Indonesia
NovelToon NovelToon

A Way Back To You

Chapter 1.

"Kapan sih selesainya??, lama banget perasaan ceramahnya. Mana panas lagi" Ucap Naya, sedari tadi mendumel tak senang, karena upacara pagi ini terasa begitu lama karena sang kepala sekolah bernama Haryanto itu menjadi pembina upacara.

"Sabar Nay, bentar lagi selesai kok" Suara perempuan lembut menyapu pendengaran Naya, tak lain tak bukan sahabat sejatinya, Kayla Anindya

Kayla tertawa kecil melihat temannya itu cemberut kesal

Suasana yang cukup panas ditambah murid yang tidak kondusif lagi membuat Pak Haryanto mengakhiri pidatonya itu, sebagian murid sudah bersuara ceria yang akan kembali ke kelas, Namun seketika sang Kepala Sekolah bersuara kembali, membuat sorak suara murid yang meledek tidak senang.

"DIAM! Jangan dulu bubar!." Terlihat kepala sekolah itu sedikit marah dengan urat yang menonjol dipelipis dahinya itu.

"Pengumuman penting, selamat kepada Kayla Anindya yang kembali membuat nama harum sekolah, atas juaranya pada olimpiade matematika tingkat nasional."

Namun yang tadinya suara murid bersorak kini terdiam, jelas terdiam saat akan melihat primadona sekolah dikenal pintar, baik kepada semua orang, kulit putih bersih, suaranya yang lembut, membuat idola para kaum lelaki.

Sementara itu, Arka Sebastian , siapa yang tidak mengenal pemuda ini, cowok berandalan, sikapnya terkenal kasar, dan paling sering gonta ganti cewek, membuat orang malas berurusan dengannya.

"Cih.." Arka berdecak melihat Kayla yang sedang berlari anggun menuju podium untuk mengambil sertifikat dan pialanya itu, entah mengapa perasaan Arka tidak suka saat para lelaki disekelilingnya ini berteriak memuji Kayla.

Arka merasa tidak suka "Sengaja lo senyum manis begitu?!, Caper banget huh?!." batin Arka memandang tajam bahwa hanya ia yang bisa melihat senyum manis Kayla, diingatkan Kayla hanya miliknya. Emangnya ada hubungan?

"Kedip dong bos tu mata." Ucap lelaki dengan suara cemprengnya Keano Mahendra yang kerap dipanggil Keano itu sambil ketawa cekikikan, menepuk bahu Arka.

"Mana mau ngedip tu mata, orang yang diliat cewek sendiri, ya ngga?." Suara lain menyaut ucapan Keano, lelaki dengan paras tinggi berkacamata, kulit putih, wajar saja ia campuran Indonesia - Korea, namanya Mavin Yudhistira

Mereka bertiga sudah menjadi sahabat sejak awal dipertemukan masuk SMA ini. Orang orang disekolah juga tau, dengan kelakuan yang tidak pernah masuk kelas, dihukum dengan dijemur dilapangan, dan biang onar sekolah, siapa yang tidak mengenal mereka coba.

"Berisik! Cabut." Arka menatap tajam mereka berdua yang masih asik bercanda, dan memberi intruksi untuk pergi sekarang

Keano dan Mavin merotasikan bola matanya untuk segera mengikuti sang ketua, dipikir mau bolos kok sekarang malah mereka bertiga berada didepan kelas bertuliskan XII 1 itu.

... ---...

Setelah Arka menatap tajam temannya dan memberi arahan tadi, ia segera berjalan meninggalkan kerumunan lapangan sesekali melihat Kayla masih tersenyum manis sedang berfoto. Dengan pikiran yang dipenuhi tidak suka melihat para lelaki memujinya, rasa tidak suka ketika Kayla tersenyum dihadapan orang banyak membuat pikirannya tidak fokus. Langkah kakinya sendiri membawanya ke kelas XII 1, Kelas tempatnya belajar, padahal biasanya jam segini ia sudah bolos. Salah satu tempatnya di Rooftop namun kini Langkah kakinya berdiri dihadapan kelas XII 1, tidak mau ribet Arka masuk langsung duduk dibangku pertama dekat jendela, mungkin ia menunggu seseorang? atau mungkin yah?.

"Anjir kesambet pengen belajar tu orang?!. Aneh banget." Keano berbisik duduk disebelah Mavin.

