#1
“Assalamualaikum warahmatullah—”
Gerakan sholat terakhir itu menandai usainya ibadah sholat subuh yang tengah ia jalankan. Hari ini agak kesiangan, karena pukul 2 dini hari Firza baru kembali ke rumah. Mungkin sang istri pun tak tega membangunkannya.
Pria itu masih duduk bersila, larut dalam dzikir dan doa yang menenangkan jiwa.
Beberapa saat kemudian ia mendengar suara tangis putranya melalui connecting door, sepertinya Ersha sedang sibuk di dapur hingga tak mendengar suara tangis Abizar.
Firza pun berdiri setelah mengakhiri rangkaian dzikirnya, tak lupa membereskan sajadah, serta melepas pecinya.
“Anak Ayah, sudah bangun?” sapa Firza begitu tiba di kamar Abizar.
Bocah berusia satu tahun itu mengangkat kedua tangannya ingin digendong sang ayah.
“Jagoan Ayah.” Dengan gerakan perlahan, Firza mengangkat tubuh mungil Abizar ke dalam pelukannya, “Ayah kangen, Nak,” ungkapnya, karena beberapa hari terakhir pekerjaannya di kantor sedang menumpuk.
HudaTex baru saja merombak kepemimpinan, semula direktur mereka adalah Giana. Setelah menikah, wanita itu ingin kembali fokus dengan dunia fashion dan desain pakaian, maka dengan berbagai pertimbangan, serta izin dari suaminya, ia pun menyerahkan kursi kepemimpinannya pada sang keponakan.
Maka praktis, Firza pun memiliki jabatan strategis sebagai tangan kanan direktur baru, Albiru Singgih.
“Mama—” rengek Abizar, mencari keberadaan ibunya.
“Mama sedang menyiapkan sarapan, main sama Ayah, ya?”
“Mau Ma— ma—” isak Abizar, masih setia merengek dalam tangis kecilnya.
“Oke, kita cari mama, yuk.”
Firza berjalan keluar kamar, “Mama— ada yang kangen, nih,” kata Firza, sambil menirukan suara Abizar.
Di dapur, Ersha tersenyum mendengar panggilan tersebut, “Eh, sudah bangun? Sebentar, Bang. Aku selesaikan sedikit cucian piring ini.”
“Tuh, Mama masih cuci piring,” bisik Firza di telinga Abizar. Makin keras suara tangis Abizar, karena ia sedang menginginkan ASI sang mama.
“Sabar, ya?” Firza membawa Abizar keluar rumah, udara pagi yang sejuk langsung menyambut mereka. Suara burung berkicau sudah ramai, mereka bertengger di pohon mangga yang ada di halaman rumah.
Abizar segera berhenti menangis, karena ia sangat suka suara burung. Firza ikut bersiul menirukan suara burung pipit kecil tersebut, ia menabur pakan burung di halaman, agar burung-burung itu tertarik mendekat.
Sejak resmi menikah dengan Ersha 2,5 tahun silam, rumah tangga mereka adem ayem, dan jarang ada pertengkaran. Paling hanya ribut kecil karena beda pendapat, selain itu tidak ada.
Tak salah rupanya menuruti permintaan mamak-nya, karena hidupnya semakin tenang, dan rezekinya terus mengalir tanpa masalah.
Beberapa saat kemudian, Ersha menghampiri Abizar yang sedang asik melihat para burung menikmati makanannya. Rupanya keberadaan Ersha lebih menarik di mata Abizar, balita yang baru bisa berjalan itu, langsung menghampiri mamanya.
“Maaf, Bang. Tadi nggak aku bangunkan lagi, Abang pulas sekali tidurnya, aku bangunkan beberapa kali, belum berhasil juga. Niatnya setelah cuci piring, aku akan bangunkan Abang lagi, ternyata sudah bangun.”
Firza mengusap kepala Ersha yang sedang menyusui putra mereka, “Tidak apa-apa. Oh iya, habis ini kita piknik, yuk,” ajak Firza.
“Piknik?” Firza mengangguk. “Tapi, ini bukan hari libur, Abang, kan, harus kerja?”
“Libur sehari, tak mengapa. Lagian, sabtu-minggu kemarin Abang lembur, jadi tak sempat bermain dengan Abizar.” Telapak tangan Firza mengusap betis Abizar yang kini selonjoran di atas pangkuannya.
“Rasanya anak ini cepat sekali tumbuh besar, padahal baru kemarin aku mengadzaninya ketika ia baru lahir,” gumam Firza.
