Indonesia
NovelToon NovelToon

BLOOD OF THE BETRAYER

awal dari segalanya

Langit Arkheim tidak lagi berwarna biru; ia adalah kanvas abu-abu yang ternoda oleh jelaga peperangan yang tak kunjung hilang, sebuah selubung suram yang seolah menolak membiarkan cahaya matahari menyentuh bumi ini. Tahun 1330 seharusnya menjadi gerbang menuju fajar bagi era baru, sebuah janji damai di mana anak cucu mereka kelak tidak lagi perlu mengenal bau amis darah atau rasa dinginnya ujung pedang. Namun, bagi Alon von Graham, aroma besi berkarat dan kematian itu justru tercium jauh lebih tajam dan pekat saat ia perlahan mendaki jalan setapak berbatu menuju Bukit Bangkai.

Tempat itu bukan sekadar gundukan tanah biasa. Bukit itu adalah monumen bisu, makam raksasa yang berdiri tegak sebagai saksi bisu dari kemenangan besar yang mereka raih lima tahun silam. Di bawah lapisan tanah yang kini mulai ditumbuhi rumput liar dan lumut kelabu, bersemayam ribuan jasad pasukan legiun neraka yang telah mereka bantai bersama—mayat-mayat makhluk kegelapan yang tubuhnya hancur, namun energi jahatnya masih merembes perlahan ke permukaan, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Angin yang bertiup di sini membawa bisikan-bisikan samar, sisa-sisa dendam dari jiwa-jiwa yang gagal mereka musnahkan sepenuhnya.

Di puncak bukit yang tertinggi, tepat di tengah-tengah medan pemakaman kuno itu, sesosok berdiri diam menanti. Jack von Granadia. Jubah kebesarannya yang berwarna hitam pekat dengan sulaman benang emas kusam berkibar liar ditiup angin kencang, menyembunyikan wujud aslinya seolah ia adalah bayangan yang terlepas dari tubuh pemiliknya. Di pinggangnya, tergantung Slash—pedang legendaris yang namanya dicatat dalam sejarah sebagai pembawa harapan, namun kini bilahnya memantulkan cahaya redup yang tampak lebih haus darah daripada sebelumnya.

"Kau terlambat, Saudaraku," sapa Jack. Suaranya berat, dalam, namun ada nada asing yang bergetar di sana—sebuah intonasi dingin, hampa, dan tak bernyawa, sangat berbeda dari suara lantang dan hangat yang dulu selalu memimpin barisan pasukan di samping Alon.

Alon von Graham menghentikan langkahnya beberapa langkah di hadapan sahabat karibnya itu. Ia tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang lemah namun penuh ketulusan, sama sekali tanpa rasa curiga atau waspada. Baginya, Jack bukan sekadar kawan seperjuangan; Jack adalah separuh jiwanya, satu-satunya orang yang pernah berdiri bersamanya menembus lautan api dan mayat selama puluhan tahun.

"Memulihkan aliran waktu dan menyeimbangkan kembali arus sihir di desa-desa perbatasan membutuhkan ketelitian yang luar biasa, Jack," jawab Alon pelan, matanya menatap lurus ke manik mata sahabatnya yang tampak sayu namun tajam. "Kau tahu betapa rapuhnya struktur alam semesta setelah perang besar itu. Aku tidak bisa membiarkan warga sipil tersedot ke dalam pusaran waktu yang salah."

Jack tidak membalas senyuman itu. Wajahnya tetap datar, seolah topeng besi telah menempel permanen di sana. Ia berbalik sedikit, meraih dua buah cawan perak tua yang terletak di atas sebuah meja batu kasar yang tertanam di tanah. Permukaan perak itu kusam, memantulkan bayangan langit yang muram. Di dalam kedua cawan itu, terdapat cairan berwarna merah pekat, begitu gelap hingga tampak hampir hitam seperti darah yang sudah lama membeku.

"Dua puluh lima tahun lamanya kita berjalan berdampingan," ucap Jack, suaranya bergetar menahan sesuatu yang berat, entah itu emosi atau sekadar kekuatan jahat yang menguasainya. "Dari saat kita masih berlatih memegang pedang hingga kita menjadi dua pilar terkuat yang menopang langit Arkheim. Hari ini, biarlah anggur dan ingatan akan darah yang telah kita tumpahkan bersama ini mengikat janji kita selamanya. Bahwa tanah ini... Arkheim, akan selalu memiliki dua pelindung yang tak tergantikan."

"Demi kedamaian abadi Arkheim," jawab Alon dengan nada yang penuh keyakinan tulus. Ia menerima cawan perak itu dengan tangan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun. Ia mengangkatnya sedikit ke arah Jack sebagai tanda penghormatan, lalu meminum seluruh isinya dalam satu tegukan besar.

Detik berikutnya, dunia seakan runtuh dan berputar kacau.

Cawan perak itu terlepas dari genggaman Alon, jatuh ke tanah berbatu dengan suara denting yang panjang dan menyayat hati. Tubuh Alon langsung membungkuk ke depan, tangannya mencengkeram kuat dadanya seolah ada api neraka yang melahap paru-parunya dari dalam. Rasa panas yang luar biasa, tajam, dan menyengat mulai menjalar dengan kecepatan kilat melalui setiap pembuluh darahnya, membakar setiap serat otot dan saraf yang dimilikinya.

Ini bukan sekadar racun biasa. Alon bisa merasakannya dengan insting penyihir agungnya—zat yang baru saja ia telan adalah kutukan murni, disedot langsung dari sumur terdalam dan paling gelap di alam neraka, ramuan yang dirancang khusus untuk menghancurkan keberadaan makhluk hidup hingga ke tingkat jiwa dan raga.

Alon menatap tangannya sendiri yang gemetar hebat. Kulit yang semula bersih, kencang, dan penuh energi kehidupan, kini perlahan berubah warna menjadi kehitaman. Dagingnya mengerut, layu, dan mulai membusuk di tempat, seolah hukum alam dipaksa berjalan ribuan kali lebih cepat hanya pada sel-sel tubuhnya saja. Waktu, elemen yang selama ini ia kendalikan dan ia jaga keseimbangannya, kini justru menjadi senjata yang menyiksanya sendiri, memakannya hidup-hidup dari dalam ke luar.

