Indonesia
NovelToon NovelToon

NAFKAH YANG TERTUKAR

*bab 1 Pahlawan Dimata dunia

Pukul tujuh malam, kediaman megah Ibu Ratna tampak benderang. Aroma rendang dan opor ayam menyeruak, menyambut kedatangan Aris, si anak emas yang selalu dinanti.

"Ya Allah, Aris! Kamu datang juga, Le," sambut Ibu Ratna dengan wajah berseri. Beliau langsung memeluk anak laki-lakinya itu, mengabaikan Maya yang berdiri di belakang Aris sambil menggendong Dafa yang terkantuk-kantuk.

Aris tersenyum lebar. Ia menyerahkan sebuah paper bag besar berlogo merek ternama. "Ini buat Ibu. Kemarin Aris lihat di mal, katanya Ibu suka warna marun."

Mata Ibu Ratna berbinar saat mengeluarkan tas kulit asli dari dalamnya. "Wah, ini kan mahal sekali, Ris! Pasti jutaan ya?"

"Cuma dua belas juta, Bu. Kecil itu, yang penting Ibu senang," jawab Aris enteng sambil melirik bangga ke arah adik-adiknya yang langsung mengerubungi tas tersebut.

Maya yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menelan ludah. Angka dua belas juta itu terus berdenging di telinganya. Itu adalah jumlah yang sama dengan total biaya sekolah Dafa selama setahun yang hingga kini belum dilunasi, bahkan untuk uang seragam pun Aris bilang "nanti dulu".

"Mbak Maya, kok diam saja? Sini bantu Ibu di dapur, jangan cuma berdiri kayak patung," tegur Siska, adik bungsu Aris, dengan nada memerintah. Ia sendiri asyik memainkan ponsel barunya—yang juga hadiah dari Aris bulan lalu.

Maya meletakkan Dafa yang sudah tertidur di sofa kecil, lalu melangkah ke dapur. Di sana, ia melihat tumpukan belanjaan mewah: daging sapi kualitas super, buah-buahan impor, hingga stok susu kaleng mahal untuk persediaan di rumah Ibu Ratna.

Hatinya mencelos. Tadi pagi, ia harus berdebat selama tiga puluh menit hanya untuk meminta uang lima puluh ribu rupiah demi membeli ikan dan sayur untuk makan Dafa. Aris mencacinya habis-habisan, menuduhnya sebagai istri yang tidak bisa mengatur keuangan dan hanya tahu cara menghabiskan uang suami.

"Maya!" panggil Aris dari ruang tengah.

Maya bergegas menghampiri. "Iya, Mas?"

"Ini, Siska bilang mau bayar uang semesteran besok. Kamu bawa kartu ATM saya yang satu lagi, kan? Tolong transferkan lima juta sekarang ke rekening Siska," perintah Aris tanpa melihat wajah istrinya.

Maya terpaku. Tangannya bergetar hebat di balik saku dasternya. "Tapi Mas... bukannya itu uang simpanan untuk operasi katarak Bapak minggu depan? Mas sudah janji mau bantu Bapak..."

Seketika, suasana hangat di ruangan itu membeku. Aris meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan keras ke meja. Ia menatap Maya dengan mata yang memancarkan kilat kemarahan.

"Bapak kamu lagi? Bapak kamu itu punya anak banyak, kenapa harus saya terus yang susah?" desis Aris, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu. "Siska ini adik kandung saya! Masa depannya lebih penting daripada sekadar mata Bapak kamu yang sudah tua itu. Jangan jadi istri yang egois, Maya!"

Ibu Ratna menyahut dari kursi kebesarannya, "Iya, Maya. Kamu itu harusnya bersyukur punya suami royal begini. Jangan malah mau menguras hartanya buat keluarga kamu terus. Ingat, surga istri itu ada di bawah kaki suami, bukan kaki Bapakmu."

Air mata Maya sudah menggenang di pelupuk mata. Ia ingin berteriak bahwa selama tiga tahun menikah, Aris tidak pernah memberikan sepeser pun untuk keluarganya. Namun, di rumah ini, ia tidak punya suara. Ia hanyalah orang asing yang bertugas melayani pahlawan keluarga besar Baskoro.

"Cepat transfer! Jangan bikin saya malu di depan Ibu!" bentak Aris lagi.

Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur berkeping-keping, Maya mengeluarkan ponselnya. Ia melakukan perintah itu. Lima juta melayang dalam sekejap—uang yang ia kumpulkan dari sisa-sisa uang dapur yang ia hemat mati-matian demi pengobatan ayahnya.