“Ya, sudah. Terserah Abang saja, aku ikut.” Ersha tersenyum, menyanggupi permintaan suaminya.
•••
Meski datar, dan jarang berekspresi, tapi Ersha tahu beginilah cara Firza mengungkapkan rasa sayangnya pada Abizar dan dirinya. Yakni sesekali mengajak piknik, atau sekedar liburan tipis.
Dari tempat ia duduk Ersha melihat kehangatan interaksi sang suami yang sedang bermain gelembung bersama putra mereka. Meski momen itu terasa dekat, Ersha tak bisa menampik kegelisahan hatinya yang selalu merasa ada jarak tipis yang memisahkan dirinya dengan sang suami.
Sudah hampir tiga tahun menikah, tapi masih banyak hal yang belum Ersha ketahui tentang suaminya. Terutama cerita tentang pengalamannya belajar di luar negeri, padahal Ersha sudah sering mendesak, bahkan memancing obrolan ke arah sana. Tapi Firza selalu menghindar, hingga akhirnya Ersha pun menyerah, dan tak lagi bertanya.
Informasi lain tentang Firza biasa Ersha tanyakan pada mamak mertuanya, Karmila. Dan menurut sang mertua Firza memang datar, jarang bicara dan tak biasa mengungkapkan perasaannya pada orang lain. Lagi-lagi, Ersha harus mencoba memahaminya, mungkin suatu saat Firza akan berubah.
“Mama, Nyum,” pinta Abizar dengan bahasa yang masih cadel. Ersha mengulurkan botol minum milik bocah itu, setelah minum Abizar kembali berlari ke arah sang ayah.
“Hati-hati, Sayang,” pekik Ersha, yang khawatir melihat langkah kaki Abizar yang teramat cepat.
Beberapa meter dari tempatnya berada, Ersha melihat seseorang yang menatap ke arahnya, “Siapa dia? Kenapa melihat terus ke arahku?” gumam Ersha, “Ah, mungkin hanya kebetulan saja.”
Ersha pun berdiri, alih-alih menunggu ia memilih membawa makanan agar bisa sekalian menyuapi Abizar selagi bocah itu sibuk bermain bersama ayahnya. Abizar adalah tipe anak yang susah makan, jika tidak sambil bermain, alamat ia akan terus melakukan GTM, alias gerakan tutup mulut.
“Ayo, sambil makan. Lihat, Mama buat bola-bola nasi.” Ersha menyuapkan sebutir bulatan nasi berukuran kecil ke mulut Abizar, dan bocah itu lahap memakan, karena diselingi dengan main bersama sang ayah.
Sepintas, sudut mata Ersha kembali melirik wanita yang masih setia berdiri di tempatnya, wajahnya tertutup masker, dan ia pun berkaca mata. Membuat Ersha makin sulit mengenalinya. Tapi dari penampilannya, Ersha sangat yakin bahwa orang itu adalah perempuan.
“Udah, yuk, Ayah juga lapar, mau makan dulu.” Firza langsung meraih Abizar dalam pelukannya, bocah itu terkikik geli, ketika Firza mencium perutnya. “Hebat, anak Ayah, makan yang banyak, ya. Biar kuat larinya.”
“Ini, Bang.” Tumbler berisi kopi pahit adalah minuman favorit Firza, pria itu menjadi coffeeholic sejak belajar di luar negeri. Semua karena tuntutan harus selalu on focus, belajar kerja, belajar lagi, kerja lagi. Begitulah aktivitasnya sehari-hari.
“Bang, kok orang itu melihat ke arah kita terus, ya?” tanya Ersha, jarinya menunjuk pada wanita yang berdiri dengan jarak beberapa meter dari mereka.
“Mana, sih?” gumam Firza.
“Di sa— loh, kok hilang. Aku lihat dia berdiri di sana cukup lama, Bang.” Ersha mencari-cari jejak keberadaan wanita itu. Tapi nihil, karena tubuhnya seperti lenyap begitu saja.
“Ya sudah, mungkin dia sedang melamun saja.” Firza kembali menolehkan wajah sang istri ke arahnya.
“Mungkin saja begitu.” Ersha membenarkan ucapan suaminya, meski gelisah masih menggelayuti pikirannya.
#2
“Berkas di meja, sudah ku periksa, dan tandatangani. Besok langsung saja bawa ke meja Direktur untuk disahkan.”