Mavin tidak hanya menghela napas, mengangkat bahunya seolah tidak tau.

Sementara Arka disana memandang jendela, atau mungkin melihat Kayla yang sedang berfoto mengepalkan kuat tangannya. Apa artinya? mereka bertemankan? mengapa Arka tidak suka saat Kayla berbagi dengan orang lain. Suara Kayla miliknya, Senyum Kayla miliknya, ia suka Kayla mendes*h dibawahnya.

"Bangsat.." gumam Arka

... ---...

"Satu, dua, tiga.. "

Clek

Bunyi kamera disertai flash memotret foto terakhir Kayla

"Akhirnya selesai juga." Kayla menghela napas lega

"KAYYY!, SELAMAT YA!"

"Lo tuh emang selalu membanggakan." Naya berkata riang melihat sahabatnya selalu menjadi yang terbaik. Naya memeluk Kayla.

"Uhm, thanks Nay." Kayla menarik Naya kepelukannya.

"Yuk ke kelas, keburu guru masuk ntar." Kayla menggandeng tangan Naya dan mulai berjalan.

"Aelah Kay, lo gasabaran banget pengen belajar, gimana kalo kita ke kantin aja gitu, sesekali bolos mapel Kay." Naya berceloteh dengan pikirannya yang absurd, memikir apa rasanya bolos

"Eh?, ga ada gitu gituan." Kayla mencubit hidung Naya, dan mereka lanjut berjalan

"Ish, sakit tauu." Naya cemberut dan mempoutkan bibirnya mengusap hidungnya yang dicubit Kayla barusan.

... ---...

Kini mereka sudah berada dikoridor sebentar lagi akan sampai ke kelas. Ntah mengapa perasaan Kayla deg deg an tidak karuan, memikirkan apakah pujaan hatinya menunggunya? apakah Arka ada dikelas, atau lelaki itu bolos lagi, pasti bolos pikir Kayla. Namun apa bisa jika Kayla berharap akan ada sosok itu, sosok yang menjadi pengisi hatinya selama ini, Arka menunggunya dan mengucapkan selamat, membuat rona pipi Kayla seketika, ia malu.

"Semoga aja ada" batin Kayla, ia tersipu malu, menguatkan genggamannya ke Naya, Naya yang merasa aneh hanya menaikkan alisnya, mereka lanjut dan akhirnya masuk ke kelas.

Pandangan Kayla langsung mencari cari sosok yang ia cari, Arka ada disana, ia melihat cowok itu sudah duduk rapih dibangku, tidak membolos seperti biasanya. Sehingga Kayla kini dengan semangat dengan malu ia menarik kursi, dan duduk dengan sebangkunya tak lain adalah Arka.

"Eumm, kenapa melamun?." Kayla gugup menyentuh tangan Arka, melihat cowok itu sedang melamun menatap jendela sana.

Arka tersentak, pikirannya tadi tiba tiba hilang seketika, merasa ada yang mengelus lembut tangannya, dan melihat itu Kayla. Merasa nyaman Arka tidak membalas perkataan Kayla tadi, namun ia menarik kursi Kayla semakin dekat dan menikmati elusan Kayla ditangannya. Arka menyenderkan kepalanya ke bahu Kayla, seperti ini selalu merasa dirinya nyaman.

"Udah selesai?, udah selesai senyum senyumnya ke orang?." Arka berkata lembut sambil memejamkan matanya, suaranya lembut namun pada kata katanya terdapat makna ketidaksukaan, miliknya tidak boleh terlihat oleh orang lain.

"M-maaf." Kayla menggigit bibirnya, wajah Arka yang adem dan tenang seperti ini membuat dirinya semakin jatuh kedalam, ia takut semakin ia jatuh hati semakin sakit rasanya nanti semakin sakit, ia takut Arka akan mengganggapnya baper karna ia mencintainya.

Arka mengubah posisinya menatap wajah Kayla, lelaki itu memajukan kepalanya ke ceruk leher Kayla menghirup aroma manis tubuh perempuan yang menjadi sahabatnya itu. Tak peduli bahwa posisi mereka saat ini dikelas.

Sementara Kayla menikmati, Mavin dan Keano menatap horor dua sejoli itu, mana dibangku depan. Keano membatin tidak tidak, bagaimana kalau adegan yang ia lihat dilayar biru itu nyata dihadapannya, apa mereka sudah gila melakukan itu dikelas.

