Lantai marmer Bandara Soekarno-Hatta memantulkan cahaya lampu yang terang, menciptakan suasana dingin dan steril yang sangat kontras dengan cuaca Jakarta di luar sana. Dazello Zelbarra berjalan dengan langkah mantap. Di belakangnya, dua orang asisten sibuk menarik koper dan memeriksa jadwal di tablet mereka.
Azel baru saja mendarat setelah penerbangan sebelas jam dari London. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya datar, garis rahangnya tegas, dan matanya yang tajam hanya menatap lurus ke depan.
"Jadwal sore ini, Pak, Anda ada pertemuan dengan dewan komisaris jam empat," lapor sekretarisnya, melangkah cepat menyamai langkah besar Azel.
"Batalkan," jawab Azel singkat. Suaranya rendah dan serak karena kurang tidur. "Aku mau pulang. Mamaku sudah menelpon sepuluh kali sejak aku landing."
Langkahnya melambat saat mereka mendekati pintu keluar area terminal kedatangan. Kerumunan orang mulai terlihat, para penjemput yang membawa papan nama, supir taksi yang menawarkan jasa, hingga orang-orang yang hanya sekadar berlalu lalang.
Di antara kerumunan itu, di sudut yang agak jauh dari pintu otomatis, mata Azel menangkap sesuatu. Seorang wanita yang tampak asing di tengah hiruk pikuk bandara.
Wanita itu mengenakan kemeja batik berwarna cokelat pudar yang tampak sedikit terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil. Rambutnya diikat kuda dengan beberapa helai yang berantakan tertiup angin dari mesin pendingin ruangan. Tangannya memegang setumpuk brosur kertas yang sudah agak lecek di bagian ujungnya.
Azel berhenti mendadak.
"Pak?" asistennya nyaris menabrak punggungnya.
Azel tidak menjawab. Ia menyipitkan mata, memperhatikan bagaimana wanita itu mendekati setiap orang yang lewat, menawarkan brosur dengan senyum yang dipaksakan. Saat orang-orang itu menolak atau bahkan melewatinya begitu saja tanpa menoleh, wanita itu hanya mengangguk pelan, lalu mencoba lagi pada orang berikutnya.
Itu Runa.
Sosok yang lima tahun lalu hilang dari radarnya setelah sebuah pertengkaran hebat yang meninggalkan luka di kedua belah pihak.
Azel memperhatikan bagaimana cara Runa berdiri. Wanita itu berkali-kali memindahkan tumpuan berat badannya dari kaki kiri ke kanan, seolah kakinya sudah sangat pegal. Wajahnya yang dulu segar kini terlihat jauh lebih tirus. Kulitnya yang biasanya merona kini tampak pucat, hampir transparan di bawah lampu neon bandara.
"Dia terlihat... ringkih," gumam Azel tanpa sadar.
Runa tampak mengusap keningnya yang berkeringat dengan punggung tangan, lalu ia menunduk sejenak untuk membetulkan letak tas bahunya yang terus merosot. Gerakannya terlihat lamban, seolah energinya sudah berada di titik terendah.
"Cari tahu apa yang dia lakukan di sini," perintah Azel tanpa mengalihkan pandangan dari Runa.
"Maaf, Pak? Siapa maksud Anda?" asistennya bingung.
Azel menunjuk dengan dagunya ke arah sudut sana. "Wanita dengan brosur itu. Sekolah mana yang dia wakili, kenapa dia harus sampai membagikan brosur di bandara, dan di mana dia tinggal sekarang."
Azel melihat Runa menghela napas panjang, lalu ia menyandarkan punggungnya ke pilar beton sejenak, memejamkan mata seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Ada sesuatu yang mencubit hati Azel melihat pemandangan itu. Runa yang ia kenal dulu adalah gadis yang berisik dan tak bisa diam, bukan wanita yang tampak layu seperti ini.
"Dan satu lagi," Azel menambahkan, suaranya lebih tajam. "Jangan sampai dia tahu ada yang mengawasinya. Aku mau informasi lengkapnya sebelum aku sampai di rumah."
Azel kembali melangkah menuju mobil jemputannya yang sudah menunggu di lobi. Saat ia masuk ke dalam mobil mewah yang kedap suara itu, ia masih sempat melirik melalui kaca jendela yang gelap. Di sana, Runa kembali melangkah maju, memberikan brosur terakhirnya kepada seorang turis asing yang hanya menerimanya dengan setengah hati.
