dokter Li Zie umurnya tiga puluh tahun, Ia adalah seorang dokter bedah terkemuka. Li Zie juga pemegang sabuk hitam karate, namun malam itu hidupnya sangat hancur hari pernikahan yang ia dambakan ternyata palsu. Keluarganya dan calon suaminya justru menghianatinya, yang menikah dengan calon suaminya adalah Adiknya sendiri hal itulah yang membuat hatinya hancur.
Malam itu hujan turun dengan deras, sebelum Li Zie pergi dari gedung pernikahan itu, Li Zie yang hatinya hancur tidak berpikir dua kali untuk menaruh racun di makanan keluarganya dan juga racun untuk kedua pengantin yang mengkhianatinya itu.
Setelah Li Zie melakukan itu, Li Zie pun keluar dari gedung dan masuk ke mobil, mobil itu melaju dengan kencang di tengah guyuran air hujan, namun mobilnya tergelincir akibat rem blong, hingga mobilnya terbalik.
Li Zie tersenyum miris, tubuhnya terhimpit bahkan darah mengucur dari kepalanya, saat kesadarannya menipis, Li Zie merasakan sensasi dingin yang aneh, seolah jiwanya ditarik keluar dari reruntuhan besi.
Di tempat yang jauh berbeda,
Li Zie perlahan menggerakkan jemarinya, dan mencium bau herbal tradisional. Rasa sakit itu datang bertubi-tubi seperti ribuan jarum yang menusuk saraf pusatnya. Sebagai seorang dokter bedah sekaligus praktisi Wing Chun.
Li Zie terbiasa dengan rasa sakit.Tapi tidak seperti ini. Ini adalah rasa sakit dari tubuh yang kosong, paru-parunya yang kering dan otot yang telah menyusut sampai ke tulang.
Kelopak matanya terasa seberat gerbang perunggu saat ia mencoba membukanya, dunia hanya tampak seperti gumpalan cahaya remang yang menyakitkan.
"Nona? Nona ketiga! Anda sudah bangun? " ujar seorang pelayan dengan suara Parau, penuh tangis dan memecah kesunyian.
Li Zie mencoba bicara tapi tenggorokannya Terasa seperti telah menelan pasir panas. Li Zie berusaha menggerakkan lengannya untuk menyentuh lehernya sendiri, bermaksud memeriksa denyut karotis.
Namun lengannya bergetar hebat di ranjang kayu yang keras Li Zie mengerang. Ekpresinya berubah menjadi ringisan tajam yang penuh rasa frustasi. Sebagai ahli beladiri Li Zie benci kehilangan kendali atas motorik tubuhnya sendiri.
"Sial tubuh ini tidak punya tenaga bahkan sekedar untuk mengepal, " Li Zie membatin.
Setiap tarikan nafas adalah perjuangan. Dadanya kembang kempis dengan dangkal, Li Zie bisa merasakan sirkulasi darahnya yang lambat dan jantungnya yang berdetak lemah, tak ada malnutrisi kronis dan mungkin keracunan ringan.
Dengan sisa kekuatan Li Zie membuka mata, Li Zie tidak melihat ruang operasi yang serba putih atau samsak tinju di sana. Sebaliknya Li Zie melihat langit-langit kayu yang lapuk dan tirai yang sudah koyak Li Zie tidak lagi berada di dunianya.
Li Zie memperhatikan ruangan yang hampir roboh tersebut yang menurutnya sudah tidak layak untuk dihuni, Ia juga melirik pada seorang pelayan kecil di sampingnya yang terus terisak dengan mengenakan hanfu yang sangat sederhana.
"A-aku...bi-bisa....me-minta...cer...min? " guam Li Zie terbata dengan nafas tersenggal senggal, seakan kalimat yang ia ucapkan taruhannya nyawanya sendiri.
Pelayan kecil itu mengangguk dengan air mata yang terus mengalir, Ia pun mengambil cermin dan mendekatkan pada wajah Nona mudanya.
Li Zie pun memperhatikan wajahnya yang sangat berbeda wajah yang cantik namun terlalu kurus, pucat dan bahkan Hampir mati, Li Zie pun menghela nafas panjang, Ia menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh wanita lemah.
Bahkan hanfu yang ia kenakan bahkan sudah tidak layak pakai. Tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit seperti dihantam kekuatan besar, hingga terasa sangat sakit.
