"Rumiiiii ..." panggil Bu Sri, sang ibu mertua sedikit berteriak.
"Iya bu, ada apa? Kok teriak-teriak? Rumi ada di depan ibu loh! Memangnya tidak kelihatan?" jawab Rumi datang dengan membawa pi-/ sau di tangannya.
"Eh, apaan itu? Ngapain kamu bawa benda itu? Kamu mau mengan -/cam aku? Karena aku sering menyuruh kamu bantu-bantu di rumahku ini?" Bu Sri mundur sedikit takut tapi kesal juga.
"Lah, kan Rumi lagi motong sayuran, Bu! Rumi tak sempat simpan ini, lagian ibu teriak-teriak kayak di hutan. Nggak takut apa itu urat lehernya pu -/tus. Susah loh nyambunginnya! Kata dokter nggak ada lem urat!" jawaban menantu yang satu ini selalu saja membuat Bu Sri naik da-rah.
"Kau! Astaga, leher aku ... Leher aku sakit!" Bu Sri memegangi kepala belakangnya yang tiba-tiba saja merasa te-/gang.
"Makanya ibu itu jangan suka teriak-teriak, udah tahu punya penyakit tekanan darah tinggi malah teriak mulu kayak di hutan!" Rumi mencoba mendekat dan akan membantu mertuanya untuk duduk.
"Rumiiiii ..." teriak Bu Sri kembali.
"Astaghfirullah ... Bisa-bisa kuping aku beneran budeg ini, Bu! Ada apa lagi sih, Bu? Kok ya hobinya teriak-teriak terus!" cerocos Rumi yang kembali di kagetkan dengan teriakan ibu mertuanya.
"Itu kamu simpan dulu, astaga! Kok kamu lemot sekali sih! Heran aku tiga tahun nikah kok otak kamu nggak pinter-pinter sih!" kesal Bu Sri menunjuk benda yang di pegang oleh Rumi.
"Kamu bersihkan kamar tamu, Hani mau datang malam ini. Kamar yang akan dia tempati harus bersih, rapi dan wangi. Kamu tahu kalau menantuku itu orang kaya, dia terbiasa dengan tempat tidur yang bagus dan mewah di rumahnya! Jangan sampai ada debu yang tertinggal!" Pinta Bu Sri.
"Terus yang masak siapa, kalau aku beres-beres kamar, Bu? Mbak Intan?" tanya Rumi sambil melirik kakak iparnya yang kedua.
"Loh kenapa jadi aku yang masak? Aku kan udah keluarin uang untuk membeli semua belanjaan! Masa iya sih sudah jadi donatur tapi harus ikut masak di dapur juga! Mending aku bawa lagi semua belanjaaku ke rumah," jawab Intan membuat Bu Sri gugup.
"Tidak dong Intan, masa sih kamu haru ikut masak juga. Siapa yang bilang kamu akan masak untuk makan malam kita? Yang masak tetap Rumi, setelah dia selesai membersihkan kamar!" jawab Bu Sri.
"Bu! Kenapa semua aku yang mengerjakan? Aku Udha beres-beres dan cucu semua peralatan rumah ibu dari subuh. Sekarang harus beresin kamar untuk mbak Hani, masak juga!" Rumi keberatan karena di anggap seperti ba bu.
"Ya suruh siapa kamu tak punya duit dan kamu cuma bisa punya tenaga! Lagian nggak usah ngegas kali kalau ngomong sama orang tua! Kalau nggak mau capek ya makanya jadi donatur!" Ketus Istan membuat Rumi hanya mengepalkan tangannya.
"Sudah sana beres-beres nggak usah banyak protes. Dari pada aku minta Fathur menjadikan kamu jan da!" usir Bu Sri sambil mengibaskan tangannya.
Arumi adalah menantu dari anak ketiga keluarga Bu Sri. Selama pernikahannya dengan Fathur, Arumi memang tak pernah di pandang dan di anggap oleh mereka. Hanya karena pendidikannya yang hanya lulusan sekolah menengah atas. Tidak seperti menantunya Bu Sri yang lain. Mereka berpendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan yang bagus.
