Indonesia
NovelToon NovelToon

Garis Takdir Baru

BAB 1: TERBANGUN DI ATAS RERUNTUHAN WAKTU

Rasa sesak itu masih terasa nyata. Dingin yang merayap di ujung jemari, suara detak jantung yang melambat, dan kegelapan pekat yang menelan kesadaran Nata Prawira saat ia mengembuskan napas terakhirnya di sebuah kamar kontrakan sempit tahun 2026. Ia ingat betul rasa gagal yang menghancurkan jiwanya—lebih sakit daripada penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Ia mati sebagai pecundang yang meninggalkan adik-adiknya dalam jeratan kemiskinan tak berujung.

​Namun, kegelapan itu tiba-tiba koyak oleh sensasi panas yang menyengat. Suara dengung rendah dari kipas angin tua yang berputar tidak stabil menghantam indra pendengarannya.

​"Nata! Nata Prawira! Kamu tidur lagi di jam pelajaran saya?!"

​Sebuah bentakan keras disertai bunyi gebrakan meja membuat Nata tersentak. Matanya terbuka lebar. Fokusnya bergetar, berusaha memproses bayangan di depannya. Papan tulis hijau yang penuh coretan rumus, aroma debu kapur yang menyesakkan, dan wajah garang Pak Subagyo—guru matematika paling ditakuti di SMA Tunas Bangsa—berdiri tepat di depan mejanya.

​Nata mengerutkan kening. Pikirannya yang biasanya teratur dan logis kini berputar mencari penjelasan. Ini tidak mungkin.

​Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Teman-teman sekelasnya tertawa kecil. Di barisan belakang, ia melihat sosok Raka Dirgantara, anak pemilik yayasan sekolah yang selalu tampil klimis, sedang menyeringai sinis ke arahnya.

​Nata menatap tangannya sendiri. Kulitnya tidak lagi pucat dan keriput. Otot-ototnya terasa jauh lebih bertenaga meski tampak kurus. Ia melihat kalender dinding di atas pintu kelas.

​Mei 2014.

​Aku... kembali? Jantung Nata berdegup kencang, tapi ia tidak membiarkan emosinya meledak. Secara naluriah, ia langsung melakukan validasi. Ia mencubit punggung tangannya dengan keras. Sakit. Ia merasakan tekstur meja kayu yang kasar di bawah jemarinya. Ini bukan mimpi. Ini bukan halusinasi menjelang ajal.

​"Nata! Keluar! Berdiri di depan tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai!" perintah Pak Subagyo, wajahnya memerah.

​Nata tidak membantah. Ia berdiri dengan tenang, merapikan seragamnya yang sedikit kusam, lalu berjalan keluar kelas tanpa sepatah kata pun. Sikapnya yang tenang dan tatapan matanya yang tajam—sangat berbeda dengan Nata yang biasanya menunduk takut—membuat tawa teman-temannya perlahan mereda. Bahkan Raka yang tadinya ingin mengejek, tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri saat mata Nata menyapu arahnya selama sepersekian detik. Itu bukan tatapan seorang remaja pecundang; itu tatapan seorang pria yang telah melihat neraka dan sedang menghitung setiap langkah di depannya.

​Nata berdiri di bawah terik matahari pagi. Panasnya kulit yang terbakar matahari justru membuatnya merasa hidup. Pikirannya bekerja dengan kecepatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, menyusun kepingan memori dari masa depan menjadi strategi yang koheren.

​2014. Bulan Mei. Artinya, sebentar lagi Piala Dunia di Brasil akan dimulai. BitCore masih berada di harga yang sangat rendah. Tren smartphone baru saja dimulai di Indonesia. Dan yang paling penting...

​Nata memejamkan mata sejenak, menahan gelombang emosi yang mencoba mengacaukan logikanya. Kirana masih SMP. Arya masih SD. Ayah sudah tidak ada, dan ibu sudah lama pergi. Di garis waktu asliku, bulan depan adalah saat aku terpaksa meminjam uang pada rentenir untuk biaya sekolah Kirana. Keputusan bodoh yang menjadi awal dari kehancuran kami.

