Indonesia
NovelToon NovelToon

Maduku Teman Kerjaku

Bab 1

Pagi ini Adinda menyiapkan sarapan seperti biasa. Dua piring nasi sudah tersaji rapi di atas meja makan, lengkap dengan lauk pauk dan dua gelas air putih hangat. Namun ia tidak tahu… hari ini adalah hari di mana suaminya menikah dengan wanita lain.

Hari itu seharusnya menjadi pagi yang biasa. Tapi entah kenapa, sejak bangun tidur tadi, hati Adinda terasa tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, seolah akan terjadi sesuatu yang buruk.

Perasaannya semakin aneh ketika melihat tingkah suaminya. Arya terlihat sangat terburu-buru, bahkan tidak sempat menyentuh makanan yang sudah ia siapkan dengan penuh perhatian.

"Mas, mau kemana?" tanya Adinda heran.

"Sayang, maaf ya, kali ini Mas, harus pergi cepat, ada tugas mendadak dari kantor," sahutnya seolah ada sesuatu yang disembunyikan.

"Iya tapi makan dulu, kasihan perutmu dibiarkan kosong seperti itu," cegah istrinya itu.

  "Sayang ... ini sangat orgen banget jadi aku mohon pengertian mu ya," jelas Arya.

Dinda pun mengangguk pelan, namun dalam hatinya ada kecemasan yang tidak bisa ia ungkapkan, entah kenapa hatinya merasa sesak mendadak.

  "Astaghfirullah ... semoga tidak terjadi apa-apa.

Adinda pun mulai duduk mencoba menenangkan hatinya agar sedikit tenang, wanita itu sengaja meneguk air putih, namun ketika ingin mengambil beberapa lauk tiba-tiba saja saja handphonenya bergetar pelan.

Sebuah pesan masuk dari rekan kantornya.

“Dinda… kamu di mana?”

Adinda mengerutkan kening. Ia mengetik balasan singkat.

“Aku di rumah. Kenapa?”

Pesan berikutnya datang cepat sekali, seolah pengirimnya menulis dengan tangan gemetar.

“Kamu sudah tahu belum?”

Adinda semakin bingung.

“Tahu apa?”

Beberapa detik tidak ada balasan. Lalu muncul lagi pesan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Maaf kalau aku yang harus bilang… tapi hari ini Mas Arya menikah.”

Cangkir yang dipegang Adinda terlepas dari tangannya. Bunyi pecahan kaca terdengar keras di lantai dapur. Adinda tidak bergerak.

Matanya terpaku pada layar ponsel. Ia membaca kalimat itu berulang kali, seolah berharap huruf-hurufnya berubah menjadi sesuatu yang lain.

Hari ini Mas Arya menikah? Hal yang tak pernah terbayangkan dalam benaknya selama ini. Dadanya terasa sesak. Tangannya gemetar saat mengetik balasan.

“Kamu bercanda, kan?”

Namun balasan yang datang justru seperti pisau yang semakin dalam menancap di hatinya.

“Aku tidak bercanda. Aku dapat undangan dari teman kantor. Akadnya pagi ini," ucap pesan yang terkirim itu. "Dan sebelum menikah ternyata mereka sudah mempunyai anak laki-laki berusia 7 bulan barulah keduanya memutuskan untuk menikah," lanjut pesan itu.

Ponsel itu hampir jatuh dari tangan Adinda.Ia berdiri dengan tubuh lemas. Langkahnya goyah saat berjalan menuju ruang tamu. Kepalanya penuh dengan dua pertanyaan yang terus berputar.

Menikah?

Mereka sudah mempunyai anak?

Bagaimana mungkin?

Hati siapa yang tidak hancur membaca satu persatu kata yang tersusun dalam tulisan tersebut. Empat belas tahun mereka mengarungi rumah tangga. Bahkan suaminya itu selalu berucap akan tetap setia meskipun diantara keduanya tidak dikaruniai anak.

Tapi hari ini ... semua pengkhianat itu terbongkar, melalui rekan kerjanya yang lain.

  "Ka-mu menikah dan sudah punya anak," ucapnya dengan gugup.

  Adinda tidak bisa marah meskipun hatinya hancur, bahkan air matanya tidak bisa keluar saat mendengar kabar menyakitkan itu.

Wanita itu mencoba mendudukan bokongnya diatas kursi, namun lututnya tidak bisa diam sangking kuatnya goncangan dari dalam yang membuat tubuhnya beraksi.