Perlahan bayangan terlintas jika tubuh ini adalah tubuh seorang putri menteri Li yang tidak disukai, dan sering ditindas oleh para pelayan, Ayahnya selalu mengabaikan dirinya bahkan yang menyakitkan adalah ayahnya juga tidak peduli tentang nyawanya, hidup dan matinya benar-benar tidak di pedulikan.
Bahkan anehnya nama dokter Li Zie, sama dengan Nona ke tiga kediaman Menteri Li, yaitu Li Zie.
Li Zie justru teringat dengan kehidupannya di zaman modern di mana Dirinya mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuanya. Namun Semua Itu bohong, dirinya hanyalah dimanfaatkan bahkan di usianya yang sudah tiga puluh tahun, Ia baru akan menikah Tapi itu pun hanya tipuan.
"Nama yang sama bahkan takdir yang sama," batin Li Zie.
Li Zie terdiam akankah ia mati untuk yang kedua kalinya. Atau Li Zie akan mengubah takdir, karena langit memberikan kesempatan hidup kedua untuknya.
"Nona muda, Ji Su akan mengambil bubur dulu," ujar Ji Su, pelayan kecil itu berlari keluar dari ruangan yang hampir roboh itu.
Li Zie perlahan melirik sebuah cincin giok hitam di jarinya, yang ia beli di toko barang antik seminggu sebelum hidupnya menjadi kacau. Perlahan Li Zie mengusap cincin tersebut. Tiba-tiba tubuhnya terasa seperti tersedot.
Begitu Li Zie menyentuh cincin giok tersebut. Tiba-tiba kesadaran tersedot ke dalam sebuah ruang dimensi.
Li Zie terjatuh di atas rumput hijau yang lembut. Udara di sana sangat murni, berkali-kali lipat lebih segar dari oksigen di rumah sakit manapun. Di depannya ada sebuah kolam kecil dengan air yang menetes ke sana, air tersebut memancarkan uap tipis.
Dengan kondisinya yang seperti ini Li Zie sangat frustasi, Bagaimana tidak Ia adalah seorang wanita yang cukup berbakat, seorang dokter bedah dan seorang wanita pemegang sabuk hitam.
Namun sekarang ia Kehilangan dirinya, kini hanyalah tinggal menunggu kematian kedua, rasa sesak di dada begitu menyakitkan, ia sungguh tidak berdaya melanjutkan hidup di zaman kuno ini.
Seorang dokter dan pemegang sabuk hitam, terkapar di atas rerumputan dengan pasrah menunggu ajalnya.
Tubuh Li Zie yang terkapar di dekat kolam kecil itu nafasnya pendek-pendek, tersenggal seperti ikan yang dikeluarkan dari air. pandangannya kabur tapi insting dokternya berteriak. Gagal jantung Mal nutrisi akut, tubuh ini sudah diambang batas.
Tapi langit sudah memberikan ia kesempatan kedua meski hidup di tubuh yang berbeda, Li Zie harus menggunakan kesempatan kedua ini untuk melanjutkan hidupnya agar lebih baik lagi, dan membalas Siapa saja yang telah menyakiti pemilik tubuh ini.
Dengan jemari yang gemetar hebat Li Zie mengulurkan tangannya meraih air itu. Li Zie tidak mau mati untuk yang kedua kalinya Li Zie meraup air itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Begitu air itu membasahi kerongkongannya yang kering meradang, Li Zie yang Hampir Mati itu tersentak.
"Ah... " sebuah desahan lolos di bibir pucatnya Li Zie dengan rakus meraup air itu lagi. Sensasi itu luar biasa, bukan sekedar haus yang hilang. Tapi ia bisa merasakan tubuhnya yang lemah Hampir mati itu, merasakan aliran hangat yang aneh. Menyebar ke seluruh tubuhnya.
Perlahan nafasnya mulai normal dadanya tidak terlalu sakit lagi, pandangannya mulai jelas, tenggorokan seperti mendadak sembuh, perlahan biru di kuku jarinya memudar.
Li Zie berusaha duduk dan tubuhnya perlahan bisa digerakkan meski masih bergetar hebat, Li Zie menyeret tubuhnya semakin dekat ke kolam kecil itu dan kembali meraup air itu dengan rakus.
Prubahan Itu benar-benar Nyata, Li Zie merasa organ dalam tubuhnya mulai bekerja.
