Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui jendela besar di ruang makan kediaman Graceva terasa begitu menyilaukan, seolah ingin mengejek suasana hati Aneska yang mendung. Aneska Claryz Graceva, gadis berusia dua puluh lima tahun dengan rambut bergelombang yang biasanya tertata rapi, kini hanya bisa mengaduk-aduk bubur ayamnya dengan lesu.
Denting sendok yang beradu dengan mangkuk porselen menjadi satu-satunya musik latar, sampai akhirnya suara deheman berat menghentikan gerakan tangan Aneska.
"Anes," panggil pria paruh baya yang duduk di kepala meja. Hendra Graceva, sang kepala keluarga, melipat koran ekonominya dan menatap putri tunggalnya dengan tatapan yang tidak bisa dibantah.
Aneska tidak mendongak. "Iya, Pa?"
"Kamu sudah dengar apa yang Papa katakan semalam, kan? Papa tidak sedang bercanda."
Aneska menghela napas panjang, akhirnya meletakkan sendoknya. "Pa, ayolah. Anes baru dua puluh lima. Di kantor, Anes baru saja naik jabatan jadi senior creative. Masa depan Anes lagi cerah-cerahnya. Kenapa tiba-tiba bahas perjodohan kayak di film-film jadul sih?"
Hendra menyesap kopi hitamnya perlahan sebelum menjawab. "Justru karena kariermu bagus, Papa mau hidupmu stabil. Kamu itu terlalu sibuk kerja sampai lupa bersosialisasi. Papa nggak mau kamu jadi perawan tua hanya karena sibuk mengejar deadline."
"Papa! Perawan tua itu istilah abad berapa?" Aneska memprotes, wajahnya mulai memerah. "Anes cuma belum ketemu yang pas aja."
"Makanya, Papa carikan yang pas," sahut Hendra tenang. "Namanya Argani Sebasta. Dia anak rekan bisnis Papa. Umurnya tiga puluh tahun. Matang, mapan, dan yang paling penting, dia laki-laki yang punya integritas. Tidak seperti anak muda zaman sekarang yang cuma tahu main-main."
Aneska memutar bola matanya. "Tiga puluh tahun? Pa, itu namanya Om-om! Bedanya lima tahun itu banyak, lho. Pasti dia kaku, membosankan, seleranya musik klasik, dan kalau bicara isinya cuma soal grafik saham atau investasi properti. Ih, bayanginnya aja udah bikin Anes merinding."
"Aneska, jaga bicaramu," Mama Aneska yang baru datang dari dapur ikut menimpali sambil meletakkan piring berisi buah potong. "Arga itu tampan, lho. Mama sudah lihat fotonya. Gagah banget."
"Ma, semua ibu-ibu kalau lihat cowok pakai jas juga bilangnya ganteng," gerutu Aneska. "Pokoknya Anes nggak mau. Anes mau cari sendiri."
Hendra mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, memberikan tekanan psikologis yang sudah biasa ia gunakan di ruang rapat. "Oke. Papa beri kamu pilihan. Cari calonmu sendiri dalam waktu tiga hari. Bawa dia ke hadapan Papa, tunjukkan kalau dia lebih baik dari Argani."
Aneska tersedak ludahnya sendiri. "Tiga hari?! Pa, cari pacar bukan kayak beli seblak yang lima menit langsung jadi!"
"Kalau dalam tiga hari kamu tidak bisa membawa siapa pun," Hendra berdiri, merapikan jasnya, "maka minggu depan, hari Sabtu, kamu harus ikut makan malam pertunangan dengan Arga. Tidak ada tapi-tapian, Aneska Claryz."
Setelah Papa pergi, Aneska menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Dunianya serasa runtuh.
"Ma, bantuin Anes dong..." rengeknya pada sang Mama.
Mama hanya mengusap bahu Aneska lembut. "Turuti saja Papa, sayang. Lagipula, siapa tahu Arga itu benar-benar jodoh yang selama ini kamu tunggu-tunggu? Sudah, cepat habiskan sarapanmu, nanti telat ke kantor."
Aneska tiba di kantor dengan wajah yang ditekuk seribu. Sepanjang jalan, pikirannya hanya berputar pada satu hal: Di mana aku bisa dapat pacar dalam tiga hari?
Begitu sampai di kubikelnya, ia langsung menyambar ponsel dan menelepon satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya dalam situasi darurat ini.
"Halo, Miska! SOS! Save Our Soul! Nyawa gue di ujung tanduk!" teriak Aneska begitu panggilan tersambung.
