"Indahnya hidup ini!"
Seorang gadis asia dengan paras yang sangat manis merentangkan tangannya lebar-lebar sambil tersenyum ceria.
Alea Winslow. Nama gadis itu. 22 tahun. Motto hidupnya adalah:
Hidup itu seperti main game. Kadang menang, kadang kalah, yang penting jangan game over.
Alea baru turun dari dari pesawat. Kopernya yang super duper besar itu agak kesulitan dia bawah, tapi itu tidak menyurutkan semangatnya. Gadis itu justru terlihat sangat menikmati setiap detik yang berlalu. Matanya berbinar-binar memandang langit kota Amsterdam yang cerah, seolah dunia ini adalah tempat bermain raksasa yang baru saja dibuka untuknya.
Baru saja dia hendak melangkah, tiba-tiba seseorang berlari kencang bahkan menyambarnya hingga koper yang dia pegang ...terlepas dan berguling jauh di lantai.
Bruk!
"Aduh!" Alea tersentak kaget, tubuhnya ikut oleng hampir jatuh kalau tidak cepat menyeimbangkan diri.
Wajah cerianya seketika berubah menjadi bingung campur kesal. Ia mendongak, ingin memarahi orang yang tak tahu etika itu. Tapi orang itu sudah lari secepat kilat seperti sedang di kejar-kejar setan.
"Ya ampun, belum genap 30 menit loh gue di sini, udah di kasih cobaan aja. Belum jadi perempuan harapan bangsa ini!"
Dia ngomel-ngomel sendiri. Baru saja dia hendak meraih kopernya yang tadi terlempar, lagi-lagi ada dia di sambar. Kali ini bukan di sambar laki-laki tinggi besar kayak yang tadi. Tapi seorang wanita tua. Wajah Belandanya kental sekali.
"Astagaa! Cobaan apa lagi ini ya ampuun!"
"Toloongg! Copet!"
Wanita paruh baya itu berlari sambil berteriak dengan panik menggunakan bahasa Belanda. Tentu saja Alea ngerti. Bahasa itu sudah kayak bahasa keduanya dia.
"Copet?"
Nalar Alea langsung jalan. Berarti yang nabrak dia duluan tadi itu copet. Kasian si ibu-ibu. Kalo anak muda bakal dia biarin. Tapi ini ibu-ibu. Tanpa pikir panjang dia ninggalin kopernya begitu saja dan berlari menyusul si ibu-ibu. Larinya kenceng sekali. Memberantas copet termasuk salah satu yang dia suka.
"Minggir! Minggir! Calon anggota BIN lagi beraksi memberantas yang perlu di berantas!" Teriaknya pake bahasa Indonesia. Seketika dia lupa kalau dirinya ada di Belanda.
Alea tertawa dengan gaya lebaynya. Tapi dia tetap antusias. Yang begini-begini dia suka. Larinya cepat sekali, bahkan mendahului si ibu-ibu yang kena copet barusan.
"Sabar bu, sabar. Kalo yang namanya Alea beraksi semuanya bakal beres. Putrinya daddy Damian ini, jangan main-main wuhuuu!"
Masih sempat-sempatnya Alea melompat merasa hebat. Tapi begitu lompat, dia malah jatoh tiba-tiba.
BRAKK!
Jatohnya lucu pula. Karena lantainya licin, baru saja di pel sama tukang bersih-bersih bandara. Waktu seolah terhenti sejenak dan semua orang di sekitar situ menatapi Alea yang sedang dalam posisi telungkup sempurna di lantai, dengan kedua tangan terentang ke depan dan kaki sedikit terangkat.
Sunyi. Benar-benar sunyi. Beberapa detik kemudian,
"HAHAHAHA!"
Tawa pecah di berbagai sudut. Ada yang menutup mulut, ada yang terang-terangan ngakak, bahkan ada yang diam-diam merekam. Alea mengerang pelan.
"Ya Tuhan… harga diri gue… baru landing langsung check out…"
gumamnya lirih sambil masih menempel di lantai dingin itu. Dengan gerakan super pelan dan penuh drama, ia mengangkat kepalanya. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya memerah, entah karena malu atau karena sakit.
