Ini adalah cerita tentang Gao Rui. Seorang bocah ajaib berusia tiga belas tahun yang namanya mengguncang seluruh Kekaisaran Zhou belum lama ini.
Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu. Hari ketika ia berdiri di tengah Arena Seribu Pedang dan mengalahkan semua lawannya. Lawan-lawan yang secara umur bahkan lebih tua darinya. Namun pada akhirnya mereka semua jatuh dan satu nama naik ke puncak. Gao Rui resmi dikenal dengan julukan Pendekar Naga Bintang.
Sejak saat itu namanya menyebar seperti badai. Dari kota ke kota, dari sekte ke sekte, dari para pendekar muda hingga para tetua tua, semua membicarakan satu hal yang sama. Seorang anak berusia tiga belas tahun yang menaklukkan generasinya.
Bahkan lebih dari itu, ia dianggap sebagai murid sekte paling berbakat dalam sejarah Kekaisaran Zhou. Sebuah pencapaian yang terlalu berat bahkan untuk dipikul oleh seorang jenius sekalipun.
Namun Gao Rui tetaplah Gao Rui. Saat ini… ia duduk di teras rumahnya di dalam kawasan sektenya. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun dengan halaman luas dan tenang. Halaman di depannya tertata rapi. Pepohonan berdiri tegak, daun-daunnya bergerak perlahan tertiup angin sore. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan menciptakan bayangan yang berayun lembut di tanah.
Gao Rui menatap semua itu tanpa fokus. Matanya kosong. Pikirannya jauh.
“…Haaah…”
Ia menguap panjang. Entah karena mengantuk… atau karena bosan.
Kehidupan setelah menjadi “yang terkuat” ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada lagi tantangan. Tidak ada lagi lawan seusianya yang membuat darahnya bergejolak. Yang ada hanya pujian dan itu membosankan.
Namun pikirannya tiba-tiba berhenti pada satu kenangan. Pertemuan terakhirnya dengan Yan Luo. Pendekar terkuat di Kekaisaran Zhou beberapa bulan yang lalu…
Di ruangan itu, pria tua itu berlutut di hadapannya dan memanggilnya guru. Alis Gao Rui sedikit berkerut.
“…”
Ia masih bisa mengingat dengan jelas ekspresi wajah Yan Luo saat itu. Serius, tenang, dan sepenuhnya tulus. Tidak ada sedikit pun keraguan di sana. Itulah yang membuatnya paling bingung.
“…Bagaimana bisa…?”
Gao Rui bergumam pelan. Usianya baru tiga belas tahun. Sementara Yan Luo sudah hidup jauh lebih lama darinya. Pengalaman, kekuatan, reputasi, semuanya jauh melampaui dirinya.
Namun pria itu tetap bersikeras memanggilnya guru. Memberikan penghormatan seolah itu adalah sesuatu yang wajar.
Bukan hanya itu dari percakapan singkat mereka saat itu, Gao Rui mendengar sesuatu yang tidak bisa ia lupakan.
“Guru Zhi Shen…”
Nama itu, Zhi Shen. Jantung Gao Rui berdetak sedikit lebih cepat. Nama itu bukan pertama kalinya ia dengar.
Dahulu gurunya sendiri, Boqin Changing pernah mengatakan hal yang sama. Bahwa dirinya mirip dengan seseorang. Seseorang yang ia kenal. Seseorang bernama Zhi Shen.
“…”
Gao Rui mengepalkan tangannya perlahan. Dua orang. Dua pendekar kuat. Dua sosok yang berdiri di puncak dunia persilatan. Keduanya menyebut dirinya dengan nama yang sama.
“Siapa sebenarnya Zhi Shen itu…?”
Suara hatinya terdengar pelan. Namun tidak ada jawaban. Hanya angin sore yang berhembus dan dedaunan yang terus bergoyang.
Jantungnya berdegup lebih kencang. Rasa penasaran itu tidak hilang. Justru semakin dalam. Seolah ada sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya sendiri. Sesuatu yang bahkan ia tidak ketahui.
Tepat saat pikirannya tenggelam lebih jauh…
“Rui’er..”
Suara lembut tiba-tiba terdengar.
Gao Rui menoleh. Seseorang berjalan mendekat dari arah gerbang halaman. Seorang wanita dewasa. Wajahnya cantik dan tenang dengan aura kedewasaan yang kuat. Langkahnya anggun namun mantap.
Itu adalah Lan Suya. Pemimpin Kelompok Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan sedang berkembang di Kekaisaran Zhou. Ia adalah salah satu orang yang sangat dekat dengan Gao Rui.
“Bibi Ya,” panggil Gao Rui ringan.
Lan Suya tersenyum hangat. Tangannya terangkat sedikit melambai santai. Di tangan satunya ia membawa sesuatu. Sebuah kotak bekal makan.
“Dari tadi melamun saja,” katanya sambil mendekat. “Seorang jenius besar seperti dirimu… ternyata bisa terlihat seperti orang kehilangan arah juga ya.”
Nada suaranya menggoda.
Gao Rui tersenyum tipis.
“Sedikit bosan saja.”
