Indonesia
NovelToon NovelToon

Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai

1. Mati dan Kembali

Regan Saputra mendengar jantungnya berhenti untuk terakhir kali di lantai marmer kantornya yang sudah disita.

Dengung panjang memekakkan telinga. Napasnya putus. Dadanya seperti dihantam godam baja. Udara menolak masuk ke paru-parunya yang mendadak beku.

Kertas dokumen berhamburan. Surat penyitaan. Berita acara kebangkrutan. Bukti transfer fiktif yang meruntuhkan tiga dekade kerja kerasnya.

Ujung sepatu kulit mengkilap berhenti tepat di samping wajah Regan.

"Gimana rasanya jatuh, Re?"

Suara Dion Hartawan mengalun santai. Ujung pantofelnya menendang pelan bahu Regan, memastikan seberapa hancur pria tua di bawahnya.

"Perusahaan properti paling ditakuti se-Asia Tenggara, hancur dalam tiga hari." Dion berjongkok. Wajah liciknya menghalangi cahaya. "Vera juga udah tanda tangan surat cerai tadi pagi. Dia cabut bawa sisa aset tunai lo ke Swiss. Istri yang taat, kan?"

Darah terasa kebas di lidah Regan.

Dion, anjing jalanan yang dia besarkan. Vera, istri yang dia penuhi semua ambisi sosialnya. Mereka berkomplot menggorok lehernya.

Tapi anehnya, di detik napas terakhirnya, Regan tidak menangisi perusahaannya. Dia tidak memedulikan pengkhianatan bajingan di depannya. Pikirannya melayang bebas menembus waktu.

Satu wajah menyita seluruh ingatannya. Wajah perempuan yang menatapnya dengan senyum patah di peron stasiun tiga puluh tahun lalu. Perempuan yang dia tinggalkan sendirian di tengah hujan deras demi lobi investasi.

Nara.

Kalau saja dia memilih naik kereta malam itu.

Maafkan aku, Ra.

Pandangan Regan menggelap. Kehampaan menelan kesadarannya.

Panas menyengat wajahnya.

Regan terkesiap. Tubuhnya terlempar dari kasur tipis, menghantam lantai semen beralas tikar. Dia terbatuk keras. Debu dan bau menyengat obat nyamuk bakar menyerbu tenggorokan.

Dia mencengkeram dadanya. Jantungnya berdegup brutal, memompa darah dengan ritme sehat. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada lantai marmer dingin.

Regan menatap kedua tangannya. Jarinya lincah. Kulitnya kencang. Bekas luka operasi bypass di dadanya raib. Kaos katun kusamnya basah oleh peluh.

Kipas angin kecil berderit di sudut ruangan. Kaset pita Iwan Fals berserakan di atas meja kayu yang catnya terkelupas. Dari luar jendela, deru mesin bajaj dan sayup-sayup lagu Nike Ardilla bersahut-sahutan.

Ini kamar kontrakannya di Bendungan Hilir. Kamar yang dia tinggalkan puluhan tahun lalu.

Gedoran kasar di pintu depan menghancurkan lamunannya.

"Woi, Kusno! Keluar lo!"

Otak Regan memproses suara parau itu dalam sedetik. Bang Jali. Rentenir pasar impres yang dulu rutin meneror ayahnya.

Dulu, Regan yang berusia sembilan belas tahun hanya berani bersembunyi di balik pintu sambil gemetar, membiarkan ayahnya berlutut memohon perpanjangan waktu.

Sekarang?

Regan bangkit. Otot mudanya merespons sempurna. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya. Senyum predator yang sudah kenyang memanipulasi dewan direksi berdarah dingin.

Dia melangkah keluar kamar. Di ruang tamu sempit itu, Pak Kusno mematung ngeri di dekat pintu. Kemeja seragam buruh pabriknya lusuh.

Rasa sesak kembali menghantam dada Regan. Ayahnya masih hidup. Pria yang kelak mati muda karena stroke akibat tekanan utang dan kelelahan kerja di pabrik tekstil.

Kali ini… Regan akan pastikan Ayahnya tidak akan mati sebagai orang gagal.

"Bapak ke belakang aja," ucap Regan pelan. Suaranya datar, tapi memancarkan otoritas absolut.

Pak Kusno menoleh terkejut. "Regan? Jangan ikut campur. Biar Bapak..."

Regan menyentuh bahu ayahnya, menggesernya lembut ke belakang, lalu menarik gagang pintu lebar-lebar.

