Indonesia
NovelToon NovelToon

My Possessive Husband

Sudahlah, Keysa!

Aroma alkohol dan karbol yang menyengat selalu menjadi teman akrab Keysa selama enam bulan terakhir. Di sebuah kamar kelas tiga yang pengap dan penuh sesak oleh ranjang pasien lain, Keysa duduk di kursi plastik kecil dan menggenggam jemari Ayahnya yang kini tinggal tulang berbalut kulit pucat.

​"Ayah... minum sedikit ya?" bisik Keysa lembut.

Ayah ​Arman hanya mampu memberikan senyum tipis yang getir, penyakit leukemia telah merenggut kegagahan pria itu, wajahnya yang dulu hangat kini dipenuhi lebam kebiruan akibat jumlah trombosit yang merosot tajam.

​"Maafkan Ayah, Keysa... Ayah malah jadi beban," suara Arman terdengar serak dan hampir hilang ditelan bunyi mesin vital sign yang membosankan.

​"Jangan bicara begitu, Yah. Keysa bakal lakukan apa pun supaya Ayah sembuh," balas Keysa, meski hatinya perih.

​Kenyataannya, tabungan Keysa sudah ludes. Gajinya sebagai pelayan toko roti dan buruh cuci panggilan setiap akhir pekan hanya cukup untuk membayar biaya sewa kamar rumah sakit dan obat-obatan yang tidak ditanggung asuransi.

Sementara itu, di rumah, Ibu Siska dan Donny, adiknya hanya tahu meminta uang tanpa mau mengerti betapa berdarah-darahnya Keysa di luar sana.

Malam itu, hujan turun dengan sangat deras, seolah langit ikut merasakan sesak di dada Keysa. Di dalam bangsal yang hanya dibatasi tirai kain kusam, Keysa mengusap kening Ayahnya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.

Kondisi Ayah Arman menurun drastis sejak sore tadi, napasnya pendek-pendek dan tersengal. Namun, matanya yang sayu terus menatap Keysa dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah tatapan penuh permohonan maaf.

​"Keysa," panggil Ayah Arman dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan angin.

​"Iya, Yah? Keysa di sini. Ayah butuh sesuatu?" tanya Keysa dan mendekatkan telinganya ke bibir sang Ayah, menahan isak tangis yang sudah menggunung di pangkal tenggorokan.

​"Berjanjilah sama Ayah... kamu harus kuat. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus tetap hidup dengan baik," ucap Ayah Arman dengan tangannya yang gemetar berusaha menggapai pipi putrinya itu.

​"Ayah bicara apa? Ayah harus sembuh supaya bisa melihat Keysa bahagia," balas Keysa, air matanya akhirnya luruh juga dan jatuh membasahi sprei rumah sakit yang kasar.

​Namun, Ayah Arman hanya bisa meneteskan air mata dari sudut matanya yang kering, ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, tenaganya sudah habis, penyakit sialan itu telah menggerogoti hingga ke sumsum tulang dan jiwanya.

​Tiba-tiba, bunyi monitor vital sign yang tadinya beraturan berubah menjadi nada panjang yang melengking dan membelah kesunyian malam di bangsal itu.

​"Ayah? Ayah!" Keysa berteriak panik, ia mengguncang bahu pria itu. Namun, mata Arman telah tertutup perlahan dengan sebuah garis lurus di layar monitor.

​Para perawat berlarian datang dan mencoba melakukan tindakan resusitasi jantung, Keysa didorong keluar dari tirai. Ia berdiri terpaku di koridor yang sepi dan dingin, ia memeluk dirinya sendiri. Di tengah kepanikan itu, ia merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi Siska dan sayangnya panggilannya ditolak.

Setelah itu, Keysa menghubungi Donny berkali-kali, namun adiknya itu justru mematikan ponselnya. Di saat Ayah mereka melawan penyakitnya, kedua orang yang dianggapnya keluarga itu entah berada di mana.

​Beberapa menit kemudian, seorang Dokter keluar dengan wajah lesu dan melepas masker medisnya, ia hanya menatap Keysa dengan iba dan menggeleng pelan.

"Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Pak Arman tidak berhasil diselamatkan, beliau sudah tiada," ucap Dokter.

Dunia Keysa runtuh seketika, ia jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Tidak ada pelukan dari Ibu, tidak ada sandaran dari Adik dan ia berduka sendirian di tengah aroma karbol yang menusuk.