Lan Suya berhenti di depannya. Ia menatap Gao Rui beberapa detik. Tatapannya lembut namun dalam. Seolah bisa melihat lebih dari yang terlihat di permukaan.
“Bosan?” ulangnya pelan.
Lalu ia menghela napas kecil.
“Kalau orang lain mendengar itu, mereka mungkin akan pingsan.”
Ia lalu mengangkat kotak di tangannya.
“Ini. Aku membawa makanan untukmu.”
Gao Rui sedikit terkejut.
“Untukku?”
Lan Suya mengangguk.
“Anggap saja hadiah kecil dariku untuk pendekar nomor satu generasi muda di kekaisaran ini.”
Ia meletakkan kotak itu di meja kecil di teras. Dengan gerakan halus, ia membukanya. Aroma harum langsung menyebar.
Makanan di dalamnya terlihat sederhana namun jelas dibuat dengan sangat hati-hati. Gao Rui menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum kecil.
“Jika begitu ayo kita makan....”
“Aku sudah makan. Kau saja....” Lan Suya menolak.
“Terima kasih, Bibi Ya.”
Lan Suya duduk di sampingnya.
“Jangan hanya terima kasih. Makan.”
Gao Rui tidak menolak. Ia mengambil sumpit di dapur, kembali, dan mulai makan perlahan.
Beberapa saat suasana menjadi tenang. Hanya suara angin dan sesekali suara kecil dari peralatan makan. Namun Lan Suya tiba-tiba berbicara lagi.
“Rui’er”
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Beberapa bulan ini banyak orang mulai bergerak.”
Gao Rui berhenti sejenak.
“Bergerak?”
Lan Suya mengangguk pelan.
“Namamu terlalu terang sekarang.”
Tatapannya mengarah ke halaman. Namun jelas pikirannya jauh lebih dalam dari itu.
“Orang-orang yang mengagumimu semakin banyak. Namun begitu juga dengan orang-orang yang takut padamu.”
Gao Rui terdiam. Ia sudah menduga hal itu. Namun mendengarnya langsung tetap terasa berbeda.
Lan Suya melanjutkan.
“Kelompok Harta Langit menerima banyak informasi akhir-akhir ini.”
Ia menoleh. Menatap Gao Rui tepat di mata.
“Beberapa kekuatan mulai membicarakan tentangmu.”
“Ada yang ingin mendekatimu.”
“Ada yang ingin memanfaatkanmu.”
“Dan ada juga yang ingin menyingkirkanmu.”
Angin berhembus lebih kuat sesaat. Daun-daun berdesir. Gao Rui perlahan menurunkan sumpitnya. Ekspresinya tidak berubah. Namun matanya sedikit lebih dalam.
“Begitu ya…”
Ia bergumam pelan. Tidak panik. Tidak takut. Hanya menerima.
Lan Suya memperhatikannya. Beberapa detik… lalu tersenyum tipis.
“Reaksimu memang seperti yang kuduga.”
Ia berdiri perlahan.
“Bagaimanapun juga kau bukan bocah biasa.”
Ia melangkah beberapa langkah lalu berhenti. Tanpa menoleh ia berkata,
“Dan satu lagi...”
Gao Rui mengangkat sedikit pandangannya.
“Senior Yan Luo…”
Jantung Gao Rui berdetak.
“Dia meninggalkan pesan kepada beberapa kelompok aliran putih netral untuk ikut menjagamu....”
Gao Rui sedikit mengernyit.
“Ia...?”
Lan Suya mengangguk pelan.
“Benar.”
Lan Suya terdiam beberapa saat setelah kata-katanya sendiri mengudara di antara mereka. Angin sore berhembus pelan membawa ketenangan yang aneh, namun juga menyisakan ketegangan tipis yang sulit dijelaskan.
Gao Rui menatap meja di depannya. Pikirannya kembali berputar mengingat nama itu lagi. Yan Luo dan juga Zhi Shen. Namun kali ini ia tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya menghela napas pelan.
Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari mulai condong ke barat bayangan pepohonan semakin panjang dan suasana halaman menjadi lebih hangat sekaligus sendu.
Kebersamaan mereka akhirnya sampai di ujungnya. Lan Suya berdiri perlahan. Gerakannya tetap anggun seperti biasa.
“Sepertinya aku harus kembali,” katanya ringan. “Masih banyak urusan yang harus kuurus.”
Gao Rui mengangguk pelan. Ia ikut berdiri.
“Terima kasih sudah datang, Bibi Ya.”
Lan Suya tersenyum. Namun kali ini senyum itu sedikit lebih lembut dari sebelumnya. Ia berbalik hendak melangkah pergi.
“Bibi Ya,”
Gao Rui tiba-tiba memanggil. Langkah Lan Suya berhenti.
“Ada apa?” ia menoleh sedikit.
Gao Rui tampak ragu sejenak. Tangannya bergerak kecil di samping tubuhnya. Lalu ia berkata dengan nada yang agak pelan,
“Ke depannya tidak usah repot-repot mengirimkan makanan lagi untukku.”
Lan Suya mengangkat alisnya sedikit.
