Sepasang suami istri tengah duduk saling berhadapan di kelilingi hiasan indah berupa bunga-bunga dan berbagai hiasan perayaan lainnya.
Yang mana menambah kesan romantic dan penuh cinta, jelas semua itu telah disiapkan sedemikian rupa oleh salah satu dari dua insan yang tengah duduk dengan tenang itu.
Fania Narendra, wanita cantik dengan lesung pipi yang terlihat manis menghiasi kedua pipinya, ia menatap teduh ke arah pria matang di depannya, yang terlihat semakin menawan.
Namun entah mengapa hatinya merasa mengganjal dengan pandangan itu, seolah tak puas.
Sementara Ronal Andana, balik menatap wanita cantik di hadapannya dengan senyuman manisnya, kekagumannya pada istrinya itu tak pernah surut dimakan waktu, bahkan sampai detik ini dirinya masih terus dibuat jatuh cinta oleh wanita menawan itu.
“Ini anniversary pernikahan kita ke-3, aku berharap tahun depan sudah ada bayi mungil yang akan menambah warna pernikahan kita, Sayang.”
Ronald mengulas senyumannya dengan menggenggam tangan Fania, demi menyalurkan kehangatan yang Ia rasakan saat membayangkan hal itu.
Memang sudah tiga tahun mereka menjalani rumah tangga, namun sampai detik ini mereka belum juga dikaruniai keturunan, bukan karena mereka tidak bisa, tapi memang Fania yang belum ingin memiliki seorang anak, karena alasan karir.
Fania menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dirinya teringat sesuatu yang perlu Ia sampaikan pada suaminya.
“Ronald, apa kamu memang ingin segera memiliki baby untuk saat ini?” tanya Fania dengan ragu.
Fania sudah tahu jawabannya apa, namun ia benar-benar ingin membuka obrolan itu untuk mencapai pada titip perbincangan inti yang ingin diungkapkannya.
“Sayang, tentu saja. Bukankah pernikahan memang wajarnya juga karena ingin memiliki keturunan? Aku pun sama, meskipun keturunan bukanlah alasan utama pernikahan."
"Tapi membayangkan memiliki miniatur dirimu ada di sini, membuatku bahagia.” Jelas Ronald dengan antusiasnya, memang dirinya menginginkan bayi yang lucu sudah sejak tahun pertama pernikahan.
Namun keinginan Fania, ia berusaha untuk menuruti wanita yang begitu dicintainya itu.
“Maafkan aku, Ronald. Bisakah kita menundanya dulu, karena aku belum siap?” tanya Fania dengan gugup, rasanya seperti pengakuan dosa saat ini, karena ia kembali menolak keinginan suaminya.
Ronald menghela nafas panjang, berusaha untuk memaklumi keinginan Fania, mungkin memang istrinya belum siap, karena latar belakang keluarganya.
Ia berusaha untuk memaklumi hal itu, tapi ia juga butuh alasan yang jelas, kalau kemarin karir lalu apalagi saat ini.
“Baiklah, Sayang. Tapi apa alasannya sehingga kamu belum siap? Apa kali ini karir lagi? Aku rasa karirmu sudah baik saat ini, kamu sudah menjadi desainer terkenal. Dan rata-rata kalangan atas, memakai jasamu bukan?” sarkas Ronald menginterupsi jika memang alasannya masihlah karir.
Fania menunduk pelan, takut sebenarnya untuk mengatakan kejujuran yang dipendamnya ini, namun kalau Ia menundanya, pasti akan tambah runyam.
Fania berusaha untuk mengangkat kembali kepalanya, menatap Ronald yang masih setia menatap lekat dirinya. “Ak… ku, apa kamu tak akan marah, bila aku jujur?” tanya Fania dnegan ragu.
Ronald mengangguk mantap. “Bicaralah sejujurnya, aku tak akan marah.”
“Ronald, ehm… aku merasa perasaan cintaku untukmu seakan lenyap dan hi… lang. Maafkan aku” Fania akhirnya mengungkapkan kegundahan hatinya dengan jujur, bahkan Ia tak berani mengangkat kepalanya lagi setelah kembali menunduk.
Deg
Ronald tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, hatinya terasa sesak dan perih mendengar penuturan Fania yang jujur, sungguh kalimat yang baru saja Ia dengar dari bibir manis istrinya tak pernah terbesit sedetik penting dalam pikirannya selama ini.