 "Tidak ... ini tidak mungkin Mas Arya suami yang baik, dan tidak pernah neko-neko tidak mungkin ia berkhianat dibelakang aku," ucapnya seolah meyakinkan diri sendiri kalau berita tadi tidak benar.

 Tapi semakin ia mencoba untuk yakin bukti kedua seolah datang dengan begitu cepat tanpa dipinta. Sebuah gambar terkirim langsung di dalam pesan WA-nya.

"Din, aku harap kamu mempertimbangkan hal ini," ucap pesan itu sambil mengirim beberapa foto pernikahan mereka.

Adinda tersenyum pahit saat melihat wajah yang mengenakan gaun putih disampingnya Arya, terlihat gagah mengenakan setelan jas putih, nampak begitu bahagia, namun dibalik semua itu ada sesuatu yang mencuri pandangan Adinda.

Yaitu kedatangan mertua dan juga adik iparnya yang selama ini terlihat begitu baik dihadapannya.

"Mereka ....," mulut Adinda tercekat hanya sekedar menyebut dua nama itu.

"Ibu, Namira... kalian tahu tapi menyembunyikan ini semuanya."

Untuk saat ini air mata Adinda benar-benar tidak bisa ditahan lagi, tidak hanya suami yang mengkhianati tapi keluarganya juga ikut andil bahkan ikut mendukung perselingkuhan itu.

"Ya Allah... apa aku seburuk itu dihadapan mereka, sehingga mereka dengan gampangnya merendahkan aku seperti ini," ucapnya penuh dengan air mata.

Air mata Adinda terus mengalir membasahi pipinya, handphonenya masih ia genggam, bahkan foto akad itu masih ia pandangi satu persatu.

  Mereka semua terlihat bahagia seolah sudah lama menunggu momen seperti ini, Tampa mereka sadari di dalam rumah ini ada seorang wanita yang sedang berjuang selama empat belas tahun memperjuangkan rumah tangganya, memasakkan suami dan keluarganya, mempersiapkan semua kebutuhan suami dan menahan cibiran orang-orang yang menganggapnya wanita mandul.

  "Jika sudah seperti ini, maka orang-orang dengan mudah akan mengira aku mandul, dan suamiku sendiri dengan tidak langsung memperlihatkan itu semua pada semua orang jika aku memang istri yang mandul!"

Haaaaaah!

Teriakan itu menggema di ruang tamu Adinda memegangi dadanya yang bergetar hebat, rasanya ia tidak ada guna menangis di sini sendirian tanpa memastikan sendiri kejadian di sana seperti apa.

Dengan air mata yang masih menetes dan langkah yang sedikit goyah wanita itu akhirnya keluar meninggalkan rumahnya.

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa ada kata ragu ia mendatangi alamat yang sudah dikasih oleh temannya tadi. Dan beberapa menit kemudian mobilnya sudah berhenti di depan jalan rumah Luna.

  Langkahnya sedikit tergesa tanpa peduli dengan air mata yang terus mengalir. Ia melewati gang kecil untuk menuju ke tempat dimana sang suami hari ini tengah melangsungkan adat tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada dirinya.

Dan saat kakinya sampai di depan rumah yang nampak lebih ramai dari pada rumah lainnya, tatapan orang-orang sekitar serasa aneh saat melihat kedatangan Adinda.

  Lalu salah satu tetangga datang menghampiri dan bertanya.

  "Maaf Mbak mau cari siapa?" tanya wanita paruh baya itu.

"Aku cari Mas Arya Bu," sahut Adinda.

Wanita paruh baya itu mengerutkan dahinya. "Arya, yang kamu maksud suami dari Luna.."

Deg

Sejenak dunia Adinda serasa berhenti berputar, namun wanita itu berusaha untuk menjawab dengan tenang dan tegas.

"Iya, dan suami Luna itu adalah suamiku," sahut Adinda dengan lantang.

Beberapa ibu-ibu langsung menoleh ke arah Anisa mereka seolah tidak percaya jika seorang pria yang diantar oleh ibu dan adiknya untuk menikahi seorang gadis di tempatnya ternyata sudah mempunyai istri.

  "Hah! Luna menikah dengan suami orang, gak kaget sih, dari dulu anak itu memang kelihatan badung dan sering jalan dengan om-om," timpal yang lainnya.