Arumi sadar diri, jika dirinya tak pernah di anggap di sana. Dan selalu di jadikan ba bu setiap ada acara di rumah keluarga suaminya. Bahkan tak sering ucapannya selalu menyakiti hati Rumi. Yang paling menyakitkan baginya akhir-akhir ini, Bu Sri selalu mengatakan akan menjan da kan dirinya jika selalu membantah.
Arumiiiiiii ...
Rumiiii...
Rumiiii...
Teriakan semua anggota keluarga Bu Sri membuat Arumi ingin sekali melemparkan sayur panas di dalam panci kepada mereka.
"Ada apa mbak ..." tanya Arumi menekan emosinya.
Bahkan dia sudah bermandikan keringat karena sedari tadi tak beristirahat. Bahkan sedari subuh dia belum makan sama sekali. Sedangkan hari sudah mulai sore.
"Itu loh Resya mau makan! Suapi dia!" Teriak intan.
"Mbak, apa nggak liat aku masih masak untuk makan malam kalian? Mbak Intan sedari tadi cuma diam dan main ponsel. Lagian Resya anak mbak itu!" jawab Rumi membuat Intan menyimpan ponselnya dengan kasar di meja.
"Heh ba bu! Kamu nggak liat apa aku sedang sibuk? Lagian apa susahnya sih kamu suapin Resya! Dia juga keponakan kamu! Setidaknya kamu belajar ngurus anak, walau kamu belum punya!" kesal Intan, membuat hati Rumi berdenyut.
Dia memang belum punya anak bukan karena man dul. Tapi dia pernah hamil namun ke gu gu ran. Dan semua itu tak lepas dari perbuatan keluarga suaminya juga. Selalu menyuruh dia mengerjakan banyak pekerjaan di saat hamil. Rumi memejamkan matanya setelah mencoba menenangkan hatinya.
"Aku tahu intan keponakan aku, tapi aku sedang masak, dan makanan ini untuk kalian makan! Bukan buat aku! Kalau aku telat yang ada ibu ngomel. Mbak Intan ibunya Resya, setidaknya mbak urus anak mbak sendiri bukan hanya mengurusi ponsel saja sedari tadi!" jawab Rumi membuat gadis cilik berusia enam tahun di antara mereka terlihat kebingungan.
"Kau! Dasar orang mis-kin tak tahu diri! Berani sekali kamu mengatur-atur aku hah! Kau pikir kau siapa Rumi! Jika bukan karena belas kasih ibu! Kamu tak akan pernah menjadi istri Fathur!" Teriak Intan.
"Ada apa ini?" tanya Bu Sri saat mendengar keributan di dapur.
"Rumi! Apa lagi sekarang ulah kamu hah! Apa kamu tidak bosan selalu membuat ulah dari tadi? Jangan sampai saat Hani datang membuat dia stres karena akan menggangu kandungannya!" begitulah Bu sari pada akhirnya menyalahkan Rumi atas kesalahan yang tak dia perbuat.
"Bu! Aku cuma bilang kalau aku sedang masak dan tak bisa menyuapi Resya! Sedangkan Mbak Intan kan sedari tadi hanya main ponsel! Apa salahnya kalau Mbak Intan sendiri yang menyuapi anaknya. Kenapa selalu aku yang selalu di salahkan!" Rumi sedikit meninggikan suaranya.
Dia sudah sangat lelah, dari subuh tak berhenti melakukan banyak pekerjaan. Sedangkan semua orang di rumah itu tak ada yang peduli dia sudah makan atau belum. Mereka hanya sibuk dan peduli dengan urusannya sendiri.
Plaaaakkk
Plaaaakkk
Bu Sri memberikan dua buah tamparan keras di pipi Rumi. Rumi memegangi pipinya, sebelum mendapatkan tamparan dari ibu mertuanya, dia melihat suaminya sudah pulang dan berdiri di belakang Intan. Dan saat Rumi di tampar Fathur hanya bisa diam tanpa berniat untuk mencegah ibunya.
"Mau kemana kamu, Rumi! Heh, pekerjaan kamu belum selesai! Dasar menantu durjanaaah!"