​"Kali ini tidak akan sama," bisik Nata pada angin. "Aku akan membangun benteng yang tidak bisa ditembus oleh kemiskinan."

​Bel istirahat berbunyi. Saat Nata berjalan menuju kran air sekolah untuk membasahi tenggorokannya yang kering, sebuah kaki sengaja dijulurkan untuk menyandungnya.

​Nata menghentikan langkah tepat satu sentimeter sebelum kakinya tersangkut. Ia tidak perlu melihat ke bawah untuk tahu siapa pelakunya. Ia menoleh perlahan, menatap langsung ke mata Raka Dirgantara.

​"Wah, si miskin sudah bangun. Gimana mimpi indahnya, Nata? Mimpi punya sepatu baru yang nggak jebol kayak gitu?" Raka menunjuk sepatu kets Nata yang bagian depannya sudah mulai menganga.

​Antek-anteknya tertawa di belakang. Nata hanya menatap Raka dengan datar, seolah sedang melihat objek eksperimen yang membosankan. Di kehidupan sebelumnya, ia akan gemetar. Tapi sekarang, Raka hanyalah variabel kecil yang mengganggu efisiensi rencananya.

​"Raka," suara Nata rendah dan stabil. "Daripada mengurusi sepatuku, bukankah lebih baik kamu memikirkan cara menjelaskan pada ayahmu soal taruhan balap liar semalam? Menggunakan uang SPP murid-murid untuk menutupi hutang adalah langkah yang sangat ceroboh, bahkan untuk orang sepertimu."

​Wajah Raka seketika pucat pasi. "A-apa yang kamu omongkan?! Jangan sembarangan!"

​Nata hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terlihat dingin dan penuh perhitungan. Ia mengingat skandal itu menjadi berita besar di sekolah beberapa minggu dari sekarang. "Pikirkan saja itu. Jangan ganggu aku, atau rahasiamu akan berpindah ke meja kepala sekolah sebelum jam pulang."

​Nata melenggang pergi, meninggalkan koridor yang mendadak sunyi.

​Sore harinya, Nata berjalan pulang menuju rumah kontrakannya melewati gang-gang sempit yang berbau air selokan dan asap knalpot angkot. Ia sampai di depan sebuah bangunan semi-permanen dengan cat yang sudah mengelupas.

​"Kak Nata!"

​Seorang gadis kecil dengan seragam SMP yang tampak kebesaran berlari keluar. Itu Kirana. Wajahnya cerah, senyumnya persis seperti yang diingat Nata—lembut dan penuh kasih. Dia adalah satu-satunya alasan Nata masih ingin mempertahankan sisa kemanusiaannya.

​"Kakak pulang telat? Tadi Kirana masak nasi goreng, tapi kecapnya habis, jadi agak putih," ucap Kirana ceria sambil menarik tangan Nata masuk.

​Nata merasakan sesak di dadanya, bukan karena sakit, tapi karena rasa sayang yang meluap. Ia mengusap kepala Kirana. "Nggak apa-apa. Nasi putih pun enak kalau kamu yang masak."

​Di sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan kayu. Arya. Dia menoleh dan nyengir lebar, memperlihatkan satu giginya yang ompong.

​"Kak! Lihat! Aku bisa bikin mobil ini jalan pakai satu roda!" seru Arya penuh semangat, seolah kemiskinan di sekitar mereka tidak pernah ada.

​Nata duduk di kursi plastik yang sudah retak. Ia mulai memetakan keadaan. Dompetnya hanya berisi satu lembar sepuluh ribu rupiah. Besok hari Jumat. Minggu depan Piala Dunia dimulai.

