"PAPA! JANGAN PUKUL MAMA LAGI! TOLOOONG!"
Teriakan yang keras dan penuh ketakutan di tengah rumah
Gelsya, gadis kecil yang masih berusia enam tahun itu, menangis histeris sekuat tenaga. Tubuh mungilnya gemetar hebat melihat pemandangan mengerikan di depan matanya sendiri.
Ayahnya, Rinto, seorang pria bertubuh besar dan bau alkohol, terus saja memukuli ibunya tanpa ampun.
"Ughhhh... ahhh..."
Rintihan pedih keluar dari mulut Ghaizka. Tubuhnya sudah tak kuat menahan hantaman pukulan itu.
Ia berusaha merangkak, berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ada, tangannya terulur ke arah anaknya seolah ingin melindungi, namun kakinya terasa lemas tak berdaya.
"Gelsya... Nak... pergi... menjauh lah... cepat lari..." desis Ghaizka dengan suara parau dan terbata-bata, air mata bercampur darah mulai mengalir di pipinya.
Namun rasa sayang seorang anak membuat Gelsya tak mau pergi. Ia ingin memeluk ibunya, ingin menahan tangan ayahnya yang kejam itu.
Tapi Rinto tak punya hati. Melihat istrinya masih bergerak, amarahnya justru semakin memuncak.
BAK! BUK! BAK! BUK!
Pukulan-pukulan itu mendarat bertubi-tubi dengan keras dan kejam. Kali ini tidak hanya di badan, tapi satu tendangan keras tepat mengenai wajah Ghaizka.
Tubuh kurus itu langsung ambruk terhempas ke lantai.
Darah segar mengalir deras dari pelipis dan kening Ghaizka yang membasahi lantai dan rambutnya.
Matanya sayup, napasnya tersengal lemah, dan akhirnya... ia kehilangan kesadaran. Tubuhnya terkulai lemas tak bergerak sama sekali.
"MAMA! MAMA BANGUN!!"
Gelsya berteriak sekencang-kencangnya. Ia langsung menjatuhkan diri dan memeluk tubuh ibunya yang sudah tak sadarkan diri itu.
Ia mengguncang-guncang bahu ibunya dengan tangan kecilnya, menangis sejadi-jadinya.
"Mama... jangan tinggalkan Gelsya... Mamaaa..." isaknya memilukan.
Namun, apa yang dilakukan Rinto justru di luar akal sehat manusia.
Pria itu sama sekali tidak tergerak hatinya melihat istrinya berlumuran darah dan pingsan.
Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa kasihan, apalagi rasa bersalah. Wajahnya justru terlihat kesal dan jijik.
"HEY! BANGUN KAU! JANGAN PURA-PURA MATI SANA!" teriak Rinto garang.
JEDAG!
Ia menendang perut Ghaizka dengan kuat seolah menendang karung sampah.
"Cepat bangun! Sana buatkan aku kopi! Aku haus!" perintahnya dengan nada tinggi dan kasar.
"PAPA! JANGAN! JANGAN PUKUL MAMA LAGI! Mama sakit Pa! Mama terluka! Lihat ini darahnya banyak sekali! Mama pingsan!" teriak Gelsya mencoba melindungi tubuh ibunya dengan badannya sendiri.
Gadis kecil itu menunjuk darah yang mulai menggenang di lantai, berharap ayahnya sadar dan berhenti.
Tapi Rinto hanya mendengus sinis, wajahnya penuh kekejaman.
"Hah! Cuma gitu aja pingsan! Ibu kamu itu cuma pandai akting dan pura-pura mati supaya tidak disuruh kerja!" katanya dingin.
Ia kembali menendang kaki istrinya yang tak berdaya itu sekali lagi.
"Cepat kau suruh dia bangun! Suruh dia buat kopi panas sekarang juga sebelum aku marah besar!"
Rinto meninggalkan mereka berdua di lantai yang berlumuran darah, duduk di sofa dengan santai seolah apa yang terjadi bukanlah apa-apa,
Ia meninggalkan Gelsya yang menangis tersedu-sedu di samping ibunya yang sudah tewas.
******
Perlahan-lahan, kelopak mata yang berat itu mulai terbuka.
Cahaya yang terlalu terang membuat penglihatannya sedikit buram. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya. Suasana di sekelilingnya terasa sangat berbeda, modern, dan dingin.
"Di... di mana ini?" gumamnya pelan, suaranya terdengar serak dan lemah.
"Mama! Mama akhirnya bangun!"
Tiba-tiba sebuah tubuh mungil memeluk lehernya dengan erat.
