berani memberikan wejangan pada orang asing.

​"Iya! Hampir saja aku omeli habis-habisan. Untung batin aku teriak, Aiswa sabar... Aiswa sabar..." ucap Aiswa sambil mengelus dadanya dramatis.

​"Habisnya, tempat seramai itu kok anaknya dibiarkan lepas jangkauan. Kalau diculik gimana? Repot, kan?" lanjutnya menggebu-gebu.

Inilah yang Aiswa sukai dari Aditya. Pria itu selalu bisa jadi pendengar yang baik, tempat sampah bagi semua keluh kesahnya tanpa pernah menghakimi.

​"Lagipula, Mas... bapaknya itu aneh banget tahu nggak?" Aiswa mulai mengeluarkan bakat julid terselubungnya.

​"Aneh gimana?"

​"Mas bayangkan, ke tempat wisata kebun binatang dan kolam renang, dia pakai setelan jas kantor lengkap! Dia itu mau berenang atau mau rapat direksi? Apa nggak lucu kalau dia naik perosotan pelangi sambil presentasi pakai proyektor?" seloroh Aiswa.

​Aditya tertawa lepas.

"Mungkin dia saking sibuknya sampai nggak sempat ganti baju, Ais."

​"Tetap saja aneh!"

​Baru saja Aiswa ingin melanjutkan sesi gosipnya, tiba-tiba muncul notifikasi panggilan masuk di layar ponsel.

Arka (Adik Durhaka).

​"Mas, Ais tutup dulu ya? Ini Arka telepon, ganggu aja nih bocah. Tapi penting kayaknya. Nanti Ais telepon lagi, ya?"

​"Oke sayang, salam buat keluarga ya."

​Sambungan terputus. Aiswa segera beralih ke panggilan video sang adik.

"Halo, assalamualaikum, Kak!" sapa Arka di layar.

​"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar adikku yang paling jauh?"

Arkananta, adik ke dua Aiswa, saat ini dia bekerja di luar kota sebagai operator alat berat. Kontak nya dinamakan adik durhaka oleh Aiswa karena memang mereka ibarat tom and Jerry dunia nyata. Namun tetap saja ketika LDR dengan sang adik Aiswa tetap merasa rindu, teman ributnya tidak ada di rumah.

​"Bunda mana?" tanya Arka langsung tanpa basa-basi.

​Aiswa langsung memasang wajah tersinggung.

"Yee! Sapa kakak tercantikmu ini dulu kek, tanya kabar kek. Langsung 'Bunda mana'. Telepon ke HP Bunda saja sana!"

​"HP Bunda nggak aktif, lagi mati kali. Kakak di mana itu?"

​"Lagi di kamar, mau pingsan karena capek."

​"Ya sudah, cepat kasih ke Bunda, aku mau ngobrol."

​Aiswa menyipitkan mata.

"Dih, maksa. Kasih dulu seratus supaya urusan tidak terputus," ucap Aiswa jenaka sambil menunjukkan telapak tangan.

​Arka geleng-geleng kepala.

"Iya, nanti aku transfer buat jajan bulan ini. Cepat!"

​"Uhuy! Senangnya dalam hati, punya adik royal sekali..." Aiswa menyanyi sumbang sambil bangkit dari kasurnya. Ia berjalan keluar kamar menuju ruang tamu.

"Ibunda Ratuuu! Yuhuuu! Di mana dikau Bunda?" teriak Aiswa menggelegar sampai burung tetangga mungkin ikut kaget.

​"Apa sih, Kak? Teriak-teriak kayak di hutan saja," sahut Bunda Ayunda yang sedang asyik menonton TV bersama Ayah Agus.

​"Ini, Bunda... anak Bunda yang paling ganteng sejagat raya menelepon. Silakan berbicara," ucap Aiswa dengan gaya drakor, menyerahkan ponselnya.

​"Eh, siapa yang paling ganteng? Anak Bunda paling ganteng itu Aksa!" si bungsu Aksa yang sedang tiduran di sofa tiba-tiba protes.

​"Ups, keceplosan!" Aiswa menutup mulutnya akting kaget.

"Maaf adik kakak tersayang, kamu ganteng kok... beda satu persen saja di bawah Arka," tambahnya kemudian langsung kabur sebelum bantal sofa terbang ke arahnya.