​Malam itu, setelah adik-adiknya terlelap, Nata duduk di meja kecil di bawah lampu redup. Ia tidak lagi meratapi nasib. Ia mengambil selembar kertas dan mulai menuliskan struktur rencana jangka pendeknya:

​Modal Awal: Pemanfaatan bursa prediksi pertandingan Brasil vs Kroasia.

​Aset Inti: Akuisisi BitCore (BCR) di harga bawah.

​Prioritas: Evakuasi keluarga ke lingkungan yang lebih layak sebelum musim hujan.

​Ia menatap wajah tenang Kirana dan Arya yang tertidur pulas. Di kehidupan pertama, ia terseret oleh arus kehidupan. Di kehidupan ini, ia akan menjadi arus itu sendiri.

​Langkah pertama dimulai besok. Nata tahu dunia bisnis 2014 adalah hutan rimba. Tapi mereka belum tahu, bahwa seorang arsitek yang telah melihat akhir dunia baru saja kembali untuk menulis ulang sejarahnya sendiri.

Bersambung.....

Kalau kamu suka cerita ini, jangan lupa like ❤️ ya!

Tinggalin komentar juga, aku pengen tahu pendapat kamu!

Dan vote-nya bantu banget supaya cerita ini terus lanjut 🔥

BAB 2: PERTARUHAN DI ATAS KERTAS

Nata berdiri di depan cermin kecil yang sudah retak di sudut kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir kecil dari kran plastik. Di kehidupan sebelumnya, setiap kali ia menatap cermin ini, ia hanya melihat pria yang hancur oleh kelelahan. Tapi sekarang, pantulan yang ia lihat adalah seorang remaja berusia delapan belas tahun dengan mata yang menyimpan rahasia dunia.

​“Sepuluh ribu rupiah,” gumam Nata sambil menatap selembar uang kertas kumal di atas meja kayu.

​Itu adalah seluruh sisa uang makannya untuk dua hari ke depan. Bagi orang lain, sepuluh ribu mungkin hanya cukup untuk sebungkus nasi rames. Namun bagi Nata, sepuluh ribu ini adalah benih dari kekaisaran yang akan ia bangun. Ia tidak butuh keberuntungan; ia hanya butuh akurasi informasi yang ia bawa dari masa depan.

​"Kak, sarapan sudah siap," suara Kirana terdengar dari balik pintu bambu.

​Nata keluar dan melihat adiknya sedang menata tiga piring nasi putih dengan sedikit garam dan irisan tempe goreng tipis. Saat cahaya pagi yang menembus celah atap mengenai wajah Kirana, Nata tertegun sejenak. Cara Kirana merapikan piring dan senyum tipis yang ia berikan sangat mirip dengan mendiang Ibu mereka. Kirana memiliki kelembutan yang sama, jenis ketenangan yang mampu meredam badai di dalam hati Nata. Di tengah kemiskinan ini, Kirana adalah satu-satunya jejak hangat yang ditinggalkan Ibu untuk mereka jaga.

​“Makan yang banyak, Arya. Nanti di sekolah jangan jajan sembarangan,” kata Nata sambil duduk di samping adik bungsunya.

​“Aku nggak akan jajan, Kak! Aku mau tabung uang sakunya buat beli bola baru!” seru Arya penuh semangat, matanya berbinar seperti karakter petualang yang tak kenal takut.

​Nata tersenyum, meski hatinya terasa perih. Ia tahu uang saku Arya hanya dua ribu rupiah per hari. Ia mengamati Kirana yang sedang makan dengan tenang. Adiknya itu selalu mendahulukan bagian tempe yang lebih besar untuk kedua saudaranya, persis seperti yang selalu dilakukan Ibu dulu.

​“Kirana, setelah pulang sekolah, tolong beli lilin dan isi ulang tabung gas kecil. Aku akan pulang sedikit terlambat hari ini,” instruksi Nata.

​SMA Tunas Bangsa terlihat sama seperti biasanya. Saat jam istirahat kedua, Nata menuju ke area belakang sekolah, tempat Raka Dirgantara sedang duduk di atas motor sport merahnya.