"Demi mata suci gue, gue gaboleh biarin hal itu terjadi" batin Keano bergedik ngeri.

"EKHEMMMM!!." Keano memukul meja keras, dan yah Arka menghentikan aktifitasnya melihat Keano memukul meja.

"Hello?! tuan dan nyonya kalau kalian mau aneh aneh jangan disekolah please, disini banyak orang suci ngga kayak kalian!!.." Keano mulai mengeluarkan suara cerewetnya yang menggebu gebu, sementara Kayla malu, ia menelungkupkan kepalanya dimeja.

"Ganggu." Balas Arka singkat, sambil menyeringai.

"Ganggu?! Heh ini tuh demi kebaikkan anjir, yakali gue liat anu anu depan mata cok." Ucap Keano memelankan suaranya dikalimat akhir.

Belum sempat Arka mau mesra mesra ke Kayla, Guru sudah masuk membuat Arka berdecak malas

"Selamat pagi anak anak."

Kayla hari ini merasa spesial karena sekarang Arka masuk kelas, walaupun cowok itu tidur disebelahnya, setidaknya bangku sebelahnya tidak kosong seperti biasanya, hari ini dijam pertama hingga istirahat, Arka hadir.

Kringg

Suara bel berbunyi

"Baiklah cukup sampai sini, kalian bisa istirahat sekarang."

... ---...

TO BE CONTINUE

Chapter 2.

Dijam istirahat ini seperti biasa Kayla menuju ke perpustakaan, ia sudah membangunkan Arka tadi namun Arka enggan bangun dan memilih lanjut tidur, yasudah akhirnya Kayla seperti biasa ke perpus saja. Disana Kayla sendiri dengan rutinitas belajar, belajar dan belajar, apa dia ngga bosan ya belajar terus?.

Kayla membaca buku hingga tak sadar waktu menujukkan pukul 10.30, ia menepuk kepalanya, keasikan membaca membuatnya kebablasan, dengan buru buru ia merapikan barangnya dan bergegas kembali ke kelas.

Dijalan ia tergesa gesa takut terlambat, Langkahnya melewati kantin yang sudah sepi. Memang untuk menuju perpus melewati kantin terlebih dahulu, dengan buru buru Kayla berjalan sampai teriakan suara yang ia kenali menghentikan langkahnya.

"KAY!! SINI." Teriakan suara Naya yang menghentikan langkahnya. Kayla menghampiri Naya yang disebrangnya ada sosok wanita yang ia cukup akrab, yaitu Celine Lidya, Celine cukup dekat dengannya walaupun berbeda kelas.

"Kalian ngapain disini?, ngga masuk kelas?." Kayla terengah engah menstabilkan napasnya.

"Ini kami lagi mandi Kay, lah jelas makan dong Kayla sayang." Naya tertawa dengan pertama Kayla yang menyebut mereka ngapain disini

"Kok ngga masuk?." Kayla duduk disebelah Naya, disebrangnya sudah ada Celine yang lagi memakan makanan dengan bahan kerupuk dan kencur itu

"Jamkos, Pak Budi ngga masuk istrinya lahiran." Ucap Naya sambil menyeruput kuah seblak tersebut

"Kalo kamu Cel?." Kayla bertanya ke Celine karena ngga mungkin juga guru Celine istrinya melahirkan juga.

"Bolos, males masuk aja." Balas Celine singkat

"Tuh Kay, daripada lo masuk kelas mending disini aja, bosan kali belajar terus."

"Eum iya ya, aku juga belum makan daritadi." Kayla mengusap perutnya yang mulai keroncongan

"Sini, gue pesenin. Sekalian balikin mangkok nih." Tawar Naya ke Kayla.

"Aku pesen bakso sama es jeruk 1 aja deh."

"Okei." Balas Naya kemudian ia ke stand Ibu yang berjualan seblak tadi dan mengembalikan mangkok lalu ia ke stand Mamang Bakso.

