Hari itu, di antara doa dan tahlil, Hana tidak hanya kehilangan seorang mertua. Ia juga kehilangan sesuatu yang lebih sunyi: harga dirinya.
"Apa kamu belum juga hamil, Hana?" tanya Bu Meri mertuanya.
Saat ini di rumah mertua Hana sedang diadakan acara tahlilan seratus hari meninggal ayah mertuanya. Tetangga dan kerabat banyak yang berkumpul.
Hana menarik napas dalam. Selalu saja ini yang ditanyakan mertuanya. Dan yang membuat Hana terkadang merasa tak nyaman karena Bu Meri selalu bertanya di depan orang banyak.
"Ma, aku juga ingin memiliki anak. Aku sudah periksa ke dokter. Mereka bilang tak ada masalah denganku."
"Kalau tak ada masalah, kenapa sudah lima tahun pernikahan kamu belum hamil juga!" ucap Bu Meri dengan nada sinis.
"Aku juga tak tahu, Ma. Mas Farhan tak pernah mau periksa. Seharusnya dia melakukan itu agar kami tau letak masalahnya," jawab Hana lirih.
Wajah Bu Meri tampak berubah merah menahan amarah mendengar ucapan menantunya. Dia tak terima dengan ucapan Hana.
"Jadi kamu mau bilang anakku yang tak subur, gitu?" tanya Bu Meri dengan suara yang cukup keras.
Ibu-ibu tetangga yang sedang membantu Bu Meri menyiapkan masakan memandang ke arah mereka. Hal itu membuat Hana jadi serba salah.
"Farhan itu subur. Mama yakin itu. Tak perlu diperiksa," ucap Bu Meri penuh percaya diri.
Dapur mendadak terasa panas walau kompor sudah dimatikan. Suara sendok yang tadi beradu kini berhenti. Ibu-ibu yang sejak tadi mengupas bawang dan menata piring pura-pura sibuk, tetapi telinga mereka jelas mengarah ke satu titik, kepada Hana dan Bu Meri.
Apalagi sekarang ada Farhan yang baru datang. Sepertinya dari kantor langsung ke rumah mamanya. Begitu dia muncul, mama Meri langsung bersuara.
“Tolong ajari istrimu ini. Jangan bicara sembarangan!” seru Bu Meri dengan nada penuh tekanan.
Farhan menatap Hana tajam. “Apa lagi yang kamu lakukan?”
Hana menggeleng cepat. “Mas, aku–”
“Tak bisa kah kau sehari saja tak berdebat dengan Mama?” potong Farhan. Suaranya tidak berteriak, tapi cukup keras untuk membuat orang sekitar ikut menahan napas. “Hargai acara ini. Papa baru berpulang seratus hari. Mama masih berduka.”
Hana merasa dadanya sesak seperti ditekan batu. “Aku tidak berdebat, Mas.”
“Lalu, ini apa?” Farhan menunjuk ke arah ibunya. “Mama sampai emosi begini.”
Bu Meri mengusap dadanya dramatis. “Mama cuma tanya baik-baik. Tapi, jawaban istrimu itu menusuk. Menuduh kamu yang bermasalah.”
“Aku tidak menuduh, Ma!” Hana spontan membela diri. “Aku cuma bilang seharusnya bukan aku saja yang periksa–”
“Nah, kan!” Bu Meri memotong. “Kamu dengar sendiri'kan!”
Beberapa ibu tetangga saling pandang. Satu dua mulai menarik diri pelan, memberi ruang, tapi tetap menguping.
Farhan mendecak kesal. “Kamu mau bilang aku yang mandul?”
Hana menutup mata sebentar. Ia lelah kata-katanya dipelintir seperti ini.
“Mas, dengarkan dulu.”
“Jawab!” tegas Farhan.
“Aku cuma bilang pemeriksaan itu seharusnya dilakukan berdua. Itu standar medis,” ucap Hana, berusaha tetap tenang meski suaranya bergetar. “Bukan menyalahkan.”