​“Mau apa lagi kamu, miskin?” bentak salah satu antek Raka.

​Raka mengangkat tangan, memberi isyarat agar temannya diam. Ia menatap Nata dengan campuran rasa takut. “Soal yang kemarin... dari mana kamu tahu?”

​Nata tidak menjawab. Ia menarik sebuah kursi kayu tua dan duduk berhadapan dengan Raka. “Itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana kamu membayar lima puluh juta rupiah yang kamu hilangkan semalam kepada sindikat balap liar itu sebelum mereka mendatangi rumahmu.”

​Raka tersedak. “B-bagaimana... kamu tahu jumlahnya?”

​“Aku tahu segalanya, Raka. Ayahmu baru saja memperketat pengawasan rekening yayasan. Tapi aku bisa membantumu. Kamu punya alat yang aku butuhkan,” Nata mengeluarkan selembar kertas. Di sana tertulis: BRASIL VS KROASIA: 3-1.

​“Apa ini?”

​“Hasil pertandingan pembukaan Piala Dunia lusa. Neymar mencetak dua gol, Oscar menutupnya di menit terakhir,” Nata menatap langsung ke mata Raka. “Pasang semua sisa uangmu pada skor presisi ini. Exact score odds-nya ada di angka 1 banding 15. Jika menang, aku minta bagianku: sepuluh juta rupiah. Tunai.”

​“Sepuluh juta? Itu perampokan!” seru Raka.

​“Itu biaya penyelamatan masa depanmu,” Nata berbalik pergi. Ia tahu keserakahan Raka akan membimbingnya pada instruksi itu.

​Setelah sekolah, Nata pergi ke sebuah warnet pinggiran yang pengap. Di tahun 2014, membeli aset digital di Indonesia adalah sebuah perjuangan teknis yang rumit. Belum ada aplikasi instan atau bursa lokal yang terpercaya.

​Nata harus melewati proses panjang. Ia membuka forum-forum teknologi luar negeri, melakukan verifikasi identitas di bursa internasional yang masih primitif, dan berurusan dengan sistem wire transfer yang lambat. Matanya dengan cepat memindai grafik harga BitCore (BCR) yang saat itu masih berada di angka 450 dolar AS.

​Pikirannya bekerja dengan efisiensi tinggi. Ia tidak melihat grafik sebagai garis acak, melainkan sebagai struktur bangunan yang sedang disusun oleh emosi manusia—ketakutan dan keserakahan.

​Malam harinya, rumah kontrakan mereka terasa sunyi karena listrik padam. Nata memperhatikan Kirana yang sedang mengajari Arya membaca di bawah cahaya temaram lilin. Sosok Kirana yang sabar membimbing Arya benar-benar bayangan hidup dari Ibu mereka.

​"Kak Nata, kenapa Kakak terus menulis di buku itu?" tanya Arya penasaran.

​Nata menutup buku catatannya yang penuh kode. "Ini adalah peta harta karun, Arya. Peta untuk memastikan kita tidak akan pernah kedinginan lagi saat hujan."

​Pukul empat pagi di hari Jumat, ponsel tua Nata bergetar. Sebuah pesan masuk.

​Raka: "3-1. GILA! KAMU BENAR-BENAR GILA! BAGAIMANA BISA?!"

​Nata menghapus pesan itu tanpa ekspresi. Bagi Nata, ini hanyalah hasil dari perhitungan yang tepat.

​Esok harinya, Raka menemui Nata di belakang laboratorium fisika dengan wajah pucat dan menyerahkan amplop cokelat tebal. "Ini sepuluh juta. Sesuai janji."

​Nata menerima amplop itu. "Mulai sekarang, jangan pernah sekali pun menyentuh atau menghina adik-adikku, di sekolah maupun di luar."