​Aiswa tahu kalau sudah mengobrol dengan Arka, Ayah dan Bunda tidak akan selesai dalam lima menit. Ia memutuskan membiarkan ponselnya "disandera" sementara ia pergi mandi dan bersiap tidur. Tubuhnya sudah benar-benar protes ingin diistirahatkan.

Bab 3: Jejak Digital dan Langkah Sang Predator

​Akhir pekan bagi Aiswa adalah kemewahan. Akhirnya, ia bisa meliburkan diri dari teriakan lucu murid-muridnya dan instruksi "jangan lari-lari" yang biasa ia teriakkan setiap jam. Hari ini, sahabat-sahabatnya mengajak bertemu.

​Aiswa memiliki lingkaran pertemanan yang cukup, atau sangat ramai. Namanya Sembilan Nyawa (SEMBI-LANN). Sesuai inisial mereka bersembilan yaitu: Shena, Elena, Mikha, Bella, Ilana, Lalita, Aiswa, Nita, dan Nala. Kalau ditambah tiga orang lagi, mereka sudah bisa mendaftar jadi tim sepak bola cadangan. Namun, mengumpulkan sembilan kepala dalam satu waktu itu mustahil. Selalu saja ada yang absen.

​Hari ini, Nala dan Nita berhalangan, sementara Bella dan Ilana baru bisa menyusul siang nanti. Alhasil, Aiswa berangkat lebih awal bersama Elena menuju sebuah mall untuk berburu beberapa barang sebelum mampir ke kafe tempat mereka janjian.

​"Ayo, El, foto dulu! Mumpung pencahayaannya bagus," ajak Aiswa di salah satu sudut mall yang estetik.

Setelah berpose manis, Aiswa langsung mengunggahnya ke Instagram Story. Baru satu menit, tapi Aiswa tidak tahu bahwa satu menit itu adalah awal dari segalanya.

***

​Sementara itu, di sebuah kantor dengan interior serba monokrom yang kaku, Lucas meletakkan sebuah map tebal di atas meja kerja yang luas.

​"Laporan lengkap mengenai Nona Aiswa, Tuan," ucap Lucas formal.

​Devan Argian meraih map itu tanpa ekspresi. Matanya yang tajam menyisir setiap baris informasi, dari riwayat pendidikan, tempat mengajar, detail keluarga Ayah Agus, hingga jejak digital di media sosial. Devan kemudian merogoh ponsel dari saku jasnya, mencari satu nama akun yang tertera di laporan tersebut. Begitu ketemu, ia berhenti sejenak. Ada unggahan cerita baru di sana.

​"Lucas," panggil Devan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

"Jika Saya membuka ceritanya ini, apakah dia akan tahu?"

​"Tentu saja terlihat, Tuan. Siapa pun yang melihat akan masuk ke dalam riwayat penayangan," jawab Lucas jujur.

​Devan mendongak, menatap Lucas dengan sorot mata yang membuat asistennya itu langsung merinding.

"Pertanyaan Saya bukan ke situ."

​Lucas tertegun, otaknya berputar cepat mencari maksud sang bos.

​"Bukankah Saya sudah bilang, amankan akun di ponsel Saya. Buat siapa pun tidak akan tahu jika aku 'menyusup' melalui perangkat ini," ujar Devan dingin, menekankan setiap kata seolah sedang memberi peringatan keras.

​Lucas seketika menunduk.

"Benar, Tuan. Maafkan saya, saya sempat lupa perihal pengaturan privasi khusus yang Anda minta."

​Setelah memastikan "keamanannya", Devan mengetuk layar. Snapgram Aiswa terbuka. Di sana, terlihat Aiswa bersama seorang teman wanitanya sedang berpose di sebuah mal.

Devan mengenali tempat itu. Unggahan itu baru dikirim satu menit yang lalu. Artinya, targetnya masih ada di sana.

​Devan menutup map laporan itu dengan suara berdebam kecil, lalu meletakkan ponselnya.

​"Lucas, siapkan mobil!" perintahnya singkat.

​"Baik, Tuan."

Lucas tidak berani banyak bertanya meski batinnya dipenuhi tanda tanya. Menurut jadwal dari sekretaris, hari ini tidak ada agenda rapat atau kunjungan luar. Apa rencana bosnya kali ini?

