Langit malam menggantung rendah, seolah ingin menyentuh ujung kota yang dipenuhi lampu-lampu redup. Angin berembus pelan, membawa sisa panas siang yang belum sepenuhnya hilang, menyelusup di antara bangunan tua yang berdiri diam tanpa suara. Dari atas rooftop sebuah gedung yang jarang dikunjungi orang, seorang gadis berdiri sendirian, memandangi jalanan yang mulai lengang dengan tatapan yang sulit ditebak.
Airel Virellia.
Namanya terdengar lembut, hampir seperti sesuatu yang seharusnya dipenuhi kehangatan dan cerita yang menyenangkan. Namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang berbeda, bukan luka yang terbuka, bukan pula kesedihan yang berisik, melainkan ruang kosong yang perlahan tumbuh dan menetap tanpa pernah benar-benar pergi. Ia sudah terbiasa dengan rasa itu, meski tidak pernah benar-benar mengerti sejak kapan semuanya berubah.
Kota di bawahnya terus bergerak seperti biasa, kendaraan berlalu tanpa henti, lampu lalu lintas berganti warna, dan orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Semua terlihat hidup dan terarah, seolah tidak ada satu pun yang tertinggal di tempat yang sama. Hanya dirinya yang masih berdiri di titik itu, seakan lupa bagaimana rasanya melangkah tanpa membawa sesuatu dari masa lalu.
Ia menarik napas dalam, membiarkan udara malam memenuhi dadanya sebelum menghembuskannya perlahan. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup untuk menenangkan pikirannya yang sering berjalan terlalu jauh tanpa arah yang jelas.
“Sudah tujuh tahun… tapi aku masih di sini.”
Kalimat itu keluar begitu saja, seperti kebiasaan yang tidak pernah benar-benar ia sadari. Ia tidak lagi menghitung berapa kali sudah mengucapkannya, karena pada akhirnya angka tidak mengubah apa pun. Namun setiap kali kata-kata itu terucap, selalu ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya, sesuatu yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan meski dirinya terasa tetap di tempat.
Airel memejamkan mata sejenak, membiarkan angin menyapu rambut panjangnya yang tergerai. Beberapa helai jatuh ke wajahnya, tapi ia tidak mengusirnya. Ia membiarkan semuanya terjadi begitu saja, seperti ia membiarkan hari-harinya berlalu tanpa banyak perlawanan.
Dulu, tempat ini bukan hanya miliknya.
Dulu, ada seseorang yang berdiri di sampingnya, mengisi ruang yang sekarang terasa terlalu sunyi.
Ingatan itu datang tanpa peringatan, seperti potongan waktu yang menolak untuk benar-benar hilang. Suara tawa yang ringan, langkah kaki yang selalu mendahului, dan janji sederhana yang diucapkan dengan keyakinan yang tidak pernah ia ragukan. Semuanya masih tersimpan dengan jelas, seolah tidak pernah tersentuh oleh jarak dan waktu.
“Aku bakal balik ke sini. Tunggu aku, ya.”
Suara itu masih terdengar di benaknya, tidak berubah sedikit pun. Airel membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke sisi kosong di sebelahnya. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya udara dingin yang mengisi ruang yang dulu terasa hangat.
Ia tersenyum kecil, bukan karena bahagia, melainkan karena sudah terbiasa dengan perasaan itu.
“Aku masih nunggu, tahu.”
Ia bergumam pelan, lebih seperti berbicara pada kenangan daripada seseorang yang benar-benar bisa mendengar. Kata-kata itu tidak menuntut jawaban, tidak juga mengharapkan sesuatu, hanya sekadar pengakuan bahwa ia masih bertahan di tempat yang sama.
Langkah kakinya bergeser mendekati tepi rooftop, membuat pandangannya terhadap kota menjadi lebih luas. Dari sana, semuanya terlihat lebih jauh dan sedikit asing, seperti dunia yang terus berubah tanpa pernah menoleh ke belakang. Ia pernah yakin bahwa segalanya akan kembali seperti semula, tetapi keyakinan itu perlahan memudar tanpa benar-benar hilang.
