Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Kurir Super : Puncak Kekuatan Adalah Segalanya

Bab 1 : Kecantikan Klasik

Jalan Barang Antik terletak di bagian utara kota tua, terdiri dari tiga jalur utama yang membentang dari selatan ke utara.

Tempat ini dikenal sebagai pusat terbesar bagi para pecinta barang antik.

Di sepanjang jalan, berdiri toko-toko ternama yang sudah diwariskan turun-temurun, berdampingan dengan lapak-lapak kecil yang menyimpan berbagai “harta tersembunyi”.

Hampir setiap pemilik toko di sini memiliki kemampuan menilai barang yang luar biasa.

Namun…

Di balik kemegahannya, tersimpan juga sisi gelap.

Tidak semua orang di sini jujur.

Selain transaksi yang sah, ada pula penipuan yang terselubung rapi. Siapa pun yang datang untuk berburu barang murah harus ekstra hati-hati, jika tidak ingin tertipu.

Nama Saya Kevin Sanjaya, Saya sangat akrab dengan tempat ini.

Dulu, saat masih menjadi pengantar makanan, Kevin sering keluar masuk kawasan ini.

Ia pernah bermimpi menemukan barang berharga dengan harga murah, lalu menjualnya kembali dan menjadi kaya dalam semalam.

Namun kenyataan tidak semudah itu.

Tanpa pengetahuan, tanpa guru…

Semua mimpinya hanya berakhir sebagai angan-angan.

Bahkan, ia pernah beberapa kali tertipu dan mengalami kerugian.

Bukan uangnya yang paling menyakitkan…

Melainkan rasa dipermalukan oleh para penipu yang diam-diam menertawakannya.

Dengan sifat Kevin Sanjaya, tentu saja ia tidak pernah melupakan hal itu.

Namun sekarang…

Semuanya telah berubah.

Dengan Sistem dan pengetahuan baru yang ia miliki, kepercayaan dirinya melonjak drastis.

"Kali ini… aku pasti akan membalas semuanya."

Kevin tersenyum tipis.

"Setelah mengantar pesanan ini, aku akan membuat mereka tahu… siapa aku sekarang."

Ia mengendarai Motor Butut legendnya dengan santai, sambil melintasi jalanan kota tua.

Tak lama kemudian, ia tiba di Jalan Kencana Kuno.

Seperti biasanya, tempat itu ramai.

Lapak-lapak berjejer penuh dengan barang—ada yang asli, ada pula yang palsu, sulit dibedakan oleh mata awam.

Para pemburu barang antik terlihat serius, sebagian membawa kaca pembesar, sebagian lagi mencermati detail barang dengan penuh kehati-hatian.

Suara tawar-menawar terdengar di mana-mana.

Dipadu dengan musik tradisional yang mengalun dari dalam toko, suasana jalan itu terasa hidup dan khas.

"Memang punya daya tarik tersendiri…"

Kevin bergumam pelan.

Ia kemudian memarkir kendaraannya di depan sebuah toko besar yang cukup mencolok.

Kediaman Giok Bebas Keluarga Pratama.

Tanpa ragu, ia masuk sambil membawa pesanan.

"Permisi, apakah Nona Melati ada di sini? Pesanan makanannya sudah datang!"

Suara Kevin Sanjaya terdengar cukup jelas.

Namun tidak ada jawaban.

Ia melangkah lebih dalam ke dalam toko.

Dan saat itulah—

Ia berhenti.

Di hadapannya, seorang wanita sedang duduk dengan tenang, memainkan alat musik petik kuno.

Alunan nada yang lembut mengalir di ruangan, menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Jari-jarinya bergerak anggun di atas senar.

Seolah setiap nada memiliki jiwa.

Kevin sedikit terpesona.

"Permisi… apakah Anda Nona Melati?"

Ia akhirnya membuka suara.

Alunan musik pun berhenti.

Wanita itu perlahan menoleh.

Matanya jernih, dengan sedikit keterkejutan.

"Kamu mengantar makanan?"

Suaranya lembut, tenang, seperti air yang mengalir.

Ia berdiri perlahan.

Tubuhnya tinggi dan anggun.

Sepasang kaki jenjangnya tampak samar di balik pakaian panjang yang ia kenakan.

Ia mengenakan pakaian tradisional berwarna biru muda, yang bergerak ringan mengikuti langkahnya.

Sepatu kain sederhana menambah kesan lembut dan elegan.

Saat ia berjalan, aroma harum yang halus ikut terbawa.

"Aroma yang… sangat menenangkan…"

Kevin Sanjaya tanpa sadar menarik napas.