Malam itu, di tengah tawa bahagia keluarga Aris, Maya menyadari satu hal: di rumah ini, ia bukan lagi seorang istri. Ia hanyalah pelayan bagi ego suaminya yang setinggi langit.

**Bab 2 sisa sisa harga diri

Perjalanan pulang dari rumah Ibu Ratna terasa sangat panjang. Di dalam mobil Honda Civic yang dingin oleh AC, tak ada suara selain deru mesin dan napas teratur Dafa yang tertidur pulas di pangkuan Maya. Aris menyetir dengan raut wajah puas, sisa-sisa senyum kebanggaan setelah dipuji setinggi langit oleh ibu dan adik-adiknya masih membekas di bibirnya.

"Kamu lihat tadi? Ibu senang sekali pakai tas itu," buka Aris, memecah keheningan dengan nada sombong. "Siska juga, dia sampai mau peluk saya gara-gara uang semesterannya beres. Jadi laki-laki itu harus begini, May. Berguna buat keluarga."

Maya hanya menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang kabur karena matanya mulai berair. "Bapak juga keluarga kita, Mas. Mata Bapak sudah hampir tidak bisa melihat karena katarak. Dokter bilang harus segera dioperasi."

*Ciiiitt!*

Aris menginjak rem mendadak tepat di depan gerbang rumah mereka, membuat tubuh Maya terdorong ke depan. Dafa terbangun dan mulai merengek ketakutan.

"Bisa tidak berhenti membahas keluarga kamu yang menyusahkan itu?" bentak Aris, matanya melotot tajam. "Keluarga saya itu tanggung jawab saya! Sementara keluarga kamu? Itu tanggung jawab saudara-saudara kamu yang malas itu. Jangan samakan saya dengan mereka!"

"Tapi aku istrimu, Mas! Uang yang kamu kasih ke Siska itu harusnya bisa buat DP operasi Bapak. Mas janji bulan lalu..."

"Janji bisa berubah tergantung keadaan, Maya! Sekarang turun!"

Maya turun dengan kaki gemetar, menggendong Dafa yang menangis sesenggukan. Begitu masuk ke rumah, Aris tidak langsung masuk ke kamar. Ia menuju meja makan, mengambil buku catatan kecil yang selalu tersimpan di laci.

"Sini," panggilnya dingin.

Maya menghampiri dengan perasaan waswas. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ini adalah ritual 'Audit Neraka' yang dilakukan Aris setiap minggu.

"Mana struk belanja minggu ini? Saya hitung sisa uang dapur kemarin harusnya masih ada tujuh puluh lima ribu. Mana?" Aris menadahkan tangannya.

Maya merogoh saku dasternya, mengeluarkan beberapa lembar struk kusam dan uang receh. "Ini, Mas. Uangnya sisa dua puluh ribu. Lima puluh ribunya aku pakai buat beli obat penurun panas Dafa kemarin lusa. Dia sempat kejang karena demamnya tinggi..."

"Kejang?" Aris tertawa sinis sambil meneliti struk obat dari apotek. "Anak kecil demam itu biasa, dikasih kompres juga sembuh. Kamu saja yang manja, sedikit-sedikit lari ke apotek, buang-buang uang saya! Kamu tahu tidak, lima puluh ribu itu kalau dikumpulkan bisa buat beli bensin mobil ini?"

Maya terpaku. Nyawa dan kesehatan anaknya sendiri dinilai lebih rendah daripada harga bensin mobil suaminya.

"Mas... Dafa itu anakmu. Darah dagingmu sendiri," bisik Maya dengan suara parau.

"Makanya, didik dia jadi anak kuat! Jangan kayak kamu yang cuma tahu cara minta uang!" Aris melemparkan buku catatan itu ke atas meja. "Besok, saya tidak mau tahu, jatah makan kita harus cukup dengan seratus ribu buat tiga hari ke depan. Ibu bilang harga beras lagi turun, jangan alasan lagi."

Aris melenggang masuk ke kamar, membanting pintu dengan keras. Maya terduduk di kursi kayu ruang makan yang keras, memeluk Dafa yang sudah kembali tenang namun masih memegangi jemari ibunya erat-kali.

Di atas meja, kartu ATM yang tadi digunakan untuk mentransfer uang ke Siska tergeletak begitu saja. Maya menatap benda persegi itu. Di dalamnya ada puluhan juta rupiah, namun bagi Maya dan Dafa, benda itu tak lebih dari sekadar plastik tak berguna.

