29 Desember akhir tahun,
Wanita muda itu turun dari ojek yang mengantarnya dari terminal. Tempat di mana ia turun dari bus yang mengantarnya dari kampung. Dengan tas ransel coklat di punggung, gadis muda dua puluh empat tahun itu maju selangkah mendekati salah satu rumah dari banyaknya deretan rumah mewah di komplek perumahan elit itu.
Alina diam sejenak. Menatap kertas kecil di tangannya dan rumah di hadapannya secara bergantian.
"Jalan Wijaya Kusuma nomor 9," ucapnya pelan.
Alina diam sejenak menatap ke arah rumah mewah berlantai tiga yang terlihat megah dan mahal dari luar pagar.
Benar, ini rumah yang ia cari. Setelah menempuh perjalanan lebih dari enam jam dari kampung, akhirnya ia sampai juga di tempat tujuan. Rumah calon majikannya.
Alina mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu memotret bangunan di hadapannya.
"Ini, kan, Mbak, rumahnya?" tulis Alina dalam sebuah pesan singkat yang ia kirim untuk Murni, tetangga kampungnya yang menawarkan pekerjaan sebagai pembantu infal di tempatnya bekerja.
"Iya! Itu rumahnya. Kamu langsung pencet bel saja. Biasanya ada Pak Supri, tukang kebunnya Tuan Vincent yang jagain rumah," balas Murni melalui pesan singkat.
"Oke, Mbak!" balas Alina singkat. Gadis itu lantas memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam ransel. Ia kembali melangkahkan kakinya mendekati pagar rumah mewah itu kemudian memencet bel yang berada di sana.
Ting...tong...
Bel pun berbunyi. Alina diam sejenak. Menunggu seseorang dari dalam sana. Namun sepertinya tak ada.
Ting...tong....
Bel ditekan lagi. Tak lama kemudian seorang pria berbadan cukup gempal nampak keluar dari rumah itu sambil tergopoh-gopoh.
"Selamat siang, Pak!" sapa Alina.
"Selamat siang. Mau cari siapa, Mbak?" tanya laki laki berseragam hitam hitam itu. Itu adalah Pak Supri, supir rumah tersebut.
"Saya Alina, Pak. Saya temannya Mbak Murni dari kampung. Saya yang mau jadi ART infal selama Mbak Murni cuti," jawab Alina ramah.
Pak Supri diam sejenak. Ia menggerakkan bola matanya mengamati penampilan Alina dari atas sampai bawah. Badannya ramping mungil, kulitnya lumayan putih, penampilannya rapi dan polos khas gadis kampung dengan rambut panjang yang tergerai cukup rapi. Sendalnya flat sederhana, serta sebuah ransel coklat di gendong di punggungnya.
"Oh, kamu Alina?" tanya Pak Supri menegaskan. Alina mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, si Murni tadi sudah WA saya," lanjut Pak Supri. "Ya, sudah. Ayo silahkan masuk!"
Alina mengangguk lagi. Pak Supri kemudian membuka gembok pagar rumah itu dan mempersilahkan Alina untuk masuk. Keduanya lantas berjalan memasuki area rumah mewah dengan halaman berumput hijau yang cukup luas itu.
"Ini rumah tempat kamu bekerja mulai hari ini. Pemilik rumah ini bernama Tuan Vincent. Beliau tinggal sendiri di sini. Tugas kamu selain bersih bersih seluruh ruangan dan sudut rumah ini, kamu juga harus melayani Tuan Vincent. Mulai dari menyiapkan air mandi, mencuci baju, menyiapkan makan, dan keperluan keperluan lainnya yang dibutuhkan Tuan Vincent."
"Tuan itu tidak suka kesalahan. Dia sangat menyukai kedisiplinan. Jadi, sebisa mungkin kamu jangan teledor ya di rumah ini. Biar tidak kena marah," ucap Pak Supri mewanti wanti.
Alina mengangguk paham. Keduanya kini sudah sampai di ruang tengah rumah milik Tuan Vincent.
"Ini ruang tengah. Biasanya setelah pulang kerja, Tuan akan duduk di sini sambil melepas lelah. Nanti kamu bisa memperkenalkan diri kamu di sini. Jangan lupa juga, siapkan makan dan air mandi untuk Tuan."