Sementara menunggu Naya, Kayla merasa canggung sekarang dengan Celine, memang ia dekat dengan Celine tapi sikap Celine itu sombong dan sinis, mereka kalau ngobrol seadanya aja. Tak lama suara Celine terdengar

"Hubungan lo sama Arka udah sejauh mana Kay?." Celine menaikkan sebelah bibirnya dan mengelus tangan Kayla dengan kuku yang sudah diberi nail art tersebut, Celine memutar mutar kukunya ke tangan Kayla

"K-kita temenan aja kok.. Ngga lebih." Kayla menarik tangannya dan menunduk, ntah mengapa ia jadi gugup sekali menyebut hubungannya dengan Arka sebatas teman, ya memang cuma temen toh Kay, temen tapi mesra hihi.

"Hm, temen ya? i dont think so.." Suara Celine pelan, sebelum Celine bersuara lagi Naya datang dengan membawa pesanan Kayla.

"Nih Kay, Kalian ngomongin apa nih? tegang amat?."

"Ngga ada." Celine menjawab ketus

Kayla bernapas lega, ia sudah lapar akhirnya mulai memakan baksonya selama ia makan tidak ada obrolan antara ketiganya, sangat sunyi hingga ada segerombolan siswa yang cukup disegani siapa lagi kalau bukan Arka, Mavin, dan Keano lewat membuat Naya yang diam langsung menggoncang bahu Kayla.

"Apasih Nay?." Kayla merasa terganggu lantas ia langsung minum.

"Itu tuh ada Arka, pasti mereka mau bolos lagi?! kirain masuk tadi udah tobat ternyata sama aja" Ocehan Naya mulai keluar

"Ya kan emang mereka begitu Nay." Kayla lanjut makan menghiraukan Naya yang ngoceh

"Iya sih, Ya tapi emang lo ga marahin Arka gitu? lo kan deket sama dia." Ucap Naya memandang Kayla jengah, dipikir pikir mereka deket kenapa ngga Kayla suruh Arka diem aja disekolah.

"Pacaran mungkin." Sambung Celine ketus

"Ugh, Huk." Kayla tersedak, ia terbatuk akibat perkataan Celine tadi.

"Sabar Kay, minum dulu."

"Tapi emang kalian bedua tuh cocok banget tau, lo tau ga Cel? pagi tadi mereka udah mesra gitu dikelas kalau ga di berhentiin tuh curut Keano, mereka udah kissing kali ya." Naya menceritakan kejadian pagi tadi ke Celine.

Sementara Celine mendengus tidak suka, Kayla tambah batuk.

"Kalo lo ga ada hubungan mana mungkin lo tersedak gitu Kayla, tapi emang cocok sih, yang satu brandalan yang satu cupu, kayak anak yang lagi dikerjain haha." Celine mengakhiri kalimatnya dengan ketawa dan memukul meja membuat Kayla dan Naya kaget.

Brak

"Gue duluan."

...---...

Setelah suasana di kantin tadi ketika Celine menggebrak meja, Kayla merasa aneh dan cukup menghela napas, kini sudah pukul 16.00 yang artinya sudah jam pulang. Kayla berdiam diri dikelas setelah dari kantin pagi tadi, cukup melelahkan bagi Kayla dari pukul 11.00 hingga sore begini jamkos. Naya sudah pergi pulang duluan tersisa dirinya sendiri dikelas, akhirnya Kayla pulang dengan jalan kaki, memang Kayla lebih sering jalan kaki, jarak dari kostnya ke SMA Negeri 2 Jakarta cukup dekat. Yang bertanya kenapa Kayla ngekost? ia ngekost karna merantau dari Bandung ke Jakarta untuk masa depannya. Tinggal dikota besar sendirian membuat Kayla harus bisa mandiri, dan ia bekerja di Minimarket agar tidak terlalu membebankan orangtuanya.

Kadang Arka akan menjemput Kayla, kalau pulang sudah pasti sendirian karna jarang sekali Arka ada di jam terakhir pelajaran. Kadang juga Kayla menginap diapartemen Arka, itu kalau mereka sedang ya itulah, if you know you know.

Kayla sampai dikosannya dan bersiap untuk berganti baju, Kayla melepaskan seragam bajunya menatap cermin tubuhnya, tersisa banyak bekas kemerahan dibagian dada hingga perutnya, sebagian sedikit memudar.

"Huh, lama banget ilangnya, udah seminggu perasaan."

Kayla mulai mengganti baju pekerjaannya, ia langsung bergegas menuju Minimarket sekitar 5 menit dari kostnya. Walaupun dikantin pagi tadi ia makan tapi tak mempungkiri bahwa perutnya berbunyi lagi, Kayla bodo amat ia segera mengunci pintu kost dan pergi.