Airel mengangkat tangannya, seolah ingin meraih sesuatu di udara yang kosong. Tidak ada yang bisa ia sentuh, tidak ada yang bisa ia genggam, dan akhirnya ia menurunkannya kembali dengan perlahan. Gerakan itu terasa ringan, tetapi meninggalkan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Waktu tujuh tahun seharusnya cukup untuk mengubah banyak hal. Cukup untuk membuat seseorang berhenti menunggu dan mulai berjalan ke arah yang berbeda. Namun ada bagian dalam dirinya yang menolak untuk bergerak, bukan karena tidak ingin, melainkan karena tidak tahu harus mulai dari mana.
Suara langkah kaki dari arah tangga darurat tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian yang selama ini terasa akrab. Bunyinya samar, tetapi cukup jelas untuk membuat Airel menoleh dengan alis yang sedikit berkerut. Tempat ini jarang didatangi orang, apalagi di jam seperti ini, sehingga kehadiran orang lain terasa janggal.
Langkah itu semakin mendekat, perlahan namun pasti, hingga akhirnya berhenti tepat di balik pintu besi yang memisahkan tangga dengan rooftop. Pintu itu terbuka dengan bunyi berdecit yang cukup mengganggu, memperlihatkan cahaya dari dalam yang membentuk siluet seseorang.
Airel memicingkan mata, mencoba mengenali sosok itu dari kejauhan.
Seorang pria.
Posturnya tegap, langkahnya tenang, dan cara ia berdiri seolah tempat ini bukan sesuatu yang asing baginya. Rambutnya sedikit berantakan karena angin, sementara wajahnya masih tertutup bayangan, membuat ekspresinya sulit dibaca.
Airel tidak langsung berbicara. Ada sesuatu yang terasa aneh, bukan hanya karena kehadiran orang asing, tetapi karena perasaan yang muncul tanpa alasan yang jelas. Perasaan itu samar, tetapi cukup kuat untuk membuatnya tidak nyaman.
Seperti pernah merasakan hal yang sama sebelumnya.
“Tempat ini ternyata belum berubah.”
Suara pria itu akhirnya terdengar, rendah dan tenang, dengan nada yang terasa terlalu akrab di telinga Airel. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, meski ia tidak ingin mengakui alasan di baliknya.
“Jarang ada yang ke sini,” jawab Airel singkat sambil mengalihkan pandangan. “Kalau kamu cari tempat ramai, ini bukan pilihan yang tepat.”
Pria itu tersenyum tipis, lalu melangkah mendekati pagar pembatas rooftop. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat kehadirannya terasa jelas.
“Justru karena itu aku ke sini.”
Jawaban itu sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang sulit diabaikan. Airel tidak menanggapi, hanya kembali memandang ke arah kota yang terbentang luas di bawah mereka.
“Aku biasa sendiri di sini,” katanya pelan setelah beberapa saat. “Jadi kalau kamu cuma lewat, tidak masalah.”
Pria itu tidak pergi. Ia justru ikut memandang ke arah yang sama, seolah mencoba melihat sesuatu yang selama ini Airel perhatikan.
“Masih sama,” gumamnya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Airel mengernyit sedikit. “Apa yang sama?”
Pria itu menoleh, dan kali ini wajahnya mulai terlihat jelas di bawah pantulan cahaya lampu kota. Tatapan mereka bertemu, dan dalam sekejap, sesuatu di dalam diri Airel terasa bergeser.
Bukan karena ia langsung mengenali siapa pria itu, melainkan karena perasaan yang muncul begitu saja tanpa penjelasan.
Seperti sesuatu yang seharusnya sudah lama hilang, tetapi tiba-tiba muncul kembali.
“Kamu sering ke sini?” tanya pria itu dengan nada santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Airel mengangguk pelan. “Lumayan sering.”
“Sejak kapan?”
Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi Airel tidak langsung menjawab. Ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk memilih kata yang tepat, atau mungkin untuk memastikan bahwa jawabannya tidak membawa sesuatu yang terlalu jauh.
“Sudah lama,” ujarnya akhirnya. “Dari sebelum tempat ini jadi sepi.”
Pria itu mengangguk, seolah memahami tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.
“Menunggu sesuatu?”
Airel tersenyum tipis, matanya tetap mengarah ke kejauhan.
“Mungkin.”