Bu Meri tertawa pendek, terdengar sinis. “Sekarang bawa-bawa medis. Dari dulu perempuan kalau belum hamil ya salah perempuannya. Itu sudah hukum alam.”
Hana menatap mertuanya. Tak setuju dengan pendapat mama mertuanya itu. “Ma, zaman sudah berubah.”
“Jangan mengajari Mama!” bentak Bu Meri.
Farhan makin panas. “Apa kamu tak mengerti dengan situasi? Rumah penuh tamu. Kita adain doa untuk Papa. Tapi, kamu malah bikin ribut soal begituan.”
“Bukan aku yang memulainya, Mas,” ucap Hana pelan, nyaris berbisik.
“Mama juga tak memulai perdebatan. Mama hanya bertanya, sekali lagi mama hanya bertanya. Apa salah jika mama tanyakan itu. Usia mama makin tua, mama juga ingin menggendong cucu!” ujar Bu Meri.
“Dan aku hanya menjawab jujur, Ma.”
“Kejujuran tanpa adab itu kurang ajar namanya,” balas Bu Meri cepat.
Kalimat itu membuat pipi Hana memerah. Air matanya mulai menggenang, tetapi ia mencoba menahan. Ia tidak mau menangis di dapur mertuanya, di depan orang banyak.
Farhan melangkah lebih dekat. Nada suaranya menurun, tetapi penuh tekanan dan nada ancaman.
“Dengar, ya. Aku tidak suka kamu menyeret namaku untuk menutup kekuranganmu.”
Ucapan Farhan seperti menghantam dada Hana. Berarti suaminya juga menuduh kesalahan itu ada pada dirinya.
Hana menatap suaminya seolah tak percaya. “Jadi, ini semua salahku, Mas?”
“Faktanya kamu yang belum hamil.”
“Kehamilan itu bukan hanya kehendak kita, Mas! Tapi juga atas izin dari-Nya."
“Alasan lagi.”
Bu Meri mengangguk-angguk. “Mama sudah sabar empat tahun. Sudah diam. Sudah nunggu. Tapi hasilnya? Mama juga berhak bertanya.”
“Tapi, jangan di depan orang banyak, Ma,” kata Hana lirih.
“Ini rumah Mama. Mama bebas bicara.”
Farhan menghela napas kasar, lalu berkata dengan nada final, “Kalau begitu besok kita periksa.”
Hana masih terdiam. Dia tampak masih syok dengan perdebatan barusan. Walau ini bukan pertama baginya, tetap saja pertanyaan itu sangat menggangu baginya.
Bu Meri ikut kaget. “Periksa apa?”
“Periksa semua,” kata Farhan. “Biar jelas. Biar tidak ada tuduhan.”
Hana menatap suaminya itu, bukan lega tapi khawatir dengan cara Farhan mengucapkan hal tersebut. Sepertinya tak terima dengan ucapannya.
Farhan lalu menatap Hana lurus. “Kalau nanti setelah pemeriksaan ternyata aku yang bermasalah, apa pun yang kamu mau, aku turuti.”
Suasana jadi membeku. Mama Meri juga tampak sangat tegang.
“Tapi, kalau kamu yang bermasalah,” lanjut Farhan, “Kamu harus terima apa pun yang aku lakukan. Tanpa protes.”
Wajah Hana pucat. “Apa pun?” tanya Hana dengan suara pelan hampir tak terdengar.
“Iya. Apa pun.”
Bu Meri tidak menolak. Tidak juga menenangkan. Diamnya justru seperti bensin.
Ibu-ibu tetangga satu persatu mulai mundur. Ini sudah bukan cekcok kecil. Ini perang rumah tangga. Mereka sepertinya tak ingin ikut campur.
“Mas, pernikahan bukan taruhan,” ujar Hana dengan suara pelan.
“Kalau begitu jangan lempar tuduhan seenaknya,” balas Farhan.