​Nata segera menuju bank untuk menyetorkan uang itu. Proses transfer ke bursa digital membutuhkan waktu berjam-jam karena koneksi perbankan internasional yang masih kaku di tahun itu. Namun, sebelum matahari terbenam, ia berhasil mengamankan dua koin BitCore.

​Saat ia berjalan pulang, ia melihat sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan gang sempit rumahnya. Beberapa pria berpakaian rapi sedang berbicara dengan pemilik kontrakan. Nata menajamkan penglihatannya.

​Paman Danu?

​Darah Nata mendidih. Paman Danu adalah orang yang di kehidupan sebelumnya menipu mereka dan merampas sisa harta orang tua mereka.

​Nata mempercepat langkahnya. Pertempuran yang sesungguhnya telah dimulai lebih cepat dari perkiraannya.

Bersambung.....

Kalau kamu suka cerita ini, jangan lupa like ❤️ ya!

Tinggalin komentar juga, aku pengen tahu pendapat kamu!

Dan vote-nya bantu banget supaya cerita ini terus lanjut 🔥

BAB 3: SERIGALA BERBULU DOMBA

Mobil hitam metalik itu tampak sangat kontras dengan pemandangan gang sempit yang becek dan berbau sampah busuk. Di tempat di mana motor bebek tua adalah kemewahan, kehadiran sedan mewah tersebut adalah sebuah anomali. Nata menghentikan langkahnya sejenak di mulut gang, menatap mobil itu dengan mata menyipit.

​Ingatannya melesat ke tahun 2014 di garis waktu aslinya. Di masa lalu, Paman Danu datang dengan senyum palsu, membawa beberapa kantong plastik berisi buah-buahan dan makanan enak, lalu pulang membawa sertifikat tanah peninggalan Ayah di desa dengan alasan "investasi untuk biaya sekolah kami". Faktanya, tanah itu dijual setahun kemudian untuk modal bisnis mebel sang paman, sementara Nata dan adik-adiknya tetap dibiarkan kelaparan.

​Nata mengeratkan pegangannya pada tali tas sekolah yang berisi buku tabungan barunya. Sepuluh juta rupiah sudah aman di dalam sistem digital, tapi ia tidak bisa membiarkan Paman Danu mencuri apa yang tersisa dari rumah ini.

​"Oh, ini dia keponakan Paman yang paling besar! Nata, sudah pulang sekolah, Nak?"

​Suara itu terdengar berat dan dibuat-buat ramah. Seorang pria dengan perut buncit yang dibalut kemeja safari krem keluar dari teras rumah kontrakan Nata. Paman Danu. Di sampingnya berdiri Pak RT yang tampak canggung dan pemilik kontrakan, Bu Haji, yang sedang memegang amplop cokelat—mungkin uang sewa yang baru saja dibayarkan oleh Danu untuk menunjukkan kemurahhatiannya.

​Nata berjalan mendekat, wajahnya datar, tidak ada tanda-tanda kegembiraan di matanya. "Ada apa Paman datang ke sini?"

​Paman Danu tertawa kecil, berusaha merangkul bahu Nata, namun Nata sedikit bergeser menghindari sentuhan itu. Danu sedikit tersentak, namun segera menutupi kekagetannya dengan tawa yang lebih keras.

​"Walah, Nata. Kamu ini makin besar makin kaku saja. Paman datang karena khawatir. Tadi Paman dengar dari Bu Haji kalau kalian nunggak sewa dua bulan. Paman sudah lunasi semuanya, tenang saja," ucap Danu sambil menepuk-nepuk saku kemejanya.

​Nata melirik Bu Haji. "Benar, Bu?"

​"Iya, Nata. Pamanmu baik sekali. Dia juga bilang mau mengajak kalian tinggal di rumahnya agar lebih terurus," jawab Bu Haji dengan nada lega.

​Nata merasakan kilat amarah di dadanya, tapi pikirannya yang dingin segera menekan emosi itu. Tinggal di rumah Paman Danu berarti menyerahkan kontrol atas hidup mereka sepenuhnya. Itu adalah penjara yang dibungkus dengan nama "keluarga".

