Indonesia
NovelToon NovelToon

Dinikahi Pak Dokter Tampan

BAB 1

Waktu terus bergulir hingga tibalah hari yang paling

dinanti. Arka akhirnya resmi menyandang gelar dokter. Kebahagiaan keluarga itu makin lengkap karena Arka mendapatkan penempatan tugas di salah satu rumah sakit besar yang berada di kota yang sama dengan rumah orang tuanya.

Arka sudah memiliki rumah sendiri. Rumah minimalis namun elegan itu adalah hasil tabungannya selama ini, yang juga dibantu oleh Yuda sebagai hadiah atas kelulusannya. Sore itu, Kirana dan Yuda berkunjung untuk melihat rumah baru putra sulung mereka.

Namun, alih-alih memberikan pujian, Kirana justru sibuk berkeliling sambil mengomel.

"Ibu benar-benar nggak habis pikir sama kamu, Bang. Kenapa sih harus bangun rumah sendiri segala? Rumah kita itu masih luas, masih bisa nampung kamu. Jarak ke rumah sakit juga nggak jauh-jauh amat," ujar Kirana sambil mengecek kebersihan sudut ruangan.

Yuda hanya duduk tenang di sofa ruang tamu yang masih baru, memperhatikan istri dan putranya dengan senyum tipis.

"Bu, Arka kan sudah dewasa. Arka ingin belajar mandiri dan punya aset sendiri. Apalagi kalau nanti Arka harus pulang larut malam habis jaga, Arka nggak enak kalau harus berisik di rumah Ibu," Arka mencoba memberi penjelasan dengan sabar.

"Alasan saja kamu. Pokoknya Ibu pesankan satu hal ya, Bang. Jangan sesekali kamu bawa perempuan ke rumahmu ini. Ibu nggak akan maafkan kamu kalau sampai Ibu dengar macam-macam!" seru Kirana tegas.

Arka terbelalak, merasa sedikit terpojok dengan peringatan ibunya yang mendadak itu.

"Emang Arka laki-laki apaan, Bu? Arka di sini mau istirahat dan fokus kerja, bukan mau main-main."

Kirana mendengus pelan sambil merapikan letak pajangan di atas meja. "Ibu mana tau isi kepalamu. Laki-laki kalau sudah punya rumah sendiri dan jauh dari pengawasan orang tua itu suka aneh-aneh. Ingat, kamu itu dokter, jaga martabatmu."

Yuda akhirnya bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka, merangkul bahu Kirana agar lebih tenang.

"Sudah, Sayang. Arka sudah jadi dokter, dia sudah mengerti tanggung jawab. Membangun rumah ini saja sudah bukti kalau dia punya pemikiran masa depan yang baik. Jangan diomeli terus, ini kan rumah barunya."

Arka menghela napas lega melihat ayahnya membela. "Tuh, dengar kata Ayah, Bu. Arka janji bakal jaga kepercayaan Ibu."

"Ibu begini karena sayang, Bang. Ibu mau rumah ini jadi berkah, bukan malah jadi tempat yang nggak benar," ucap Kirana akhirnya.

Meski rumah itu sudah berdiri kokoh, suasananya masih terasa kosong. Belum ada gorden yang terpasang sempurna, dan aroma cat baru masih tercium cukup kuat di beberapa sudut ruangan.

"Ya sudah, Mas, ayo kita pulang sekarang. Udah mau maghrib," ajak Kirana sambil menoleh ke arah Yuda.

Yuda berdiri dari sofa, menepuk-nepuk debu imajiner di celananya. "Loh, nggak jadi menginap di sini, Bu?" goda Yuda.

"Menginap apanya, Mas? Gorden saja belum ada, nanti orang lewat bisa lihat anak kamu tidur mangap," sahut Kirana cepat.

"Lagipula, kasur di kamar utama juga belum datang kan, Bang? Kamu mau tidur di lantai?"