“Aku tidak ingin merepotkanmu,” lanjut Gao Rui jujur. “Kau sudah cukup sibuk dengan urusanmu. Hal seperti ini, aku bisa mengurus sendiri.”
Beberapa detik hening. Lalu alis Lan Suya sedikit berkerut. Ekspresinya berubah.
“…Oh?” suaranya terdengar pelan.
Namun entah kenapa… udara di sekitarnya tiba-tiba terasa berbeda.
Ia berbalik sepenuhnya sekarang. Menatap Gao Rui dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah.
“Jadi…” katanya perlahan. “Kau tidak menyukai makananku?”
Gao Rui langsung membeku.
“Eh?”
Nada suara Lan Suya berubah sedikit lebih tinggi.
“Atau menurutmu makanan dari restoranku tidak enak?”
“B-bukan begitu....”
Gao Rui refleks mengangkat kedua tangannya. Wajahnya langsung panik.
Namun Lan Suya tidak memberinya kesempatan. Ia menyilangkan tangan di depan dada. Tatapannya tajam seolah benar-benar marah.
“Gao Rui,” ucapnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memanggilnya Rui’er.
“Itu bukan hanya makanan biasa.”
Gao Rui menelan ludah.
“…Bibi Ya?”
Lan Suya melangkah mendekat satu langkah.
“Kau pikir… semua usaha yang kujalankan ini hanya milikku sendiri?”
Gao Rui terdiam.
Lan Suya menunjuk ringan ke arah dirinya sendiri… lalu ke arah Gao Rui.
“Kelompok dagang Harta Langit, restoran, semua usaha yang kurintis…” katanya tegas. “Kini ada namamu di dalamnya.”
Gao Rui benar-benar terdiam sekarang.
“Eh…?”
Lan Suya mendengus pelan.
“Kau adalah pemiliknya juga. Bukan hanya aku.”
Kalimat itu jatuh begitu saja namun beratnya terasa jelas. Gao Rui merasa seperti disambar petir.
“I-ya…”
Wajahnya yang biasanya tenang kini benar-benar terlihat kebingungan, bahkan sedikit takut. Baginya perempuan yang marah sangat menyeramkan.
“Jadi…” lanjut Lan Suya dengan nada dingin yang dibuat-buat. “Kau menolak makanan dari usahamu sendiri?”
“Tidak!” jawab Gao Rui cepat. Terlalu cepat.
Lan Suya terdiam sejenak lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak.
Beberapa detik berlalu, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia sebenarnya hanya berpura-pura marah. Namun Gao Rui jelas tidak menyadari itu.
“Kalau begitu…” katanya santai kembali. “Besok aku akan mengirimkan makanan lagi.”
Gao Rui membeku sesaat.
“…Baik.”
Jawabannya pelan namun pasrah. Ia tidak berani menolak lagi.
Lan Suya tersenyum tipis. Kali ini senyum itu benar-benar tulus. Ia berbalik dan mulai berjalan keluar.
“Jangan lupa makan tepat waktu,” katanya tanpa menoleh.
“Dan…” ia berhenti sejenak.
“Jangan terlalu banyak melamun. Dunia ini tidak akan diam hanya karena kau bosan.”
Gao Rui tersenyum kecil.
“Iya, Bibi Ya.”
Lan Suya akhirnya benar-benar pergi. Sosoknya perlahan menghilang meninggalkan halaman yang kembali sunyi.
Angin sore kembali berhembus. Daun-daun bergoyang pelan. Gao Rui berdiri diam beberapa saat lalu menghela napas panjang.
“…Menyeramkan…” gumamnya pelan.
Namun setelah itu senyum tipis muncul di wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu rasa bosan itu sedikit berkurang.
Keesokan harinya, embun pagi masih menggantung di ujung daun ketika Gao Rui sudah berdiri tegak di tengah halaman rumahnya. Udara pagi terasa sejuk. Tanah masih sedikit lembap. Cahaya matahari baru saja muncul di balik bukit memantulkan kilau keemasan di rerumputan.
Gao Rui mengenakan pakaian latihan sederhana. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang tanpa sedikit pun kesombongan yang biasanya muncul pada anak seusianya.
Beberapa bulan terakhir namanya memang telah mengguncang seluruh Kekaisaran Zhou. Pendekar Naga Bintang. Jenius nomor satu generasi muda. Anak ajaib yang tak tertandingi.
Namun Gao Rui tahu satu hal. Semakin tinggi seseorang berdiri, semakin jelas langit luas yang belum terjangkau. Masih terlalu banyak hal yang belum ia pahami. Masih terlalu banyak jalan yang belum ia tempuh.
Karena itulah pagi ini ia tetap berlatih. Bukan demi pujian. Bukan demi nama. Melainkan demi terus melangkah.
“Huff”
Gao Rui menarik napas panjang. Kakinya perlahan bergeser membentuk posisi awal.
Hari ini ia melatih Teknik Langkah Petir. Salah satu teknik gerak kaki tingkat tinggi yang diwariskan gurunya, Boqin Changing. Teknik yang mampu meningkatkan kecepatan tubuh hingga batas yang lebih tinggi.