Jawaban itu menggantung di udara, tidak jelas tetapi cukup untuk menyampaikan sesuatu. Pria itu tidak mendesak, hanya berdiri diam, membiarkan waktu berjalan tanpa gangguan.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang tidak sepenuhnya canggung. Airel merasakan ada perubahan kecil dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan mudah.
“Kalau kamu sudah selesai, kamu bisa pergi,” katanya, mencoba menjaga jarak. “Tempat ini tidak punya hal istimewa.”
Pria itu menoleh, senyumnya kembali muncul.
“Kamu salah.”
Airel menatapnya, sedikit bingung dengan keyakinan di suaranya.
“Tempat ini punya alasan untuk membuat seseorang kembali.”
Kalimat itu membuat Airel terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, karena ada sesuatu yang terasa terlalu dekat dengan kenyataan yang selama ini ia hindari.
“Orang datang dan pergi,” ucapnya pelan. “Tidak semua kembali.”
Pria itu tidak membantah, tetapi sorot matanya berubah sedikit.
“Kadang yang kembali bukan cuma orangnya.”
Sebelum Airel sempat bertanya lebih jauh, pria itu sudah melangkah mundur.
“Aku harus pergi.”
Airel menatapnya, ada keinginan kecil untuk menahan atau sekadar bertanya lebih banyak. Namun kata-kata itu tidak keluar, seolah tertahan oleh sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak pahami.
Pria itu berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak sebelum masuk.
“Sampai jumpa, Airel.”
Langkahnya terhenti.
Nama itu.
Airel tidak pernah menyebutkannya, tidak sekali pun sejak pria itu datang. Namun ia mengucapkannya dengan cara yang terasa begitu familiar.
Airel menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu. Jantungnya berdetak lebih cepat, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak punya jawaban pasti.
Angin kembali berembus, kali ini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia menggenggam ujung bajunya, mencoba menenangkan diri yang mulai goyah.
Tatapannya kembali ke sisi kosong di sampingnya, tempat yang selama ini hanya diisi oleh kenangan.
Namun kali ini, ruang itu terasa berbeda.
Tidak sepenuhnya kosong.
“…kamu siapa?”
Pagi di kota itu selalu datang dengan cara yang hampir sama, seolah waktu berjalan mengikuti pola yang sudah ditentukan sejak lama. Jalanan mulai ramai bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi, suara kendaraan bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang terburu mengejar rutinitas. Di antara semua itu, Airel Virellia berjalan dengan ritme yang pas, tidak terlalu cepat, tidak pula lambat, seperti seseorang yang sudah tahu bagaimana caranya bergerak tanpa menarik perhatian.
Tas selempangnya tergantung rapi di bahu, bergerak ringan mengikuti langkahnya. Rambut panjangnya diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang jatuh di sisi wajah, membuat penampilannya terlihat sederhana tanpa usaha berlebihan. Ia tampak seperti mahasiswi pada umumnya, tidak mencolok tetapi tetap mudah dikenali jika diperhatikan lebih lama.
Ia berhenti di depan gerbang kampus, menatap papan nama yang warnanya mulai pudar dimakan waktu. Tempat ini sudah menjadi bagian dari hidupnya selama beberapa tahun terakhir, mengisi hari-harinya dengan rutinitas yang terus berulang. Kelas, tugas, dan percakapan ringan dengan teman-teman berjalan sebagaimana mestinya, tanpa banyak perubahan yang berarti.
Orang-orang menyebutnya normal.
Dan ia tidak pernah merasa perlu membantahnya.
“Airel, kamu datang lagi pagi banget.”
Suara itu membuatnya menoleh, memperlihatkan Kalista Renaya yang berjalan mendekat dengan langkah ringan. Senyumnya lebar seperti biasa, membawa energi yang terasa terlalu besar untuk ukuran pagi hari.
“Kamu juga,” jawab Airel singkat, meski ada sedikit lengkungan di sudut bibirnya.
Kalista berjalan di sampingnya saat mereka memasuki area kampus, sesekali menyapa orang yang lewat. “Aku ada kelas pagi, jelas harus datang awal. Tapi kamu kan enggak. Ngapain sih tiap hari datang sepagi ini?”
Pertanyaan itu terdengar santai, seperti obrolan biasa yang tidak menuntut jawaban serius. Namun Airel tahu, jika ia menjawab jujur, percakapan itu tidak akan berhenti hanya di sana.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya.
