Bab 1
“Padahal aku bisa berangkat sendiri. Ada ojek, banyak taksi online. Nggak mungkin aku nyasar mbak, hari gini siapa yang nggak tahu GPS.”
“Nggak pa-pa, kamu diantar pak Eman. Mbak udah bayar kok. Dia ojek langganan komplek. Nanti pulangnya sama mbak.”
Cahaya menghela nafasnya mendengar perintah Andin -- sang kakak, usai mengakhiri panggilan telepon. Hampir satu bulan tinggal di Jakarta, meski belum pernah pergi jauh selain keluar kompleks itu pun pakai sepeda listrik. Pernah dua kali ke supermarket dan mall, tentu saja didampingi Andin juga Dani -- kakak iparnya. Tadi pagi sudah mengecek dengan maps, lokasi ke rumah sakit dari tempatnya sekarang tidak sampai satu jam berkendara.
Ada hal yang tidak biasa ia rasakan semenjak pergi dari rumah. Biasanya apa yang dilakukan selalu dilayani. Mbok Yem yang setia khusus mendampingi dan menyiapkan kebutuhannya sejak ia masih kecil dan Pak Mardi supir yang selalu siap menemani dan mengantar kemana pun ia beraktivitas.
Berbeda dengan Andin yang berani melawan dan menentang perintah Wira -- Romo, Cahaya gadis yang patuh. Sekolah dan kuliah di tempat pilihan orangtuanya. Mungkin karena kondisi fisik tidak sesehat Andin, akhirnya pasrah mengikuti aturan keluarga. Tepatnya aturan Romo Wira.
Kesabaran ada batasnya, tidak setuju dengan pemikiran kolot orang tuanya di mana hidup selalu diatur dan jodoh pun sudah disiapkan. Apalagi waktu pernikahan sudah semakin dekat, hanya beberapa bulan lagi. Berada diantara gen z dan generasi milenial, dengan pola pikir mengikuti perkembangan zaman, tentu saja tidak setuju dengan konsep perjodohan. Keluhan dan protesnya tidak diterima. Saat Cahaya lebih vokal dan menentang, malah kena marah.
“Mau ikut jejak mbakmu yang tidak tahu diri itu? Lihat hidupnya sekarang, kerja ngurusin orang sakit. Suaminya Cuma karyawan biasa dan tinggal di perumahan. Kalau dia nurut, hidupnya sudah enak. Dihormati banyak orang, jadi istri bupati.”
“Ibu nggak bisa bantu kamu, di rumah ini romo kalian yang punya kuasa. Sebagai istri, ibu hanya bisa patuh. Jangan melawan nduk. Kamu beda, kamu tidak seperti Andin. Tetap di sini, ikut apa perintah romo.”
Meninggalkan rumah artinya mengakhiri hubungan keluarga. Mungkin dicoret dari kartu keluarga dan ahli waris. Cahaya yakin bisa hidup bahagia dengan pilihannya saat ini. Buktinya Andin saja bisa.
“Mbak Aya.”
Terdengar teriakan dari luar.
“Iya.” Aya memakai cardigan melapisi blouse. Lengkap dengan sling bag berisi dompet dan ponsel. “Bentar pak, aku kunci pintu dulu.”
Ojek langganan yang biasa disewa ibu-ibu komplek termasuk Andin sudah menunggu di depan pagar. Kunci pintu disimpan di tempat yang disepakati agar tidak saling kecarian siapapun yang akan pulang lebih dulu. Sebelum naik, ia memakai masker dan helm yang disodorkan.
“Mbak Andin bilang saya gak boleh ngebut, terus cari jalan kampung biar adem dan nggak ngebul.”
“Eh, jangan pak. Lewat jalan raya saja, sekalian saya hafalkan jalan. Di Jakarta jalan berangkat dan pulang, bisa beda,” tutur Cahaya. Tutur katanya mencerminkan aksen jawa yang sangat kental.
“Itu besok-besok aja mbak Aya, sekarang sesuai pesanan mbak Andin. Berangkaatttt!”
***
...Geng Pria Terkutuk...