Arka terkekeh sambil mengunci pintu balkon. "Iya, Bu. Lagian perlengkapan yang lain belum datang juga."

"Makanya, malam ini kamu pulang dulu ke rumah. Tidur di kamarmu yang lama. Ibu sudah masak enak tadi sebelum ke sini," titah Kirana.

Yuda merangkul bahu Arka saat mereka berjalan menuju pintu depan. "Nikmati dulu masa-masa terakhir tidur di rumah Ayah, Bang. Nanti kalau rumah ini sudah siap seratus persen, kamu bakal rindu suasana berisik di rumah sana."

Arka mengangguk mantap. Ia mengunci pintu rumah barunya dengan perasaan bangga yang membuncah.

"Siap, Yah. Arka juga masih kangen masakan Ibu kok."

"Nah, gitu dong. Ayo cepat, nanti adik-adikmu di rumah sudah kelaparan nungguin kita," ucap Kirana yang sudah lebih dulu sampai di mobil.

Pagi itu, suasana dapur terasa lebih hidup dari biasanya. Aroma bumbu ungkep dan sambal goreng memenuhi seisi ruangan. Tiara, yang kini sudah menyandang gelar sarjana, tampak cekatan membantu ibunya. Rambutnya diikat asal, persis seperti gaya Kirana dulu.

Semenjak Bi Sari memutuskan untuk pulang ke kampung halaman karena faktor usia, Tiara memang menjadi asisten setia Kirana. Keluarga Yuda pun sepakat untuk tidak mencari ART baru karena mereka ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama di rumah.

"Nanti rendangnya dicek lagi ya, Kak. Pastikan dagingnya sudah empuk banget."

"Iya, Bu," jawab Tiara.

Kirana kemudian menyodorkan sebuah sendok kecil berisi kuah rendang yang kental ke arah putrinya. "Coba kamu koreksi rasanya, Kak. Kurang garam atau sudah pas? Ibu dari tadi icip-icip terus sampai rasanya jadi samar."

Tiara mencicipinya dengan saksama. "Sudah pas kok, Bu. Gurihnya dapet, pedasnya juga nggak terlalu nendang"

Sembari meletakkan kembali sendoknya, Tiara bertanya, "Tante Rita kapan datangnya, Bu?"

"Katanya sih nanti setelah Dzuhur. Jadi kita masih punya waktu sedikit lagi buat beres-beres," sahut Kirana.

Namun, saat Kirana hendak menuangkan kecap manis ke dalam masakan lainnya, ia mengguncang-guncangkan botol yang ternyata sudah sangat ringan. Ia mengintip isinya dan mendesah pelan.

"Waduh, kecap manisnya habis, Kak. Masih butuh sedikit lagi supaya warnanya cantik."

Kirana menoleh ke arah Tiara yang baru saja hendak duduk beristirahat sejenak. "Kak, tolong belikan kecap manis sebentar ke warung depan ya."

"Jangan lupa pakai jilbabnya, Kak. Langsung saja ya, jangan mampir-mampir."

"Siap, Bu! Tiara ambil jilbab dulu di kamar!" seru Tiara sambil berlari kecil meninggalkan dapur, sementara Kirana kembali fokus pada kompornya.

Arka turun dari tangga dengan langkah santai, tampak lebih segar setelah beristirahat sejenak. Meskipun ia baru akan resmi mulai bekerja di rumah sakit minggu depan, aura seorang dokter sudah mulai terpancar darinya. Begitu sampai di lantai bawah, hidungnya langsung disambut aroma masakan yang memenuhi rumah.

"Banyak banget Bu masaknya," komentar Arka sambil melongok ke arah meja makan yang sudah mulai penuh dengan berbagai hidangan.

Kirana yang sedang sibuk menata piring menoleh sebentar. "Iya, nanti Tante Rita mau datang."

Arka mengerutkan keningnya sedikit heran. "Ngapain Bu?"

"Silaturahim," jawab Kirana singkat.