Ronald menatap sendu ke arah Fania dengan netra yang sudah berkaca-kaca, lidahnya kelu hanya untuk mengeluarkan satu kata pun, ini teramat perih untuk dirinya rasakan.
Tiga tahun, mereka sudah hidup bersama dalam satu atap, ia pikir sudah mengenal Fania luar dan dalam, seluruh yang ada pada Fania, Ia pikir sudah Ia pahami dan Ia kenali.
Tapi detik ini, dirinya merasa tak lagi mengenal wanita di hadapannya itu.
Benarkah wanita yang selama ini ia cintai yang baru saja mengutarakan kalimat menyakitkan itu, apa salahnya, dan apa kekurangannya? sehingga Fania berkata dengan begitu teganya saat ini.
Ronald berusaha mengatur nafasnya yang memburu dan terasa sesak, ia hembuskan nafasnya berkali-kali untuk mengurangi rasa sesak di dalam dadanya.
Dan semua itu tak lepas dari pandangan Fania sejak tadi, Fania hanya mampu terdiam dan merasa bersalah setelah jujur mengungkapkan isi hatinya, apa ia sudah salah, harusnya ia tak jujur mengatakan semua itu.
Ada sebersit penyesalan dalam hatinya, namun ia tepis, karena menurutnya akan lebih baik jika Ronald tahu dibanding ia memendamnya keresahannya sendiri.
Melihat Ronald yang tampak menyedihkan seperti itu, membuat perasaan tidak tega menyusup dalam hati Fania, ingin rasanya ia raih suaminya itu untuk ia bawa dalam dekapan hangatnya.
Namun teringat kembali apa yang sudah ia katakan, Fania sadar jelas bahwa dirinya penyebab suaminya menjadi seperti itu, hingga suara Ronald mengehentikan lamunannya.
“Jadi maumu apa sekarang?” tanya Ronald dengan wajah datarnya, setelah berhasil mengendalikan rasa sesak di hatinya.
Fania menunduk dalam, melihat bagaimana tatapan Ronald yang begitu datar, dan sungguh itu membuatnya takut dan tak nyaman.
“Aku tak ingin kita berpisah, karena aku yakin ini hanya sementara. Dan aku akan mencintaimu lagi.” Jelas Fania dengan begitu yakin, dan begitu entengnya.
Sontak hal itu membuat Ronald tersenyum sinis, ada perih yang kembali menyusup dalam hatinya, semudah itu istrinya berucap padanya, seolah apa yang semua dikatakan tak menyakiti dirinya.
“Lalu bagaimana kalau kamu tetap tak mencintaiku lagi?” tanya Ronald dengan sarkas.
Fania terdiam mendengar ujaran sarkas Ronald, benar hal itu tak pernah ia pikirkan sebelumnya, lalu ia akan bagaimana jika itu terjadi?
Tapi memikirkan perpisahan bersama Ronald, jelas hal itu tidak pernah Ia inginkan, bahkan tak pernah terbesit untuk berpisah dari suaminya itu.
“Aku… aku juga tak tahu, tapi bisakah kita jalani ini dulu? Biarkan waktu yang akan menjawabnya.” Fania menjawab sesuai yang terlintas dalam pikirannya.
Kembali, Ronald mengulas senyum sinisnya. “Semudah itu kamu bicara? Aku tak pernah sedikitpun tak mencintai kamu. Apa kamu sebenarnya mencintai orang lain, saat ini?” sarkas Ronald yang tak mampu lagi menahan geramnya.
Mengingat Fania yang selalu bekerja di luar rumah, bertemu dengan banyak orang-orang hebat, tak menutup kemungkinan bukan, jika Fania bertemu dan jatuh cinta pada seorang pria yang menarik perhatiannya.
Sebagai seorang desainer terkenal, tentu saja Fania memiliki banyak partner bisnis yang cukup menarik dan menawan.
"Ronald, bukankah kamu bilang tak akan marah kalau aku jujur?"
NEXT .......
Sementara Ronald, sebagai pebisnis yang harus pulang pergi ke berbagai kota bahkan negara. Kemungkinan Fania merasa kesepian bukan? Lalu mencari pelampiasan di luar sana. Entahlah, Ronald tak bisa berpikir jernih untuk kali ini, tapi begitulah yang ada dalam pikirannya saat ini.
