Hujan deras mengguyur kota dengan sangat ganas, seolah langit sedang ikut mengamuk.
Namun, Kinara tetap berdiri mematung di lobi gedung perkantoran mewah yang dinding-dinding kacanya memantulkan kemegahan dunia yang tak pernah bisa ia gapai.
Di tangannya, sebuah kotak bekal yang masih terasa hangat ia dekap erat-erat di depan dada.
Kotak itu bukan sekadar wadah makanan; di dalamnya ada harapan yang telah Kinara bangun selama lima jam di dapur.
Ia mengabaikan luka iris di jarinya demi menyiapkan menu kesukaan suaminya.
Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, sebuah tonggak sejarah yang Kinara rawat dengan penuh doa, meski ia melakukannya sendirian.
Ting!
Suara lift yang berdenting memecah kesunyian lobi yang mulai sepi. Sosok pria tinggi dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah keluar.
Langkah kakinya yang mengenakan sepatu kulit mahal beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama yang angkuh.
Itulah Arlan.
Pria yang selama tiga tahun ini menjadi pusat kehidupan bagi hidup Kinara.
Wajahnya setajam pahatan es, tampan dengan garis rahang yang keras, namun tatapannya sangat mematikan bagi siapa pun yang mencoba mendekat.
"Arlan!"
panggil Kinara.
Suaranya sedikit bergetar, bersaing dengan deru hujan di luar. Bibirnya yang pucat karena kedinginan mencoba mengukir senyum paling manis yang ia punya.
Langkah Arlan terhenti seketika. Ia tidak mendekat, hanya melirik jam tangan Rolex-nya dengan tatapan tidak sabar yang sangat kentara. Ia lalu menatap Kinara dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah wanita di depannya hanyalah noda yang mengganggu keindahan lobinya.
"Kenapa kamu di sini?"
"Aku membawakan makan malam kesukaanmu, Arlan. Aku tahu kamu sibuk, tapi hari ini kan ulang tahun pernikahan ki—"
"Buang saja," potong Arlan tajam, bahkan sebelum Kinara menyelesaikan kalimatnya.
Suaranya datar, dingin, dan benar-benar hampa dari setitik pun rasa bersalah.
"Aku ada janji makan malam dengan klien penting. Jangan menjadi pengganggu, Kinara. Pulanglah sekarang juga. Kamu memalukan berdiri di sini dengan baju basah kuyup seperti itu. Apa kata orang-orang kantorku jika melihatmu?"
Kinara tertegun, dadanya terasa sesak seperti dihantam beban ribuan ton.
"Tapi aku sudah menyiapkannya sejak sore, Arlan. Tanganku bahkan teriris saat memotong bahan-bahannya. Sedikit saja... aku hanya ingin kita makan bersama satu kali ini."
Arlan menghela napas panjang, rahangnya mengeras karena rasa muak yang sudah di puncak. Tanpa peringatan dan tanpa belas kasihan sedikit pun, ia merenggut kotak bekal itu dari pelukan Kinara.
PRANG!
Tanpa ragu, Arlan menjatuhkannya begitu saja ke dalam tempat sampah besar di samping lobi.
Kotak itu pecah berkeping-keping, isinya yang ia masak dengan penuh cinta kini berhamburan, bercampur dengan sampah kertas dan kotoran lainnya.
Hati Kinara serasa ikut hancur berantakan bersama bunyi dentuman itu. Harapannya, cintanya, dan harga dirinya yang selama ini ia pertahankan mati-matian, semuanya baru saja dibuang ke tempat sampah di depan matanya sendiri.
Arlan melangkah maju, memperpendek jarak. Ia membisikkan kata-kata yang jauh lebih dingin dari air hujan tepat di telinga Kinara.
"Berhenti bersikap menyedihkan, Kinara. Mengejarku selama tiga tahun tidak akan pernah membuatku mencintaimu. Berhentilah bermimpi, karena bagiku, kamu tetaplah kesalahan yang terpaksa aku nikahi. Mengerti?"