Orang-orang tadi masih ada yang tertawa tapi kebanyakan sudah pergi seolah tak peduli lagi. Alea mengurut-urut pinggangnya lalu teringat akan copet tadi. Ketika matanya melirik ke arah si copet tadi kabur, ia melihat seseorang yang dia kenal sedang berjalan ke arahnya bersama seseorang yang laki-laki itu pegang.
"Demi apa?! Om Damon lagi? Hari pertama sampe di negara ini, kenapa wajah pertama yang gue lihat harus laki-laki itu?!" Serunya heboh sendiri. Dia cepat-cepat bersembunyi di sebelah tong sampah besar.
Damon Alvaro, laki-laki dewasa 39 tahun, seorang dokter bedah terkenal yang di kejar-kejar oleh saudari ipar sekaligus sahabatnya sendiri.
Mata Alea menyipit, menatap ke depan dengan ekspresi antara kesal dan tidak terima dirinya terjatuh tadi sambil sesekali menatap Damon yang menarik seorang laki-laki Belanda tinggi besar. Tinggi mereka hampir sama, tapi si pria bule lebih besar badannya. Anehnya, dia nggak ada kekuatan sama sekali. Malah si om Damon yang kayak dominan sekali. Pinggang Alea masih sakit, dia mengusap lagi dengan kesal.
"Siapa yang barusan ngepel di sini sih?! Gak tahu apa gue tamu dari luar negeri!" gerutunya pelan, tapi cukup terdengar oleh beberapa orang di sekitar. Alea tidak peduli. Toh, mereka gak ngerti bahasanya.
Lalu ia melihat seorang petugas kebersihan yang berdiri tak jauh dari situ mulai bersih-bersih lagi. Alea menatapnya beberapa detik… lalu menghela napas panjang.
"Yaudah… bukan salah bapak juga sih. Ini takdir, anggap aja ucapan selamat datang." ucapnya pasrah.
Tak lama kemudian ia melihat ibu-ibu tadi mendekati Damon dan laki-laki yang dia pegang kuat itu. Alea baru sadar sesuatu.
"Oh, itu copetnya toh? Boleh juga si om Damon. Termasuk membanggakan negara." ia manggut-manggut dari tempatnya bersembunyi. Matanya tetap ke sana. Ke arah Damon yang menyerahkan tas yang dia pegang ke si ibu-ibu, lalu menatap tajam ke sang pencopet. Laki-laki copet itu membungkuk seperti meminta maaf.
Awalnya Alea pikir masalah sudah selesai, lalu ia melihat si pencopet itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
"Pisau?"
Tanpa pikir panjang, dengan kekuatan penuh, Alea keluar dari persembunyiannya dan berlari secepat kilat ke arah mereka.
"AWASSS!" teriaknya nyaring tanpa mikir panjang.
Semua orang menoleh. Dalam hitungan detik, Alea sudah berada cukup dekat. Tanpa strategi, tanpa rencana matang, murni refleks dan keberanian nekat, ia langsung melompat.
"HYAAAT!"
Bukannya mendarat dengan elegan, Alea justru menabrak tubuh si copet dari samping.
BRAKK!
Pisau di tangan pria itu terlepas dan meluncur jauh di lantai. Tubuh mereka berdua jatuh berguling, nyaris menabrak kaki Damon.
"Ugh!" Alea meringis, pinggangnya yang tadi sakit langsung protes keras. Namun, kali ini, dia berhasil.
Si copet terkunci di bawahnya, walau posisinya agak aneh, lebih mirip orang lagi rebutan remote TV daripada adegan heroik.
Damon menatap pemandangan itu beberapa detik, alisnya terangkat tipis. Tatapannya lalu beralih ke Alea yang masih berusaha menahan si pria.
Tentu saja dia langsung mengenali Alea.
"Om, kok diem aja?! dia bawah pisau ini. Cepet ambil sebelum leher aku di gorok!"
Seru Alea menatap Damon. Mendengar itu Damon langsung bergerak dengan langkah tenang tapi cepat, Damon menendang pisau itu menjauh menggunakan ujung sepatunya. Gerakannya terlatih, seolah itu hal biasa baginya. Dalam satu tarikan, ia menarik tangan si copet dan membalikkan posisi pria itu hingga terkunci sempurna.
"Aman," ucapnya singkat.