Seorang gadis kecil yang cantik tapi sangat menyedihkan, matanya bengkak merah karena menangis seharian, menangis tersedu-sedu di dada sang ibu.
Ia menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki, lalu bertanya dengan nada dan datar.
"Kamu siapa?"
"Mama tidak ingat aku?" tanya Gelsya menaikan alisnya.
Wanita itu mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia sangat yakin, beberapa saat yang lalu ia sedang berada di Zaman Kuno, di puncak menara tertinggi, sedang meramu Pil Naga Suci untuk mencapai keabadian.
Namun, pengkhianatan datang dari orang yang paling ia percaya, kekasihnya sendiri. Ia ingat jelas pedang yang menembus dadanya, darah yang membanjir, dan kegelapan yang menyelimuti.
Ia seharusnya sudah mati!
Lalu kenapa ia bangun di tempat aneh ini? Kenapa pakaian yang ia kenakan berbeda? Kenapa bentuk dan suasana di sekitarnya terlihat begitu asing?
Perlahan ia mencoba duduk bersandar di kepala ranjang. Saat ia melihat gadis kecil itu kembali menangis, tiba-tiba...
DUG!
"ARRRGGHH!!"
Sakit kepala yang luar biasa menyerang otaknya seolah hendak meledak. Gambar-gambar, suara-suara, dan ingatan berputar kacau di dalam benaknya.
Ingatan Pertama:
Ia adalah Mei Yu, seorang tabib wanita terkuat di Zaman Kuno. Cantik dan sangat dihormati.
Ia memiliki kekuatan bela diri tertinggi. Tapi Ia tewas dibunuh oleh kekasihnya yang iri akan kesaktiannya saat sedang menyelesaikan ramuan kehidupan abadi.
Ingatan Kedua:
Ia adalah Ghaizka biasa, seorang wanita lemah dan penakut di Dunia Modern ini. Ia menikah dengan pria brengsek bernama Rinto. Hidupnya penuh siksaan, dipukuli, dihina, suaminya penjudi dan pemabuk. Ia memiliki seorang anak perempuan bernama Gelsya. Dan terakhir, ia mati karena dipukuli hingga berdarah oleh suaminya sendiri.
Semua ingatan itu menyatu dalam sekejap.
"Kenapa... kenapa ada dua ingatan yang berbeda di kepalaku?!" batinnya kebingungan.
Ia menatap tangannya sendiri. Tangan yang dulu selalu memegang pedang dan ramuan obat, kini terlihat putih, kurus, dan penuh memar.
Tiba-tiba sebuah kesadaran menyadarkannya, membuat napasnya tercekat.
"Jangan bilang... aku... aku berpindah tubuh?!"
Ia terbelalak tak percaya.
"Ratu Tabib yang gagah dan tak terkalahkan... ternyata terlahir kembali ke dalam tubuh wanita lemah yang sering disiksa suaminya sendiri?! Di dunia yang aneh ini?!"
"Mama... mama lupa dengn Gelsya ya? Gelsya sedih banget, Gelsya akan melakukan apa saja asalkan Mama bisa ingat Gelsya," kata Gelsya terlihat sedih melihat ibunya melupakan dirinya.
Mei Yu yang kini telah menjadi Ghaizka menatap Gelsya. "Ternyata setelah berpindah tubuh, aku memiliki seorang anak yang cantik," kata Ghaizka memegang pipi Gelsya.
"Baiklah, karena aku sudah berpindah ke tubuh ini, aku akan membalas semua perbuatan suami brengsek itu kepada pemilik tubuh asli ini!" Janji Ghaizka mengepalkan tangannya.
"HEY! KAU BELUM MATI, CEPAT BUATKAN AKU KOPI! LAMA BANGET SIH! PURA-PURA MATI PULAK KAU"
Teriak Rinto berdiri di depan pintu kamar, wajahnya beringas dan penuh amarah seolah-olah istrinya adalah budak yang tidak berharga.
Mendengar suara amarah itu, Gelsya langsung terkejut. Gadis kecil itu segera berdiri, air mata masih terus mengalir membasahi pipinya. Ia berdiri di depan tubuh ibunya yang terbaring lemah, seolah menjadi pelindung ibunya.
"Papa! Jangan teriak-teriak dan jangan pukul Mama lagi!" kata Gelsya dengan suara terbata-bata dan penuh isak tangis. Matanya merah sembab menatap ayahnya dengan penuh ketakutan namun berusaha tampil berani.
"Mama sudah sangat kesakitan Pa... Biar Gelsya saja yang buat kopinya. Biarkan Mama istirahat dulu, ya Pa?" pintanya dengan suara terisak.