Asoka Harsa : Anji, Rama marah-marah tuh. Punya dosa apa situ 😀
dr. Rendi Oye : Anak gadis mana lo bawa kabur, Ren
Asoka Harsa : Anak kosan juragan kampung sawah kayaknya
Dokter vampir : Jadi, Anji kencan nggak izin sama orangtua si gadis. Anjirr banget nih orang
Anji nggak pake ng : Apa sih pagi begini udah rame. Si Oka udah ribut aja ngajak ngerumpi, nggak ada pasien yang harus dibedah lagi apa ya. Ini lagi si vampire, mulutnya nakal. Sentil nihhh
dr. Rendi : Nji, jangan telat loh. Kebiasaan kalau shift 2 suka telat
Dokter vampire : pagi apaan, ini matahari lagi lucu-lucunya
Anji nggak pake ng : Iyakah, maklumlah lagi kasmaran. Dari tadi Cuma haha hihi video call sambil balas chat 🤣Jangan begitu Ren, nggak apa telat juga. Buktinya lo nungguin banget si Yuli telat. Ngaku dah
dr. rendi Oye : Tahan, nggak usah dibalas
Dokter vampire : jangan disahutin, orang gak jelas
Asoka Harsa : 🤣
Anji nggak pake ng : Dasar vampire, duda karatan. Gue sumpahin jodoh lo makin deket. Dapat berondong, manja nggak ketulungan bikin lo bingung dan bucin sebucinnya
dr. Rendi Oye : gue aminkan ya
Asoka Harsa : Saya aminkan untuk masalah jodoh
Dokter Vampire : Rendi nyebelin akut, padahal tadi gue dukung sekarang menusuk dari belakang
Bibir Edward berdecak membaca pesan grup. Ponselnya sering bergetar, bukan hanya pesan japri tapi ramai pula obrolan grup. Ada grup resmi sebagai dokter di SM, grup gabungan seluruh nakes, grup alumni kuliah dan sekolah dan paling konyol adalah grup yang pernah dibuat Anji sebagai kumpulan pria terkutuk penghuni UGD. Hanya ada 4 penghuni grup, karena mereka cukup lama bertugas di UGD. Saat ini ia dan Asoka Harsa sudah ada praktek spesialis. Meski sampai sekarang masih di jadwal piket UGD, karena praktek poli tidak setiap hari.
“Pagi menjelang siang, dok,” sapa suster yang membantunya praktek di poli rawat jalan mengekor Edward masuk ke ruangan.
“Siang. Berapa pasien hari ini?” Edward mengalungkan stetoskop di kerah snelli lalu duduk di kursi kerja kerjanya. Hari ini jadwal prakteknya dimulai pukul sepuluh dan pagi tadi ia visit untuk pasien rawat inap.
“Yang sudah terdaftar ada 12 pasien, dok.”
“Oke, kita mulai ya.”
“Baik, dok.”
Hampir tengah hari saat pasien terakhirnya memasuki ruangan.
“Selamat siang, dokter Edward.”
“Selamat siang, silahkan duduk.” Pandangan Edward tertuju pada dua perempuan yang memasuki ruangan dan sudah duduk di hadapannya. Salah satunya memakai seragam perawat dengan nama tag “Andin Azmi J.”
“Pasiennya ….” Edward mengalihkan pandangan menatap layar komputer untuk melihat data pasien.
“Adik saya dok, Cahaya Sekar Janitra.”
\=\=\=\=\=
Uhuyy, semoga suka dengan kisah Edward ya. Kisah ini berkisar saat Rama baru punya bayi kembar ya
Jangan lupa lempar sandal biar tahu masih ada yg mampir untuk baca 😊
Bab 2
“Mbak Andin,” panggil Aya mendapati Andin berjalan sambil menatap sekitar. Pasti mencari keberadaan dirinya. Ia pun bergegas menghampiri.
“Udah lama?” tanya Andin.
“Nggak, barusan aja kok.”
“Ayo, poli rawat jalan di sebelah sana.”
Berjalan bersisian menuju arah yang ditunjuk Andin. Koridor di mana berderet ruang periksa dokter spesialis dan suasana di sana cukup ramai, tapi tertib. Sebenarnya ia bosan dan muak dengan segala macam pengobatan yang harus dilakukan. Apalagi selama ini keluarganya memperlakukan seolah Aya begitu lemah, termasuk Andin.