...---...

Setibanya Kayla di minimarket ia melihat Pemilik Toko tersebut sudah menukikkan alisnya tajam.

"Maaf bu telat.." Kayla merasa bersalah karna ia telat karna terlalu banyak memikir dijalan tadi.

"Uh, jangan lagi telat Kay, 15 menit kamu telat."

"Maaf ya bu." Hanya diangguki oleh Pemilik Toko, panggil saja namanya Ibu Murni. Kayla langsung berjaga dimeja kasir.

Dari pukul 16.30 Kayla berjaga hingga kini pukul 21.00 Kayla cukup lelah, namun ia tahan, ini adalah usahanya untuk merantau dikota besar dan tidak membebankan orang tua, ia bisa saja minta uang ke Arka, namun ia tak mau merepotkan pujaan hatinya itu, Arka sudah cukup banyak membantunya dihidupnya termasuk perasaannya, cukup hadirnya pemuda itu disisinya sudah membuat Kayla senang.

Suasana semakin ramai hingga pukul 22.00 Minimarket memasuki jam tutup, Kayla melayani pelanggan terakhir.

"Totalnya 291.890 Mbak, 890 mau didonasikan?."

"Iya." Balas pelanggan itu, akhirnya selesai juga. Kayla menghela lapas lega ia mengemas barangnya menunggu Ibu Murni datang, beberapa menit kemudian Ibu Murni datang membawa amplop

"Nih Kay upah kamu hari ini, jangan telat lagi lain kali ini totalnya masih seperti biasa." Kayla mengangguk senang itu sebabnya ia sore tadi cukup takut karena terlambat, gaji disini berdasarkan perwaktu, 15 menit kalau dipotong lumayan juga.

"Makasih banyak ya bu, Saya izin duluan ya." Dibalas anggukan oleh Ibu Murni, akhirnya Kayla pulang, Kayla pulang sudah malam keadaan sekitar juga sudah sepi, pasti Kayla was was tapi sudah terbiasa, cukup mengandalkan doa.

Kayla melangkahkan kakinya dijalanan yang sudah gelap, memegang erat tasnya, ia selalu menanamkan ke kost cuma 5 menit, santai aja. Kayla merasa ada yang mengikutinya dari belakang, semakin cepat Kayla melangkahkan kakinya semakin cepat pula orang dibelakangnya mengikuti dirinya.

...---...

TO BE CONTINUE

Chapter 3.

Malam sudah benar benar larut ketika Kayla sudah pulang dari Minimarket tempatnya bekerja. Kini Kayla sedang berjalan menuju rumahnya dengan gelapnya makan, jam sudah menunjukan pukul 22.05.

Kayla yang merasa sedang dibuntuti seseorang segera ia mempercepat langkah kakinya.

Tap tap tap Suara langkah kaki selain milik Kayla terdengar.

Kayla menguatkan cengkraman pada tasnya untuk melindungi barang barangnya, upahnya tidak boleh hilang.

Kayla mencoba santai, walaupun ia takut

"Sabar, cuma lima menit kok." Gumam Kayla tak karuan menguatkan dirinya.

Jantung Kayla bergedup kencang, hingga

Grepp.

Tubuhnya Kayla ditarik paksa, membuatnya melototkan kedua matanya.

"Akh, l-lepas." Kayla meronta ronta, ia menoleh kebelakang melihat seorang pria disebut preman itu dengan wajah mesum, badan penuh tato.

"Mau kemana manis?, cepat amat, jangan takut gitulah sama gue." Ucap preman itu sambil mencolek dagu Kayla, membuat Kayla semakin meronta.

Dengan rasa tidak suka dan sedikit menambah keberaniannya, Kayla menginjak kaki kuat pria itu.

"ARGH." Pria itu menjerit kesakitan

Kayla mengambil kesempatan untuk kabur, kostnya sudah dekat, tapi mengapa rasanya saat ini terasa sungguh lama sekali, apalagi kondisi malam yang gelap, Kayla tak berpikir bahwa ini akan kejadian pada dirinya, biasanya ia aman.

"WOII, BERHENTI." Preman itu mengejar Kayla dan akhirnya menarik dirinya langsung memojokkan perempuan itu ke tembok

"Mau kemana lo hah?!."