“Aku tidak–”
“Sudah!” potong Farhan. “Aku tidak mau dengar lagi. Selesaikan acara ini. Tersenyumlah dan layani tamu. Jangan bikin drama.”
Farhan berbalik pergi. Meninggalkan Hana yang berdiri seperti terdakwa.
Bu Meri mendekat setengah langkah. Suaranya rendah, tetapi tajam.
“Kamu itu datang ke keluarga kami tanpa bawa apa-apa. Minimal beri keturunan. Jangan malah bawa perlawanan.”
Langkahnya kemudian pergi menyusul tamu. Tinggal Hana sendirian. Di dapur yang penuh orang, tetapi tak satu pun berpihak padanya.
Dari ruang tengah terdengar lantunan doa kembali dimulai. Suara ustaz menggema membaca tahlil. Orang-orang mengangkat tangan. Hana ikut mengangkat tangan, tetapi doanya bukan lagi tentang almarhum mertua. Melainkan tentang dirinya sendiri. Agar diberikan kesabaran dalam menghadapi suami dan mama mertuanya.
Pagi itu tidak ada pertengkaran.
Tidak ada bentakan. Namun justru dalam diam itulah, pernikahan mereka terasa paling jauh.
Pagi telah menjelang, Hana bangun lebih dulu. Matanya terlihat sembap, tadi malam ia tidur, tetapi tidak benar-benar beristirahat. Kalimat-kalimat semalam terus berputar di kepalanya.
Hana berdiri lama di depan cermin kamar mandi. Menatap wajah sendiri. Lima tahun menikah. Lima tahun berharap. Lima tahun hidup dalam penuh sindiran.
Farhan keluar kamar tanpa banyak bicara. Hanya kata, “Jam sembilan kita berangkat.” Diucapkan dengan datar. Seperti mengumumkan jadwal rapat.
Hana mengangguk pelan.
Hari ini tidak ada sarapan bersama. Tidak ada obrolan. Mereka seperti dua orang yang sedang bermusuhan.
Rumah sakit itu bersih dan dingin. Bau antiseptik menusuk hidung. Mereka duduk berdampingan di ruang tunggu, tetapi rasanya seperti dipisahkan dinding tebal. Farhan sibuk dengan ponselnya, sementara Hana duduk cemas meremas ujung tasnya.
Beberapa saat kemudian nama mereka dipanggil. Dokter perempuan paruh baya menyambut dengan senyum profesional. Suaranya lembut, tetapi tegas. Ia menjelaskan prosedur dengan rinci, apa saja yang akan diperiksa, sampel apa yang dibutuhkan, dan bahwa evaluasi kesuburan memang idealnya dilakukan pada kedua pasangan.
Hana melirik Farhan sekilas. Tidak ada komentar, ataupun bantahan. Wajahnya terlihat jelas kaku.
Proses pemeriksaan berjalan canggung, tetapi cepat. Tes darah, USG, formulir riwayat kesehatan, dan pengambilan sampel dari pihak Farhan di ruang terpisah. Setelah semuanya selesai, mereka kembali duduk di depan meja dokter.
“Hasil lengkapnya dua hari lagi,” ucap dokter. “Nanti kita lihat dari kedua sisi, baru bisa ditarik kesimpulan. Jangan saling menyalahkan dulu, ya. Dalam kasus seperti ini, faktor suami dan istri sama-sama punya peran.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada netral, tetapi terasa seperti sengaja ditekankan.
Farhan hanya menjawab singkat, “Baik, Dok.”
Sementara Hana, mengangguk kecil. Dalam diamnya ada harapan yang besar.
“Dan satu lagi,” tambah dokter, menatap keduanya bergantian. “Stres berkepanjangan juga memengaruhi peluang kehamilan. Jadi, kalau bisa perbaiki suasana batin juga.”
Setelah dokter menjelaskan semuanya, mereka akhirnya pamit.