Arlan berlalu tanpa menoleh lagi. Ia masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu di depan pintu, meninggalkan Kinara dalam kehampaan yang luar biasa luas.
Kinara tidak menangis.
Tidak ada setetes air mata pun yang jatuh.
Matanya justru terlihat kosong dan kelam.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, rasa sesak yang biasanya membakar dadanya kini menghilang, digantikan oleh rasa dingin yang luar biasa yang membekukan seluruh perasaannya.
Ia menunduk, menatap cincin perak tipis di jari manisnya.
Cincin yang selama ini ia jaga lebih dari nyawanya sendiri, simbol dari sebuah janji yang hanya ia tepati sendirian. Pelan, dengan tangan yang stabil tanpa gemetar, Kinara melepas cincin itu. Ia meletakkannya di atas tutup tempat sampah—tepat di atas bangkai makanan yang dibuang Arlan.
"Kamu benar, Arlan," bisiknya lirih pada angin malam yang menusuk tulang.
"Mengejarmu memang sangat menyedihkan. Dan aku... tidak ingin menjadi orang menyedihkan lagi."
Kinara berbalik arah, berjalan menembus hujan tanpa payung, membiarkan tubuhnya basah seiring dengan hilangnya sisa-sisa kehangatan cintanya. Mulai detik ini, Arlan bukan lagi dunianya. Arlan hanyalah orang asing yang pernah ia kenal dengan rasa sakit yang luar biasa.
Arlan melangkah masuk ke dalam mansion mewahnya dengan sisa rintik hujan yang masih menempel di bahu jas mahalnya.
Suasana rumah begitu gelap, hanya ada lampu remang-remang di sudut ruangan yang menyala otomatis.
Biasanya, begitu suara deru mobilnya terdengar melintasi gerbang besi, pintu utama akan langsung terbuka lebar seolah penghuninya telah berjaga di sana sejak berjam-jam lalu.
Kinara akan menyambutnya dengan senyum lebar yang tulus—senyum yang terkadang dianggap Arlan terlalu berlebihan—lalu dengan sigap mengambil tas kerjanya dan bertanya apakah harinya melelahkan.
Namun malam ini, hanya ada keheningan mencekam yang menyambutnya. Dingin yang ada di dalam rumah ini tiba-tiba terasa lebih menusuk daripada badai yang mengamuk di luar sana.
"Kinara!" panggil Arlan.
Suaranya yang berat dan otoriter menggema di ruang tamu yang luas, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin, namun tak ada sahutan sedikit pun.
Arlan mendengus kasar.
Tangannya bergerak kasar melonggarkan dasi yang tiba-tiba terasa mencekik lehernya.
Mungkin dia sedang mengurung diri di kamar dan menangis seperti biasanya, pikir Arlan sinis.
Ia merasa Kinara hanya sedang berakting dramatis setelah kejadian di lobi kantor tadi.
Di mata Arlan, Kinara adalah wanita yang tidak punya tempat tujuan lain.
Wanita itu telah memangkas seluruh dunianya hanya untuk menjadi nyonya di rumah ini. Bagi Arlan, Kinara tidak akan pernah benar-benar pergi, dia terlalu mencintainya, atau lebih tepatnya, sudah kehilangan harga diri demi memuja pria seperti dirinya,
Ia melangkah menuju dapur, merasa
Kerongkongannya terasa kering dan pahit.
Matanya melirik ke arah meja makan panjang berbahan kayu ek yang kini tampak sangat kosong melompong.
Tak ada piring yang tertata rapi, tak ada lilin aromaterapi yang biasanya dinyalakan Kinara untuk menyambut makan malam mereka, dan yang paling terasa hilang adalah aroma uap masakan rumahan yang biasanya memenuhi indra penciumannya.
Entah kenapa, perutnya yang tadi ia isi dengan hidangan truffle dan steak mewah di restoran bintang lima bersama kliennya, kini mendadak terasa perih dan kosong. Ada lubang di sana yang tidak bisa dipuaskan oleh makanan mahal mana pun.