Di dalam mobil, Azel menyandarkan kepalanya ke headrest. Pikirannya yang tadi penuh dengan angka-angka saham kini berganti menjadi bayangan sosok wanita yang tadi terlihat begitu rapuh.
Ia tahu, pertemuannya dengan Runa hari ini bukan sekadar kebetulan. Dan ia juga tahu, ia tidak akan membiarkan wanita itu terus berdiri di pinggir jalan dengan wajah sepucat itu untuk waktu yang lama.
"Kita lihat, sampai kapan kamu bisa bertahan dengan harga dirimu itu, Runa," bisiknya pelan, sementara mobil mulai melaju meninggalkan area bandara.
Runa mengembuskan napas panjang, membiarkan bahunya merosot saat melihat mobil-mobil mewah terus melaju meninggalkan lobi terminal. Di tangannya, tumpukan brosur itu tinggal tersisa lima lembar. Kertas-kertas itu sudah terasa lembap karena keringat di telapak tangannya.
"Ayo, sedikit lagi, Runa. Lima lagi," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menyemangati kakinya yang mulai terasa kebas.
Ia melirik jam tangannya—jam tangan plastik murah yang kacanya sudah sedikit tergores. Sudah hampir empat jam ia berdiri di sini. Sebenarnya, pihak yayasan tidak mewajibkan para guru turun ke jalan, tapi kuota murid baru di sekolah tempatnya mengajar tahun ini menurun drastis. Jika tidak ada murid baru, bantuan operasional akan dipangkas, dan itu artinya gaji para guru honorer seperti dirinya akan semakin terancam.
Runa berjalan pelan menuju kursi tunggu yang terbuat dari besi dingin. Ia duduk perlahan, membiarkan tas bahunya yang berat merosot ke lantai. Rasa pening mulai berdenyut di pelipisnya.
Mungkin karena udara bandara yang terlalu dingin, atau mungkin karena ia lupa kapan terakhir kali ia meminum air putih hari ini.
Ia merogoh tasnya, mencari botol minum, namun jemarinya hanya menemukan ruang kosong. "Ah, ketinggalan di meja guru," gumamnya pelan sambil memijat pangkal hidungnya.
Pikirannya melayang pada sosok pria yang tadi sempat ia lihat sekilas. Dari kejauhan, di antara barisan orang-orang bersetelan jas, ia merasa melihat seseorang yang sangat ia kenali. Postur tubuh yang tegap, cara berjalan yang angkuh namun berwibawa, dan aura yang seolah bisa membekukan udara di sekitarnya.
Azel?
Runa segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membuat rasa peningnya semakin menjadi. Enggak mungkin. Mana mungkin dia ada di sini. Dan mana mungkin dia memperhatikanku.
Bagi Runa, Azel adalah bab dari masa lalu yang sudah ia kunci rapat-rapat dalam kotak besi, lalu ia buang ke dasar laut terdalam. Mengingat pria itu hanya akan membuatnya merasa semakin kecil. Perbedaan status mereka dulu sudah seperti bumi dan langit, apalagi sekarang. Azel pasti sudah berada di puncak dunia, sementara dirinya masih berkutat dengan debu kapur dan tagihan listrik yang sering telat dibayar.
Runa kembali berdiri saat melihat rombongan penumpang baru keluar dari pintu otomatis. Ia memaksakan senyum, mengangkat brosurnya kembali.
"Permisi, Bapak, Ibu... Mungkin tertarik untuk pendidikan putra-putrinya di sekolah alam kami..."
Suaranya terdengar serak. Beberapa orang melewatinya dengan tatapan iba, beberapa lagi menolak dengan lambaian tangan kasar. Runa tetap tersenyum, meski di dalam kepalanya, ia mulai membayangkan kasur tipisnya di kosan dan aroma minyak kayu putih untuk meredakan mual yang mulai naik ke kerongkongannya.
...----------------...
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan Jakarta, Azel tidak berhenti menatap layar ponselnya. Namun, ia tidak sedang memeriksa harga saham.
Ponselnya menampilkan sebuah foto yang baru saja dikirim oleh asistennya melalui pesan singkat. Foto itu diambil secara diam-diam dari jarak jauh, memperlihatkan Runa yang sedang duduk menyendiri di kursi besi, tampak sangat kecil dan lelah di bawah besarnya konstruksi bangunan bandara.