Perjalanan pulang terasa panjang meski jaraknya tidak jauh. Mobil melaju stabil. Radio menyala pelan, tetapi tidak ada yang benar-benar mendengar.
Hana menatap keluar jendela, sedangkan Farhan menatap lurus ke depan. Tak ada yang memulai percakapan. Sampai ponsel Farhan berdering.
Namanya muncul jelas di layar dashboard mobil yang terhubung bluetooth. Chika Calling
Jantung Hana seperti tersentak kecil. Nama itu tidak asing. Farhan sempat diam setengah detik, lalu menekan tombol jawab.
“Halo.”
Suara perempuan terdengar samar dari speaker, ceria dan akrab. “Farhan? Lagi di mana?”
“Di jalan. Kenapa?”
“Aku lagi di rumah Tante Meri,” kata suara itu, Chika. “Baru datang tadi pagi. Tante maksa aku mampir. Katanya kangen.”
Farhan melirik spion. Wajahnya sulit dibaca. “Oh.”
“Kamu ke sini, ya? Sekalian makan siang. Tante masak banyak banget. Katanya kamu pasti datang.”
Hana menunduk. Jarinya saling mengunci dan dadanya terasa diremas.
Farhan menjawab setelah jeda singkat, “Ya. Aku antar Hana pulang dulu.”
“Oke. Aku tunggu.”
Panggilan berakhir. Mobil kembali sunyi. Namun, kali ini sunyinya lebih terasa.
Hana tidak langsung bertanya. Ia memberi waktu, berharap suaminya mau menjelaskan, tetapi sudah lima menit berlalu Farhan tidak juga bicara.
Akhirnya Hana bersuara pelan, “Chika sudah kembali ke kota?”
“Sepertinya,” jawab Farhan singkat.
“Oh.”
Hanya itu. Tak ada lanjutan.
Mobil berhenti di depan rumah mereka. Farhan mematikan mesin, tetapi tidak langsung turun. Seolah ada checklist di kepalanya.
Hana membuka sabuk pengaman, lalu menoleh. “Mas, mau ke mana lagi?”
“Ke rumah Mama,” jawab Farhan tanpa ragu.
“Sekarang?” Ada keterkejutan dari nada bicara Hana.
“Iya.”
Hana menahan napas. “Kita baru dari sana kemarin.”
Farhan menoleh. Nada suaranya tetap datar, tapi mengeras. “Sebaiknya kamu di rumah saja.”
“Kenapa?” tanya Hana heran.
“Setiap bertemu Mama, kamu selalu bertengkar.”
Ucapan itu jatuh begitu saja. Tanpa lapisan.
Hana terpukul. “Mas … kemarin itu–”
“Mama masih sedih karena Papa meninggal,” potong Farhan. “Jangan tambah kesedihannya.”
Kalimat itu seperti vonis. Farhan membuka pintu, keluar, lalu memutari mobil sebentar hanya untuk mengambil tas kerjanya. Ia bahkan tidak benar-benar menatap Hana saat berkata, “Kamu istirahat saja.”
Pintu lalu ditutup cukup keras, mesin mobil kembali menyala. Farhan pergi tanpa menunggu jawaban dari Hana.
Rumah Bu Meri jauh lebih hidup. Tawa terdengar sampai teras karena pintu tidak tertutup rapat. Aroma masakan memenuhi udara, tercium aroma opor, sambal goreng, dan bawang goreng.
Farhan masuk tanpa mengetuk. Di ruang makan, Bu Meri duduk berhadapan dengan Chika. Meja penuh hidangan. Mereka tertawa lepas. Jenis tawa ringan yang tidak pernah Bu Meri keluarkan saat bersama Hana.
“Eh, Farhan!” seru Bu Meri. “Nah, kan datang juga.”
Chika menoleh. Senyumnya hangat. Wajahnya masih seperti dulu, cantik, cerah, percaya diri. “Hai.”
“Sudah lama datang?” tanya Farhan.