"Benar-benar kekanak-kanakan," gumam Arlan sambil menuangkan air dingin ke gelas kristalnya.
Tangannya sedikit gemetar saat memegang botol air, sebuah reaksi tubuh yang langsung ia tepis.
"Hanya karena kotak bekal sampah itu dibuang, dia tega membiarkan rumah ini mati seperti kuburan?"
Arlan mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali Kinara bersikap seperti ini.
Tidak pernah.
Bahkan saat Arlan lupa hari ulang tahun Kinara, wanita itu tetap memasak. Bahkan saat Arlan pulang membawa aroma parfum wanita lain di jasnya, Kinara tetap membukakan pintu.
Dia tidak akan pergi jauh, batin Arlan meyakinkan dirinya sendiri.
Ia menaiki tangga menuju kamar utama mereka dengan langkah yang sengaja dihentakkan, seolah ingin memberi tahu seisi rumah bahwa sang tuan telah kembali.
Ia berencana untuk memaki Kinara, memberinya pelajaran bahwa sikap membangkang seperti ini tidak akan mempan padanya.
Namun, saat pintu jati besar itu ia dorong dengan kasar, pemandangan di dalamnya membuat napas Arlan tertahan di tenggorokan.
Kamar itu sangat rapi. Terlalu rapi hingga terasa asing, seperti kamar hotel mewah yang baru saja dibersihkan dan belum pernah dihuni. Tempat tidur mereka tertutup bed cover sutra tanpa ada satu pun kerutan.
Tidak ada sosok Kinara yang biasanya meringkuk di bawah selimut, berpura-pura tidur namun bahunya bergetar karena menahan tangis.
Arlan berjalan menuju ruang rias, tempat yang selama tiga tahun ini dipenuhi oleh barang-barang Kinara.
Biasanya, meja rias itu penuh sesak dengan botol-botol kecil skincare, deretan parfum beraroma bunga, dan beberapa jepit rambut yang seringkali berserakan mengganggu pandangan Arlan.
Sekarang, meja itu kosong. Bersih berkilat.
Seolah-olah tidak pernah ada wanita yang pernah duduk di sana untuk mempercantik diri demi menyenangkan hati suaminya. Arlan mendekat, dan matanya tertuju pada satu lembar kertas putih yang diletakkan tepat di tengah meja, ditindih oleh sebuah vas bunga kecil yang bunganya sudah layu—seolah melambangkan cinta mereka yang mati.
Dengan kening berkerut dan jantung yang berdenyut tidak beraturan, Arlan menyambar kertas itu.
‘Surat Gugatan Cerai.’
Dua kata di bagian atas kertas itu membuat pandangan Arlan memburam sesaat. Sebuah hantaman tak kasat mata menghantam dadanya, membuatnya sulit untuk sekadar menarik napas. Nama Kinara sudah tertera di sana, ditandatangani dengan tinta hitam yang tegas.
Tanpa ragu.
Namun, ego pria itu terlalu besar untuk mengakui rasa takutnya. Ia tertawa meremehkan, suara tawanya terdengar sumbang di kamar yang sepi itu. Ia meremas kertas tersebut hingga tak berbentuk dan melemparnya ke sudut ruangan dengan kasar.
"Gertakan yang sangat murahan, Kinara!"
ucapnya lantang pada dinding-dinding bisu.
"Kita lihat berapa jam kamu bisa bertahan di luar sana tanpa uang dan fasilitas dariku. Paling-paling besok pagi kamu sudah bersimpuh di depan gerbang memohon untuk masuk kembali."
Arlan kemudian melangkah menuju lemari besar di sudut kamar. Ia menarik pintunya dengan tenaga yang berlebihan hingga terdengar bunyi berderit. Ia ingin membuktikan teorinya, ia ingin melihat baju-baju Kinara masih ada di sana.
Ia ingin percaya bahwa Kinara hanya membawa satu tas kecil untuk menginap di rumah temannya, hanya untuk mencari perhatian dan membuat Arlan merasa bersalah.
