Kota Huzhou bukanlah kota besar namun dapat menampung belasan ribu jiwa.
Kota ini berada di ujung selatan benua Diluo dan bersebelahan langsung dengan pegunungan Tianlei, pegunungan terbesar kedua di Kekaisaran Fenlai.
Pagi itu disetiap lapangan latihan Keluarga Qin sudah bergetar oleh suara hantaman tinju dan teriakan semangat para anggota keluarga muda dari usia 14 hingga 20 tahun.
Aroma keringat dan debu memenuhi udara, menjadi saksi bisu bagi ambisi para pemuda-pemudi yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Di sudut paling terpencil, jauh dari kerumunan lapangan umum maupun lapangan utama, seorang pemuda berusia lima belas tahun sedang menghantam samsak pasir yang sudah mulai robek.
Nama dia Qin Mu. Rambut hitam legamnya tergerai panjang melewati bahu, sorot matanya tajam berwarna hitam kebiruan.
Napasnya memburu. Keringat membasahi pakaian katunnya yang lusuh hingga menempel erat di kulit. Setiap pukulan yang ia lancarkan terdengar solid, namun ada gurat frustrasi yang mendalam di wajahnya yang tegas.
Sudah tepat satu tahun. Satu tahun penuh Qin Mu menghabiskan waktu, tenaga, dan mentalnya hanya untuk satu tujuan: melewati tahap pertama Pembentukan Fondasi.
Menurut standar umum di Kota Huzhou, para praktisi muda mulai berlatih sejak usia 14 tahun.
Seorang pemuda-pemudi dari garis keturunan biasa biasanya menempa tubuh mereka selama 6 bulan dan hanya membutuhkan waktu lima hingga enam bulan untuk membuka 9 Meridian Utama dan melangkah ke tahap kedua Pembentukan Fondasi...
Dan bagi keturunan keluarga terhormat dengan bantuan sumber daya berkelimpahan, mereka seharusnya mampu meraihnya setidaknya dua kali lebih cepat daripada pemuda-pemudi garis keturunan biasa.
Namun bagi Qin Mu, sembilan meridian di dalam tubuhnya seolah-olah terbuat dari besi dingin yang membeku.
Tidak peduli seberapa keras dia melatih fisiknya, tidak peduli seberapa banyak cara, seberapa banyak ramuan penguat tulang maupun seberapa tinggi kualitas pil yang diberikan ayahnya...
Pintu menuju tahap kedua Pembentukan Fondasi dalam 4 Tahap Khusus Pembentukan Fondasi tetap tertutup rapat.
"Lihat itu, Tuan Muda kita masih bermain dengan pasir," sebuah suara bernada mengejek memecah konsentrasi Qin Mu.
Qin Mu menghentikan pukulannya. Tanpa menoleh pun, dia tahu siapa yang datang.
Qin Feng berusia 15 tahun, sepupunya yang telah menembus tahap Pengumpulan Spiritual, Tahap Ketiga dalam Pembentukan Fondasi. Di belakangnya, beberapa pengikut setianya tertawa merendahkan dan menghinanya secara terang-terangan.
"Hanya Tahap Penempaan Tubuh selama satu tahun? Qin Mu, jika aku jadi kau, aku akan berhenti membuang-buang sumber daya keluarga dan pergi menjadi pedagang di pasar," ujar Qin Feng sambil berjalan mendekat dengan gaya angkuh.
"Latihanku bukan urusanmu," jawab Qin Mu dingin. Matanya tetap menatap samsak di depannya, mencoba mengabaikan denyut nyeri di kepalan tangannya yang mulai berdarah.
"Tentu saja ini urusanku! Kau adalah putra tunggal Paman Qin Feiyan! Karena ketidakmampuanmu, nama Keluarga Besar Qin yang hebat di Kota Huzhou menjadi bahan tertawaan."
"Orang-orang bilang, Harimau melahirkan seekor kucing lumpuh. Tidakkah kau kasihan pada paman?"
"Haha." Tawa dua pengikut Qin Feng sambil bertepuk tangan.
Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hati Qin Mu. Dia bisa menahan cemoohan tentang dirinya sendiri, tetapi menyebut nama ayahnya adalah batas terakhir.
"Pergi kalian!" desis Qin Mu, suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Oh? Kau berani memerintahku? Dengan kekuatan fisik tanpa energi spiritual?" Qin Feng tertawa geli. Ia tiba-tiba menggerakkan tangannya.
Dab!
Qin Chen melangkah cepat, ia mendekati Qin Mu.
Wush!
Buahh!
Sebuah hembusan angin kencang tercipta dari gerakan tangan Qin Feng, sederhana namun cukup kuat.