​Kali ini pun, Devan memerintahkan Lucas untuk menyetir sendiri tanpa membawa sopir pribadi.

Jika menyangkut hal "privat", Devan hanya memercayai Lucas.

​"Kita akan ke mana, Tuan?" tanya Lucas hati-hati setelah mereka membelah jalanan kota.

​Devan menatap lurus ke depan, wajahnya datar tak terbaca.

"Sekolah Zianna."

Lucas hanya mengangguk patuh meski benaknya dipenuhi tanda tanya. Ke sekolah Nona Muda? Untuk apa? Bukankah ini hari libur?

Tanpa menunggu lama, mobil mewah itu membelah jalanan dan sampai di sekolah Zianna. Meski kegiatan belajar-mengajar libur, area kolam renang sekolah tetap ramai karena Zianna mengikuti les renang tambahan setiap akhir pekan.

Jika ada yang bertanya mengapa Devan tetap sibuk di hari libur jawabannya sederhana, dia adalah manusia gila kerja. Namun, minggu ini ia sengaja mengebut semua urusan kantor karena minggu depan ia telah berjanji mengajak Zianna berlibur.

Liburan yang merupakan sebuah "penebusan dosa" karena pada libur semester lalu ia terlalu sibuk hingga rencana liburan dengan sang putri batal total, alhasil Ia didiamkan Zianna seharian penuh. Sebagai permintaan maaf Ia akan mengganti liburan itu di Minggu depan.

Sesampainya di tepi kolam, Zianna tampak heran melihat sosok papanya muncul di saat jam les masih berlangsung. Gadis kecil itu langsung menghampiri Papanya.

"Papa? Kenapa ke sini?"

"Papa mau ajak kamu ke suatu tempat," Ucap Devan.

Namun bukannya senang, wajah Zianna berubah kesal.

"Papaa, kan papa tahu hari ini itu jadwal Zianna les renang, mau ajak ke mana sih," gadis kecil itu menyilangkan kedua tangannya.

Devan berjongkok, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga putrinya. Seketika, wajah kesal Zianna berubah berbinar bahagia. Ia tampak sangat antusias, bahkan sampai menarik-narik ujung jas papanya agar segera menuju mobil.

"Nona, kita ganti baju dulu!" seru Mbak Suci, Baby-sitter Zianna, yang tergopoh-gopoh mengejar.

Setelah berganti pakaian, Zianna berlari kecil menuju mobil. Mbak Suci hendak ikut masuk, namun langkahnya terhenti oleh tatapan tajam Devan.

"Kamu kembali saja ke rumah," perintah Devan mutlak.

"Tapi Tuan, saya pengasuh Nona Zianna. Takut nanti kalau Nona butuh sesuatu atau...,"

Ucapan Suci langsung terputus saat netra dingin Devan menghujamnya. Aura intimidasi itu sanggup membungkam siapa pun dalam hitungan detik.

"Baik, Tuan," cicit Suci sambil menunduk dalam.

Devan kemudian menggendong Zianna dengan lembut, satu-satunya momen di mana sisi hangatnya terlihat. Mereka pun masuk ke dalam mobil.

"Ke mana kita, Tuan?" tanya Lucas saat mesin mulai menderu.

"Mall pusat kota," ucap Devan datar tanpa mengalihkan pandangan dari Zianna yang duduk di pangkuannya.

Lucas mengangguk patuh, tanpa ia tahu kalau itu adalah Mall yang baru saja muncul di unggahan story Aiswa tadi.

"Oh ya, Lucas," panggil Devan tiba-tiba.

"Gaji bulan ini akan saya transfer dua kali lipat sebagai bonus langsung dariku."

Senyum lebar langsung merekah di wajah Lucas. Matanya berbinar membayangkan angka nol yang berderet di saldo rekeningnya. Bonus dari seorang Devan Argian bukanlah recehan, jumlahnya cukup untuk membuat kantongnya tebal seketika.

Memang Boss ini kalau kasih kerjaan suka lupa hari, weekend pun aku harus jadi supir pribadi. Tapi kalau bonusnya begini sih... saldo aman, hati riang! batin Lucas tertawa puas di balik kemudi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!