💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Hujan deras mengguyur kota Roma, menciptakan suara bising yang memenuhi udara, seolah-olah langit sedang menangis bersamanya. Di dalam mobil mewah berwarna hitam legam yang melaju membelah jalanan kota yang basah, Elara Sterling duduk diam dengan tatapan kosong menatap keluar jendela. Pemandangan kota yang indah dan bersejarah itu kini terlihat kabur dan suram baginya, sama seperti masa depan yang menantinya.
Di sampingnya, ayahnya, Marcus Sterling, duduk dengan wajah tegang namun berusaha terlihat tenang. Sebagai pemimpin kelompok bisnis yang memiliki kaitan erat dengan dunia bawah tanah, posisinya sedang berada di ujung tanduk. Hutang yang menumpuk dan persaingan bisnis yang semakin ketat membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan putri satu-satunya kepada orang yang paling ia takuti sekaligus dihormati yaitu Dante Valtieri.
"Elara, sayangku," ucap Marcus memecah keheningan, suaranya terdengar lembut namun sarat beban. "Ayah tahu ini berat bagimu. Tapi percayalah, ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita semua. Keluarga kita, nama baik kita, semuanya ada di tanganmu sekarang."
Elara memalingkan wajah, menatap tajam ke arah ayahnya. Matanya yang biru cerah memancarkan rasa marah, kecewa, dan juga sedih. "Menyelamatkan kita semua dengan cara menjual ku, Ayah? Apakah aku hanya barang dagangan yang bisa kau tukar untuk menyelesaikan masalahmu?"
Wajah Marcus memerah menahan amarah, namun ia segera menundukkan kepalanya. "Kau tidak mengerti, Elara. Dunia tempat kita hidup ini tidak seindah yang kau bayangkan. Dante Valtieri adalah orang yang memiliki kekuasaan besar. Menolak tawarannya sama saja dengan mengundang kematian bagi kita semua."
"Jadi aku harus membayarnya dengan mengorbankan seluruh hidupku? Menikahi orang yang bahkan tidak aku kenal, orang yang dikenal sebagai monster yang tidak punya hati?" suara Elara meninggi, meskipun ia berusaha menahannya.
"Jangan bicara seperti itu tentang Dante," tegur Marcus dengan nada peringatan. "Dia memang orang yang tegas dan tidak segan bertindak kasar jika perlu, tapi dia juga orang yang berpegang teguh pada janji. Selama kau menjadi istrinya, kau akan aman. Dan begitu juga dengan keluarga kita."
Elara kembali terdiam. Ia tahu bahwa ayahnya tidak berbohong. Ia sudah sering mendengar cerita tentang Dante Valtieri. Pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa yang dijuluki "Tangan Besi". Namanya sudah cukup membuat orang gemetar ketakutan. Dikatakan bahwa tidak ada satu pun orang yang berani melawan keinginannya dan lolos dari hukuman. Bagi dunia luar, Dante adalah iblis yang berwujud manusia. Dan sekarang, Elara harus menikahi iblis itu.
Mobil yang mereka tumpangi perlahan melambat dan akhirnya berhenti di depan sebuah gedung mewah berarsitektur klasik yang megah namun terlihat dingin dan angker. Itu adalah kediaman utama keluarga Valtieri yang sekaligus menjadi pusat operasi organisasi mereka. Gedung itu berdiri megah di tengah kota, seolah menjadi simbol kekuasaan Dante yang tidak terbantahkan.
Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berbadan tegap berpakaian seragam hitam membungkuk hormat kepada Marcus dan Elara. "Selamat datang, Tuan Sterling, Nona Sterling. Tuan Valtieri sudah menunggu di dalam," ucapnya dengan nada datar tanpa ekspresi.
Elara turun dari mobil dengan kaki gemetar. Hujan masih turun deras, namun seorang pelayan segera membuka payung besar untuk meneduhinya. Ia menatap gedung itu dengan perasaan takut dan tidak nyaman. Rasanya seperti masuk ke dalam kandang singa, dan ia adalah mangsa yang sudah siap untuk disantap.