Bugh!
Qin Chen melanjutkan. Ia meninju ulu hati Qin Mu.
"Ughh"
Qin Mu sudah berusaha bertahan, namun serangan itu terlalu kuat baginya yang hanya praktisi Pembentukan Fondasi tahap penempaan tubuh.
"Ingat posisimu, Qin Mu."
"Bulan depan adalah Upacara Uji Spiritual Tahunan. Jika kau tidak meraih Pembentukan Fondasi tahap kedua, bahkan paman patriark tidak akan bisa mencegahmu dibuang keluar dari keluarga ini," ancam Qin Feng sebelum berbalik pergi bersama kawan-kawannya, meninggalkan tawa yang menggema di lapangan.
"Hahaha... benar-benar tuan muda lemah."
...
Qin Mu terduduk di tanah, mengepalkan tinjunya. Dia menatap langit biru yang luas, merasakan kekosongan yang menyesakkan di dalam dadanya.
'Apakah...'
'Apakah aku...'
'Benar-benar ditakdirkan hanya menjadi sampah di dunia yang mengagungkan kekuatan ini?'
Matahari mulai meninggi, membakar kulit Qin Mu yang sudah memerah.
Setelah kepergian Qin Feng, pemuda itu tidak berhenti. Ia justru semakin gila dalam melayangkan tinjuannya.
Jika satu pukulan tidak cukup, ia akan melakukan seratus. Jika seratus tidak cukup, ia akan melakukan seribu.
Namun, di dalam hatinya, sebuah teka-teki besar terus menghantui.
Kenapa?
Kenapa aku tidak bisa membuka meridian utama 'jalur kultivasi' di setiap inti tulang?
Secara logika, ramuan dan pil tingkat tinggi yang diberikan ayahnya sudah lebih dari cukup untuk membilas sumsum tulang dan menghancurkan sumbatan di 9 jalur meridian utamanya.
Apalagi dengan bantuan Paman Futian...
Seharusnya, membuka 9 meridian utama adalah hal yang sepele bagi seseorang yang mendapatkan asupan sumber daya berkelimpahan...
Namun, setiap kali energi obat mengalir ke dalam tubuhnya, energi itu seolah-olah ditelan oleh jurang tanpa dasar di dalam tubuhnya, menghilang tanpa jejak sebelum sempat menyentuh gerbang meridian utama.
"Hah... hah..." Qin Mu bersandar pada pohon Ginkgo besar di pinggir lapangan. Nafasnya berat, keringat menetes dari ujung hidungnya ke tanah.
"Mu’ge, kau memaksakan dirimu lagi."
Sebuah suara lembut, sejernih denting lonceng perak, memecah kesunyian.
Qin Mu mendongak dan seketika ketajaman di matanya melunak.
Seorang gadis berjalan mendekat. Ia mengenakan jubah berwarna biru langit khas yang melambai ditiup angin sore.
Wajahnya cantik jelita, dengan kulit seputih porselen dan sepasang mata yang memancarkan kecerdasan sekaligus kehangatan. Dia adalah Qin Lian, salah satu permata paling berharga dari Keluarga Qin.
Jika Qin Mu adalah simbol kegagalan, maka Qin Lian adalah simbol keajaiban.
Di usianya yang baru lima belas tahun itu, ia telah mencapai Tahap Kesempurnaan Pembentukan Fondasi. Ia adalah seorang praktisi beladiri sejati dalam ambang menuju kultivator yang sudah bisa menyimpan energi spiritual di pusar bawahnya.
"Lian’er," sapa Qin Mu sambil menyeka keringatnya dengan lengan baju yang kotor. Ia merasa sedikit canggung berdiri di depan gadis sesempurna Qin Lian dengan kondisi yang berantakan.
Qin Lian tidak peduli. Ia mengeluarkan sapu tangan putih bersih dan tanpa ragu menyeka sisa debu di pipi Qin Mu.
"Qin Feng pasti menghina Mu’ge lagi. Jangan masukkan kata-katanya ke dalam hati. Dia hanya iri karena meskipun dia punya bakat, dia tidak punya keteguhan hati seperti milikmu."
Qin Mu tersenyum pahit. Perkataan Qin Lian begitu menenangkan namun juga membuatnya berpikir...
Bakat ya?
"Keteguhan hati tanpa kekuatan hanya akan dianggap sebagai keras kepala, Lian'er... Dunia tidak melihat seberapa keras aku berusaha, mereka hanya melihat apakah aku sudah membuka meridian atau belum..." balas Qin Mu pelan.
Gadis itu terdiam sejenak, perkataan Qin Mu begitu matang selayaknya perkataan orang dewasa.
