...*💘*...
Siapa yang tidak kenal dengan sekolah megah yang berdiri luas di tanah Jakarta, yang terkenal panas dan penuh dengan kemacetan. Tapi berkembangnya sebuah kota tidak luput dari reputasinya, karena Jakarta juga adalah kota nomer satu di Indonesia. Yang di mana kota itu banyak penduduk luar kota mencari nafkah di sana. Tapi untuk sekolahnya juga banyak terkenal, tapi hanya ada satu sekolah yang berdiri dengan bangunan retro tapi moderen di jalan Pangapura yakni SMA Bhakti Darma SMA itu adalah sekolah terbaik versi majalah SMA, juga sangat terkenal karena kedisplinan. Bahkan rumornya hanya orang kaya yang bisa masuk SMA itu.
Dan untuk seorang gadis yang bernama Something itu hal mudah. Ia sekolah di sana karena papanya punya jalinan bisnis dengan pemilik sekolah itu. Dia adalah anak dari pengusaha terpandang. Hanya siswi yang terbiasa hidup kaya. Karena orang tuanya memang selalu memanjakannya dengan uang. Tapi tidak apa - apa Some nama panggilannya menyukai itu semua.
Hidup dalam kelimpahan uang membuatnya berpikir terlalu sayang kalau uangnya tidak digunakan. Lagi pula ia adalah tipikal cewek masa kini yang suka make up dan pakaian. Dirinya dengan sukarela merawat kecantikannya supaya tetap terlihat good looking.
Some anak yang terkenal modis itu tentu saja menetap di rumah kawasan elit bersama keluarga yang menurut Some biasa saja -bahkan adorable. Ia punya adik, jadi mungkin rumah itu tidak sepi juga. Tapi setiap rumah punya kelebihan dan kekuranganya masing - masing. Terutama bagi adiknya yang memang kadang kala mengganggu aktivitas Some. Bagi adiknya Some yang terlihat penyendiri. Bahkan mereka menyebutnya putri di dalam kamar.
Ada dua pembantu yang bertugas mempersiapkan segala kebutuhan keluarga. Mereka sangat baik, tapi terkadang menuntut ketika mama dan papa di luar kota. Untuk Some anak pertama, mereka lebih suka menuruti gadis 16 tahun itu. Danu mereka lebih suka menyapa dan menuruti keinginannya. Katanya anak orang kaya lebih manja dari anak - anak mereka di kampung.
Cerita kita hanya akan berlanju pada gadis yang sedang tertidur terlentang di sofa itu. Di pagi hari ini ia tidak sekolah merasa tidak tertarik dengan sekolahnya, jadi ia memutuskan untuk ngemil di sofa sambil selonjoran nonton drama kesukaannya. Bahkan saking fokusnya telinganya hanya terpasang pada cowok yang ada di layar televisi, karena dia mau nembak cewek. Terdengar suara pintu utama di buka, fokus Some beralih pada cowok empat belas tahun yang baru datang.
"Kenapa kamu udah pulang?" tanya Some sedikit kesal melihat raut cemberut yang dilakukan Ranu ketika ia duduk di sebelah Some. Cowok itu datang ke rumah masih menggunakan seragam SMP, jadi ceritanya ia juga ikutan bolos kayak kakaknya yang pemalas kalau dibandingkan anak komplek lainnya.
"Aku tuh pokoknya nggak tahu deh, males," balas Ranu sambil melipat kedua tangannya di dada, tidak mau menanggapi sang kakak bicara.
"Jadi kamu males sekolah, ngapain juga ke rumah sana balik lagi aja lagi istirahat kan," kata Some ketika melihat adiknya yang sepertinya memberengut dan merasa kesal sendiri. Yang jelas pasti berasal dari sekolahnya.
"Ngapain sih kak orang aku udah ada di sini, aku udah capek ya ke sekolah," kata Ranu sambil membuka sepatu dan kaos kakinya lalu menjinjingnya seolah mau beranjak dari sana.
"Emang loe udah di bolehkan pulang sama guru?" tanya Some kepo.
"Orang sekolah udah bubar kok, tapi kalau kakak ke sana masih rame karena Ranu cukup mempercepat waktu pembubaran aja kok kak. Jadi pulang duluan," ujar Ranu menjelaskan yang membuat Some ber-oh saja.
