Naufal berjalan terburu-buru untuk kembali ke toko, Ia hanya punya waktu istirahat tiga puluh menit, dan ia harus segera kembali ke toko. Sisa keringat dingin masih membasahi dahinya setelah menerima telepon dari rumah sakit mengenai biaya kontrol ibunya. Sebesar 5 juta rupiah … bagi naufal yang hanya seorang fresh graduate dan hanya bekerja sebagai sales handphone itu merupakan uang yang nominalnya cukup besar apalagi tenggat pembayaran tinggal beberapa hari lagi.
Namun hari ini adalah harapannya, seorang pelanggan tetap sudah berjanji akan datang untuk mengambil dua unit R-14, seri flagship terbaru dengan komisi yang tinggi, sekali dia jualan dua unit itu target dia akan tutup. Dan untuk sales yang tutup target dan dengan penjualan dua seri flagship baru sudah bukan rahasia lagi dia bakal dapat gaji diatas UMR Jogja. Uang itu pasti dia dapat, dengan uang itu ia akan menggunakan untuk mengobati sang ibu.
Akan tetapi harapan seakan memberikan ilusi bagi Naufal, dunia tidak seindah itu untuk berjalan sesuai kehendak manusia, apalagi untuk bocah yang baru saja lulus SMK itu … saat kakinya melangkah masuk ke area toko, jantungnya seakan berhenti berdetak. Di meja negosiasi, ia melihat Andre—sales senior yang paling ia benci—sedang tertawa lebar di depan seorang pria yang sangat Naufal kenali.
Itu adalah pelanggan janjiannya!
"Nah, Pak, percaya sama saya. R-14 itu cuma menang iklan. Kalau Bapak mau yang benar-benar gahar, ambil A-56 ini. Ini produk unggulan brand saya, teknologinya jauh di atas yang ditawarkan anak magang tadi," ucap Andre sambil menyodorkan unit demo miliknya. “Dia itu cuma anak baru, pak … saya lebih senior dan paham mengenai HP, jadi percaya saja pada saya.”
Apa-apaan ini? Bapak itu adalah klien janjian dia! Dan semua orang di toko tahu akan hal itu, Andre juga seharusnya tahu karena dia baru saja melakukan probing (pengenalan produk) dan deal tepat di mata senior sombongnya–barang akan diambil hari ini.
Tapi si Andre malah menghasut bapak itu ke produk lain … asal kalian tahu itu merupakan tindakan nista dan pelanggaran di dunia sales, dia melanggar aturan utama … jangan merebut pelanggan janjian milik seseorang.
Naufal tidak bisa menahan diri lagi. Masalahnya senior ini tidak sekali dua kali melakukan hal ini, akibatnya naufal selalu tidak tutup target selama 3 bulan bekerja sebagai sales HP dan efeknya, dia sudah kena SP 1, bahkan 2! Jika dia tidak tutup target lagi bulan ini, dia kena sp3 alias di pecat!
Ia melangkah maju dengan wajah memerah. "Kak Andre! Apa-apaan ini? Ini pelanggan janjian saya! Bapak ini sudah sepakat mau ambil R-14 dua unit sama saya tadi pagi!"
Andre menoleh pelan, senyum sinis tersungging di bibirnya. Tanpa rasa bersalah, ia menepuk bahu Naufal dengan keras. "Oh, Naufal? Sori ya, tadi Bapak ini kelihatan bingung, jadi sebagai senior yang baik, gue bantu jelasin. Lagian, lo tadi nggak ada di tempat. Di sini hukumnya jelas: siapa cepat, dia dapat."
"Tapi Kak, ini user janjian! Kakak sudah melanggar etika!" suara Naufal meninggi. “Aku bahkan sudah jauh-jauh dari cabang pusat untuk mengambil dua stok ini, rela istirahatku kepotong juga!”