Tatapan Qin Lian melembut penuh simpati. Ia duduk di akar pohon besar itu, mengisyaratkan Qin Mu untuk duduk di sampingnya.
"Mu'ge ingat saat kita kecil? Kau selalu melindungiku dari anjing-anjing liar di hutan belakang meskipun kau sendiri gemetar ketakutan," kenang Qin Lian dengan tawa kecil.
"Bagiku, kau tetap kakak yang hebat. Bakat... terkadang langit hanya ingin menguji kita sedikit lebih lama."
"Tapi ujian ini terasa seperti tidak ada akhirnya," bisik Qin Mu. Ia menoleh menatap gadis itu.
"Bulan depan adalah Upacara Uji Spiritual. Jika aku gagal... aku mungkin akan dikirim ke cabang keluarga di pinggiran untuk mengurus pembukuan atau tambang. Kita tidak akan bisa mengobrol seperti ini lagi."
Mendengar itu, ekspresi Qin Lian berubah serius. Ada gurat kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan di matanya yang indah.
Sebagai jenius keluarga, ia tahu betapa kejamnya aturan keluarga. Tanpa bakat, Qin Mu akan dianggap sebagai beban bagi garis 'keturunan utama'.
"Aku akan bicara pada Paman Patriark," ujar Qin Lian tegas sambil menggenggam tangan Qin Mu.
"Dan aku akan membantumu. Aku punya beberapa Pil Pengumpul Spiritual yang aku dapat dari aula pengobatan..."
"Jangan," potong Qin Mu dengan lembut namun tegas. Ia melepaskan genggaman tangan Qin Lian.
"Kau membutuhkan pil-pil itu untuk menembus Ranah Spiritual Mendalam. Jangan sia-siakan pada lubang tanpa dasar sepertiku. Jika aku benar-benar harus pergi bulan depan, setidaknya aku ingin pergi dengan melihatmu mencapai puncak itu."
"Mu'ge..."
Qin Lian menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia benci melihat Qin Mu yang selalu mengalah dan berkorban demi orang lain, bahkan di saat posisinya sendiri di ujung tanduk.
Di bawah bayangan pohon Ginkgo yang mulai menggugurkan daun emasnya, kedua remaja itu terdiam. Yang satu berada di puncak kemuliaan, yang lain berada di titik jurang kehinaan. Namun, di antara mereka, ada ikatan yang tidak bisa diputus oleh tingkatan kultivasi mana pun.
Melihat suasana yang mendadak canggung dan mata Qin Lian yang mulai berkaca-kaca, Qin Mu segera berdeham keras. Ia tidak ingin gadis di sampingnya ini ikut menanggung beban pikirannya.
"Sudahlah, Lian’er. Jangan pasang wajah seperti itu," ujar Qin Mu sambil tiba-tiba berdiri dan berpose layaknya seorang pahlawan besar di panggung sandiwara.
"Lagipula, pikirkan sisi positifnya. Jika aku benar-benar dikirim ke tambang atau menjadi pedagang, aku akan menjadi pedagang paling tampan di seluruh Provinsi Nanlai! Siapa tahu, karena ketampananku ini, para pelanggan akan mengantre panjang dan aku berakhir lebih kaya daripada Keluarga Qin!"
Qin Lian tersentak, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya.
"Mu’ge, kau ini percaya diri sekali. Memangnya ketampanan bisa dimakan?"
"Tentu saja! Di pasar, satu senyuman maut dariku mungkin bisa ditukar dengan dua butir telur atau sepiring bakpao," balas Qin Mu sambil mengedipkan sebelah matanya dengan gaya jenaka.
"Dan bayangkan, saat kau sudah menjadi Kultivator Agung yang bisa terbang di langit, kau bisa turun ke pasar dan berteriak, 'Berikan aku diskon, atau aku akan menghancurkan tokomu!', lalu aku akan keluar dan berkata, 'Tenang Tuan Putri, khusus untukmu, beli satu gratis cinta!'"
"Pffft! Hahaha!" Qin Lian tertawa lepas, menutupi mulutnya dengan tangan.
"Berhenti bicara omong kosong! Kau benar-benar tidak tahu malu." ucap Qin Lian dengan pipi merah merona.
Melihat tawa tulus itu, beban di pundak Qin Mu terasa sedikit terangkat. Setidaknya untuk sesaat, mereka bukan lagi Si Sampah dan Si Jenius, melainkan hanya dua sahabat yang tumbuh bersama.
Malam harinya. Di dalam kamar sederhananya yang tertata rapi, Qin Mu duduk di tepi ranjang.