"Jack... apa yang kau lakukan...?" suara Alon terdengar parau, hampir tak terdengar, saat ia terjerembap ke tanah yang keras dan dingin. Mulutnya terbuka lebar, memuntahkan cairan hitam kental yang berbau belerang dan kematian.

Di hadapannya, Jack von Granadia berdiri tegak, tak bergeming sedikit pun melihat penderitaan sahabatnya. Perlahan dan dengan gerakan yang sangat terkendali, ia mencabut pedang Slash dari sarungnya. Tanpa sepatah kata pun, tanpa ragu sedikit pun, ia berbalik ke samping dan mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan kilat yang mematikan. Tiga bayangan hitam yang ternyata adalah pengawal setia Alon—orang-orang yang bersumpah mati melindunginya—jatuh bersamaan, leher mereka terbelah bersih sebelum sempat mengeluarkan suara. Darah segar mereka menyiprati wajah dan jubah Jack, namun ia tidak berkedip, tidak merasakan apa-apa.

Saat Jack kembali menoleh ke arah Alon, mata sahabatnya itu telah berubah. Di bawah kelopak matanya yang gelap, memancarkan cahaya aura ungu pekat, tanda mutlak bahwa jiwa dan raganya tak lagi milik dunia manusia ini. Ia telah dijajah, diubah, atau mungkin telah lama menjual dirinya kepada entitas yang jauh lebih jahat.

"Kenapa, Jack...?" tanya Alon lagi, kali ini suaranya terdengar seperti rintihan binatang terluka. Ia mencoba merangkak mendekat, kukunya mencakar tanah berbatu hingga patah dan berdarah, berusaha menggapai sosok yang dulu paling ia percaya. "Kita sudah menang... Perang sudah selesai... Kita memenangkan segalanya demi rakyat..."

Jack perlahan berjongkok di samping tubuh Alon yang mulai membusuk itu. Ia menunduk, menatap sahabat lamanya dengan tatapan kosong yang dipenuhi rasa haus akan kekuasaan yang tak terpuaskan. Ekspresi wajahnya bukan lagi milik manusia yang pernah berjuang demi keadilan.

"Dunia ini terlalu sempit dan picik untuk memiliki dua matahari, Alon," ucap Jack dingin, kata-katanya jatuh seperti kepingan es yang tajam. "Rakyat memujamu, menyanyikan namamu di setiap puisi dan doa, menganggapmu sebagai satu-satunya penyelamat mereka. Sementara aku... aku hanyalah bayang-bayang bisu yang berjalan di balik punggungmu, sosok yang terlupakan begitu bahaya berlalu. Apakah adil jika aku hanya menjadi pendampingmu selamanya?"

Jack mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke langit kelabu di atas mereka.

"Dewa Iblis Kedua telah membuka mataku pada kebenaran yang lebih tinggi. Dia memberiku penglihatan tentang sebuah kekaisaran yang abadi, sebuah peradaban di mana tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi pemberontakan, dan tidak ada kebebasan—hanya ada kepatuhan total di bawah satu kekuasaan mutlak. Di bawah kepemimpinan tunggalku."

Ia tersenyum, senyum yang mengerikan dan penuh kesombongan. Tangannya yang kuat dan kasar menjambak rambut Alon, menarik kepala sahabatnya itu agar mereka saling berhadapan tepat di depan mata.

"Aku lebih baik memerintah di atas singgasana yang terbuat dari reruntuhan mayat dan debu, daripada harus berbagi takhta di surga yang palsu bersamamu," bisik Jack dengan nada yang bergetar penuh ambisi gila. "Dan kekuatanmu... penguasaan mutlakmu terhadap arus waktu... itulah harga mahal yang harus kubayar. Esensi waktumu akan menjadi bahan bakar utama untuk memanggil kembali pasukan neraka yang jauh lebih besar, pasukan yang akan menaklukkan dunia ini sepenuhnya kali ini."

Saat Jack mulai merapalkan mantra kuno dalam bahasa yang keras dan mendengung, cahaya ungu mulai keluar dari telapak tangannya, perlahan menyedot sisa-sisa energi kehidupan dan benih kekuatan waktu yang masih tertinggal di tubuh Alon. Rasa sakit itu melampaui apa pun yang pernah dirasakan manusia. Namun, di tengah siksaan itu, di ambang batas kematiannya yang pasti, Alon von Graham justru membuka matanya lebar-lebar. Di saat tubuhnya hancur lebur dan jiwanya terancam dicabut, ia akhirnya menyentuh hakikat waktu yang sebenarnya, sebuah rahasia yang tersembunyi di balik tabir realitas.

Waktu bukanlah garis lurus yang berjalan ke depan saja. Ia adalah sungai besar yang berkelok, berputar, dan bisa dibalikkan arusnya oleh mereka yang cukup gila dan berani untuk tenggelam ke dalam dasarnya.

"Jika kau menginginkan kegelapan, Jack..." bisik Alon. Suaranya yang parau tiba-tiba bergema kuat, berpadu dengan energi magis yang meledak-ledak, seolah ribuan suara orang berbicara serentak dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. "Maka aku akan membawamu masuk ke dalamnya selamanya."

Dengan sisa nyawa yang tinggal sedikit dan kekuatan tekad yang jauh melampaui batas kemampuannya, Alon tidak hanya menahan kutukan yang memakan tubuhnya. Ia memutar balik takdir di seluruh wilayah Bukit Bangkai itu. Tanah di bawah mereka berguncang hebat, bergemuruh seolah bumi itu sendiri sedang marah. Retakan-retakan besar terbuka di mana-mana, dan dari celah-celah tanah itu, tangan-tangan kerangka yang kering, rapuh, dan berlumuran sisa-sisa daging mulai mencuat keluar.

Ribuan jasad yang telah dikubur selama sepuluh tahun lamanya—baik itu pasukan manusia yang gugur maupun makhluk neraka yang dikalahkan—bangkit kembali dari tidur panjang mereka. Mata tengkorak mereka menyala dengan api hijau pucat, bukan lagi sebagai pelayan iblis atau pasukan pembunuh, melainkan sebagai tentara pembalas dendam yang terikat sepenuhnya pada kemarahan dan kehendak terakhir Alon von Graham.