Langit masih menyisakan mendung setelah prosesi pemakaman selesai, gundukan tanah merah itu masih basah dan satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Keysa masih bersimpuh di sana, jemarinya mengusap nisan kayu yang bertuliskan nama Ayah Arman, ia merasa separuh jiwanya ikut terkubur di bawah sana.

​Ketika Keysa sampai di rumah, suasana sunyi yang ia harapkan untuk berduka justru pecah oleh suara tawa kecil dari ruang tamu, Keysa terpaku di ambang pintu. Di ruang tamu, Ibu Siska sedang asyik membolak-balik majalah fashion, sementara Donny sibuk dengan game di ponselnya sambil mengunyah camilan.

​Rasa sesak yang sejak semalam ia tahan, kini memuncak hingga ke ubun-ubun. ​"Ibu... Donny," panggil Keysa dengan suara yang bergetar dan serak karena terlalu banyak menangis.

​Ibu Siska hanya melirik sekilas tanpa mengubah posisinya, "Oh, sudah pulang kamu? Sana bersihin rumah, rumah jadi kotor gara-gara orang datang melayat tadi," ucap Ibu Siska.

Mendengar perkataan Ibu Siska, ​Keysa mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Ibu sama Donny ke mana semalam? Kenapa Ibu tolak telepon Keysa? Kenapa Donny matiin ponselnya? Ayah kritis, Bu! Ayah meninggal sendirian di bangsal itu tanpa kalian!" tanya Keysa.

​Donny mendecak kesal, matanya tetap tertuju pada layar ponsel. "Aduh, Kak. Berisik banget sih, kan ada Kak Keysa di sana. Lagian kalau gue dateng juga emangnya Ayah bakal langsung hidup lagi? Enggak kan? Rumah sakit itu bau, gue nggak suka," jawa Donny.

​Mendengar jawaban itu, jantung Keysa serasa diremas. Ia menatap ibunya dan berharap ada pembelaan atau setidaknya rasa bersalah, namun Ibu Siska justru menutup majalahnya dengan kasar.

​"Sudahlah, Keysa! Jangan berlebihan, Ayahmu itu sudah sakit dari lama, menghabiskan uang dan membuat kita susah. Sekarang dia sudah mati, ya sudah. Itu sudah jalannya, Ibu sengaja nggak angkat telepon karena Ibu butuh tidur, Ibu pusing mikirin cicilan yang nunggak gara-gara biaya rumah sakit Ayahmu," ucap Siska dengan nada santai yang sangat menyakitkan.

​"Tapi itu Ayah, Bu! Suami Ibu! Ayah berjuang sampai napas terakhirnya!" teriak Keysa tak percaya.

​"Suami yang hanya meninggalkan hutang dan beban!" balas Siska tajam dan matanya menatap Keysa dengan dingin, seolah Keysa adalah benda asing yang mengganggu pemandangannya.

"Daripada kamu marah-marah nggak jelas, lebih baik kamu pikirin gimana caranya cari uang tambahan. Seminggu ini kamu bolos kerja terus karena ngurus Ayahmu, kita butuh uang buat bayar hutang, buat makan terus Donny butuh uang sekolah dan Ibu juga ada keperluan," ucap Ibu Siska.

​Keysa terdiam seribu bahasa, ia menatap dua orang di depannya dengan tatapan kosong, hatinya hancur berkeping-keping melihat bagaimana sikap Ibu dan adiknya.

"Keysa capek, Bu. Keysa pengen istirahat, kalau Ibu butuh uang, Ibu cari kerja juga jangan cuma andalin Keysa, Keysa juga mau ngerasain gaji Keysa," ucap Keysa.

​"Berani kamu melawan? Kamu pikir siapa yang membesarkanmu selama ini?" tanya Ibu Siska dengan membentak Keysa.

"Keysa capek, Bu. Keysa pengen istirahat, apa-apa harus Keysa, terus Ibu ngapain?" tanya Keysa yang memberanikan diri untuk melawan.

.

.

.

Bersambung.....

Masalah Apa?

Plak!

​Tamparan keras mendarat di pipi Keysa hingga wajahnya terlempar ke samping. Sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan cairan merah kental yang terasa anyir, Keysa memegangi pipinya yang berdenyut panas dan menatap tidak percaya pada wanita yang selama ini ia panggil Ibu.

​"Berani kamu menggurui saya!" ucap Ibu Siska dan wajahnya memerah karena amarah yang meledak.