Lampu minyak di sudut ruangan bergoyang pelan, memantulkan bayangan dirinya yang tampak lesu.
Candaannya sore tadi hanyalah topeng. Kenyataannya, hatinya terasa sangat perih.
la mengambil sebuah botol giok kecil dari bawah bantalnya, botol terakhir berisi cairan pembersih sumsum yang diberikan ayahnya minggu lalu. la tahu ayahnya harus berdebat sengit dengan dewan tetua di Aula Pertemuan hanya untuk mendapatkan botol ini.
"Ayah... maafkan anakmu yang tidak berguna ini," bisiknya pelan, meminum cairan pembersih sumsum.
la tidak ingin menyerah. Meskipun ia tahu bahwa melakukan meditasi bagi seseorang di tahap Penempaan Tubuh adalah hal yang dianggap sia-sia oleh banyak orang, ia tetap melakukannya setiap malam.
Bermeditasi untuk ketenangan batin. Bukan bermeditasi untuk menyerap energi alam.
Qin Mu menyilangkan kakinya, meletakkan tangan di atas lutut, dan mulai mengatur napasnya.
Hirup... Hembuskan...
Seperti biasa, begitu ia memejamkan mata, hanya ada kegelapan pekat. la mencoba merasakan energi alam di sekitarnya, namun tubuhnya terasa seperti tembok batu yang tidak memiliki celah sedikit pun. Satu menit, sepuluh menit, satu jam berlalu, kemudian tidak terhitung berapa lama waktu telah berlalu dalam keheningan.
Namun, tepat saat ia hendak merebahkan tubuhnya untuk tidur, sebuah fenomena aneh terjadi.
Zzap!
Sebuah kilatan putih kebiruan tiba-tiba melesat di dalam pandangan gelapnya. Itu bukanlah imajinasi buatanya. Kilatan itu menyerupai sambaran petir kecil yang membelah keheningan batinnya.
"Apa itu?" batin Qin Mu terkejut.
Qin Mu menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya.
Ia tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Selama satu tahun penuh, dunianya saat bermeditasi mata hanyalah ruang kosong yang hitam dan dingin. Namun sekarang, segalanya berubah total.
Kegelapan setelah cahaya biru barusan itu kini dihiasi oleh bintik-bintik cahaya halus yang melayang di udara, berkilauan seperti kunang-kunang di tengah malam.
Itulah energi spiritual alam yang selama ini ia dengar dalam perkataan ayahnya dan perkataan orang-orang yang telah mencapai tingkatan dimana mereka bisa menyerap energi spiritual melalui jalur meridian utama mereka, namun tidak pernah bisa ia saksikan secara langsung.
"Inikah yang namanya energi alam... energi spiritual...? aku bisa melihatnya?!" batinnya berteriak dengan penuh gejolak emosi.
Qin Mu tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar, dan hal pertama yang ia rasakan adalah silau cahaya matahari yang menusuk mata.
Cahaya itu menerobos melalui celah-celah dinding kayu kamarnya, menari-nari di atas lantai yang berdebu.
Ia tertegun, hangat dari sinar ini bukanlah kehangatan matahari pagi. Melainkan matahari siang hari?
Seingatnya, ia baru saja mulai bermeditasi sesaat setelah matahari terbenam. Itu berarti ia telah duduk dalam posisi yang sama selama lebih dari dua belas jam tanpa ia sadari. Namun, yang lebih mengejutkan bukanlah waktu yang berlalu, melainkan sensasi di dalam tubuhnya.
Biasanya, setelah berlatih fisik seharian, tubuhnya akan terasa berat dan nyeri di pagi hari. Meditasi hanyalah sebuah kegiatan untuk ketenangan dan merilekskan tubuhnya setiap malam hari setelah menyelesaikan latihannya.
Tapi sekarang?
Otot-ototnya terasa kenyal, kulitnya tampak lebih bersih, dan rasa lelah yang selama satu tahun ini menggelayuti pundaknya seolah menguap tanpa bekas.
Qin Mu mencoba menggerakkan bahunya, dan...
Krak!
Krak!
Suara persendian yang merenggang terdengar begitu memuaskan. Ia kemudian memejamkan mata, mencoba melakukan teknik pemeriksaan internal sederhana yang pernah diajarkan ayahnya.
Mata Qin Mu membelalak. Napasnya tertahan.
"Ini... Tidak mungkin... Kan?"
Di dalam tubuhnya, yang sebelumnya terasa seperti hamparan tanah kering yang retak, kini mengalir aliran hangat yang lembut.