"Iya emang anaknya seperti itu, dari dulu memang gak bener makanya hamil duluan," imbuh yang lainnya.

Tanpa terasa ucapan yang keluar dari ibu-ibu itu terdengar oleh kedua orang tua Luna, dan mereka merasa malu dengan gosip yang beredar mengenai anaknya.

"Ibu kenapa bilang seperti itu mengenai anakku, anakku bukan seperti itu," banta ibu Luna.

Namun salah satu dari ibu-ibu tersebut menunjuk ke arah Adinda. "Tuh lihat sendiri wanita itu," sahutnya. "Dia mengaku sebagai istri dari Arya, pria yang sekarang menikahi anakmu."

Deg!

Wajah ibu Luna memucat, bibirnya gemetar tak mampu menyangkal. Sementara Adinda berdiri tegak, air matanya jatuh perlahan, menunggu kebenaran itu diakui di hadapan semua orang.

Bersambung ....

Buku baru semoga banyak yang suka ya.

Bab 2

"Tidak... tidak...!" teriak Lusi membuat semua orang yang ada di dalam rumah berhamburan keluar, termasuk Arya dan keluarganya.

Suasana yang tadinya penuh suara percakapan haru, langsung berubah menjadi hening, saat semua mata tertuju pada satu wanita yang berdiri di depan rumah sana. Beberapa tamu undangan saling berpandangan, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Dan beberapa detik kemudian… Arya muncul di ambang pintu.

Pria itu tampak rapi dengan setelan jas putih yang masih melekat di tubuhnya sama persis yang ada di foto Adinda satu jam yang lalu. Di sampingnya berdiri Luna dengan wajah sedikit pucat, sementara di pelukannya, Arya menggendong seorang bayi laki-laki.

Tangisan kecil bayi itu terdengar pelan, seolah ikut merasakan ketegangan yang terjadi. Sementara Mata Arya langsung tertuju pada satu sosok.

Adinda.

Tubuhnya seketika membeku. Raut wajahnya berubah. Tidak lagi tenang seperti beberapa menit yang lalu. Ada keterkejutan yang jelas terlihat di matanya.

"Di... Dinda?" suaranya tercekat.

Luna yang berdiri di sampingnya langsung menegang. Tangannya refleks memegang lengan Arya, seolah takut pria itu akan menjauh darinya.

  "Mas jangan," bisiknya lirih.

Sementara itu, ibu Arya yang berdiri tak jauh dari pintu langsung mengerutkan kening. Wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun, justru terlihat tidak senang, melihat menantunya menyusul di acara pernikahan anaknya yang kedua.

"Kamu ke sini untuk apa, Din?" ucapnya dingin.

Kalimat itu seperti tamparan keras, Adinda menanggapi dengan senyuman pahit lalu menatap satu per satu wajah di hadapannya.

Arya. Luna. Dan bayi yang ada di pelukan suaminya. Lalu matanya beralih ke ibu mertua dan adik iparnya, orang-orang yang selama ini ia anggap keluarga justru hari ini mereka ikut mendukung dan menutupi pernikahan ini darinya.

Air mata kembali jatuh di pipi Adinda, tapi kali ini ia tidak menunduk, tatapannya lurus berusaha kuat, di tengah-tengah badai yang memporak-porandakan perasaannya.

"Mas…" suaranya bergetar, "jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku selama ini?"

Arya tidak langsung menjawab, ia hanya diam, dan diamnya itu seolah menjelaskan segalanya tanpa harus berbicara.

Adinda melangkah mendekat satu langkah. Matanya tertuju pada bayi yang berada di pelukan Arya, bayi itu terlihat begitu kecil dan tenang tanpa semua orang sadari keberadaannya justru menghancurkan seluruh hidup Adinda.

"Itu… anakmu?" tanya Adinda lirih.

Arya menelan ludahnya. Dan tanpa sadar, pelukannya pada bayi itu justru semakin erat, dari itu semua Adinda sudah bisa menyimpulkan sendiri, jawaban itu tidak harus diucapkan.

Empat belas tahun ia menunggu kehadiran anak di tengah-tengah keluarga kecilnya, dan hari ini Tuhan seakan menjawab dengan cara yang lain. Suaminya memang selalu menjalankan peran yang baik, tapi ditempat lain dia juga sedang menjadi ayah dari anak wanita lain.

Bukan dirinya.