“Baru sejam. Tante jemput sendiri,” jawab Chika sambil terkekeh kecil. “Aku tidak boleh menolak.”
Bu Meri menepuk tangan Farhan. “Duduklah. Makan dulu. Kamu pasti belum makan.”
Farhan duduk. Matanya sempat mengamati suasana di sana, terasa nyaman.
“Mana Hana?” tanya Bu Meri, tetapi nadanya bukan rindu, melainkan hanya sebatas formalitas.
“Di rumah.”
“Bagus,” jawabnya cepat. “Biar dia istirahat saja.”
Chika menangkap nada itu, tetapi ia tidak berkomentar. Dia yang sedang menyendok nasi berdiam sejenak
Obrolan mengalir ringan. Tentang pekerjaan Chika di luar kota. Tentang proyek barunya. Tentang kenangan masa kecil mereka karena dulu Chika memang hampir selalu ada di rumah ini.
Beberapa kali Bu Meri berkata, “Coba dulu kamu jadi menantuku, Chika. Pasti rumah ini ramai dari dulu.” Diucapkan sambil tertawa.
Farhan tidak ikut tertawa. Tapi juga tidak menegur.
Setelah makan, mereka pindah ke ruang tengah. Teh hangat disajikan dan kue kering sebagai pelengkap.
Bu Meri menatap Chika lama. Senyumnya berubah lebih serius. “Chika,” ucapnya pelan.
“Iya, Tante?”
“Kamu sudah menikah apa belum, sekarang?”
Chika menggeleng. “Belum.”
“Ada calon?”
“Belum juga.”
Bu Meri mengangguk pelan. Seolah potongan puzzle jatuh di tempatnya.
Farhan mulai merasa arah pembicaraan tidak enak. “Ma ....” Tapi terlambat. Mama sudah melanjutkan ucapannya.
“Chika,” kata Bu Meri mantap, “Kamu mau jadi istri kedua Farhan?”
Waktu seperti berhenti, Chika membeku. Tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu.
Farhan menoleh cepat. “Mama.”
Chika berkedip. “Tante … Farhan masih punya istri.”
“Nanti juga tidak lama,” jawab Bu Meri ringan, seolah membahas jadwal arisan. “Wanita itu mandul.”
Farhan menarik napas tajam. “Ma, hasilnya belum keluar.”
“Mama tidak butuh kertas dokter untuk tahu,” balasnya. “Lima tahun, Farhan. Lima tahun!”
Chika menatap Farhan, ingin tahu reaksinya. Mencari bantahan, tetapi Farhan diam. Rahangnya tegang.
“Dia harus mau menerima kamu menikah lagi,” lanjut Bu Meri. “Kalau tidak mau, dia bisa pergi.”
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu. Tanpa rasa bersalah. Ruang tamu mendadak jadi terasa sempit.
Chika menurunkan cangkirnya pelan. Suara porselen menyentuh tatakan terdengar jelas. “Tante … ini bukan hal kecil.”
“Tante serius.”
Farhan akhirnya bersuara, “Mama terlalu jauh ikut campur.”
“Kamu yang terlalu lama diam,” balas Bu Meri cepat. “Kamu butuh keturunan. Garis keluarga harus lanjut.”
Chika tidak langsung menjawab. Wajahnya tidak bisa dibaca. Bukan kaget saja tapi terlihat berpikir.
“Tante, aku tidak mau jadi penyebab rumah tangga orang hancur," ucap Chika.
"Rumah tangga mereka sudah retak, kamu bukan penyebab,” ucap Bu Meri.
Farhan berdiri. Berjalan dua langkah. Tangannya masuk ke saku. Kepalanya menunduk sedikit, posisi orang yang sedang menahan sesuatu.
“Ma, cukup.”
Bu Meri menatapnya. “Kamu tidak ingin punya anak?”
Farhan tidak menjawab. Pertanyaan itu menggantung.
Chika memandang Farhan sekarang. Lebih tajam. Seolah baru melihat sisi lain dari pria yang dulu hampir ia nikahi.