9 jalur meridian utama yang membentang dari pangkal kepala, tangan, dada hingga ujung kaki, yang selama setahun ini membeku layaknya besi dingin, kini telah terbuka sepenuhnya. Tidak ada sumbatan maupun hambatan sama sekali.
Dengan terbukanya sembilan meridian utama, ia percaya, ia telah mencapai Tahap Kedua Pembentukan Fondasi. Yaitu tahap Pembukaan Meridian.
Qin Mu pun mencoba memeriksanya lagi.
Deg!
Bukan hanya satu atau dua meridian, tapi sembilan meridian utama sekaligus! Semua jalurnya terbuka?!
"Sembilan meridian utama... terbuka dalam satu malam?" Qin Mu bergumam tidak percaya. Tangannya gemetar hebat.
Dalam catatan sejarah Keluarga Qin, jenius terbaik sekalipun memerlukan waktu setidaknya satu bulan untuk membuka seluruh sembilan meridian utama setelah mereka berhasil menembus tahap penempaan tubuh...
Dan proses itu biasanya diiringi rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah pembuluh darah ditusuk oleh ribuan jarum emas legendaris.
Namun Qin Mu?
Ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Ia hanya mengingat kilatan cahaya biru misterius semalam yang membawanya melihat cahaya energi spiritual, dan setelah itu, segalanya terasa begitu alami, seolah-olah jalur-jalur itu memang seharusnya terbuka sejak lama.
Qin Mu bangkit dari tempat tidur dan mulai melancarkan beberapa gerakan tinju dasar.
Wush! Wush!
Angin yang dihasilkan oleh pukulannya kini terdengar lebih tajam dan bertenaga. Meskipun ia belum bisa menyerap energi spiritual karena belum memiliki sebuah manual kultivasi, sebuah tata cara agar dapat menyerap energi spiritual.
Kekuatan fisiknya kini telah berlipat ganda karena sirkulasi udara di dalam tubuhnya jauh lebih lancar melalui 9 meridian utama tersebut.
"Kenapa?" pikirnya sambil menatap telapak tangannya.
"Kilatan cahaya biru itu... apa itu semacam warisan yang terbangun? Atau bakat tersembunyi ku? Atau karena semua ramuan yang selama ini aku minum sebenarnya tidak hilang, melainkan tertimbun dan baru meledak semalam?"
Kepalanya saat ini memiliki banyak pertanyaan.
Ia teringat bagaimana energi obat selama setahun ini selalu menghilang entah kemana setiap kali ia telan.
Mungkinkah perutnya justru bertindak sebagai wadah penyimpanan tersembunyi yang menunggu pemicu yang tepat?
"Tidak mungkin..."
Apapun alasannya, semangat yang sempat padam di dalam diri Qin Mu kini berkobar lebih hebat dari sebelumnya.
"Bulan depan adalah Upacara Uji Spiritual," gumamnya dengan sorot mata yang kini penuh tekad.
"Jika aku hanya membawa kabar 'Qin Mu telah meraih Tahap Kedua Pembentukan Fondasi, Pembukaan Meridian' dan dapat menyerap energi dari alam, dewan tetua mungkin masih akan mencibir dan menganggap hal itu sebagai keberuntungan semata."
Qin Mu mengepalkan tinjunya erat-erat.
"Jika aku ingin benar-benar membungkam mulut orang-orang yang merendahkanku dan mengangkat martabat Ayah, aku tidak boleh berhenti di sini. Aku harus mencapai Tahap Pengumpulan Spiritual, atau bahkan lebih baik... Tahap Pembentukan Dantian!"
Target itu terdengar gila bagi orang biasa layaknya dirinya dahulu.
Melompati dua tahap dalam waktu satu bulan adalah hal mustahil kecuali kau seorang jenius, tapi Qin Mu merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya sekarang.
Entah itu suatu kepercayaan diri? atau apakah itu nafsu dari seorang remaja berusia 15 tahun karena pertama kali meraih pencapaian yang sulit diartikan?
Ia segera merapikan pakaiannya. Ia harus pergi ke perpustakaan keluarga. Untuk melangkah ke tahap ketiga, ia membutuhkan Manual Dasar Penyerapan Energi Spiritual.
Tanpa itu ia tidak akan tahu bagaimana menyerap energi alam dengan baik dan benar.
Selama ia hidup di keluarga ini ia dilarang walaupun sebatas menyentuhnya, karena hanya praktisi yang telah menggapai tahap kedua Pembentukan Fondasi yang di izinkan.
Namun sekarang, pintu menuju dunia kultivator yang sebenarnya telah terbuka lebar di hadapannya.
Qin Mu melangkah menuju pintu kamarnya dengan jantung yang masih berdebu karena kegembiraan. Namun, begitu daun pintu kayu itu berderit terbuka, langkahnya terhenti seketika.