Rinto menatap sekilas ke arah anaknya itu. Wajahnya tampak kesal dan jijik, namun ia tidak menolak tawaran itu.
"Hmph! Yang cepat! Jangan lama-lama!" dengusnya kasar, lalu berbalik badan dan berjalan kembali duduk di sofa ruang tamu dengan sikap angkuhnya.
Gelsya segera berlari kecil menuju dapur, tangannya masih gemetar saat mengambil gelas dan menyeduh bubuk kopi hitam dengan air panas.
Di dalam kamar, Ghaizka, atau lebih tepatnya jiwa Pendekar Hebat yang kini menempati tubuh ini, masih memegang kepalanya yang terasa berat.
Ia masih dalam keadaan syok berat. Baru saja menyadari bahwa ia telah berpindah tubuh dan waktu, dari Zaman Kuno yang penuh kekuatan Qi, menuju Dunia Modern yang aneh dan asing ini.
Namun, melihat ketulusan mata anak kecil bernama Gelsya itu, hati kerasnya perlahan tergerak.
"Anak ini... sungguh menyayangi pemilik tubuh asli ini," batinnya. "Syukurlah, ingatan dan pengetahuan wanita ini masih utuh di kepalaku. Setidaknya aku tidak akan terlalu bingung beradaptasi dengan dunia aneh ini."
Ghaizka memejamkan matanya perlahan, berkonsentrasi mendeteksi aliran energi di dalam tubuh barunya ini.
"Cek... Apakah kekuatanku masih ada atau hilang tertinggal di masa lalu?"
Ia meraba ingatannya. Dan seketika itu juga, ribuan resep obat, teknik pengobatan, hingga ilmu bela diri tingkat dewa terlintas jelas di otaknya!
"Hah! Bagus! Ilmuku tidak hilang! Semua kemampuan sebagai Tabib Jenius dan Pendekar Hebat masih tersimpan sempurna!" batinnya dalam hati.
Hanya saja, ia tidak membawa apa-apa. "Sayang sekali... jarum akupunkturnya tidak terbawa. Aku harus membuat yang baru nanti."
PLAK!
Suara tamparan keras yang tiba-tiba terdengar dari ruang tamu!
Ghaizka langsung membuka matanya lebar-lebar. Tatapannya berubah tajam dan dingin.
Dari depan pintu, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Rinto baru saja menampar pipi Gelsya dengan sangat keras!
"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN, HAH?! KOPI INI PAHIT SEKALI! KAU INGIN MEMBUNUHKU DENGAN RACUN?!" teriak Rinto histeris, wajahnya memerah padam.
Gelsya mundur, tangannya memegang pipi yang memerah panas. Ia menangis tersedu-sedu ketakutan.
"Hu hu hu... Maafkan Gelsya Pa... Di rumah memang nggak ada gula... Mama nggak punya uang buat beli... Mama juga sedang sakit dan nggak bisa kerja..." katanya terbata-bata dan ketakutan.
"Ya suruh dia kerja! Dia kan belum mati!" hardik Rinto dengan amarah.
Melihat itu, emosi di dalam diri Ghaizka meledak!
"BRUTAL!!"
Dengan gerakan yang cepat dan luar biasa, Ghaizka bangkit dan melangkah keluar. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih cangkir kopi panas yang ada di tangan Rinto.
BYURRR!
Ghaizka mengguyurkan seluruh isi kopi panas itu tepat ke wajah dan kepala Rinto!
"AAAAAAGGGGHHHH!! PANAS! PANAS SIALAN!"
Rinto melompat bangun dari sofa sambil berteriak kesakitan luar biasa. Wajah dan kepalanya langsung memerah karena kepanasan, air kopi menetes dari rambut dan bajunya. Ia mengusap-usap wajahnya dengan panik.
Ia menatap Ghaizka dengan mata melotot penuh kebencian dan keterkejutan.
"KAU SUDAH GILA YA HA?! BERANI-BERANINYA KAU MENYIRAMKU! HARI INI JUGA AKU BUNUH KALIAN BERDUA!" teriak Rinto mengamuk, siap menyiksa dan memukuli istrinya habis-habisan.
Dengan sekuat tenaga, ia mengayunkan tinjunya yang besar dan keras tepat ke arah wajah Ghaizka. Ia yakin dengan satu pukulan saja, wanita ini pasti akan hancur dan kembali menangis memohon ampun seperti biasa.
Namun... apa yang terjadi selanjutnya di luar dugaannya.
Cekrek!
Dengan gerakan yang begitu santai namun secepat kilat, Ghaizka mengangkat tangannya dan menangkap pergelangan tangan Rinto dengan mudah!