“Farhan ... bagaimana pendapatmu?" tanya Chika penasaran.
Farhan mengangkat wajah. Mata mereka bertemu. Banyak masa lalu di sana. Banyak kemungkinan.
“Aku .…” Farhan tampak ragu melanjutkan ucapannya. Tidak ada kelanjutan. Bu Meri dan Chika masih menunggu kelanjutannya.
Kertas itu hanya berisi angka dan istilah medis. Namun, di tangan yang salah,
ia bisa menjadi senjata—
yang melukai lebih dalam dari kata-kata
Dua hari terasa seperti dua minggu bagi Hana. Tak sabar ingin tahu hasil dari pemeriksaan itu.
Rumah tetap berjalan seperti biasa, tetapi di dalam dada Hana, semuanya terasa menggantung. Farhan tidak lagi membahas soal hasil tes. Ia hanya berkata singkat, “Nanti aku ambil sendiri.”
Sejak itu, pembicaraan mereka hanya sebatas perlu.
Pagi itu Farhan berpakaian lebih rapi dari biasanya. Kemeja disetrika licin. Jam tangan dipakai. Wajahnya serius, seperti seseorang yang sudah menyiapkan keputusan.
“Hasilnya sudah bisa diambil,” ucap Farhan.
Hana yang sedang melipat mukena berhenti. “Hari ini?”
“Iya.”
“Aku ikut?”
Farhan menatapnya sebentar. “Sekalian nanti kita ke rumah Mama.”
Hana sedikit tertegun. “Langsung ke sana?”
“Ada yang perlu dibicarakan,” jawab Farhan. Nada suaranya membuat Hana tidak melanjutkan ucapannya.
Perjalanan ke rumah sakit dilalui tanpa banyak kata. Berbeda dengan dua hari lalu yang dipenuhi tegang, hari ini justru terasa dingin. Seolah keduanya sudah terlalu lelah untuk cemas.
Dokter yang sama menerima mereka. Senyum profesionalnya tetap ada, tapi kali ini lebih hati-hati.
“Hasil sudah lengkap,” ucap Dokter sambil membuka map. “Saya jelaskan dulu secara medis, ya.”
Farhan mengangkat tangan sedikit. “Dok, maaf. Saya ingin membuka hasilnya di depan orang tua saya. Boleh?”
Dokter terlihat sedikit terkejut, tapi tetap tenang. “Boleh saja. Tapi sebaiknya tetap dikonsultasikan setelah itu. Karena hasil lab tidak selalu bisa disimpulkan sepihak.”
“Saya akan buat janji lagi,” jawab Farhan.
Dokter mengangguk. Map cokelat itu ditutup kembali, dimasukkan ke amplop besar berlogo rumah sakit. “Apa pun hasilnya, mohon diingat, kesuburan adalah urusan pasangan, bukan individu. Jangan saling menyalahkan.”
Hana mengangguk pelan. Farhan hanya berkata, “Baik, Dok.” Amplop itu berpindah ke tangan Farhan.
Mobil tidak langsung pulang. Farhan mengarahkannya ke rumah Bu Meri tanpa bertanya lagi pada Hana. Seolah semua sudah masuk dalam rencana yang tak perlu didiskusikan.
Semakin dekat, napas Hana makin pendek. Tangannya dingin. Ia meremas ujung gaunnya tanpa sadar.
Di teras rumah sudah ada dua pasang sandal yang tidak asing. Salah satunya milik Chika.
Suara tawa terdengar dari dalam. Sama seperti dua hari lalu, hangat dan akrab. Bukan tawa yang pernah ia rasakan sebagai bagian rumah ini.
Farhan masuk tanpa mengetuk. Hana mengikutinya beberapa langkah di belakang.
Di ruang tengah, Bu Meri duduk di sofa dengan punggung tegak. Chika ada di sampingnya, mengenakan blus krem dan celana panjang rapi. Di meja sudah ada kue dan teh, seperti menyambut acara penting.