"Bagus deh kalau loe nggak bolos jangan ikutan kakak loe ini, juga nggak sekolah karena sakit ya," ucap Some sambil melihat layar televisi lagi. Ia merasa bersyukur kalau adiknya ternyata nggak seburuk itu, bahkan mungkin Some harus lebih sering sekolah takut jadwal datang ke sekolahnya terkalahkan oleh sang adik.
"Jadi kakak sakit ya udah gws ya, gue mau ke kamar dulu," ucap Ranu sambil berdiri dan melangkahkan kaki menuju tangga. Ia lalu meninggalkan Some ke kamarnya. Membuat Some hanya menggelengkan kepala. Lucu juga punya adik jadi punya orang yang bisa di ajak ngatur datang ke sekolah.
Sebenarnya papa dan mama itu sama - sama orang pintar dan berprestasi dulu di sekolah. Jadi mereka punya anak random gitu merasa ada yang kurang. Tapi kasih sayang mereka terhadap anak - anaknya tidak pernah berkurang. Sekalian pun Ranu dan Some sama saja, masih masuk sepuluh besar saja syukur. Apalagi sekolah di sekolah unggulan kebanggaan kedua orangtuanya pun masih beruntung.
...*💘*...
Some melihat pantulan dirinya di kaca, terlihat gadis kecil yang cantik sedang cemberut. Tadi adiknya memintanya untuk mengantar ke sekolah, yang katanya di panggil sama guru bk. Dan Some sebagai wali harus ikut. Meskipun dirinya ogah - ogahan tapi ia merasa senang karena akhirnya bisa bertemu dengan gurunya dulu. Yang lumayan dekat dengannya ketika menempuh pendidikan SMP. Gurunya itu adalah Pak Rahman seorang dokter juga. Tapi mungkin karena Some yang sibuk SMA jadi ia jarang ketemu dengan guru kesayangannya itu.
Some akhirnya memasangkan jepit pita berwarna biru gelap di rambut panjangnya yang terurai. Rambut itu begitu panjang sampai sepinggangnya, dan berwarna hitam. Rambutnya itu lurus dan rapih, seperti sering ke salon atau mungkin sering perawatan rambut. Karena jujur Some adalah orang yang suka dengan jenis sampo dan perawatan ke dokter setiap bulan.
Dan wajar saja karena Some adalah anak seorang pengusaha. Jadi bagi mereka yang mengenal Some di wilayah tempat mereka, Some adalah cewek sosialita yang super royal untuk ukuran remaja. Bahkan terkesan berlebihan, tapi tenang saja karena watak Some yang baik hati juga nggak pernah membedakan mana orang kaya dan orang miskin Some tidak dijauhi. Cenderung disukai.
"Aduh Some belum beres juga?" tiba - tiba Ranu datang dengan tampang bete dan masuk begitu saja ke kamar Some. Some melihat Ranu dengan wajah bete juga, ketika tahu kalau adiknya selalu merasa kesal dengan tingkahnya ini.
"Belum lah Ran, kamu pikir bedak kakak ini udah di lapis apa. Bedak kakak nggak mungkin natural kalau cuma satu lapis, dan lagian kakak cuma pake jepit aja kok," balas Some membela diri seperti biasa.
"Cuma pake jepit segede itu kok lama banget, Ranu udah nungguin kakak lime belas menit lho cuma mau pake jepit," ucap Ranu sambil melipat tangannya di dada. Kesal sendiri dengan tingkah kakaknya ini, apalagi guru bk yang minta ke sekolah sekarang. Mau apa sih guru bk itu, pikir Ranu.
"Jepit siapa yang gede, ini nggak gede Ranu, ini tuh wajar di pake cewek tahu," kesal Some sambil melihat jepit yang bertengger di atas rambutnya. Emang terkesan lugu sih.
"Yah terserah kakak deh, lagian mau pake jepit mana pun kakak aku selalu cantik. Yuk kita pergi udah hampir sore, nanti kemaleman," ucap Ranu dengan dewasa bahkan Some juga sangat heran kenapa Ranu seperti ini. Biasnya dia manja banget, kalau mau beli buku novel kesukaannya itu.
