Indonesia
NovelToon NovelToon

Kediaman Jenderal Jatuh Karena Berkhianat

Bab 1. Kepulangan Jenderal

Alunan musik kecapi terdengar di seluruh kediaman Jenderal. Hiasan lampion dan kain warna cerah juga tersebar di seluruh kediaman. Para tamu hilir mudik datang, mereka adalah para bangsawan, pejabat kerajaan dan juga para pedagang yang ternama di kota Fenghua.

Di ruangan yang cukup besar, tampak beberapa orang mempersembahkan arak untuk menghormati nyonya jenderal, wanita yang hari ini genap berusia 35 tahun.

"Selamat nyonya jenderal! semoga nyonya jenderal senantiasa sehat dan diberi umur panjang!"

"Selamat nyonya jenderal!"

Wanita cantik dengan pakaian mewah berwarna putih biru itu tersenyum sangat bahagia.

Dia adalah Mei Huarin, seorang wanita yang datang ke kerajaan Jinhuan ini 18 tahun yang lalu. Dia datang dari tempat yang jauh, sangat jauh hingga hanya dia yang tahu dia berasal darimana. Tempat ini, adalah tempat dimana waktu berbeda dengan dimana dia berasal. Intinya, Mei berasal dari masa depan.

Saat dia datang, kerajaan Jinhuan sedang dalam masa perang. Mei menciptakan senjata panah yang bisa melontarkan ratusan panah sekaligus. Senjata yang pada masa ini belum ada satu pun kerajaan yang memilikinya, bahkan memikirkannya.

Karena jasanya, dia diangkat menjadi adik angkat kaisar bergelar putri Chenping.

18 tahun yang lalu pula, dia bertemu dengan jenderal. Seorang pria gagah perkasa yang tak gentar melawan 100 orang prajurit meski tanpa senjata. Kegigihan jenderal Lu Yansheng, membuat Mei jatuh hati. Pernikahan itu terjadi, sekarang mereka di karuniai dua orang anak. Lu Chengyan si sulung yang sudah menjabat sebagai petugas di biro pengadaan barang kerajaan. Dan sudah menikah dengan seorang putri perdana menteri. Dan Lu Yanzhi si bungsu yang baik hati dan cerdas seperti Mei.

Anggota kerajaan juga beberapa orang sudah hadir sejak kemarin. Satu gudang sudah penuh dengan hadiah untuk nyonya jenderal. Karena Mei Huarin bukan hanya wanita biasa yah dihormati karena menjadi istri jenderal Lu. Namun dia juga adik angkat kesayangan Kaisar saat ini.

Di tengah tarian dan pesta yang meriah itu, seorang pelayan berlari ke arah ruangan utama.

"Nyonya... Nyonya, Jenderal telah kembali!"

Mei Huarin berdiri, wajahnya tampak berseri-seri. Dia memang sudah mendapatkan kabar kalau perang telah usai. Perang selama tiga tahun itu telah usai. Namun dia tidak menyangka suaminya akan kembali secepat ini.

"Yan'er ayahmu telah kembali. Kita harus sambut dia..."

"Nyonya, Jenderal membawa sebuah kereta kuda!" kata pelayan itu.

Mei Huarin terdiam sebentar, tapi dia yang memang sangat mencintai suaminya dan begitu percaya pada suaminya. Tidak punya pikiran buruk sedikit pun.

"Jenderal kembali setelah tiga tahun. Mungkin dia membawa banyak barang! Ayo Yan'er!" kata Mei Huarin.

"Iya ibu!"

Wajah gadis muda berusia 16 tahun itu juga terlihat sangat sumringah. Dia tampak senang mendengar ayahnya telah kembali. Ibunya banyak menceritakan tentang bagaimana patriotisme ayahnya membela negara ini. Meski sudah menjabat jenderal, tapi ayahnya tak pernah ragu untuk maju ke Medan perang. Usianya juga masih produktif, masih 37 tahun. Hanya berbeda 2 tahun dari Mei Huarin.

Semua tamu memberi hormat, membungkuk dan menyapa dengan tangan terlipat di depan. Mei Huarin tak pernah tidak membalas orang yang menyapanya. Dia tersenyum dan melipat tangannya.

Hingga ketika Mei Huarin dan Lu Yanzhi bersama beberapa pelayan sampai di depan pintu gerbang.

Terlihat seorang pria yang tampak gagah menunggang kuda yang sama terlihat luar biasanya dengan sang Jenderal.

"Suamiku!" Mei Huarin tampak berseri-seri.