"Dasar anak tidak tahu diuntung!" bentak Ibu Siska.

​Rasa sakit di pipi Keysa ternyata tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Selama ini Ibu Siska dan Donny selalu memperlakukan layaknya sapi perah, selama ini juga Keysa menganggap jika semua yang Keysa lakukan adalah bentuk bakti Keysa pada keluarganya. Namun, ternyata semua itu salah dan Keysa baru sadar saat Ayah Arman sudah meninggal, di mana Ibu Siska dan Donny seolah tidak peduli dengan Ayah Arman.

​"Cukup, Bu! Keysa bukan sapi perah! Selama ini Keysa diam saat Ibu hura-hura pakai uang hasil lembur Keysa. Keysa diam saat Donny foya-foya sedangkan Keysa makan sisa kemarin, tapi Ayah baru saja meninggal! Di mana hati nurani kalian?" teriak Keysa dengan suara parau.

​"Kurang ajar!" Ibu Siska kembali maju dan tangannya melayang hendak memukul lagi.

​Namun kali ini, Keysa menangkap pergelangan tangan Siska. Ia menepisnya dengan kasar hingga Siska terhuyung, "Jangan sentuh Keysa lagi! Kalau Ibu mau uang, cari sendiri!" ucap Keysa.

​Siska terbelalak, ia menoleh ke arah Donny yang sedari tadi menonton dengan wajah dingin. "Donny! Lihat Kakakmu ini! Dia sudah jadi pembangkang! Pegangi dia!" perintah Ibu Siska.

​Donny bangkit dari sofa dan melempar ponselnya sembarang tempat. Tanpa ragu, ia menerjang Keysa, tubuh Keysa yang kecil tidak sebanding dengan kekuatan adiknya, Donny menahan kedua tangan Keysa ke belakang punggung dengan sangat kuat hingga Keysa mengerang kesakitan.

​"Lepasin, Don! Kamu gila? Aku ini kakakmu!" teriak Keysa meronta.

​"Lo berisik banget, Kak! Turuti aja apa kata Ibu kalau mau hidup tenang!" geram Donny dan mengunci pergerakan Keysa hingga gadis itu berlutut di lantai.

​Melihat Keysa yang sudah tidak berdaya, Ibu Siska tersenyum sinis lalu ia mendekat dan menjambak rambut Keysa hingga kepala gadis itu terdongak ke atas. Tanpa ampun, Ibu Siska mendaratkan tamparan berkali-kali ke wajah Keysa.

​Plak! Plak! Plak!

Ibu Siska seperti kerasukan setan, nafasnya memburi dan matanya melotot tajam menatap wajah Keysa yang kini sudah mulai membengkak dan memar. Selama ini, Ibu Siska hanya menuntut Keysa untuk bekerja, namun Ibu Siska tidak pernah sekalipun menggunakan kekerasan fisik seperti saat ini, kepergian Ayah Arman seolah melepaskan rantai penahan kewarasan dan rasa kemanusiaan di dalam diri wanita itu.

"Ini akibatnya kalau kamu melawan saya!" bentak Siska tepat di depan wajah Keysa yang bersimbah air mata.

​Keysa merasakan kepalanya pusing luar biasa akibat jambakan yang begitu kuat, kulit kepalanya terasa seolah akan terkelupas. Di belakangnya, Donny justru mempererat genggamannya, tak peduli meski ia mendengar sendi-sendi bahu kakaknya berbunyi karena dipaksa menekuk.

​"Ibu... sakit, Bu... tolong berhenti," rintih Keysa dan suaranya nyaris hilang, tertutup oleh isak tangis yang menyesakkan dada.

"Dengar Keysa, kalau kamu sampai melawan lagi. Maka kamu akan mendapat yang lebih parah dari ini dan ingat, jangan sampai kamu memilih pergi dari rumah, sampai saya tahu kamu kabur. Detik juga, saya akan bunuh kamu," bisik Ibu Siska.

Setelah mendengar ancaman mematikan dari mulut wanita yang seharusnya melindunginya, tubuh Keysa seketika lemas. Sorot matanya yang tadi sempat menyala penuh keberanian, kini meredup dan menyisakan kekosongan yang dalam. Ia menyadari satu hal pahit, di rumah ini, ia bukan lagi seorang anak atau kakak, melainkan tawanan.