  Jelas bukan, karena memang benar apa kata orang sekitar, rahimnya memang kosong, bahkan ada yang menyebutnya gabug istilah jawanya.

  "Hari ini kamu benar-benar membuktikan pada semua orang," ucapnya dengan nada seperti menahan amarah.

  "Nis," sahut Arya dengan cepat.

  "Jangan sebut namaku lagi, sudah puas kau memberi tahu pada seluruh dunia jika istrimu ini benar-benar mandul, sudah puas!" gertaknya penuh dengan kepedihan.

  Arya tidak bisa mengelak, tangannya mencoba untuk meraih lengan Adinda namun wanita itu menepisnya dengan cepat.

  "Nis, bukan maksud aku seperti itu, aku tidak ada maksud," jelas Arya dengan nada terbata.

  "Tidak ada maksud, lalu yang kamu lakukan apa?" tanya Adinda lirih. "Dan kamu tahu wanita yang kamu nikahi itu?"

 Arya masih terdiam, seolah tidak ada tenaga untuk menjawab semua pertanyaan dari istrinya itu.

  "Kau tahu, perempuan itu yang selalu menghina aku tidak mempunyai keturunan, dan juga meragukan kejantananmu pada waktu, tapi sekarang, kau juga ikut menghina dan menertawakan ku ... Selamat ya sudah berhasil menghancurkan hatiku," ucap Adinda.

  Arya tidak bergeming entah kenapa hatinya merasa sakit saat tahu istrinya pernah disakiti oleh madunya namun sebelum Arya menuntut jawaban Luna segera mengambil alih pertanyaan itu.

  "Mas, cerita yang kau dengar dari Mbak Dinda itu tidak sepenuhnya benar, dia salah paham, dan kamu bisa tahu sendirikan, bahkan kamu tidak menghinanya pun dia merasa terhina, padahal kamu hanya ingin keturunan," sahut Luna dengan tenang. Seolah membenarkan perbuatannya.

"Luna jangan lancang," tegur Arya.

"Tapi memang benar kenyataannya Mas, kamu menginginkan keturunan, dan aku sudah bisa mengasih itu padamu," balas Luna.

Sementara itu Adinda yang dari tadi berdiri kini mulai menatap wajah Luna dengan tatapan berani. "Kau merasa bangga sudah bisa menikah dengan pria beristri," ucap Adinda.

Luna tersenyum tipis. "Ya seperti yang Mbak, lihat, dan ingat di sini aku tidak merebut Mas Arya dari siapapun, nyatanya aku tidak menyuruh dia menceraikan Mbak, bahkan jika mau aku bisa melakukan itu," sahut Luna serasa melambung diatas awan.

Adinda tersenyum samar, dia tidak gentar ataupun mundur dengan hinaan yang dilontarkan oleh wanita itu terhadap dirinya. "Baik, kalau memang seperti itu kemauan mu, sekarang coba suruh suamimu itu untuk menceraikan aku," tantang Adinda.

Luna menelan ludahnya sendiri mana mungkin wanita itu berani berbicara seperti itu pada Arya, bahkan pernikahan ini terjadi karena ia yang memaksanya.

"Ayo, jika memang sekarang kau merasa mempunyai kendali, coba suruh pria itu untuk menceraikan aku," desaknya tapi Luna masih tetap tidak bergeming.

"Sudah Din," ucap Arya akhirnya.

"Kenapa, bukannya istri barumu itu merasa memegang kendali atas semua ini," sahut Dinda dengan tatapan tidak bersahabat.

"Tidak ... sampai kapanpun kamu masih tetap istriku Din," ucap Arya menegaskan.

"Istri," ulang Adinda. "Setelah kamu menikahi perempuan lain kau masih bilang aku istrimu? Egois kamu Mas."

"Din, dengar aku dulu, sampai kapanpun aku tidak mau menceraikan mu, kamu masih istriku," jelasnya kembali.

Tapi sayang hati Dinda seolah sudah tertutup, hidupnya sudah hancur saat menyaksikan sendiri suaminya di pelaminan bersama wanita lain, namun di sisi lain Dinda tidak bisa meninggalkan semua ini begitu saja, ia harus tetap ada untuk bisa menyaksikan sendiri kehancuran suaminya.

"Maaf Mas, hatiku terlalu rapuh untuk menerima semua ini," ujarnya sambil melangkah pergi meninggalkan rumah akad.

"Din, jangan pergi sendiri biar aku yang antar," kata Arya.