"Siap, Pak!" jawab Alina.
"Hari ini sepertinya Tuan Vincent pulang cukup malam. Sebagai satu satunya ART, mau tidak mau kamu harus nungguin Tuan sampai pulang. Kalau ada apa apa, kamu bisa panggil saya. Saya ada di belakang di kamar supir. Soalnya hari ini tuan nyetir sendiri, jadi saya nggak jemput," tambah Pak Supri lagi.
"Iya, Pak. Saya paham!" balas Alina lagi. Pak Supri tersenyum.
"Ya, sudah. Kalau begitu mending sekarang kamu istirahat. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh. Kamar kamu ada di belakang, di samping kamar saya. Kamu istirahat dulu saja. Nanti sore baru mulai bersih-bersih. Tuan kan pulangnya malam. Yang penting, pas Tuan pulang semua sudah bersih dan rapi" ucap Pak Supri lagi.
Alina mengangguk lagi. "Iya, Pak!" jawabnya.
"Ya, sudah. Yuk, bapak antar kamu ke kamarmu!"
Keduanya belantas pergi meninggalkan ruangan tersebut. Alina diantar Pak Supri menuju kamar pembantu yang berada di bagian belakang rumah tersebut. Alina masuk ke dalam kamarnya. Ia menutup pintu kamar itu, meletakkan ransel coklatnya di sebuah nakas kecil disana lalu kemudian merebahkan tubuhnya di sebuah kasur busa tanpa ranjang.
Alina memejamkan matanya sejenak seraya menarik nafas panjang.
Drrt...drrrtt...
Ponsel di dalam ranselnya bergetar. Ia mengulurkan tangannya. Ia merogoh ransel coklatnya lalu mengambil sebuah benda pipih di sana. Sebuah pesan dari nomor dengan nama "Calon suami"
"Al, sudah sampai? Aku WA dari pagi kok nggak dibales?" bunyi pesan itu.
Alina menarik kedua sudut bibirnya membaca pesan singkat dari sang kekasih, Aditya.
"Iya, Mas. Maaf, aku baru sempat balas. Ini baru sampai. Tadi aku ketiduran di bus, jadi nggak sempat balas pesan kamu. Aku udah ketemu kok sama rumah majikanku. Tapi orangnya masih di kantor, belum pulang. Ini aku lagi di kamar, mau istirahat dulu. Capek banget soalnya habis perjalanan jauh," tulis Alina.
"Oh, ya, udah. Syukur kalau kamu udah sampai. Aku dari tadi khawatir kamu nggak ada kabar."
"Aku baik-baik saja kok, Mas."
"Oke, kalau begitu kamu istirahat dulu ya, sayang. Maaf, ya. Gara-gara aku yang belum mampu ngumpulin uang buat ngelamar kamu, kamu jadi harus pergi jauh buat bantu aku. Aku sebenarnya malu banget, Al. Ini kan tugasku sebenarnya buat ngumpulin uang biar bisa melamar kamu," tulis pria yang lebih akrab disapa Adit itu.
"Mas, nggak usah mikirin itu. Kan dari awal kita sudah sepakat, kita akan menjalani ini sama-sama. Toh, uang yang kita kumpulin ini nantinya juga demi masa depan kita. Biar ayah melihat keseriusan kamu. Biar ayah merestui hubungan kita. Biar kita bisa menikah. Nanti, kalau kamu mau ganti uang aku, boleh, kok. Bisa kamu ganti pakai nafkah yang kamu kasih setiap hari kalau kita sudah menikah nanti. Hehehe..." tulis Alina sambil terus mengulum senyum.
"Kamu bisa saja, Al," jawab Adit. "Iya, aku janji. Aku akan membuktikan ke ayah kamu kalau aku benar-benar serius ingin menikahi kamu. Aku serius ingin menjadikan kamu istri aku. Walaupun ayah kamu selalu bilang bahwa aku bukan laki-laki yang baik, aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi suami dan menantu yang tepat untuk kamu dan ayah kamu. Kamu doain aku, ya. Semoga secepatnya aku bisa melamar kamu!"