Matanya berkaca-kaca melihat kedatangan suaminya yang sudah tidak bertemu dengannya selama tiga tahun ini.

Jenderal Lu turun dari kudanya.

"Nyonya, selamat ulang tahun!" jenderal mendekati Mei Huarin dan merentangkan tangannya memeluk Mei Huarin.

"Terima kasih suamiku. Kamu pasti lelah, masuklah dan berisitirahat...!"

"Jenderal!"

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang keluar dari kereta kuda di belakang jenderal.

"Ayah, siapa itu?" tanya Lu Yanzhi penasaran.

Mei Huarin masih menggenggam tangan suaminya. Ketika wanita itu turun dari kereta kuda di bantu oleh pelayannya.

"Jenderal, jenderal tidak melupakan Meiren kan?" tanya wanita itu dengan nada manja pada jenderal.

"Suamiku dia...!"

"Salam nyonya Jenderal! aku adalah Meiren, Shen Meiren, aku dan jenderal..."

"Dia yang menyelamatkan aku di perbatasan. Aku pernah dikepung dan cedera. Meiren yang telah menyelamatkan aku!"

Mendengar penjelasan suaminya. Mei Huarin tersenyum pada wanita yang namanya sedikit mirip dengannya itu.

"Nona telah menyelamatkan jenderal. Tentunya nona sangat berjasa. Terima kasih banyak nona, aku akan siapkan hadiah yang besar..."

"Nyonya jenderal, aku sama sekali tidak menginginkan hadiah. Aku dan calon anak jenderal, hanya ingin melayani Jenderal dan nyonya di kediaman ini!"

Plakk

Mata Mei Huarin melebar, Lu Yanzhi anak bungsunya bahkan sudah memukul wanita yang sejak tadi bicara dengan genit itu.

"Jangan sembarangan bicara kamu...!" pekik Lu Yanzhi.

Namun Shen Meiren langsung menarik ujung lengan pakaian jenderal.

"Jenderal, apakah Meiren salah? jenderal menjanjikan pada Meiren, akan menikahi Meiren!"

Mei Huarin menatap suaminya, ketika wanita itu menyentuh suaminya. Mei Huarin menjauh dari suaminya yang sudah menikah dengannya selama 18 tahun itu.

Tatapan jenderal sedikit ragu, tapi kemudian dia meraih tangan Mei Huarin.

"Nyonya, Meiren sedang hamil. Aku sudah berjanji akan menikahinya..."

Takk

Mei Huarin menghempaskan tangan jenderal dengan kasar.

"Apa katamu? kamu mau jadikan dia selir? siapa yang dulu berjanji padaku, jika aku setuju menikah, maka kamu tidak akan pernah mengambil selir..."

"Nyonya, aku adalah putri perdana menteri kerajaan Yuzhuan. Aku tidak mungkin menjadi selir, jenderal mengatakan pada ayahku untuk menjadikan aku istri setara dengan nyonya!"

"Istri setara?" pekik Lu Yanzhi, "apa kamu pantas?"

"Lu Yanzhi!" bentak Jenderal.

Mata Lu Yanzhi berkaca-kaca dibentak ayahnya, mereka tidak bertemu selama tiga tahun. Sekarang ayahnya membentaknya karena wanita genit itu.

Mei Huarin mendengus kesal.

"Beraninya kamu membentak anakku?" pekik Mei Huarin pada jenderal.

"Nyonya, kamu membentakku? kamu membentak suamimu? apakah seperti ini seorang nyonya? Memangnya siapa yang melarang pria di kerajaan ini memiliki lebih dari satu istri? jangan membesar-besarkan! jangan membuat malu!"

Mei Huarin terus menatap suaminya. Tiga tahun yang lalu, bahkan suaminya tidak punya gaya seperti itu saat bicara. Benar! seseorang pasti akan berubah karena tiga hal. Harta, tahta dan wanita.

"Membuat malu? membuat malu katamu? siapa yang membuat malu. Ini adalah kediaman ku, kediaman hadiah kaisar untukku. Kediaman mu ada di samping. Maka jangan pernah injakkan kakimu di kediaman ku!"

"Kamu...."

"Pengawal, tutup pintunya!" pekik Mei Huarin yang langsung mengajak Lu Yanzhi masuk dan membiarkan pengawal menutup pintu.

***

Bersambung...

Bab 2. Nyonya telah Patah Hati

Krettt

Pintu besar itu tertutup rapat. Tangan jenderal terkepal kuat.