Mereka berjalan melewati lorong yang panjang dan mewah namun hening. Tidak ada suara orang berbicara atau tawa riang, yang ada hanya keheningan yang menekan dan tatapan mata orang-orang yang berjalan lalu lalang dengan wajah dingin. Semua orang yang berada di sana tampak memiliki kewaspadaan tinggi, seolah-olah bahaya bisa datang kapan saja dari mana saja.
Sesampainya di ruang tamu utama yang luas, mereka disambut oleh seorang pria paruh baya yang tampak rapi dan sopan. "Silakan duduk, Tuan Sterling, Nona Sterling. Tuan Valtieri akan segera menemui kalian," ucapnya, lalu pergi meninggalkan mereka.
Elara duduk di ujung sofa yang empuk namun keras rasanya di perasaannya. Ia meremas tangannya erat-erat untuk menahan rasa gugup yang luar biasa. Ia bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya Dante Valtieri itu? Apakah dia benar-benar setan yang digambarkan orang-orang?
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Semua orang yang berada di ruangan itu segera menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormat. Marcus juga segera berdiri tegak dan membenarkan posisi duduknya. Elara pun berdiri perlahan, menatap ke arah tangga dengan napas tertahan.
Di ujung tangga, sosok pria jangkung dengan wajah tajam dan dingin berdiri tegak menatap ke bawah. Ia mengenakan jas hitam yang pas di tubuhnya, menonjolkan otot-ototnya yang kuat namun terlihat anggun. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahinya yang lebar dan rahangnya yang tegas. Namun yang paling menakutkan adalah matanya. Mata berwarna hijau gelap yang tajam seperti elang, seolah bisa menembus ke dalam jiwa orang yang dilihatnya. Dia adalah Dante Valtieri.
Perlahan namun pasti, Dante berjalan menuruni tangga dengan langkah yang tenang namun berwibawa. Setiap langkahnya seolah membawa aura yang menekan, membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat.
Sesampainya di bawah, Dante berhenti tepat di depan Elara dan ayahnya. Ia menatap Marcus sekilas dengan pandangan yang datar dan dingin, lalu mengalihkan pandangannya kepada Elara.
Mata mereka bertemu. Elara merasakan tubuhnya kaku seketika. Ia merasa seolah-olah sedang ditatap oleh seekor predator yang sedang mengintai mangsanya. Tatapan mata Dante itu dingin, tajam, dan sama sekali tidak memiliki perasaan.
"Selamat datang," ucap Dante dengan suara yang dalam dan berat, namun tidak terdengar ramah sedikit pun. "Aku kira kalian tidak akan datang tepat waktu."
Marcus tersenyum kaku. "Tentu saja kami datang, Dante. Kami tahu betapa pentingnya janji ini bagimu."
Dante tidak menjawabnya. Ia masih menatap Elara dengan pandangan yang mengintimidasi. "Jadi, kau Elara Sterling. Calon istriku," ucapnya perlahan, nadanya terdengar setengah bertanya setengah menyatakan fakta.
Elara menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab. "Ya. Aku Elara. Tapi aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini," ucapnya berani, meskipun suaranya terdengar sedikit bergetar.
Ruangan itu menjadi hening seketika. Marcus menatap Elara dengan wajah panik, takut jika perkataan putrinya itu akan membuat Dante marah. Namun Dante malah tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya dan malah membuatnya terlihat semakin mengerikan.
"Begitukah?" jawab Dante pelan. "Tapi masalahnya, keinginanmu tidaklah penting di sini. Mulai hari ini, kau akan menjadi istriku, dan kau harus mematuhi semua aturan di rumah ini serta semua perintahku. Tidak ada penolakan. Tidak ada bantahan. Apakah kau mengerti?"
Suaranya yang dingin dan tegas itu membuat tulang punggung Elara merinding. Ia sadar bahwa apa yang dikatakan Dante itu bukanlah ancaman kosong. Ia benar-benar serius. Dan mulai saat ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dante berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar ruangan itu. "Persiapkan semuanya. Pernikahan akan diadakan lusa. Dan pastikan dia tahu apa saja aturannya," ucapnya kepada bawahannya tanpa menoleh ke belakang lagi, lalu menghilang di balik pintu.