"Ohh..." Arka mengangguk-angguk mengerti. Ia kemudian meraih kunci mobil yang terletak di atas bufet.

Melihat putranya bersiap-siap pergi, Kirana menghentikan kegiatannya sejenak. "Kamu mau kemana Bang?"

"Jemput Aira Bu, udah pulang kayaknya," jawab Arka.

"Ya sudah, hati-hati. Langsung pulang ya, jangan mampir jajan dulu, sebentar lagi Dzuhur," pesan Kirana.

"Siap, Bu!" Arka melambaikan tangan lalu melangkah keluar, sementara Kirana kembali fokus ke dapurnya, menunggu Tiara kembali membawa kecap manis agar masakannya tuntas.

BAB 2

Tepat setelah kumandang azan Dzuhur berakhir, suara mobil berhenti di depan pagar. Tak lama, Mbak Rita dan suaminya, Mas Jefri, melangkah masuk ke halaman bersama kedua anak mereka. Lilis dan adiknya Rafka.

Kirana, Tiara, Kenan, Zayn, dan Aira sudah berdiri di teras depan menyambut dengan wajah cerah. Tak lama, Yuda menyusul keluar dari dalam rumah. Namun, sosok Arka tidak tampak di sana.

"Loh, Bang Arka mana?" tanya Kenan pelan, namun tak sempat dijawab karena tamu sudah di depan mata. Ternyata, Arka harus mendadak pergi ke rumah barunya karena tukang perabotan baru saja mengabari akan mengantar furnitur siang itu juga.

"Halo Mbak. Mbak sehat?" sapa Kirana dengan hangat sambil merangkul Mbak Rita.

"Alhamdulillah sehat, Ra. Kamu apa kabar? Makin awet muda saja," jawab Mbak Rita.

Kirana dan Yuda bergantian menyapa Rita dan Mas Jefri dengan ramah.

"Ayo, Kak, Ken, sapa Tantenya. Ayo semuanya, salim sama Tante dan Om," perintah Kirana kepada anak-anaknya. Tiara, Kenan, Zayn, dan si kecil Aira pun maju satu per satu mencium tangan Rita dan Jefri dengan sopan.

Tak mau kalah, Mbak Rita juga menoleh ke arah anak-anaknya. "Lilis, Rafka, ayo salim dulu sama Om Yuda dan Tante Kirana."

Lilis dan Rafka pun melangkah maju, menyalami Yuda dan Kirana bergantian dengan penuh hormat.

"Wah, Rafka sudah makin tinggi ya, Mas Jef," puji Yuda.

"Iya, mas Yuda. Namanya juga anak laki-laki, cepat sekali gedenya," jawab Jefri sambil tertawa.

"Ayo, ayo, masuk dulu. Jangan lama-lama di teras, udara lagi panas begini," ajak Kirana sambil mempersilakan tamu-tamunya masuk ke ruang tamu yang sudah tertata rapi.

"Arka belum kelihatan ya? Tadi dia pamit sebentar karena ada tukang antar perabot ke rumah barunya. Mungkin sebentar lagi dia juga sampai ke sini."

Di ruang tamu, mereka larut dalam obrolan santai. Di salah satu sudut sofa, Tiara tampak asyik mengobrol dengan Lilis. Penampilan Lilis kini jauh berbeda; ia telah mantap mengenakan cadar sejak menempuh pendidikan di pesantren saat SMA dulu.

"Lis, kamu ada lowongan kerja nggak di tempat kamu ngajar?" tanya Tiara membuka percakapan.

Lilis menoleh, matanya yang teduh tampak tersenyum dari balik cadarnya. "Emang kamu mau ngajar anak TK, Ra?"

"Ya coba dulu. Siapa tahu cocok," jawab Tiara jujur.

"Aku coba tanya dulu nanti deh," ucap Lilis tulus.