08.12.
Jarum detiknya bergerak perlahan, stabil, tanpa peduli pada apa pun di sekitarnya. Airel menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengalihkan pandangan seolah tidak ada yang perlu dipikirkan.
“Kebiasaan,” katanya singkat.
Kalista mendesah pelan, jelas tidak puas. “Kamu selalu bilang begitu. Kebiasaan apa coba, datang sebelum semua orang juga belum pada siap?”
Airel tidak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya, membiarkan suara sepatu mereka mengisi jeda yang tercipta di antara percakapan. Kalista akhirnya ikut diam, meski raut wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang belum hilang.
Mereka sampai di depan gedung fakultas, di mana beberapa mahasiswa sudah mulai berkumpul. Ada yang duduk di tangga sambil bermain ponsel, ada yang berdiri sambil tertawa bersama teman-temannya. Suasana terasa hidup, seperti pagi-pagi lainnya.
Airel berhenti sebentar.
Matanya kembali turun ke jam.
08.15.
Perubahan kecil muncul di wajahnya, begitu tipis hingga hampir tidak terlihat oleh siapa pun. Seperti seseorang yang menunggu sesuatu terjadi tepat di detik itu, tetapi tidak pernah benar-benar datang.
Ia menarik napas pelan, lalu melangkah masuk ke dalam gedung tanpa mengatakan apa-apa.
“Kamu aneh,” gumam Kalista, cukup pelan tetapi tetap terdengar jelas.
Airel hanya tersenyum tipis, tidak mencoba membantah atau menjelaskan.
Hari berjalan seperti biasa, tanpa kejadian yang benar-benar berbeda. Airel duduk di kelas, mencatat hal-hal penting, dan sesekali mengangkat kepala saat dosen menekankan poin tertentu. Ia tampak fokus, cukup aktif saat diperlukan, dan tidak pernah terlihat tertinggal.
Bagi orang lain, semuanya terlihat baik-baik saja.
Namun ada momen yang selalu berulang, seperti bagian dari rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan.
Di tengah penjelasan dosen yang panjang, Airel menunduk sedikit. Matanya kembali tertuju pada jam di tangannya, seperti sesuatu yang otomatis terjadi tanpa perlu dipikirkan.
12.27.
Jarum detik bergerak mendekati angka berikutnya, stabil dan tanpa ragu.
12.28.
Napasnya tertahan tanpa ia sadari, tubuhnya sedikit lebih diam dibanding sebelumnya.
12.29.
Ia menunggu.
12.30.
Tidak ada perubahan apa pun di sekitarnya. Suara dosen tetap terdengar, teman-temannya masih sibuk mencatat, dan dunia berjalan seperti biasa. Namun Airel tetap diam beberapa detik lebih lama, seolah memberi ruang bagi sesuatu yang mungkin datang terlambat.
Baru setelah itu ia mengangkat kepalanya kembali, kembali mengikuti pelajaran seperti tidak terjadi apa-apa.
“Airel.”
Ia sedikit tersentak saat namanya dipanggil, lalu langsung menatap ke depan.
“Coba kamu jelaskan poin terakhir yang saya sampaikan.”
Beberapa mahasiswa langsung menoleh ke arahnya, sementara Kalista menyikut pelan dari samping sebagai isyarat. Airel menarik napas sebentar, lalu menjelaskan dengan tenang, kata-katanya tersusun rapi tanpa terdengar ragu.
Dosen itu mengangguk puas. “Baik.”
Kelas kembali berjalan seperti biasa.
Namun Kalista masih menatapnya dengan ekspresi penuh tanya.
“Kamu tadi bengong, kan?” bisiknya pelan.
“Enggak,” jawab Airel cepat, tanpa menoleh.
“Kamu lihat jam lagi,” lanjut Kalista. “Aku perhatiin dari tadi.”
Airel terdiam sesaat. Ia tidak menyangkal, tetapi juga tidak memberi penjelasan.
“Itu cuma kebiasaan,” katanya lagi, nada suaranya tetap datar.
Kalista menghela napas panjang, lalu bersandar di kursinya. “Kebiasaan kamu makin aneh.”
Airel tidak menanggapi.
Ia sudah terlalu sering mendengar hal itu.