Elara terdiam kaku di tempatnya. Ia menyadari bahwa perjuangannya baru saja dimulai, dan ia harus menghadapi dunia yang gelap dan berbahaya ini bersama pria yang kejam dan dingin itu. Namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan Dante menguasai dirinya sepenuhnya. Apa pun yang terjadi, ia akan tetap menjadi dirinya sendiri dan berusaha bertahan hidup di tengah dunia yang kejam ini.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Sisa hari itu berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Setelah kepergian Dante, seorang wanita paruh baya dengan wajah datar namun gerak-gerik yang sigap menghampiri Elara. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Bianca, pengurus rumah tangga sekaligus orang kepercayaan Dante. Tanpa banyak bicara, Bianca memandu Elara menuju kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai sekarang.
Mereka berjalan melewati lorong-lorong panjang yang dipenuhi lukisan-lukisan antik bernilai tinggi namun bernuansa gelap. Di sepanjang jalan, tidak ada satu pun staf rumah tangga yang berani menatap mata Elara. Semua berjalan tertunduk, seolah membawa beban berat di pundak mereka. Suasana di kediaman itu benar-benar berbeda dengan apa yang biasa Elara rasakan. Di rumah ayahnya, meskipun penuh tekanan bisnis, setidaknya masih ada tawa atau obrolan ringan sesekali. Namun di sini, keheningan terasa seperti aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar.
"Ini kamar Anda, Nona Elara," ujar Bianca sambil membuka pintu kayu besar berukiran indah. Ruangan itu luas, dihiasi perabotan bergaya klasik yang mewah, namun nuansa warnanya yang didominasi hitam, emas kusam, dan merah tua membuatnya terlihat kaku dan dingin. "Mulai besok pagi, saya akan datang jam enam pagi untuk membangunkan Anda. Ada beberapa aturan dasar yang harus Anda patuhi selama tinggal di sini."
Elara meletakkan tas tangannya di atas meja rias, lalu memutar badan menatap Bianca dengan tatapan tajam. "Aturan? Aku ini istri majikanmu, bukan tahanan. Kenapa aku harus diatur sedemikian rupa?"
Wajah Bianca tetap datar, tidak terlihat terganggu sedikit pun oleh nada bicara Elara. "Maafkan saya, Nona. Tapi ini adalah aturan yang berlaku untuk semua orang di kediaman Tuan Valtieri, tanpa terkecuali. Sebagai calon istrinya, Anda harus tahu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang tidak diinginkan."
Bianca berdeham pelan, lalu melanjutkan penjelasannya dengan nada datar dan cepat, seolah sudah hafal di luar kepala. "Pertama, Anda tidak boleh keluar dari kediaman ini tanpa izin tertulis dari Tuan Valtieri. Kedua, jika Tuan Valtieri sedang ada di rumah, Anda harus menemuinya di ruang makan saat makan pagi, siang, dan malam, kecuali jika beliau berhalangan. Ketiga, jangan pernah masuk ke ruang kerja Tuan Valtieri tanpa dipanggil. Itu adalah wilayah terlarang. Keempat, jika ada tamu yang datang, Anda harus bersikap sopan dan menjaga sikap sebagai nyonya rumah. Jangan terlalu banyak bertanya atau ikut campur urusan Tuan Valtieri. Dan yang terakhir, apa pun yang terjadi di dalam kediaman ini, apa pun yang Anda lihat atau dengar, tidak boleh keluar dari mulut Anda sedikit pun. Ingatlah itu baik-baik, Nona."
Darah Elara mendidih mendengar penjelasan itu. Rasanya ia bukan akan menjadi istri sah, melainkan tawanan yang diikat dengan aturan-aturan kaku. "Ini keterlaluan! Apakah aku ini binatang kurungan yang harus dikunci rapat di sini? Dante benar-benar tidak punya perasaan sedikit pun ya," ucapnya dengan nada meninggi.