Tiara menghela napas panjang, "Iya, aku juga udah bosan pengangguran terus. Meskipun di rumah bantu Ibu, tapi rasanya pengen punya kegiatan di luar juga."

Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar berhenti di depan. Arka masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Begitu melihat tamu, ia langsung menghampiri dan salim pada Rita dan Jefri. Namun, langkahnya sempat tertahan sebentar. Matanya sedikit lama melihat pada sosok yang duduk di samping adiknya, Tiara. Ada rasa penasaran yang muncul melihat sosok bercadar yang tampak asing baginya itu.

Kirana yang melihat situasi segera mencairkan suasana. "Gimana kalau kita makan dulu? Kami tadi sudah masak banyak kebetulan."

"Aduh, merepotkan saja, Ra," sahut Mbak Rita merasa sungkan.

"Nggak apa-apa, Mbak. Ayo, semuanya ke meja makan," jawab Kirana ramah. Ia lalu menoleh ke arah anak-anaknya,

"Ayo Tiara, Bang Arka, bantuin Ibu."

Saat suasana dapur sedang sibuk menata piring ke nampan, Arka mendekati ibunya. Ia sedikit berbisik agar suaranya tidak terdengar sampai ke depan.

"Yang bercadar itu siapa, Bu?" tanya Arka penasaran.

Kirana menahan senyum sambil terus menyendok sayur. "Kamu nggak kenal, Bang? Itu Lilis loh."

"Hah? Lilis anaknya Tante Rita?" Arka tampak terkejut.

Baru saja Arka hendak mengangkat piring, tiba-tiba Lilis muncul di ambang pintu dapur dengan langkah yang sopan.

"Assalamualaikum, Tante. Ada yang bisa aku bantu nggak?" ucap Lilis dengan suara yang lembut.

Kirana sempat sedikit kaget namun langsung tersenyum lebar. "Aduh, eh... ponakan Tante. Ini, tolong taruh di sana piringnya," jawab Kirana sambil menyerahkan tumpukan piring bersih.

Lilis menerima piring itu dengan cekatan. Arka yang berdiri tepat di samping ibunya hanya bisa mematung sebentar, merasa canggung sekaligus kagum melihat perubahan drastis teman masa kecilnya itu.

......................

Malam harinya, suasana rumah sudah kembali tenang, namun tidak dengan hati Arka. Ia terus terjaga, membolak-balikkan badan di atas kasur, namun bayangan sosok bercadar yang duduk di samping Tiara tadi siang terus melintas di pikirannya. Ada rasa sesak yang aneh dan hal mengganjal yang tidak bisa ia jelaskan sendiri.

Tak tahan dengan kegelisahannya, Arka memutuskan turun ke bawah. Ia melihat ibunya sedang duduk santai di ruang tengah sambil melipat sisa taplak meja yang baru dicuci. Arka segera mendekat dan duduk di samping Kirana.

"Bu, Tante Rita tadi ngapain ke sini?" tanya Arka langsung tanpa basa-basi.

Kirana menoleh sekilas, tangannya masih sibuk melipat.

"Silaturahmi."

Arka menghela napas, merasa jawaban ibunya terlalu singkat. "Ya Arka tahu silaturahmi, tapi dalam rangka apa?"

"Oh, itu... Lilis sebentar lagi mau nikah. Sudah dikhitbah dia. Tadi Tante Rita sekalian mau kasih kabar dan minta doa restu."

Mendengar itu, Arka merasa seperti ada petir yang menyambar di siang bolong. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

"Hah? Apa?" seru Arka dengan suara yang sedikit meninggi karena kaget.

Kirana mengernyitkan dahi, merasa heran dengan reaksi putranya yang berlebihan. "Kamu kenapa sih, Bang? Kok kaget gitu? Kan bagus sudah ada yang melamarnya. Orangnya juga saleh, sepadanlah sama Lilis."

Arka hanya diam. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Ada rasa kecewa yang mendalam merayap di hatinya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Arka bangkit dan berbalik menuju kamarnya dengan langkah gontai.