"Amiiiinnnn...." jawab Alina.
Saling berbalas pesan pun terus berlanjut antara sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama tiga tahun itu.
Ya, namanya Alina. Dia seorang gadis desa anak dari seorang petani sederhana di kampungnya. Alina adalah seorang gadis berusia dua puluh empat tahun, anak tunggal yang kini memilih untuk merantau ke ibu kota menggantikan pekerjaan salah satu tetangganya selama satu minggu kedepan sebagai seorang asisten rumah tangga.
Niatan bekerja itu sebenarnya ditentang oleh ayah dan ibunya. Selama ini Alina tidak pernah jauh dari orang tuanya. Apalagi sampai merantau ke ibukota. Namun demi mewujudkan cita-citanya untuk segera menikah dengan sang kekasih, Alina rela menentang kedua orang tuanya. Ia pergi bermodalkan cinta. Berharap bisa mendapatkan pundi-pundi uang untuk membantu sang kekasih mengumpulkan modal untuk melamar dirinya.
Ya, memang secinta itu Alina pada Aditya. Meskipun sang ayah menentang keras hubungan mereka karena menganggap Aditya adalah laki-laki yang tidak baik, namun Alina tetap kokoh akan cintanya. Ia memperjuangkan Aditya sedemikian rupa. Ia yakin laki-laki itu adalah calon suami yang tepat bagi Alina. Di matanya, Adit adalah laki-laki yang setia dan sangat menyayanginya. Sangat cukup untuk membuatnya bahagia. Tak seperti pandangan sang ayah yang menganggap bahwa Adit adalah pria tak bertanggung jawab, pengangguran, dan memiliki sifat dan tabiat buruk seperti ayah Adit yang merupakan seorang penjudi dan pemabuk. Berkali-kali sang ayah mencoba menasehati Alina, namun sepertinya cinta sudah menutup mata dan hati gadis itu. Ia tak peduli dengan nasehat sang ayah.
Kini, Alina sudah tiba di ibukota. Dengan segala mimpinya, berharap di rumah mewah ini, dengan majikan yang belum ia temui, dia bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang akan bisa membawanya untuk secepatnya bersanding dengan Aditya.
Malam menjelang, di depan sebuah restoran mewah di tengah kota.
"No... no...! Wait! Alicia, tunggu!" Laki laki itu menarik tangan wanita dengan dress hitam itu.
"Vincent, stop!! Please, stop! Jangan tahan tahan aku lagi!" ucap wanita bernama Alicia itu seraya mencoba menghempaskan tangan Vincent.
"Alicia, come on! Jangan bercanda, sayang! Ini nggak lucu!" Vincent kembali meraih telapak tangan sang tunangan dan meremasnya. Namun lagi-lagi Alicia menghempaskannya.
"Siapa yang bercanda? Aku nggak bercanda, Vincent. Aku serius!" jawab Alicia tegas.
"Keputusan aku udah bulat. Aku mau kita putus! Aku nggak mau ngelanjutin hubungan ini lagi!"
Vincent memejamkan matanya, seolah begitu frustasi menghadapi sang tunangan yang tiba-tiba minta putus.
"Alicia, kita udah tunangan. Kita sebentar lagi akan menikah. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Kamu..."
"Ya, aku nggak peduli!" Alicia memotong ucapan Vincent.
Vincent menarik nafas panjang.
"Kamu tuh kenapa, sih? Aku udah minta maaf! Aku janji aku akan perbaiki lagi semuanya!"
"Telat!" Sahut Alicia dengan cepat.
"Asal kamu tahu, ya. Aku tuh udah capek ngadepin kamu! Kamu terlalu sibuk sama pekerjaan dan bisnis-bisnis keluarga kamu! Kamu nggak pernah ada waktu buat aku!"
"Aku kerja juga demi kamu!"
"Itu demi ambisi keluarga kamu!" sahut Alicia lagi. "Bertahun-tahun kita pacaran, kamu tuh jarang ada waktu buat aku. Kamu jarang ngajak aku pergi, ngabisin waktu berdua sama aku. Kamu selalu sibuk dengan kantor, bisnis, dan laptop kamu itu! Sekalinya ada waktu, keluarga kamu selalu ngerecokin waktu kita! Keluarga kamu tuh emang nggak suka sama kedekatan kita!"