"Serahin barang barang lo!." Pria itu ingin merebut tas Kayla, tangan kanannya mengunci kedua tangan Kayla keatas, sementara tangan kirinya merebut tas Kayla.

"N-nggak, j-jangan bang." Kayla merinding ketakutan, matanya sudah berkaca kaca.

"Lo ternyata melawan juga heh?!." Pria itu membentak Kayla dan tiba tiba dengan keberanian tinggi Kayla menendang selangkangan pria itu dengan kuat.

"AKH ANJING!" Pria itu meraung kesakitan

Dengan cepat Kayla akan lari, namun tak lama tubuhnya terhuyung dan jatuh ke tanah.

"Emang gabisa lembut sama lo." Pria itu menarik Kayla kasar, dan menjatuhkannya ke tanah, kesabarannya sudah habis.

"Serahin barang barang lo!." Pria itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, sebuah pisau tajam

Kayla melototkan kedua matanya, dan gemetar ketakutan. Jantungnya berdegup kencang, air mata sudah keluar, perlahan Kayla mundur kebelakang diikuti Pria itu menodongkan pisau ke depan.

"N-ngga ada bang, jangan." Kayla menggeleng ribut ketakutan sambil menangis

"Jangan bohong, atau ini nancep ke tubuh lo." Pria itu menatap horor Kayla, hingga

Jleb Pisau itu menancap ke leher Kayla.

"AKH, S-SAKIT." Kayla nangis sesengukan, tasnya sudah direbut oleh Pria itu, pria itu berbalik badan dan meninggalkannya.

Kayla tidak putus asa, ia tidak mau hasil upah kerja kerasnya dicuri begitu saja, itu untuk uang makannya.

Dengan menahan rasa sakitnya, dan mencabut pisau yang tertancap itu, Kayla mengejar pria itu, melihat ada sebuah kayu Kayla mengambilnya pelan dan dengan cepat ia memukul kuat tengkuk pria itu dengan kayu, dan mengambil langsung tasnya dari pria itu.

"Lo bener bener mau kasar ya."

Bugh

Bugh

Bugh

Pria itu memukul perut Kayla, beralih ke kakinya, dan akhirnya ke pelipis Kayla.

"T-tolongg.." Pandangan Kayla berkunang kunang, ia meminta tolong dan apakah ini akhirnya hidupnya pikirnya? ia belum sempat membahagiakan orang tuanya, dan yang Kayla paling pikirkan ia belum menyatakan cintanya ke Arka.

... ---...

Suara dentuman musik menggelegar ke seluruh ruangan, gemerlap lampu tak lupa. Arka saat ini sedang di cl*b pikirannya kosong, hanya Kayla yang teringat dibenaknya.

Seorang wanita duduk ke pangkuannya sembari mengelus dada Arka dibalik baju yang ia kenakan, Perempuan seksi dengan baju ketat merayu, menggoda dirinya.

"Ka, tuh cewek lo anggurin aja?." Ucap Keano yang sudah mabuk

Arka tersadar dan langsung ia mendorong perempuan itu kedepan, Arka berdiri mungkin Kayla yang bisa melayaninya dengan baik, melupakan teman temannya yang sedang disana.

"Gue cabut."

... ---...

Arka mengendarai motornya melaju kencang melewati kota, Arka ingin bertemu Kayla dengan pikiran akan bersenang seperti yang yah itulah ya.

Melewati gang kecil sekitar 5 menit lagi sampai ke kost Kayla, suasana yang cukup sepi dan gelap membuat Arka memelankan kecepatan motornya, sampai ia mendengar teriakan suara tidak asing, suara perempuan.

"T-Tolong.."

Hingga Arka melihat seorang perempuan tergeletak ditanah, ia mematikan motornya dan turun, lantas ia mendekati perempuan yang sudah babak belur itu, semakin mendekat, Arka langsung familiar, ia berlari dan mendekati perempuan itu.

"KAYLA!."

"YOU OKAY??!." Arka menarik Kayla ke pelukannya, memeriksa tubuh perempuan yang sudah babak belur itu, Kayla menangis.

"Tolong, tas aku dicuri Ka." Kayla suaranya lirih, menangis, ia menunjuk pria yang baru saja mencuri tasnya itu, Arka mengikuti gerakan tangan Kayla, hingga ia langsung paham.