“Baik, Pak.” Setelah sang sekretaris mengangguk, Firza pun melanjutkan langkahnya. Ia ingin pulang cepat sekali saja, karena hampir setiap hari ia pulang larut, hingga hanya bisa melihat Abizar yang terlelap karena ia pulang terlalu malam.
“Aku pulang duluan, kamu juga segera pulang jika sudah selesai,” pesan Firza, dan diangguki oleh sekretarisnya, Belakangan ini sekretaris Firza menemaninya lembur menyelesaikan pekerjaan, jadi Firza berpesan demikian agar sang sekretaris juga bisa menikmati waktu bersama keluarganya.
Langit masih terang, menurut perkiraannya tak sampai maghrib ia bisa tiba di rumah. “Bismillah,” ucapnya saat kaki kanannya menginjak pedal gas.
Mobil melaju perlahan, tak buru-buru, karena waktunya masih cukup longgar. Dan benar sekali dugaanya, karena ia tiba di rumah tiga puluh menit sebelum adzan maghrib berkumandang.
Ternyata ada tamu, suara tawa Abizar terdengar dari teras rumahnya, “Assalamualaikum.”
Abizar segerah menoleh, “Yayah!” jerit bocah itu, yang langsung berlari meninggalkan Miranda yang sedang bermain dengannya.
Di dapur, Ersha menyiapkan satu cangkir lagi untuk sang suami, agar mereka bisa minum teh bersama. “Jagoan Ayah, berat, nih, pasti makannya banyak,” tebak Firza seraya menggelitik perut Abizar.
Setelah bercanda sejenak dengan Abizar, Firza ikut duduk di karpet bersama Miranda, di sekitar mereka, nampak mainan milik Abizar yang berserakan. “Jam berapa kamu tiba?”
“Beberapa menit sebelum kamu tiba,” jawab Miranda.
“Tumben, biasanya kamu sibuk sekali?”
“Aku harus menyempatkan datang, demi si tampan ini, karena harus— ah, aku lupa.” Miranda memukul keningnya sendiri, karena melupakan kado yang ia beli khusus untuk putra sahabatnya tersebut.
Sebuah box berukuran besar ia bawa turun dari mobilnya, “Abi— lihat, Onty punya mainan besar!” seru Miranda.
Abizar segera berdiri, dan menyambut hadiah yang dibawa sang onty untuknya. Dengan antusias ia membuka kertas kado yang membungkus box mainan tersebut.
Ersha datang dengan sepiring kudapan serta tiga cangkir teh. “Sini, Bang.” Wanita itu meminta jas serta tas kerja Firza untuk dibawa ke kamar.
“Terima kasih, ya,” ucap Firza dengan senyum tipis.
Setelah makan malam, Miranda pamit, Abizar mulai rewel karena tak mau ditinggal olehnya. “Lain kali Onty datang lagi, ya?” bujuk Miranda.
Abizar menggeleng kuat, tak mau berpindah dari gendongan Miranda. Tapi kemudian Ersha mengambilnya dengan lemah lembut, “Sayang, Onty harus ke rumah Violet, kan kemarin kita sudah bertemu Vio, Onty belum ketemu Vio,” bujuk Ersha. Violet adalah putri pertama Biru dan Pink, kebetulan sekali, hari lahirnya hanya berselang beberapa hari saja dari Abizar.
Setelah drama perpisahan yang cukup menguras air mata, Miranda pun berhasil pergi. Berat juga baginya meninggalkan Abizar, karena ia akan kembali kesepian di apartemennya.
“Bang, tadi ada kiriman untuk Abang,” kata Ersha, “tapi, tak ada nama pengirimnya.”
Wanita itu menyerahkan selembar amplop tipis, yang masih rekat lemnya, ia tak biasa membuka kiriman yang ditujukan untuk sang suami, padahal Firza tak pernah melarangnya.
“Dari siapa, ya?” gumam Firza.
“Aku mau menidurkan Abizar du, ya, Bang.”
“Hmm, sebentar lagi aku menyusul, sekalian aku bereskan mainan yang berserakan ini.”
Selepas Ersha pergi, Firza membereskan beberapa mainan Abizar yang masih tertinggal di karpet. Kemudian ia duduk di sofa membuka amplop tipis berwarna coklat tersebut.
Selembar foto jatuh ke pangkuannya, ketik Firza membalik amplop tersebut. View pemandangan di sebuah taman pada musim gugur, daun-daun yang mulai berwarna orange kekuningan, serta daun coklat yang jatuh berguguran. Pemandangan yang sangat Firza sukai ketika berada di Luar Negeri.