Siang beralih menjadi sore dengan cara yang hampir tidak terasa. Setelah kelas selesai, sebagian mahasiswa langsung pulang, sementara yang lain memilih berkumpul di sekitar kampus. Suasana perlahan menjadi lebih tenang, menyisakan langkah kaki yang semakin jarang terdengar.
Airel berjalan keluar dari gedung, langkahnya tetap sama seperti pagi tadi. Kalista sempat menarik lengannya, mencoba mengajaknya ke kafe dekat kampus, tetapi ia hanya menggeleng pelan.
“Aku ada urusan,” katanya singkat.
Kalista menatapnya dengan curiga, tetapi akhirnya mengangguk. “Kamu selalu punya urusan setiap sore.”
Airel tersenyum kecil. “Mungkin.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh, karena ia tahu penjelasannya tidak akan terdengar masuk akal bagi siapa pun.
Langkahnya menjauh dari area kampus, melewati jalan yang mulai dipenuhi lampu-lampu sore. Ia tidak perlu berpikir ke mana harus pergi, karena tubuhnya sudah terbiasa mengikuti arah itu tanpa ragu.
Sebuah halte tua di ujung jalan.
Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya sesekali diisi oleh orang-orang yang datang dan pergi. Catnya mulai mengelupas, bangkunya dingin, dan lampu di atasnya sering berkedip tanpa pola yang jelas.
Airel berhenti di sana.
Matanya langsung menyapu area sekitar, seperti mencari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
Ia duduk di bangku paling ujung, meletakkan tas di sampingnya. Tangannya kembali bergerak, melihat jam di pergelangan tangannya.
17.42.
Angin sore berembus pelan, membawa aroma jalanan yang mulai berubah seiring datangnya malam. Beberapa kendaraan lewat tanpa berhenti, suaranya cepat menghilang setelah menjauh.
Airel menatap lurus ke depan.
Waktu berjalan perlahan.
17.43.
17.44.
Ia tetap diam, tidak melakukan apa pun selain menunggu.
17.45.
Ada sesuatu dalam cara ia menunggu, bukan sekadar kebiasaan, bukan pula sekadar harapan kosong. Ada keyakinan kecil yang tetap bertahan, meski tidak pernah benar-benar mendapatkan jawaban.
Seorang pria tua duduk beberapa kursi darinya, lalu pergi saat bus yang ditunggunya datang. Seorang ibu dan anak kecil sempat berdiri di dekat tiang halte, berbicara pelan sebelum akhirnya naik kendaraan yang berhenti sebentar.
Orang-orang terus berganti.
Namun Airel tetap di sana.
“Airel?”
Ia menoleh saat mendengar suaranya dipanggil. Kalista berdiri beberapa langkah darinya, tampak sedikit kelelahan.
“Kamu di sini lagi,” katanya sambil berjalan mendekat. “Aku sudah nebak sih.”
Airel tersenyum kecil. “Kamu belum pulang?”
“Tadi balik ke kampus bentar, terus kepikiran kamu pasti di sini.” Kalista duduk di sampingnya, menatap ke arah jalan. “Kamu nunggu siapa sih?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar dengan jelas.
Airel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan, membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya berbicara.
“Enggak ada,” katanya pelan.
Kalista mengangkat alis. “Kalau enggak ada, kenapa kamu ke sini terus?”
Airel terdiam lagi, seperti sedang menimbang apakah ia perlu menjelaskan atau tidak.
“Karena dia bilang akan datang ke sini,” ucapnya akhirnya.
Kalista sedikit terkejut. “Dia?”
Airel mengangguk.
“Siapa?”
Pertanyaan itu menggantung, tidak langsung mendapat jawaban.
Airel menunduk, matanya kembali ke jam.
17.48.
“Orang yang pernah janji,” katanya.
Kalista menatapnya lama, mencoba memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ketahui. “Sudah berapa lama?”
Airel tidak langsung menjawab.
Angin kembali berembus, kali ini terasa lebih dingin.
“Tujuh tahun.”
Kalista terdiam, tidak langsung memberi tanggapan.
“Tapi kamu masih nunggu?” tanyanya pelan.
Airel tersenyum tipis, matanya tetap ke depan.
“Dia belum datang.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi lebih berat.