Namun justru karena itu teknik ini sangat sulit dikuasai. Satu kesalahan kecil dan aliran tenaga dalam bisa kacau. Satu pijakan meleset, tubuh bisa kehilangan keseimbangan.
Tatapan Gao Rui menjadi fokus. Lalu....
Sret!
Tubuhnya lenyap dari tempat semula. Daun-daun di halaman mendadak beterbangan. Sosok Gao Rui muncul di sisi timur halaman lalu menghilang lagi sebelum bayangannya sempat utuh.
Sret! Sret! Sret!
Gerakannya seperti sambaran cahaya. Kadang muncul di dekat pohon plum. Kadang di atas batu taman. Kadang sudah berada di atap teras… hanya dalam satu tarikan napas.
Namun jika diperhatikan lebih teliti langkahnya bukan sekadar cepat. Setiap pijakan, ringan. Setiap perpindahan, presisi. Setiap tarikan napas, selaras dengan aliran tenaga dalam di tubuhnya.
Waktu terus berlalu. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Gao Rui. Napasnya sedikit lebih berat namun matanya justru semakin terang.
Ia terus mengulang. Terus memperbaiki. Saat gerakannya terlalu cepat hingga mengganggu aliran tenaga, ia ulangi. Saat pijakannya sedikit meleset, ia perbaiki.
Tak ada rasa puas diri. Tak ada rasa cukup. Karena bagi Gao Rui, puncak bukan tempat untuk beristirahat. Puncak hanyalah awal untuk melihat gunung lain yang lebih tinggi.
Beberapa saat kemudian…
Sret!
Tubuh Gao Rui berhenti di tengah halaman. Debu halus turun perlahan di sekelilingnya. Daun-daun yang tadi beterbangan jatuh satu per satu.
Ia berdiri diam. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“…Sudah cukup lama bersembunyi di sana?”
Suaranya tenang. Tidak keras namun jelas terdengar. Gao Rui perlahan menoleh ke arah sebuah pohon besar di sudut halaman. Pohon tua dengan batang lebar, tempat bayangan pagi jatuh paling pekat. Tatapannya lembut bahkan sedikit jenaka.
“Kalau terus mengintip seperti itu…” katanya santai, “aku jadi merasa langkahku tadi terlalu jelek.”
Beberapa detik suasana hening. Lalu sebuah tawa kecil terdengar dari balik batang pohon.
“Hehehe… bocah ini.”
Sosok tua perlahan melangkah keluar dari balik bayangan. Jubah abu-abu sederhana membungkus tubuh kurus namun tegap. Rambut putihnya tergerai, matanya tajam seperti elang. Namun dalam tatapan itu ada kebijaksanaan yang menekan langit.
Aura yang ia bawa tenang. Namun justru karena tenang itu terasa menggetarkan. Tetua Agung Xu Qung. Salah satu tetua tertinggi Sekte Bukit Bintang. Sosok yang bahkan para pendekar senior pun segan.
Gao Rui tersenyum tipis. Sama sekali tidak terkejut. Ia lalu menangkupkan tangan dengan hormat.
“Selamat datang… Tetua Agung. Apa yang membuatmu repot-repot kemari?”
Xu Qung tersenyum kecil. Keriput di sudut matanya tampak semakin jelas namun justru memberinya wibawa yang hangat.
“Aku hanya sedang berjalan-jalan pagi,” katanya santai sambil menatap halaman yang masih dipenuhi bekas pijakan Gao Rui. “Lalu dari kejauhan… aku mendengar suara angin berdesir aneh dari kediamanmu. Kukira ada murid nakal sedang merusak halaman orang.”
Ia terkekeh pelan.
“Ternyata… bocah monster ini sedang berlatih.”
Gao Rui tersenyum tipis. Ia menunduk hormat.
“Maaf jika mengganggu ketenangan Tetua Agung.”
“Mengganggu?” Xu Qung mendengus pelan. “Justru aku datang karena tertarik. Teknik langkah kakimu… jauh lebih matang dari terakhir kali kulihat. Pijakanmu ringan, aliran tenagamu stabil, bahkan ritme napasmu hampir sempurna.”
Tatapan lelaki tua itu menajam penuh apresiasi.
“Kemampuanmu semakin meningkat saja, Gao Rui. Di usia seperti ini, kau sudah bisa membuat para tetua sekte terdiam.”
Gao Rui tidak menunjukkan kebanggaan sedikit pun. Ia hanya tersenyum rendah hati.
“Terima kasih atas pujian Tetua Agung. Tapi aku masih jauh dari cukup. Teknik ini masih banyak celahnya… dan aku pun masih harus belajar lebih banyak.”
Xu Qung memandangnya beberapa saat lalu mengangguk puas. Sikap seperti inilah yang paling ia hargai dari bocah ini. Bakat tinggi bukan hal langka di dunia persilatan. Namun hati yang tetap rendah justru jauh lebih sulit ditemukan.
“Bagus,” katanya akhirnya. “Kalau begitu… daripada terus berkutat di halaman, bagaimana kalau kau menemaniku berjalan-jalan keliling sekte?”