Wanita di depannya benar-benar berbeda.

Jika Reka Wenur memiliki pesona wanita timur yang kuat dan tegas…

Maka wanita ini—

Adalah lambang keanggunan klasik yang lembut dan tenang.

Seperti lukisan hidup.

"Dia pasti Nona Melati…"

Kevin Sanjaya bergumam dalam hati.

Wanita itu tersenyum tipis.

"Maaf, tanganku sedang sedikit tidak nyaman. Bisa bantu aku mengambilkan makanan itu?"

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Di jarinya masih terpasang kuku petik kecil untuk memainkan alat musik.

"Tentu."

Kevin Sanjaya mengangguk dan berjalan mendekat.

Namun karena terlalu fokus memperhatikan kecantikannya—

Ia tidak sadar kakinya menginjak ujung pakaian panjang wanita itu.

Wanita itu melangkah maju seperti biasa.

Dan dalam sekejap—

Kain yang terinjak tertarik.

Pakaian bagian bahunya ikut bergeser tanpa sengaja.

"Ah—!"

Seketika, suasana berubah.

Kevin Sanjaya tertegun.

Waktu seolah berhenti sesaat.

Bab 2 : Pengetahuan adalah Kekuatan

Dalam sekejap, kain panjang itu terlepas.

Kulit putih mulus milik Nona Melati terlihat jelas di hadapan Kevin Sanjaya—halus bagaikan giok, bersinar lembut di bawah cahaya ruangan.

Namun itu belum semuanya.

Di balik pakaian tradisionalnya, Nona Melati tidak mengenakan pakaian dalam modern. Ia hanya memakai kain merah, pakaian dalam klasik yang menutupi bagian depan tubuhnya.

Saat rok panjangnya tertarik turun, kain itu melorot perlahan… hingga berhenti tepat di bawah pinggang rampingnya.

Udara seakan membeku.

"Ini…!"

Kevin Sanjaya benar-benar terpaku. Matanya melebar, napasnya tertahan. Aroma lembut tubuh Nona Melati yang khas—bersih, anggun, dengan sentuhan bunga—langsung menyeruak ke hidungnya.

"Ya ampun…"

Untuk sesaat, pikirannya kosong.

"Ahh!!"

Jeritan Nona Melati memecah keheningan.

Dengan panik, ia berbalik untuk menarik kembali pakaiannya. Namun gerakan tergesa itu justru membuat situasi semakin memalukan.

Saat ia membungkuk, lekuk tubuhnya semakin terlihat jelas. Kain merah itu menegang, hampir tak mampu menahan bentuk tubuhnya yang sempurna.

Pemandangan itu—indah, memikat, dan tak terduga—langsung tertanam dalam ingatan Kevin Sanjaya.

"Kamu masih saja melihat?!"

Suara Nona Melati bergetar, wajahnya memerah hingga ke telinga. Namun justru karena itu, kecantikannya semakin memikat, seperti bunga yang sedang mekar di tengah hujan.

"A-aku… maaf! Aku benar-benar tidak sengaja!"

Kevin tersadar seolah disiram air dingin. Ia langsung memalingkan wajah, buru-buru meletakkan pesanan di atas meja terdekat, lalu—tanpa berpikir panjang—berbalik dan lari!

"Kamu pasti sengaja! Jangan lari!"

Nona Melati dengan cepat merapikan pakaiannya dan mengejar keluar. Roknya kembali tersusun rapi, tetapi rasa malu dan kesalnya belum mereda.

Namun sayangnya…

Kevin Sanjaya bukan orang biasa.

Sebagai seseorang yang sudah mencapai setengah tingkat Grandmaster, kecepatannya bukan sesuatu yang bisa dikejar dengan mudah.

Dalam hitungan detik, bayangannya sudah menghilang di ujung jalan.

"Orang itu…!"

Nona Melati berhenti, napasnya tersengal. Dadanya naik turun, wajahnya masih merah padam.

"Kenapa dia bisa berlari secepat itu?!"

Ia menggigit bibirnya pelan, matanya menyala penuh emosi.

"Lain kali aku bertemu dengannya… aku, Melati Hendrawan, pasti tidak akan membiarkannya lolos begitu saja!"

Sementara itu…

Dua blok dari tempat kejadian, Kevin akhirnya berhenti.

"Hah… hah… selamat… selamat…"

Ia menepuk dadanya sendiri, mencoba menenangkan napasnya yang belum stabil.

"Benar-benar menegangkan…"

Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.

Bayangan tadi kembali muncul di pikirannya.