“Ronald, bukankah kamu bilang tak akan marah kalau aku jujur?” Fania dibuat tersulut emosi, karena tuduhan Ronald kepadanya itu.
Sementara Ronald pun juga semakin terbawa emosi. Dia membanting gelas yang ada di depannya, saking geramnya.
TARR
Fania pun terkejut atas perbuatan suaminya.
“Kenapa? Kamu tak menjawab kalau ada orang yang kamu cintai? Apa itu berarti benar, ada yang kamu cintai, ha?” sarkas Ronald dengan menggebu-gebu.
Fania menangis, Ia merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka. Baru kali ini, Ia melihat sisi lain dari Ronald yang marah. Ia tak pernah tahu jika kemarahan sang suami bisa sampai separah ini.
Tapi jauh di lubuk hatinya, Ia juga merasa sedih karena Ronald menuduhnya dirinya. Padahal Ronald telah lama mengenal dirinya. Dari sejak mereka kenal sampai menikah terhitung sepuluh tahun.
“Ronald, aku minta maaf atas semua ini, tapi aku jujur benar-benar tak ada orang lain diantara kita. Aku bersumpah.” Tegas Fania yang tak mau membiarkan tuduhan Ronald membuatnya merasa bersalah, karena memang faktanya tidak seperti itu.
Ronald mengangkat pandangannya pada Fania, Ia dekati wanita yang sudah melukainya itu. Saat sudah di depan Fania, tangan kanannya terulur untuk mencengkeram kedua pipi Fania. Tidak kencang ataupun kasar, bahkan Fania tak merasa sakit di sana. Namun, itu masih membuat Fania ketakutan. Ronald terlihat seperti orang yang berbeda.
Ronald mendekatkan wajahnya ke telinga Fania, masih dengan tangannya yang mencengkeram pipi Fania. Justru kali ini semakin menekan cengkeraman itu, yang membuat Fania merasa tak nyaman meskipun tak sakit.
“Siapa pria itu?” tanya Ronald dengan nafas beratnya, terdengar dingin dan mencekam untuk Fania dengarkan.
Tes
Fania mengeluarkan air matanya yang tak lagi dapat ia bendung. Ronald membuatnya takut, benar-benar mengerikan kali ini. Ia takut Ronald yang seperti ini. “Lepasin, Nald.” Pinta Fania dengan lirih.
“Bilang, siapa pria itu.” Titah Ronald mengulang kembali kalimatnya.
Fania menggeleng, tak ada. Memang tak ada pria lain selain Ronald dalam hidupnya, bagaimana Ia akan menjawab jika Ronald tak mau untuk percaya seperti ini.
“Tak ada, hanya kamu.” Lirih Fania terisak pelan.
Ronald terdiam, masih tak bisa percaya pada perkataan Fania. Bagimana bisa Fania tak lagi mencintainya kalau memang taka da orang lain. Tapi melihat bagaimana Fania menangis saat ini, ia menjadi tak tega. Dirinya terlalu mencinta Fania.
Akhirnya Ronald melepaskan cengkeraman tangannya dari Fania, tak mau melihat ke arah Fania yang tentu sembab. Ronald langsung pergi meninggalkan tempat mereka merayakan anniversary pernikahan mereka itu.
Tertinggal Fania yang masih terisak, tak menyangka Ronald bisa sekasar itu pada dirinya.
“Hiks kamu jahat, kamu tega.” Isak Fania yang masih meratapi Ronald yang kasar.
“Tak ada, Nald. Aku hanya mencintai kamu selama ini, tak ada pria lain. Tapi kali ini benar-benar aku kehilangan perasaan itu. Jangan benci aku, aku mohon.” Gumam Fania dengan lirih, yang pastinya tak ada yang mendengar. Karena Ronald sudah pergi sejak tadi.
Fania melangkah pelan untuk turun ke bawah, meninggalkan rooftop tempat perayaan anniversary mereka.