"Mohon perhatiannya, Nona. Tuan Valtieri melakukan ini bukan tanpa alasan. Dunia tempat kami tinggal ini sangat berbahaya. Aturan-aturan ini dibuat demi keselamatan Anda juga," jawab Bianca tenang, meskipun samar terdengar nada peringatan di ujung kalimatnya. "Sekarang, jika tidak ada hal lain, saya permisi dulu. Besok pagi saya akan datang lagi. Istirahatlah, Nona. Besok adalah hari yang panjang."
Setelah Bianca keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Elara langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk namun terasa kaku di hatinya. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, merasakan air mata perih mulai menetes di sudut matanya. Bagaimana bisa hidupnya berubah drastis dalam waktu sesingkat itu? Dulu ia adalah mahasiswi arsitektur yang ceria dan penuh cita-cita, yang sibuk mengurus tugas kuliah dan proyek-proyek desain bangunan. Namun sekarang, ia harus menjadi istri seorang pemimpin mafia yang terkenal kejam, terkunci di dalam gedung megah namun dingin ini, terikat dengan aturan-aturan yang mengekang.
Malam itu, Elara sulit untuk memejamkan mata. Pikirannya terus berputar memikirkan nasibnya di masa depan. Ia teringat kembali wajah Dante yang dingin dan tajam, nada bicaranya yang penuh wibawa namun mengintimidasi. Ia bertanya-tanya, apakah di balik topeng dingin itu, benar-benar tidak ada sisi kemanusiaan sedikit pun? Atau apakah Dante memang terlahir sebagai sosok monster tanpa perasaan seperti yang dikabarkan orang-orang?
▪️▪️▪️▪️▪️
Keesokan paginya, tepat pukul enam pagi, Bianca mengetuk pintu kamar Elara dan masuk membawa nampan berisi sarapan ringan serta beberapa setelan pakaian. Elara bangun dengan mata sembab dan kepala terasa pening. Ia menatap pakaian-pakaian yang disodorkan Bianca. Itu adalah gaun-gaun elegan berwarna gelap, yang terlihat mahal namun kaku dan tertutup, sama seperti suasana rumah itu.
"Ini pakaian yang disiapkan untuk Anda hari ini. Nanti siang akan ada tim penata rias dan penjahit yang datang untuk menyiapkan segala keperluan pernikahan besok. Dan pukul tujuh pagi, Tuan Valtieri sudah menunggu di ruang makan," ujar Bianca sambil menata pakaian itu di atas sofa.
Elara menghela napas panjang, berusaha menahan rasa kesal yang kembali naik. Ia bergegas mandi dan bersiap, lalu mengenakan salah satu gaun yang disiapkan untuknya. Gaun berwarna hitam legam dengan potongan yang sopan namun menonjolkan lekuk tubuhnya. Saat ia berjalan menuju ruang makan, ia merasakan tatapan-tatapan mata staf rumah tangga sedang mengawasinya dari kejauhan, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Sesampainya di ruang makan yang luas dan megah itu, Dante sudah duduk di kursi utama, sedang membaca koran sambil menyeruput kopi hitam di depannya. Ia mengenakan kemeja putih polos dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kekar serta bekas luka samar yang melintang di sana. Rambut hitamnya sedikit berantakan, namun justru membuatnya terlihat semakin tampan dan berkarisma, meskipun wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi.
Mendengar langkah kaki Elara mendekat, Dante meletakkan korannya, lalu menatap Elara dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan yang menelanjangi. Elara merinding seketika di bawah tatapan itu. Ia berhenti di samping kursi yang tersedia di hadapan Dante, menundukkan kepala sedikit karena tidak berani menatap mata pria itu terlalu lama.
"Duduklah," ucap Dante singkat, lalu kembali menyantap sarapannya.
Elara duduk dengan ragu-ragu. Ia menyentuh roti gandum di piringnya, namun sama sekali tidak memiliki selera makan. Keheningan memenuhi ruangan itu untuk beberapa saat, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring porselen.