Tapi apa maksud dari pengirimnya? Ia sama sekali tak paham. Mungkin orang iseng.
•••
Beberapa hari kemudian Ersha kembali menerima kiriman dengan wujud yang sama, amplop coklat tipis tanpa nama pengirimnya.
Wanita itu mulai penasaran, tapi tetap tak berani membuka kiriman yang ditujukan untuk sang suami. Maka ia pun meletakkannya di meja kerja sang suami. Begitu seterusnya, Firza pun sepertinya abai, karena Ersha melihat amplop itu masih menumpuk di laci meja kerja pria itu.
Sepertinya benar, hanya orang iseng yang melakukannya, kurang kerjaan sekali, hari gini, masih mengirimkan foto pandangan.
•••
Satu bulan berlalu, suatu siang Ersha sedang mengeluarkan pakaian dari pengering, hingga tak menyadari bahwa Abizar masuk dan bermain dikamar.
“Abi—” serunya, “Dek, kamu dimana?” Ersha menoleh ke setiap sudut rumah. Mencari di beberapa ruangan yang pintunya terbuka, dan wanita itu bernafas lega, karena melihat putranya sedang duduk di kursi meja kerja ayahnya.
“Mama cari kemana-mana, loh.” Ersha melangkah makin dekat, Abizar menyeringai lucu, karena tangan kecilnya telah berhasil membuka laci tempat amplop-amplop misterius berada.
“Sayang, nanti Ayah marah,” katanya lembut, mengambil alih amplop di tangan Abizar yang telah disobek oleh bocah lucu tersebut.
Ersha tersenyum lembut, “Tuh, kan, sobek. Nanti lapor sendiri sama Ayah, ya?” Lagi-lagi Abizar menyeringai lucu.
Ersha pun memunguti amplop-amplop yang berserakan di bawah kolong meja. Ketika meraba-raba barangkali ada sisa amplop yang tertinggal, tangannya menyentuh selembar kertas, sepertinya dilapisi plastik, karena terasa kesat di tangan.
Rupanya selembar foto, dan kedua mata Ersha terbelalak, jantungnya bertalu tak karuan. Bibirnya bergetar menahan rasa yang entah seperti apa cara menjabarkannya.
Buru-buru ia bereskan amplop-amplop tersebut, termasuk amplop yang sudah dirobek Abizar. Air matanya mengalir tanpa permisi, tapi ia tak ingin buru-buru berasumsi. Barangkali hanya prasangkanya semata.
•••
Angin malam menyapu wajah Firza yang tengah duduk di salah satu meja angkringan pinggir jalan. Ia hanya memesan teh poci serta beberapa sate baceman, karena biasanya Ersha sudah menyiapkan makanan untuknya.
Beruntung sekali Firza memiliki istri seperti Ersha, karena Ersha amat sangat mengerti dan memahami kebutuhannya. Wanita itu juga lihai dalam mengurus pekerjaan rumah dan anak mereka tanpa bantuan siapapun. Padahal beberapa kali Firza menawarkan seorang ART, tapi Ersha menolak, karena merasa masih sanggup.
Tapi perasaannya belum juga beranjak, jangan dikira foto yang ia terima kemarin tak mempengaruhi emosinya. Karena foto itu membuatnya kembali teringat pada masa lalu yang hingga kini belum bisa ia hapus sepenuhnya.
Buktinya, ia masih duduk di angkringan ini, tempat yang ia dan Resha datangi kali terakhir, sebelum Tuan Quang Yu melarang hubungan mereka. Karena perbedaan keyakinan.
“Mas, berapa semua?” tanya Firza yang segera menyudahi lamunannya, mengingat hari semakin larut.
“Sudah dibayar, Pak.”
“Hah?! Sudah dibayar? Siapa, Mas? Yang mana orangnya?”
“Itu di— loh sudah pergi, sejak tadi berdiri di sebelah etalase memperhatikan Bapak, saya pikir kenalan Bapak.”
###
Flashback sedikit buat kalian yang tak membaca novel sebelumnya.
Biru, Miranda, dan Firza, adalah tiga sahabat. Mereka berteman baik tanpa memikirkan perselisihan yang terjadi di masa lalu orang tua mereka.
Firza dan Biru adalah saudara sepupu, tapi sudah seperti saudara kandung karena sejak bayi, mereka berdua di asuh Karmila dan Ismail yang notabene adalah orang tua kandung Firza.