Tapi, kenyataan menghantamnya lebih brutal kali ini.
Separuh lemari itu kosong melompong. Tidak ada satu pun helai pakaian wanita yang tersisa. Bahkan koper besar yang biasanya tersimpan di bagian atas lemari pun sudah menghilang.
Rak sepatu di bagian bawah yang biasanya dipenuhi high heels dan flat shoes milik Kinara kini hanya menyisakan ruang hampa yang gelap.
Kinara tidak sedang bermain drama. Dia tidak sedang berpura-pura. Dia telah membawa seluruh jejak kehidupannya keluar dari rumah ini, seolah ia ingin menghapus keberadaannya dari sejarah hidup Arlan.
Arlan terdiam membeku di depan lemari yang terbuka itu.
Matanya menatap deretan jas gelapnya yang kini tampak kesepian tanpa gaun-gaun berwarna milik Kinara yang biasanya berhimpitan di sampingnya.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, mansion ini terasa terlalu luas untuk dihuni satu orang. Terlalu dingin untuk disebut rumah.
"Kamu pasti akan kembali merangkak padaku, Kinara. Pasti,"
Arlan menggertakkan giginya, meyakinkan dirinya sendiri meski tangannya kini terkepal kuat hingga buku-bukunya memutih.
Ia membanting pintu lemari hingga suaranya menggelegar, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu. Ia memejamkan mata, berusaha memanggil kantuk agar rasa sesak di dadanya menghilang.
Namun, bau parfum lavender yang biasanya menenangkan indranya kini tidak tercium lagi. Wangi lembut yang selalu menemaninya setiap malam itu telah menguap, digantikan oleh bau detergen yang tajam, dingin, dan steril.
Arlan berbalik ke sisi kiri ranjang, sisi tempat Kinara biasanya tidur. Sisi yang selalu terasa hangat karena kehadiran wanita itu.
Dingin. Bagian ranjang itu sangat dingin, seolah tak pernah ada kehidupan di sana sebelumnya.
Pikiran Arlan melayang kembali ke masa lalu, saat ia pertama kali membawa Kinara ke rumah ini.
Saat itu, ia mengatakan pada Kinara bahwa pernikahan mereka hanyalah transaksi bisnis, sebuah kesalahan yang harus ia tanggung karena wasiat kakeknya.
Ia ingat betapa hancurnya binar di mata Kinara saat itu, namun wanita itu tetap tersenyum dan berkata,
"Aku akan membuatmu mencintaiku, Arlan."
Selama tiga tahun, Kinara membuktikannya.
Dia bertahan meski Arlan menghinanya. Dia tetap tersenyum meski Arlan membawa wanita lain ke pesta perusahaan. Dia tetap memasak meski Arlan membuang makanannya. Arlan berpikir kesabaran Kinara itu abadi. Ia berpikir Kinara adalah budak cinta yang tak punya batas akhir.
Ternyata, Arlan salah besar. Malam ini, ia menyadari bahwa bahkan es yang paling keras pun bisa hancur jika terus-menerus dihantam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, sang Tuan Dingin yang angkuh mendapati dirinya terjaga sepanjang malam. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap, tercekik oleh keheningan yang perlahan-lahan mulai memakan kewarasannya.
Di luar, hujan masih turun dengan deras, seolah langit sedang menertawakan kesombongan seorang pria yang baru saja kehilangan harta paling berharganya tanpa ia sadari.
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi sebuah kamar kos berukuran tiga kali empat meter di pinggiran kota yang bising.
Suara deru knalpot motor yang memekakkan telinga dan teriakan penjual sayur keliling menjadi alarm alami bagi Kinara.
Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar yang sedikit berjamur di pojokannya—pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan plafon berukir emas dan lampu kristal mewah di mansion Arlan yang biasa ia lihat setiap kali membuka mata.
Kinara bangkit, merenggangkan tubuhnya di atas kasur busa tipis yang terasa sedikit keras di punggungnya.
Anehnya, meski tubuhnya sedikit pegal karena tidak terbiasa tidur tanpa ranjang empuk, ia tidak merasakan beban sesak di dadanya.