Di koridor depan kamarnya, seorang pelayan pria berdiri kaku sambil memegang nampan makanan yang sudah mendingin.
Di sampingnya, berdiri sosok yang auranya memenuhi seluruh lorong, seorang pria paruh baya dengan bahu lebar dan tegak. Jubah kebesarannya yang berwarna biru tua dengan sulaman benang perak melambangkan otoritas tinggi.
Wajahnya yang tegas dan tampan menunjukkan sisa-sisa kejayaan masa muda, namun ada guratan kelelahan yang tersirat di sudut matanya.
Dia adalah Qin Feiyan, Patriark Keluarga Qin sekaligus ayah kandung Qin Mu.
"Ayah?" Qin Mu segera membungkuk hormat.
"Maafkan aku ayah, aku terlalu larut dalam meditasi hingga tidak menyadari kehadiran Ayah di luar."
Qin Feiyan tidak langsung menjawab.
'Meditasi?' batinnya Qin Feiyan.
Sepasang matanya yang tajam menatap Qin Mu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dahinya berkerut dalam, seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki rumit.
Sebagai seorang kultivator Lautan Qi, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari putranya siang ini, semacam kejernihan yang tidak biasa, namun ia menepis pikiran itu, menganggapnya hanya sebagai efek dari istirahat yang cukup.
"Tinggalkan makanannya di sini. Kau boleh pergi," perintah Qin Feiyan kepada pelayan tersebut dengan suara berat yang berwibawa.
Setelah pelayan itu menghilang dari tikungan koridor, Qin Feiyan memberi isyarat kepada Qin Mu untuk kembali masuk ke dalam kamar.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat berat.
Qin Feiyan berjalan mendekati jendela, membelakangi putranya.
"Mu’er... Ayah datang... untuk menyampaikan sesuatu yang sulit."
'Tak biasanya ayah.' batin Qin Mu menatap wajah ayahnya.
Qin Mu terdiam, ia bisa merasakan nada kesedihan dalam suara ayahnya.
Di dalam batin, Qin Mu sebenarnya sudah tidak sabar ingin pergi ke perpustakaan untuk mencari manual kultivasi namun dengan ayahnya disini...
Qin Mu tidak sabar untuk meminta bimbingan berkultivasi, namun ia memilih untuk mendengarkan. Melihat suasana keruh ini, tidak sopan baginya pergi begitu saja.
"Mu’er. Dewan Tetua telah mengambil keputusan," lanjut Qin Feiyan tanpa menoleh.
"Persediaan ramuan Pembersih Sumsum dan Pil Penguat Tulang tingkat tinggi yang tersisa di gudang keluarga telah dialokasikan sepenuhnya untuk persiapan tiga jenius muda utama klan kita, Qin Chen, Qin Zhang dan Qin Lian, menjelang Upacara Uji Spiritual bulan depan."
"Ayahmu ini... tidak lagi memiliki wewenang untuk memberikan sumber daya itu kepadamu. Namun, putraku... kau tidak perlu khawatir."
"Ayahmu ini masihlah seorang pria hebat, jika sumber daya utama untuk membuka 9 meridian utamamu yang tersumbat total itu tidak bisa ayah dapatkan di keluarga ini. Ayah akan mencari di luar sana."
"Kau bisa percaya pada Ayahmu ini." Kata Qin Feiyan, kali ini dengan guratan senyum tipis agar tidak membebani mental putranya.
Pria tegap itu mengepalkan tangannya di balik punggung.
Sebagai seorang ayah, hatinya sangat... hancur... Ia tahu bahwa tanpa bantuan obat-obatan itu, peluang Qin Mu untuk membuka satu meridian saja hampir mustahil.
Walaupun begitu, sebagai seorang ayah sekaligus kultivator Lautan Qi, ia akan berusaha mencari sumber daya sendiri di luar sana demi putranya.
"Ayah... Terima kasih atas segala yang telah Ayah lakukan selama setahun ini," jawab Qin Mu dengan nada bicara yang sangat tenang, bahkan terdengar sedikit ceria.
Qin Feiyan berbalik, terkejut dengan reaksi putranya. Ia mengira Qin Mu akan menangis atau setidaknya menunjukkan keputusasaan seperti sebelum-sebelumnya.
"Kau tidak marah, Mu’er? Ini artinya latihanmu akan semakin sulit dan lebih berat."
"Tidak... Tidak perlu ada ramuan atau apapun itu lagi, Ayah," Qin Mu tersenyum tipis.