​"Kami tidak akan pindah, Paman. Terima kasih atas bantuannya membayar sewa, saya akan mengembalikannya dalam waktu dekat," ucap Nata tegas.

​Senyum Danu sedikit memudar. "Kembalikan pakai apa, Nata? Kamu itu masih sekolah. Biaya Kirana masuk SMA tahun depan besar, belum lagi Arya. Paman hanya ingin membantu. Kita ini keluarga, satu darah."

​"Satu darah bukan berarti satu dompet, Paman," balas Nata. Kalimat itu keluar dengan ketajaman yang membuat Pak RT dan Bu Haji terdiam.

​Danu berdeham, berusaha menjaga martabatnya di depan orang-orang. Ia memberi kode pada dua pria berpakaian rapi yang tadi berdiri dekat mobil untuk menjauh sedikit. "Nata, ayo bicara di dalam. Ada urusan penting soal aset mendiang Ayahmu yang perlu kita bereskan agar tidak hilang diambil bank."

​Di dalam rumah yang sempit, suasana terasa mencekam. Kirana duduk di sudut ruangan sambil memeluk Arya. Kirana tampak sangat cemas; ia tahu betul siapa Paman Danu. Di mata Kirana, Paman Danu adalah sosok yang selalu datang saat mereka sedang sulit, bukan untuk memberi, tapi untuk mencari celah.

​Paman Danu duduk di kursi plastik yang reyot, tampak sangat tidak nyaman dengan suhu ruangan yang pengap tanpa kipas angin yang menyala.

​"Langsung saja, Nata. Ayahmu punya sebidang tanah di kaki Gunung Merapi—ah, maksud Paman di desa kakekmu. Tanah itu tidak ada yang mengurus dan sekarang ada tunggakan pajak yang besar. Kalau tidak dibayar bulan depan, negara akan menyitanya," Danu mengeluarkan selembar kertas fotokopi sertifikat. "Paman punya kenalan di kantor agraria. Kalau kamu tanda tangan surat kuasa ini, Paman bisa mengurusnya agar tanah itu tetap atas nama keluarga kita."

​Nata menerima kertas itu, membacanya dengan sangat teliti. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak mengerti istilah hukum. Ia hanya percaya pada kata "Paman". Tapi sekarang, ia melihat dengan jelas bahwa itu bukan surat kuasa pengurusan pajak, melainkan surat kuasa jual mutlak.

​Nata menatap pamannya. "Tanah itu akan dilewati proyek jalan tol Trans-Nusantara dalam dua tahun lagi, bukan begitu Paman?"

​Mata Danu membelalak. Ia nyaris melompat dari kursinya. "A-apa? Tol apa? Kamu bicara apa, Nata?"

​"Bulan Juli 2014, pemerintah akan mengumumkan rencana strategis pembangunan infrastruktur. Tanah di desa kakek berada tepat di titik rencana pintu keluar tol. Nilai jual objek pajaknya akan naik berkali-kali lipat dalam satu malam," Nata berbicara dengan nada yang begitu yakin.

​Keringat dingin mulai muncul di dahi Danu. Ia tidak menyangka keponakannya yang pendiam dan miskin ini mengetahui informasi yang sangat rahasia.

​"Berhenti berbohong, Paman. Paman datang ke sini karena bisnis mebel Paman sedang terlilit hutang, kan? Paman butuh aset yang bisa segera dicairkan untuk menutupi bunga pinjaman," Nata meletakkan kertas itu di meja dengan pelan namun penuh penekanan.

​Suasana di ruangan itu mendadak sunyi. Kirana menatap kakaknya dengan kagum sekaligus bingung. Dari mana Nata tahu semua itu?

​"Kamu... kamu lancang sekali!" Danu berdiri, wajahnya memerah padam. "Sudah untung Paman bantu bayar kontrakan! Kalau tidak ada Paman, kalian akan tidur di bawah jembatan malam ini!"