"Kau terlihat cantik," ucap Dante tiba-tiba, memecah keheningan itu. Nada bicaranya datar, seolah sedang memuji sebuah barang koleksi, bukan calon istrinya.
Elara mendongak, menatap Dante dengan tatapan bingung sekaligus curiga. "Kau memujiku hanya karena aku memakai pakaian pilihanmu?"
Dante mengangkat alisnya sedikit, lalu menaruh sendoknya. Ia menatap Elara dengan tatapan tajam. "Aku hanya menyatakan fakta. Tapi ingatlah satu hal, Elara. Kecantikanmu itu milikku sekarang. Dan kau harus selalu tampil sempurna sesuai dengan statusmu sebagai istriku. Aku tidak ingin orang-orang meremehkanku dengan membawa istri yang tidak terawat."
Kalimat itu menusuk hati Elara seperti pisau tajam. Jadi baginya, ia hanyalah sebuah aksesori yang harus tampil sempurna untuk menunjang gengsinya saja? "Apakah bagimu, aku ini hanya barang pajangan, Dante? Sesuatu yang bisa kau pamerkan dan kau atur sesuka hatimu?" tanya Elara dengan suara bergetar, berusaha menahan tangisnya agar tidak jatuh lagi di hadapan pria itu.
Wajah Dante semakin dingin. Ia bersandar di kursinya, menatap Elara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jangan membuat kesimpulan sendiri. Kau tahu kenapa kita menikah, kan? Ini adalah perjanjian. Dan dalam perjanjian ini, ada hak dan kewajiban masing-masing. Tugasmu adalah menjadi istri yang patuh, tampil sempurna di hadapan publik, dan menjadi pasangan yang pantas bersanding denganku. Sedangkan tugasku adalah melindungimu dan keluargamu dari ancaman bahaya, serta memenuhi segala kebutuhanmu. Tidak lebih, tidak kurang."
Dante berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin tegas. "Dan satu hal lagi. Jangan pernah berpikir untuk mencoba melawanku atau berusaha kabur. Di luar sana, dunia ini jauh lebih kejam dan berbahaya dari pada di sini. Di sini, setidaknya kau aman. Tapi jika kau mencoba keluar dari batas yang sudah aku tentukan, maka aku tidak bisa menjamin keselamatanmu lagi. Ingatlah itu baik-baik, Elara Sterling."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Dante berdiri tegak, lalu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh ke belakang lagi, seolah-olah keberadaan Elara tidak terlalu penting baginya.
Elara terdiam kaku di kursinya, merasakan tubuhnya gemetar hebat. Kata-kata Dante barusan seolah menjadi peringatan keras baginya, sekaligus menjadi pengingat pahit tentang posisinya saat ini. Ia sadar, perjuangannya untuk bertahan hidup di dunia gelap milik Dante ini baru saja benar-benar dimulai. Dan jalan yang harus ia tempuh ke depannya, pasti akan jauh lebih terjal dan berbahaya daripada apa yang ia bayangkan selama ini.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Pintu ruang makan tertutup rapat, menyisakan Elara yang masih terpaku di kursinya. Suara langkah kaki Dante yang menjauh perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan yang kembali menyergap. Napas Elara terasa sesak, dadanya naik turun menahan amarah dan rasa frustasi yang memuncak. Piring berisi sarapan di hadapannya masih utuh, terlihat menggiurkan bagi orang lain, namun baginya saat ini, itu terasa seperti racun yang menyengat tenggorokannya.
"Apakah semuanya sudah sesuai selera Anda, Nona?"
Suara halus namun tiba-tiba membuat Elara tersentak. Ia mendongak dan melihat Bianca berdiri di sisi meja dengan nampan di tangan, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, seolah tidak terjadi apa-apa.
Elara menghela napas kasar, lalu mendorong kursinya hingga bergesekan dengan lantai menghasilkan suara berisik. Ia berdiri dengan tangan terkepal erat di sisi tubuhnya.