Fania melangkahkan kakinya ke kamarnya dan Ronald, namun tak mendapati suaminya berada di sana. Membuat Fania bertanya-tanya kemana perginya suaminya, karena selama mereka menikah, Ronald tak pernah pergi dengan sengaja meninggalkan rumah. Namun kali ini, suaminya pergi, apa sikapnya memang sudah begitu keterlaluan? Namun ia juga tak bisa menampik dan memaksa rasanya yang telah pudar.
Namun, mengapa rasanya ada sisi hatinya yang terasa hampa saat Ronald tak ada si sampingnya, dan entah kemana perginya ia tak tahu kemana. Ada sebersit penyesalan dalam hatinya, setelah ia jujur tentang perasaannya yang hilang untuk suaminya.
Fania kembali meneteskan air matanya, ia jarang bertengkar dengan Ronald karena pria itu akan selalu membujuknya saat sedih ataupun saat mereka sedang mempermasalahkan sesuatu. Namun detik ini, karena kejujurannya ia kehilangan bujuk rayu itu, ia menciptakan pertengkaran mereka, dan kini tak akan ada lagi yang menenangkan dirinya.
Dengan linangan air mata yang tampak membasahi pipinya, Fania memaksakan untuk memejamkan matanya. Besok ia akan melihat Ronald kembali, jadi tak perlu dirisaukan keberadaan pria itu. Mungkin suaminya hanya sedang menenangkan diri, sama seperti dirinya yang membutuhkan ketenangan pula.
Malam semakin larut, terdengar derap langkah kaki semakin mendekat ke arah Fania. Fania yang sudah terlelap tentu tak menyadari hal itu. Sementara Ronald yang memang sudah kembali dari luar, semakin mendekat ke sisi ranjang tempat Fania terlelap.
Dengan tatapan sendu, Ronald mengusap lembut pipi Fania dengan hangat. Wanita yang beberapa jam lalu telah melukai perasaannya dengan kata-kata dan kejujurannya, ia tak bisa berbalik menyakitinya. Ia terlalu mencintai Fania, melebihi rasa cintanya pada dirinya sendiri.
“Sayang, kenapa? Apa yang kurang hingga kamu kehilangan perasaan itu?” lirih Ronald dengan dada sesak.
Bertahun-tahun mereka menjalani kehidupan bersama, hingga kejujuran Fania bagai kejutan paling buruk yang pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Rasanya mustahil, namun Fania terlihat tak berbohong sama sekali. Rasanya ia ingin memaksa Fania untuk mencintai lagi, namun kebahagiaan istrinya selalu menjadi prioritas utamanya selama ini.
Ronald ikut berbaring di sisi sebelah Fania. Kini ia sudah lebih tenang dibandingkan saat bertengkar dengan Fania. Setelah pertengkaran mereka, Ronald merasa marah, kecewa, dan terluka. Hingga ia perlu waktu sendiri untuk menenangkan diri. Hingga memutuskan untuk keluar, mencari tempat yang bisa menenangkan dirinya.
Dan terbukti, kini ia semakin lebih tenang dan bisa memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Apapun kesalahan Fania, ia tetap mencintai wanita itu. Sekalipun Fania menyakitinya dengan begitu dalam, namun tak bisa memudarkan perasaan cintanya pada istrinya itu. Ia terlalu mencintai istrinya.
Ronald melingkarkan tangannya di perut Fania, ia ingin memeluk wanitanya. Karena mungkin besok Fania tak akan mau lagi ia peluk dan entahlah. Sebelum memejamkan mata, ia kecup dengan lama kening Fania dengan hangat.
“Good night, sayang.” Lirihnya.
Sepasang suami istri itu tampak terlelap dengan saling memeluk satu sama lain, rupanya Fania juga membalas pelukan yang Ronald berikan entah sadar atau tidak.
***
Pagi hari yang cerah menyambut sepasang mata lentik yang mulai terbuka perlahan menyesuaikan Cahaya yang masuk ke kornea matanya. Fania terbangun masih dalam pelukan suaminya, membuat Fania mengernyit namun tersenyum kemudian.
Seperti pemikirannya semalam, Ronald akan kembali ke rumah dan ia akan bertemu Ronald.
"Carilah bahagiamu, anggap kita hanyalah dua orang asing sesuai keinginanmu."
NEXT .......
Fania memutuskan untuk kembali memejamkan matanya, karena masih ingin lebih lama merasakan kenyamanan yang suaminya berikan. Hingga pada akhirnya, Ronald yang terlebih dahulu bangun dan bersiap untuk bekerja.