Dari titik itulah, perang saudara yang paling mengerikan dalam sejarah Arkheim dimulai. Sebuah perang yang berlangsung selama sepuluh tahun penuh, di mana sang pengendali waktu yang tubuhnya perlahan membusuk terus mengejar sang pengkhianat yang kini memegang pedang iblis dan kekuatan kegelapan. Di setiap langkah perjalanan itu, kota-kota hancur, hutan-hutan menjadi gundul, dan sungai-sungai berubah warna menjadi merah darah. Alon terus hidup dalam siksaan abadi, menahan pembusukan tubuhnya hanya dengan satu tujuan: menghentikan ambisi sahabatnya yang telah menjadi monster.

Hingga akhirnya, takdir membawa mereka kembali ke tempat yang paling pantas untuk sebuah akhir: Lembah Kematian, tempat di mana udaranya begitu tipis hingga nyawa sulit bertahan.

Di sana, Alon berdiri tegak meski tubuhnya tinggal separuh daging dan tulang, wajahnya pucat dan penuh luka, namun matanya masih menyala dengan sisa-sisa cahaya kehidupan yang tak tergoyahkan. Di hadapannya, Jack von Granadia tergeletak di tanah, bersimbah darah dari ratusan luka yang didapatnya selama sepuluh tahun pelarian dan pertempuran. Pedang legendaris Slash yang dulu dianggap tak terkalahkan kini telah retak dan patah di tengah, tak lagi berkilau, dan kehilangan seluruh kekuatannya.

Di bawah langit kelabu yang sama persis seperti sepuluh tahun lalu, Alon melangkah mendekat. Napasnya berat, namun suaranya terdengar tenang, bergetar bukan karena marah, melainkan karena kesedihan yang mendalam dan tak terukur.

"Inilah akhirnya..." ucap Alon pelan, matanya menatap wajah sahabat lamanya yang kini penuh luka dan kepayahan. "Kita telah menghancurkan segalanya demi ambisi dan kesalahpahaman, Jack. Kau yang dulu aku kagumi, kau yang dulu aku percaya... telah lama mati, digantikan oleh bayangan yang haus kekuasaan."

Alon mengangkat senjatanya, sebilah belati kuno yang ia buat sendiri dari sisa-sisa jiwanya. Tangannya tidak lagi gemetar.

"Selamat tinggal, temanku... sahabatku... dan musuhku."

Dengan satu gerakan yang mantap namun penuh kepedihan, Alon menancapkan senjatanya tepat ke jantung Jack, menembus sisa-sisa perlindungan sihir gelap yang masih tersisa. Tubuh Jack tersentak hebat, matanya terbelalak seolah ingin mengatakan sesuatu yang terlambat, sebelum akhirnya cahaya ungu di matanya padam selamanya. Napas terakhirnya terhembus, lenyap bersama angin yang membawa debu peradaban yang telah mereka rusak berdua.

Dan di sanalah, di antara tumpukan mayat dan reruntuhan mimpi, Alon von Graham akhirnya membiarkan dirinya runtuh. Tugasnya selesai, pembalasannya tuntas, dan kini saatnya baginya untuk ikut tenggelam ke dalam kegelapan yang sama, menyusul sahabatnya ke alam kematian yang abadi.

kegelapan yang masih berlanjut

Seratus Tahun Kemudian...

Bau amis besi berkarat dan sisa-sisa darah kering menusuk tajam ke dalam rongga hidung, menguap memenuhi setiap jengkal udara di ruang bawah tanah yang pengap itu. Aroma itu bercampur dengan bau logam dingin, keringat ketakutan, dan hawa kematian yang telah mengendap selama berabad-abad, menciptakan bau khas tempat di mana manusia memainkan peran sebagai dewa—dan gagal secara mengerikan. Di sudut ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin berkedip yang redup, suara gesekan rantai berat beradu dengan lantai batu kasar terdengar jelas, seolah menjadi irama penderitaan yang tak berujung, musik pengiring bagi jiwa-jiwa yang terperangkap di dalam neraka buatan ini.

Di sana, terbaring sesosok anak kecil yang tubuhnya tampak ringkih namun memancarkan aura aneh yang tak terdefinisi. Seluruh tubuhnya penuh dengan jejak luka—bekas sayatan, tusukan, dan irisan yang baru maupun lama—diselimuti perban-perban putih yang kini telah berubah warna menjadi cokelat tua oleh darah kering dan debu kotor. Anak itu memiliki rambut berwarna perak bercampur helaian hitam pekat, sebuah ciri genetik langka yang diwarisi dari garis keturunan yang sangat spesial. Namun, yang paling menakjubkan sekaligus mengerikan adalah sepasang matanya; bola mata berwarna biru safir yang bersinar terang di tengah kegelapan, berkilauan seperti permata berharga yang ditempatkan sembarangan di atas tumpukan sampah.

Anak itu belum memiliki nama panggilan yang layak disebut manusia. Sejak ia ditarik keluar dari rahim ibunya yang telah mati, ia memang tidak dilahirkan untuk hidup sebagai manusia biasa. Ia diciptakan, dibesarkan, dan dipelihara hanya untuk satu tujuan: menjadi wadah. Sebuah bejana daging dan tulang yang disiapkan khusus untuk menampung kekuatan yang melampaui akal sehat. Di dalam catatan-catatan tebal berdebu milik para ilmuwan gila yang mengelola tempat ini, ia hanya tercatat sebagai sebuah kode angka: 01.

Kakinya terbelenggu oleh rantai sihir yang sangat kuat, material yang diambil dari sisa-sisa senjata legendaris masa lalu, dirancang khusus agar tidak bisa dipatahkan oleh kekuatan manusia biasa maupun makhluk magis. Namun, di tengah rasa sakit yang menjalar di setiap inci tubuhnya dan rasa haus yang menyiksa, langkah kaki berat akhirnya terdengar mendekat. Pintu besi tua yang berkarat berderit terbuka, dan sesosok bayangan tinggi melangkah masuk.

Itu adalah kakaknya, makhluk yang lahir dua tahun lebih awal darinya, subjek eksperimen sebelumnya yang dianggap paling sukses. Namanya di sini adalah 02.