"Selera makan? Bagaimana mungkin aku punya selera makan setelah mendengar semua kata-kata tajam Tuan Besimu itu?" ucap Elara dengan nada suara yang sedikit meninggi, matanya menatap tajam ke arah Bianca. "Apa semua orang di rumah ini sudah mati perasaannya? Kalian bergerak, bicara, dan hidup seolah hanya menjadi boneka yang digerakkan oleh tali kendali Dante Valtieri."
Bianca tidak menjawab langsung. Ia hanya menundukkan pandangannya sedikit, menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sulit diartikan.
"Nona, tolong kendalikan suara Anda. Jika Tuan Valtieri sampai mendengar Anda berbicara seperti itu, konsekuensinya tidak akan ringan," jawab Bianca dengan nada peringatan yang lembut namun tegas. "Dan satu hal lagi, Tuan Valtieri bertindak seperti itu bukan semata-mata karena ia kejam atau suka memerintah. Di dunia yang kami tinggali, kelemahan sekecil apa pun bisa menjadi celah bagi musuh untuk masuk dan menghancurkan segalanya. Termasuk Anda, Nona."
Elara terdiam sejenak, menatap Bianca dengan tatapan ragu. Apakah benar apa yang dikatakan wanita paruh baya itu? Atau itu hanya alasan klise yang dijadikan tameng bagi Dante untuk menutupi sifat otoriternya?
"Sekarang, silakan kembali ke kamar Anda. Tim penjahit dan penata rias akan tiba sebentar lagi. Mereka akan menyiapkan segala keperluan untuk upacara besok. Tuan Valtieri memerintahkan agar Anda bersikap kooperatif," tambah Bianca kemudian, lalu memberi isyarat tangan mempersilakan agar Elara pergi.
Dengan langkah gontai, Elara berjalan keluar dari ruang makan dan kembali menuju kamarnya. Di sepanjang lorong, ia bertemu dengan beberapa staf rumah tangga yang sibuk mondar-mandir membawa kotak-kotak perhiasan, kain-kain sutra, dan perlengkapan pesta. Persiapan untuk pernikahan besok tampak sudah berjalan sangat sibuk dan matang. Semua orang bekerja dengan sigap dan teratur, seolah sebuah mesin raksasa yang bergerak sempurna. Namun bagi Elara, semua kemegahan itu terasa seperti hiasan di atas penjara emas.
Sesampainya di kamar, Elara duduk di tepi tempat tidur, membiarkan tubuhnya terkulai lemas. Belum lama ia duduk, pintu kamar terbuka kembali dan masuklah sekelompok orang yang berpakaian rapi dan terlihat profesional. Mereka adalah tim penjahit dan penata rias yang dikirim khusus untuk menyiapkan Elara.
"Selamat pagi, Nona Sterling. Kami datang atas perintah Tuan Valtieri untuk menyiapkan segala kebutuhan pernikahan Anda," ucap seorang wanita paruh baya yang tampaknya menjadi pemimpin tim itu dengan nada sopan namun kaku. Ia lalu memberi isyarat kepada anggotanya untuk mulai bekerja.
Tanpa banyak bicara, mereka mulai sibuk mengukur ukuran tubuh Elara, memeriksa gaun pengantin yang sudah disiapkan, serta membawa berbagai kotak kosmetik dan perhiasan. Elara hanya diam membiarkan tubuhnya diatur sedemikian rupa oleh orang-orang asing itu. Ia merasa seperti manekin di toko pakaian, yang bisa dipindah, diukur, dan dihias sesuka hati orang lain.
Gaun pengantin itu ternyata sudah dipilihkan oleh Dante. Saat dibuka dari kotaknya, Elara tertegun sejenak. Gaun itu terbuat dari bahan sutra dan renda impor berkualitas tinggi, berwarna putih gading dengan potongan yang elegan namun tetap tertutup. Detail bordir benang emas tipis di bagian pinggang dan bahunya menambah kesan mewah dan berkelas. Namun, meskipun terlihat sangat indah dan mahal, Elara tahu bahwa gaun itu bukan dipilihkan karena keinginannya atau untuk menyenangkan hatinya, melainkan demi gengsi dan citra Dante di mata orang-orang.