"Lihat Fathur ... Lihat kelakuan istrimu! Sudah ibu katakan kalau wanita tak berpendidikan itu tak akan pernah berubah sampai kapanpun!" emosi Bu Sri dengan dada naik turun menahan amarah.
"Kamu mau di sini atau pulang denganku, Mas!" tanya Rumi dengan suara berat menahan air mata.
"Dek ... Makan dulu sayang," Fathur mendekat ke arah istrinya.
Fathur tahu jika istrinya di sana pasti belum makan. Selama tiga tahun bersama, Fathur sudah tahu jika istrinya selalu di minta bekerja oleh ibunya. Namun dia tak punya keberanian melarang dang ibu. Apalagi mereka sedang berusaha meyakinkan ibunya untuk menerima Rumi menjadi istrinya. Restu ibunya sampai saat ini belum mereka dapatkan.
"Kamu masih marah, Dek!" Tanya Fathur pelan.
"Bagaimana tidak marah dan kesal sama kamu, Mas! Lihat ini pipiku masih merah bekas tangan ibumu! Dan kamu hanya diam saja melihat aku di tam par oleh ibu begitu! Kamu itu sebenarnya sayang sama aku nggak sih mas?" kesal Rumi kepada suaminya.
"Bukan begitu, Dek! Tapi tadi kejadiannya cepat sekali. Mas baru saja tiba di rumah ibu ... Jangan marah lagi sayang, sekarang makan dulu ya, mas suapi! Kamu pasti sangat lelah seharian kerja di rumah ibu!" Fathur kembali mencoba untuk merayu istrinya yang sedang merajuk.
"Ibumu pasti sekarang sedang ngomel-ngomel, Mas! Soalnya makanan itu belum semuanya matang! Apalagi menantu kaya kesayangannya akan datang! Aku, karena aku orang miskin dari dulu hanya di jadikan ba bu saja di sana! Kamu tahu nggak kita itu udah tiga tahun nikah, tapi ibu masih saja sikapnya sama seperti dulu! Aku kerja aja, Mas! Biar di hargai oleh ibu!" Rumi masih mengatakan unek-unek di hatinya.
"Dek, kamu mau kerja apa? Kamu di rumah saja ya! Lagi pula Mas masih mampu memenuhi semua kebutuhan kamu. Walau kita masih tinggal di rumah kontrakan. Setidaknya kamu lebih tenang berada di sini kan, sayang. Sudah jangan bilang mau kerja lagi! Sampai kapanpun mas nggak akan mengizinkannya!" jawab Fathur.
"Tapi ibumu itu loh mas! Emangnya kamu nggak sakit hati liat istri kamu di hina terus!" Rumi masih merajuk kesal.
Jika saja Fathur tak mencintai dirinya seperti ini. Mungkin Rumi sudah mencak-mencak kepada mertuanya. Dia masih berusaha menahan emosi dan rasa kesalnya karena memiliki suami yang mencintainya. Walau kekurangannya, Fathur tak pernah bisa membela dirinya di depan sang ibu. Fathur terlalu menghormati ibunya.
Selama tiga tahun dia tahan dengan semuanya karena berharap mendapatkan restu dari Bu Sri dan keluarga Fathur. Dia sadar diri karena saat ini hanya Fathur yang dia miliki. Sedangkan nenek yang selama ini merawatnya sudah meninggal dua tahun lalu.
"Dek, mas mohon mengerti keadaan dan posisi mas juga. Mas sebagai anak laki-laki tak bisa melawan ibu, apalagi ibu adalah satu-satunya orang tua yang aku miliki. Sabar ya, Dek! Mas yakin kalau ibu pasti akan menerima dan mencintai kamu suatu hari nanti!" jawab Fathur masih menyuapi istrinya.
Drrrrttt
Drrrrttt
Drrrrttt
"Pasti ibu yang telepon kamu suruh aku balik lagi buat masak dan cuci barang kotor! Aku nggak mau! Kedua pipiku masih bengkak! Biar saja menantu lainnya yang kerjakan! Atau mereka bisa bayar orang saja untuk mengerjakannya! Mereka kan punya banyak uang!" kesal Rumi dan masuk ke dalam kamar.