Azel memperbesar foto itu, fokus pada wajah Runa yang sedang memejamkan mata.
"Pucat sekali," desisnya.
Tangannya bergerak membuka aplikasi Notes yang terkunci dengan kata sandi. Di sana, terdapat sebuah catatan lama yang tanggal pembuatannya sudah bertahun-tahun yang lalu. Ia menggulir layar ke bawah, mencari barisan kalimat yang sudah sangat ia hafal.
’Kalau dia kelelahan, dia nggak akan bilang. Dia cuma bakal diam, merem sebentar, terus paksa jalan lagi.’
Azel mematikan layar ponselnya dengan kasar, lalu menatap keluar jendela, pada lampu-lampu kota yang mulai menyala seiring dengan tenggelamnya matahari.
"Pak, informasi mengenai sekolah tersebut sudah saya dapatkan," suara asistennya memecah keheningan. "Sekolah swasta tingkat dasar di pinggiran kota. Kondisi finansialnya sedang tidak stabil. Ibu Runa sudah mengajar di sana selama tiga tahun terakhir."
Azel mengetukkan jarinya di atas armrest kulit mobil. "Berapa utang yayasan itu?"
"Cukup besar untuk ukuran sekolah kecil, Pak."
Azel menarik napas dalam, aroma parfum maskulin yang mahal memenuhi kabin mobil. "Siapkan dokumen kerjasama. Bilang pada mereka, aku akan memberikan dana hibah penuh tanpa batas. Tapi, aku tidak mau berurusan dengan kepala sekolahnya."
Ia menjeda kalimatnya, matanya berkilat tajam di balik kegelapan.
"Katakan pada mereka, aku hanya mau menandatangani kontrak itu di hadapan guru yang tadi membagikan brosur. Secara pribadi. Di kantorku."
"Baik, Pak. Kapan Anda ingin ini dijadwalkan?"
Azel menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak menunjukkan keramahan sama sekali. "Besok pagi. Dan pastikan dia datang dalam keadaan sudah makan. Kalau dia pingsan di lobi kantorku, kalian semua yang akan tanggung jawab."
Pagi itu, kantor guru SD Pelita Harapan riuh rendah. Bukan karena kenakalan murid kelas empat, melainkan karena sebuah telepon yang masuk ke meja Kepala Sekolah. Runa, yang baru saja selesai menyesap teh tawar hangat untuk menenangkan lambungnya yang mulai perih, hanya bisa melongo saat Pak Haris, sang kepala sekolah, menghampirinya dengan wajah merah padam karena terlalu semangat.
"Runa! Kamu pakai pelet apa sampai perusahaan sebesar Zelbarra Group mau kasih dana hibah?!" seru Pak Haris sambil menggebrak meja kayu yang sudah mulai goyang kakinya.
Runa tersedak tehnya sendiri. "Zel... siapa, Pak?"
"Zelbarra! Itu, perusahaan properti dan teknologi yang punya gedung-gedung paling tinggi di Jakarta. Mereka baru saja menelepon. Katanya mereka tertarik dengan proposal sekolah alam kita yang kamu bagikan di bandara kemarin!"
Runa merasa dunianya sejenak berputar. Nama itu. Nama yang kemarin sempat ia tepis jauh-jauh kini menghantamnya kembali seperti ombak besar.
"Tapi Pak, saya cuma bagikan brosur... saya nggak kasih proposal detail," sahut Runa pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Nggak tahu ya, mungkin ada malaikat yang sampaikan. Tapi intinya, mereka mau tanda tangan kontrak bantuan penuh pagi ini juga. Syaratnya cuma satu: kamu yang harus datang ke sana mewakili sekolah."
"Kenapa harus saya, Pak? Bapak kan kepala sekolahnya." Runa mulai merasa tidak enak. Overthinking-nya mulai bekerja. Kenapa dia? Apa dia melakukan kesalahan saat membagikan brosur kemarin? Atau apa ini hanya jebakan?
"Mereka bilang mereka ingin bicara langsung dengan gadis yang kemarin terjun 'lapangan'. Sudah, jangan banyak tanya! Pakai baju terbaikmu, Runa. Ini masa depan sekolah kita, masa depan gaji teman-temanmu juga."
Runa tidak punya pilihan. Dengan tangan yang sedikit dingin, ia merapikan kemeja putihnya dan rok kain hitamnya. Ia mematut diri di cermin kamar mandi sekolah yang buram. Wajahnya memang pucat, tapi ia tak punya waktu untuk memoles makeup tebal. Ia hanya mengoleskan sedikit pelembap bibir agar tidak terlihat seperti orang sakit.