Saat Ronald berada di ruang makan, menikmati sarapannya. Tampak Fania mendekat ke arahnya, mendudukkan diri dan ikut sarapan di sampingnya. Tak ada yang membuka suara diantara keduanya, hingga keheningan yang melanda mereka. Hanya suara denting sendok dan garpu yang mengisi keheningan itu.
Ronald bangkit terlebih dahulu, karena sudah menyelesaikan sarapannya lebih dulu. Tangannya terulur memberikan kunci mobil milik Fania yang memang selama ini dirinya yang menyimpan semua kunci kendaraan.
Sementara Fania menatap heran ke arah Ronald, dengan tatapan matanya ia berusaha bertanya apa yang Ronald maksudkan dengan memberikan kunci mobil miliknya.
“Carilah bahagiamu, anggap kita hanyalah dua orang asing sesuai keinginanmu.” Jelas Ronald dengan nada dinginnya, tak ada lagi kehangatan di sana, suaminya telah berubah.
Ronald berlalu, meninggalkan Fania yang masih termangu. Lagi, ada perasaan hampa yang menggerayangi hatinya. Namun disisi lain, entah mengapa ia merasakan kebebasan itu. Ia merasa bebas melakukan apapun, seolah tak akan ada lagi belenggu yang mengikatnya.
Fania memutuskan untuk segera menyelesaikan sarapannya, kemudian berangkat ke kantornya. Ia ingin merayakan hari ini, entah hari apa ia menyebutnya. Namun ia ingin merayakan kebebasan ini, bersama teman-temannya.
Seperti apa yang Fania rencanakan, ia benar-benar merayakan kebebasannya mulai hari ini. Tanpa sadar ia telah menyakiti perasaan suaminya dengan begitu dalam. Dibalik itu semua, nyatanya Ronald masih terus memantau segala kegiatan istrinya. Dan ia mengetahui bagaimana bahagianya istrinya saat ini, setelah ia membebaskan wanita itu.
***
Sementara Ronald, saat ini ia yang seharusnya sibuk dengan pekerjaannya. Justru tampak menahan rasa perih dan sesaknya melihat hasil laporan tangan kanannya yang selama ini selalu mengawasi istrinya.
“Apa kau sedang bertengkar dengan istrimu, Bos?” tanya asisten pribadi Ronald, yang memang memiliki hubungan akrab dengan atasannya itu.
Ronald menggeleng pelan. “Aku ingin bertanya padamu, aku hanya penasaran. Apa seseorang yang sudah terikat dalam pernikahan bisa kehilangan rasa pada pasangannya.”
Asistennya yang bernama Mark itu, terdiam sejenak terlihat berpikir. “Hm aku rasa itu mungkin saja, Bos. Hanya saja kebanyakan orang tak menunjukkan secara langsung pada pasangannya, hingga mereka saling tak mengetahui. Kemungkinan mereka menghindari konflik dan pertengkaran, jadi tak perlu jujur pada pasangan yang dinikahinya.” Ujar Mark, hingga ia tersentak saat pemikiran lain muncul dalam benaknya.
“Bos, apa kau sedang bosan dengan istrimu hingga mempertanyakan hal itu?” todong Mark yang menatap atasannya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Ck bukan urusanmu” jawab Ronald dengan nada datarnya.
Jawaban itu membuat Mark memutar bola matanya malas, untuk apa bertanya padanya kalau atasannya itu tak mau terbuka padanya. “Ayolah, Bos siapa tau aku bisa membantumu. Mungkin kau bukan bosan dengan istrimu, hanya butuh suasana berbeda saja. Ah bisa dikatakan kalau kau bukan bosan dengan orangnya tapi bosan dengan situasinya yang monoton.” Jelas Mark demi memancing atasannya untuk mau membuka topik itu dan jujur padanya.
Bagaimana pun, Mark merasa ingin membantu permasalahan atasannya itu jika memang dibutuhkan. Namun jika atasannya itu masih ingin merahasiakan darinya, tak masalah juga. Namun rasanya aneh, karena selama ini apapun urusan Ronald, pria itu selalu meminta bantuannya untuk diurus.