Pagi ini, tidak ada lagi ketakutan akan wajah dingin Arlan yang akan menghakiminya di meja makan.
Tidak ada lagi rasa was-was apakah suaminya itu akan pulang dalam keadaan marah atau justru membawa aroma parfum wanita lain di jas mahalnya.
"Selamat pagi, Kinara yang baru," bisiknya pada dirinya sendiri di depan cermin kecil yang baru ia beli dari pasar kaget kemarin sore.
Ia melangkah menuju sudut ruangan yang ia sulap menjadi dapur darurat.
Hanya ada kompor gas satu tungku dan satu panci kecil yang ia bawa dari rumah lamanya—satu dari sedikit barang yang ia beli dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri sebelum menikah.
Kinara menyeduh mie instan rasa kaldu ayam makanan yang dulu sangat dilarang oleh Arlan karena dianggap tidak bergizi, murahan, dan "merusak citra" meja makan seorang CEO.
Saat uap panas mie itu menerpa wajahnya, Kinara memejamkan mata.
Suapan pertama mie instan di pagi hari itu terasa jauh lebih mewah dan nikmat daripada steak wagyu dingin yang sering ia makan dalam kesunyian yang mencekik di meja makan Arlan.
Kebebasan ternyata memiliki rasa, dan bagi Kinara, rasanya sesederhana ini.
Sementara itu, di sisi lain kota yang berkilauan dengan gedung-gedung pencakar langit, suasana di kantor pusat Arlan Group terasa seperti berada di dalam lemari es. Sangat dingin, kaku, dan mencekam.
Arlan duduk di kursi kebesarannya, menatap tumpukan dokumen yang harus ia tandatangani sebelum rapat umum pemegang saham dimulai.
Namun, fokusnya buyar setiap beberapa menit.
Ia merasa ada yang salah dengan tubuhnya pagi ini. Kepalanya sedikit pening, dan perutnya terasa kembung karena semalam ia tidak bisa tidur dan melewatkan sarapan.
Tok tok tok!
"Masuk," jawab Arlan singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.
Sekretarisnya, Maya, masuk dengan langkah ragu-ragu. Wajah wanita itu tampak pucat, seolah sedang bersiap untuk menghadapi badai.
Ia meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja kerja Arlan yang bersih mengkilap.
Arlan menyesap kopi itu satu kali, lalu langsung menyemburkannya kembali ke dalam cangkir dengan wajah merah padam.
"Kopi apa ini?!" bentak Arlan hingga Maya berjengit ketakutan.
Suaranya menggelegar, membuat beberapa staf di luar ruangan mencuri dengar dengan ngeri.
"I—itu kopi hitam tanpa gula seperti pesanan Bapak biasanya," jawab Maya dengan suara yang hampir hilang.
"Rasanya menjijikkan! Terlalu pahit, aromanya gosong, dan teksturnya kasar! Di mana kopi yang biasanya ada di meja saya setiap jam delapan pagi?"
Maya menelan ludah dengan susah payah.
"Maaf Pak, tapi saya baru tahu tadi pagi dari bagian pantry. Biasanya... selama tiga tahun ini, Ibu Kinara yang selalu mengantar kopi ke kantor secara diam-diam. Beliau lewat pintu belakang setiap jam delapan pagi kurang sepuluh menit. Ibu bilang Bapak tidak suka kopi buatan mesin kantor, jadi Ibu selalu membawakan kopi yang diracik sendiri dari rumah, lengkap dengan suhu yang Bapak sukai. Tapi pagi ini... Ibu tidak datang."
Arlan tertegun.
Gelas kristal di tangannya terasa sangat berat.
Selama ini, ia pikir mesin kopi di kantornya telah ditingkatkan kualitasnya, atau Maya telah belajar cara meracik kopi dengan sempurna.
Ternyata, rasa nyaman yang ia rasakan selama tiga tahun ini bukan karena teknologi atau uang, melainkan karena tangan wanita yang baru saja ia buang seperti sampah kemarin malam.