Jali berdiri pongah di teras. Kemeja flanelnya terbuka, memamerkan kalung emas imitasi. Dua cecunguk bersedekap garang di belakangnya. Asap kretek sengaja ditiupkan ke wajah Regan.

"Bapak lo mana? Ngumpet di ketek lo?" decak Jali, membuang ludah ke tanah.

Regan tidak berkedip menahan perih asap tembakau murahan itu. Dia menatap lurus pupil mata Jali. Tatapan yang menguliti mental lawan.

"Utang bapak gue lima ratus ribu jatuh tempo hari ini. Lo mau uangnya sekarang." Regan memotong basa-basi preman jalanan itu.

Jali mengangkat alis. Biasa melihat anak kampus ini menunduk ketakutan, sikap tenang Regan mendadak membuatnya goyah.

"Mana duitnya? Kalau nggak ada, gue angkut tipi sama motor butut bapak lo."

"Lo nggak akan sentuh barang apapun di sini." Regan bersandar santai di kusen pintu. Kedua tangannya masuk ke saku jeans. "Gue kasih penawaran yang jauh lebih mahal, Bang Jali."

Tawa Jali meledak, diikuti dua anak buahnya. "Lo mau nawarin apa? Ginjal?"

"Lapak pungutan lo di blok C." Regan melempar fakta itu seringan kapas. "Selasa minggu depan lapak itu bakal digusur paksa sama preman bayaran Koh Abeng."

Tawa Jali tercekik. Wajahnya kaku sekeras papan.

Itu rahasia tingkat tinggi di jalur bawah tanah. Bagaimana anak bau kencur ini tahu?

"Koh Abeng udah setor duit puluhan juta ke polisi setempat," lanjut Regan, artikulasinya tajam memaku kaki Jali. "Selasa jam dua pagi, alat berat masuk. Lapak lo rata sama aspal. Lo habis."

Dua anak buah Jali saling pandang panik.

Regan maju selangkah. Jaraknya hanya sejengkal dari wajah kotor Jali. "Gue tahu cara batalin penggusuran itu. Dan gue juga tahu lo diam-diam nyimpen separuh duit setoran anak buah lo di rekening istri muda lo di Cibinong. Benar?"

Darah tersedot habis dari wajah Jali. Dia pucat pasi.

"Anggap lunas utang bapak gue hari ini sebagai biaya konsultan." Regan menepuk dada Jali dua kali dengan telunjuknya. "Pilih. Lo hapus utang bapak gue sekarang, atau Selasa depan lo gembel di jalanan sambil nunggu bos besar lo tahu soal duit curian di Cibinong."

Jali bisu. Kalkulasi premannya berjalan cepat. Uang lima ratus ribu tidak ada artinya dibanding nyawanya di tangan bos besar.

"Lo berani nipu gue, rumah ini gue bakar habis," ancam Jali kasar. Dia berusaha mempertahankan harga dirinya di depan anak buah, tapi matanya gagal menyembunyikan ketakutan.

Dia memberi isyarat kepala, lalu bergegas pergi meninggalkan pekarangan.

Regan menutup pintu.

Pak Kusno menatap putranya seakan melihat orang asing. "Re... kamu ngomong apa tadi? Kok dia ketakutan?"

Senyum hangat terbit di wajah Regan. Dia menepuk bahu ayahnya pelan. "Cuma info dari teman kampus, Pak. Bapak nggak usah pikirin utang itu lagi. Regan yang urus semuanya buat keluarga kita mulai sekarang."

"Tapi uangnya..."

"Bapak siap-siap mandi gih. Nanti telat shift pabrik." Regan memandu ayahnya ke arah belakang.

Begitu ayahnya hilang dari pandangan, senyum Regan luntur. Matanya kembali dingin. Dia masuk ke kamar dan menutup pintu rapat.

Tangannya mengambil koran Suara Pembaruan usang di atas meja. Matanya menyapu tajam berita ekonomi di halaman depan.

Dia ingat semuanya. Empat tahun lagi, krisis moneter Asia akan menghancurkan negara ini. Rupiah akan hancur lebur. Konglomerat tua akan gantung diri, sementara mereka yang memegang aset yang tepat akan menjadi penguasa baru.

Dion saat ini masih mahasiswa kere yang menjilat senior. Vera masih sibuk menghamburkan uang ayahnya di kelab malam. Mereka belum jadi siapa-siapa. Debu yang belum terbentuk.