Giginya bergeram, menatap tajam pria itu.

"Bangsat." Gumamnya rendah.

Dengan cepat Arka memukul orang itu membabi buta

Bugh

"Anjing lo hah?! lo sentuh dia?." Arka meninju wajah orang itu hingga mengeluarkan darah

"Lo nyentuh milik gue, maka lo harus terima pembalasan gue."

Bugh

Arka memukul, meninju dengan kasar dan kuat, tidak memikirkan rintihan pria itu

Krak

Terdengar suara patahan, Arka mematahkan tulang kaki pria itu, dan terakhir dengan kayu ia memukul perut pria itu dengan kayu, hingga pria itu terbatuk dar*h, dari awal Arka tak memberi ampun, kini pria itu t*was.

... ---...

Nafas Arka masih memburu, dadanya naik turun dengan emosi yang belum sepenuhnya reda. Tatapannya masih tajam ke arah tubuh pria itu, sebelum akhirnya ia berbalik cepat, mengingat satu hal yang jauh lebih penting.

Kayla.

Arka melihat tas yang terjatuh tak jauh dari sana. Tanpa pikir panjang, ia melangkah cepat, mengambil tas itu lalu kembali menghampiri Kayla yang masih terduduk lemah di tanah.

"Ini tas lo" ucap Arka cepat, sedikit terengah, tangannya menyerahkan tas itu ke pangkuan Kayla.

Kayla langsung memeluk tasnya erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang saat ini. Tubuhnya masih gemetar, tangisnya belum reda.

Arka berlutut di depan Kayla, kedua tangannya memegang wajah perempuan itu pelan, memeriksa keadaannya dengan panik.

"Lo... lo kenapa bisa kayak gini sih?" Suara Arka mulai goyah, jelas khawatir.

Pandangan Arka turun, dan saat itulah ia melihat darah yang masih merembes dari leher Kayla.

"Anj..." Arka langsung berdiri cepat, tanpa banyak mikir ia menarik kaos yang ia pakai, melepasnya begitu saja.

"Diem, jangan banyak gerak" ucapnya buru-buru.

Arka melipat kaosnya dan langsung mengikatkannya di leher Kayla, menekan bagian yang terluka agar darahnya nggak terus keluar.

"Tekan sini... kuat dikit ya, tahan" katanya, tangannya ikut menahan balutan itu.

Kayla meringis pelan, tangannya gemetar mengikuti instruksi Arka.

"Sakit, Ka..." suaranya lirih, hampir nggak terdengar.

"Iya gue tau, gue tau..." Arka mendekatkan wajahnya, berusaha nenangin. "Lo aman sekarang, gue disini. Denger gue, lo harus tahan bentar lagi, oke?"

Kayla cuma mengangguk lemah.

Arka nggak mau buang waktu lagi. Ia langsung bangkit, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Kayla.

"Pegang gue" katanya.

Kayla meraih leher Arka lemah, tubuhnya hampir nggak punya tenaga.

Arka membawa Kayla ke motor, mendudukkannya pelan di jok belakang. Ia memastikan Kayla masih sadar sebelum naik ke depan.

"Pegang gue yang kuat" ucapnya lagi, lebih tegas.

Motor langsung dinyalakan.

Namun sebelum tancap gas, Arka sempat menoleh sedikit.

"Kenapa lo bisa ada disini malam-malam gini?" tanyanya cepat.

Kayla menarik nafas berat.

"A-aku... habis kerja..." jawabnya terbata.

Arka langsung mengernyit.

"Kerja? Maksud lo kerja ap..."

Belum selesai kalimatnya, pegangan Kayla tiba-tiba melemah.

"Kay?" Arka menoleh cepat.

Tubuh Kayla sudah terkulai.

"Kayla?!" paniknya langsung naik drastis.

Tanpa pikir panjang lagi, Arka langsung menarik gas motornya dalam-dalam.

Motor melesat kencang membelah jalanan malam, jauh lebih cepat dari sebelumnya.

"Jangan aneh-aneh ya lo... tahan dikit lagi" gumamnya, suaranya penuh tekanan.

Lampu-lampu jalan lewat begitu saja, Arka nggak peduli. Yang ada di pikirannya sekarang cuma satu, bawa Kayla ke rumah sakit secepat mungkin.

... ---...

TO BE CONTINUE

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!