Vincent tak mampu menjawab. Pria itu meraih telapak tangan Alicia, mencoba untuk menenangkan gadis itu, namun lagi-lagi Alicia menghempaskannya.
"Kita emang nggak cocok, Vincent! Aku nggak bisa terus-terusan sabar mendampingi kamu dengan segala kesibukan dan aturan dari keluarga kamu itu!" Alicia nampak hilang kesabaran. "Udah! Aku rasa semua ini memang nggak bisa lagi dilanjutkan."
Vincent menggelengkan kepalanya samar. Alicia melepaskan sebuah cincin emas di jari manisnya. Diraihnya tangan Vincent, lalu meletakkan cincin di telapak tangan sang pria.
"Aku minta maaf. Aku tidak sekuat itu untuk bisa bertahan sama kamu dan keluarga kamu. Aku pergi. Aku sudah menemukan laki-laki lain yang bisa mengerti keinginanku. Yang masih ada waktu buat aku meskipun dia juga seorang pekerja keras," ucap Alicia dengan suara yang lebih pelan. "Simpan baik-baik cincin ini. Dan berikan pada wanita lain yang siap menerima kamu nantinya. Jangan cari-cari aku lagi. Kita selesai!"
Wanita itu berbalik badan. Ia tak menghiraukan Vincent yang masih berusaha mengejarnya sambil terus memanggil namanya. Wanita itu setengah berlari menghampiri sebuah mobil hitam mewah yang menunggu di seberang jalan. Ia masuk ke dalam kendaraan yang rupanya sudah ada seorang pria di dalamnya.
Vincent menghentikan langkahnya. Ia hanya bisa menatap nanar ke arah mobil yang kini melaju pergi meninggalkannya. Membawa wanita yang sangat ia cintai pergi bersama pria lain.
Remuk hati dan perasaan Vincent. Pria dua puluh delapan tahun. Gagah, tampan, kaya raya, unggul dalam segala hal, rupanya harus mengalami patah hati di penghujung tahun ini. Gadis yang ia pacari sejak kuliah pergi meninggalkannya dengan alasan kurang perhatian. Sesuatu yang sebenarnya sudah sering Alicia keluhkan sejak lama. Vincent kira wanita itu tidak akan menyerah. Namun rupanya ia salah. Alicia menyerah juga.
Vincent Louis Oliver adalah seorang putra tunggal keluarga Oliver. Keluarga konglomerat dengan berbagai bisnis keluarga yang sukses. Keluarganya adalah keluarga yang sangat perfeksionis dan pekerja keras. Bisnis dan bekerja adalah hal yang terpenting di keluarga ini. Sang ayah, James Oliver, sebenarnya memang tidak terlalu menyukai Alicia sejak pertama kali sang putra memperkenalkannya pada keluarga besar Oliver. Di mata James, Alicia hanyalah seorang gadis manja dan boros yang yang akan mengganggu kehidupan kerja Vincent nantinya.
Kini, Alicia benar-benar pergi. Ia memilih untuk menyerah dan mencari pengganti Vincent. Laki-laki itu hancur. Ia patah hati. Ia sudah merancang masa depan bersama Alicia dengan matang. Tapi di tengah jalan, di penghujung tahun, Alicia justru memilih untuk mengubur mimpi mereka. Mencari pria lain yang bisa memberikan perhatian lebih untuknya.
Vincent frustasi. Ia mengusap wajahnya kasar lalu mengayunkan kakinya menendang udara. Pria itu kemudian pergi menuju mobilnya dan melesat cepat meninggalkan tempat tersebut.
.......
Sementara itu di tempat terpisah.
Alina mengikat rambutnya sambil berjalan menuju ruang tamu. Rumah sudah rapi. Semua pekerjaannya sudah selesai. Ia juga sudah mandi sejak tadi. Tinggal menunggu kedatangan sang majikan sesuai arahan dari Pak Supri. Katanya, wajib menunggu kedatangan majikan. Jangan sampai majikan belum pulang pembantunya sudah tidur duluan. Sedangkan Pak Supri saat ini sedang berada di kamarnya. Sepertinya pria paruh baya itu sedang tidak enak badan.