***
Sebulan berlalu, Fania benar-benar merayakan kebebasannya. Tak ada lagi suaminya yang setiap detik mengganggunya untuk menanyakan kabar atau memintanya mengirim foto dimanapun dirinya berada. Rasanya hidup Fania benar-benar damai dan tak lagi terikat apapun.
“Fan, apa Ronald tak menerormu karena sudah lebih tiga minggu di sini?” tanya Chaerlina, yang merupakan sahabat Fania.
Saat ini mereka memang sedang berlibur bersama ke luar negeri. Dan tentu saja Fania tidak bersusah payah meminta izin Ronald seperti biasanya, ia hanya memberitahu dan pria itu juga terlihat biasa saja.
Fania menggeleng pelan, kemudian tersenyum lebar. “Kita bebas mau kemana pun.” Ujar Fania dengan tertawa, ia sebahagia itu terbebas dari segala aturan ketat Ronald selama ini. Namun itu menjadi tanda tanya besar untuk Chaerlina karena tak biasanya suami dari sahabatnya sesantai itu. Chaerlina memang tak mengetahui apapun tentang masalah rumah tangga keduanya.
“Fan, apa kau tak curiga. Kalau Ronald selama ini begitu ketat padamu, sementara kini dia terlihat membiarkanmu. Apa kau tak curiga dia memiliki wanita lain di luar sana?” tanya Chaerlina sesuai asumsi dalam benaknya.
Fania terdiam sejenak, perkataan Chaerlina memang masuk akal. Namun jika memang keadaan mereka baik-baik saja sebelumnya. Karena semua ini memang permintaannya pada Ronald, jadi kalau Ronald tak lagi mengganggunya itu karena kesepakatan mereka. Ia dan Ronald memang sepakat menjalani kehidupan masing-masing layaknya orang asing, sampai perasaan cintanya untuk Ronald kembali.
“Jangan salah paham, Ronald tak akan seperti itu” ujar Fania dengan yakin, karena ia mengetahui seberapa besar perasaan Ronald untuk dirinya. Dan suaminya tak mungkin akan mengkhianatinya.
Chaerlina tertawa sinis. “Hei, apa yang membuatmu yakin? Semua pria itu sama saja, saat yang dia butuhkan tak ada didekatnya, apa yang harus mereka lakukan? Apa kau yakin, suamimu akan diam saja? Kalau biasanya dia akan menyusul dan memaksamu pulang. Sementara sekarang tidak. Apa kira-kira yang akan pria lakukan hm?” tanya Chaerlina dengan sarkas menatap sinis Fania.
Chaerlina hanya ingin sahabatnya berpikir dengan rasional, tidak hanya mengikuti hatinya yang terlalu yakin pada Ronald. Dan Chaerlina berhasil, Fania terlihat diam dan tampak murung.
Sepertinya wanita itu tengah memikirkan apa yang temannya itu katakan. Namun itu hanya berlaku sebentar, karena setelahnya Fania terlihat tersenyum tipis dan menarik tangan Chaerlina untuk kembali menikmati pantai yang saat ini mereka kunjungi.
Membuat Chaerlina tercengang. “Are you crazy? Kau benar-benar tak masalah dengan sikap suamimu?” tanyanya tak percaya.
Fania menggeleng pelan. “Enough, kita nikmati liburan kita oke. Tak perlu mengkhawatirkan apapun” ujar Fania dengan nada peringatan. Ia hanya ingin menikmati waktu bebasnya kali ini, tak ingin memikirkan hal apapun terkait Ronald, suaminya.
Setelah selesai menikmati keseruan mereka di salah satu pantai yang berada di negara yang mereka kunjungi. Keduanya memutuskan kembali ke penginapan mereka.
Saat keduanya bersiap untuk mengistirahatkan tubuh, suara Chaerlina memecah keheningan mereka.
“Fan, apa sebenarnya kau tau Ronald memiliki wanita lain?” tanyanya dengan wajah penasaran.
Sontak pertanyaan Chaerlina membuat Fania tersentak. Hei, jangankan wanita lain rasanya Ronald tak akan mungkin melirik wanita manapun karena sudah merasa cukup dengan dirinya. Namun itu hanya mampu ia ucapkan dalam hatinya saja. Karena ia tak ingin sampai sahabatnya mengetahui permasalahan yang sebenarnya.
NEXT .......
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!