Kalista menghela napas. “Kalau dia enggak pernah datang?”
Airel tidak menjawab.
Ia hanya menatap jalan yang mulai sepi, seperti pertanyaan itu tidak perlu dijawab.
Jam kembali bergerak.
17.50.
Airel berdiri perlahan, mengambil tasnya. Gerakannya tenang, seperti seseorang yang sudah terbiasa mengakhiri sesuatu tanpa hasil.
“Kamu mau pulang?” tanya Kalista.
Airel mengangguk. “Seperti biasa.”
Kalista ikut berdiri, masih menatapnya. “Kalau kamu capek, bilang ke aku.”
Airel tersenyum kecil. “Iya.”
Mereka berjalan menjauh dari halte, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Suasana menjadi lebih sepi, hanya tersisa suara kendaraan yang sesekali lewat.
Beberapa langkah kemudian, Airel menoleh ke belakang.
Tatapannya bertahan lebih lama dari biasanya, seolah berharap ada sesuatu yang berubah.
Namun halte itu tetap sama.
Kosong.
Ia mengalihkan pandangan, lalu melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa-apa.
Besok, ia akan kembali lagi.
Sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah ada bagian kecil dari dunia yang sengaja diperlambat tanpa alasan yang jelas. Halte yang sama berdiri di tempatnya, bangku besi yang dingin masih menyimpan jejak orang-orang yang datang dan pergi, sementara angin berembus dengan ritme yang hampir identik seperti hari-hari sebelumnya. Airel Virellia duduk di ujung, tangannya menggenggam tali tas tanpa sadar, dan matanya tertuju ke jalan meski pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan angka yang sudah terlalu ia kenal, angka yang selalu datang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Jarum detik bergerak pelan, stabil, tidak pernah ragu seperti dirinya yang terus menunggu sesuatu yang tidak pasti. Ia menatapnya beberapa saat, lalu mengalihkan pandangan ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun.
17.46.
Beberapa detik berlalu begitu saja, tidak ada perubahan di sekitar halte itu, tidak ada suara yang tiba-tiba berbeda atau langkah kaki yang terasa lebih dekat. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai bergerak perlahan, seperti pintu lama yang jarang disentuh akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Perasaan itu tidak datang dengan jelas, tidak juga membawa bentuk yang langsung bisa dikenali.
Bukan kenangan yang utuh.
Lebih seperti serpihan kecil yang muncul tanpa urutan yang rapi.
Airel menunduk sedikit, napasnya menjadi lebih pelan, seolah tubuhnya berusaha menyesuaikan diri dengan sesuatu yang perlahan bangkit dari dalam. Jari-jarinya mengendur dari tali tas, lalu kembali menggenggam tanpa sadar, seperti sedang mencari pegangan di antara sesuatu yang tidak terlihat.
Suara anak-anak mulai terdengar samar, tidak jelas asalnya dari mana. Tawa yang ringan bercampur dengan langkah kaki kecil yang berlari di atas jalanan yang belum terlalu ramai, menciptakan suasana yang terasa jauh dari halte itu.
Ia tidak benar-benar melihatnya.
Namun ia mengenal suasana itu.
Hangat, terang, dan jauh dari kesunyian yang sekarang.
Bayangan itu muncul perlahan, seperti gambar yang mulai terbentuk dari kabut tipis. Seorang gadis kecil berdiri di pinggir jalan, memeluk sesuatu di dadanya dengan erat, seolah benda itu adalah satu-satunya yang bisa ia andalkan. Rambutnya sedikit berantakan, dan meski wajahnya tidak sepenuhnya terlihat, ada kegelisahan yang jelas terasa dari cara ia berdiri.
Di depannya, beberapa anak lain berdiri dengan ekspresi yang tidak ramah. Mereka tidak mendekat, tetapi cukup untuk membuat jarak terasa menekan. Suara mereka terdengar samar, seperti diputar dari kejauhan, tidak cukup jelas untuk dipahami tetapi cukup untuk membuat suasana terasa tidak nyaman.
Airel mengerjapkan mata pelan, mencoba fokus pada potongan itu.
Namun bayangan tersebut bergeser.