Kulit putih itu… lekuk tubuh itu… serta ekspresi malu yang begitu alami…

"…Luar biasa."

Tanpa sadar, senyum tipis muncul di wajahnya.

"Benar-benar kecantikan klasik. Berbeda sekali dengan yang lain."

Namun segera setelah itu, ia menggelengkan kepala.

"Walaupun tidak sengaja… tetap saja aku sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat."

Nada suaranya menjadi lebih serius.

"Kalau ada kesempatan, aku harus minta maaf dengan benar."

Setelah menenangkan diri, Kevin melihat sekeliling.

Ia masih berada di Jalan Antik—tempat yang dulu sering ia datangi, tetapi selalu pulang dengan kerugian.

Dulu, ia hanya bisa melihat barang tanpa benar-benar memahami nilainya.

Ia bahkan pernah ditipu beberapa kali, menjadi bahan tertawaan para pedagang licik di sini.

Namun sekarang…

Semuanya berbeda.

Ia telah mendapatkan kemampuan “wawasan” dari Sistem.

Pengetahuan mengalir di pikirannya seperti sungai deras—tentang sejarah, ukiran, bahan giok, teknik pembuatan, hingga cara membedakan asli dan palsu.

"Baiklah…"

Kevin menyeringai.

"Hari ini, saatnya membalas semua rasa malu itu."

Ia berjalan santai di antara deretan lapak.

Suara tawar-menawar terdengar di mana-mana. Para kolektor sibuk memeriksa barang, sementara para pedagang berteriak menawarkan dagangan mereka.

Di tengah keramaian itu, sebuah lapak kecil menarik perhatiannya.

Seorang pedagang berkumis sedang berbicara dengan penuh semangat, dikelilingi beberapa orang yang tampak tertarik.

Barang-barang yang dipajang terlihat mencolok—warna cerah, ukiran rumit, seolah-olah bernilai tinggi.

Namun…

"Hmph."

Kevin hanya melirik sekilas.

"Dua puluh persen asli, delapan puluh persen palsu."

Pengetahuan dalam pikirannya langsung memberi penilaian.

Ia hampir saja pergi, ketika—

Matanya tiba-tiba berhenti pada sesuatu di sudut lapak.

Sebuah benda kecil.

Tertutup debu.

Nyaris tak terlihat.

Sebuah liontin giok berbentuk pengaman.

Sederhana. Tidak mencolok. Bahkan terlihat seperti barang murah.

Namun justru karena itu…

Mata Kevin menyipit.

Detik berikutnya, informasi langsung muncul di pikirannya seperti kilatan cahaya.

Usia.

Teknik ukiran.

Jenis giok.

Nilai sejarah.

Semuanya jelas.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

"Itu dia…"

Senyumnya perlahan melebar.

"Harta yang sebenarnya… justru disembunyikan di tempat seperti ini."

Ia melangkah mendekat dengan tenang, seolah tidak tertarik.

Namun di dalam hatinya—

Ia sudah yakin.

Pengetahuan… benar-benar adalah kekuatan.

Bab 3 : Apa Kau Memandang Rendah Kurir?

"Barang yang bagus…"

Sudut bibir Kevin sedikit terangkat saat matanya menangkap liontin giok kecil berbentuk pengaman itu. Namun ia sama sekali tidak terburu-buru.

Ia tahu betul bagaimana cara kerja para pedagang kaki lima di Jalan Antik.

Mereka mungkin terlihat biasa saja—pakaian tidak rapi, gaya seadanya—tetapi mata mereka tajam seperti elang.

Begitu melihat seseorang tertarik pada barang dagangan, dalam sekejap mereka sudah menyusun strategi di kepala.

Setiap gerakan pembeli… setiap tatapan… semuanya diamati.

Begitu kau menunjukkan minat—

Permainan sudah dimulai.

Dan yang kalah… biasanya adalah pembeli.

Kevin sudah terlalu sering melihat hal seperti ini saat masih menjadi kurir. Ia pernah tertipu, pernah ditertawakan diam-diam, bahkan pernah dianggap bodoh oleh para pedagang licik di sini.

Tapi hari ini berbeda.

Hari ini…

Ia datang untuk membalas semuanya.

Dengan santai, ia menyelinap ke tengah kerumunan, berpura-pura melihat-lihat barang lain.

"Hei, Bos, ada yang menarik perhatian?"

Pedagang berkumis itu langsung tersenyum lebar saat melihat Kevin mendekat.

"Semua barang di sini kualitas tinggi! Ambil satu saja, dijamin bisa dijual lagi dengan untung besar!"