"Sialan, Anes! Gue hampir tumpah kopi denger suara lo!" suara Miska Willona terdengar nyaring di seberang sana. "Kenapa lagi? Bos lo minta revisi desain jam dua pagi lagi?"
"Lebih parah dari revisi, Mis! Bokap gue. Beliau kasih ultimatum. Gue harus bawa pacar dalam tiga hari atau gue bakal dikawinin sama om-om berumur tiga puluh tahun pilihan dia!"
Miska tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Serius? Wah, gila sih Om Hendra. Tapi bentar, tiga puluh tahun mah bukan om-om, Nes. Itu mah usia matang, usia 'daddy' yang lagi lucu-lucunya."
"Nggak lucu, Miska! Gue serius! Lo kan ratu aplikasi dating, lo kan punya ribuan kenalan cowok. Tolongin gue, cariin satu aja yang bisa gue ajak akting jadi pacar. Speknya nggak usah tinggi-tinggi, yang penting manusia, punya kerjaan tetap, dan nggak malu-maluin kalau dibawa ketemu bokap."
Miska terdiam sejenak, terdengar suara ketikan di latar belakang. "Hmm... bentar. Gue lagi buka aplikasi dating premium gue nih. Ada satu sih yang baru match sama gue kemarin, tapi kayaknya dia bukan tipe gue. Dia terlalu... gimana ya, auranya terlalu serius."
"Serius malah bagus! Biar bokap gue percaya," sahut Aneska antusias.
"Namanya Gani. Di profilnya sih dia bilang cari hubungan serius. Umurnya sekitar tiga puluh juga, kerjaannya... katanya wiraswasta. Fotonya sih lumayan, cool gitu. Mau gue coba set up pertemuan buat lo?"
"Mau banget! Kapan? Di mana?"
"Dia kebetulan lagi ada waktu senggang sore ini jam lima di Blue Coffee. Dia bilang ada janji lain jam enam, jadi lo cuma punya waktu sebentar buat nge-lobi dia. Gimana? Berani nggak?"
Aneska mengepalkan tangannya. "Berani! Demi kebebasan gue, apa pun gue lakuin. Lo kirim alamatnya sekarang, terus bilang ke dia kalau yang nemuin bukan lo, tapi sahabat lo yang lagi 'butuh bantuan mendesak'."
"Oke, Bestie. Gue aturin. Tapi inget ya, jangan langsung lo ajak nikah. Pelan-pelan dulu," goda Miska.
"Ih, ya nggak lah! Cuma pacar bohongan doang kok!"
Aneska menutup telepon dengan semangat baru. Ia segera membuka laci mejanya, mengambil cermin kecil, dan mulai merapikan riasannya. Tunggu gue, Mas Gani. Lo bakal jadi penyelamat hidup gue!
......................
Tanpa Aneska sadari, di sebuah gedung perkantoran mewah di pusat kota, seorang pria sedang menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Pria itu adalah Argani Sebasta. Ia baru saja menerima pesan dari asistennya bahwa ayahnya ingin ia bertemu dengan calon tunangannya sore ini di sebuah kafe.
"Aneska Claryz Graceva..." gumam Arga sambil melihat foto seorang gadis yang sedang tertawa lebar sambil memegang es krim. "Lucu juga. Tapi kenapa kita harus ketemu diam-diam di kafe? Kenapa tidak langsung makan malam resmi saja?"
Arga melirik jam tangannya. "Jam lima di Blue Coffee. Baiklah, mari kita lihat seberapa 'menarik' pilihan Papa kali ini."
Arga menutup laptopnya, tidak menyadari bahwa ada sebuah kesalahpahaman besar yang sedang menantinya di kafe tersebut. Kesalahpahaman yang akan mengubah hidupnya—dan hidup Aneska—selamanya.
Aneska berdiri di depan cermin toilet kafe Blue Coffee untuk ke-sepuluh kalinya. Ia merapikan gaun floral berwarna soft pink yang menurutnya memberikan kesan "wanita baik-baik yang butuh dilindungi". Rambutnya yang bergelombang sengaja digerai, memberikan aroma vanilla yang manis setiap kali ia bergerak.
"Oke, Anes. Lo pasti bisa. Lo cuma perlu meyakinkan cowok bernama Gani ini buat jadi pacar sewaan. Kalau dia minta bayaran, gue bakal pakai uang tabungan beli tas baru gue. Ini demi kebebasan!" bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.