Tinju yang mematikan itu berhenti tepat di udara, tidak bisa bergerak maju sedikit pun, seolah terkunci oleh besi baja.
"Apa?!" Rinto terbelalak kaget. Ia mencoba menarik tangannya, mencoba memukul lagi, tapi tangan itu seperti tertanam di cengkeraman Ghaizka. Tidak bergerak sama sekali!
Wajah Ghaizka datar, dingin, dan tanpa ekspresi. Tatapannya tajam menembus jantung Rinto.
"Sudah cukup main-mainnya..." kata Ghaizka pelan.
Wusss!
Dengan satu gerakan memutar tubuh yang santai namun penuh kekuatan dahsyat, Ghaizka menggunakan tenaga lawan untuk melawannya.
Bughh!!
Tubuh besar Rinto terlempar begitu saja oleh wanita kurus itu! Ia terpelanting jauh, tubuhnya menghantam dinding tembok dengan suara yang sangat keras, lalu akhirnya terhempas jatuh ke lantai.
Debu berterbangan. Suasana hening seketika.
Rinto meringkuk di sudut ruangan, memegang pinggang dan punggungnya yang terasa remuk. Ia bahkan tidak bisa berdiri lagi. Matanya melotot tak percaya menatap Ghaizka.
"Kau... kau beraninya kau..."
Di sampingnya, Gelsya hanya bisa berdiri mematung dengan mulut ternganga.
"Mama... Mama hebat sekali..." bisik gadis kecil itu dalam hati.
Ia tidak bisa membedakan lagi, apakah ini benar-benar ibunya yang dulu penakut dan lemah? Kenapa sekarang terlihat begitu gagah, berani, dan keren seperti pahlawan?! Gelsya merasa bangga sekaligus takjub.
"Jika kau masih merasa kuat, ayo bangun kembali dan lawan aku!" tantang Ghaizka dengan suara dingin dan tegas.
Ia berdiri tegak, tangan diletakkan di pinggang, menatap tajam ke arah Rinto yang masih tergeletak kesakitan.
Dengan sisa tenaga yang ada, Rinto berusaha merangkak bangkit. Wajahnya memerah menahan sakit di bagian punggung, namun amarah di matanya masih membara.
"KU BUNUH KAU! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriaknya keras, penuh kebencian.
Meskipun tubuhnya gemetar, ia tetap memaksakan diri berdiri dan mencoba melayangkan pukulan sekali lagi ke arah Ghaizka agar hatinya puas.
Namun, ia terlalu lemah. Gerakannya lambat dan mudah ditebak.
Dengan gerakan cepat dan luwes, Ghaizka berputar sebentar di tempat, lalu dengan satu tendangan keras...
Bugh!
Sebuah pukulan telak mendarat tepat di kepala Rinto! Belum sempat pria itu sadar, diikuti dengan satu tendangan kuat yang membuat tubuhnya terhempas keras ke lantai.
Gedebuk!
Mata Rinto berputar, dan dalam sekejap ia pun langsung pingsan tak berdaya di tempat.
Di sudut ruangan, Gelsya menyaksikan seluruh adegan itu dengan mata terbelalak tak percaya.
Alisnya terangkat tinggi, mulutnya terbuka lebar menahan kekaguman. Ia benar-benar terpukau melihat betapa hebat dan tangguhnya ibunya.
"Wow! Mama keren banget!" seru Gelsya bersorak riang. Ia langsung bertepuk tangan dengan antusias, wajahnya berseri-seri penuh bangga.
Ghaizka menoleh ke arah putrinya, melihat senyum ceria yang menghiasi wajah kecil itu.
Tanpa membuang waktu, Ghaizka kembali beralih ke tubuh Rinto yang sudah tak sadarkan diri. Dengan satu tarikan kuat pada kerah baju pria itu, ia menyeret dan melemparnya keluar rumah dengan kasar.
BRUK!
Suara bantingan keras terdengar saat tubuh Rinto tergeletak begitu saja di halaman rumah, seperti sampah yang tidak berguna.
Ghaizka berdiri di ambang pintu, menatap tubuh itu dengan tatapan jijik dan dingin.
"Heh! Dasar pria menjijikkan! Kau sama sekali tidak pantas hidup bersama kami, apalagi tinggal di rumah ini!" umpatnya penuh kebencian.
DUBRAK!
Dengan gerakan kasar, ia langsung menutup pintu rumah itu dengan sangat keras.
"Mama..." panggil Gelsya pelan sambil berjalan mendekat.
Ghaizka menunduk menatap anaknya, lalu berpesan dengan tegas namun lembut.