“Farhan, sudah diambil hasilnya?” tanya Bu Meri.
“Sudah, Ma.”
Tatapan Bu Meri langsung pindah ke amplop di tangan anaknya, lalu ke Hana. Tatapan yang sama seperti biasa, dingin.
“Duduklah!" titah Bu Meri.
Mereka duduk berhadapan. Formasi yang terasa seperti sidang.
Chika tampak canggung, tetapi tidak pergi. Ia hanya menautkan jari di pangkuan. Farhan meletakkan amplop di meja.
Bu Meri tersenyum tipis. “Tanpa dibuka pun Mama sudah tahu.”
Tak ada yang menyahut.
“Anakku pasti subur,” lanjut wanita paruh baya itu mantap. Lalu telunjuknya terangkat, menunjuk lurus ke arah Hana. “Yang mandul pasti kamu.”
Hana hanya diam, tidak membalas. Punggungnya menegang, tetapi wajahnya tetap tenang. Terlalu sering mendengar tuduhan itu, sampai tubuhnya belajar membeku.
Farhan berkata pelan, “Buka saja, Ma. Biar kita semua tahu hasilnya.”
Bu Meri meraih amplop dengan percaya diri. Gerakannya tegas, hampir dramatis. Kertas dibuka, hasil lab ditarik keluar.
Matanya menyapu baris demi baris. Lalu, senyum itu muncul.
“Nah,” ucap Bu Meri sambil mengangkat kertas itu sedikit. “Lihat. Parameter normal. Jumlah bagus. Motilitas bagus. Morfologi juga. Putraku tidak bermasalah.”
Bu Meri tertawa pendek penuh kemenangan. Tanpa peringatan, kertas itu dilempar ke arah Hana. Mengenai pipi lalu jatuh ke pangkuannya.
“Kau lihat dengan benar!” ucapnya tajam. “Putraku subur. Tidak ada masalah. Aku sudah bilang, kamu yang bermasalah.”
Chika tampak tidak nyaman. Ia bergeser sedikit, tetapi tetap diam.
Hana mengambil kertas itu perlahan. Membacanya dengan seksama. Deretan angka-angka, istilah medis, semua memang menunjukkan hasil Farhan dalam batas normal.
Bu Meri belum selesai. “Lima tahun kamu tak memberikan anak saya keturunan . Perempuan macam apa kamu ini?”
Farhan duduk diam. Tidak ada bantahan. Tidak ada kalimat, “Sudah, Ma.”. Tidak ada penahan.
Hana menelan ludah. Ada rasa pahit naik ke tenggorokan, tetapi suaranya saat keluar justru tenang.
“Hasil pemeriksaanku juga normal, Ma.”
Bu Meri mendengus. “Jangan ngeles.”
“Aku juga diperiksa lengkap,” lanjut Hana pelan. “Dokter bilang tidak ada kelainan berarti.”
“Dokter mana? Dokter abal-abal?” potongnya sinis.
“Dokter yang sama,” jawab Hana. “Yang memeriksa Mas Farhan juga.”
Bu Meri melambaikan tangan tidak sabar. “Kalau dua-duanya normal, kenapa tidak hamil? Masa Tuhan pilih kasih?”
Ruangan hening setengah detik. Hana menjawab lirih, “Mungkin memang Tuhan saja yang belum mempercayai dan menitipkan anak pada kami.”
Kalimat itu sederhana, tetapi justru membuat Bu Meri naik pitam. “Jangan bawa Tuhan untuk menutup kesalahanmu!” bentaknya. “Cukup bersabar Farhan menunggu kamu hamil. Lima tahun hidup sia-sia denganmu.”
Chika menoleh cepat ke Farhan, mau melihat reaksi pria itu. Namun, Farhan masih membatu, rahangnya kencang, dan arah pandangan matanya ke meja.
Bu Meri mencondongkan badan. “Sekarang Mama katakan dengan jelas. Farhan akan menikah lagi.”