Gadis kecil itu mundur selangkah, tangannya semakin erat memeluk apa yang ia bawa. Bahunya sedikit menegang, seolah bersiap untuk sesuatu yang belum terjadi. Ada rasa takut yang tidak perlu dijelaskan, karena terlihat jelas dari caranya bertahan di tempat.
Lalu suara lain muncul.
Langkah kaki yang lebih cepat, lebih pasti.
Seseorang berdiri di depannya.
Tidak terlalu tinggi, tetapi cukup untuk menutup pandangan gadis kecil itu dari anak-anak yang lain. Bahunya tegak, posisinya seperti garis yang tidak boleh dilewati, menciptakan batas tanpa perlu banyak kata.
“Sudah.”
Suara itu terdengar datar, tidak keras, tetapi cukup tegas untuk mengubah suasana. Anak-anak di depan mereka saling berpandangan, ragu sejenak sebelum akhirnya mundur satu per satu. Tidak ada perlawanan, tidak ada protes, seolah mereka tahu bahwa melanjutkan sesuatu di sana bukan pilihan yang baik.
Bayangan itu bergerak lagi.
Gadis kecil itu menatap punggung anak laki-laki di depannya. Ada sesuatu dalam cara ia berdiri, sesuatu yang membuat jarak yang sebelumnya terasa menekan kini berubah menjadi aman.
Angin sore menyapu pelan.
“Ayo.”
Suara itu singkat, tanpa penjelasan, tanpa perlu ditambah kata lain.
Gadis kecil itu ragu sejenak, lalu mengangguk pelan, meski mungkin ia sendiri tidak sadar. Langkahnya mengikuti dari belakang, menjaga jarak kecil, seperti takut mengganggu keberadaan yang baru saja melindunginya.
Mereka berjalan tanpa banyak bicara.
Jalanan yang tadi terasa sempit kini terasa lebih luas, lebih ringan. Tidak ada lagi tekanan yang sama, hanya suara langkah kaki yang berjalan berdampingan dengan ritme yang berbeda.
Airel menarik napas pelan di dunia nyata.
Matanya tetap terbuka, tetapi pandangannya kosong, seolah dua dunia berjalan bersamaan tanpa saling mengganggu.
Potongan itu belum selesai.
Ia bisa merasakannya.
Gambar itu beralih lagi.
Langit senja muncul dengan warna yang lebih cerah dari yang ia lihat sekarang, membawa nuansa yang lebih hangat dan tenang. Angin membawa aroma tanah dan sesuatu yang sulit dijelaskan, menciptakan suasana yang terasa akrab.
Sebuah tempat yang lebih tinggi dari jalan biasa.
Rooftop.
Lebih kecil, lebih sederhana, tetapi cukup untuk melihat dunia dari sudut yang berbeda.
Gadis kecil itu berdiri di dekat pagar, menatap ke bawah dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Tidak ada lagi ketakutan seperti sebelumnya, hanya rasa asing yang perlahan berubah menjadi nyaman.
Di sampingnya, anak laki-laki itu berdiri dengan santai.
Ia tidak banyak bicara.
Namun kehadirannya cukup.
“Kenapa suka ke sini?” tanya suara kecil itu, pelan.
Anak laki-laki itu tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan, seperti sedang mencari kata yang tepat, atau mungkin memang tidak terbiasa menjelaskan apa yang ia rasakan.
“Tenang.”
Satu kata itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat gadis kecil itu mengangguk. Tidak ada pertanyaan lanjutan, seolah jawaban itu sudah cukup untuk menjelaskan segalanya.
Airel mengerjapkan mata lagi.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tidak seirama seperti sebelumnya.
Ia mencoba melihat wajah anak itu dengan lebih jelas, tetapi setiap kali ia fokus, bayangan itu justru mengabur dengan sendirinya. Hanya siluet, hanya garis yang tidak pernah benar-benar terbentuk menjadi sesuatu yang utuh.
Namun suaranya tetap terasa dekat.
Terlalu dekat untuk dianggap asing.
Potongan berikutnya datang lebih cepat.
Hari yang berbeda.
Langit yang lebih gelap.
Suasana yang berubah.
Gadis kecil itu berdiri dengan tangan yang saling menggenggam, matanya menatap ke arah anak laki-laki di depannya. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak lagi ringan seperti sebelumnya.
“Harus pergi?” tanyanya pelan.