Ia keluar dari toilet dengan langkah mantap. Matanya menyisir seluruh penjuru kafe yang didominasi dekorasi kayu dan aroma biji kopi yang kuat. Suasana cukup ramai, denting sendok dan tawa ringan pengunjung memenuhi udara.
Aneska melirik ponselnya. Pesan dari Miska: Meja nomor 12, Anes! Inget, jangan malu-maluin!
Matanya tertuju pada sebuah meja di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Di sana, seorang pria sedang duduk membelakanginya. Dari belakang saja, pundaknya terlihat kokoh dan lebar. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga siku.
Aneska menarik napas dalam-dalam, membusungkan dada, dan melangkah mendekat. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja melewati meja nomor dua belas yang asli—di mana seorang pria berkaus polo biru sedang sibuk bermain ponsel—dan justru melangkah menuju meja nomor dua puluh satu yang letaknya di pojok paling privat.
Plak!
Aneska meletakkan tas tangannya di atas meja dengan sedikit bertenaga untuk menarik perhatian. Tanpa menunggu dipersilakan, ia langsung menarik kursi dan duduk tepat di hadapan pria itu.
"Hai! Maaf ya nunggu lama. Kamu 'Gani' kan? Kenalin, aku Aneska yang dibilang Miska tadi," cerocos Aneska tanpa jeda, sambil menunjukkan senyum paling cerah yang ia miliki.
Pria di hadapannya tertegun. Gelas kopi yang baru saja akan menyentuh bibirnya tertahan di udara. Pria itu adalah Argani Sebasta. Arga mengerutkan kening. Ia baru saja tiba dua menit yang lalu dan sedang menunggu calon tunangannya yang katanya bernama Aneska.
Aneska? batin Arga. Ia menatap gadis di depannya intens. Wajahnya sama dengan foto yang dikirimkan papanya, tapi sikapnya... jauh dari kata "gadis kalem" yang diceritakan orang tuanya.
"Gani?" Arga mengulang nama itu dengan suara bariton yang rendah dan seksi.
"Iya, Gani! Eh, atau lo mau dipanggil Mas Gani? Kak Gani? Terserah deh," Aneska mengibaskan tangannya santai. Ia sedikit terpesona melihat wajah pria di depannya. Gila, Miska nggak bilang kalau 'Gani' ini gantengnya kelewatan. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan matanya... duh, tajam banget kayak mau nelan orang.
Arga meletakkan kembali gelas kopinya. Ia menyandarkan punggung ke kursi, bersedekap, dan menatap Aneska dengan tatapan menyelidik. Ia menyadari sesuatu: gadis ini salah mengira dirinya sebagai orang lain dari aplikasi kencan.
"Jadi... kamu Aneska?" tanya Arga, memastikan.
"Iya! Aneska Claryz Graceva. Panggil aja Anes," Aneska memajukan tubuhnya, volumenya mengecil jadi berbisik. "Gini, Mas Gani. Gue mau langsung to the point aja ya, soalnya waktu kita nggak banyak. Gue dalam masalah besar."
Arga menaikkan sebelah alisnya, merasa terhibur. "Masalah besar apa?"
"Gue mau dijodohin! Sama om-om pilihan bokap gue! Namanya Argani siapa gitu, gue nggak peduli," Aneska mengadu dengan wajah cemberut yang bagi Arga justru terlihat sangat lucu. "Katanya sih dia mapan, tapi ya ampun... umurnya udah tiga puluh tahun, Mas! Lo bayangin nggak sih betapa ngeboseninnya hidup gue kalau harus sama orang kayak gitu? Pasti dia kaku banget, jam delapan malam udah tidur, terus kalau ngomong pakai bahasa baku."
Arga hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Kaku? Jam delapan sudah tidur? Ia baru saja ingin tertawa, tapi ia menahannya sekuat tenaga. Wajahnya tetap datar, namun matanya berkilat penuh minat.
"Jadi, kamu nggak mau sama Argani itu?" tanya Arga memancing.
"Nggak mau lah! Makanya, gue mau minta tolong sama lo. Miska bilang lo lagi nyari hubungan serius. Gue butuh 'pacar' buat dipamerin ke bokap gue dalam tiga hari ini. Gue bakal bayar lo, atau lo boleh minta apa aja deh, asal lo mau akting jadi cowok gue di depan bokap gue. Gimana? Lo mau kan bantu gue?"
Aneska menatap Arga dengan mata bulat yang penuh harap, persis seperti anak kucing yang meminta makan.