​"Ma... maaf, Bu. Keysa nggak akan melawan lagi," ucap Keysa dengan suara bergetar hebat, air matanya menetes dan membasahi lantai ubin yang kusam.

Ibu ​Siska melepaskan jambakannya dengan kasar dan membuat kepala Keysa terhentak, Donny pun melepaskan tangannya dari tangan Keysa lalu mendorong bahu Kakaknya hingga tersungkur mencium lantai. Donny kembali ke sofa seolah tidak terjadi apa-apa, sementara Ibu Siska merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.

​"Nah, gitu dong. Sekarang masuk ke kamarmu, cuci mukamu yang menjijikkan itu dan besok pastikan kamu harus kerja," ucap Siska dingin sebelum melenggang pergi menuju kamarnya.

.

Satu minggu berlalu seperti mimpi buruk yang berulang, Keysa menjalani hari-harinya seperti robot, bekerja dari pagi buta di toko roti lalu lanjut menjadi buruh cuci hingga larut malam.

Semua uang yang ia dapatkan langsung dirampas oleh Ibu Siska, luka memar di wajahnya mulai memudar, namun luka di jiwanya justru semakin bernanah.

​Sore harinya, saat Keysa baru saja melangkah masuk ke rumah dengan tubuh yang terasa remuk, ponselnya berdering. Nama Donny muncul di layar, jantungnya berdegup kencang karena biasanya telepon dari Donny hanya berarti satu hal yaitu masalah.

^^^Halo, Don? Ada apa?^^^

Kak! Tolongin gue, gue... gue dalam masalah besar!

^^^Masalah apa?^^^

Gue butuh lo sekarang juga, dateng ke alamat yang gue kirim ke nomor lo ya, Kak. Tolong, Kak, nyawa gue taruhannya!

^^^​Jawab dulu, apa masalahnya? Kakak baru pulang, badan Kakak sakit semua...^^^

Jangan banyak tanya, Kak! Kalau lo nggak dateng, gue mati!

Lalu Donny memutus sambungan telepon tersebut, ​Keysa menatap layar ponselnya dengan bimbang dan ia tidak ingin pergi. Namun, tiba-tiba pintu kamar Siska terbuka, wanita itu berdiri di sana dengan mata yang menyalang tajam.

Rupanya, ia sudah mendengar pembicaraan itu. "Kenapa masih berdiri di sini? Temui adikmu!" bentak Ibu Siska.

​"Tapi Bu, ini udah malam. Dan kayaknya ada yang aneh sama alamatnya," jawab Keysa.

​"Ibu nggak peduli! Donny itu satu-satunya laki-laki di keluarga ini yang akan menjaga kita. Kalau dia kenapa-napa, itu salahmu! Pergi sekarang atau kamu mau Ibu hajar lagi?" ucap Ibu Siska dengan mengambil sapu di pojok ruangan.

Keysa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia berbalik. Dengan langkahnya yang gontai dan perasaan tidak enak yang menyelimuti dadanya, ia pergi menyongsong takdir yang jauh lebih gelap dari yang bisa ia bayangkan.

Langkah kaki Keysa terhenti di depan sebuah bangunan dengan lampu neon yang berkedip-kedip bertuliskan 'The Abyss', suara musik techno yang berdentum keras terdengar hingga ke jalanan.

Bau asap rokok dan alkohol yang tajam menyengat indra penciumannya, ini adalah sebuah bar kelas atas, namun dengan reputasi yang kotor. Keysa melihat pria-pria berpakaian necis keluar masuk sambil merangkul wanita-wanita berpakaian sangat minim, ia merapatkan jaket kusamnya, merasa sangat salah kostum dan ketakutan.

​"Donny... kenapa kamu bisa ada di tempat kayak gini sih?" gumam Keysa.

​Keysa ragu untuk masuk, namun bayangan kemarahan Ibunya membuatnya terpaksa melangkah masuk. Di dalam, penglihatannya sedikit terganggu oleh cahaya remang kemerahan, tiba-tiba sebuah tangan merangkul bahunya.

​"Akhirnya datang juga," suara Donny terdengar lega.

.

.

.

Bersambung.....

Dua Miliar!

​"Don, ada apa? Kamu bikin masalah apa? Ayo pulang," ajak Keysa sambil mencoba menarik tangan adiknya.

​Donny justru tertawa dan ia menuntun Keysa menuju sebuah meja di pojok ruangan, di mana seorang wanita paruh baya dengan dandanan sangat menor, bulu mata palsu yang tebal dan perhiasan emas yang mencolok tengah duduk sambil merokok.