Satu jam kemudian, Runa berdiri di depan lobi utama Zelbarra Tower.
Gedung itu begitu megah, dengan dinding kaca yang menjulang menembus awan. Runa merasa seperti semut yang tersesat di istana raksasa. Orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya tampak sangat profesional; wanita dengan sepatu hak tinggi yang berbunyi tuk-tuk-tuk di atas lantai marmer, dan pria dengan setelan jas yang harganya mungkin setara dengan gajinya selama sepuluh tahun.
"Permisi... saya Runa Elainzica, dari SD Pelita Harapan. Ada janji dengan... direksi?" suara Runa hampir tenggelam oleh bisingnya lobi.
Resepsionis cantik di depannya tersenyum sangat ramah, jauh lebih ramah dari yang Runa bayangkan. "Oh, Ibu Runa. Mari, saya antar ke lantai paling atas. Pak CEO sudah menunggu Anda."
CEO? Jantung Runa mencelos. Ia pikir ia hanya akan bertemu dengan manajer pemasaran atau kepala divisi CSR.
Di dalam lift yang bergerak sangat cepat, Runa mencengkeram tas bahunya kuat-kuat. Ia merasa mual. Bukan karena lift-nya, tapi karena rasa minder yang tiba-tiba meluap. Ia merasa sangat salah kostum, sangat tidak pantas berada di sini dengan sepatu yang bagian tumitnya sudah sedikit terkikis.
Pintu lift terbuka dengan denting halus. Runa disambut oleh seorang pria berkacamata yang tampak sangat sigap—asisten yang kemarin dilihatnya di bandara.
"Mari, Ibu Runa. Silakan masuk. Pak Azel sedang di dalam."
Mendengar nama itu disebut dengan begitu santai, lutut Runa lemas. Ia melangkah masuk ke ruangan luas dengan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan seluruh Jakarta.
Di balik meja hitam besar, seorang pria sedang memunggungi pintu, menatap keluar jendela.
"Zel?" panggil Runa hampir berbisik.
Pria itu memutar kursinya perlahan. Azel tidak berubah. Tatapannya masih setajam dulu, namun sekarang ada keangkuhan yang lebih dewasa di sana. Ia meletakkan sebuah map kulit di atas meja.
"Kamu terlambat sepuluh menit, Runa," ucap Azel datar. Matanya tidak lepas dari wajah Runa, meneliti setiap inci perubahan pada wanita itu.
Azel memperhatikan bagaimana tangan Runa meremas tali tasnya. Ia juga memperhatikan bagaimana Runa terus-menerus membasahi bibirnya yang kering. Dia haus, tapi dia terlalu malu untuk minta, batin Azel.
"Aku... aku tadi harus naik bus dulu," jawab Runa, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Azel, apa maksudnya ini? Kenapa sekolahku? Kenapa aku?"
Azel tidak langsung menjawab. Ia menekan sebuah tombol di interkomnya. "Bawakan air mineral suhu ruang dan teh manis hangat sekarang. Juga satu porsi bubur ayam tanpa kacang."
Runa mengerutkan kening. "Zel, aku ke sini untuk urusan sekolah, bukan untuk makan."
Azel menyandarkan punggungnya, menatap Runa dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tanda tangan kontrak ini butuh waktu lama, Runa. Dan aku nggak mau tamu sekolahku pingsan karena maag-nya kambuh hanya dalam waktu lima menit pembicaraan. Duduk."
Kata "Duduk" itu terdengar seperti perintah yang tidak bisa dibantah. Runa akhirnya duduk di kursi kulit di depan meja Azel, merasa kecil dan bingung, sementara Azel terus memperhatikannya dengan cara yang membuatnya ingin menghilang dari sana.
"Ayo mulai pembicaraannya, Azel. Kenapa kamu mau bantu sekolah kami?"
Azel mengambil pulpen mahal dari mejanya, memutarnya perlahan di antara jari-jarinya. "Karena aku butuh sesuatu dari kamu, Runa. Sesuatu yang hanya bisa kamu berikan."
Runa menahan napas. Ini dia, pikirnya. Drama ini dimulai.
"Bantu aku menghindari perjodohan gila ibuku, dan aku akan pastikan sekolahmu jadi sekolah swasta terbaik di kota ini."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!