Regan melempar koran itu. Dia menarik laci kayu, mengambil buku catatan bersampul hitam. Jarinya menelusuri deretan nomor telepon acak, berhenti pada satu nama yang ditulis rapi dengan tinta biru.

Nara Wulandari.

021-xxxxxx.

Regan menatap nama itu lama.

Nara Wulandari.

Jarinya berhenti tepat di angka terakhir.

Ingatan itu menghantam lagi.

Peron stasiun. Hujan deras. Mata yang menunggunya… lalu perlahan berubah kecewa.

Regan menghembuskan napas pelan.

“Di kehidupan ini…” gumamnya lirih, “gue nggak akan telat lagi.”

Dia melangkah mendekati lemari pakaian tua dan menatap pantulan dirinya di kaca.

Ini bukan sekadar kesempatan mengulang hidup.

Dia akan merebut kembali kerajaannya dari nol. Dia akan membantai musuh-musuhnya di meja bisnis sebelum mereka sempat menumbuhkan taring.

Dan yang paling utama, dia akan memastikan Nara tidak pernah menangis sendirian di peron stasiun itu lagi.

2. Pagi Pertama

Bau mi instan dan keringat tetangga menyeruak dari celah pintu triplek itu.

Regan menarik ritsleting dompet kulit imitasi di saku belakang celananya. Isinya menyedihkan. Dua lembar lima ribuan kusam, satu lembar seribu, dan beberapa keping koin ratusan perak bergambar gunungan wayang. Total dua belas ribu rupiah.

Di selipan plastik transparan, selembar KTP laminating tebal memampang wajah remajanya. Tahun cetak: 1993.

Ini nyata. Bukan halusinasi menjelang ajal. Dia benar-benar kembali.

Derit engsel karatan memecah keheningan. Pak Kusno keluar kamar mengenakan celana kain bahan yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu kusam. Sepatu pantofel di kakinya sudah direkatkan lem aibon berkali-kali di bagian sol.

"Bapak berangkat dulu, Re," pamit Pak Kusno sambil mengancingkan kerah seragam pabriknya. Dia tidak menatap langsung mata anaknya, masih ada sisa kecemasan soal insiden rentenir tadi. "Kamu jangan bolos kuliah. Biar Bapak yang pusing cari duit."

"Hati-hati di jalan, Pak," balas Regan pelan.

Dia menatap punggung bungkuk ayahnya menghilang di balik lorong sempit kontrakan. Jeda sejenak. Regan menarik napas panjang, mengisi paru-paru mudanya dengan udara pengap Jakarta. Rasa sesak di dadanya perlahan menguap. Digantikan oleh ambisi dingin yang mendarah daging.

Di kehidupan sebelumnya, dia butuh waktu sepuluh tahun berdarah-darah untuk mengangkat ayahnya dari kemiskinan. Dan itu sudah terlambat karena penyakit stroke lebih dulu merenggut nyawa pria tua itu.

Kali ini? Dia beri waktu dirinya sendiri maksimal satu bulan.

Regan melangkah keluar dari pekarangan. Matahari pagi menyengat kulit lehernya. Suara klakson bajaj dan teriakan tukang sayur keliling memekakkan telinga.

Langkahnya terhenti tepat di mulut gang.

Bu Ratna, sang ibu kos, berdiri berkacak pinggang memblokir jalan. Daster batiknya ketat mencetak tubuh. Rambutnya dirol besar. Di sebelahnya, anak laki-lakinya yang seumuran Regan, Tomi, menyeringai meremehkan sambil memutar-mutar kunci motor Astrea Grand di jari telunjuknya.

"Nah, ini dia anak si Kusno," cibir Bu Ratna keras. Sengaja memancing perhatian ibu-ibu tetangga yang sedang berkerumun memilih sayur. "Bapakmu sudah berangkat? Utang kontrakan bulan lalu kapan lunasnya? Jangan pura-pura lupa ya, Re."

Tomi tertawa sumbang. "Maklum, Mak. Orang miskin kan ingatannya pendek. Kalau buat bayar SPP kampus aja bapaknya ngutang sana-sini sampai ngemis ke rentenir."

Regan menatap ibu dan anak itu datar. Tidak ada amarah. Tidak ada emosi murahan. Hanya kalkulasi presisi di balik pupil matanya yang tenang.