Ia mengambil napas dalam-dalam, membiarkan aliran hangat di dalam tubuhnya bergerak.
"Karena semalam, aku telah berhasil melampaui batasan itu."
"Maksudmu?"
"Ayah, lihatlah." Qin Mu memejamkan mata dan sedikit menghentakkan kakinya ke lantai.
Wush!
Hembusan angin kecil namun tajam menyapu debu di sekitar kaki Qin Mu. Suara deru napasnya terdengar selaras dengan denyut nadinya.
"Aku sudah melewati Tahap Penempaan Tubuh. 9 meridian utama di tubuhku... semuanya telah terbuka, Ayah. Aku sekarang berada di Tahap Kedua Pembentukan Fondasi, Pembukaan Meridian."
Mata Qin Feiyan membelalak lebar. Keangkuhan dan wibawa seorang Patriark runtuh seketika, digantikan oleh rasa tidak percaya yang amat sangat. Ia melangkah maju dengan cepat, mencengkeram bahu Qin Mu, dan segera mengirimkan secuil energi spiritualnya untuk memeriksa jalur internal putranya.
Begitu energi itu masuk, Qin Feiyan merasa seolah-olah ia sedang menelusuri sungai yang baru saja terbebas dari bendungan batu. Sembilan jalur utama di tubuh Qin Mu bersinar redup dan mengalirkan udara dengan lancar.
"Mu’er... Putra ayah."
"Ini... Benar-benar terbuka... semuanya? Sembilan meridian utamamu telah terbuka?!" suara Qin Feiyan bergetar.
"Demi dewa langit..."
"Bagaimana mungkin? Minggu kemarin ayah mengecek satu meridianmu belum ada yang terbuka dan itu benar-benar tersumbat seperti besi dingin. Mu’er... Hanya dalam waktu satu minggu kau meraihnya?"
Qin Mu tidak langsung menjawab.
"Ya, ayah."
"Mungkin benar kata Lian'er. Langit sepertinya ingin mengujiku sedikit lebih lama sebelum memberikan jalannya," ucap Qin Mu mantap.
"Sekarang, karena aku sudah mencapai tahap ini, aku memohon kepada Ayah... ajarkan aku cara melakukan kultivasi yang sebenarnya. Aku ingin meraih Tahap Pengumpulan Spiritual secepat mungkin!" ujar Qin Mu pada poin utama.
Qin Feiyan menatap putranya dengan tatapan baru, bukan lagi tatapan kasihan dan kesedihan, melainkan tatapan penuh harapan. Ia tertawa pendek, "Hahaha."
Sebuah tawa yang sudah lama tidak terdengar dari mulutnya.
"Baik! Bagus sekali! Jika kau telah membuka 9 meridian utama, maka putraku ini bisa berjalan di jalan kultivator. Bukan praktisi biasa!"
Qin Feiyan menutup pintu kamar dengan rapat, memastikan tidak ada telinga luar yang mendengarkan.
Wajahnya yang tadi kaku kini memancarkan antusiasme yang membara. Ia duduk bersila di hadapan Qin Mu, matanya menatap tajam ke arah putranya.
"Dengar, Mu’er. Aturan dunia kultivasi dan aturan dasar kultivasi dalam Ranah Pembentukan Fondasi itu berbeda. Dasaran dalam kultivasi Pembentukan Fondasi ini adalah menyerap, mengalirkan, dan membuang karena seseorang praktisi belum memiliki wadah untuk menampung energi alam atau energi spiritual. Namun, metode itu sangat tidak efisien," bisik Qin Feiyan.
"Dahulu, sebelum aku menjadi Patriark, aku menemukan sebuah metode unik yang aku simpan sendiri. Nama manual dasar ini adalah Manual Kultivasi Pusaran Langit. Namanya terlalu jelek dan terlalu wah. Jadi ayahmu ini menggantinya, menamakannya Manual Kultivasi Menembus Batasan."
Qin Mu mendengarkan dengan saksama. Ia tahu bahwa ayahnya bukan sekadar kultivator biasa.
Para tetua dahulu sering bercerita kepadanya. Bahwasanya di masa mudanya, ayahnya, Qin Feiyan adalah sosok jenius nomor satu Keluarga Qin di generasinya.
"Dalam manual ini. Untuk mencapai Tahap Ketiga, Pengumpulan Spiritual, kau harus bisa menahan energi spiritual di dalam tubuhmu lebih lama dari orang lain. Rahasianya bukan terletak pada seberapa banyak kau menyerap, tapi seberapa halus kau memutar energi itu di dalam meridianmu. Bayangkan 9 meridian utamamu bukan sekadar pipa, melainkan sebuah pusaran. Jika kau memutar energi itu dengan frekuensi tertentu, energi tersebut akan 'terjebak' lebih lama sebelum menguap. Hal inilah yang akan memaksa tubuhmu menciptakan Dantian lebih cepat sebagai respon alami untuk menampung tekanan tersebut."