Alina melongok menatap jam dinding. Sudah setengah sebelas malam, tapi tanda-tanda kedatangan Tuan Vincent belum juga muncul. Alina menghela nafas panjang. Padahal ia sudah mengantuk. Ia juga lelah. Ia hanya beristirahat sebentar saja sore tadi. Biasanya kalau di kampung ia sudah tidur jam segini .
Alina mendudukkan tubuhnya di atas sofa panjang itu. Sebelah tangannya tergerak menutup mulutnya yang menguap. Rasa kantuk dan lelah bercampur jadi satu. Gadis cantik itu lantas merebahkan tubuhnya di sofa empuk tersebut sembari membuka ponselnya. Menuju sebuah aplikasi guna memutar drama kesukaannya. Yah, sembari menunggu Tuan Vincent pulang, pikirnya.
Waktu terus berjalan. Jarum jam terus berputar. Satu jam sudah Alina menunggu sang majikan di ruangan itu, namun Vincent tak kunjung datang. Rasa kantuk itu terus menyerang. Perlahan-lahan mata itu mulai terpejam tanpa permisi. Genggaman tangan atas ponsel yang masih menyala itu perlahan mulai melemah. Alina pun akhirnya tertidur dalam posisi duduk di sofa ruang tengah rumah mewah tersebut.
........
01:30
Hawa dingin dari AC yang terus menyala itu seolah menina bobokan Alina. Tidurnya semakin nyaman. Dengkuran halus bahkan mulai keluar dari bibirnya yang tipis. Hingga tiba-tiba....
Tidurnya terusik. Sesuatu yang lembut dan basah terasa seperti berjalan di lehernya. Dengan cepat ia membuka matanya. Dan....
"T-Tuan Vincent?"
Vincent Louis Oliver
...----------------...
Dagh...!
"Aakkkhhh...!! Alicia...!!!" Vincent berteriak seraya memukul kaca mobilnya yang melaju kencang itu menggunakan sebelah tangannya memegang botol alkohol.
"You're bi**h..!" umpatnya. "Kenapa kamu menyerah secepat ini?!! Aku sudah menyiapkan semuanya untuk kita, Alicia!" tambahnya.
"Anj**k..! Akkkhh...!!" teriak Vincent lagi seraya kembali memukuli kemudi mobil dan kaca jendela secara brutal. Laki-laki itu benar-benar frustasi. Diputuskan tunangannya benar-benar membuat Vincent tak terkontrol. Bahkan kini ia tengah dalam perjalanan pulang setelah menghabiskan malamnya di sebuah club sejak tadi. Pria itu berkendara sambil mabuk. Penampilannya sudah acak-acakan. Sesekali ia menenggak alkoholnya seraya mengucap sumpah serapahnya untuk sang mantan tunangan.
Tak butuh waktu lama Vincent pun tiba di kediaman pribadinya. Laki-laki itu keluar dari kendaraan mewahnya dan berjalan masuk ke dalam rumah megah miliknya. Jalannya sempoyongan, penampilannya compang camping dengan kemeja putih yang kedua lengannya sudah tergulung hingga ke siku. Tiga kancing atasnya sudah terlepas. Jas hitam mahal yang biasanya ia kenakan kini nampak ia sampirkan di pundak. sedangkan satu tangannya memegang alkohol yang sesekali diteguknya.
Braakk....
Pintu dibuka dengan kasar. Laki laki itu jatuh tersungkur karena tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Sh*t!" Kalimat itu keluar dari mulut sang pebisnis muda. Ia kembali bangkit. Ia kembali mengayunkan kakinya masuk ke dalam rumah sambil terus meracau memaki nama Alicia.
Hingga tiba-tiba...
Laki-laki itu menghentikan langkahnya ketika sampai di ujung tangga menuju lantai dua. Matanya yang merah menatap ke arah sofa panjang ruang tengah hunian itu. Seorang gadis nampak terlelap disana. Ya, itu Alina!