​Nata ikut berdiri. Meski ia lebih kurus dan lebih muda, auranya jauh lebih mendominasi daripada Danu. "Uang kontrakan yang Paman bayar akan saya ganti sore ini juga. Dan soal tanah itu... jangan pernah sekali-kali Paman mencoba memalsukan tanda tangan saya atau Kirana. Saya tahu setiap prosedur hukumnya."

​Wajah Danu berubah dari merah menjadi pucat. Ia menatap Nata seolah melihat orang asing. Remaja di depannya bukan lagi keponakan yang bisa ia dikte.

​"Baik! Kamu mau hidup susah? Silakan!" Danu menyambar tasnya dan keluar dari rumah itu dengan langkah terburu-buru. Suara mesin mobil mewahnya yang menderu menjauh terdengar seperti suara kekalahan.

​Setelah Paman Danu pergi, Kirana langsung menghampiri Nata. Ia memegang lengan kakaknya dengan gemetar.

​"Kak... apa itu benar? Tanah di desa... dan Paman Danu yang berniat jahat?" suara Kirana bergetar menahan tangis.

​Nata menatap adiknya, kelembutan muncul kembali di matanya. Ia mengusap kepala Kirana. "Semua akan baik-baik saja, Kirana. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang menjadi hak kalian lagi."

​"Tapi Kak, uang kontrakan itu... bagaimana cara menggantinya?" Kirana tampak sangat cemas.

​Nata tersenyum kecil. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. "Jangan khawatir soal uang. Aku mendapatkan pekerjaan sampingan sebagai analis data. Bayarannya cukup lumayan."

​Itu adalah kebohongan kecil yang terpaksa Nata katakan. Menjelaskan tentang BitCore kepada Kirana di saat seperti ini hanya akan membuatnya semakin bingung.

​Malam itu, Nata duduk di depan teras sambil menatap langit malam. Kemenangannya atas Paman Danu hanyalah awal. Ia tahu Danu tidak akan menyerah begitu saja.

​Aku butuh kekuatan hukum yang nyata, batin Nata. Dan aku butuh modal yang lebih besar untuk mengamankan tanah di desa itu.

​Ia kembali masuk ke dalam dan membuka buku catatannya. Ia mulai menulis rencana untuk minggu depan. Nata tahu bahwa BitCore adalah gudang hartanya, tapi bisnis riil adalah bentengnya. Ia harus mulai masuk ke lingkaran yang lebih besar.

​"Kak," Arya mendekat, membawa buku gambar kusamnya. "Lihat, aku gambar rumah besar. Ada taman bunganya buat Kak Kirana, dan ada ruang komputer besar buat Kak Nata."

​Nata melihat gambar coretan tangan anak kelas 2 SD itu. Di gambar itu, mereka bertiga berdiri di depan rumah mewah, bergandengan tangan, dengan senyum lebar.

​"Bagus sekali, Arya," ucap Nata pelan. "Simpan gambarnya. Sebentar lagi, kita tidak perlu menggambarnya lagi di kertas. Kita akan tinggal di sana."

​Arya tertawa senang dan kembali bermain. Sementara itu, Kirana yang sedang mencuci piring di dapur sesekali mencuri pandang ke arah kakaknya. Ia merasa Nata telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih tangguh, seolah kakaknya telah tumbuh dewasa hanya dalam satu malam.

​Nata kembali menatap layar ponsel tuanya. Ia melihat grafik BitCore di sebuah situs forum internasional. Harganya naik sedikit, menjadi 460 dolar.

​Naik teruslah, batin Nata. Aku butuh setiap sen untuk membangun dunia baru bagi mereka.

Bersambung.....

Kalau kamu suka cerita ini, jangan lupa like ❤️ ya!

Tinggalin komentar juga, aku pengen tahu pendapat kamu!

Dan vote-nya bantu banget supaya cerita ini terus lanjut 🔥

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!