Kalau masih belum paham, silahkan chat di kolom komentar. Okhaayyy 😘😘🤓🤓
#3
Malam belum terlalu larut, tapi suasana rumah sudah sunyi, sepertinya Ersha ketiduran, karena tak menyambut Firza seperti biasanya.
Hidangan makan malam pun sudah tersaji, melihat ada dua buah piring di meja makan, Firza yakin, istrinya pun belum makan malam karena menunggunya.
Diam-diam pria itu menyesali perbuatannya yang sengaja pulang larut, hanya sekedar ingin bernostalgia mengenang tiap potongan senandung masa lalunya.
“Ersha—” katanya sambil menggoyangkan bahu istrinya dengan lembut. Sekali, dua kali, hingga kali ketiga, Ersha baru membuka matanya.
“Eh, Abang sudah pulang, maaf, aku ketiduran. Sudah makan, Bang?” Firza menggeleng.
“Ayo, aku temani makan.” Ersha segera bangkit dan mendahului Firza menuju meja makan, menghangatkan rendang yang sudah dingin, tak lupa secangkir teh tawar.
Tak lama kemudian, Firza pun menyusul, lalu menempati kursinya terlebih dahulu. “Tak usah bikin teh, aku minum air putih saja.”
Ersha kembali menyimpan cangkir teh di tempatnya, “Kamu masak rendang itik, Er?”
“Tidak, Bang. Mana ada waktu, tahu sendiri Abizar sedang aktif-aktifnya. Tadi siang saja, aku kehilangan dia, padahal cuma kutinggalkan sejenak mengeluarkan pakaian dari pengering.”
Ersha berkisah, tanpa menoleh, menyibukkan diri dengan apa saja yang ada di hadapannya.
“Hah?! Lalu-lalu?”
“Ternyata, lagi acak-acak kertas di meja Abang.”
Firza ikut lega, karena tidak terjadi apa-apa pada putra mereka. Ersha kembali menghidangkan mangkuk saji berisi rendang ke tengah meja makan. “Jadi, rendang ini dari siapa?”
“Abang ini lupa, atau benar-benar nggak peduli? Kan minggu lalu Mamak dan Ayah main ke Jakarta, makanya kita bikin perayaan ulang tahun Abi dan Vio bersama-sama.”
Firza tergelak sejenak, menepuk keningnya, karena ia benar-benar melupakan hal itu. “Maaf, aku benar-benar lupa,” akunya.
Ersha sudah menyendokkan nasi dengan porsi agak banyak, karena Firza amat menyukai rendang itik buatan Mamak Karmila.
Suasana makan cukup hening, karena tak ada lagi percakapan yang mereka bahas, hingga di sela-sela makannya Firza tiba-tiba menggenggam tangan istrinya, dengan lembut ia berucap. “Jika kamu merasa Abi terlalu aktif, mulailah berpikir untuk mempekerjakan asisten.”
Hela nafas Ersha pun terdengar, wanita ini cukup pencemburu, hingga tak rela ladang pahalanya diambil alih oleh ART. Disamping itu juga, ia tak mau membuka peluang perselingkuhan. Tapi di jaman sekarang semua peluang bisa dilakukan meski tidak tinggal di bawah satu atap. Salah satu contohnya adalah foto mesra suaminya bersama seorang wanita yang ia lihat tadi siang.
Entah siapa dia, dan apa maksudnya hingga mengirimkan foto semacam itu. Namun, Ersha lebih memilih menahan perasaan itu, karena yakin, bahwa suaminya tak akan pernah berbuat nista di belakangnya. Foto itu, pastilah masa lalu, dengan latar salah satu daerah di tempat suaminya dahulu menimba ilmu.
“Er— kenapa malah melamun?”
Lamunan Ersha pun buyar. “Maaf, Bang. Tadi aku— em, aku hanya berpikir, sebaiknya kita kasih oleh-oleh apa buat Mamak, kalau nanti kita mengunjungi beliau.”
Firza mengunyah dan menelan makanannya, “Tak perlu risau soal itu, kita cukup datang saja, Mamak sudah bahagia. Selepas itu, bila kita hendak kembali ke kota, maka dengan senang hati dia bawakan semua yang ada di rumah dan di toko Ayah.”
Ersha ikut tersenyum kecil, alangkah baik sang Mamak Mertuanya, tak pernah perhitungan, meski anak dan menantunya datang hanya dengan oleh-oleh seadanya.
“Bagaimana dengan usulanku tadi?”