"Dek ... Jangan gitu! Astaghfirullah, kenapa dia jadi emosian begini! Ibu juga kenapa harus tam -/par Arumi!" Fathur terlihat kebingungan.
"Iya Bu," jawab Fathur.
"Mana istri kamu! Suruh dia balik lagi! Ini kerjaan dia masih banyak! Enak saja main pulang begitu saja!" kesal Bu Sri melalui panggilan telepon.
"Rumi sedang istirahat Bu, kedua pipinya bengkak. Bu, kenapa harus tam -/par Rumi. Kasihan Rumi kan dia bantu-bantu di sana dari subuh," jawab Fathur.
Tanpa suaminya tahu, Rumi menguping pembicaraan mereka. Dia sudah menduga jika mertuanya pasti akan menyuruh dia kembali ke sana. Seperti biasanya kalau pekerjaan belum selesai dia harus kembali lagi dan menyelesaikannya. Karena menantu menantunya yang lain tidak akan mau mengerjakan hal itu.
"Jadi kamu lebih membela wanita itu di banding ibumu, Fathur? Dia sudah sangat keterlaluan kepada Intan dan Resya. Sudah bagus ibu masih menerima dia menginjakkan kakinya di rumah ini! Jangan di manjakan! Cepat suruh dia ke sini sekarang juga! Hani sebentar lagi akan datang bersama dengan kakakmu!" omel Bu Sri kemudian menutup panggilan secara sepihak.
Terlihat dengan jelas oleh Rumi jika suaminya menghela napas panjang. Rumi segera berlari menuju tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Ogah banget aku harus balik lagi ke sana! Kedua pipiku aja masih panas gara-gara tangan ibu yang melayang seenak jidat. Sekarang di paksa harus kembali dan menjadi ba bu mereka di suruh ini itu sampai malam! Ba Bu aja masih di gaji, sedangkan aku? Di mau makan sedikit aja udah di katain maling lah, nggak pernah makan enak lah! Aish, bikin aku emosi aja jadinya," gerutu Rumi.
Tak lama terdengar pintu kamar di buka dan langkah kaki suaminya mendekat ke arah tempat tidur. Fathur duduk di samping sisi ranjang yang di tempati istrinya.
"Dek ..." Panggil Fathur lembut, tak ada jawaban dari istrinya.
"Dek, mas tahu kamu belum tidur!" Rumi akhinya membuka selimut yang menutupi wajahnya kemudian duduk.
"Apa? Mas mau minta aku balik lagi ke sana? Mas lihat pipi aku ini masih merah dan bengkak! Aku nggak mau, Mas! Terserah kali ini Mas mau marah sama aku karena nggak nurut. Biar aku nanti sholat tobat setelah emosiku mereda karena nggak nurutin ucapan suami! Tapi hati aku masih sakit!" jawab Rumi dengan mata berkaca-kaca membuat Fathur tak tega.
Dia menarik Rumi ke dalam pelukannya, tangis Rumi seketika pecah. Dan Fathur hanya bisa mengusap punggung istrinya pelan. Dua wanita yang di cintai Fathur tak pernah akur selama tiga tahun ini. Padahal Fathur tahu perjuangan Rumi selama ini untuk mencoba meraih hati mertuanya. Tapi entah kenapa hati ibunya tak pernah ada untuk Rumi. Baginya Rumi pembawa si-/al karena menikah dengan Fathur. Bahkan pekerjaan Fathur tak seperti kedua kakaknya.
"Maafkan Mas sayang, kamu mengerti posisi mas seperti apa kan? Mas juga sangat mencintai kamu, tapi kita sabar dulu ya, Dek! Semoga saja perlahan hati ibu mulai luluh ..." Fathur mengusap lembut kepala Arumi.
Rumiiiiii
Rumiiii
Fathuuuurrr
"Buka pintunya!" suara teriakan Bu Sri berbarengan dengan gedoran pintu rumah dengan keras dan tak sabar.