"Yuk!" balas semangat Some sambil membalikan badannya menghadap Ranu. Wajah cantik dan tubuhnya yang feminim membuat Some terlihat begitu menawan, mungkin ketika ia berhadapan dengan pria komplek di luar sana. Ranu hanya akan merasa risih saja. Tapi ia tetap mengulurkan tangannya untuk menarik kakaknya itu ke mobil. Dan ketika Some menerima uluran tangan itu, Some memekik karena dengan cepatnya sang adik menariknya ke mobil.
"Aww, Ranu kamu bisa nggak sih nggak sekencang itu narik tangan kakak loe," komentar Some dan Ranu bukannya tidak mau mendengar ia hanya merasa kesal dengan tingkah guru bk itu. Jadi ia bersikap cuek bebek.
...*💘*...
...*💘*...
Sekolah yang bernama lengkap SMP Bina Bhakti 1 adalah sekolah yang luar biasa sederhana, hanya saja kualitas SMP ini di junjung elit karena pemiliknya merupakan orang terpandang di Jakarta. Siapa lagi kalau bukan ayah dari Some dan Ranu, dan ayah mereka sama sekali tidak memedulikan itu karena perusahaannya memang nomer satu. Some melihat dengan langsung bangunan sekolah yang saat ini ada di hadapannya, ia sedang berpijak di lapangan yaitu tempat dimana Ranu memarkirkan mobil. Mungkin karena mereka hanya berkunjung sebentar jadi Ranu memutuskan untuk memarkirkan di lapang. Dalam hati Some begitu rindu dengan sekolah ini.
"Kenapa kak kok lihat bangunannya gitu, kakak lupa ya kalau ini sekolah punya kita," ucap Ranu menyadarkan Some yang masih betah melihat bangunan sekolah itu.
"Enggak Ran, kakak udah lama nggak kesini jadi kangen. Sih, tapi nggak juga," jawab Some sedikit malu. Karena ketahuan sudah memerhatikan sekolah Ranu, nanti Ranu mikirnya kakaknya mau balik SMP lagi.
"Kakak nggak mikir aneh kan, pasalnya udah dua tahun kakak nggak sekolah di sini. Well kalau dihitung segitu ya," ucap Ranu sambil memegang dagunya. Ia ingat waktu kakaknya SMP ia sempat punya tragedi, dimana kakaknya itu di tolak sama cowok idolanya di SMP ini.
"Ngapain juga mikirin aneh, kakak udah lupa pernah sekolah di sini. Sibuk sama SMA yang pokoknya harus di lewati dengan lebih indah," jawab Some dengan sarkas. Ia merasa malu dan entahnya semua kenangannya di SMP ini hanya akan membuatnya merasa rendah diri.
"Ihs kakak ini, aku juga pengen tahu seberapa serunya waktu SMP kakak. Kan aku baru kelas empat SD pas kakak sekolah di sini, sedikit sharing dong," ucap Ranu sambil menggeleng. Niatnya memang menggoda, tapi ia juga tidak mau menyakiti kakaknya. Hanya saja rasa kepo nya emang berlebihan mengingat kakaknya cukup di kenal oleh teman - temannya. Dan hanya Some yang tahu alasannya.
"Kakak sekolah di sini sebagai siswi biasa, kamu tahu sendiri kakak nggak populer, kakak bukan anggota organisasi. Dan kakak juga nggak centil apa," jawab Some cuek. Ia tidak menutupi fakta apa - apa, dan ia emang cewek yang biasa saja. Selain penampilannya yang emang girly gitu.
"Tapi kan teman - teman aku pada tahu kakak, ya kali kakak pacaran sama siapa gitu," ucap Ranu sambil cemberut.
"Jadi kamu pikir bapak kamu yang juga pemilik sekolah ini membolehkan anak gadis pertamanya ini pacaran. Jadi kamu pikir kakak bisa pacaran di sekolahnya," jawab Some sambil melipat kedua tangannya di dada dengan jengkel. Harusnya kelakuan Ranu yang pantas disalahkan karena dia kabur dan dipanggil ke sekolah. Sekarang malah membahas tentang Some dan kisah cintanya. Ia kan hanya punya kisah cinta yang secuil, dihitung 25% ya.
"Ya nggak boleh sih, tapi larangan papa nggak sampai segitunya juga kali ka. Kakak masih bisa melanggar dikit, Ranu jadi curiga, jangan - jangan.." kata Ranu masih berpikir, ia melihat Some dengan tatapan kecil yang juga sekaligus menggoda. Some langsung menarik tangan anak itu ke dalam sekolah. Setidaknya tidak terus berdiri di pinggir mobil.