Penampilan 02 berbeda jauh dengan adiknya. Ia memiliki rambut hitam pekat yang jatuh berantakan menutupi sebagian wajahnya, namun daya tarik utamanya ada pada matanya. Sepasang bola mata berwarna ungu tua yang dalam, hasil rekayasa genetika yang rumit dan serangkaian eksperimen mengerikan yang pernah ia jalani demi memodifikasi struktur tubuh dan jiwanya. Di dalam tubuh muda itu, mengalir darah yang sama dengan 01—darah keturunan langsung dari Raja Granadia, Jack von Granadia, sang pengkhianat besar yang kisah kejatuhannya telah menjadi legenda kelam seratus tahun silam. Namun, takdir kebesaran dan kekuasaan yang dulu diimpikan leluhur mereka itu kini telah berganti menjadi takdir penderitaan abadi di dalam laboratorium mengerikan ini.

02 berlutut di lantai batu yang dingin dan lembap, mendekatkan wajahnya ke arah adiknya yang terbaring lemah. Di balik tatapan matanya yang dingin dan tajam, tersimpan kasih sayang satu-satunya yang masih tersisa di tempat yang penuh dengan kekejaman ini. Ia mengulurkan tangan, berusaha menyentuh pipi adiknya dengan lembut, takut sedikit saja tekanan akan membuat tubuh kecil itu hancur.

"Dek... Sakit ya?" bisik 02, suaranya rendah dan bergetar, berusaha menahan emosi yang meluap agar tidak terdengar sedih. "Tahan sedikit lagi ya... Tenang saja, Kakak janji. Apa pun yang terjadi, Kakak akan cari jalan. Kakak akan pastikan kita berdua bisa keluar dari tempat terkutuk ini hidup-hidup."

01 hanya diam, tak menjawab sepatah kata pun. Mulutnya tertutup rapat, bukan karena diikat, melainkan karena rasa sakit dan guncangan jiwa yang membuatnya sulit bereaksi. Matanya yang biru berkilauan itu hanya menatap kosong ke arah kakaknya, namun di dalam tatapan itu, ada rasa percaya dan ketergantungan yang mendalam. Di dunia yang hanya berisi rasa sakit dan ketakutan ini, 02 adalah satu-satunya titik terang, satu-satunya hal yang membuatnya masih bertahan bernapas.

Namun, momen singkat kehangatan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, pintu besi berat di ruangan itu ditarik terbuka lebar dengan kasar, menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga. Cahaya obor dari luar masuk menyerang mata mereka, diikuti oleh sosok jangkung yang berjalan dengan langkah penuh percaya diri dan kejam. Ia adalah Kepala Dokter, orang yang dianggap sebagai dewa kecil di tempat ini, sosok di balik ribuan eksperimen yang gagal dan ratusan kematian mengerikan. Wajahnya yang keriput dan pucat menyunggingkan senyum menyeringai yang menjijikkan, senyum seorang ilmuwan yang sedang melihat hasil penelitiannya yang paling berharga.

"Nah... Lihat siapa yang ada di sini," ucap pria itu dengan nada bicara yang lembut, manis, namun terdengar sangat palsu dan memuakkan, seolah sedang berbicara pada binatang peliharaan. "02... Anak pintarku. Sekarang giliranmu tiba, sayang. Ayo, ikut 'Papah' ke ruangan sebelah. Ada sesuatu yang indah dan hebat yang sedang menunggumu di sana."

Mendengar kata-kata itu, aura di sekeliling 02 berubah seketika. Tubuh anak itu menegang, tangannya mengepal kuat hingga kuku menancap ke telapak tangannya sendiri. Ia menatap tajam ke arah dokter itu, matanya yang ungu menyala dengan api kemarahan yang murni.

"Diam kau, dasar dokter gila!" bentak 02 dengan suara lantang dan bergetar, matanya membelalak menahan amarah yang meledak. "Jangan pernah berani menyebut dirimu sebagai orang tuaku! Kau hanyalah iblis yang menyamar dalam wujud manusia!"

Wajah Kepala Dokter yang tadi tersenyum manis seketika berubah menjadi dingin dan datar, ekspresi yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan apa pun. Ia menghela napas pelan, lalu mengangkat tangan memberi isyarat ke belakang tubuhnya.

"Huh... Manusia kecil yang tidak tahu diri. Kalau disuruh baik-baik malah membangkang," gumamnya sinis. "Penjaga! Masuk! Bawa dia ke ruang eksperimen utama sekarang! Dan pastikan ikatannya cukup kencang, jangan sampai subjek berharga ini merusak perlengkapan kita."

Beberapa sosok berbadan besar berpakaian baja masuk, menyeret paksa 02 yang meronta dan berteriak marah menjauh dari adiknya. 01 hanya bisa menatap dari kejauhan, tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak, air mata diam-diam menetes dari mata birunya.

Sesampainya di ruangan eksperimen utama, suasana menjadi jauh lebih mengerikan. Ruangan itu luas, dingin, dan penuh dengan peralatan tajam serta botol-botol kaca berisi cairan berwarna aneh yang berkilauan. Di tengah ruangan, terdapat meja bedah lebar yang terbuat dari batu hitam yang dingin, di mana 02 dibaringkan dan diikat sangat kuat pada keempat anggota tubuhnya. Tali-tali itu bukan sekadar kain atau kulit, melainkan tambatan energi yang menekan aliran sihir di dalam tubuhnya, mematikan segala potensi perlawanan.

"Hari ini..." suara Kepala Dokter bergema di ruangan itu, penuh dengan antusiasme gila, "adalah hari bersejarah. Ini adalah fase terakhir dari seluruh penelitian kita selama satu abad lebih. Penyatuan sempurna: Penanaman Jiwa."

Dokter itu mengenakan sarung tangan panjang yang sudah berlumuran darah, lalu mendekat ke arah wajah 02 yang terikat tak berdaya. Dengan senyum yang menyeramkan, ia mengambil sepasang penjepit bedah yang tajam dan berkilauan. Tanpa rasa belas kasih sedikit pun, dan dengan ketangkasan seorang pembunuh berpengalaman, ia mulai aksinya.