"Astaghfirullah, ibu kamu kebiasaan, Mas! Kalau pintu kontrakan itu rusak memangnya dia mau ganti? Kita malu sama yang punya rumah udah dua kali ganti pintu gegara ibu selalu menggedor pintu dengan cara seperti itu!" kesal Rumi membawa piring kotor ke wastafel.
Fathur tak berani menjawab ucapan istrinya, karena memang kenyataannya seperti itu. Dia juga sampai malu kepada pemilik rumah kontrakan.
"Iya Bu sebentar ..." Fathur terges berjalan menuju pintu depan.
"Mana istrimu Fathur?" tanya Bu Sri dengan tatapan nyalang mencari keberadaan Rumi di dalam rumah anaknya.
"Masuk dan duduk dulu Bu, jangan teriak di luar begini, malu sama tetangga," ajak Fathur yang merasa tak enak karena setiap ibunya datang pasti akan selalu berteriak.
"Rumiiiii ... Rumiiiiii ... Menantu bu-deg! Sini kamu!" teriak Bu Sri saat melihat keberadaan Rumi.
"Rumi nggak budeg, Bu! Tapi ibu selalu tak sabaran kalau memanggil aku, seolah aku tak pernah ada di depan ibu! Ad di depan mata ibu saja selalu berteriak!" jawab Rumi yang sepertinya sudah sangat lelah dengan sikap ibu mertuanya.
"Apa? Berani sekali kamu menantu tak bergu-na bicara seperti itu kepadaku hah! Lihat Fathur! Lihat wanita yang sudah kamu pilih dan pertahanan menjadi istrimu itu! Apa wanita yang tak pernah menghargai ibumu ini yang kamu inginkan? Ingat Fathur surgamu ada padaku! Dan restumu ada padaku juga!" emosi Bu Sri dadanya naik turun sedangkan Fathur, seperti biasa hanya terdiam.
Ini yang sangat Rumi tak suka, suaminya akan diam saat sang ibu memaki atau merendahkan dia di depannya. Seolah dia tak pantas untuk di perjuangkan oleh suaminya. Tapi saat Rumi akan menyerah, Fathur selalu meyakinkan dirinya. Apalagi dia juga tak punya siapa-siapa saat ini selain Fathur.
"Bu, surga anak memang ada pada ibunya! Tapi anak ibu juga punya tanggung jawab besar padaku di hadapan Allah Subhanahu wa taala! Do -/sanya akan sangat besar karena tak bisa melindungi istrinya. Ibu mana yang malah menjerumuskan anaknya ke dalam do -/sa!" jawab Arumi saat melihat suaminya hanya diam saja.
"Arumiiiiiii kau ...! Lihat Fathur, karena ulah istrimu itu tangan ibu sampai terkena lu-ka bakar! Semua ini karena dia sok-sokan ngambek! Sekarang kembali ke rumah dan bereskan semua rumah! Ada banyak cucian dan juga barang kotor yang harus dia bersihkan! Jangan mau enaknya saja menjadi menantuku! Setidaknya hidup kamu berguna bagi keluargaku! Tak hanya numpang hidup saja! Makan dan tidur sesuka hatimu, menghabiskan uang anakku!" Bu Sri menunjukkan tangan kirinya yang di perban.
"Astaghfirullah ... Ini kenapa tangan ibu? Kenapa bisa terlu-ka seperti ini, Bu?" khawatir Fathur dengan cepat meraih tangan ibunya.
"Karena istrimu meninggalkan masakan yang belum selesai sehingga tangan ibu mele-puh!" jawab Bu Sri menarik tangannya marah karena dia terlu-ka akibat Rumi yang pergi begitu saja.
"Tak usah sok sayang kepada ibumu ini, Fathur. Bukannya dari semalam kamu lebih membela wanita itu dari pada ibumu?" sinis Bu Sri.
"Semalam ibu menghubungi kamu dan meminta dia kembali, saat itu tangan ibu terlu-ka! Dan sekarang keadaan rumah seperti kapal pecah! Tak ada yang beres-beres. Apa kamu akan membiarkan tangan aku semakin terlu ka parah, Fathur?" suara Bu Sri semakin rendah dan serak seakan menahan air mata.