Arga terdiam cukup lama. Ia menatap gadis yang mengatainya "om-om membosankan" ini dengan sudut pandang baru. Aneska sangat ekspresif, jujur, dan... sedikit ceroboh.
"Menarik," gumam Arga pelan.
"Gimana? Mau kan?" desak Aneska.
Arga mengetukkan jari telunjuknya di meja. Sebuah ide jahil muncul di kepalanya. Jika ia mengaku sebagai Argani sekarang, mungkin Aneska akan langsung kabur. Tapi jika ia mengikuti permainan gadis ini...
"Kenapa harus pacaran?" tanya Arga tiba-tiba.
"Hah?" Aneska bengong.
"Kalau cuma pacaran, Papa kamu masih punya celah buat maksa kamu nikah sama 'si om-om' itu, kan? Kalau pacar kamu cuma level pacar, posisi Argani itu masih kuat di mata Papa kamu."
Aneska mengerutkan dahi. "Terus? Gue harus gimana?"
Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat jarak di antara mereka terkikis. Aroma parfum maskulin yang elegan—campuran kayu cendana dan citrus—menusuk indra penciuman Aneska, membuatnya tiba-tiba gugup.
"Kenapa nggak langsung menikah saja?" tanya Arga dengan nada santai seolah sedang menawarkan menu makanan.
Mata Aneska nyaris keluar dari kelopaknya. "M-menikah?! Kita bahkan belum pesan minum, Mas Gani!"
"Pikirkan begini," Arga mulai bernegosiasi dengan gaya CEO-nya yang mematikan. "Kamu butuh tameng yang permanen. Kalau kamu bawa calon suami, Papa kamu nggak punya alasan lagi buat jodohin kamu sama orang lain. Saya mapan, saya jomblo, dan seperti yang kamu lihat... saya tidak seburuk om-om pilihan Papa kamu, kan?"
Aneska menatap wajah Arga lamat-lamat. Bener juga sih. Gani ini ganteng banget. Kalau gue bawa dia ke rumah, Papa pasti langsung minder bandingin dia sama si Arga-Arga itu. Tapi... nikah?
"Tapi kita kan nggak kenal..." cicit Aneska.
"Kita bisa kenalan sambil jalan. Lagipula, kamu bilang kamu butuh solusi cepat," Arga melirik jam tangannya. "Waktu kamu sisa dua hari lebih beberapa jam lagi, Aneska."
Aneska menggigit bibir bawahnya. Logikanya berteriak 'Jangan!', tapi rasa paniknya terhadap perjodohan Papa jauh lebih besar. Ditambah lagi, pria di depannya ini punya aura yang sangat meyakinkan. Dewasa, tenang, dan tampan.
"Lo beneran jomblo kan? Bukan simpanan tante-tante atau buronan?" tanya Aneska curiga.
Arga terkekeh, suara yang sangat berat dan merdu. "Saya bersih. Saya cuma pria yang kebetulan sedang mencari istri, dan kamu... kebetulan lewat di depan saya."
Aneska menarik napas dalam, menutup matanya sejenak, lalu membukanya dengan tekad bulat. Ia mengulurkan tangannya di atas meja.
"Oke! Deal! Kita nikah. Tapi lo harus janji bakal bantuin gue ngadepin Papa!"
Arga menyambut uluran tangan kecil Aneska. Genggamannya hangat dan kuat. "Deal. Saya akan bantu kamu... menghadapi apa pun."
Arga tersenyum tipis—senyum kemenangan yang tidak disadari Aneska. Aneska, kamu tidak tahu kalau pria yang kamu sebut 'om-om membosankan' itu sedang memegang tanganmu sekarang.
"Pilihan yang pintar, Aneska," ucap Arga pelan. "Jadi, kapan kita ke rumah Papa kamu?"
Aneska tersenyum lebar, merasa bebannya terangkat. "Besok! Besok sore lo jemput gue di kantor! Gue bakal kirim lokasinya!"
Tanpa mereka sadari, di meja nomor dua belas yang asli, pria berkaus polo biru mulai gelisah karena teman kencannya tak kunjung datang. Sementara itu, Aneska baru saja menyerahkan dirinya ke dalam "sangkar" yang justru ia buat sendiri.
Hari ini, konsentrasi Aneska di kantor benar-benar hancur. Berkali-kali ia salah mengetik caption untuk proyek kliennya. Pikirannya melayang pada kesepakatan gila yang ia buat kemarin sore di Blue Coffee.