Petugas keamanan yang tadi sempat terpencar kini datang berlari dan langsung mengambil alih. Si copet diborgol tanpa banyak perlawanan. Situasi yang tadi tegang mendadak mereda.
Alea yang masih terbaring di lantai dengan gaya randomnya menghembuskan nafas lega.
"Tugas negara selesai. Huffttt ... Gila, lo hebat Alea, hebat."
Tingkahnya itu tak luput dari pandangan Damon yang melihatnya malah seperti gadis aneh.
Alea masih tergeletak di lantai bandara dengan posisi tidak jelas, satu kaki tertekuk, satu lagi lurus, rambut berantakan, dan ekspresi puas seolah baru saja menyelamatkan dunia.
"Kau mau di situ terus?" tanya Damon datar.
Alea menoleh, menatap Damon dari bawah dengan santai.
"Lagi menikmati hasil kerja keras, om. Jarang-jarang loh aku jadi pahlawan di negara orang."
Damon tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan satu tangan ke arah Alea. Dia tahu gadis ini memang agak random mengingat terakhir kali mereka ketemu. Sunyi sejenak. Alea menatap tangan itu. Lalu menatap wajah Damon. Lalu kembali ke tangannya lagi.
"Kenapa?" tanyanya, alis terangkat.
"Berdiri," jawab Damon singkat.
Alea mendengus.
"Cih, sok datar. Udah kenal juga. Aku bisa sendiri."
Sudut bibir Damon terangkat. Tapi hanya dia yang tahu kalau dirinya sedikit tersungging dengan kelakuan Alea. Gadis itu mencoba bangkit tanpa bantuan.
Namun begitu pinggangnya menopang tubuhnya...
"AU!"
Alea langsung nyengir kesakitan dan refleks meraih tangan Damon tanpa izin. Dengan senyum lebar tanpa dosa.
"Hehehe." ia menyengir.
Damon menggeleng kepalanya lalu menarik gadis itu berdiri dengan satu gerakan ringan, seolah tubuh Alea tidak ada beratnya sama sekali. Begitu sudah berdiri, Alea masih belum melepaskan tangannya. Beberapa detik, Damon menatap tangan mereka. Alea ikut menunduk… lalu buru-buru melepas.
"Refleks pak dokter." katanya cepat, pura-pura santai.
Damon kembali tersungging. Tatapannya kemudian menyapu Alea dari atas sampai bawah. Baju sedikit kotor. Rambut acak-acakan. Dan yang paling jelas, cara berdirinya agak miring.
"Kamu pincang."
"Enggak," bantah Alea refleks.
Damon menatapnya datar.
Alea terdiam… lalu berdehem.
"Sedikit."
Tanpa banyak bicara, Damon melangkah mendekat satu langkah lagi. Tiba-tiba, tangannya terulur ke arah pinggang Alea.
"Eh, eh, om mau ngapain?! Kita bukan muhrim ya!" Alea refleks mundur, tapi langsung meringis lagi.
"Diam," potong Damon singkat.
Tangannya tetap di sana, menahan sisi pinggang Alea dengan hati-hati. Sentuhannya tidak kasar, justru terkontrol, seolah dia tahu betul apa yang dia lakukan. Dengan posisi seperti itu, Alea dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah pria yang usianya jauh di atas dia itu.
Gile, wajahnya mulus banget.
"Om,"
Damon yang fokus mengusap bagian pinggang Alea menatap gadis itu.
"Bisa spill skincare-nya nggak om? Om-nya ganteng sekalii..."
Damon terdiam beberapa saat. Nada bicara itu seperti familiar. Namun dia tidak menyangka saja gadis ini akan mengatakan itu.
"Jangan main-main. Aku bukan teman mainmu." balasnya datar. Tapi dalam hati dia merasa lucu.
"Cih, ya iyalah om bukan teman main aku. Secara om kan sudah tua. Kita beda genera...agkh!"
Alea kaget karena tangan Damon memijit kuat bagian pinggangnya yang sakit tadi. Makin sakit jadinya. Dia menatap pria itu kesal.
"Om sengaja ya?!"
Damon tak menjawab. Hanya tersenyum miring. Alea di buat makin kesal.