Dia ingat betul keluarga parasit ini. Tiga tahun dari sekarang, suami Bu Ratna kabur ke luar Jawa membawa sertifikat tanah kontrakan ini, meninggalkan utang judi puluhan juta. Kontrakan disita bank. Bu Ratna dan Tomi berakhir menggelandang di jalanan, sering mencegat mahasiswa untuk mengemis.

Regan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Batas waktu bayar sewa kontrakan tanggal dua puluh, Bu Ratna. Ini baru tanggal empat belas."

"Pret! Tanggal dua puluh juga ujung-ujungnya bapak lo ngemis minta mundur sebulan lagi!" Bu Ratna melotot maju. "Mending lo suruh bapak lo cari pinjaman sekarang. Kalau nggak, minggu depan barang-barang rongsok kalian gue lempar ke got!"

"Bener tuh," timpal Tomi tengil. "Lo kan pinter masuk kampus bagus, Re. Masa cari duit receh aja nggak bisa?"

Regan maju satu langkah. Gesturnya sangat rileks, tapi matanya menajam. Aura dominan predator bisnis yang terbiasa menghancurkan nyali direktur bank sentral seketika menguar menekan udara di sekitar mereka.

Tomi reflek mundur setengah langkah. Bulu kuduknya meremang tanpa alasan jelas.

"Uang sewanya pasti lunas sebelum tanggal dua puluh," suara Regan berat, mengalun pelan namun membelah kebisingan gang. "Tapi sebelum Ibu sibuk ngurusin recehan bapak gue, mending Ibu cek sertifikat tanah kontrakan ini di lemari kayu jati kamar Ibu."

Wajah Bu Ratna berkerut bingung. "Maksud lo apa bawa-bawa sertifikat tanah gue?!"

"Pak RT lihat suami Ibu masuk ke kantor pegadaian gelap di Pasar Minggu dua hari lalu. Bawa map hijau isi dokumen." Regan memiringkan kepalanya sedikit. Menatap lurus tepat ke ulu hati mental wanita itu. "Coba cek sekarang. Sertifikatnya masih ada di bawah tumpukan baju, atau udah pindah tangan buat nutupin utang judi bola suami Ibu?"

Darah seketika turun drastis dari wajah Bu Ratna. Pucat pasi. Bibir bergincu merahnya gemetar. Tomi mematung kaku, kunci motor di tangannya jatuh bergemerincing ke aspal.

Itu tebakan yang teramat presisi. Di masa lalu, gosip gadai sertifikat ini baru meledak dan jadi skandal bulan depan. Regan hanya memajukan timeline kehancuran mereka hari ini.

"L-lo jangan sembarangan nuduh ya!" suara Bu Ratna sumbang. Taringnya patah seketika. Kepanikannya telanjang di depan tatapan para tetangga.

"Silakan cek sendiri," balas Regan dingin. "Dan satu lagi. Jangan pernah potong jalan gue, atau berani bentak bapak gue lagi."

Tanpa menunggu balasan, Regan berjalan melewati mereka berdua. Tomi bahkan menyingkir otomatis, memundurkan kakinya seakan baru saja diancam oleh algojo.

Regan terus berjalan menuju jalan raya aspal yang mengepulkan uap panas. Dia menyetop metromini berasap tebal jurusan Blok M. Melompat naik dengan lincah, dia memilih duduk di pojok paling belakang.

Bau keringat kuli panggul, asap knalpot, dan wangi minyak nyong-nyong menyerang indranya. Regan mengabaikan semua itu. Otaknya bekerja cepat, menyusun ribuan kemungkinan di papan caturnya.

Dua belas ribu rupiah.

Dia butuh ratusan juta dalam dua minggu. Menunggu krisis moneter 1998 datang masih terlalu lama. Dia butuh pijakan kapital raksasa sekarang. Tanpa modal. Tanpa koneksi.

Matanya menatap kosong ke arah deretan ruko yang berkelebat di balik jendela kaca kusam metromini. Ingatannya memindai paksa peta Jakarta tahun 1993.

Sudirman.

Ada satu lahan sengketa seluas dua hektar di jalan utama Sudirman. Lahan itu saat ini milik Haryanto, pengusaha tua yang sedang di ambang kebangkrutan parah. Lahannya dibiarkan terbengkalai, dipenuhi alang-alang liar, terbelit sengketa hukum fiktif, dan sengaja dijatuhkan harganya oleh mafia tanah.

Kali ini, Regan yang akan memotong jalurnya. Dia akan merampas lahan itu.

Tapi bagaimana caranya mengambil alih tanah senilai miliaran rupiah dengan modal dua belas ribu di dompet?