“Duduk dulu, mbak konfirmasi ke perawat.”
“Mbak, padahal gak usah begini. Aku nggak pa-pa, udah sehat.” Aya menahan dengan memegang lengan Andin.
“Nggak pa-pa kamu bilang. Apa nggak sempat ngaca, wajah kamu pucat Aya dan kemarin vertigo kamu kumat. Mbak nggak mau ambil resiko, selama kamu tinggal dengan kami. Ikuti aturan dan arahan mbak dan mas Dani.”
Aya menatap sekeliling. Suasana rumah sakit, dengan ciri khas cat putih untuk hampir semua area dinding. Juga aroma antiseptik dan karbol yang lumayan menyengat. Pandangannya tertuju ke arah pintu ruang periksa.
Poli Penyakit Dalam – dr. Edward Wijaya, Sp.PD.
Bibir Aya mengulas senyum mengingat nama tokoh vampir di salah stau film yang pernah ia tonton.
“Agak bule, nggak tua-tua banget sih. Ganteng juga,” gumamnya melihat foto pada identitas dokter. “Moga nggak nyebelin.” Dokter yang pernah menanganinya dan tempat konsultasi rutin, sudah senior. Kerap mengomeli kala ia nakal tidak mematuhi apa yang harus dihindari atau dipantang.
Sempat fokus pada ponsel menunggu gilir4nnya dipanggil. Aya berdecak saat pesan masuk dari salah satu orang yang dia hindari.
...Mas Aditya Waskita...
Dek, pulang. Jangan begini, sudahi ngambekmu
Adit adalah pria pilihan orang tuanya. Aya mengabaikan pesan itu dan membaca pesan lain. Grup kelas saat kuliah dan grup lainnya. Hanya menjadi silent reader. Malah ada pesan lagi dari Adit.
...Mas Aditya Waskita...
Dek, pulang. Jangan begini, sudahi ngambekmu.
Aku akan dengarkan syaratmu, tapi pulang dan kita menikah
^^^Maaf, mas. Aku tidak bisa. Kita tidak saling mencintai^^^
Orangtuaku tidak saling cinta, tapi mereka bahagia dek. Begitu pun dengan orangtuamu. Sudah tradisi dan adat kita sebagai priyayi, mendapatkan jodoh sesuai dengan bobot, bibit dan bebet
^^^Anggap saja standar ku jauh dari bobot bibit dan bebet yang keluarga Waskita inginkan^^^
Cahaya!!
^^^Maaf mas, jangan memaksa. Aku tidak nyaman^^^
Kamu jodohku, cahaya
“Hish.” Aya mematikan layar ponsel dan lalu memasukan ke dalam tas. Selalu begitu, kalau bukan Romo, Adit lalu ibunya. Bergantian mengirim pesan berujung membuatnya emosi.
“Kenapa?” tanya Andin melihat ia mendadak emosi dan bad mood.
“Nggak, nggak pa-pa.” Aya menggeleng cepat dan mengalihkan pandangan, tidak ingin membahas tentang Adit.
“Cahaya Sekar Janitra.”
“Iya,,” sahut Andin.
Memasuki ruang pemeriksaan, sang dokter sedang fokus layar komputer
“Selamat siang, dokter Edward,” sapa Andin.
“Selamat siang, silahkan duduk!”
Aya memandang sang dokter, ternyata aslinya lebih muda dan tampan. Bibirnya mengulas senyum tipis. Sadar kalau dokter itu sedang menatap ke arahnya, langsung menggeleng pelan agar fokus dan tidak berpusat pada fisik dokter yang sayang untuk diabaikan.
“Pasiennya ….”
“Adik saya dok. Cahaya Sekar Janitra.”
Dokter Edward mengangguk lalu membaca identitas pasien di layar komputer dan memandang bergantian Andin dan Cahaya. “Kamu perawat di sini?”
“Iya, dok. Bangsal khusus ibu nifas.”
Edward mengangguk lagi, rupanya ini yang dibicarakan oleh Rama tempo hari, pikirnya. Rekan sejawat yang ingin mengajukan konsultasi untuk keluarganya.