​"Mami, ini yang aku bicarakan. Dia Kakakku, namanya Keysa," ucap Donny dengan bangga.

​Wanita yang dipanggil Mami itu memperhatikan Keysa dari ujung rambut hingga ujung kaki, ia tersenyum puas hingga memperlihatkan deretan gigi yang tertutup lipstik merah menyala.

"Cukup manis, kulitnya bersih, meskipun wajahnya agak sedikit pucat," ucap wanita tersebut.

​Tanpa sepatah kata pun, wanita itu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari tasnya dan meletakkannya di meja. Donny dengan sigap menyambar amplop itu, membukanya sedikit dan matanya berbinar melihat tumpukan uang di dalamnya.

​"Apa-apaan ini, Don? Uang apa itu?" tanya Keysa.

​Donny menatap Keysa, namun tidak ada lagi rasa persaudaraan di matanya, yang ada hanya keserakahan. "Kak, lo jangan marah ya. Anggap aja ini pengabdian terakhir lo buat keluarga," ucap Donny.

​"Maksud kamu apa?" tanya Keysa.

​"Ibu udah setuju, mulai hari ini lo nggak usah pulang. Lo udah dijual ke Mami Rosa," jawab Donny santai.

Mendengar hal itu, ​Keysa membeku di tempat. "Dijual? Kamu gila? Aku Kakak kamu, Don!" teriak Keysa.

​Donny tertawa sinis, wajahnya mendekat ke telinga Keysa. "Kakak? Lo mau tahu satu rahasia nggak? Sebenarnya, lo itu bukan anak kandung Ibu, lo itu anak haram hasil perselingkuhan Ayah sama perempuan lain. Ibu cuma terpaksa ngerawat lo karena disuruh Ayah dan sekarang Ayah udah mati, jadi Ibu mutusin buat jual lo," ucap Donny.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Keysa, kenyataan bahwa ia bukan anak kandung, ditambah pengkhianatan adiknya yang menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun.

​"Enggak... itu nggak mungkin," Keysa mencoba berlari menuju pintu keluar.

​Namun, Donny seolah tidak peduli, ia justru melangkah pergi sambil mendekap amplop uangnya.

"Dah, Kak! Selamat menikmati hidup baru!" pamit Donny.

​"Donny! Jangan pergi! Donny!" teriak Keysa histeris.

​Saat Keysa hendak mengejar, tangan kuat Mami Rosa mencengkeram lengannya. "Mau ke mana, Manis? Kamu sudah dibayar mahal," ucap wanita bernama Mami Rosa.

​"Lepaskan saya! Saya bukan barang!" Keysa memberontak dan mencoba melepaskan diri hingga membuat ​Mami Rosa kehilangan kesabarannya.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di wajah Keysa, lebih keras dari yang dilakukan Ibu Siska. "Diam! Atau aku buat wajah cantikmu ini hancur sekalian!" ancam Mami Rosa.

​Mami Rosa memanggil dua orang pria berbadan besar yang segera menyeret Keysa ke sebuah ruangan di balik panggung. Di ruangan tersebut, Keysa dipaksa duduk dan rambutnya dijambak agar ia diam sementara beberapa wanita mulai merias wajahnya dengan paksa.

​Pakaian kusamnya dirobek dan diganti dengan sebuah gaun berbahan tipis, pendek dan sangat terbuka yang nyaris tidak menutupi lekuk tubuhnya. Keysa menangis sejadi-jadinya, namun mereka tidak peduli seolah apa yang mereka lihat sudah menjadi makanan mereka sehari-hari.

Beberapa menit kemudian, Keysa diseret keluar menuju sebuah panggung besar di tengah club, lampu sorot yang menyilaukan menghujam matanya. Di atas panggung itu, Keysa berdiri bersama enam perempuan lainnya. Ia adalah satu-satunya yang gemetar dan berusaha menutupi dadanya dengan tangan, sementara yang lain berdiri dengan wajah datar atau senyum palsu yang menggoda.

​Seorang wanita berpakaian seksi naik ke panggung membawa mikrofon, "Selamat malam para tamu terhormat! Malam ini kita punya koleksi spesial. Tujuh bunga indah yang siap menemani malam-malam kalian, kita mulai pelelangannya!" ucap wanita tersebut.