Pria pelanggan itu tampak tidak enak hati. "Duh, Mas Naufal, maaf ... Kayaknya saya gak jadi beli R-14 … Mas Andre juga bilang kalau stok R-14 lagi bermasalah, jadi saya ditawari A-56 ini yang katanya lebih bagus."
Naufal terbelalak. "Bermasalah? Stok kita melimpah di gudang, Pak! Kak Andre bohong—"
"Jaga mulut lo, bocah!" Andre berdiri, matanya melotot tajam. "Lo mau bikin keributan di depan customer? Mau gue laporin ke Manajer karena nggak sopan sama senior? Ingat kita ini cuma numpang tempat di toko, kita bawaan brand hp masing-masing … kalau lo gue laporin buat masalah, lo bisa langsung dipecat!”
“Tapi, kak mainnya juga gak gitu dong—”
“Maaf, mas Naufal,” sela bapak itu. “Saya baru saja menelpon putri saya … dia lihat desain dari A-56 dan katanya dia lebih tertarik dengan produk ini, jadi maaf ya, mas.”
Naufal terpaku. Kata-kata pelanggan itu bagaikan palu godam yang menghancurkan sisa-sisa harapannya. Ia menatap kotak R-14 yang masih terbungkus plastik rapi di atas meja, barang yang ia ambil dengan susah payah dari gudang pusat, kini hanya menjadi saksi bisu kegagalannya.
Andre tertawa menang. Tanpa membuang waktu, ia segera menggiring pria itu ke meja kasir. "Nah, itu pilihan pintar, Pak! Putri Bapak pasti senang. Mari Pak, lewat sini, saya urus administrasinya sekarang juga."
Sembari berjalan, Andre sengaja menyenggol bahu Naufal dan berbisik dengan nada mengejek, "Gue bilang juga apa, Fal? Dunia sales itu keras. Nggak ada tempat buat pecundang yang cuma modal 'janjian' tapi nggak becus jaga user. Makanya besok-besok main DP biar aman, itu saran dari senior lo.”
Naufal mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Amarahnya memuncak, namun ponsel di genggamannya bergetar kembali. Panggilan dari area miliknya, tim leader—atasan dari brand hp Naufal (anggap aja bos). Dengan napas memburu, ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Naufal! Apa-apaan laporan penjualanmu ini?!" Suara Pak Eko, sang Area Tim Leader are yogyakarta, meledak di seberang sana. "Targetmu kurang 12 juta lagi untuk mencapai minimum target! Dan ini sudah H-2 penutupan bulan!”
"M-maaf Pak, barusan pelanggan janjian saya direbut oleh sales lain—"
"HALAH ALASAN KLASIK! KEMARIN ITU ITU AJA ALASANMU! SAYA TIDAK MAU DENGAR ALASAN SAMPAH!" bentak Pak Eko. "Saya sudah kasih kamu toleransi selama dua bulan kemarin. Aku anggap kamu baik-baik karena masih anak baru lulus kemarin sore, Tapi ini sudah bulan ketiga! Selama tiga bulan kerja lo gak pernah target! Lo udah kena SP beberapa kali gak kapok juga?!”
Naufal menunduk. “Maaf pak, saya akan usahakan—”
“Jangan menjawab! Dasar ini kenapa saya malas sama anak fresh graduate, anak gen Z bermasalah semua! Inget ya, Kukasih toleransi besok, sampai malam jika laporan tidak berubah, jangan repot-repot datang ke kantor besok. Saya akan kirimkan surat PHK dan SP-3 lewat kurir! Perusahaan tidak butuh benalu yang cuma jago beralasan!"
Klik. Sambungan diputus secara sepihak.
Naufal lemas. Lututnya seakan tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. 12 juta... nominal yang sekarang terasa mustahil dicapai dalam hitungan jam, apalagi pelanggan janjian nya baru saja 'dirampok' tepat di depan matanya.
Padahal satu unit R-14 itu 6 juta kalau dia jadi beli 2 unit. Dia sudah tutup target. Sekarang? Dia cuma dapat hikmah doang.