Vincent menyipitkan matanya. Ia menenggak alkoholnya sekali lagi lalu berjalan mendekati wanita yang masih terlelap tersebut. Laki-laki itu berdiri dengan angkuhnya tepat di hadapan Alina yang tertidur. Ia memiringkan kepalanya sambil lagi-lagi menenggak air minum kesukaannya itu. Sedangkan matanya tak lepas dari wajah cantik yang nampak tertidur pulas di sana.
"Alicia..." ucapnya.
Tidak! Vincent yang setengah sadar karena pengaruh alkohol mengira bahwa Alina adalah Alicia!
"Aku tahu kamu menungguku," tambahnya seraya mengeluarkan senyuman creepy.
Vincent menenggak alkoholnya lagi. Ia kemudian membungkukkan badannya. Mendekatkan wajahnya pada wajah Alina yang terlelap. Laki-laki itu memiringkan kepalanya seraya menampilkan sebuah senyuman mengerikan. Dalam pandangan matanya, ia melihat wajah Alicia sedang tidur dengan nyenyak nya. Sangat cantik. Sangat menggoda gairahnya.
Tangan kekar itu tergerak mengusap lembut rambut Alina. Biraahinya mulai bergejolak. Wangi tubuh Alina menari nari di hidungnya. Membuat sesuatu dalam dirinya mulai terbangun di sana.
Vincent makin mengikis jarak dengan Alina. Ia menggerakkan kepalanya menghirup aroma tubuh itu. Hidungnya kini bahkan hampir menempel ke ceruk leher Alina. Sedangkan sebelah tangannya mengusap-usap lembut rambut Alina yang seolah tak menggubris keberadaan Vincent saking lelapnya.
”I love you so much, babe," bisiknya sambil tersenyum creepy. Laki laki itu makin mendekatkan wajahnya. Dengan satu gerakan ia menggerakkan lidahnya, menyapu ceruk leher Alina dari bawah ke atas. Hal itupun sontak membuat Alina terbangun dari tidurnya.
"Sssttt..." Vincent meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Posisi mereka sangat dekat. Vincent mengungkung gadis itu di atas sofa. Alina yang terkejut pun nampak membuka matanya lebar-lebar.
"T-Tuan Vincent?" ucapnya.
Apa ini majikanku? Ngapain dia? Batin Alina bertanya-tanya.
Vincent membelai rambut Alina. "I love you, sayang. Kamu cantik sekali," bisiknya.
Bau alkohol menyeruak dari mulut pria itu. Alina menggelengkan kepalanya samar seolah sudah bisa memahami semuanya. Laki-laki ini mabuk! Sial, kenapa tidak ada yang bilang kalau Vincent ini pemabuk!
"Kamu menungguku, kan?" Tangan itu makin berani menari-nari menyusuri lengan atas Alina.
"T-Tuan, jangan! Tuan sedang mabuk," ucap Alina gugup sembari menepis tangan Vincent.
"Sssttt...siapa yang mabuk? Aku nggak mabuk, honey," jawab Vincent.
"I Miss you...so much..." ucapnya lirih dan terdengar penuh naffsu. Lidah itu bergerak menyapu bibir bawahnya. Menggambarkan betapa ia sangat menginginkan wanita di hadapannya ini.
"Take off your clothes!" perintah pria itu. Alina makin gugup. Ia memalingkan wajahnya sambil meremas bagian depan kaos sederhananya.
"Tuan sedang mabuk. Mohon menyingkir biar saya buatkan susu untuk Tuan," ucap wanita itu.
Vincent tertawa creepy. "Ayolah! Kamu terlalu banyak basa basi. Aku sudah tidak tahan. Sejak kapan aku suka susu selain...punyamu," ucapnya sembari mencoba menyentuh wajah Alina. Namun lagi dan lagi, Alina menepisnya.
Vincent tak berhenti. Ia kembali mendekatkan wajahnya mencoba mencium Alina namun dengan cepat gadis itu mendorongnya dan berteriak. "Jangan...!!"
Vincent jatuh tersungkur. Botol alkoholnya jatuh. Alina lari. Ia tak mau ambil resiko.