Gao Rui sedikit terdiam. Meski Xu Qung bicara santai, ajakan seorang Tetua Agung jelas bukan sesuatu yang pantas ditolak begitu saja. Lagipula Gao Rui tahu, orang setingkat Xu Qung tidak mungkin datang hanya untuk memuji latihannya.
Gao Rui segera menangkupkan tangan.
“Tentu. Aku akan menemanimu.”
Xu Qung tersenyum puas.
“Bagus. Sudah lama aku tidak berjalan santai ditemani anak muda.”
Tak lama kemudian keduanya pun meninggalkan halaman.
Pagi di Sekte Bukit Bintang begitu damai. Jalan setapak batu membelah taman-taman luas yang dipenuhi pohon pinus, bambu, dan bunga plum. Kabut tipis masih menyelimuti lereng gunung membuat seluruh sekte terlihat seperti negeri di atas awan.
Xu Qung berjalan santai dengan tangan di belakang punggung. Langkahnya lambat namun mantap. Gao Rui berjalan di sampingnya, tenang dan hormat.
Sepanjang jalan para murid yang berpapasan segera berhenti dan menangkupkan tangan.
“Salam untuk Tetua Agung!”
“Salam, Senior Rui!”
“Senior Rui!”
Suara-suara hormat terdengar silih berganti. Bahkan beberapa murid yang jelas lebih tua usia darinya tetap menunduk hormat sambil memanggilnya senior.
Gao Rui hanya membalas dengan anggukan sopan. Wajahnya tetap tenang seolah semua itu hal biasa.
Di dunia persilatan, usia memang bukan penentu utama penghormatan. Yang dihormati adalah kekuatan. Siapa yang lebih tinggi jalannya dialah yang layak disebut senior.
Meski Gao Rui jauh lebih muda, semua orang tahu kenyataannya. Di generasi muda Sekte Bukit Bintang bahkan mungkin di seluruh Kekaisaran Zhou nyaris tak ada yang mampu menandinginya.
Xu Qung melirik Gao Rui dari samping. Melihat bocah itu tetap tenang meski disapa dengan hormat dari segala arah, hatinya semakin kagum.
Bakat luar biasa, hati setenang air, dan tidak silau oleh pujian. Dalam hati, Xu Qung bergumam pelan.
“Anak ini… benar-benar calon pilar sekte di masa depan.”
Langkah mereka terus berlanjut menyusuri jalur batu yang menanjak ke arah paviliun puncak. Angin gunung berembus lembut membawa aroma pinus dan embun.
Lalu… Xu Qung tiba-tiba membuka suara.
“Gao Rui… apa kau sudah mendengar kabar gurumu, Boqin Changing?”
Gao Rui sedikit mengernyit. Langkahnya melambat sepersekian saat. Nama gurunya selalu mampu membuat hatinya bergetar.
Ia menoleh pada Xu Qung, tatapannya tenang namun jelas menyimpan harap.
“Belum,” jawabnya jujur. “Sudah cukup lama aku tidak mendapat kabar apa pun tentang Guru. Terakhir kali aku hanya tahu ia pergi ke Kekaisaran Qin untuk urusan penting.”
Nada suara Gao Rui tetap terkendali namun Xu Qung bisa menangkap rasa rindu yang samar di balik ketenangan murid muda itu.
Tetua tua itu tersenyum kecil. Janggut putihnya bergoyang tertiup angin gunung.
“Kebetulan… aku baru saja mendengar kabar tentangnya.”
Mata Gao Rui langsung menajam. Wajahnya yang biasanya tenang… kini tampak lebih hidup.
“Kabar apa?”
Xu Qung berhenti sejenak di tepi jalur batu. Dari sana, hamparan pegunungan terlihat luas, lautan awan membentang di bawah kaki mereka. Ia menatap cakrawala sejenak lalu berkata pelan, namun setiap katanya terasa berat.
“Gurumu… baru saja membantu Kaisar Shang merebut kembali tahtanya.”
Angin gunung berembus lembut… namun Gao Rui merasa dadanya bergetar.
Xu Qung melanjutkan.
“Kekaisaran Shang beberapa waktu ini dilanda kekacauan. Kudeta dari dalam istana hampir membuat dinasti itu runtuh. Banyak jenderal besar gugur… para bangsawan saling mengkhianati.”
“Tapi di saat paling genting… Boqin Changing muncul.”
Tatapan Xu Qung sedikit berubah bahkan seorang Tetua Agung seperti dirinya tak bisa menyembunyikan rasa kagum saat menyebut nama itu.
“Dengan pedangnya, ia membuka jalan bagi Kaisar Shang untuk kembali duduk di singgasana.”
Xu Qung menghela napas pelan.
“Dan bukan hanya itu…”
Ia menatap Gao Rui lurus-lurus.
“Setelah peristiwa itu… Kaisar Shang secara resmi mengangkat gurumu sebagai Pelindung Kekaisaran Shang.”
Gao Rui terdiam. Untuk sesaat… langkahnya benar-benar berhenti.
Xu Qung melanjutkan dengan nada dalam.