"Jenderal! apakah nyonya selalu mendominasi seperti itu? dia tidak memandang wajah jenderal. Meiren tidak akan seperti itu!"

Jenderal Lu menoleh ke arah wanita yang saat ini tengah hamil anaknya itu. Mungkin yang membuat jenderal pada akhirnya bisa mengingkari janjinya adalah karena Meiren memang sangat berbeda dari Mei Huarin. Meiren begitu penurut, lembut dan manja. Sementara Mei Huarin, wanita yang tak segan membantah jenderal jika dirasa apa yang dilakukan jenderal itu salah, bahkan di depan banyak orang.

Tapi, Mei Huarin memang bukan wanita yang tumbuh di masa ini. Dimana wanita selalu bergantung pada pria. Apa kata pria, maka itu adalah vonis hidup para wanita di sini. Mei Huarin tidak seperti itu, dia tumbuh besar di lingkungan, dimana emansipasi wanita sudah bergema dan terealisasikan. Lagipula, semua yang dia lakukan, sesungguhnya adalah untuk kebaikan jenderal, untuk kehidupan yang lebih baik, untuknya bisa menjadi jenderal nomor satu di kerajaan ini.

Sayangnya cara pandang manusia memang terkadang berbeda. Ketegasan Mei Huarin, di anggap oleh jenderal sebagai sikap arogansi dimana Mei Huarin tidak membiarkan suaminya dipandang baik, dan mulia. Harus terus berdiri di sampingnya, dan nama Mei Huarin juga harus terus disandingkan dengannya.

"Memang hanya kamu yang paling mengerti aku Meiren!"

"Tidak masalah jenderal, Meiren datang dengan mas kawin yang sangat banyak. Ada empat peti berisi emas. Kita pasti bisa membangun kembali kediaman jenderal..." Meiren mendekati jenderal Lu, "mungkin juga bisa merebut kembali kediaman ini. Karena dimana-mana, yang namanya istri, harus menurut pada suami. Jika membangkang, bukankah itu sama saja mempermalukan aturan leluhur, hukumannya sama dengan berkhianat! Meiren benar kan, Jenderal?"

Nada genitnya itu, kalau Lu Yanzhi mendengarnya. Pasti anak bungsu Mei Huarin itu tak akan tahan untuk tidak menamparnya lagi.

"Kamu benar! kita masuk pintu samping!" kata jenderal yang pada akhirnya berhasil di bujuk untuk masuk ke kediaman Jinxi.

Shen Meiren tersenyum mencurigakan, tapi itu hanya bisa di lihat oleh beberapa orang yang punya sudut pandang berbeda padanya.

'Memangnya kenapa kalau kediaman ini hadiah dari kaisar. Jenderal adalah kepala keluarga! sejak kapan sebuah kediaman di pimpin oleh seorang nyonya?' batinnya.

Wanita itu memang punya ambisi yang sangat besar. Dia bukan hanya mau menguasai Jenderal. Tapi juga menguasai kediamannya, dan gelar nyonya yang sangat mulia, yang di saat ini masih di miliki oleh Mei Huarin.

Kereta kuda itu masuk ke pintu samping. Beberapa peti yang di bawa oleh para pengawal juga di bawa masuk.

Dan orang-orang yang ada di luar. Menjadi ramai membicarakan masalah yang baru saja terjadi di depan mereka.

"Wanita itu terlihat seperti penyihir!"

"Lebih seperti wanita penghibur! lihat saja caranya berpakaian, seperti para wanita di paviliun bunga. Kalau di bandingkan dengan nyonya jendral, sungguh jauh berbeda! nyonya Jenderal itu pembawaannya sopan, pakainya sopan dan pantas. Riasannya tidak berlebihan, jenderal benar-benar salah besar!"

Yang lain yang mendengarkan ucapan seorang wanita paruh baya yang memang kerap mendapatkan bantuan dari nyonya jenderal menganggukkan kepalanya.

Nyonya jenderal mereka terkenal sangat baik, berhati mulia dan sangat sopan juga bijaksana. Sejak mereka tinggal di dekat kediaman Jinxi. Tidak ada yang sakit yang tidak bisa berobat, dan tidak ada lagi yang tidak bisa makan dan sekolah.

Nyonya jenderal sungguh perduli pada rakyatnya. Makanya begitu mereka melihat ketidakadilan terjadi pada nyonya jenderal mereka, mereka juga kesal.

Sementara itu di kediaman jenderal, karena apa yang telah terjadi. Pesta perayaan ulang tahun itu harus dihentikan.