Maya mengusap air matanya dengan kasar. Ia menoleh ke arah tas kerja lamanya yang berdebu di pojok ruangan. Sebuah pikiran mulai terlintas di benaknya. Jika Aris menganggapnya beban karena ia tak berpenghasilan, maka ia harus menemukan cara untuk tidak lagi bergantung pada 'pahlawan' palsu itu.

Malam itu, di bawah temaram lampu ruang makan, Maya Safira bersumpah dalam hati: *Ini adalah terakhir kalinya ia menangis karena uang yang bukan miliknya.*

Next post 🥰🥰

**bab 3 penjara tanpa jeruji

​Malam semakin larut, namun kantuk enggan menyapa Maya. Di kamar utama yang dingin karena embusan AC, Aris sudah mendengkur halus, seolah beban kata-kata tajam yang ia lontarkan tadi sore tidak membekas sedikit pun di benaknya.

Bagi Aris, menyakiti hati istri adalah rutinitas, sedangkan memuja keluarga besarnya adalah ibadah.

​Maya berbaring di sisi tempat tidur yang paling pinggir, menjaga jarak agar kulitnya tidak bersentuhan dengan suaminya.

Ada rasa mual yang tiba-tiba muncul setiap kali ia menyadari bahwa pria yang sedang tidur dengan nyenyak ini adalah orang yang baru saja menghina ayahnya dan menomorduakan kesehatan anaknya.

​Dafa mendengkur kecil di boks bayi di samping tempat tidur. Maya menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya melayang pada masa lima tahun lalu, saat ia masih menjadi sekretaris andalan di sebuah perusahaan logistik. Saat itu, ia adalah wanita yang penuh percaya diri. Rok pensil yang rapi, sepatu hak tinggi, dan kemampuan negosiasi yang disegani kawan maupun lawan.

Namun, semua itu terkikis habis sejak ia menerima pinangan Aris dan menyetujui permintaannya untuk berhenti bekerja.

​"Cukup aku yang cari uang, May. Kamu tugasnya jaga rumah dan kehormatan kita. Aku tidak mau istriku kelelahan melayani bos lain,"

kata Aris saat itu dengan suara yang terdengar sangat protektif. Maya yang sedang jatuh cinta menganggap itu sebagai bentuk kasih sayang tertinggi. Ia tidak sadar bahwa itu adalah awal dari penjaranya.

​Keesokan paginya, suasana rumah kembali seperti biasa—dingin dan kaku. Maya bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan yang diminta Aris: nasi uduk komplit tapi dengan anggaran yang sangat mepet. Ia harus memutar otak bagaimana sisa uang kemarin bisa menjadi hidangan yang tampak mewah di mata Aris, agar pria itu tidak punya alasan untuk mencaci-makinya lagi.

​Saat Maya sedang menata piring, ponsel Aris yang diletakkan di atas meja makan bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp keluarga Baskoro. Karena layar ponsel itu tidak terkunci, Maya bisa membaca sekilas notifikasi yang muncul.

​Siska: "Mas Aris, makasih ya uang semesterannya! Oh ya, Ibu bilang kulkas di rumah agak berisik, kayaknya sudah mau rusak. Ada promo di mall dekat sini, merek yang Mas Aris suka lagi diskon. Gimana?"

​Beberapa detik kemudian, Aris muncul dari kamar, sudah rapi dengan kemeja oxford berwarna biru muda. Ia menyambar ponselnya, mengetikkan balasan dengan senyum kecil yang jarang ia tunjukkan pada Maya.

​"Nanti siang saya transfer ke Ibu buat beli kulkas baru. Pilih saja yang paling besar," gumam Aris pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, namun cukup keras untuk menyayat hati Maya.

​Maya menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di tangannya saat menuangkan kopi. "Mas, tadi malam aku bilang... SPP Dafa..."

​Suara kursi yang bergeser keras di lantai keramik membuat Maya terlonjak. Aris menatapnya dengan pandangan dingin yang seolah bisa membekukan darah.

​"Lagi-lagi itu. Kamu ini tidak ada bosannya, ya? Saya baru saja bangun, sudah disuguhi keluhan," bentak Aris. Ia mengambil selembar roti bakar, lalu melemparkannya kembali ke piring. "Nasi uduknya kurang garam. Kamu benar-benar tidak bisa melakukan apa pun dengan benar, ya? Masak tidak becus, urus uang tidak bisa, cuma bisa menuntut!"

​"Aku tidak menuntut untuk diriku sendiri, Mas! Ini untuk Dafa! Kalau tidak dibayar sekarang, dia tidak bisa ikut ujian akhir pekan ini. Apa kamu mau anakmu malu di depan teman-temannya karena ayahnya yang manajer tidak mampu bayar sekolah?" Maya akhirnya berani menaikkan nada bicaranya.