Arka merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia berbaring telentang, kedua tangannya terlipat di bawah kepala, sementara matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang putih bersih.

Keheningan malam itu justru membuat pikirannya semakin bising.

Hatinya terasa berdenyut nyeri. Kata-kata ibunya tadi sore seperti yang paling menyakitkan yang pernah ia terima. Lilis sudah dikhitbah.

Perlahan, memori lama menyeruak paksa. Arka teringat masa-masa SMA dulu, sesaat sebelum Lilis pergi ke pesantren. Arka pernah berpesan pada Lilis untuk menunggunya sampai dia lulus pendidikan kedokteran.

Itu adalah janji konyol masa remaja, janji yang mereka buat tanpa tahu betapa kejamnya waktu bisa memisahkan. Sejak hari itu, Lilis masuk pesantren Arka tenggelam dalam tumpukan buku kedokteran yang tebal di universitas. Komunikasi mereka putus total. Mereka benar-benar lost contact sampai sekarang. Arka pikir, janji itu akan abadi di hati Lilis, sama seperti abadi di hatinya.

"Apa aku sudah terlambat?" gumam Arka, suaranya parau menahan sesak.

"Apa aku terlalu lama?"

Arka memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menghalau air mata yang mendesak keluar.

Lilis sudah menunggunya, mungkin sangat lama, sampai akhirnya rasa lelah membuatnya membuka hati untuk pria lain. Dan Arka, dokter baru yang malang ini, datang tepat saat janji itu sudah kedaluwarsa.

BAB 3

Yuda, yang di usianya sekarang masih sangat aktif, sudah berangkat untuk mengurus pabrik. Arka bukannya tidak mau membantu bisnis ayahnya, ia hanya ingin fokus pada profesi dokter yang baru saja ia raih. Kadang, Kenan yang lebih sering ikut membantu ayahnya sekalian belajar sepulang sekolah.

Adik-adiknya yang lain pun sudah berangkat ke sekolah sejak pagi tadi. Arka melihat ke sekeliling; Tiara masih di dalam kamar, sementara ibunya sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV.

Arka melangkah mendekat dan ikut duduk di samping Kirana.

"Kapan kamu masuk kerja, Bang?" tanya Kirana.

"Seminggu lagi, Bu. Kenapa?"

"Nggak apa-apa, Ibu cuma mau nanya aja. Kalau pindahnya?" sambung Kirana lagi, merujuk pada rumah baru Arka.

"Emmm, sebulan lagi mungkin," jawab Arka singkat.

Arka bergeser duduk lebih dekat ke arah ibunya. Dengan nada suara yang diusahakan sealami mungkin, ia bertanya.

"Bu, pernikahannya Lilis itu kapan?"

"Kata tantemu dua minggu lagi," jawab Kirana.

Arka tersentak. "Kok cepat banget, Bu?" batinnya berteriak, Aduh, gimana ini?

Kirana menoleh, menatap putra sulungnya dengan heran. "Makin cepat makin baik. Kamu juga, umurmu sudah mau tiga puluh belum nikah juga. Kamu suka perempuan kan, Bang?"

"Suka lah, Bu," jawab Arka cepat.

"Terus kenapa?" kejar Kirana.

"Ditinggal nikah..." ucap Arka sangat pelan, nyaris seperti bisikan pilu pada dirinya sendiri.

Kirana mengernyitkan dahi. "Hah, apa? Ibu nggak dengar."

Arka langsung tersadar dan segera meralat ucapannya sebelum ibunya curiga.

"Belum ketemu, Bu," pungkasnya sambil membuang muka, berusaha menyembunyikan gurat kecewa yang masih membekas jelas di matanya.

Arka melangkah perlahan menuju lantai atas. Pikirannya masih kacau, dan rasa penasaran tentang Lilis benar-benar membuatnya nekat. Ia berhenti tepat di depan kamar adiknya dan mengetuk pintu kayu itu dengan ragu.