Anak laki-laki itu mengangguk.
Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada alasan yang dibuka.
Hanya jawaban singkat yang terasa berat.
Gadis kecil itu menunduk sedikit, bahunya turun pelan. Ia tidak menangis, tetapi ada sesuatu dalam cara ia berdiri yang menunjukkan bahwa ia tidak siap menerima itu.
“Berapa lama?” tanyanya lagi.
Anak laki-laki itu terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia pastikan.
“Enggak tahu.”
Jawaban itu menggantung, membuat suasana menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.
Angin berembus lebih kencang.
Gadis kecil itu menggigit bibirnya pelan, menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan. Tangannya mengepal sedikit, seperti mencoba menjaga dirinya tetap tenang.
“Aku ke sini lagi besok,” katanya cepat.
Anak laki-laki itu menatapnya, tidak langsung merespons.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia melangkah sedikit lebih dekat.
Gerakannya tidak terburu-buru.
Tangannya terangkat, berhenti sejenak sebelum akhirnya menepuk pelan kepala gadis kecil itu.
“Jangan ke sini terus.”
Gadis kecil itu langsung menggeleng.
“Kenapa?”
Tidak ada jawaban langsung.
Hanya jeda yang terasa lebih lama.
“Tunggu aku.”
Dua kata itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat segalanya terasa berbeda.
Gadis kecil itu mengangkat wajahnya, menatap ke arah anak laki-laki itu. Ada harapan yang muncul begitu cepat, tanpa ragu.
“Kamu bakal balik?”
Anak laki-laki itu tidak menjawab dengan kata.
Ia hanya mengangguk.
Satu kali.
Cukup.
Airel menarik napas lebih dalam.
Jantungnya berdetak tidak teratur sekarang, seolah mencoba menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru saja ia ingat.
Potongan itu mulai memudar, tetapi satu bagian masih tertinggal.
Langit yang semakin gelap.
Langkah kaki yang menjauh.
Dan seorang gadis kecil yang tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung seseorang yang perlahan menghilang.
Ia tidak bergerak.
Seperti sedang memastikan sesuatu.
Seperti sedang mengingat.
Airel menutup matanya sejenak.
Ketika ia membukanya kembali, halte itu kembali utuh di hadapannya. Lampu yang berkedip pelan, jalan yang mulai sepi, dan suara kendaraan yang sesekali lewat terasa nyata lagi.
Tangannya masih berada di posisi yang sama.
Jam di pergelangan tangannya terus berjalan tanpa peduli.
17.52.
Ia menghembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan sesuatu yang masih bergerak di dalam dirinya. Perasaan yang muncul tidak bisa dijelaskan dengan mudah, bukan sekadar rindu atau kehilangan, tetapi lebih seperti sesuatu yang pernah ia pegang erat lalu perlahan menghilang tanpa benar-benar pergi.
Airel menatap lurus ke depan, membiarkan sisa ingatan itu menetap tanpa mencoba mengusirnya. Ia tidak mendapatkan wajah, tidak juga nama yang bisa ia sebut, tetapi cukup untuk membuat satu hal terasa jelas.
Ia tidak menunggu kenangan.
Ia menunggu seseorang.
Seseorang yang pernah berdiri di sampingnya.
Seseorang yang pernah mengatakan sesuatu dengan nada yang terlalu pasti untuk dilupakan.
“Tunggu aku.”
Airel menggenggam tangannya sedikit lebih erat, merasakan sisa getaran dari kata-kata itu. Angin kembali berembus, menyapu rambutnya yang tergerai dan membawa udara malam yang mulai turun.
Ia berdiri perlahan dari bangku halte, mengambil tasnya tanpa tergesa. Langkahnya terasa ringan, tetapi pikirannya masih tertinggal di tempat yang sama, di antara potongan-potongan yang belum sepenuhnya tersusun.
Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah jalan.
Tatapannya tenang, lebih terarah dibanding sebelumnya.
“Aku masih ingat,” gumamnya pelan.
Suaranya hampir hilang tertelan angin, tetapi cukup untuk dirinya sendiri.
Ia tidak menunggu jawaban.
Ia hanya melangkah pergi, meninggalkan halte yang perlahan kembali kosong.
Besok, ia akan datang lagi.
Seperti biasa.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!