Regan tersenyum miring. Garis wajahnya mengeras licik.

Di dunia bisnis, uang tunai bukan satu-satunya mata uang. Informasi adalah senjata pemusnah massal. Dan dia memiliki memori tiga puluh tahun masa depan di kepalanya. Dia tahu persis aib memalukan sang direktur bank pemegang agunan itu. Sebuah skandal perselingkuhan dengan penyanyi dangdut ibu kota yang baru akan bocor ke media lima tahun lagi.

Regan tidak butuh uang miliaran untuk menebus tanah itu. Dia hanya butuh satu amplop cokelat berisi ancaman yang tepat.

Metromini mengerem mendadak di depan gerbang utama kampus. Kondektur berteriak menyuruh penumpang turun. Regan melompat turun ke trotoar berdebu.

Hiruk-pikuk ribuan mahasiswa memenuhi pelataran. Jaket almamater warna-warni berlalu-lalang. Bau parfum melati murahan bercampur aroma gorengan dari kantin tumpah ruah di udara.

Regan berjalan menyusuri koridor Fakultas Ekonomi. Nostalgia ini sama sekali tidak membuatnya cengeng atau melankolis. Kampus ini murni menjadi arena perburuannya sekarang. Titik nol kebangkitannya.

Dia berencana mampir ke perpustakaan pusat untuk mengecek arsip koran soal status hukum lahan Haryanto di Sudirman, memvalidasi ingatannya sebelum langsung bergerak mengeksekusi direktur bank tersebut.

Langkahnya mantap. Rencananya solid. Fokusnya tajam bagai pisau bedah.

Sampai sebuah suara memotong fokusnya dari jarak sepuluh meter.

"Gue bilang nggak, ya nggak. Lo nggak ngerti bahasa Indonesia, Kak?"

Suara itu.

Langkah kaki Regan berhenti mendadak. Sol sepatunya berdecit tertahan di lantai semen. Jantung yang sedari tadi berdetak tenang dengan ritme presisi, kini memompa darah secara brutal ke ubun-ubunnya.

Seluruh suara bising mahasiswa di koridor kampus seakan disedot paksa ke dalam ruang hampa. Senyap.

Dia menoleh perlahan ke arah sumber suara.

Di bawah rimbunnya pohon beringin tua dekat mading fakultas, seorang perempuan berdiri tegak. Rambut hitam sebahunya diikat asal menggunakan karet gelang. Kemeja flanel kebesarannya sama sekali tidak menyembunyikan postur tubuhnya yang menantang bahaya.

Dia sedang berhadapan dengan seorang senior kampus berjaket himpunan tebal yang memegang sebuket bunga mawar layu.

"Ra, gue cuma minta waktu lo sebentar buat ngobrol. Lo nggak usah sekeras ini..." rayu senior itu gigih. Tangannya mencoba meraih lengan perempuan tersebut.

"Jangan sentuh gue," potong perempuan itu tajam. Dia mundur satu langkah cepat. Tatapannya sangat dingin, tidak ada sedikit pun ketakutan di matanya melihat senior yang terkenal punya nama besar di kampus. "Bunga lo mending kasih ke kambing di belakang rektorat. Gue sibuk."

Regan menelan ludah. Kerongkongannya mendadak seringkih kaca.

Tiga puluh tahun.

Dia hidup dengan bayang-bayang penyesalan paling menyiksa selama tiga dekade berturut-turut. Dia membangun kekayaan raksasa, menaklukkan bursa saham, menghancurkan musuh-musuhnya, hanya untuk mati sendirian di lantai dingin. Merutuki kebodohan terbesarnya melepaskan perempuan ini demi ego dan kekuasaan.

Dan sekarang, perempuan itu berdiri di sana. Jaraknya hanya sepuluh langkah.

Hidup. Bernapas. Keras kepala seperti biasa. Tidak mau tunduk pada siapapun.

Nara.

Kedua tangan Regan mengepal kuat di sisi tubuhnya. Kuku-kukunya menancap di telapak tangan.

Kali ini, tidak akan ada kereta yang dia lewatkan di tengah hujan deras. Tidak akan ada ambisi buta yang menggeser posisi perempuan itu dari prioritas utamanya.

Nara berbalik tegas, meninggalkan seniornya yang mengumpat tertahan menahan malu di depan mading. Perempuan itu melangkah cepat melintasi koridor, arah berjalannya berpotongan lurus dengan posisi Regan yang masih mematung.