Nana yg merupakan sales dari kredit ikut campur, mencibir juga.
“Hahaha kasihan banget ya ampun. Jaga pelanggan aja gak benar, sudah miskin kerja gak niat lagi … pantes saja kamu di sp nak nak!”
Sekarang dia mengerti Nana pasti juga ikut campur saat merayu pelanggan dia. Sejak awal masuk nana sudah selalu tidak suka dengannya.
Naufal menggerakkan gigi. Emosinya meluap- luap sekarang, bukan karena dia rela diinjak-injak, namun dia sabar untuk menjaga rasa profesional. Dan sekarang sudah diambang batasnya.
Dia akan mengamuk—
Mengetahui sekilas emosi itu, Siska, sales dari brand pesaing yang sedari tadi menyaksikan drama itu dari meja seberang, mendekat.
“Tenang, jangan dengerin kak nana,” ucapnya lembut. “Tarik napas dalam - dalam … tenan oke?”
Naufal menghela napas, untung dia ditahan begitu. “Iya, makasih.”
Lalu Siska balik mencibir.
"Lagian kamu juga sih … Naufal... Naufal. makannya kalau ada user janjian kamu minta DP dulu, jadi cowok kok gak berpengalaman banget.”
Meski suka mencibir dan bermulut tajam, Naufal tahu, siska itu masih mending daripada Andre serta si jalan Nanan, paling tidak dia melakukan itu untuk kebaikan Naufal.
“gue juga mau, siska cantik … Masalahnya gak segampang itu, toko ini aturannya kolot” ujar naufal.
“Gue perlu ambil stok dulu di tempat pusat, baru bisa bikin surat DP … terus, tahu sendiri R-14 itu barang baru .. di toko ini gak ada.” Naufal terlihat sangat lemas, dan seperti ingin menangis.
“Sialan padahal tanggungan juga masih banyak, pusing jadi generasi sandwich gini.”
Melihat itu siska sedikit merasa risih. “Jangan banyak ngeluh! Cowok bukan sih!”
Siska mendengus melihat wajah Naufal yang sudah seperti mayat hidup. Ia merogoh laci mejanya, mengambil sebungkus roti sobek cokelat yang sebenarnya disiapkan untuk camilan sorenya sendiri, lalu melemparnya tepat ke dada Naufal.
"Nih! Makan! Jangan bikin gue risih lihat muka lo yang pucat begitu. Kalau lo pingsan di toko, yang ada Andre makin senang karena punya alasan buat bilang lo nggak profesional," cetus Siska ketus, matanya kembali menatap layar ponsel, menyembunyikan rasa iba yang sedikit terselip.
Naufal menangkap roti itu dengan bingung. "Sis, ini..."
"Udah, jangan banyak tanya! Pergi istirahat sana ke gudang atau ke mana kek. Muka lo itu merusak pemandangan toko," potong Siska cepat.
"Dan satu lagi, besok jangan lupa bawa semangat dikit. Kalau lo dipecat, nggak ada lagi yang bisa gue cibir di sini."
Naufal tersenyum kecut. "Makasih, Sis." Lalu menatap siska hangat. “Biasanya mulut pedas dan tajam, tapi kamu baik juga ya.”
Siska memalingkan wajah. “Dih terlalu percaya diri! Gue lakuin ini bukan karena pengen juga, cuma risih aja … lagian kita juga sama-sama anak baru lulus SMK kemarin, jadi gue cuma lakuin yang semestinya.”
“Iya-iya … makasih.”
Ia melangkah ke arah gudang belakang, tempat paling sunyi yang bisa ia temukan. Ia duduk di atas tumpukan kardus kosong, membuka bungkusan roti itu, dan mengunyahnya pelan. Roti itu terasa hambar di lidahnya, tertelan bersama rasa pahit di tenggorokan akibat menahan tangis. Bayangan wajah ibunya yang pucat di rumah sakit terus membayangi setiap kunyahnya.