"Ayok," ajak Some untuk menemui guru yang memanggil Ranu ke sekolah. Mereke berencana janjian di sebuah ruangan yang di sebut ruang BK. Yang Some tahu ruangan tersebut berada di pojok sekolah yang menghubungkan kantin dan ruang guru.
"Kakak aku malu," ucap Ranu ketika keduanya berjalan dan hampir sampai di depan ruang BK. Some melihat ke arah adiknya yang berjalan di sebelahnya.
"Makannya jangan cari ulah kalau gitu aja udah takut, pake malu lagi. Cuma kamu sendiri kan yang kabur," ujar Some kesal. Keduanya berdiri dengan saling gugup di depan ruang BK. Dapat mereka lihat di ruang itu seorang guru dan mungkin pegawai tata usaha sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Yah aku emang bandel kak, dan jujur aku merasa sial banget," ujar Ranu sambil menunduk rapuh. "Makasih kak udah antar Ranu sampai sini, kalau nggak ada kakak nggak tahu mau gimana," lanjut Ranu masih rapuh.
"Ya udah masuk," ujar Some tidak menunda waktu lagi. Biarkan saja kalau memang guru BK itu mau memarahi Ranu di hadapannya, dia tidak akan melarang.
Some menarik tangan Ranu memasuki ruang BK. Some sedikit kikuk tapi ia berhasil mengucapkan sepatah kata, yang di sebut tata krama, "Assalamualaikum," sapa gadis itu sambil menunduk.
"Walaikumsalam, oh kamu Ranu," jawab guru BK itu dengan ramah. Ia lalu mempersiapkan Some dan Ranu duduk di kursi yang disiapkan untuk tamunya.
"Makasih buk," ucap Ranu dan Some lalu kemudian keduanya duduk di kursi itu dengan kikuk. Aura BK memang tidak pernah berubah, rasanya emang sedikit dingin.
"Jadi kamu siap mendengar ocehan saya, karena kamu berani kabur di saat pelajaran belum selesai," kata guru BK itu sambil menatap Ranu tajam.
"Anu buk, maafkan kesalahan saya itu, saya sudah menuruti kemauan ibu. Ada baiknya di bicarakan," ucap Ranu sambil menunduk. Mencari perlindungan dari kakaknya, dan Some malah makin nggak keruan karena ikut takut juga.
"Maaf sebagai wali orang tua Ranu, saya harap anda membantu membentak anak itu. Agar sekolah lebih giat lagi, dia adalah anak pemilik sekolah ini, mungkin akan kurang baik jika tingkahnya tercium siswa lain," ucap guru BK itu yang di kenal baik oleh Some. Dia adalah guru BK juga semasa ia sekolah, dan namanya adalah Buk Nadia. Seorang yang mengenal Some juga sebagai siswi yang nggak rajin juga.
"Baik buk akan saya sampaikan kepada orang tua kami, terima kasih buk sudah mengerti, dan maafkan tingkah Ranu yang ini buk," ucap Some sambil memegang tangan Buk Nadia yang saling bertautan.
"Iya saya tahu, tapi saya juga ada keperluan sama kamu Some. Ini saya diminta pak Hanri untuk memberikan ini padamu," ucap Buk Nadia sambil memberikan sebuah map yang Some tahu isinya apa.
Some langsung memegang map itu dan hanya tersenyum kecil. Tanpa lama lagi ia langsung mengajak Ranu keluar dari ruang BK. Setelah berhasil keduanya langsung bernafas lega.
"Emang niat awal buk Nadia apa sih kak?" tanya Ranu bingung. Kalau emang cuma minta dirinya tidak kabur lagi, kenapa harus memberikan map.
"Itu semua ulah kamu Ranu, dia cuma nitip map ini aja sama kakak jangan aneh," ucap Some kesal. Ia mendahului adiknya berjalan. Rasanya kepanasan terus berada di sekolah ini dengan situasi seperti ini.
"Kak tunggu," ucap Ranu sambil berlari mengikuti kakaknya yang berjalan cepat sekali menuju mobil mereka.
Dasar punya kakak kok bisa normal bisa enggak, dia itu emang enggak banget deh. Kalau cowok itu kebanyakan suka cewek yang tomboy. Ini mah enggak banget deh, kapan ada yang mau sama dia. -- pikir RANU.