“Nanti aku pikirkan lagi, Bang. Bila benar-benar ku butuhkan, aku akan segera beritahu Abang.”
Suasana kembali senyap, hanya denting sendok Ersha yang beradu dengan piring, karena Firza makan dengan tangan secara langsung. suapan demi suapan terasa seperti sayatan duri yang masuk ke kerongkongan Ersha, semua karena ia memendam rasa penasaran begitu mendalam.
“Tak bisa dibiarkan, bila di pendam ini akan seperti duri yang mengganggu di sepanjang jalan,” batin Ersha. “Bang, Aku—”
Belum juga Esha menyelesaikan ucapannya, suara tangis Abizar membuatnya segera beranjak dari kursi, “Aku masuk dulu, Bang,” pamit Ersha.
“Iya, biar Abang yang bereskan meja.” Firza membawa piring bekas makannya dan sang istri ke tempat cuci piring, sambil membasuh tangannya dengan sabun lalu membilasnya.
Saat pria itu meraih tudung saji, tiba-tiba suara teriakan Ersha terdengar, “Bang, Abi demam, badannya panas sekali!”
Firza segera menyusul ke kamar Abizar, nampak bocah itu menangis keras dan menolak ASI dari ibunya. “Coba kasih obat turun panas dulu,” saran Firza sembari meraba kening dan badan Abizar. “Kok mendadak, ya? Tadi tak apa-apa, kan?”
Abizar berpindah ke gendongan ayahnya, sementara Ersha berjalan ke tempat penyimpanan obat. “Iya, Bang, sejak siang dia main seperti biasa, makan lalu tidur siang juga.”
Dengan cekatan Ersha memberikan obat turun panas, namun, hingga satu jam berlalu, demam Abizar tak ada perubahan. “Kita ke UGD sekarang, Abang akan menyalakan mesin mobil, kamu siapkan keperluan Abi.”
“Iya, Bang.”
Firza pun keluar, masih dengan Abizar dalam gendongannya, sementara Ersha menyiapkan semua keperluan putranya, serta berganti pakaian yang pantas untuk keluar rumah.
Setibanya di UGD, Abizar langsung ditangani dokter, karena demam tak kunjung turun, maka dokter segera memasang infus di tangan Abizar, dengan harapan panasnya bisa segera turun.
“Malam ini saya sarankan rawat inap, dan kita lihat perkembangan besok, sekaligus diobservasi kembali oleh dokter anak.”
“Baik, Dok. Terima kasih,” kata Firza dan Ersha bersamaan.
Abizar terlelap, tapi sesekali masih sesenggukan, karena menangis cukup lama. Firza mendekati brankar putranya, mengusap kepala dan menciumi wajah lucu Abizar. “Cepat sembuh, Nak. Ayah dan Mama akan menemani kamu di sini.
Dini hari, Abizar pun dipindahkan ke ruang perawatan, dan hingga saat itu, Ersha belum bisa memejamkan mata karena risau dengan kondisi Abizar.
Firza memijat lembut bahu istrinya, “Jangan risau, kita yakin saja, bahwa Abi tidak menderita sakit parah.”
“Amin, semoga saja, ya, Bang.”
•••
Esok harinya, Firza pamit pulang, mengambil baju ganti Ersha dan dirinya. Karena pagi berikutnya, suhu badan Abizar kembali tinggi.
“Abang akan segera kembali,” pamit Firza.
“Iya, Bang. Hati-hati.”
Dengan perasaan sedikit berat, Firza pun meninggalkan sejenak anak dan istrinya. Ia berjalan menyusuri lorong ruang rawat inap yang terdapat banyak kamar, serta perawat yang mondar-mandir ke setiap ruangan.
Firza menekan tombol lift lalu menunggu sejenak sampai pintu terbuka.
Ting!
Pintu terbuka, Firza pun melangkah masuk ke dalamnya, tangannya menyalakan ponsel serta scroll sejenak memeriksa pesan serta email tentang pekerjaan yang masuk.
Ting!
Pintu kembali terbuka, seseorang masuk, sebagian wajah tertutup masker, serta kepala tertunduk, karena sibuk dengan layar ponselnya.
Detik berlalu pelan di dalam lift, Firza menoleh karena merasa seseorang sedang memperhatikannya dengan intens.
Sorot matanya, postur tubuhnya sedikit lebih kurus dibanding dahulu, tapi Firza masih mengenalinya dengan jelas, dia adalah—
Resha
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!