Rasa sakit yang mengerikan itu meledak seketika. Dokter itu mencungkil dan mencabut sepasang mata indah berwarna ungu milik 02 dari rongganya, satu per satu. Darah segar mengucur deras membasahi sisi wajah dan rambut hitam anak itu. Namun, penderitaan itu belum berakhir. Dokter itu segera mengganti bola mata asli itu dengan dua benda bulat berwarna ungu tua yang memancarkan aura jahat dan gelap—bola mata asli milik sesosok entitas yang telah mereka simpan dan pelihara selama ratusan tahun: milik Dewa Iblis.

"Kau akan melihat dunia dengan cara yang jauh lebih indah dan benar, Nak..." bisik dokter itu.

Setelah penggantian organ penglihatan selesai, bagian yang paling mengerikan pun dimulai. Di sekeliling meja bedah, para asisten mulai merapalkan mantra kuno dan menyalakan segel-segel sihir penghisap. Mereka mulai memaksakan masuk sesuatu yang jauh lebih besar dan berat daripada sekadar organ tubuh: sebuah jiwa. Sebuah esensi keberadaan yang murni, jahat, dan sangat kuat dipaksa masuk, didorong, dan disatukan ke dalam tubuh muda 02 yang masih berdarah itu.

"AAAAAAARRGGHHHHHHHHH!!!!!!"

Jeritan kesakitan 02 menggema menggelegar memenuhi seluruh bangunan bawah tanah itu, menembus dinding-dinding tebal batu hingga ke lorong-lorong terjauh. Tubuh kecilnya bergetar hebat, melengkung ke atas seolah ingin terlepas dari ikatan, urat-urat di leher dan lengannya menonjol keluar. Rasanya seperti dipaksa menampung samudera yang luas ke dalam sebuah gelas kecil, seperti disiksa oleh ribuan pisau yang memotong jiwanya dari dalam. Hingga akhirnya, di tengah rasa sakit yang melampaui batas toleransi manusia, tubuh 02 tiba-tiba menjadi kaku sepenuhnya, lalu lemas tak berdaya. Kesadaran manusia di dalam dirinya padam, tergantikan oleh kekuatan yang jauh lebih tua dan dahsyat.

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat. Hanya terdengar suara napas tak beraturan para ilmuwan yang menahan rasa penasaran dan ketakutan.

Perlahan namun pasti, sosok yang terbaring di meja bedah itu membuka matanya kembali.

Namun, saat kelopak mata itu terangkat, apa yang ada di sana bukan lagi tatapan seorang anak manusia bernomor 02. Cahaya di bola matanya yang baru itu berkilau tajam, penuh dengan keangkuhan, kekuasaan, dan rasa haus akan penaklukan yang tak terbatas. Aura yang dipancarkan tubuhnya begitu kuat hingga membuat peralatan-peralatan logam di sekitar ruangan itu bergetar dan berdering.

Ia bangkit duduk dengan tenang, seolah rasa sakit tadi hanyalah ilusi belaka. Ikatan yang mengikatnya putus begitu saja seolah terbuat dari benang tipis. Ia turun dari meja bedah, menjejakkan kakinya ke lantai batu dengan wibawa seorang penguasa tertinggi.

"AHAHAHAHAHA!!"

Tawanya bergema berat dan dalam, mengguncang seluruh struktur bangunan di atas mereka. Dinding-dinding retak sedikit, dan debu-debu batu berjatuhan dari langit-langit. Sosok itu menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan dengan tatapan merendahkan, seolah melihat serangga-serangga kecil yang hina.

"Akhirnya... Setelah sekian lama terperangkap dalam kegelapan dan menunggu... Aku kembali ke dunia fana ini," ucapnya dengan suara yang memiliki berat ribuan tahun sejarah. Ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantung barunya yang kuat dan sehat. "Tubuh ini... daging ini... sangat sempurna. Padat, muda, dan mampu menampung seluruh esensiku tanpa retak sedikit pun. Lebih baik dari yang aku bayangkan."

Ia melirik rendah ke arah para ilmuwan dan dokter yang kini sudah berlutut tak sadarkan diri karena tekanan aura mengerikan itu.

"Kalian... para makhluk kecil yang gila dan ambisius," ucapnya dingin. "Kalian telah memanggilku kembali, dan kalian telah memberikanku wadah ini. Maka sebagai balasannya... bersyukurlah, karena kalian akan diizinkan hidup sedikit lebih lama dari makhluk lain. Sekarang... berlututlah kalian semua di kakiku! Lakukan sumpah darah mutlak dan mengaku sebagai pengikut setiaku, atau aku akan menghancurkan jiwa kalian saat ini juga!"

Tanpa bisa menolak sedikit pun, di bawah tekanan kekuatan murni seorang dewa iblis, mereka semua bersujud dalam ketakutan, melukai tangan mereka sendiri untuk mengambil darah dan mengucapkan sumpah setia abadi. Sosok itu—yang kini menamai dirinya Niel, Sang Dewa Iblis Kedua dan Penguasa Segala Jiwa—hanya menatap dingin upacara itu selesai.

Setiap orang telah bersumpah, Kepala Dokter yang kini pucat pasi namun penuh rasa bangga berani maju satu langkah ke depan, berbicara dengan suara yang bergetar menahan takut.

"Tuanku... Kekuatan Agung... Masih ada satu hal lagi yang perlu kami laporkan," ucapnya hormat. "Di sel tahanan, masih ada satu wadah lain. Anak laki-laki itu... saudara dari wadah yang Engkau gunakan saat ini. Kami belum sempat melakukan proses penanaman jiwa dan pemasangan mata Dewa Iblis padanya. Ia masih utuh, menunggu gilirannya."

Niel mendengus pelan, nada malas dan tidak tertarik terlihat di wajahnya. Ia mulai berjalan menuju singgasana darurat yang dibuatkan oleh para pengikut barunya.

"Begitukah?" ucap Niel acuh tak acuh. "Lalu, Dewa atau entitas mana yang ingin kalian tanamkan ke dalam wadah kecil itu? Siapa lagi yang cukup berharga untuk ditempatkan di tubuh keturunan Granadia selanjutnya?"