Nyonya jenderal di bawa oleh pelayan setianya Xueyao dan Lu Yanzhi ke dalam kamarnya untuk istirahat.

"Ibu! ayah memang sangat keterlaluan! ibu selalu menceritakan padaku tentang kesetiaan ayah. Bertahun-tahun di medan perang, ayah akan selalu kembali dengan kesetiaan. Tapi lihat..." Lu Yanzhi menjeda ucapannya. Dia sangat sakit hati pada apa yang dilakukan ayahnya.

Ibaratnya, saat ini sebenarnya yang patah hati bukan hanya Mei Huarin, tapi Lu Yanzhi juga patah hati. Cinta pertama bagi seorang anak perempuan adalah ayahnya. Lalu, ketika sang ayah membawa pengkhianatan ke rumah. Lu Yanzhi juga menjadi patah hati.

Mei Huarin sebenarnya sangat kecewa. Belasan tahun dia mendukung suaminya. Dia benar-benar mencurahkan jiwa raganya, segenap cinta dan dedikasinya pada suaminya. Pengkhianatan yang dilakukan jenderal, bukan hanya membuatnya terluka. Tapi sungguh menghancurkan separuh dirinya.

Kepercayaan itu, rasa hormat itu. Benar-benar hangus jadi abu, terbakar oleh bara api pengkhianatan yang dilakukan oleh jenderal.

Namun, melihat sang putri yang tak berhenti menangis, serta tampak kecewa sekali pada ayahnya. Mei Huarin tidak tega, tidak tega memperlihatkan dirinya yang hancur pada Lu Yanzhi.

Tangan Mei Huarin terangkat perlahan, menyentuh lembut puncak kepala Lu Yanzhi.

"Ingin memeluk ibu?" tanyanya.

Lu Yanzhi langsung terisak di pelukan ibunya. Xueyao yang melihat itu pun ikut menangis.

"Ayah tega sekali! dia malah bicara seperti itu pada ibu! kenapa ayah berubah sangat cepat? tiga tahun yang lalu, ayah tidak seperti itu. Dia masih sangat baik pada kita, padaku, pada ibu. Kenapa wanita itu membuat ayah menjadi jahat?"

Mei Huarin menepuk-nepuk lengan putrinya perlahan.

"Ibu selalu mengatakan padamu kan? meski ayahmu sangat hebat, tapi sebagai seorang wanita, ibu tidak pernah sepenuhnya bergantung pada ayahmu. Bukan karena ibu tahu ayahmu akan berkhianat. Tapi karena seorang manusia, hatinya bisa berubah kapan saja, Yan'er. Yang bisa kita percayai sepenuh hati memang hanya diri kita sendiri! ibu tahu kamu sakit hati pada ayahmu. Tapi, dia tetap ayahmu. Masalah ayah dan ibu, jangan sampai mempengaruhi hubunganmu dengan ayahmu. Ingat Yan'er, sebagai seorang wanita. Berdirilah di atas kakimu sendiri. Jangan pernah bergantung pada pria, jangan berharap dan jangan terlalu percaya. Hati yang patah, rasanya sakit sekali!"

"Ibu" tangis Lu Yanzhi semakin menjadi.

Mei Huarin menyeka air matanya ketika air mata itu turun perlahan. Bohong kalau dia tidak sakit hati. Bohong kalau dia tidak hancur atas pengkhianatan jenderal.

Dengan entengnya jenderal mengatakan, kalau sangat wajar di dinasti ini orang yang punya istri lebih dari satu. Mungkin jenderal lupa, karena dibutakan oleh hawa nafsuu. Kalau dulu syarat dari Mei Huarin supaya jenderal bisa menikahinya adalah, jenderal berjanji hanya akan memiliki satu istri sampai Mei Huarin tiada. Jenderal malah membentaknya, mengatakan dia membuat keributan, dan membuat malu.

Tak ada yang lebih hancur hatinya dibandingkan dengan Mei Huarin saat ini. Nyonya sungguh telah patah hati.

***

Bersambung...

Bab 3. Kekuasaan seorang Nyonya

Suara cicitan burung terdengar begitu merdu di luar jendela. Mei Huarin baru membuka matanya ketika kamar itu sudah terang. Semalam, dia tidak bisa tidur.

Meski berusaha untuk tegar, siapa juga istri yang bisa tegar kalau suaminya tahu-tahu pulang bawa wanita yang sudah hamil anak suaminya, dan suaminya bahkan mengatakan akan menikahi wanita itu. Apalagi menjadi istri setara. Di jaman ini, hal seperti itu sungguh mencoreng wajah istri pertama.