​Keysa memejamkan mata rapat-rapat, ia merasa jiwanya sudah mati. Suara-suara pria yang berteriak menyebutkan angka-angka nominal terdengar seperti suara iblis di telinganya, mereka menawar wanita-wanita di samping Keysa dan dapat Keysa lihat wanita-wanita tersebut tersenyum seolah tidak masalah dengan semua ini.

​"Lima puluh juta!"

"Seratus juta!"

​Hingga tiba giliran Keysa, wanita yang memandu acara lelang tersebut memajukan Keysa ke depan panggung. "Dan ini, koleksi terbaru kita. Kita mulai dengan harga seratus juta!" ucapnya.

​"Seratus lima puluh juta!" teriak seorang pria paruh baya dengan perut buncit di barisan depan.

​Keysa ingin mati saat itu juga, ia berdoa pada Tuhan agar lantai ini terbelah dan menelannya. Namun, tiba-tiba, sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa terdengar dari barisan paling belakang dan memecah kebisingan.

​"Dua miliar!"

​Seketika, seluruh ruangan menjadi hening. Musik berhenti dan semua mata tertuju ke arah sudut gelap di belakang, di mana seorang pria duduk dengan kaki bersilang. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sangat mahal, tangannya memegang gelas kristal dan wajahnya tampak setajam silet di balik bayangan. Ia tidak sendiri, tapi bersama beberapa pria yang tak kalah tampan darinya.

​Mami Rosa yang mengawasi acara lelang pun sampai melongo mendengar harga yang di tawar pria itu.

"Dua... dua miliar? Apakah ada yang ingin menawar lebih tinggi?" tanya mc.

​Tidak ada yang berani bersuara, semua orang di sana kecuali Keysa, mereka tahu siapa itu Lucas. Di dunia bisnis, namanya adalah sebuah larangan dan siapapun yang berhadapan dengan Lucas, maka ia harus siap kalah, kehilangan harga diri dan harta bendanya.

Suasana hening yang mencekam itu masih menyelimuti club tersebut, Keysa berdiri mematung di atas panggung dan air matanya tertahan di pelupuk mata saat menatap ke arah sumber suara yang baru saja menawar dirinya dengan angka yang tidak masuk akal.

.

Disisi lain, sore harinya di sebuah perusahaan ternama, seorang pria tengah membujuk sang sahabat untuk ikut bersenang-senang malam nanti.

"Gimana? Yuk ke club biasanya," ajak Aldi.

"Nggak tertarik, lo kalau mau cari cewek ya cari aja sendiri," ucap Lucas.

"Ish, kan cuma lo yang jomblo, Evan sama Marco udah punya cewek. Ya, walaupun Evan lagi berantem sama ceweknya, tapi kan nggak mungkin gue ajak dia cari cewek baru, bisa di gor*k gue sama ceweknya Evan. Tapi, lo tenang aja nanti Evan ikut kok, Marco juga ikut sama Widia," ucap Aldi.

"Gue nggak mau, males aja gue ke tempat kayak gitu," tolak Lucas.

"Gue denger nanti malam bakal ada gadis baru," bisik Aldi.

"Gue nggak peduli," jawab Lucas.

"Gue yakin lo bakal suka, gue udah lihat fotonya di grup dan dia cakep, nih lo lihat dulu," ucap Aldi lalu memperlihatkan foto yang ada di ponselnya pada Lucas.

Lucas pun melihat foto yang diperlihatkan Aldi dan matanya kangsung melebar ketika menyadari foto tersebut, "Tunggu, maksud lo... dia gadisnya?" tanya Lucas.

"Iya, gimana. Nanti kita coba kenalan aja gitu," ucap Aldi.

"Yaudah, gue ikut," ucap Lucas.

'Akhirnya setelah tujuh tahun, kita bisa bertemu,' batin Lucas.

Malam harinya, Lucas dan teman-temannya sudah berada di club. Saat para wanita berdiri di atas panggung, Aldi tampak sangat antusias, ​"Wah, Luc, lihat yang di tengah itu! Yang pakai gaun tipis warna nude, itu yang gue bilang ke lo tadi. Gue suka dia, jadi gue bakal beli dia," ucap Aldi menunjuk ke arah Keysa.

​Lucas yang awalnya hanya menatap gelasnya, perlahan mengangkat pandangannya. Saat matanya menangkap sosok wanita yang dimaksud Aldi, jantung Lucas seolah berhenti berdetak.

.

.

.

Bersambung.....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!