“Ada keluhan apa?” tanya Edward memandang Aya. First impression yang ditangkap dari pasien ini adalah … cantik. Paras ayu dan lembut, wajah khas gadis Indonesia. Meski terlihat sedikit pucat dan dingin karena sejak tadi yang bicara malah kakaknya.
Andin menjelaskan singkat riwayat kesehatan Aya dan menunjukan rekam medik dari dokter dan rumah sakit tempat melakukan pengobatan sebelumnya.
“Anemia kronis,” gumam Edward. “Kapan tindakan operasinya?”
“Sekitar tiga tahun lalu, dok,” jawab Andin lagi. Tatapan Edward tertuju pada pasiennya, yang sejak tadi hanya diam.
Membaca lagi rekam medik yang diserahkan Andin. “Jadwal medical cek up harusnya bulan ini. Apa sudah dilakukan?”
“Sudah belum?” tanya Andin, dijawab Aya dengan gelengan pelan. “Kamu ini, kok gak bilang mbak sih.”
“Belum ya, hari ini kita tes lab dulu. Cek HB,” jelas Edward. “Naik ke ranjang ya, saya mau periksa.”
Cukup lama dan detail Edward bertanya dan melakukan pemeriksaan dasar untuk mengetahui kondisi Aya.
“Setelah ini langsung ke lab. Beres dari Lab, 30 menit balik ke sini lagi.”
“Dari rekam medik ini diketahui kalau anemia kronis kamu disebabkan dari peradangan di ginjal dan sudah ada tindakan operasi untuk mengatasi peradangan itu. Tapi siklus hb tiga tahun ini belum menunjukan kondisi normal. kIta cari tahu apa penyebabnya.”
***
Aya membuka plastik berisi vitamin dan obat yang harus diminum. Hasil tes lab menunjukan kadar darah merah cukup rendah dari batas normal. Edward mempercepat medical cek up dua hari lagi.
“Hah.” Aya mendessah pasrah. Kadang ia merasakan tubuhnya tidak bugar, kadang pusing dan berputar atau mendadak sesak. Bahkan pernah beberapa kali tidak sadarkan diri. Karena itulah ia dianggap lemah dan penyakitan.
...Mbak Andin...
Tunggu di cafe. Makan dan minum vitamin juga obat kamu. Tunggu sampai mbak beres. Nggak lama lagi kok
“Cafenya di … oh, itu dia.” Aya melihat penunjuk arah menuju café. Perutnya memang sudah lapar, padahal ia ingin ke kantin. Tenant makanan di sana terlihat menggiurkan, tapi cukup ramai dan banyak asap rokok karena smoking area.
Saat berbelok, pandangan Aya ke arah koridor dimana beberapa nakes mendorong brankar pasien dengan tergesa dan …
Bugh.
“Eh ….”
Bab 3
“Eh ….”
Tubuhnya menabrak seseorang dan mendadak oleng. Begitulah penderita anemia, tubuhnya lemas, tersenggol saja bisa membuatnya oleng dan kali ini Aya yakin ia akan tersungkur.
“Kamu ….”
Tunggu, nyatanya ia berada dalam dekapan seseorang. Dokter yang tadi dia temui, Edward Wijaya. Kedua tangan pria itu berada di pinggang dan tangan Aya mencengkram kemeja bagian dad4 sang dokter.
“Maaf dok.” interaksi begini macam di adegan drama dan roman picisan. Jantung Aya berdetak tidak biasa, mengira ia mungkin sudah tersungkur. Mungkin juga karena dipeluk seorang pria, entahlah ia tidak bisa mendefinisikan.
“Lain kali hati-hati,” Edward melepaskan tangannya, masih menatap Aya yang menjawab dengan anggukan dan tampak mengatur nafasnya.
Hati-hati dengan hati ya, dok, batin Aya.
“Mau ke dalam?” tanya Edward menunjuk pintu café, Aya mengangguk.
"Makasih ya dok, sekali lagi maaf." Aya gegas mendorong pintu cafe.
“Edward, my man.”
Edward berdecak menoleh ke arah suara, siapa lagi kalau bukan salah satu penghuni UGD yang mulutnya menyebalkan. Orang nomor 2 paling sengklek se SM dari sekian banyak orang yang dia kenal. Posisi pertama masih ditempati oleh Rama.