Target 12 juta (atau setara 5 unit hp) terakhir besok, untuk sekelas senior saja sudah mustahil apalagi dia si fresh graduate bau kencur.
“Kalau gini gue udah jelas dipecat … terus gimana dong biaya obat ibu, hah …” ia menghela napas pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai gays ada kabar gembira tentang ini novel. Siapa sangka novel ini bakal dapat adaptasi audiotoon.
bagi yang gak tahu audiotoon, itu satu novel dari NT yaang diadaptasi dijadikan audio book.
Nah, NOVel dapat temen-temen. Kerennya lagi ada animasi 2D juga!! Jadi kalau kalian dengerin audibooknya terasa kayak lihat animasi😂
Gila keren banget
Bagi yang tertarik, bisa tonton di auditoon.
Caranya ditanggal cari saja aplikasi di Play store, download dan cari judul novel ini.
Bantu ramaikan gays bagi yang mau lihat animasi naufal dkk (sampai sekarang yang ada animasi baru 4 bab. Kedepannya bisa menyeluruh)
Waktu berlalu dengan sangat lambat. Hingga jam operasional berakhir, tak ada satupun pelanggan yang "nyangkut" di tangan Naufal. Andre pulang dengan langkah angkuh, bersiul senang sambil menimang kunci motornya, sementara Naufal harus menunggu bus kota paling malam agar hemat ongkos
.
Saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Naufal akhirnya tiba di sebuah gang sempit di pinggiran kota. Bau selokan yang menggenang dan suara kucing liar yang mengeong kelaparan menyambut langkahnya yang gontai.
Ia tiba di depan sebuah rumah petak dengan dinding triplek yang sudah lapuk dan atap seng yang berlubang di sana-sini. Naufal menarik napas dalam-dalam, mencoba memasang wajah tegar sebelum mendorong pintu kayu yang engselnya sudah berkarat itu.
Creeek…
"Naufal? Kamu sudah pulang?" suara itu terdengar sangat lemah, berasal dari balik kelambu lusuh di sudut ruangan.
Ibunya, Ibu Sarah, duduk bersandar di dipan kayu tipis. Wajahnya sangat pucat, matanya cekung, dan tangannya sedikit gemetar. Di sampingnya, seorang gadis remaja dengan seragam SMP yang sudah menguning, Rara, sedang duduk meringkuk sambil memeluk lututnya.
"Iya, Bu. Naufal pulang," Naufal mendekat, mencium tangan ibunya yang terasa dingin. "Gimana keadaan Ibu hari ini?"
"Ibu nggak apa-apa, Fal. Cuma sedikit pusing," jawab Ibu Sarah sambil berusaha tersenyum, meski Naufal tahu ibunya sedang menahan sakit luar biasa akibat penyakitnya yang belum tuntas diobati.
Naufal beralih menatap adiknya. Rara hanya diam, namun suara keroncongan dari perut gadis kecil itu terdengar jelas di ruangan yang sunyi tersebut. Di atas meja kayu kecil di tengah ruangan, hanya ada satu piring plastik berisi sisa nasi putih yang sudah sedikit mengeras dan sebuah botol air mineral yang hampir kosong.
"Rara, kamu sudah makan?" tanya Naufal pelan.
Rara menggeleng lemah, matanya berkaca-kaca. "Tadi ada sisa nasi sedikit, tapi Rara kasih ke Ibu... Ibu bilang Ibu nggak lapar, tapi Rara tahu Ibu cuma mau Rara yang makan. Jadi tadi nasinya kita bagi dua, tapi... sekarang lapar lagi, Kak."
Hati Naufal seolah diiris sembilu. Di toko tadi, ia melihat Andre memesan makanan cepat saji mewah lewat ojek online dan membuang sisanya ke tempat sampah. Sementara di sini, adik dan ibunya harus berbagi sepiring nasi basi hanya untuk bertahan hidup.