Gue beneran bakal bawa cowok asing ke rumah? batinnya sambil menggigit ujung pulpen. Gimana kalau dia tiba-tiba grogi? Gimana kalau Papa tahu dia cuma cowok dari aplikasi kencan?
Pukul 16.55, ponsel Aneska bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang kemarin ia simpan dengan nama 'Gani Penyelamat'.
[Gani Penyelamat]: Saya sudah di depan lobi. Mobil hitam.
Aneska langsung merapikan tasnya, memoles lipstik tipis, dan berpamitan pada teman-temannya dengan terburu-buru. Ia berlari kecil menuju pintu keluar gedung agensi tempatnya bekerja. Begitu sampai di lobi, langkahnya terhenti.
Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap terparkir tepat di depan pintu masuk. Bukan sekadar mobil biasa, itu adalah seri terbaru yang harganya pasti bisa buat beli satu kompleks perumahan. Beberapa rekan kantor Aneska yang baru pulang terlihat berbisik-bisik sambil melirik mobil itu.
"Nggak mungkin Gani," gumam Aneska. "Dia kan bilang wiraswasta, bukan sultan."
Namun, kaca mobil itu turun perlahan. Sosok pria dengan kacamata hitam dan kemeja putih bersih yang dua kancing teratasnya terbuka terlihat di balik kemudi. Pria itu melepas kacamatanya, menatap Aneska dengan tatapan tenang yang mematikan.
"Aneska, masuk," panggil Arga.
Aneska melongo. Ia mendekat dengan ragu, lalu masuk ke dalam mobil yang aromanya sangat wangi—perpaduan antara kulit jok mahal dan parfum maskulin Arga.
"Mas Gani... ini mobil siapa? Lo pinjem dari bos lo ya?" tanya Aneska langsung begitu pintu tertutup rapat.
Arga hampir saja tertawa, tapi ia berhasil mempertahankan wajah datarnya. "Ini mobil saya sendiri. Kenapa? Kamu kurang suka?"
"Bukan nggak suka! Tapi ini kemewahan banget! Lo bilang wiraswasta, wiraswasta apa yang pakai mobil beginian? Jualan pulau?" cerocos Aneska sambil meraba dasbor mobil yang sangat halus.
"Wiraswasta kecil-kecilan," jawab Arga santai sambil mulai menjalankan mobilnya. "Saya cuma ingin terlihat meyakinkan di depan Papa kamu. Bukankah itu tujuan kita?"
Aneska mengangguk-angguk setuju, meski hatinya masih merasa janggal. "Iya sih, tapi Mas... kalau lo terlalu kelihatan kaya begini, nanti Papa malah makin banyak tanya. Papa itu detektif kalau soal urusan cowok."
Arga melirik Aneska sekilas. Gadis itu terlihat sangat cantik hari ini dengan blazer kasual dan celana bahan yang pas di tubuhnya. "Tenang saja. Saya sudah menyiapkan skenario. Kamu cukup ikuti alur saya."
Perjalanan menuju rumah Aneska terasa lebih singkat dari biasanya karena suasana di dalam mobil yang sangat nyaman. Aneska mencoba mencairkan suasana dengan terus bicara, menceritakan betapa galaknya Papanya, sementara Arga lebih banyak mendengarkan dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Begitu sampai di depan gerbang rumah besar keluarga Graceva, Aneska menarik napas panjang.
"Oke, Mas. Aturannya: Lo adalah Gani, pacar gue selama tiga bulan terakhir. Kita ketemu di pameran seni. Lo orangnya sukses, mandiri, dan... tolong ya, Mas, jangan biarkan Papa tahu kalau kita baru kenal kemarin."
Arga menghentikan mesin mobil. Ia menoleh ke arah Aneska, lalu tiba-tiba tangannya terulur untuk merapikan sehelai rambut Aneska yang menutupi wajahnya. Sentuhan itu singkat, tapi sukses membuat jantung Aneska berdebar kencang.
"Aneska," suara Arga merendah. "Percaya pada saya. Semuanya akan lancar."
Mereka turun dan disambut oleh asisten rumah tangga yang langsung mengantar mereka ke ruang tamu luas. Di sana, Hendra Graceva sudah duduk di sofa tunggalnya, tampak seperti raja yang sedang menunggu laporan dari bawahannya.
"Pa, ini... Mas Gani. Pacar Anes," suara Aneska sedikit bergetar saat memperkenalkan Arga.