"Xueyao" panggil nyonya pada pelayan setianya.

Xueyao yang sejak tadi sebenarnya sudah mondar-mandir di luar bersama dengan Lu Yanzhi, tapi tidak berani membangunkan Mei Huarin. Segera membuka pintu.

"Nona, silahkan!"

"Ibu! Ibu!"

Mei Huarin baru turun dari tempat tidurnya, namun wajahnya langsung menegang ketika dia mendengar suara anaknya yang terdengar panik.

"Yan'er..."

"Ibu, mereka keterlaluan! pagi-pagi mereka sudah menyingkirkan bunga Crisant yang ibu tanam. Katanya wanita genit itu alergi mencium aromanya!" Yan'er mengadu dengan wajah kesal, matanya sudah berkaca-kaca.

Mei Huarin yakin sekali, kalau anaknya itu pasti sudah berdebat dengan selingkuhan jenderal itu.

Mei Huarin sebenarnya merasakan dadanya panas. Tapi dia tidak bisa menunjukkan amarahnya di depan sang anak. Anaknya sudah tertekan dengan kelakuan ayahnya, dia tidak boleh menambah rasa takut di dalam hati Lu Yanzhi yang setahunya berhati sangat lembut.

Mei Huarin mengusap lengan Lu Yanzhi perlahan.

"Tidak masalah, hanya bunga..."

Tapi mendengar ibunya berkata seperti itu, wajah Lu Yanzhi seperti tidak terima.

"Ibu, mana bisa begitu? sekarang memang hanya bunga, lama-lama wanita genit itu akan mengatur semua kediaman jenderal!"

Mei Huarin menghela nafas berat. Sangat berat, tapi dia berusaha untuk tidak sampai memperlihatkan hal itu pada putrinya.

"Xueyao, bantu aku ganti pakaian!" kata Mei Huarin dengan tegas.

Hanfu merah merah, yang merupakan warna favorit Mei Huarin. Lapisan luar hanfu-nya terbuat dari kain halus yang ringan, dengan lengan panjang yang mengalir lembut setiap kali ia bergerak. Pada bagian tepi kain, terdapat sulaman benang emas yang sederhana, tidak berlebihan, membentuk motif awan dan bunga plum, simbol keteguhan di tengah musim dingin. Sabuk pinggangnya ramping, dihiasi pengikat berbahan sutra dengan liontin giok kecil yang menggantung pelan, berayun mengikuti langkahnya.

Rambutnya disanggul rapi dalam gaya klasik, tinggi namun tidak berlebihan. Beberapa helai dibiarkan jatuh lembut di sisi wajah, memberi kesan anggun sekaligus manusiawi. Hiasan rambutnya hanya berupa jepit emas tipis dengan ukiran halus dan satu tusuk konde berujung mutiara, cukup untuk menunjukkan statusnya, tanpa perlu kemewahan yang mencolok.

Mei Huarin keluar dari kamarnya dan berjalan menuju halaman samping, dimana semua bunga Krisan dia tanam sendiri sejak 15 tahun yang lalu disana.

"Berhenti!"

Mei Huarin bicara dengan sangat tegas. Dagunya datar, tidak naik. Tapi cukup dengan seperti itu saja, beberapa pelayan langsung menghentikan pekerjaan mereka dan berlutut di depan Mei Huarin.

"Nyonya jenderal..."

Para pelayan dan penjaga saling pandang, mereka tampak takut. Tapi, mereka juga dipaksa melakukan semua itu oleh jenderal. Mereka juga hanya pelayan, mereka bingung dan di ancam. Orang-orang di jaman ini, benar-benar begitu naif.

"Kalian pelayan di kediaman Jinxi atau di kediaman jenderal?" tanya Mei Huarin.

Para pelayan itu saling pandang dan kebingungan.

"Sejak kapan ada kediaman Jinxi dan kediaman jenderal? Mei Huarin, aku rasa kamu lupa. Aku adalah kepala keluarga kediaman jenderal! semua yang ada, tinggal dan bernafas di kediaman ini. Aku yang mengaturnya!"

Mei Huarin tidak menoleh, suara itu berasal dari samping kirinya. Tapi dia tetap saja menatap kebun bunga Krisan-nya yang sudah rusak setengahnya.

"Jenderal, tunggu Meiren!" kata wanita genit dengan pakaian terbuka di belakang jenderal.