“Tadi siapa? Kok, peluk-peluk di tempat umum. Wah curiga, si duda sekalinya ada lawan malah meresahkan.”
“Hanya kebetulan, aku tolong gadis itu, dia hampir jatuh.” Edward berjalan meninggalkan café, diikuti oleh Anji yang sempat menoleh ke belakang.
“Cantik Ward. Siapa sih?”
“Heran. Sama yang cantik kok notice banget.”
Anji terkekeh lalu merangkul bahu Edward dan menepuk sambil berjalan beriringan. Edward sempat mendorongnya menjauh, tapi Anji kembali mendekat dan kembali merangkul. Interaksi mereka menjadi perhatian orang yang berpapasan dan mereka lewati.
“Minggir, orang bisa salah paham kalau interaksi kita begini.”
“Sayang kok gitu sih, ada yang cantik aja lupa sama aku.”
“Sumpah Nji, ke laut aja sana” cetus Edward mempercepat langkahnya. Anji kembali terbahak mengejar Edward.
“Mau kemana lo, buru-buru amat.”
“Pulang.”
“Yaelah, mending temenin gue di UGD. Lagian pulang mau ngapain? Nggak ada yang nungguin, nggak ada yang datengin. Paling selonjoran nonton netfl1x.”
Edward mengacuhkan Anji, kebetulan parkiran mobil tidak jauh dari UGD. Mau tidak mau mereka searah.
“Ward, salamin dari gue kalau ketemu cewek tadi dari Anji paling ganteng di UGD.” Teriakan Anji mendapat balasan jari tengah dari Edward. “Eh, nakal ya. Pelanggaran itu.”
Bip
Suara sensor kunci pintu mobil. Edward menghidupkan mesin lalu pendingin udara. Meletakan ponsel di holder dashboard. Mulai melajukan mobilnya, mengingat ucapan Anji tadi. Memang benar adanya, tidak ada yang menunggu dia pulang atau tempat yang harus dikunjungi apalagi ada yang datang. Asisten rumah tangga akan pulang setiap sore atau setelah pekerjaannya selesai. Tidak banyak yang bisa dikerjakan di rumah. Edward tinggal sendiri, makan pun jarang di rumah. Begitupun dengan tukang yang bertugas di taman dan area luar rumah. Keamanan rumah sudah sepaket dengan manajemen perumahan tempat tinggalnya. Jadi, sore sampai malam ini ia akan sendirian dan kesepian.
Hampir empat tahun menduda, bukan karena trauma atau enggan menikah lagi. Hanya saja belum mendapatkan calon yang tepat. Mungkin saja dia terlalu pemilih atau berhati-hati. Pernikahan yang pernah ia jalani bukan gagal, tapi ia ditinggalkan selamanya oleh sang istri. Kecelakan merenggut nyawa wanita itu, di usia pernikahan belum genap satu tahun. Yang paling menyakitkan, kondisi sang istri sedang hamil dan Edward tahu saat tubuh itu sudah terbujur kaku menjadi jenazah. Mereka bertengkar, dua jam kemudian mendapatkan kabar kalau istrinya kecelakaan. Mungkin ia memang, trauma. Entahlah.
Berbelok ke minimarket, sebelum memasuki kawasan tempat tinggalnya. Sejak tadi ponsel terus bergetar, khawatir ada pesan darurat dari rumah sakit ia pun mengaktifkan layarnya.
...Geng Pria Terkutuk...