"Keluar," perintah Arlan dingin, suaranya kini terdengar rendah dan berbahaya.
Setelah Maya pergi, Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mahalnya.
Ia merogoh ponselnya dari saku jas, secara refleks jarinya hendak menekan nomor Kinara untuk memarahinya karena tidak mengirim kopi.
Namun, jarinya berhenti tepat di atas kontak bernama 'Istriku'.
Ia teringat kembali pada surat gugatan cerai yang ia remas semalam. Ia teringat pada lemari yang kosong melompong dan meja rias yang bersih tanpa sisa.
Sial! maki Arlan dalam hati.
Ia membanting ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras.
"Kamu pikir aku akan merangkak mencarimu hanya karena masalah kopi sepele ini? Jangan harap, Kinara! Kamu yang akan menyesal karena kehilangan kemewahan ini!"
Arlan mencoba kembali bekerja, memaksa matanya membaca deretan angka yang kini tampak menari-nari di depannya.
Namun, matanya tidak sengaja melihat kalender duduk di sudut meja. Di sana, ada sebuah lingkaran merah kecil yang dibuat dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan feminin: 'Jadwal cek kesehatan lambung Arlan jam 10 pagi'.
Tepat saat itu, jam dinding berdentang menunjukkan pukul sepuluh tepat.
Dan seperti dikomando, lambung Arlan terasa melilit hebat.
Ia lupa bahwa selama ini Kinara-lah yang selalu mengingatkannya untuk minum obat sebelum rapat besar.
Kinara-lah yang diam-diam memasukkan vitamin ke dalam tas kerjanya.
"Kamu hanya ingin mencari perhatian, Kinara. Kamu ingin aku merasa kehilangan, kan?" gumam Arlan dengan seringai yang dipaksakan.
"Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan hidup di luar sana tanpa uang dariku. Wanita manja sepertimu tidak akan sanggup hidup susah bahkan untuk satu minggu."
Di tempat lain, di dalam kamar kosnya yang gerah, Kinara justru sedang sibuk mencoret-coret buku catatannya dengan penuh semangat. Ia tidak memikirkan Arlan.
Ia sedang menghitung sisa uang tabungannya yang tidak seberapa dan mulai merencanakan masa depannya. Ia harus mencari pekerjaan secepat mungkin.
Apapun itu. Menjadi penulis lepas, pengajar les, atau bekerja di toko—ia tidak peduli.
Kinara menatap jendela kecilnya. Hujan sudah reda, menyisakan aroma tanah yang segar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen yang terasa murni tanpa ada tekanan.
"Aku tidak butuh uangmu, Arlan. Aku butuh diriku kembali," ucap Kinara tegas.
Ia mengambil tas selempang usangnya, lalu keluar kamar untuk mulai membagikan lamaran kerja.
Di jalanan, ia harus berdesakan dengan orang-orang di dalam angkutan umum, hal yang tidak pernah ia lakukan selama tiga tahun terakhir. Tubuhnya berkeringat, kakinya terasa pegal, tapi setiap langkahnya terasa sangat ringan.
Malam harinya, Arlan pulang ke mansion.
Untuk kedua kalinya, ia disambut oleh kegelapan.
Ia mencoba menyalakan lampu sendiri, mencoba mencari makanan di kulkas sendiri, dan berakhir dengan memecahkan piring karena ia tidak terbiasa melakukan hal-hal "kecil" seperti itu.
Rumah itu kini tidak lagi terasa seperti istana, melainkan seperti penjara bawah tanah yang sunyi. Arlan melempar dirinya ke sofa, menatap bayangannya di TV yang mati. Ia baru menyadari satu hal: selama ini bukan Kinara yang butuh Arlan untuk hidup mewah, tapi Arlan-lah yang butuh Kinara agar hidupnya tetap berjalan normal.
Namun, gengsi Arlan masih terlalu besar untuk mengakui bahwa ia mulai hancur tanpa wanita yang ia sebut "pengganggu" itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!