Kepala Dokter mengangkat wajahnya, matanya berkilat penuh ambisi dan kegilaan yang lebih besar dari sebelumnya.

"Dewa dari segala Dewa Iblis... Sang Penguasa Awal Mula, pencipta dari seluruh esensi kegelapan yang ada di dunia ini... Lein," jawab dokter itu dengan penuh semangat dan rasa hormat yang meluap-luap.

WUSH!

Dalam sekejap mata, bayangan Niel bergerak begitu cepat hingga mata manusia biasa tak mampu menangkapnya. Dalam sepersekian detik, tangannya yang kuat telah mencengkeram leher sang dokter, mengangkat tubuh pria itu tinggi-tinggi hingga kakinya sama sekali tak menyentuh lantai batu. Aura membunuh yang mengerikan meluap dari tubuh Niel, membuat suhu ruangan turun drastis menjadi membeku.

"APA YANG KAU PIKIRKAN?!" desis Niel dengan suara rendah namun berbahaya, matanya menyala merah padam karena marah. "Kau gila?! Kau ingin memasukkan jiwa Dewa Iblis Pengkhianat itu ke dalam wadah kecil yang belum teruji itu?! Kau sadar tidak apa risikonya?! Bagaimana jika dia bangkit, memberontak, dan lepas kendali?! Tidak ada satu pun dari kalian yang akan mampu mengendalikannya, bahkan aku pun akan kesulitan jika dia terbangun sepenuhnya!"

"Te-tenanglah, Tuanku... uhuk! uhuk!" dokter itu terbatuk-batuk kesakitan, wajahnya membiru namun ia berusaha menjelaskan diri sekuat tenaga. "A-aku sudah mengantisipasi semuanya, Tuanku! Sebelum penanaman,

Baiklah lakukan ritual nya ujar niel

kebangkitan seorang anak kecil

Kepala Dokter kembali melangkah masuk ke dalam ruang tahanan yang suram itu, diikuti oleh barisan penjaga bersenjata lengkap yang langkah kakinya menggema keras di atas lantai batu yang dingin dan lembap. Ruangan itu berbau apek, berkarat, dan bercampur dengan aroma darah tua yang tak pernah hilang dari celah-celah dinding. Di sudut paling gelap, masih terbaring sosok kecil itu—01—yang tubuhnya tampak rapuh namun memancarkan hawa dingin yang tak terdefinisi, seolah keberadaannya sendiri adalah sebuah benda terlarang yang disegel paksa di sana.

Di bawah cahaya redup obor yang bergoyang-goyang, Kepala Dokter menyeringai lebar, wajahnya yang keriput dan penuh noda usia terlihat semakin mengerikan. Matanya yang berbinar gila menatap anak itu seolah sedang melihat harta karun paling berharga yang akhirnya siap untuk digali habis.

"Hei, 01! Bangunlah, bocah nakal!" serunya dengan suara melengking yang menyakitkan telinga, disusul tawa panjang yang menggema mengerikan. "Hahahahaha! Kini saatnya giliranmu bersinar, Nak! Namun sebelum kita mulai ritual besar itu... ada seseorang yang sangat agung ingin menemuimu dulu. Atau, boleh jadi aku harus menyebutnya dengan panggilan yang lebih manis bagimu... Kakakmu sendiri! Hahahahaha!"

Namun, 01 tetap diam. Tak ada jawaban, tak ada satu pun gerakan yang berarti. Tubuhnya yang terbelenggu rantai sihir itu hanya diam mematung, namun sepasang mata biru safirnya yang bersinar terang di kegelapan itu menatap lurus ke arah dokter tua itu. Tatapan itu kosong namun tajam, dingin dan penuh kebencian yang terpendam dalam diam, seolah menatap seekor serangga menjijikkan yang tak layak hidup di dunia yang sama dengannya.

Di kebisuan yang menegangkan itu, tiba-tiba sebuah suara berat, parau, dan penuh dengan tekanan magis yang dahsyat keluar dari mulut anak kecil itu. Suara yang seharusnya tidak mungkin dimiliki oleh makhluk yang diklaim telah dicuci otak dan kehilangan seluruh emosinya.

"Matilah kau..."

BUGH!

Secepat kilat, tekanan udara yang luar biasa pekat meledak keluar dari tubuh kecil 01. Gelombang kekuatan tak kasat mata itu menghantam seluruh isi ruangan bagai palu raksasa yang diayunkan oleh tangan maut. Dalam sekejap mata, Kepala Dokter dan para penjaga yang berdiri di belakangnya langsung tersungkur ke lantai yang keras dan kotor. Napas mereka tercekat hebat, seolah ada gunung besar yang tiba-tiba menindih dada dan paru-paru mereka, membuat mereka sulit bernapas bahkan untuk sekadar berteriak kesakitan.

"Ughk... uhuk! Uhuk! Kau... dasar bocah sialan...!" Kepala Dokter bergulingan di lantai, wajahnya membiru sambil terbatuk-batuk hebat, menatap 01 dengan pandangan tak percaya bercampur amarah.

"CUKUP!!"

Sebuah suara garang dan menggelegar membelah udara, memotong kekacauan yang baru saja terjadi. Di ambang pintu yang gelap, sosok tinggi besar muncul perlahan. Itu adalah Niel. Aura yang dipancarkannya begitu pekat dan gelap, membuat bayangannya sendiri tampak seolah bergerak hidup dan menari-nari mengerikan di sekeliling kakinya. Matanya yang berwarna ungu tua menyala tajam, menatap ke arah dokter yang masih tergeletak lemah di lantai.

"Hei kau... dokter gila yang penuh kebohongan!" hardik Niel dingin, nadanya penuh ancaman maut. "Bukankah mulutmu yang berbau busuk itu tadi berkata padaku, bahwa anak ini sudah kehilangan seluruh emosinya, sudah dicuci otaknya, dan tidak akan pernah mampu memberontak?! Apakah ini yang kau sebut patuh dan pasrah?!"

"Maafkan aku, Tuanku! Uhuk... uhuk! Ampuni hamba!" Dokter itu merangkak ketakutan, wajahnya pucat pasi. "Na-nampaknya... subjek ini memiliki kemampuan bawaan yang unik, sesuatu yang tidak tercatat dalam data penelitian kami generasi demi generasi! Kami tidak menduga ia akan mampu melepaskan tekanan jiwa sebesar ini dalam keadaan terbelenggu sekalipun!"