“Itu berarti… sekarang Boqin Changing bukan hanya pelindung Kekaisaran Qin… Tapi juga pelindung Kekaisaran Shang.”
“Dua kekaisaran… berada di bawah bayang namanya.”
Suasana mendadak hening. Burung-burung kecil berkicau di kejauhan. Kabut pagi perlahan tersibak oleh cahaya mentari. Namun bagi Gao Rui semua suara seolah menjauh. Yang tersisa hanya satu hal di dalam hatinya. Bangga.
Mata Gao Rui perlahan berbinar. Biasanya bocah itu selalu tenang. Selalu menahan emosi. Namun kali ini sinar di matanya begitu terang hingga sulit disembunyikan.
Sudut bibirnya terangkat, senyum tulus yang jarang terlihat.
“Guru…”
Ia mengepalkan tangan perlahan di samping tubuhnya. Bukan karena tegang tapi karena hatinya terlalu penuh.
Boqin Changing adalah sosok yang baginya bagaikan langit. Orang yang mengangkatnya dari dasar, membimbingnya, menempanya, mengajarinya arti kekuatan, dan keteguhan hati. Mendengar gurunya kini berdiri di puncak dunia rasanya lebih membahagiakan daripada mendengar pujian untuk dirinya sendiri.
Xu Qung menatap ekspresi Gao Rui… lalu tersenyum kecil.
“Heh… akhirnya aku melihat wajahmu seperti anak seusiamu.”
Gao Rui tersadar. Ia sedikit tertawa kecil lalu menunduk hormat.
“Maaf, Tetua Agung. Aku hanya…”
“Senang?” Xu Qung menyambung.
Gao Rui mengangguk. Tatapannya kembali menatap langit luas di kejauhan.
“Ya. Sangat senang.”
Suaranya lembut namun penuh keyakinan.
“Guru memang pantas berada di sana.”
Ia menarik napas dalam. Angin gunung menerpa wajahnya membawa rasa hangat yang aneh di dada.
Lalu mata Gao Rui perlahan berubah tajam. Binar kebahagiaan itu kini bercampur tekad.
“Dan suatu hari nanti…”
Xu Qung meliriknya.
Gao Rui menatap cakrawala dengan tenang.
“Aku akan berdiri di sampingnya. Bukan sebagai murid yang berlindung di belakang namanya…”
“Tapi sebagai pendekar yang cukup kuat… untuk membuat Guru bangga.”
Sesaat Xu Qung terdiam. Lalu lelaki tua itu tertawa pelan. Tawa yang hangat penuh kepuasan.
“Hahaha… bagus.”
Ia menepuk pundak Gao Rui perlahan.
“Dengan hati seperti itu… cepat atau lambat… seluruh dunia memang akan mendengar namamu.”
Angin pagi kembali berembus. Di atas puncak Sekte Bukit Bintang, seorang bocah berdiri menatap langit yang luas. Di matanya bukan hanya rasa bangga. Tapi juga bara tekad yang perlahan mulai menyala semakin terang.
Xu Qung dan Gao Rui melanjutkan langkah mereka menyusuri jalur batu di lereng sekte.
Setelah pembicaraan tentang Boqin Changing suasana di antara mereka justru terasa lebih hangat. Gao Rui kini sesekali bertanya tentang kisah-kisah gurunya di sana. Xu Qung pun dengan santai menceritakan beberapa hal, berdasarkan apa yang didengarnya.
Keduanya terus berjalan. Mereka melewati paviliun batu, kebun bambu, hingga tepi tebing tempat awan menggantung di bawah kaki. Angin pegunungan berembus lembut. Pagi yang semula dingin perlahan berubah hangat oleh cahaya matahari.
Mereka berbincang banyak hal. Tentang latihan. Tentang dunia luar. Tentang tanggung jawab besar yang kelak harus dipikul Gao Rui.
Xu Qung memberi banyak nasihat dan Gao Rui mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Hingga tanpa terasa matahari sudah naik cukup tinggi. Xu Qung akhirnya berhenti di persimpangan jalan setapak. Ia menatap Gao Rui dengan tatapan lembut.
“Sudah cukup jalan-jalannya hari ini.”
Gao Rui menangkupkan tangan hormat.
“Terima kasih... Tetua Agung.”
Xu Qung tersenyum kecil.
“Teruslah berlatih seperti tadi. Jangan pernah kehilangan hatimu yang sekarang.”
“Aku akan mengingatnya.”
Gao Rui mengangguk mantap.
Setelah itu keduanya pun berpisah. Gao Rui kembali ke kediamannya untuk melanjutkan latihan. Sementara Xu Qung melangkah santai menuju paviliun kediamannya di puncak sekte.
Namun baru saja Xu Qung sampai di halaman rumahnya, seorang pelayan tua bergegas datang sambil menangkupkan tangan.
“Tetua Agung.”
Xu Qung berhenti.
“Ada apa?”
Pelayan itu sedikit menunduk.
“Ada tamu yang sedang menunggumu di ruang tamu.”
Xu Qung sedikit mengernyit.
“Tamu?”