"Heran deh, bisa-bisanya mata Kamara buta. Masa om-om gak ada lembut-lembutnya begini dia kejar-kejar. Katarak kali. Jauh kakak gue lah ke mana-mana. Yang sana ganteng kekinian, yang ini ganteng tua."
Mendengar itu Damon mendengus. Jelaslah dia merasa dongkol. Kali ini dia tidak memijat kuat lagi, tapi malah sedikit menggelitik hingga Alea tertawa geli.
"Om, hahaha... Geli... Jangan sentuh kayak gitu... Hahah... Om Damon!"
Alea masih tertawa, tubuhnya sedikit membungkuk sambil berusaha menjauh dari tangan Damon yang usil.
"Ampun om!" kata Alea di sela tawa, napasnya mulai terengah.
Damon akhirnya menarik tangannya, tapi sudut bibirnya masih terangkat tipis, ekspresi yang jarang sekali terlihat dari pria itu.
"Kau sendiri yang mulai," ujarnya santai.
Alea mendengus, masih mengusap pinggangnya yang sekarang malah terasa aneh antara sakit dan geli.
"Ih, dasar dokter kurang bisa di percaya … bukannya nolongin dengan lembut, malah nyiksa."
"Kau bilang apa?"
Alea cepat-cepat menutup mulutnya sambil menggeleng kuat. Damon mendengus lagi. Belum sampai satu menit, Alea sudah bersuara kencang.
"ASTAGA! KOPER AKUU!"
Dia baru ingat kopernya. Telinga Damon sakit sekali rasanya. Bahkan beberapa orang di sekitar situ menatap mereka.
"Jangan teriak Alea," katanya kesal.
Alea tidak peduli. Dia kembali berlari ke tempat pertama kali dia berdiri tadi. Dan tidak menemukan kopernya di mana-mana.
"Koper akuu ... Hilang." matanya berkaca-kaca.
Damon sudah berada di sampingnya lagi. Sebenarnya dia harus pergi secepatnya karena ada urusan. Tapi dia tidak mungkin meninggalkan gadis yang dia kenal ini sendirian di sini. Mana kopernya hilang pula.
"Kamu taruh di mana tadi?"
"Di situuu ..."
Alea sudah duduk di lantai. Merengek seperti anak-anak yang kehilangan mainannya.
"Om, itu koper isinya barang-barang berharga semuaaa ... Kalo nggak ketemu gimanaa?"
Ya Tuhan. Damon menutup matanya dalam-dalam. Dia yang malu orang-orang memperhatikan mereka.
Damon menghembuskan napas panjang, berusaha menahan kesabarannya yang mulai diuji sejak lima belas menit terakhir.
"Alea," panggilnya pelan tapi tegas.
"Berdiri dulu, ayo."
"Tapi koper akuu..."
"Kita bisa cari. Cepat berdiri." suara Damon makin tegas.
"Galak amat." di sela-sela kesedihan akan kopernya, dia masih bisa berkomentar.
Alea berdiri di bantu Damon lagi.
Pria itu menatapnya beberapa detik, lalu beralih menatap sekeliling. Matanya tajam, mengamati area sekitar dengan cepat.
"Kamu yakin tadi jatuhnya di sini?" tanyanya lagi.
Alea mengangguk lemah.
Damon menghela napas, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik sesuatu singkat, lalu mengangkatnya ke telinga.
"Iya. Area kedatangan internasional. Cek cctv sepuluh menit terakhir," ucapnya singkat dalam bahasa yang tidak terlalu jelas bagi Alea.
Alea langsung berhenti merengek.
"Tunggu sebentar, pihak keamanan sedang memeriksanya." kata Damon. Alea tidak banyak bicara lagi. Hanya berharap kopernya cepat ketemu.
Beberapa menit menunggu, seseorang menelpon Damon lagi melaporkan sesuatu. Alea menunggu dengan tidak sabaran.
Ia langsung bertanya begitu lelaki itu mengakhiri panggilan.
"Gimana-gimana, ada hasil?"
Damon menatapnya sesaat.
"Sudah di amankan di ruang keamanan, ayo ke sana sekarang."
Raut wajah Alea berubah lega sekali. Ia melangkah dengan cepat mendahului Damon.
"Hei," Damon belum berjalan selangkah pun. Alea berbalik dengan alis terangkat.