Kevin tersenyum tipis dalam hati.

Kalau memang bisa untung besar, kenapa tidak kau jual sendiri?

Namun ia tetap bersikap santai.

"Aku cuma lihat-lihat saja. Tidak punya uang banyak."

Pedagang itu tertawa kecil, wajahnya penuh basa-basi.

"Ah, Bos ini merendah sekali! Yang datang ke Jalan Antik semua orang berduit!"

Belum sempat Kevin menjawab—

Sebuah suara sinis tiba-tiba menyela.

"Hmph, dia? Mana mungkin mampu beli. Dia Itu cuma kurir Ojol Biasa."

Suasana langsung berubah.

Seorang pria berjas rapi berjalan mendekat dengan wajah penuh kesombongan.

Begitu kata “kurir” keluar—

Senyum pedagang langsung lenyap.

Tanpa basa-basi, ia menarik kembali barang yang tadi sempat ia sodorkan ke arah Kevin Sanjaya.

"…"

Alis Kevin sedikit berkerut.

Ia menoleh perlahan ke arah pria itu.

Tatapan mereka bertemu.

"Kevin, masih tidak kenal aku?"

Pria itu menyeringai, menatapnya dari atas ke bawah.

"Mana seragam HijauMu? Tidak sedang antar makanan hari ini?"

Kevin mendengus pelan.

"Jadi kamu… Berti Sumanto."

Nada suaranya dingin.

Ia masih ingat pria ini.

Dulu tinggal di lingkungan yang sama—sombong, suka menindas, dan selalu mengandalkan uang keluarganya.

Sekarang, katanya sudah jadi pebisnis kecil dengan penghasilan jutaan.

Tapi sifatnya…

Tidak berubah sedikit pun.

"Oh, ternyata kamu," kata Kevin dengan santai, lalu berjongkok kembali seolah tidak tertarik.

Sikap acuh itu langsung membuat wajah Berti Sumanto menegang.

Namun sebelum ia sempat bicara—

Pedagang tiba-tiba membentak.

"Kalau tidak mampu beli, jangan pegang barangku!"

Nada suaranya tajam, penuh penghinaan.

"Pegang berarti beli!"

Kevin mengangkat kepala, matanya dingin.

"Kalau tidak dipegang, bagaimana aku menilai barangnya?"

"Bisnis macam apa ini?"

Pedagang mencibir.

"Ojol seperti kamu punya uang untuk beli barang antik?"

"Kamu cuma buang waktu saja!"

"Pergi sana! Jangan ganggu pembeli lain. Barang di sini semua Jutaan nilainya!"

Orang-orang di sekitar mulai ikut tertawa kecil.

"Kurir sekarang berani juga ya datang ke Jalan Antik?"

"Tempat ini bukan buat orang seperti dia."

Tatapan meremehkan mulai bermunculan.

Suasana berubah dingin.

Seolah-olah keberadaan Kevin saja sudah tidak pantas.

Wajah Kevin tetap tenang.

Namun di dalam hatinya—

Api mulai menyala.

"Dari kapan kurir tidak boleh beli barang antik?"

Suaranya rendah, tapi jelas terdengar.

Berti Sumanto tertawa keras.

"Hahaha! Kevin, sadar diri sedikit!"

"Daripada keliling di sini, mending cepat antar pesananmu!"

"Nanti pelangganmu kasih ulasan buruk, menangis lagi kamu!"

Tawa pecah di sekeliling.

Pedagang, pembeli, semuanya ikut menertawakan.

Di mata mereka—

Seorang kurir Ojol hanyalah orang rendahan.

Boleh bekerja…

Tapi tidak pantas masuk ke dunia “kelas atas” seperti ini.

Kevin perlahan berdiri.

Tatapannya berubah.

Dingin dan Tajam.

Senyumnya tipis… tapi penuh arti.

"Barang palsu saja dijual dengan gaya seperti ini…"

Ia menatap pedagang itu langsung.

"Baiklah."

Suaranya tenang, tapi mengandung tekanan.

"Hari ini…"

"Biarkan kurir yang kalian remehkan ini…"

"...mengajari kalian apa itu barang asli."

Udara di sekitar tiba-tiba terasa menegang.

Kerumunan yang tadinya tertawa mulai terdiam.

Karena entah kenapa—

Nada bicara Kevin…

Memberikan perasaan yang berbeda.

Seolah-olah—

Ia benar-benar tahu apa yang sedang ia lakukan.

Dan sesuatu yang besar…

Akan segera terjadi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!