Biasanya tak banyak orang berani datang tanpa pemberitahuan ke kediamannya. Apalagi di pagi hari seperti ini. Tanpa banyak bicara, Xu Qung segera melangkah masuk.
Tak lama kemudian ia tiba di ruang tamu. Begitu tirai pintu dibuka matanya langsung menyipit tipis.
Di sana seorang wanita anggun duduk tenang sambil menikmati teh. Wajahnya cantik dan dewasa, auranya tenang namun berkelas. Meski usianya tak lagi muda pesonanya justru semakin matang.
Xu Qung tersenyum tipis.
“Ya’er.”
Wanita itu menoleh. Senyum lembut langsung menghiasi bibirnya.
“Kakak ipar.”
Xu Qung mendengus kecil sambil tertawa.
“Masih saja memanggilku begitu.”
Lan Suya ikut tersenyum.
“Memangnya salah?”
Xu Qung menggeleng pelan. Wajah tuanya tampak sedikit lebih santai.
Lan Suya memang bukan orang luar baginya. Wanita itu adalah adik iparnya dan juga pemimpin Kelompok Dagang Harta Langit. Sosok berpengaruh yang namanya cukup terkenal di Kekaisaran Zhou.
Xu Qung duduk di kursi seberangnya.
“Jarang sekali kau datang sendiri ke sini. Ada angin apa?”
Lan Suya meletakkan cangkir tehnya perlahan.
“Tak bolehkah aku datang hanya untuk menengokmu?”
Xu Qung mendengus pelan.
“Kalau orang lain mungkin iya. Tapi kau? Aku tahu betul… kau tidak pernah datang tanpa tujuan.”
Lan Suya tertawa kecil. Tawanya ringan namun matanya tajam.
“Kakak ipar tetap saja sulit dibohongi.”
Xu Qung menggeleng sambil tersenyum samar.
Beberapa saat mereka mengobrol basa-basi. Menanyakan kabar. Membicarakan keadaan kelompok dagang dan situasi sekte. Hingga akhirnya senyum Lan Suya perlahan memudar. Tatapannya menjadi lebih serius.
“Aku datang hari ini… memang ada maksud tertentu.”
Xu Qung menatapnya tenang.
“Aku sudah menduga.”
Lan Suya tidak berputar-putar lagi.
“Aku ingin mengajak Gao Rui keluar sekte. Menuju ibukota.”
Ruangan mendadak hening. Tatapan Xu Qung langsung berubah tajam.
“Untuk apa?”
Lan Suya menyandarkan tubuhnya santai… namun nada suaranya tetap serius.
“Ini untuk kepentingan Kelompok Dagang Harta Langit. Ada sesuatu di ibukota yang ingin kutunjukkan pada Gao Rui.”
Xu Qung langsung menggeleng.
“Tidak.”
Jawabannya tegas. Tanpa ragu sedikit pun.
Lan Suya mengangkat alis.
“Kau bahkan belum mendengar penjelasanku.”
“Aku tak perlu mendengarnya.” Xu Qung menatap lurus. “Gao Rui harus tetap berada di sekte. Fokusnya sekarang adalah berlatih.”
Xu Qung menyandarkan tubuhnya sedikit, suaranya makin dalam.
“Lagipula… patriak sekte sedang menjalani latihan tertutup. Tanpa izinnya… Gao Rui tidak bisa sembarangan keluar.”
Lan Suya justru tertawa kecil.
“Tetua Agung… kapan sejak kapan izin seorang murid harus selalu berasal dari patriak?”
Ia menatap Xu Qung dengan mata yang seolah menyimpan godaan.
“Izin seorang tetua saja sebenarnya sudah cukup. Apalagi… kalau yang memberi izin adalah dirimu.”
Xu Qung mendengus.
“Bujukanmu tidak akan berhasil.”
Lan Suya tetap tenang.
“Aku janji… Gao Rui akan kembali sebelum patriak keluar dari latihan tertutup.”
Xu Qung menggeleng lagi. Kali ini lebih tegas.
“Tidak.”
Matanya menyipit.
“Kau tahu sendiri situasi sekarang. Dunia persilatan sedang tidak tenang. Gao Rui bukan murid biasa. Namanya terlalu besar. Terlalu banyak mata mengawasinya.”
Lan Suya terdiam sejenak. Xu Qung melanjutkan.
“Apalagi sekarang… Tetua Bei juga sedang keluar sekte menjalankan misi. Satu-satunya tetua yang paling dekat dengan Gao Rui… sedang tidak ada.”
Ia menatap Lan Suya lurus-lurus.
“Aku sendiri tak bisa meninggalkan sekte. Patriak sedang latihan tertutup. Sekte ini butuh seseorang yang menjaganya.”
Suasana ruangan mendadak hening. Lan Suya menyandarkan dagu di jemarinya menatap Xu Qung beberapa saat. Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis yang penuh arti.
“Kakak ipar…”
Nada suaranya lembut… tapi ada keyakinan aneh di sana.
“Aku sudah tahu kau akan menjawab seperti itu.”
Xu Qung sedikit mengernyit. Lan Suya tersenyum semakin dalam.