"Kau salah jalan, bukan ke arah sana. Ikut aku."
Setelah berkata begitu, Damon langsung berjalan ke arah kiri. Alea mendengus lalu mengikuti langkah pria itu sambil mencak-mencak sendiri.
"Om, pelan-pelan dong jalannya. Aku ini manusia bukan ayam jantan yang kakinya lebar sama kayak kaki om." celetuk Alea dari belakang.
Damon menghentikan langkahnya sebentar. Ia berbalik menatap Alea. Alisnya terangkat.
"Ayam? Kau mengibaratkan makhluk itu denganku?"
"Ya, kalian kan sesama makhluk hidup, dan sama-sama jantan. Apa bedanya?"
Okey. Damon tidak mau berdebat dengan gadis yang wajahnya seperti remaja di bawah umur itu. Alea memang bukan remaja lagi, tapi mukanya memang awet muda. Di tambah dia belasan tahun lebih muda dari Damon, tentu pria itu akan menganggap dia remaja yang baru tumbuh.
"Om, kok jalan cepet lagi sih? Aduh, kan sudah kubilang pelan-pelan saja, santai, santai."
Cerewet.
Ucap Damon dalam hati, terus melangkah lebar.
"Om gak budek kan? Telinganya masih utuh kan? Kok gak dengerin aku sih? Hei, calon orang penting ini bos. Ya ampun, dia sama sama sekali gak menganggap aku ada. Aku di anggap anak kuntilanak kali ya? Terlalu nakutin."
Berisik.
Laki-laki itu berhenti mendadak. Tepat saat Alea setengah berlari ke arahnya.
Bukk.
Alea akhirnya menubruk tubuh jangkung yang membelakanginya itu.
"Astaga, om kalo berhenti jangan tiba-tiba gitu dong. Kebentur ini, kebentur. Mana itu badan kerasnya kayak tembok lagi. Om ini sebenarnya makan nasi apa makan batu sih? Haishh."
Ok. Sabar Damon. Sabar. Gadis ini memang berisik. Jangan berdebat dengannya.
"Diam, kita sudah sampai." katanya. Alea pun diam. Pandangannya beralih ke ruangan di belakang Damon yang di atas pintunya ada tulisan Belanda. Artinya, "Ruang Keamanan Bandara."
"Koper aku ..."
Gadis itu langsung masuk mendahului Damon. Damon menghembuskan nafas panjang. Dia yang lelah melihat gadis itu yang energinya tidak habis-habis. Setelah beberapa detik, ia ikut masuk ke dalam. Ia sempat takjub melihat koper Alea yang super duper besar itu.
Apa saja isinya?
Ini pertama kalinya Damon melihat ada yang membawa koper sebesar itu. Dia bahkan jarang melihat koper dengan ukuran besar seperti itu di jual di pusat perbelanjaan. Apakah dia sengaja meminta ayahnya memesan khusus? Tapi untuk apa koper sebesar itu? Bikin siksa saja.
"Om, koperku ketemu!"
Alea menatap Damon dengan mata berbinar-binar. Lelaki itu hanya mengangguk lelah.
"Silahkan nona cek dulu isinya masih utuh atau tidak." kata seorang petugas keamanan yang mengenakan seragam khusus.
Alea dengan cepat membukanya. Karena kopernya terlalu besar, dia agak kesulitan. Damon maju membantu.
"Biar aku saja. Menjauh sedikit." katanya datar. Alea mencebik.
"Membantu kalo setengah-setengah begitu, mendingan jangan." Damon meliriknya sebentar, dan Alea yang tadinya mengomel langsung memasang senyuman lebarnya.
Damon fokus lagi dengan koper milik Alea.
"Koper apa sebesar ini."
"Sudah, buka aja om. Gak usah berkomentar. Isi di dalamnya penting banget tahu."
"Bawel."
"Cih, nyebelin. Yang berprofesi dokter biasanya emang nyebelin. Suka merintah-merintah."
Damon membuka kembali koper itu sedikit, seolah memastikan ia tidak salah lihat. Lalu diam beberapa detik, kemudian menoleh pelan ke arah Alea.
"Ini… yang kau bilang penting?'
Alea langsung mengangguk mantap, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Penting banget."