Li Zie tersenyum dan bergumam, dengan suara seraknya, "Air ini lebih bagus dari air infus manapun.''
Li Zie tertegun, dan kembali bergumam, " Apa ini air spiritual?''
Li Zie merasa takjub bibirnya yang kering dan pucat kini mulai merona wajah nya yang pucat seperti hantu kini terlihat lebih segar tidak seperti mayat hidup lagi, perlahan dengan tidak sabar Li Zie mencoba berdiri, dengan lutut yang bergetar hebat. Tapi itu jauh lebih baik daripada sebelumnya yang hanya menunggu mati saja.
"Ini... jauh lebih efektif dari pada infus atau obat manapun, " ujar Li Zie dengan binar mata yang mulai terpancar.
Li Zie memperhatikan ruang dimensi tersebut yang cukup luas dan berbagai macam tanaman herbal ada di sana,
Perlahan Li Zie melangkahkan kakinya, selangkah demi selangkah, kakinya yang menyusut kecil. kembali sedikit bertenaga, perlahan kembali terisi masa otot
Li Zie melangkah kearah pohon apel yang ada di dekat kolam air spritual, buah apel itu warnanya merah pekat nyaris transparan seperti permata. Begitu Li Zie menggigitnya, rasa manis yang meledak, mengirim energi panas ke meridian tubuhnya.
Racun yang mengendap di tubuhnya selama beberapa tahun seolah terbakar habis, Li Zie merasakan tubuhnya semakin kuat, Li Zie kembali menggigit apel itu sampai habis, lalu mengambil satu lagi dengan cepat ia habiskan.
"Aku tidak akan mati untuk kedua kalinya aku justru akan hidup abadi," gumam Li Zie dengan rasa bangga yang untuk pertama kalinya ia merasa bangga memiliki tempat aneh ini.
Li Zie mengedarkan pandangannya melihat ruang dimensi yang cukup luas itu dan melihat apa saja yang ada di sana melihat ada sebuah buku di atas meja batu, perlahan ia melangkah dengan kaki yang mulai terasa stabil meski masih sedikit lemah karena tidak adanya masa otot dalam tubuh barunya itu.
Li Zie mendekat dan kembali duduk di atas rerumputan dekat meja batu di mana ada dua kitab kuno di sana. Ada dua sampul kitab kuno yang memancarkan Aura berbeda.
Li Zie mengambil kitab pertama 'Seni Bela Diri Arus Langit' perlahan Gadis itu membuka kita pertama yang ia ambil, ia merasa sangat penasaran dengan benda tersebut.
Begitu jemari Li Zie menyentuh sampulnya, gerakan Karate yang ia kuasai di zaman modern seolah bersinergi dengan teknik kuno di dalamnya ini bukan sekedar ilmu bela diri biasa.
Ini bukan sekedar bela diri biasa, ini adalah cara menyalurkan energi spiritual menjadi serangan mematikan. Kitab seni bela diri arus langit.
Li Zie menatap kagum pada kitab kuno di hadapannya tersebut ini adalah jalan untuk menuju kebangkitan dirinya, Li Zie harus kuat untuk bisa melindungi diri dari orang-orang yang berniat jahat padanya. Bahkan mungkin bisa membalas dendam dengan apa yang telah menimpa pemilik tubuh ini.
Li Zie menutup kitab kuno tersebut. Lalu beralih ke kitab satunya lagi, yang sampulnya bergambar mata manusia yang dikelilingi urat-urat emas, saat Li Zie menyentuhnya, buku itu langsung terbuka dengan sendirinya
Li Zie tertegun 'Kitab Mata Dewa' itu terbuka sendiri dan tiba-tiba sebuah cahaya masuk ke pupil matanya, hingga Li Zie mengerang kesakitan lalu jatuh tersungkur.
Perlahan Li Zie kembali membuka matanya, tapi kali ini tatapan matanya sangat berbeda, ia tidak tahu tapi saat ia melihat kakinya, tiba-tiba saja pandangannya menjadi transparan bisa melihat urat di dalam tubuhnya, meski masih terbalut dengan hanfu yang penuh tambalan.
Li Zie tersentak, saat dia bisa melihat aliran darah pada tubuhnya bahkan organ lainnya pun bisa ia lihat. Jika ia memfokuskan pandangannya, bahkan hanfu yang menutupi pun tidak mampu menutupinya, kulit pun seolah tidak ada, ia benar-benar bisa melihat jelas organ dalamnya Jika ia memfokuskan pikirannya.