​Aris berdiri, badannya yang tegap menjulang di depan Maya, memberikan tekanan psikologis yang kuat. Ia mencengkeram rahang Maya pelan, namun penuh ancaman.

​"Jangan sekali-kali kamu meragukan kemampuan saya, Maya. Saya punya uang, tapi saya tidak suka uang saya dihambur-hamburkan oleh istri yang tidak tahu diri. Kamu pikir saya tidak tahu? Kamu pasti diam-diam kasih uang ke Bapakmu di desa, kan? Makanya uang belanja selalu kurang!"

​"Demi Allah, Mas! Bapak tidak pernah minta satu rupiah pun! Bapak justru mengirimkan pisang dan beras setiap bulan supaya kita tidak kekurangan!" tangis Maya pecah.

​"Halah! Beras busuk begitu saja dibanggakan. Sudah, diam! Saya berangkat kerja. Jangan berani-berani telepon saya hari ini kalau cuma mau bahas uang."

​Aris menyambar tas kerjanya dan melenggang pergi. Suara raungan mesin mobil di garasi terdengar seperti ejekan bagi Maya. Ia terduduk di lantai dapur, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di tengah isak tangisnya, ia teringat ayahnya. Ayah yang selalu bangga memiliki menantu seorang manajer, ayah yang selalu melarang Maya mengeluh karena takut mengganggu keharmonisan rumah tangganya.

​Siang harinya, Maya mencoba menyibukkan diri dengan membersihkan gudang belakang rumah, sekadar untuk mengalihkan pikiran dari rasa lapar dan sesak di dada. Di antara tumpukan kardus tua, ia menemukan sebuah kardus yang sudah berdebu. Di dalamnya terdapat laptop lama miliknya dari zaman kuliah, serta beberapa sertifikat pelatihan manajemen dan sertifikasi bahasa Inggris yang dulu ia raih dengan susah payah.

​Ia menyentuh layar laptop itu dengan ujung jarinya. Benda ini adalah saksi bisu betapa ia pernah menjadi wanita yang kompeten. Maya mencoba menyalakannya. Ajaib, setelah beberapa menit diisi daya, laptop itu kembali hidup meski lambat.

​Sebuah ide mulai tumbuh di kepalanya—seperti tunas kecil di tengah padang pasir. Ia teringat temannya, Raka, yang dulu pernah bekerja satu divisi dengannya. Raka sekarang mengelola sebuah agensi pemasaran digital yang sukses. Beberapa bulan lalu, Raka sempat menghubunginya lewat LinkedIn, bertanya apakah Maya tertarik untuk mengambil proyek freelance sebagai admin atau penyusun konten karena Maya dikenal memiliki tulisan yang persuasif.

​Saat itu, Maya menolak karena takut Aris marah. Tapi sekarang?

​"Kalau Aris tidak mau memberikan nafkah yang layak, aku yang akan mencarinya sendiri," batin Maya.

​Ia mulai membersihkan layar laptop itu dengan kain lap. Ada semangat baru yang mulai mengalir di nadinya. Ia tidak akan lagi menunggu belas kasihan dari kartu ATM Aris yang selalu dijaga ketat pemiliknya. Ia akan membangun jalannya sendiri, setapak demi setapak, tanpa perlu Aris tahu.

​Sambil menggendong Dafa yang mulai merangkak di lantai, Maya mulai mengetik sebuah pesan di layar ponselnya yang retak. Sebuah pesan untuk Raka.

​"Rak, apa lowongan admin konten itu masih ada? Aku butuh pekerjaan. Tapi tolong, jangan beritahu siapa pun, terutama Aris."

​Maya tahu, ini adalah awal dari sebuah kebohongan besar dalam rumah tangganya. Namun baginya, berbohong demi memberi makan dan pendidikan anak jauh lebih mulia daripada jujur tapi harus merangkak di bawah kaki suami yang tidak punya nurani.

​Di luar, matahari bersinar terik, seolah menyoroti tekad Maya yang baru saja lahir. Aris boleh saja merasa menjadi pahlawan bagi keluarganya, tapi ia tidak sadar bahwa istri yang ia anggap remeh kini sedang mempersiapkan diri untuk melepaskan belenggu yang selama ini mengikatnya.

​Maya Safira tidak akan lagi menjadi bayangan. Ia akan menjadi badai yang suatu hari nanti akan meruntuhkan istana kesombongan Aris Baskoro.

Next post 🥰

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!