Waktu melambat.

Regan menatap rakus setiap inci wajah itu. Garis rahangnya yang tegas. Hidung bangirnya. Dan mata cokelatnya yang menyala oleh prinsip. Ini bukan imajinasi konyol. Ini takdir yang akhirnya memberinya kesempatan kedua.

3. Tanah Murah di Sudirman

Papan 'DIJUAL' itu miring ditiup angin, cat merahnya sudah pudar.

Regan berdiri di trotoar retak Jalan Sudirman. Matahari Jakarta tahun 1993 memanggang ubun-ubunnya tanpa ampun. Asap knalpot hitam dari laju metromini mengepul tebal, menyisakan bau solar kotor di udara siang yang mencekik.

Di balik pagar seng karatan di depannya, terhampar lahan kosong seluas dua hektar. Dipenuhi alang-alang liar setinggi dada dan tumpukan puing beton. Tempat jin buang anak. Begitu orang-orang sekitar menyebutnya sekarang.

Tapi di mata tajam Regan, ini adalah emas murni. Sepuluh tahun dari sekarang, di atas tanah rawa berbau busuk inilah berdiri fondasi Sudirman Central Business District (SCBD). Jantung perputaran triliunan rupiah milik para naga ekonomi Asia.

Dan Regan akan merampas jantung itu siang ini.

Napasnya masih terasa sedikit berat. Bukan karena panas aspal yang membakar sol sepatunya, melainkan sisa letupan adrenalin dua jam lalu di koridor Fakultas Ekonomi.

Pertemuannya dengan Nara.

Nara berjalan cepat ke arahnya. Kemeja flanel kebesaran itu berkibar. Regan tidak menghindar satu sentimeter pun. Dia sengaja membiarkan jarak di antara mereka terkikis habis.

"Minggir," desis Nara tajam.

Matanya menatap Regan penuh kewaspadaan. Gadis itu baru saja menolak mentah-mentah rayuan senior paling berkuasa di kampus, tapi nyalinya sama sekali tidak ciut berhadapan dengan Regan yang memblokir jalannya.

Regan menatap iris mata cokelat terang itu. Ada dorongan purba di dadanya untuk menarik Nara ke dalam pelukan. Merasakan detak jantung perempuan itu. Memastikan wangi sabun mandi murah bercampur keringat ini bukan ilusi sebelum ajal.

Tapi otak predatornya mengambil kendali sempurna. Terlalu cepat. Bertindak gegabah hanya akan membuat Nara menjauhinya.

Dia menggeser bahunya sedikit, memberi jalan sempit. Tapi tepat sebelum bahu mereka bersinggungan, Regan bersuara rendah.

"Buku Akuntansi Pengantar edisi empat yang lo pegang itu. Bab tujuh halamannya kosong."

Langkah Nara terhenti seketika. Kepalanya menoleh cepat. Keningnya berkerut dalam. "Lo ngomong apa?"

"Cek sendiri."

Nara membuka buku tebal di dekapannya. Membalik halamannya beringas. Jarinya berhenti di halaman 150. Kosong melompong tanpa cetakan teks. Cacat pabrik.

"Besok lo ada kuis dadakan sama Pak Hermawan. Bab tujuh masuk porsi nilai paling gede." Regan menatap lurus ke arahnya. Ekspresinya datar tak terbaca. "Pinjam buku anak kelas B. Jangan nekat belajar dari catatan pinggir doang."

Nara menutup bukunya dengan bantingan keras. "Tahu dari mana lo gue mau kuis?"

"Gue tahu banyak hal, Ra."

"Nggak usah sok akrab panggil gue Ra." Nara maju selangkah. Dagu terangkat menantang konfrontasi. "Lo temannya Kak Dion? Disuruh caper biar gue mau ngobrol sama dia?"

Regan tersenyum miring. Dion. Bajingan kecil itu rupanya sudah mulai menebar jaring di sekitar Nara.

"Dion itu parasit," balas Regan tenang. Sangat tenang hingga membuat Nara tanpa sadar menahan napas sejenak. "Gue cuma kasih tahu soal buku lo. Sisanya urusan lo."

Tanpa menunggu balasan lagi, Regan memutar tubuh dan melangkah menjauh. Membiarkan Nara mematung dengan sejuta teka-teki di kepalanya.