Niel menghela napas panjang, berusaha menahan kemarahannya yang meluap. Ia melangkah mendekat ke arah 01, menatap lekat-lekat wajah adiknya itu. Perlahan, senyum sinis dan penuh ketertarikan terukir di bibirnya.

"Hoh... menarik sekali," gumam Niel pelan namun cukup terdengar. "Hey kau, bocah kecil... nampaknya kau bukan sekadar wadah kosong biasa ya, 01? Kau memiliki api yang membara di dalam dirimu, sama panasnya dengan api yang ada di dalam darahku. Atau... boleh aku memanggilmu dengan sebutan itu? 'Adikku'? Hahahahaha!"

Namun, reaksi 01 jauh lebih mengerikan daripada sekadar diam. Anak itu mengangkat kepalanya, menatap lurus ke mata ungu Niel dengan pandangan yang terbakar penuh kemarahan dan kebencian murni. Di balik tatapan itu, masih tersisa ingatan tentang sosok kakak yang dulu berjanji akan melindunginya.

"Hei kau... Iblis bajingan!" teriak 01, suaranya melengking namun penuh wibawa yang aneh. "Kembalikan tubuh kakakku! Keluarlah dari sana dan kembalikan dia padaku!!"

Bersamaan dengan ucapan itu, hawa membunuh yang begitu intens meledak lagi, kali ini jauh lebih tajam dan mematikan, seolah ribuan pisau tak terlihat mengiris udara di sekitar mereka. Niel merasa dirinya benar-benar terancam; insting bertahannya yang sebagai Dewa Iblis langsung bereaksi meski kekuatannya di tubuh baru ini belum sepenuhnya stabil dan matang.

"Kurang ajar...!"

Tanpa ampun dan tanpa ragu sedetik pun, Niel menggerakkan tangannya ke depan sambil merapalkan mantra singkat yang mematikan.

"Instan Kill!"

Sebuah sinar gelap berwarna ungu pekat melesat cepat tak terhindarkan, menghantam dada kanan tubuh kecil 01 seketika. Tubuh anak itu terlempar ke belakang, menghantam dinding batu kasar dengan kekuatan besar sebelum jatuh terperosok ke lantai. Darah segar seketika mengucur dari sudut bibir dan luka baru di dadanya. Ia belum mati, namun kesadarannya runtuh seketika, tubuhnya menjadi lemas tak berdaya dan terbaring diam dalam pingsan.

"Cih... menyusahkan sekali," desis Niel sambil mengibaskan tangannya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. Ia menoleh ke arah dokter dan para penjaga yang masih gemetar ketakutan. "Dokter! Bawa dia segera ke ruang laboratorium utama! Mulai prosesnya sekarang juga sebelum dia bangkit lagi dan mengamuk! Dan kalian... bereskan kekacauan di sini, hapus semua jejak kerusakan ini. Aku akan pergi memeriksa wadah-wadah lain yang tersisa di kompleks ini."

"Siap, Tuanku! Kami laksanakan sekarang juga!" seru mereka serempak dengan gemetar.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, tubuh kecil 01 yang penuh luka itu segera dibawa tergopoh-gopoh menuju ruang eksperimen utama, tempat di mana takdir mengerikan telah menunggunya. Ruangan itu lebih luas, lebih dingin, dan jauh lebih mengerikan dibanding sel tahanan. Di tengah ruangan berdiri meja bedah raksasa dari batu hitam, dikelilingi oleh ratusan botol kaca berisi cairan berwarna-warni dan alat-alat bedah yang tajam dan berkilauan.

01 dibaringkan di atas meja itu, dan ikatan-ikatan sihir yang jauh lebih kuat—terbuat dari rantai yang disegel mantra penekan energi—langsung mengikat keempat anggota tubuhnya dengan sangat kencang. Proses yang akan dilakukan kali ini jauh lebih sulit, jauh lebih berbahaya, dan memiliki risiko kematian seratus persen. Mereka tidak hanya akan menanamkan jiwa, tetapi menyuntikkan esensi kehidupan itu sendiri secara langsung ke dalam aliran darahnya.

"Perisapkan suntikan utama! Siapkan bejana berisi darah murni!" teriak Kepala Dokter dengan napas memburu, campuran antara rasa takut dan antusiasme gila. "Kita akan menyatukan darah manusia keturunan Granadia dengan darah murni milik Lein... Sang Dewa Iblis Awal Mula, Bapak dari segala makhluk kegelapan!"

Cairan merah tua yang hampir hitam, bergetar karena energi yang tersimpan di dalamnya, disuntikkan secara paksa dan perlahan masuk ke dalam pembuluh darah lengan kiri 01. Saat cairan itu mulai bercampur, tubuh anak yang sempat pingsan itu seketika tersentak bangkit kembali. Matanya terbelalak lebar, mulutnya terbuka lebar memekikkan jeritan kesakitan yang mengerikan, suara yang penuh penderitaan hingga membuat bulu kuduk para asisten yang menyaksikannya meremang ngeri.

Tubuhnya bergetar hebat, melengkung ke atas seolah ingin merobek ikatannya. Secara alami, darah manusia tidak akan pernah bisa menyatu dengan darah para dewa iblis kuno itu tanpa membawa konsekuensi fatal. Itu adalah percampuran antara air dan api, antara kehidupan murni dan kehancuran mutlak. Setiap sel di tubuhnya terbakar, direkonstruksi, dan dihancurkan kembali berulang kali oleh kekuatan purba yang memasuki raganya.

"Tambah dosisnya! Cepat! Jangan berhenti!" teriak dokter itu panik namun penuh tekad. "Kita harus selesaikan penyatuan ini sepenuhnya sebelum proses adaptasi tubuhnya gagal total!"

"Siap! Menaikkan ke dosis maksimal! Semua cairan akan dimasukkan sekaligus!"

Namun, takdir seolah tidak mengizinkan rencana keji itu berjalan mulus. Belum sempat proses itu mencapai puncaknya, gempa hebat tiba-tiba mengguncang seluruh bangunan bawah tanah itu.