Damon kembali melihat isi koper itu. Deretan cemilan. Banyak. Banyak sekali. Dari yang ringan sampai yang ukuran besar. Disusun rapi… seperti stok warung kecil.
"Apa kau berniat membuka toko di sini?" tanyanya datar.
"Enggak lah!" Alea langsung membela diri.
"Ini bekal hidup!"
"Bekal hidup?" ulang Damon.
"Iya! Om tuh gak ngerti. Ini tuh penyelamat mental. Kalo lagi homesick, tinggal makan. Langsung sembuh. Damon terdiam.
Masuk akal, sedikit.
"Tapi sebanyak ini?" ia tetap tidak bisa menerima sepenuhnya.
Alea langsung jongkok lagi, mulai mengambil satu bungkus.
"Ini nih, keripik balado. Ini wajib. Terus ini mie instan, walaupun di sini ada, rasanya beda! Terus ini cokelat, ini permen, ini ..."
"Alea."
"Iya?"
"Kau bisa berhenti bicara selama lima detik?"
Alea langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Mm."
Satu detik, dua detik, tiga detik,
empat ...
"Gak bisa."
Damon menghela napas panjang. Petugas yang tadi berdiri di samping sampai harus memalingkan wajah, jelas menahan tawa. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh dua orang berwajah asing itu, tapi dari tingkah mereka, itu tampak lucu.
"Aku serius loh om," lanjut Alea lagi, kali ini sambil memeluk salah satu bungkus cemilan.
"Ini tuh penting. Di negara orang, makanan rumah itu mahal harganya."
Damon tertawa.
"Seperti kau kekurangan uang saja." ia menatap Alea dari atas ke bawah.
Alea hendak membalas perkataannya lagi tapi ponsel Damon tiba-tiba berbunyi. Lelaki itu cepat-cepat mengangkat. Wajahnya keliatan serius.
"Baik, aku ke sana sekarang." ia bicara pakai bahasa negara itu.
Begitu panggilan berakhir, Damon menatap Alea sebentar, lalu turun ke koper gadis itu. Ia mengunci kembali koper itu agar Alea tidak kesulitan nanti.
"Aku ada urusan penting, harus pergi sekarang." katanya. Ia yakin meninggalkan Alea sendiri di sini karena gadis itu selalu ada pengawal bayangan yang menjaganya. Damian adalah tipe yang seperti itu. Tidak mungkin membiarkan putrinya dalam bahaya.
Alea mengangguk.
"Pergilah, pergi. Semoga kita nggak ketemu lagi ya, om. Btw, makasih udah temenin aku cari koper."
Damon menghentikan langkahnya sebentar, mendengus pelan menatap Alea lalu pergi dari sana. Gadis itu ada-ada saja.
Alea memperhatikan punggung Damon yang semakin menjauh, lalu mendengus pelan.
"Dih, gaya banget. Dibilang jangan ketemu lagi malah langsung pergi tanpa drama, gue masih bingung apa yang Kamara suka dari om-om itu. Ganteng sih iya. Berkharisma juga. Tapi ... Nyebelin aja." gumamnya.
Namun beberapa detik kemudian, ia malah nyengir sendiri kemudian menepuk-nepuk kopernya pelan, lalu menarik benda besar itu keluar dari ruangan keamanan.
Begitu sampai di luar, ia berhenti sejenak. Tangannya merogoh saku, mengambil ponselnya.
"Hampir lupa kabarin mommy dan daddy."
Alea menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mulai mengetik cepat, melapor kalau dia sudah sampai dengan selamat dan sekarang sudah mau pergi ke apartemen yang baru dia sewa.
"Hufftt... Aman." katanya, memasukkan kembali ponsel tersebut ke sakunya. Sudah ada mobil di depan sana yang nungguin dia. Taksi online yang dia pesan.
Karena sudah memutuskan hidup mandiri. Tentu saja dia tidak akan menggunakan cara gampang seperti fasilitas mewah dan lain-lain. Bisa digunakan sekali-sekali kalau sangat butuh. Pokoknya dia akan mencoba hidup sederhana seperti mahasiswa pada umumnya.
Alea menarik kopernya pelan menuju mobil yang sudah menunggu. Supir taksi itu turun, membantu memasukkan koper super besar itu ke bagasi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!