"Anj*Ng!" umpat Vincent yang tak terima dengan respon Alina. Vincent bergerak cepat Ia bangkit dari posisinya kemudian mengejar Alina. Langkah kakinya yang lebar dan panjang dengan cepat mampu mengejar Alina yang mulai ketakutan. Ditariknya baju gadis itu dengan kasar dan melemparkannya kembali ke sofa ruang tengah tersebut. Kaos itupun nampak koyak di bagian lengan atas hingga dadanya. Menampilkan tubuh mulus dengan setitik tahi lalat kemerah-merahan di bagian depan.
"Mau kemana kamu?" tanya Vincent dingin. Alina tak mampu menjawab. Ia sudah ketakutan. Laki-laki itu mengikis jarak dengannya sambil melepaskan kancing-kancing bajunya.
"Bertahun-tahun kita pacaran. Aku mencintai kamu benar-benar, tapi kamu dengan gampangnya meninggalkan aku. Anj*Ng, kamu!"
Alina tak menjawab. Menjelaskan pada orang mabuk tidak akan ada gunanya. Yang paling penting sekarang adalah lari.
Alina melompat dari sofa. Ia kembali berlari menjauh dari Vincent. Namun tiba-tiba...
Seeett....
"Akkkhh..!" Alina memekik. Vincent mencengkeram rambut Alina dari belakang lalu menariknya hingga membentur dada bidangnya. Satu tangannya yang bebas kemudian mencekik leher Alina.
Alina panik. Rambutnya dijambak. Lehernya dicekik. Ia memegangi kedua tangan pria itu seolah minta dilepaskan.
"T-Tuan..." ucapnya yang kesulitan bernafas.
Vincent mengecup lembut ceruk leher itu. Membuat Alina merinding karenanya.
"Mau kemana kamu, sialan? Kau pikir kau bisa lari dariku, hmm?"
"Sa-sakit.." ucap Alina makin ketakutan. Vincent kembali mengendus ceruk leher Alina.
"I want to have a baby.." bisiknya. Alina menegang. Ia menggelengkan kepalanya cepat. Belum sempat gadis itu menolak, Vincent membanting tubuh mungil itu ke sofa lalu dengan cepat menindihnya.
"Kamu akan diam jika kau mengandung bayiku," ucapnya.
"Tuan, jangan! Saya bukan....."
Plak...!
Vincent menampar pipi itu dengan keras lalu mencengkeram dagunya dengan kasar.
"Aku tidak suka penolakan!" ucapnya dingin lalu melempar wajah itu.
Alina mulai menangis, tapi Vincent tak peduli. Kedua tangan gadis itu dicengkeram dengan satu tangan yang kuat tepat di atas kepalanya. Membuat wanita itu tak bisa berontak.
"Lakukan yang kamu bisa!" ucap pria itu dingin dibarengi sebuah senyum menakutkan.
"Tolong...!!!!" Alina memekik. Ia menjerit sekuat tenaga saat tangan dan mulut Vincent dengan penuh nafsuu mulai menggerayangi leher dan dadanya. Alina berusaha berontak. Kakinya menendang-nendang udara kala lidah itu menyapu bibirnya yang terus menutup. Satu tangan Vincent mencengkeram kuat dagu Alina, memaksa wanita itu untuk membuka mulutnya. Air mata Alina bercucuran. Ia menangis tanpa suara di tengah usahanya keluar dari kungkungan.
"Buka mulutmu, siaalaan!!"
Plak..!
"Open your f**king mouth, NOW!!"
Vincent menampar pipi Alina berkali-kali sambil mengeluarkan umpatan-umpatan kasar. Gadis itu menangis. Sedikit darah mengalir dari ujung bibirnya. Ia menjerit dan meringis kesakitan saat tangan besar itu dengan lancang meremaas dadanya. Sakit, geli, perasaan yang tak bisa dijelaskan karena ini adalah pengalaman pertamanya dijamah pria. Kasar pula!
"Katakan sekarang, apa pria itu pernah melakukan ini padamu, hmm?" bisik Vincent sambil mengoyak kaos murah itu. Ia mengeluarkan gumpalan daging dengan tombol kecil di ujungnya itu lalu menamparnya berkali-kali. Alina terus menangis. Jantungnya berdebar kuat. Takut, jijik, geli. Terlebih lagi ketika pria itu mulai memainkan lidahnya menari-nari di ujung tombol merah muda kecoklatan miliknya sambil sesekali menyesapnya.