Anji nggak pake ng : Tes, tes, woi, ada yang lagi on nggak. Online ya, bukan s4nge
Asoka Harsa : Di UGD sepi gitu, si anji kayak nggak ada kerjaan aja ngurusin orang s4nge
dr. Rendi Oye : Oka. Nggak boleh gitu ya. Nanti mendadak UGD kebanjiran pasien. Abaikan aja si Anji, Edward bilang dia manusia nggak jelas
Anji nggak pake ng : Kebetulan guys, gue mau bahas si vampire. Paling dia masih di jalan, nyetir sambil mikir yang nggak-nggak
dr. Rendi Oye : Kenapa dia? Udah ketemu Bella Swan
Anji nggak pake ng : Bela mana nih? Bela kampung sawah lagi gue bidik. Yang lain aja, jangan si bela. Btw, tadi gue lihat Edward peluk cewek di depan café mana mesra banget
Asoka Harsa : Infonya agak meragukan 🤔
Anji nggak pake ng : Demi apa gue serius. Dia peluk cewek, mana cakep. Kalau nggak ada Bela, gue kejar dah tuh cewek
dr. Rendi Oye : Seriusan? @dokter vampir : coba anda klarifikasi
dokter vampir : Anji emang 4njimm banget. Itu pasien, dia anemia kronis. Hampir terjengkang tadi. Nggak percaya tanya Rama, adiknya Andin
Asoka Harsa : Oh, temennya Lisa juga si andin mah
Anji nggak pake ng : Masa sih, kelihatan meluknya beda. Kayak dunia besok kiamat, hampir aja nyosor. Jangan-jangan ini jodoh lo ward. Ya ampun, ternyata secepat itu 😀🤭
“Si4lan,” umpat Edward.
***
Aya menatap keluar jendela sepanjang perjalanan pulang. Menunggu Andin selesai shift, kebetulan kakaknya itu pakai mobil bertukar dengan suaminya yang memakai motor.
“Lusa mbak masih shift pagi, kamu medical check up sendiri nggak pa-pa ya? Kalau sikonnya aman, mbak nyusul. Jangan drama kayak tadi ah, kamu ini bikin heboh aja,” keluh Andin karena Aya takut jarum suntik.
“Iya.” Aya menjawab dengan malas, pandangannya masih keluar jendela.
“Aya, mbak serius loh. Jangan mangkir dari jadwal MCU kamu. Ingat aturannya. Kalau mau tinggal di Jakarta, nurut sama mbak dan mas Dani. Ikuti jadwal terapi dengan dokter Edward.
Aya menarik nafas mendengar ancaman sekaligus perintah dari Andin. “Aku bosan di rumah, mbak. Pengen kerja.”
“Kerja yang bisa dikerjakan jarak jauh. Sekarang banyak loh. Ada affiliate, content creator, penulis, editor dan … banyaklah. Lagian kamu masih bisa lanjutkan bakat kamu, mendesain.”
“Di café tadi ada pengumuman butuh tenaga freelance. Aku ambil ya mbak,” cetus Aya penuh semangat bahkan sampai menoleh menatap Andin yang fokus mengemudi.
“Jangan. Kerja di café itu capek. Kamu berdiri, mondar-mandir. Apalagi freelance, penghasilannya harian dan nggak seberapa.”
“Aku jenuh di rumah mbak. Boleh ya, kalau capek aku stop. Sambil cari kerjaan yang lebih baik. Boleh ya mbak, please!” Aya sampai memegang lengan Andin untuk meyakinkan.
Mobil berhenti karena lampu lalu lintas. Andin pun menoleh, dari pandangan mata Aya terlihat kalau gadis itu serius.
“Aku janji akan jaga kesehatan mbak. Aku mau sehat, cari pacar terus nikah kayak mbak dan Mas Dani. Cari yang udah dewasa, om-om juga nggak pa-pa yang penting mau terima aku yang begini.”
“Mulut kamu,” cetus Andin lalu menghela nafas, ia pernah dengar dari dokter Aya sebelumnya. Meski seseorang menderita suatu penyakit, bukan berarti hidupnya berakhir. ia masih bisa beraktivitas normal, setidaknya jiwa orang itu tetap sehat.
“Kalau capek harus berhenti dan pola hidup kamu harus ikut apa kata dokter.”
Aya mengangguk cepat, rasanya luar biasa bagai memenangkan undian berhadiah. Baru kali ini ia bisa melakukan sesuatu sesuai keinginannya selain lepas dari cengkraman Wira Janitra.
Drt drt
Getaran ponsel mengalihkan perhatiannya. Wajah yang tadinya tersenyum perlahan memudar membaca pesan yang masuk.
...Romo...
Cahaya, cepat pulang atau kamu tidak akan Romo akui sebagai keturunan Janitra, seperti Andin.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!