"Gaun ini sangat indah, Nona. Pilihan Tuan Valtieri benar-benar seleranya tinggi," puji salah satu penjahit itu sambil memeriksa jahitan gaun itu. "Tuan Valtieri juga memerintahkan agar kami memastikan semuanya pas sempurna di tubuh Anda, tidak ada yang kurang sedikit pun."
Elara hanya tersenyum kecut mendengarnya. "Tentu saja. Segala sesuatu di sini harus sempurna menurut standarnya, bukan?" gumamnya pelan, sehingga tidak terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Berjam-jam berlalu dengan penuh kesibukan. Mulai dari mengukur ukuran tubuh, mencocokkan aksesori, hingga mendiskusikan model tata rias dan tata rambut yang cocok. Semuanya harus disesuaikan dengan selera Dante yang terbilang sangat tinggi dan ketat. Bahkan untuk urusan perhiasan, cincin kawin yang disiapkan pun ternyata sudah dipilihkan dengan desain yang sederhana namun terbuat dari berlian dan emas murni dengan kualitas terbaik, melambangkan kekayaan dan kekuasaan keluarga Valtieri.
Siang berganti menjadi sore, dan perlahan tim itu mulai meninggalkan kamar Elara setelah menyelesaikan tugas mereka. Bianca masuk kembali ke kamar untuk memastikan semuanya berjalan lancar.
"Besok pagi, jam lima pagi, tim penata rias akan datang kembali untuk mempersiapkan Anda. Upacara akan dimulai tepat pukul sepuluh pagi di kapel pribadi di sayap timur gedung ini. Hanya tamu undangan tertentu yang akan hadir, kebanyakan adalah rekan bisnis dan kolega Tuan Valtieri," jelas Bianca sambil merapikan sisa-sisa peralatan yang berserakan.
Elara duduk di depan cermin meja rias, menatap bayangannya sendiri di kaca. Wajahnya terlihat pucat dan lelah, matanya sedikit bengkak karena kurang tidur semalam.
"Apakah ayahku akan datang?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan. Ia sadar, setelah upacara besok, ia mungkin tidak akan bisa bertemu dengan ayahnya sesuka hati lagi.
Bianca berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Elara. "Tuan Sterling diundang, Nona. Tapi saya dengar, setelah upacara selesai, beliau harus segera kembali ke negaranya untuk mengurus beberapa urusan penting. Itu pun atas izin Tuan Valtieri."
Hati Elara terasa semakin perih mendengarnya. Bahkan kebebasan ayahnya untuk pergi dan datang pun sekarang tergantung pada ketersediaan hati Dante. Benar-benar posisi yang menyedihkan.
Malam pun tiba. Kamar Elara diterangi oleh lampu gantung yang redup. Ia berbaring di atas tempat tidur yang empuk namun terasa dingin. Pikirannya kembali melayang pada sosok Dante. Pria itu benar-benar misterius dan sulit ditebak. Di satu sisi, ia terlihat sangat tampan, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang luar biasa. Namun di sisi lain, ia terlihat sangat dingin, kejam, dan tidak memiliki perasaan.
Elara bertanya-tanya dalam hati, apakah Dante pernah merasakan cinta atau kasih sayang dalam hidupnya? Apakah di balik topeng dingin itu, tersembunyi luka mendalam yang membuatnya menjadi sosok seperti sekarang?
Namun seketika Elara menggelengkan kepalanya pelan, menepis pikiran itu. Tidak peduli apa alasan masa lalunya, fakta tetaplah fakta. Dante adalah orang yang mengambil kebebasannya, orang yang memaksanya terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini. Dan selama ia di sini, Elara berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan dirinya terbawa perasaan atau jatuh hati pada pria sekejam itu.
Besok, saat matahari terbit, ia akan resmi menjadi Nyonya Valtieri. Dan babak baru dalam hidupnya yang penuh tantangan dan bahaya itu akan segera dimulai.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!