...*💘*...
...*💘*...
Ketika Ranu dan Some baru saja sampai rumah mereka nampak kesal karena mbok Dewi yang merupakan salah satu pembantu mereka. Mencari keduanya kemana - mana, karena ia ditanyakan kabar dua anak itu oleh orang tuanya. Rasa shock nya karena anak - anak majikannya benar tidak ada di kamarnya, membuat mbok Dewi sampai mencarinya kemana - mana. Melibatkan pak RT dan warga desa. Membuat Ranu dan Some benar - benar nggak tahu harus ngomong apa. Apalagi mereka sempat marah karena melakukan pembantu alias Mbok Dewi.
"Duh ada apa sih?" tanya Some ketika dia baru saja membuka pintu mobil. Ia hendak mau keluar tapi tetangga yang terus berkata - kata aneh menghalangi pergerakannya.
"Mereka tadi nyariin kita, kan tadi mbok Dewi udah menjelaskan sebelum mobil kita sampai pekarangan," jawab Ranu sambil mendelikan matanya. Dia jelas sudah sangat bosan menguruskan kelakuan para pembantunya yang ada - ada saja.
"Yah tetap aja dong ngapain, nggak ada kerjaan banget," ucap Some sambil melihat ke arah Mboh Dewi yang sedikit kecapean.
"Maaf non dan nden, tapi mbok takut kalian nggak ada pas ditanya sama tuan dan nyonya. Mereka pasti marahin saya karena nggak bisa menjaga kalian supaya nggak banyak keluar rumah," jawab mbok Dewi pada akhirnya. Matanya menatap khawatir pada Some yang jelas sikapnya ini lebih mengerti ketimbang adiknya yang kesal sekali, kalau sudah ada kejadian seperti ini.
"Tapi mbok kita keluar juga ada urusan, bukan sekali dua kali kayak gini. Harusnya mbok juga ngerti, dan bisa bohong sama mama dan papa," ujar Some dengan nada kesal, ia sampai menarik nafasnya berkali - kali. Belum lagi tetangga yang terus bertanya.
"Ya nggak bisa non, untungnya tetangga bantu saya. Dan mereka juga tahu kalau non dan nden emang ke sekolah, jadi nggak mungkin terjadi hal aneh kan?" tanya mbok Dewi begitupun para tetangga yang melihat Some dan Danu ingin tahu. Mereka memang tetangga - tetangga yang kompak, jadi mereka akan selalu membantu mbok Dewi, mau kemanapun anak majikannya kabur atau pergi. Karena mereka juga tahu kalau Some dan Danu dilarang keluar rumah.
"Ya pasti tahu dong mbok karena kita juga nggak suka melanggar aturan, jadi kalau keluar pasti nggak macam - macam," kata Some sambil melihat ke arah Danu meminta dukungan. Sedangkan Danu tahu sendiri kalau memang keduanya lebih sering melanggar dari pada menurut, karena Danu akan suka bermain Ps di luar rumah. Hobi ngerokok di pinggiran sekolah, dan hobi juga gangguin anak orang. Sedangkan kakaknya hobi berbelanja, hobi ke salon dan juga hobi koleksi tas - tas mahal. Pastinya membutuhkan banyak waktu di luar.
"Iya deh kak, tapi nggak usah sampai segitunya juga kali. Kayak beneran alim aja," ucap Danu sambil mendelikan alisnya kesal.
"Ihs apaan deh Danu, loe harusnya tahu diri dong, kakak loe ini ngajak loe ke sekolah tadi," ujar Some tidak terima dengan pikiran Danu yang memang terlanjur pemalu itu.
"Semua itu nggak cukup kalau menunjukan loe cewek baik, udah ah Danu ke rumah dulu. Gerah diam di sini," kata Danu sambil melambaikan tangannya dan membiarkan orang - orang menatapnya kesal, sebab tidak sopan. Bahkan lupa mengatakan terimakasih.
"Eh Danu tunggu!" ujar Some dengan kesal juga karena para tetangga masih betah di rumahnya yang membuatnya kepanasan. Some langsung saja mengejar Danu, ia yakin di dalam rumah suasananya ebih teduh.
Benar saja, meskipun Some harus berhadapan dengan papa dan mamanya. Yang sedang duduk menunggu kehadiran Some dan Danu dengan wajah terlihat ketus. Danu hanya meneguk air liurnya sendiri tidak siap jika harus di marahi karena bolos. Begitupun Some yang tak siap di marahi karena sama saja dengan Danu.