DRAAARR!!

Dinding-dinding raksasa berguncang hebat, debu dan batu-batu besar berjatuhan dari langit-langit. Sirene alarm bahaya berbunyi nyaring dan panjang, suara yang menandakan bahwa penghalang pertahanan luar telah ditembus.

"Cih... sialan! Mereka sudah datang lebih cepat dari perkiraan!" geram Kepala Dokter, wajahnya berubah merah padam karena marah. Ia berbalik menatap sosok pria yang berdiri diam di sudut ruangan, matanya kosong dan gerakannya kaku seolah boneka yang dikendalikan benang tak terlihat.

"Peter Von Granadia!" seru dokter itu keras. Pria itu adalah ayah kandung 01 dan 02, manusia yang kini telah diubah menjadi budak tanpa kehendak sendiri oleh sihir gelap. "Lindungi subjek penelitian ini dengan nyawamu! Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan ini walau nyawamu harus kau korbankan!"

Kemudian ia berteriak ke arah Kapten Pasukan Iblis yang sedang bersiap di pintu keluar. "Kapten! Panggil seluruh pasukan iblis di kompleks ini! Kerahkan semua boneka dan prajurit kegelapan! Lawan penyusup itu sampai mati! Hancurkan mereka semua!"

Di bagian depan kompleks bawah tanah itu, di mana gerbang-gerbang raksasa dan benteng pertahanan berada, pasukan penyerang akhirnya tiba. Mereka adalah kekuatan utama umat manusia, pasukan yang dikirim untuk membasmi sarang kejahatan ini hingga ke akar-akarnya. Berdiri gagah di sana adalah 12 Rasul—para pahlawan terkuat yang memiliki kekuatan mendekati dewa—didampingi oleh 4 Elder, para tetua bangsa yang memegang pengetahuan dan kekuatan kuno.

Di barisan paling depan, memimpin langsung pasukan Rasul dengan pedang terhunus dan aura emas yang menyilaukan, adalah Raja Graham yang baru naik takhta, Andreas von Graham. Di sisinya, berdiri mantan Raja Graham, Agustin von Graham, yang memimpin para tetua dengan wajah serius dan penuh tekad. Darah Graham mengalir deras di tubuh mereka, membawa sumpah suci untuk membasmi sisa-sisa kegelapan dari garis keturunan pengkhianat masa lalu.

"Serang!! Hancurkan semua yang ada di dalam sana! Jangan biarkan ada yang lolos!"

Dengan satu aba-aba dari Raja Andreas, pertempuran dahsyat pun meletus. Serangan pertama yang paling mengerikan dilancarkan oleh Rasul Kelima, Kai Hanale, keturunan keluarga Hanale yang memiliki kendali penuh atas elemen air dan kekacauan. Dengan satu ayunan tangannya yang anggun namun mematikan, kemampuan spesialnya—Laut Kekacauan—terlepas. Gelombang air raksasa bermunculan begitu saja dari tanah, membentuk tsunami buatan yang menyapu bersih segala sesuatu di jalurnya. Pasukan iblis, monster buatan, dan penghalang sihir hancur lebur tak bersisa disapu oleh kekuatan itu.

Pasukan manusia terus menembus masuk, membabat habis setiap penjaga yang menghadang, mendekat semakin dalam ke jantung laboratorium itu, hingga akhirnya mereka sampai di ruangan eksperimen utama. Namun, apa yang terlihat di sana membuat langkah seribu pasukan itu terhenti seketika dalam kebisuan yang mencekam.

Di tengah ruangan yang berantakan dan berdarah, di atas tumpukan mayat para ilmuwan dan penjaga iblis yang sudah tak bernyawa, berdiri sesosok anak kecil yang tubuhnya penuh luka dan darah. Di tangan kanannya yang mungil namun bergetar hebat, ia mencekik leher seorang pria dewasa yang jauh lebih besar darinya. Pria itu tergantung di udara, wajahnya membiru dan matanya melotot kosong. Itu adalah Peter Von Granadia, ayah kandung dari anak kecil itu, yang kini tubuh dan jiwanya telah dikendalikan sepenuhnya oleh kekuatan gelap anaknya sendiri.

Anak kecil itu adalah 01.

 

(Flashback: Sepuluh Menit Sebelumnya)

Di tengah rasa sakit yang tak tertahankan, saat darah Dewa Iblis Lein mulai membakar setiap inci tubuh dan jiwanya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Batas-batas kemampuan genetik yang terwarisi dari Jack von Granadia bercampur dengan pengaruh darah Dewa Awal Mula, menciptakan mutasi yang unik dan mengerikan. Kemampuan terpendam milik 01 akhirnya terbangun sepenuhnya: Pengambilalihan Paksa.

Sebuah kekuatan terlarang yang memungkinkannya mencuri, menelan, dan menguasai kemampuan, energi, bahkan kehendak makhluk lain hanya dengan satu sentuhan kulit.

Saat para dokter sibuk memantau alat-alat mereka, 01 yang masih terikat berhasil menyentuh lengan salah satu penjaga yang sedang memegangnya. Dalam sekejap, ia mencuri kekuatan petir yang dimiliki penjaga itu. Dengan energi baru yang meledak-ledak itu, ikatan sihir di tubuhnya hancur berkeping-keping.

"AAAAAA!!! MATI KALIAN SEMUA!!"

01 mengamuk bagai badai pembinasaan. Petir biru dan ungu menyambar ke kiri dan ke kanan, menghancurkan seluruh peralatan canggih, membakar para ilmuwan hingga jadi abu, dan merobek tubuh para pengawal tanpa ampun. Ia bergerak begitu cepat dan ganas, seolah menjadi malaikat maut yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Hanya tersisa satu orang yang hidup: Peter Von Granadia, ayahnya sendiri, yang tubuhnya kini dikendalikan sepenuhnya oleh sihir 01, berubah menjadi boneka tak berdaya di tangan anaknya.

"Bajingan... dasar para iblis terkutuk... mati sajalah kalian semua!!" teriak 01 dengan mata yang membelalak lebar, penuh kemarahan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu, tepat di saat pintu ruangan itu terbuka lebar dan para Rasul serta pasukan manusia mulai masuk.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!