Itu langkah pertama. Tanamkan rasa penasaran. Regan tidak akan memburu perempuan itu layaknya pemabuk kelaparan. Dia akan menjadi gravitasi absolut yang menarik Nara secara alami. Dan untuk menjadi gravitasi, dia butuh massa. Dia butuh kapital besar secepatnya.

Regan mengusap pergelangan tangan kirinya yang kosong dari ingatan.

Satu jam setelah meninggalkan kampus, dia mampir ke sebuah pegadaian gelap di lorong Pasar Rumput. Dia menyerahkan satu-satunya barang mewah di rumah kontrakannya. Jam tangan mekanik Seiko 5 milik ayahnya.

"Dua ratus ribu. Ambil atau cari tempat lain," dengus si penjaga pegadaian tua dari balik terali besi berkarat.

Regan mengambil uang kusam itu tanpa protes.

"Maaf, Pak. Regan pinjam sebentar. Bulan depan Regan ganti pakai Rolex edisi terbatas," janjinya dalam hati.

Uang dua ratus ribu itu kini terselip rapi di saku celana jeansnya. Uang receh yang sama sekali tidak ada artinya dalam hitungan korporat, tapi cukup tajam jika digunakan sebagai pisau bedah di meja negosiasi yang tepat.

Hanya saja, uang itu tidak akan cukup menutup biaya legalitas notaris gelap kenalannya esok hari. Malam nanti, dia butuh suntikan dana operasional kilat. Dia butuh uang tunai harian. Pekerjaan kasar di Pelabuhan Tanjung Priok sepertinya tidak bisa dia hindari malam ini. Pekerjaan tanpa KTP, dibayar langsung di bawah lampu jalan.

Tapi sebelum memeras keringat di pelabuhan malam nanti, dia harus memancing mangsa terbesarnya siang ini.

Regan melangkah santai melewati celah pagar seng Sudirman.

Sebuah bedeng kayu proyek mangkrak berdiri menyedihkan di sudut lahan. Pintunya terbuka separuh. Suara bantingan gagang telepon terdengar keras dari dalam, disusul rantaian umpatan kasar bernada putus asa.

Regan menendang pintu triplek itu hingga terbuka lebar.

Ruangan itu pengap parah. Kipas angin di langit-langit berputar lambat, hanya mengaduk asap rokok kretek tanpa mendinginkan suhu. Kertas dokumen berserakan tak karuan di atas meja, di lantai semen, bahkan di atas dudukan sofa sobek.

Di balik meja kerja berbahan serbuk kayu, duduk Haryanto. Pemilik sah lahan ini. Pria tambun berusia lima puluhan itu memakai kemeja safari yang basah kuyup oleh keringat. Kantung matanya hitam legam. Dia terlihat persis seperti babi yang sedang menunggu giliran potong di rumah jagal.

Haryanto mendongak tajam. Menatap Regan dari atas ke bawah. Kaos oblong kusam. Celana jeans pudar. Sepatu kanvas murahan hasil jahitan ulang.

"Siapa kamu?! OB proyek sebelah? Minta sumbangan tujuh belasan?!" bentak Haryanto kasar. Emosinya sedang meledak. "Keluar! Saya nggak ada uang receh buat gembel!"

Regan tidak bereaksi. Dia terus melangkah mendekat. Menarik satu-satunya kursi plastik murah di depan meja Haryanto, lalu mendaratkan tubuhnya di sana tanpa dipersilakan. Gesturnya menguasai ruangan mutlak.

Dia merogoh saku. Mengeluarkan gulungan uang dua ratus ribu hasil gadai. Meletakkannya perlahan di atas tumpukan dokumen berdebu.

"Ini uang muka untuk beli waktu Bapak. Sepuluh menit," suara Regan berat, stabil, dan jernih membelah kepanikan ruangan.

Haryanto tertegun. Pandangannya bergantian menatap uang lusuh itu dan wajah tenang Regan. Sedetik kemudian, tawa sumbang meledak dari tenggorokan pria tambun itu. Tawa meremehkan yang sarat akan stres akut.

"Bocah ingusan. Kamu kira dua ratus ribu perak bisa beli waktu saya?" Haryanto menggebrak meja keras. Cangkir kopinya nyaris tumpah. "Tanah ini harganya miliaran! Kamu mau beli tanah saya pakai uang jajan?! Keluar sebelum saya teriaki satpam depan!"

Regan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya bertumpu santai di atas paha. Matanya mengunci iris kemerahan Haryanto tanpa berkedip.