"Emmhh..." Suara itu lolos dari bibir Alina. Membuat Vincent menyeringai di sela-sela aktivitasnya.
"Kau mulai menikmatinya?" tanya pria itu sambil kembali mencengkeram dagu Alina.
"Lepaskan saya, Tuan! Hiks..."
"Setelah aku berhasil merobek milikmu!" ucapnya mengerikan sembari dengan cepat menurunkan rok panjang milik Alina dan masuk ke sela-paha paha gadis itu. Alina makin menangis. Ia berusaha mendorong kepala laki-laki itu namun tak kuat. Vincent menggila di bawah sana. Ia begitu rakus bak singa kelaparan yang mendapatkan daging segar.
Cukup lama Vincent bermain-main di sana menggunakan mulut dan juga jari-jarinya. Benda yang semula kering kini berubah menjadi basah. Setelah puas ia pun menjauhkan kepalanya dari sana tanpa melepaskan kuasa atas Alina. Satu tangannya mencekik leher Alina, sedangkan satu lainnya melepaskan kemeja dan juga ikat pinggangnya. Seonggok benda yang tak semua orang boleh melihatnya itu pun dikeluarkan dari sarangnya. Terlihat sudah sangat siap untuk memporak porandakan Alina yang malang.
"Kau takut, sayang?"
"A-ampun, Tuan! Ja-jangan. Hiks..."
Vincent menyeringai. "Kau berlagak seperti gadis kampung yang polos. Pintar sekali kau acting. Bukankah kita sudah sering melakukan ini? Kita tidak akan berhenti sebelum aku selesai dan kau membersihkanku dengan mulutmu itu!" ucap Vincent sambil memberikan beberapa tamparan di sela-sela kedua belah kaki Alina.
Wanita itu makin menangis. Ia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini di hari pertamanya bekerja.
Vincent belum selesai dengan aksinya. Ia Diusap-usapnya benda berurat itu dengan satu tangannya yang berlumuran saliva. Ia menarik tubuh Alina. Mencari posisi yang nyaman lalu bersiap disana. Alina menangis. Laki-laki itu menampar pipi Alina tiap kali wanita itu berontak. Ia kemudian membuka kedua belah paha Alina dengan kasar lalu berancang-ancang untuk melakukan penyatuan.
"Jangan, Tuan! Ampuuunn...." rintih Alina yang sudah mulai kewalahan. Vincent tak peduli. Ia masih berusaha merobek pertahanan Alina yang begitu suli untuk diterobos. Laki laki itu meringis. Sangat sempit.
"TOLOOOONNNGGG.....!"
Plaaakk..! Vincent menampar gadis itu dengan sangat keras
Alina menjerit. Ia merasakan perih di bawah sana. Sesuatu yang terasa begitu besar merangsek masuk di bawah sana. Terasa sangat penuh. Sangat sesak. Hingga sesuatu terasa robek.
"Aaahhh...." Vincent mendeesa ah. Benda berharga miliknya berhasil masuk dengan sempurna. Sedikit ngilu. Tapi sensasinya sangat luar biasa.
Laki-laki kembali mengungkung Alina.
"Nikmat sekali, sayang," bisiknya tepat di wajah Alina. Sedangkan satu tangannya nampak mengusap lembut kepala gadis itu.Alina berontak. Ia mencoba mendorong pria itu dan memukuli dada bidang itu dengan sisa-sisa tenaganya.
"Menangislah! Aku suka melihat air matamu," ucapnya yang kemudian kembali menggerakkan lidahnya mengusap air mata di pipi gadis itu.
Adegan pun berlanjut. Laki-laki itu menggerakkan pinggulnya naik turun. Memompa sesuatu yang nampak berdarah di sana diiringi dengan tangisan Alina. Malam itupun berlalu. Jam dinding yang berdenting menjadi saksi tentang adegan pemaksaan yang berhasil merenggut kehormatan sang gadis desa.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!