Bahkan jenderal itu langsung berbalik, membantu wanita itu,

"Hati-hati Meiren!"

Lu Yanzhi yang melihat itu mengepalkan tangannya. Alisnya menekuk sampai nyaris bertemu satu sama lain. Dia benar-benar kesal dengan wanita genit yang selalu menempel pada ayahnya itu.

"Lanjutkan cabut semua bunga itu dan buang..."

"Sejak kapan jenderal mengatur kediaman?"

Suasana mendadak menjadi sangat hening. Para pelayan menunduk tanpa berani bersuara atau menoleh ke arah majikan mereka yang seperti sedang perang dingin itu.

Sementara jenderal Lu yang mendengar ucapan Mei Huarin, tampak geram. Pria yang tak lagi menggunakan hanfu pria berwarna biru tua itu berjalan ke dekat Mei Huarin. Berdiri tepat di depannya dengan tatapan yang tak lagi sama seperti tiga tahun yang lalu.

"Kamu bilang apa? kamu bilang sejak kapan aku mengatur rumah jenderal? Mei Huarin, aku adalah suamimu, aku jenderal tingkat satu di kerajaan Jinhuan ini! kamu bilang seperti itu, sama saja merendahkan aku...!"

"Siapa yang memberimu hak memanggilku dengan nama saja jenderal! kamu lupa? aku putri Chenping!"

Brukk

Pelayan yang tadi masih berdiri langsung berlutut. Yang sudah berlutut langsung bersujud. Putri Chenping adalah gelar yang diberikan oleh kaisar sendiri pada Mei Huarin.

Shen Meiren yang melihat semua pelayan berlutut menjadi sangat kesal.

'Apa-apaan mereka?' batinnya tak senang.

"Jenderal! lupakan saja, semua ini salah Meiren. Jangan berdebat dengan nyonya!" kata wanita genit yang sepertinya akan kembali memainkan dramanya sebagai cahaya bulan putih di depan Jenderal.

Wanita itu bahkan tidak ragu melangkah maju di depan Mei Huarin.

Brukk

"Nyonya semua ini salah Meiren. Meiren yang tidak tahan dengan aroma bunga di taman samping ini. Hingga jenderal memerintahkan semua pelayan mencabutnya. Jangan berdebat dan merendahkan jenderal karena hal itu. Meiren tahu, nyonya adalah adik angkat kesayangan Kaisar. Meiren sungguh tidak ada apa-apanya. Tapi, Meiren juga tidak senang kalau nyonya bicara seperti itu pada jenderal. Bagaimana pun juga 20 tahun lebih jenderal telah mengabdikan dirinya untuk kerajaan Jinhuan. Maju ke Medan perang, mengorbankan dirinya, bertarung dengan darah dan nyawa. Kenapa nyonya bicara seolah jenderal sangat rendah di mata nyonya?"

Lu Yanzhi nyaris maju.

"Kau..."

Gerakan Lu Yanzhi terhenti. Karena Mei Huarin menghentikannya.

Sedangkan jenderal, pria yang dibutakan oleh wanita genit itu dengan cepat membantu Shen Meiren untuk bangun.

"Meiren, bangunlah. Jangan berlutut begini, kamu sedang hamil!"

"Jenderal, Meiren salah. Jika nyonya belum memaafkan Meiren, Meiren tidak akan bangun. Nanti nyonya merendahkan jenderal lagi!"

Jenderal Lu segera mendengus pelan menoleh ke arah Mei Huarin.

"Nyonya! apa kamu belum puas membuat keributan? seandainya sedikit saja kamu punya sikap perhatian Meiren..."

Mei Huarin menoleh tajam. Berani-beraninya suaminya membandingkan dirinya dengan wanita perusak rumah tangga orang lain.

"Hanya bunga Krisan, aku akan tanam bunga lain di sini. Berhenti bersikap arogan!" lanjut jenderal Lu dengan santai.

"Kalau wanita simpanan mu ini tidak suka bunga Krisan. Maka tidak seharusnya bungaku yang di cabut, tapi kalian berdua yang tidak usah datang ke halaman ku! Pelayan! mulai sekarang tutup akses pintu samping, jangan biarkan orang dari halaman samping masuk!"

"Baik nyonya!"

"Nyonya!" teriak jenderal Lu.

Sayangnya Mei Huarin sudah berlalu dengan cepat dari tempat itu.

'Wilayahku, lebih baik aku berikan pada anak yatim di pinggir jalan, daripada untuk kalian para pengkhianat!'

***

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!