“Baiklah jika begitu....”
Lan Suya perlahan meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Bunyi kecil porselen yang bersentuhan dengan kayu justru membuat suasana terasa makin tegang. Tatapannya yang semula santai kini berubah licin seperti rubah yang baru saja menemukan mangsa.
“Kakak ipar…” katanya lembut. “Kalau begitu… aku tak akan membahas Gao Rui dulu.”
Xu Qung menyipitkan mata. Ia tahu betul… nada seperti itu dari Lan Suya tak pernah membawa hal sederhana.
Wanita itu lalu bersandar anggun. Jemarinya memainkan ujung lengan bajunya.
“Ngomong-ngomong…” Lan Suya menatap sekeliling ruangan. “Di mana kakak perempuanku?”
Xu Qung sedikit mengernyit.
“Istriku?”
Lan Suya mengangguk santai.
“Aku ingin berbincang-bincang dengannya. Sudah lama kami tak duduk bersama seperti dulu.”
Entah kenapa mendengar kalimat itu, jantung Xu Qung justru berdegup sedikit lebih cepat. Seketika firasat buruk muncul di benaknya. Ia mengenal adik iparnya ini terlalu baik. Lan Suya bukan tipe orang yang datang hanya untuk bernostalgia.
Xu Qung menatapnya lebih dalam.
“Apa yang hendak kau bicarakan dengannya?”
Lan Suya tertawa kecil. Tawa yang ringan namun justru membuat kening Xu Qung mulai terasa dingin.
“Kenapa kau terlihat tegang begitu, kakak ipar?”
Xu Qung mendengus pelan.
“Aku hanya bertanya.”
Lan Suya tersenyum tipis.
“Aku hanya rindu pada kakakku. Sudah lama kami tidak berbincang. Aku ingin menceritakan pengalamanku selama berada di Sekte Pedang Langit.”
Xu Qung masih diam. Tatapannya tak lepas dari wajah wanita itu.
Lan Suya lalu mencondongkan tubuh sedikit. Sorot matanya berubah nakal.
“Banyak hal menarik yang kulihat di sana.”
Xu Qung mendadak merasa tengkuknya menegang. Lan Suya melanjutkan dengan santai seolah tak ada maksud tersembunyi.
“Termasuk… melihat kakak ipar berbincang hangat dengan Tetua Sekte Bunga Senja… Duan Yulin.”
Ruangan mendadak sunyi. Seakan angin pun berhenti berembus. Wajah Xu Qung yang tadi tenang langsung menegang. Untuk pertama kalinya pagi itu setitik keringat dingin muncul di pelipis Tetua Agung Sekte Bukit Bintang
Ia tentu ingat kejadian itu. Tetua wanita itu memang kenalan lamanya. Mereka hanya berbicara soal keadaan dunia persilatan tak lebih.
Namun masalahnya bukan di sana. Masalahnya adalahnistrinya. Istrinya sangat pencemburu. Bahkan mendengar nama wanita lain disebut di dekat Xu Qung saja sudah cukup membuat tatapannya berubah dingin selama berhari-hari. Apalagi jika mendengar ada “obrolan hangat” di tempat jauh.
Xu Qung menarik napas pelan mencoba tetap tenang.
“Suya…”
Lan Suya menatapnya polos.
“Hmm?”
Xu Qung menyipit.
“Kau sengaja, ya?”
Lan Suya mengangkat alis pura-pura bingung.
“Sengaja apa?”
Xu Qung mendesah dalam. Ia memandang adik iparnya di hadapan. Wanita ini memang cantik, anggun, dan elegan tapi juga licik luar biasa.
Lan Suya menahan senyum. Matanya berbinar geli melihat ekspresi kakak iparnya.
“Aku sungguh hanya ingin bercerita pada kakakku.”
Xu Qung mendengus pelan.
“Dan kau tahu persis… kalau kau menceritakan bagian itu, rumah ini akan ribut seharian.”
Lan Suya menutup mulutnya menahan tawa kecil.
“Siapa suruh kau berbincang terlalu lama dengan wanita secantik Duan Yulin?”
Xu Qung menatap langit-langit sejenak… seperti sedang menahan nasib.
“Aku hanya bicara soal urusan sekte.”
“Tapi tetap bicara hangat, kan?”
“Karena dia bertanya sopan!”
Lan Suya kini benar-benar tertawa. Tawanya renyah memenuhi ruangan.
Xu Qung menggeleng lelah. Dalam hati ia tahu dirinya sedang berada di posisi yang sangat buruk. Di hadapannya sekarang duduk seorang wanita yang memegang kelemahannya.
Lan Suya menatapnya sambil tersenyum manis.
“Nah… kakak ipar.”
Xu Qung memicingkan mata.
“Apa maumu?”
Lan Suya menyandarkan tubuh, wajahnya berseri puas.
“Sederhana saja.”
Ia mengangkat satu jari.
“Izinkan Gao Rui ikut denganku ke ibukota.”
Xu Qung langsung menatapnya tajam.
Lan Suya tersenyum makin lebar.
“Atau… mungkin aku sebaiknya mencari kakakku sekarang?”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!