Hendra berdiri. Matanya yang tajam langsung memindai Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki. Arga tidak terlihat gentar sedikit pun. Ia justru melangkah maju dengan percaya diri, mengulurkan tangan, dan memberikan jabat tangan yang sangat mantap.
"Selamat sore, Om. Saya Argani... maksud saya, Gani," Arga meralat ucapannya dengan sangat halus sehingga Aneska tidak menyadarinya. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda."
Hendra terdiam sejenak, menatap tangan Arga, lalu beralih ke wajah Arga. Ada kilatan aneh di mata Hendra—seperti rasa terkejut yang tertahan.
"Gani, ya?" Hendra duduk kembali dan mempersilakan mereka duduk. "Silakan duduk. Jadi, kamu yang selama ini membuat putri saya menolak semua tawaran perjodohan saya?"
"Papa!" Aneska memprotes, wajahnya merah padam.
Arga tersenyum sopan. "Saya rasa Aneska berhak memilih kebahagiaannya sendiri, Om. Dan saya di sini untuk memastikan bahwa pilihan Aneska tidak salah."
Hendra berdehem, suaranya terdengar sedikit lebih lunak namun tetap mengintimidasi. "Kamu kerja di mana? Tadi saya lihat mobil di depan. Cukup menarik untuk ukuran anak muda."
"Saya mengelola beberapa bisnis di bidang teknologi dan logistik, Om. Masih tahap pengembangan, tapi stabil," jawab Arga diplomatis.
Aneska menyenggol lengan Arga pelan, berbisik, "Mas, jangan sombong-sombong banget, nanti Papa minta saham!"
Arga hanya membalas dengan kerlingan mata nakal yang membuat Aneska makin salah tingkah.
"Teknologi dan logistik?" Hendra mengulang kalimat itu. "Menarik. Karena setahu saya, anak rekan saya, Argani Sebasta, juga bergerak di bidang yang sama. Kamu tidak kenal dia?"
Deg! Jantung Aneska serasa berhenti. Ia melirik Arga dengan panik.
Arga justru terlihat sangat tenang. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke mata Hendra. "Oh, saya kenal baik dengan dia, Om. Bahkan bisa dibilang, saya tahu setiap langkah yang dia ambil."
Aneska hampir saja pingsan. Mas Gani, lo cari mati ya?! batinnya menjerit. Ia tidak tahu bahwa saat ini, Papanya sedang mati-matian menahan senyum karena mengenali siapa sebenarnya pria di depannya ini.
"Oh ya?" Hendra menaikkan alisnya. "Lalu menurutmu, siapa yang lebih baik untuk Aneska? Kamu, atau Argani Sebasta itu?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Aneska menggenggam ujung blazernya dengan erat. Ia menanti jawaban dari pria yang ia pikir hanyalah "orang asing dari aplikasi kencan" ini.
Arga menoleh ke arah Aneska, memberikan tatapan yang begitu dalam dan tulus, lalu kembali menatap Hendra.
"Argani Sebasta mungkin punya segalanya, Om. Tapi saya... saya adalah pria yang berdiri di sini sekarang, memegang komitmen untuk menjaga Aneska. Dan menurut saya, itu adalah nilai yang tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun."
Hendra terdiam lama, lalu tiba-tiba... tawa keras pecah dari mulut pria paruh baya itu. "Hahaha! Bagus! Kamu punya nyali juga!"
Aneska bengong. Hah? Papa nggak marah? Papa malah ketawa?
"Anes, Papa suka pria ini," ucap Hendra tiba-tiba. "Tapi, Papa punya satu syarat kalau kamu mau tetap sama dia dan membatalkan perjodohan dengan Arga."
Aneska menegakkan punggungnya. "Apa syaratnya, Pa?"
"Kalian harus bertunangan secara resmi minggu depan. Papa tidak mau pacaran yang tidak jelas arahnya. Kalau Gani beneran serius, dia pasti setuju."
Aneska melongo. "Tapi Pa, minggu depan?!"
"Kenapa? Kamu nggak mau?" tantang Hendra.
Aneska melirik Arga, memberi kode agar Arga menolak atau memberi alasan. Namun, yang dilakukan Arga justru di luar dugaan.
Arga menggenggam tangan Aneska di atas meja, di depan mata Papanya sendiri. "Saya setuju, Om. Minggu depan, saya akan membawa keluarga saya ke sini untuk melamar Aneska secara resmi."
Aneska: "HAAAHH?!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!