"Dek ... " Panggil Fathur dengan suara lembut dan mata yang memohon kepada istrinya.
Rumi memalingkan wajahnya. Dia tak akan bisa menolak permintaan suaminya apalagi saat Fathur memasang wajah sendu seperti itu.
"Dek, mas mohon kali ini bantu ibu beres-beres di rumahnya ya!" pinta Fathur menggenggam tangan istrinya.
"Halah! Nggak usah sok di rayu seperti itu! Nanti dia malah semakin besar kepala! Membantu ibu adalah tugasnya sebagai menantu agar sedikit bergu-na!" ketus Bu Sri, Fathur hanya menghela napas panjang.
"Dek, kita bicara di dalam sebentar ya," ajak Fathur menarik tangan istrinya masuk ke dalam rumah mereka.
"Dek, mas mohon kali ini bantu ibu beres-beres di rumah ya! Kamu lihat sendiri, tangan Ibu sedang terluka. Dan tak ada yang membantu ibu di rumah," ucap Fathur memohon kepada istrinya.
Hati Rumi sebenarnya sakit melihat Fathur selalu seperti ini. Padahal semalam dia sudah minta maaf, tapi sekarang? Dia meminta lagi dirinya untuk kembali menjadi bahan hinaan ibu dan keluarganya.
"Mas!" kesal Rumi mendelik. Suaminya tak mengerti juga jika di sana dia hanya di butuhkan untuk menjadi ba bu gratisan saja.
"Mas tahu kamu pasti capek. Besok juga keluarga Mbak Hani dan Mas Fajar akan pulang. Jadi kamu tak perlu beres-beres lagi di rumah ibu! Mas mohon, satu hari ini saja ya, ... Mungkin ibu juga malu kepada Mbak Hani yang jauh-jauh menginap di rumah ibu, apalagi mbak Hani sedang hamil," rayu Fathan kembali.
"Kamu yakin? Tapi aku nggak yakin ibu akan membiarkan aku berhenti beres-beres apalagi dengan alasan tangannya sakit! Dia pasti akan minta kau mengerjakan ini dan itu lagi!"
"Mas pastikan hanya hari ini saja, sayang! Mas nggak tega lihat tangan ibu terlu-ka harus beres-beres!"
"Baiklah, tapi aku minta syarat!" ucapan Rumi membuat Fathur menatap penuh tanya.
"Katakan, Dek!"
"Aku mau kerja! Dan kamu harus izinkan aku kerja, aku tak mau terus di hi na oleh ibu dan keluarga kamu yang lainnya. Hanya karena aku tak punya penghasilan! Aku lelah di ren dahkan oleh mereka!" permintaan Rumi membuat Fathur tercengang.
"Dek! Kamu mau kerja apa? Mas, nggak izinkan kamu kerja. Kamu di rumah saja! Urus rumah dengan baik," jawab Fathur.
"Kalau gitu aku nggak mau ke rumah ibu! Minta saja Mbak Intan atau mbak Hani atau adik tercintamu yang membantu ibu!" jawab Rumi membalikkan badannya kesal.
"Rumi ... Baiklah ... Kamu boleh kerja, Dek!" ucap Fathur saat melihat ibunya datang dan menetap tajam ke arahnya.
"Jadi gimana? Istrimu mau atau tidak? Kalau tidak selamanya nggak usah anggap aku ibumu lagi Fathur!" tanya Bu Sri ketus.
"Kami akan ke rumah ibu sekarang," jawab Fathur.
"Bagus! Jangan lama!"
Mendengar jawaban putranya membuat Bu Sri tersenyum lebar kemudian pergi bersama dengan Fikri, Abang kedua Fathur.
Fathur hanya bisa menghela napas panjang. Sesungguhnya dia begitu berat mengizinkan Rumi bekerja, dia sangat takut kehilangan Rumi. Entahlah, dia hanya ingin istrinya hanya bergantung padanya. Dia sangat mencintai Rumi, namun dia juga tak bisa tegas kepada ibunya. Hingga tanpa sadar selalu menyakiti hati istrinya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!