Tapi mama dan papa mereka adalah orang yang ketat dalam aturan. Mereka pasti punya cara tersendiri untuk menghukum anak - anaknya. Well, hukuman berupa yang hanya diketahui di keluarga Abera.
*💘*
Something buru - buru memasuki kamarnya, dengan air mata yang mengalir deras di pelupuk matanya. Ia merasa kesal juga malu karena hukuman yang diberikan mama. Wanita itu dengan tega meminta Some memakan dengan habis makanan yang jelas sangat di bencinya, apa lagi kalau bukan susu kedelai. Ditambah dengan kepiting mentah dan juga keju busuk dari Italia. Jelas semua itu membuat Some mual, saking nggak enaknya itu makanan Some sampai mengeluarkan air matanya. Dan menangis sejadi - jadinya karena alergi dengan makanan itu. Something merasa kesal, karena kekayaan yang diberikan mama dan papanya menang hanya untuk bersenang - senang dengan belanja, hanya saja mereka juga punya aturan orang kaya. Dimana Something dan Danu tidak boleh keluar rumah kecuali dengan satpam yang mengantar mereka. Kekayaan terkadang membutakan segalanya.
Something mengusap bulir - bulir air mata yang sempat menempel di pipinya, ia lalu memegang ponselnya yang sedari tadi menemaninya. Ia melihat ada banyak notifikasi chat, bahkan sampai ratusan followers yang sempat menambahnya ke dalam following. Ia memang punya banyak penggemar, dan semua itu adalah pengikut setia yang suka dengan gaya hidupnya yang royal. Dia memang artis sosial media. Hanya saja media hanya bisa meliputi ketika ia menguploadnya. Mereka nggak bisa ambasador sesukanya, Something anak sekolahan dan dia tidak tertarik dengan uang online.
Daniel : Some, loe punya waktu nggak buat ngedate sama gue lagi? Loe masih ingat gue kan, gue ini mantan pacar lo.
Kata Daniel lewat pesan message yang ia kirim beberapa menit yang lalu. Sukses membuat Something kaget, tapi ia tidak terbelalak. Sebenarnya Some dan Daniel memang mantan pacar, dan bukan kali pertama ia di kirim SMS kayak gitu.
Some : Lo kok bisa kayak gini, Lo nggak malu ngomong gitu ke mantan pacar lo. Terus pacar lo mana?
Balas Some mengingat betapa renggangnya hubungan Some dan Daniel. Asmara yang membuat mereka sedikit buta cinta itu telah berakhir, dan semua yang terjadi telah kandas hanya karena kata putus yang sempat dilontarkan keduanya. Ketika bertengkar yang cukup membuat Some juga terluka.
Daniel : Gue nggak pernah punya pacar, cuma lo pacar gue saat itu. Some please balikan sama gue.
Balasan Daniel yang membuat Some menggelengkan kepalanya. Ia terlentang di kasur sambil memegang ponselnya dengan sedikit senyum di bibirnya. Dulu dia memang terkenal punya pacar, seorang famous sekolah. Tapi sekarang dia hanya famous sekolah yang suka dandan. Hubungannya dengan Daniel sempat dibicarakan dan sekarang semua hanya tinggal mantan. Setelah itu Some tidak pernah lagi punya pacar. Maksudnya pacar resmi, Some saat ini menjalani hubungan yang tidak ia bicarakan sembarangan.
Tapi Some akan mengajak cowok itu jalan, dan mereka juga tidak malu untuk sekedar berpegangan tangan. Some sedang malas membahas Linier sekarang. Dia masih bat mood.
"Dari pada mikirin perkataan Daniel yang cuma bulak - balik antara balikan dan jadi mantan. Mendingan gue siap - siap buat ketemu pacar ku, yah meskipun cuma lewat ponsel. Kan gue dilarang keras keluar rumah, kecuali emang gue niat di hukum sama mama. Its mami....." Teriak dan kesal Some pada dirinya sendiri ketika ia teringat ulah mama dan papa tadi. Mereka jelas masih menjadi nomer satu yang mewakili perasaan Some kali ini. Perasaan kesal dan marah juga sedih.
Karena mereka Some jadi muntah - muntah.
...*💘*...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!