Li Zie kembali menatap tubuhnya memfokuskan kembali pikirannya, Li Zie dapat melihat aliran darah, detak jantungnya, persis seperti melihat hasil Ct-scan dan MRI secara Real Time dengan mata telanjang.
Tiba-tiba saja Li Zie merasa sangat kelaparan, benar-benar kelaparan, Ia pun dengan tidak sabar segera berlari dengan kaki yang masih bergetar, Li Zie berlari ke dekat pohon apel spiritual, lalu mengambil dan memakannya dengan rakus ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
Namun tiba-tiba saja perutnya terasa sangat lapar, seperti bisa saja menghabiskan satu kambing guling.
Li Zie menghabiskan enam buah apel spiritual tersebut lalu kembali meraup air spiritual dengan rakus, barulah perlahan rasa lapar yang sangat kuat itu menghilang, bahkan kini ia semakin merasa bugar.
"Luar biasa... " gumam Li Zie. Tapi Ia sangat penasaran Kenapa tiba-tiba ia terasa sangat lapar, laparnya sangat luar biasa menyiksa.
Li Zie langsung menggelengkan kepala tidak ingin pusing dengan hal itu, mungkin itu hanya karena ia sudah lama tidak makan pikir Li Zie.
Namun ada Binar semangat di matanya, untuk kembali hidup dan merencanakan kebebasannya. Ia teringat dengan pelayan kecilnya, sedangkan ia sudah terlalu lama berada di sana, mungkin ada dua jam.
Li Zie memfokuskan pikiran pemandangan indah itu langsung lenyap, berganti dengan pemandangan tirai yang sudah tidak layak lagi dan atap paviliun yang hampir roboh, ia kini sudah berada di kamarnya yang kumuh itu.
Kini nafasnya tidak lagi berat, dan tatapannya sangat jelas,
Li Zie mendengar isak tangis yang sangat menyayat hati.
"Nona... Nona muda.... Hiks... jangan tinggalkan Ji Yu... "
"Hey, kenapa kau menangis?" ujar Li Zie dengan suara yang halus, ada ketegasan dari suaranya.
Pelayan kecil itu yang bernama Ji Yu, ia sedang berlutut di tanah sambil memegangi mangkuk yang pinggirannya retak. Hanfunya penuh dengan tambalan.
"Eh! Nona! " pelayan itu tersentak, tadi ia melihat nona mudanya tidak ada. Tapi kenapa sekarang ada?
Li Zie langsung berpura-pura lemah. Ia kembali berbaring dengan mata terpejam, nafasnya dibuat kembali tersengal seolah ia akan mati.
"Nona, tadi Ji Yu pikir Nona sudah di buang oleh selir, " ujar Ji Yu terisak, ia perlahan berdiri, dan kembali berkata, "Nona Ji Yu sudah bawakan bubur, ayo Nona makan dulu. "
Li Zie membuka mata melirik sekilas pada mangkuk jelek itu tanpa minat, dia melirik hanya ada air tajin tidak ada bubur atau satupun nasi di mangkuk itu, itu benar-benar hanya air tajin yang bahkan sangat encer.
"Nona, Ji Yu hanya mendapatkan ini saja," ujarnya, wajah Ji Yu memerah seperti bekas tamparan, Li Zie pun terdiam mengingat-ingat kejadian sebelumnya, Yang ternyata memang sudah sering terjadi.
Li Zie ingat jika pemilik tubuh ini benar-benar sangat disiksa, bahkan kematiannya sangat Ditunggu oleh keluarganya, dan pelayan di sampingnya rela dipukul hanya demi mendapatkan air tajin untuknya.
Li Zie tidak ingin berpura-pura di hadapan pelayan kecil itu, ia akan duduk tapi sebuah langkah terdengar begitu berisik, seorang pelayan wanita datang dengan wajah arogan.
Dia adalah Cui Ma pelayan selir Chu, berusia sekitar empat puluh lima tahun wajahnya sangat arogan seperti seorang nyonya besar, ia menatap jijik pada ranjang kayu yang sudah reot.
"Panjang juga umur mu, padahal sudah tidak di beri makan tapi kamu tidak mati-mati, " ujar Cui Ma melirik ranjang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!