"Dua hektar di koridor utama Sudirman. Status legalitasnya sekarang ditahan Bank Mega Buana karena kredit perumahan Bapak macet total selama delapan bulan." Regan menumpahkan rentetan fakta itu tanpa nada naik turun. "Hari Jumat ini. Jam dua siang tepat. Bank akan menerbitkan surat eksekusi sita jaminan secara resmi."

Tawa Haryanto tercekik di tenggorokan. Tangannya yang masih bertumpu di atas meja mendadak kaku.

"D-dari mana kamu tahu detail itu?" Suara Haryanto turun drastis. Itu rahasia internal perusahaan tingkat tinggi yang sedang mati-matian dia tutup dari incaran wartawan bisnis.

"Dan Bapak tahu kenapa direktur bank tiba-tiba menolak permohonan restrukturisasi utang Bapak minggu lalu?" Regan memiringkan kepalanya sedikit. Auranya mendadak berubah mematikan. Pemangsa tulen telah mengambil alih tempo pembicaraan. "Karena direktur itu sudah terima koper berisi uang tunai dari mafia tanah Mangga Dua yang mau caplok lahan ini lewat lelang tertutup jumat besok."

Bibir Haryanto gemetar.

"Mereka sengaja hancurkan likuiditas Bapak supaya bisa ambil lahan dua hektar ini cuma seharga tiga ratus juta rupiah. Benar?"

Wajah Haryanto berubah pucat pasi. Seolah seluruh pasokan darah ditarik paksa dari pori-porinya. Keringat dingin meluncur deras di pelipis. Napasnya memburu cepat.

Skenario busuk itu... bahkan pengacara pribadinya pun baru menyadari gelagat aneh pihak bank semalam suntuk! Bagaimana anak jalanan ini tahu nominal suap dan aktor di baliknya?

"Siapa kamu sebenarnya?!" Haryanto berdiri tiba-tiba, menendang kursinya ke belakang hingga berderit nyaring. Matanya melotot penuh teror. Bocah berpakaian gembel di depannya ini tiba-tiba bermetamorfosis menjadi malaikat maut.

"Saya orang yang punya kunci cadangan brankas rahasia di apartemen Cempaka Mas." Regan menyebutkan satu detail spesifik yang menghancurkan sisa kewarasan Haryanto. "Tempat direktur bank itu menyembunyikan buku tabungan fiktif. Hasil penggelapan dana nasabah yang dia pakai buat membiayai gaya hidup penyanyi dangdut simpanannya."

Kaki Haryanto kehilangan tenaga. Pria tambun itu jatuh terduduk keras membentur kursi. Otaknya nyaris meledak memproses informasi sekelas bom waktu ini.

"Besok pagi, saya akan paksa direktur itu mundur dari kasus penyitaan ini dan beri Bapak napas buatan enam bulan penuh," lanjut Regan dengan nada seringan orang memesan kopi. Dia membiarkan fakta itu meresap perlahan. "Tapi saya nggak tertarik kerja bakti sosial."

"A-apa... apa yang kamu mau?" Haryanto tergagap hebat. Ego keangkuhannya sebagai pengusaha senior menguap tak bersisa dikuliti anak belasan tahun.

Regan merogoh saku bagian dalam jaketnya. Mengeluarkan sebuah dokumen di dalam amplop cokelat bersih. Dia menaruhnya di atas meja. Menggesernya perlahan menggunakan dua jari telunjuk ke arah Haryanto.

Itu adalah proposal bisnis kasar yang dia tulis tangan subuh tadi. Sebuah rancangan cetak biru perputaran uang yang melampaui zaman.

"Hak eksklusif pengelolaan penuh tanah ini. Kita bikin perusahaan patungan." Regan menunjuk amplop itu. "Saya yang akan bangun mega proyek di atasnya."

Haryanto menatap amplop itu lama. Terombang-ambing antara harapan keselamatan dan kewarasan logika. Dia melihat penampilan Regan lagi. Kaos oblong. Sepatu kanvas sobek. Bau keringat matahari jalanan.

Rasa gengsi yang salah tempat tiba-tiba menguasai sisa otak Haryanto. Pria itu tertawa hambar. Tertawa histeris membuang sisa napasnya.

"Kamu gila. Kamu mau bangun gedung bertingkat pakai apa?! Daun pisang?!" Haryanto menepis udara dengan tangannya. "Kamu kira urus izin, desain arsitektur, dan memanggil investor asing itu semurah beli permen?! Ngimpi!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!