"Tidak usah," sahutnya dingin.

Entah kenapa Luna yang mendengar ucapan itu pipinya langsung memerah menahan malu apalagi dihadapan orang banyak seperti ini, ternyata Adinda bisa membuktikan jika ia benar-benar tidak bisa mengendalikan Arya.

"Sial!" geram Luna.

Bersambung

Pagi menjelang siang .... Semoga suka ya

Bab 3

Malam sudah merambat saat pintu terbuka, dan betapa terkejutnya hati Adinda melihat suami dan keluarganya membawa madunya untuk tinggal bersamanya.

Di rumah ini… rumah hasil jerih payahnya bersama Arya belasan tahun yang lalu. Adinda mengerutkan keningnya heran, seolah menuntut jawaban atas semua ini.

"Mas, kenapa kamu bawa dia ke sini?" tanya Adinda dengan tatapan nanar.

"Din, kita bicarakan nanti ya. Biarkan kita semua masuk," sahut Arya sedikit gugup.

"Maksud kamu, Mas?"

Arya menghembuskan napas pelan. Ia tahu jika istri pertamanya itu merasa keberatan, namun ia tidak punya pilihan lain. Terlebih saat ini Luna sudah melahirkan darah dagingnya yang berjenis kelamin laki-laki.

"Din… maksudku, aku mohon agar kamu bisa menerima Luna. Sekarang dia juga bagian dari keluarga kita."

Deg.

Tubuh Adinda mendadak bergetar hebat mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya sendiri.

"Mas… setelah apa yang kau lakukan padaku, kamu memintaku untuk menerima dia?" tunjuk Adinda ke arah Luna.

Sementara itu Luna hanya menundukkan wajahnya, seolah terlihat lemah di hadapan Arya dan keluarganya.

"Dinda! Kamu jangan lancang!" bentak Sintia. "Luna ini istrinya Arya. Mau tidak mau kamu harus menghargainya, karena dia bisa memberikan cucu untukku, tidak seperti kamu yang selalu membuatku menunggu lama," imbuhnya kembali.

"Bu, maaf… bukannya anak adalah pemberian dari Tuhan? Lantas kenapa Ibu menyalahkan saya?" sahut Adinda cukup berani.

"Ya makanya sadar diri! Kalau merasa tidak diberi kepercayaan itu berarti kesalahan ada di kamu. Lagian berpoligami itu tidak dilarang, apalagi istri pertama sudah jelas tidak bisa memberikan keturunan!"

Deg.

Hati Adinda terasa hancur berkeping-keping mendengar hinaan demi hinaan yang dilontarkan oleh mertuanya itu. Padahal selama ini, siapa yang menanggung kehidupan beliau kalau bukan Adinda yang dengan tulus rela memberikan separuh gajinya?

"Iya nih si Mbak Dinda lebay banget. Lagian ya Mbak, poligami itu sah-sah saja. Dan perempuan kedua itu bukan hina. Nabi saja istrinya lebih dari satu. Kalau Mbak menganggap Mbak Luna hina, berarti Mbak juga menghina istri nabi."

Adinda terpaku mendengar ucapan adik iparnya itu. Biaya kuliah saja masih ia bantu, namun dengan entengnya ia berbicara seolah menyamaratakan manusia biasa dengan nabi.

"What?" sahut Dinda dengan nada terkejut. "Kamu nggak salah bicara seperti itu?" tanyanya kembali.

"Nggak ada yang salah. Apa yang aku katakan memang kenyataannya," sahut Airin dengan percaya diri.

"Airin, aku jelaskan ya. Memang tidak semua wanita kedua itu salah. Tapi di sini konsepnya, Mas kamu itu selingkuh sampai punya anak. Dan yang kedua… Mas kamu itu bukan nabi. Saya tekankan lagi, bukan nabi."

Adinda menarik napas dalam, berusaha menahan gejolak di dadanya. "Kalau memang ingin berpoligami, setidaknya dibicarakan baik-baik dengan istrinya. Bukan bermain di belakangku seperti ini," jelas Adinda.

"Dan satu hal lagi," tegasnya. Tatapannya berubah tajam. "Semoga nanti kamu tidak mengalami apa yang Mbak rasakan ya."

"Kamu mengancam anakku, hanya gara-gara kesakitan mu sendiri hah!" sentak Sintia.

Adinda menatap mertuanya itu dengan berani. "Aku tidak mengancam, tapi aku percaya tabur tuai itu nyata," sahutnya.