"Dek, kamu di dalam?"

"Iya, Bang. Masuk aja," sahut Tiara dari dalam.

Arka membuka pintu dan melihat Tiara sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.

"Kenapa?" tanya Tiara.

"Pinjam HP mu bentar," ucap Arka berusaha terdengar santai.

Tiara mengernyitkan dahi. "Buat apa?"

"HP Abang nggak tahu letak di mana. Bentar aja," dalih Arka.

"Aku aja yang nelponnya, Bang," tawar Tiara yang curiga melihat gerak-gerik kakaknya yang tidak biasa.

"Nggak usah, bentar aja kok. Sini," pinta Arka sedikit memaksa. Tiara akhirnya memberikan ponselnya meski dengan tatapan bingung.

Arka segera memunggungi Tiara agar adiknya tidak melihat apa yang ia ketik. Ia pura-pura menekan nomor teleponnya sendiri, padahal jempolnya dengan cepat mencari kontak Lilis. Begitu ketemu, ia langsung menyalin nomor itu ke ruang pesannya sendiri, lalu cepat-cepat menghapus jejak pesan.

"Nih," ucap Arka sambil mengembalikan ponsel itu ke tangan Tiara dengan gerakan yang seolah-olah baru saja selesai menelepon.

"Udah, Bang?"

"Iya, lupa ternyata ada di bawah bantal tadi," sahut Arka berbohong demi menutupi rasa gugupnya.

Arka langsung keluar dari kamar Tiara dengan jantung yang berdegup kencang. Kini, ia sudah memegang nomor itu satu-satunya harapan kecil yang tersisa di tengah kabar pernikahan yang tinggal dua minggu lagi. Arka kembali ke kamarnya, menatap layar ponselnya sendiri, bimbang apakah harus mengirim pesan.

Di dalam kamarnya yang sunyi, Arka menatap layar ponsel dengan jempol yang bergetar. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

Dengan perlahan, ia mengetikkan sebuah pesan singkat.

"Assalamualaikum, Elisa."

Begitu tombol kirim ditekan dan tanda centang muncul, Arka langsung meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia tidak sanggup menunggu balasan saat itu juga. Jantungnya berdegup sangat kencang.

Sedangkan di sisi lain Lilis sedang duduk lesehan, dengan telaten memasukkan kartu-kartu itu ke dalam plastiknya satu per satu.

Di tengah kegiatannya, ponsel yang tergeletak di sampingnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar.

"Assalamualaikum, Elisa."

Lilis menghentikan gerakannya sejenak. Ia mengernyitkan dahi di balik cadarnya. Jarang sekali ada orang yang memanggilnya dengan nama Elisa belakangan ini, kecuali teman-teman lama atau orang yang mengenalnya sebelum ia masuk pesantren.

Ia mengambil ponselnya, menatap layar itu selama beberapa detik. Tidak ada nama yang tersimpan untuk nomor tersebut. Hanya deretan angka asing yang tidak ia kenali.

"Siapa ya?" gumamnya pelan.

Lilis tak ambil pikir. Ia merasa mungkin itu hanya salah sambung. Tanpa membalas, ia hanya melihatnya saja, lalu meletakkan kembali ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah.

Satu jam berlalu, lalu dua jam, hingga tak terasa sudah sekian jam Arka bolak-balik mengecek ponselnya.

Arka duduk di tepi ranjang, memegang ponselnya dengan kedua tangan. Ia menatap nanar gelembung pesan darinya yang masih menyisakan tanda centang dua, namun tak kunjung berubah menjadi biru atau mendapat balasan.

"Ayo balas dong..." gumamnya frustrasi.

Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya mulai berkelana ke mana-mana. Apa dia sudah ganti nomor? Apa dia nggak ingat aku lagi? Atau apa dia tahu ini aku dan sengaja nggak mau balas karena sudah punya calon suami?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!