Qin Feiyan menjelaskan teori itu selama berjam-jam. Ia mengajarkan Qin Mu cara mengatur ritme napas yang tidak sinkron dengan detak jantung, sebuah teknik dasar pemula yang dapat dikatakan setara teknik tingkat tinggi untuk memanipulasi tekanan internal.
Qin Mu sendiri terkejut dengan semua penjelasan ayahnya itu.
Apalagi dengan penjelasan menjebak energi spiritual. Ia memang tidak pernah mempelajari hal seperti ini sebelumnya namun diluar sana, ia sering mendengar bahwa praktisi tahap kedua diharuskan mengumpulkan energi alam sebanyak mungkin sesuai kapasitas yang mereka miliki lalu membuangnya. Bukan menahan untuk menjebak...
Namun manual menembus batasan milik ayahnya, menciptakan dantian lebih cepat?
Apakah itu mungkin?
"Sekarang, coba serap energi dari udara. Rasakan bintik cahaya energi spiritual yang ada disekitar kita," perintah ayahnya.
Qin Mu memejamkan mata. Ia segera melihat bintik-bintik cahaya spiritual di sekitarnya. Dengan hati-hati, ia menarik energi itu masuk melalui pori-porinya menuju 9 meridian utama.
Begitu energi masuk, Qin Mu mencoba memutarnya sesuai instruksi ayahnya. Namun, energi itu terlalu liar.
Seperti air bah yang menghantam dinding tipis, energinya justru memberontak dan keluar begitu saja dari tubuhnya melalui ujung jari.
Qin Mu tersedak, dadanya terasa sesak.
"Jangan terlalu dipaksakan. Kau terlalu kaku dalam memutar energinya," tegur Qin Feiyan lembut.
Qin Mu mencoba lebih rileks. Energi spiritual mulai mengalir masuk kembali.
Kali ini ia berhasil menahannya selama beberapa detik, namun konsentrasinya pecah ketika energi itu mulai terasa panas di jalur meridian utama bagian dadanya. Energi itu kembali terbuang sia-sia ke udara.
Qin Mu mengambil napas dalam. Ia mengingat candaannya dengan Qin Lian, mengingat hinaan dan dijauhi selama satu tahun terakhir, mengingat ayahnya yang susah payah memberikan segala cara dan sumber daya tak terhitung.
Qin Mu menggabungkan semua emosi itu menjadi sebuah fokus yang tajam.
Ia menarik energi spiritual, memaksanya berputar membentuk pusaran kecil di setiap persimpangan meridian utamanya.
Zzt... Zzt...
Tiba-tiba, rasa hangat yang stabil menetap di ulu hatinya. Energi itu tidak keluar!
Meskipun hanya setetes kecil, energi itu bertahan di dalam tubuhnya, memberikan sensasi kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Berhasil!" Qin Mu membuka mata, keringat bercucuran, namun matanya bersinar terang.
Qin Feiyan menepuk pundak putranya dengan bangga.
"Luar biasa. Putra Ayah memang hebat. Tiga kali percobaan untuk memahami konsep pusaran... bakat pemahamanmu jauh melampaui dugaanku. Kau telah mengambil langkah pertama menuju tahap Pengumpulan Spiritual."
Ayahnya berdiri, merapikan jubahnya.
"Lanjutkan latihan ini. Jangan biarkan siapapun tahu tentang Manual Menembus Batasan ini. Ayah harus pergi untuk menangani Dewan Tetua."
"Ingat Mu’er, walaupun kau telah membuka sembilan meridian utama, jangan sombong dan malas. Jadikan setiap detik berharga."
"Karena waktumu adalah harta yang tidak dapat dibeli."
"Tentu saja, Ayah."
Dengan senyum lebar yang tak mampu ia sembunyikan, Qin Feiyan melangkah keluar. Ia merasa seolah beban berat yang menghimpit dadanya selama setengah tahun ini telah diangkat oleh tangan putranya sendiri.
Di dalam kamar, Qin Mu kembali memejamkan mata. Ia tidak merasa lelah sedikit pun. Justru, rasa lapar akan kekuatan mulai menggerogoti jiwanya.
Dengan sembilan meridian yang terbuka lebar dan Manual Kultivasi Menembus Batasan, ia mulai melakukan penyerapan energi spiritual secara terus-menerus.
"Terimakasih ayah." gumamnya di tengah meditasi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!