Hana tidak bergerak. Dia tak tahu harus berkata apa.
“Farhan butuh keturunan,” lanjut Bu Meri. “Rumah ini butuh penerus.”
Bu Meri melirik Chika sekilas, tidak menyebut nama, tapi cukup jelas arahnya.
“Jika kamu tidak menerimanya,” sambung Bu Meri, “Kamu bisa pergi.”
Kalimat itu diucapkan seperti keputusan rapat. Tanpa ruang tawar.
Dada Hana terasa sesak. Namun anehnya, tidak ada ledakan. Tidak ada tangis. Yang ada hanya rasa kosong. Sudah terlalu sering mendengarkan ucapan sinis dari mertuanya.
Ia menatap Farhan. Menunggu satu kata pembelaan. Satu penolakan dari sang suami.
Farhan mengangkat kepala pelan. Tatapan mereka bertemu, lima tahun pernikahan ada di sana. Sakit, harap dan lelah. Namun, yang keluar hanya helaan napas panjang.
“Ini memang harus dibicarakan,” ucap Farhan pelan. Bukan penolakan yang Hana dengar. Hanya kalimat netral yang menusuk lebih dalam dari bentakan.
Chika akhirnya bersuara dengan hati-hati. “Tante … ini bukan keputusan kecil.”
“Mama tidak main-main,” jawab Bu Meri.
“Aku tidak mau masuk ke rumah tangga orang dan dikatakan sebagai perusak,” ucap Chika tegas.
Bu Meri cepat membalas, “Rumah tangga mereka sudah retak. Kamu bukan penyebab.”
Hana tersenyum tipis. Ia baru sadar, di mata Bu Meri, pernikahan mereka memang tidak pernah utuh.
“Aku mau tanya satu hal,” ucap Hana akhirnya. Semua menoleh padanya. Seolah baru sadar ia masih ada di ruangan itu.
Hana menatap Farhan, bukan Bu Meri. “Mas, apa kamu juga ingin menikah lagi?”
Farhan tidak langsung menjawab. Bagi Hana itu sudah menjadi jawaban setengahnya.
“Aku ingin punya anak,” ucap Farhan dengan suara pelan.
Tanpa kalimat lanjutan, “tapi aku tidak mau menyakitimu.” Atau, “kita cari jalan lain.” Hanya keinginan. Tanpa empati.
“Kalau begitu, kita memang perlu bicara," balas Hana.
Bu Meri tampak puas. Ia bersandar, merasa menang.
“Tidak perlu lama,” ucap Bu Meri. “Poligami itu halal. Jangan sok modern menolak syariat.”
Hana menoleh sopan. “Halal tidak selalu wajib, Ma.”
Wajah Mama Meri mengeras. Tak terima dengan ucapan Hana.
“Dan yang halal juga ada syaratnya,” lanjut Hana tenang. “Adil. Mampu. Siap lahir batin. Bukan karena tekanan.”
“Kamu mau mengajari saya agama?” tanya Bu Meri.
“Bukan, Ma,” jawab Hana lembut. “Aku hanya mengingatkan diri sendiri.”
Farhan berdiri tiba-tiba. “Sudah. Cukup untuk hari ini.” Nada suaranya tegas
“Kita akan konsultasi lagi dengan dokter,” lanjutnya. “Langkah selanjutnya apa.”
Bu Meri mendengus. “Mau konsultasi sampai sepuluh dokter pun hasilnya sama kalau perempuannya tetap Hana.”
Hana berdiri perlahan. Tangannya masih memegang hasil lab yang tadi dilempar. Ia merapikan kertas itu, kembali ke amplop.
Farhan mengambil kunci mobil. “Kita pulang.”
Hana mengangguk. Mereka berjalan ke luar tanpa ada yang menahan.
Di teras, angin siang terasa panas. Tapi justru membuat dada Hana sedikit lebih lega. Seperti baru keluar dari ruangan pengap.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!