"Nanti kalau pria itu bangun dan berani mencoba masuk lagi ke dalam rumah, usir dia pergi sejauh mungkin. Jangan biarkan dia menginjakkan kaki di sini lagi," katanya.
Gelsya mengangguk mantap dengan senyum penuh semangat.
"Siap, Mama! Gelsya janji!" jawabnya penuh keyakinan.
Setelah pintu tertutup rapat dan suasana kembali tenang, Ghaizka pun duduk bersandar di sofa. Ia memejamkan mata sejenak, pikirannya bekerja keras.
"Aku harus segera membuat jarum akupuntur. Dengan itu aku bisa mengobati orang dan menghasilkan uang dengan cepat," batinnya merencanakan masa depan.
Namun, tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring. Kruuukk...
Perutnya terasa sangat lapar. Ingatan dari pemilik tubuh asli mulai berputar di kepalanya.
Benar juga, sejak kemarin sore mereka tidak menyentuh makanan sama sekali. Hanya air putih yang menjadi pengganjal perut. Semua stok makanan di rumah sudah di makan habis oleh Rinto semalam, tanpa menyisakan sedikit pun untuk istri dan anaknya.
"Gelsya..." panggil Ghaizka pelan. "Apa ada sesuatu yang bisa dimakan di rumah?"
Gelsya yang duduk di lantai mendongak, wajahnya terlihat sedih dan menunduk malu.
"Tidak ada, Ma... Semua makanan kemarin habis dimakan Papa. Biasanya... kalau mau makan, Mama harus bekerja memungut brondolan sawit di kebun. Itu satu-satunya cara kita dapat uang." jawabnya lirih dan sedih.
Mendengar itu, Ghaizka menghela napas panjang. Begitu kondisinya. Sangat memprihatinkan.
"Begitu ya... Baiklah, tidak apa-apa. Ayo kita pergi bekerja. Hari ini kita harus bisa makan yang kenyang, baru kita bisa menyakiti aktivitas dengan tenang," ucap Ghaizka tegas.
Selain untuk makan, ia juga sadar bahwa ia butuh uang tunai untuk membeli bahan baku besi berkualitas guna membuat peralatan medis dan jarum akupuntur miliknya. Rencana besar tidak bisa berjalan tanpa modal awal.
"Siap, Mama! Sebentar ya, Gelsya siapkan alatnya dulu!" seru Gelsya penuh semangat meski perutnya keroncongan.
Anak kecil itu berlari kecil ke dapur dan sudut rumah. Ia mengambil sebuah karung goni, sehelai kain sarung tua untuk penutup kepala agar tidak kepanasan, sepasang sarung tangan yang sudah lusuh dan bolong-bolong, serta dua buah ember plastik berwarna hitam. Itulah barang mereka untuk bekerja.
Dengan membawa semua itu, Gelsya kembali menghampiri ibunya.
"Mama, semua sudah siap! Ayo kita berangkat," kata Gelsya. Wajahnya terlihat cemas menatap tubuh ibunya yang terlihat masih lemas.
"Soalnya Gelsya juga sudah lapar sekali... pengen banget bisa beli nasi bungkus hari ini. Tapi... kalau Mama merasa tidak kuat, istirahat saja di rumah ya. Biar Gelsya yang bekerja sendirian, Gelsya bisa kok!" ucap anak itu dengan tulus dan penuh pengorbanan.
Hati Ghaizka tersentuh mendengar itu.
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah wanita karir yang tangguh, ahli medis yang disegani, dan tidak pernah memiliki anak. Namun sekarang, melihat ketulusan mata Gelsya yang begitu murni, rela bekerja keras demi ibunya, sebuah ikatan batin yang kuat seketika terbentuk.
Ghaizka tersenyum hangat. "Karena sekarang aku sudah mengambil alih tubuh ini, aku berjanji akan menjagamu seperti anakku sendiri. Tidak akan ada lagi yang berani menyakiti atau mendzolimi kamu di kehidupan ini. Aku janji!" kata Ghaizka dalam hati
Tanpa membiarkan Gelsya memikul beban berat, Ghaizka mengambil alih semua peralatan itu dan menyanggahnya di punggungnya dengan mudah. Lalu, ia membungkuk dan menggendong tubuh mungil dan kurus Gelsya ke dalam pelukannya.
"Ayo kita pergi, Nak. Mulai hari ini, hidup kita akan berubah. Aku janji akan membuatmu bahagia, cukup, dan sejahtera!"
"Terima kasih, Mama..." bisik Gelsya bahagia. Anak itu lalu mencium pipi ibunya dengan penuh kasih sayang dan rasa aman yang baru ia rasakan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!