"Din jangan bicara seperti itu pada ibukku," tegur Arya seolah tidak memikirkan perasaan istrinya.

"Aku disini sendirian Mas, dihadapkan dengan manusia-manusia yang merasa benar seperti ini, jika bukan aku yang membela diriku lantas siapa lagi?" ujarnya setengah menyindir. "Sementara kamu orang yang aku anggap pelindung, ternyata menusukku lebih dulu dari yang lainnya."

Arya menundukkan pandangannya jika sudah seperti ini dirinya tidak mampu menanggapi lagi ucapan istrinya itu.

Sementara adinda langsung melangkah ke kamarnya, wanita itu meninggalkan perdebatan yang tidak mungkin tidak akan ada berhentinya.

Dinda mulai menutup pintunya perlahan, ia menyandarkan tubuhnya, entah kenapa air mata luluh begitu saja, kali ini takdir seolah membuka semua topeng keluarga suaminya yang sejak dulu ia perjuangkan mati-matian.

"Ibu aku pikir engkau merupakan sosok perempuan yang baik, dan aku pikir sayangmu itu tulus, ternyata malam ini ..." kata-kata Adinda seolah menggantung.

Tidak hanya itu saja, bahkan bayangan Airin yang begitu berani, memojokkannya tadi terus menerus bergulir di dalam ingatannya, sejenak tangan Adinda mengepal dengan sendirinya.

Namun diam-diam wanita itu merancang sesuatu dengan sendirinya.

"Mulai detik ini, aku akan menjadi Adinda yang lain, dan jangan salahkan aku jika perubahan ku ini karena ulah kalian," ujarnya dengan tekat yang begitu kuat.

Ia pun langsung melangkah menghampiri meja kecil di samping ranjangnya. Dengan tangan yang masih bergetar ia meraih handphone, lalu mulai mengetik pesan kepada pihak kantor tempatnya bekerja—meminta agar seluruh gajinya dihentikan penyalurannya, baik untuk biaya kuliah maupun transfer ke rekening mertuanya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara itu di ruang lain, suasana sedikit hening, setelah percekcokan kecil tadi, di dalam kamar lain Arya sedikit memijat pelipisnya. Luna yang melihat hal itu langsung memberikan perhatian seolah ia menerima dengan situasi ini, padahal diam-diam ia sedang mengincar posisi utama rumah ini.

"Mas, maaf ya gara-gara aku dan Axel kamu dan Mbak Dinda jadi uring-uringan seperti ini," ujarnya dengan nada lembut.

Arya sedikit menarik nafasnya. "Kamu jangan bicara seperti itu, Dinda hanya sedang marah, mungkin esok atau lusa dia akan mulai beradaptasi dengan kamu," sahut Arya.

"Iya Mas, aku paham," ujar Luna dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.

Namun detik berikutnya ia mulai menggunakan anaknya yang memang terlihat seperti tidak nyaman tidur di kamar yang ukurannya jauh lebih kecil dari kamar utama.

"Mas, lihat Axel. Dia gerak terus seperti tidak nyaman tidur di kamar ini," ucap Luna terdengar begitu hati-hati.

"Sabar ya, semoga kedepannya kita bisa melebarkan kamar ini," tutur Arya.

"Tapi Mas, bukannya selain kamar ini ada kamar utama, kenapa gak kita tempati saja, bukannya aku ada anak jadi barang-barang dan posisiku membutuhkan tempat yang lebih luas," ujar Luna pelan. "Tapi ini hanya saran aku saja, akupun juga sadar di sini gak bawa apa-apa, tapi apa kamu tega lihat anak kita dalam posisi tidak nyaman seperti ini," tandasnya kembali.

Arya sedikit merenung entah apa yang terpikirkan di dalam isi pikirannya, tapi satu hal kecil yang membuat dirinya dilema.

Jika ia mengikuti cara Luna maka, harus siap-siap berhadapan dengan istri pertamanya yang bahkan sampai sekarang pun belum menerima pernikahan keduanya.

Akan tetapi jika dia mengabaikan keinginan Luna, dadanya merasa sesak jika harus melihat anak laki-lakinya tidur diatas ranjang berukuran kecil itu.

"Ah .... kenapa harus dihadapkan dengan situasi pelik seperti ini," geramnya di dalam hati.

Bersambung.

Selamat pagi semoga suka ya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!