Dunia memang tidak adil. Orang kaya makin kaya, orang miskin .. nungu waktunya mati. Seandainya janji si inisial G untuk 19 juta lapangan pekerjaan bukan omong kosong, dia dapat pekerjaan lebih mending kali.
"Maafin Naufal ya, Bu, Rara ... Naufal belum bisa bawa apa-apa malam ini," bisik Naufal, suaranya parau. Ia meraba saku celananya, mencari sisa uang receh untuk membeli mi instan di warung depan, namun ia sadar uang itu adalah ongkos terakhirnya untuk berangkat kerja besok pagi.
"Nggak apa-apa, Fal. Minum air putih yang banyak saja biar kenyang, lalu kita tidur," hibur ibunya dengan suara bergetar.
Naufal berjalan menuju dapur sempit mereka, hendak mengambil gelas. Meminumnya, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Di kamar pertahan yang sudah dia kuat-kuatkan runtuh seketika, dia menjatuhkan diri ke kasur. Ia menatap beberapa poster belajar dan lain-lain. Mimpi naufal adalah untuk masuk Universitas tinggi, dia belajar mati-matian. Namun dengan kondisi keuangan sekarang dia tentu tidak bisa melakukannya.
'Kenapa aku terus?’ batin Nuafal. Sudah belasan tahun semenjak ayah dia meninggal, dan sejak saat itu naufal sudah jadi tulang punggung bagi keluarga.
Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya pecah, membasahi bantal tipis yang sudah berbau apek. Setiap isakan yang keluar ia tekan sekuat tenaga agar tidak terdengar oleh ibu dan adiknya di ruang sebelah. Di kamar yang hanya seukuran liang lahat itu, Naufal merasa benar-benar terkubur hidup-hidup oleh keadaan.
"Ayah... Naufal capek," bisiknya lirih ke langit-langit kamar yang penuh noda rembesan air hujan.
Ia memejamkan mata, mencoba memaksakan diri untuk tidur agar rasa lapar di perutnya hilang. Namun, saat kesadarannya mulai meredup, sebuah sensasi aneh menjalar di pangkal otaknya. Awalnya hanya denyutan kecil, namun lama-kelamaan menjadi rasa panas yang membakar, seolah-olah ada kabel listrik yang dipaksa masuk ke dalam tempurung kepalanya.
Zzzzt... ZAP!
Naufal tersentak bangun, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Pandangannya yang tadi gelap mendadak dipenuhi oleh kilatan cahaya biru neon yang sangat terang. Di tengah kegelapan kamar, sebuah layar transparan muncul melayang di depan matanya.
[Ding!]
[Mendeteksi Gelombang Otak Inang: Kondisi Putus Asa Tingkat Tinggi.]
[Kecocokan Karakter Terdeteksi: 'SANGAT COCOK!]
[PROSES PEWARISAN SISTEM ANALISIS NILAI]
[PROGRES 40% … 50% …]
Naufal terbelalak. Apa layar ini? Apa dia mengigau dan terlalu stres mikirin target. Yaudah lah tidur dulu aja.
Besoknya, di tempat brifing toko Naufal malam hari.
"Aku sudah dengar dari atasanmu, Naufal. Targetmu bulan ini kurang dua belas juta atau lima unit, Naufal! Kalau sampai jam operasional toko tutup kamu tidak bisa menjual satu pun, silahkan kembalikan seragam mu dari sini dan keluarlah!”
Suara itu datar, namun dingin menusuk, berasal dari pria tua yang berusia sekitar lima puluh tahunan. Naufal hanya bisa menunduk di depan meja manajer toko. Di sampingnya, Andre tersenyum sinis, memutar-mutar kunci mobil barunya di jari telunjuk.
"Sudah kubilang, Pak. Anak SMK ingusan seperti dia memang tidak cocok di sini. Mentalnya mental kerupuk," cibir Andre tanpa saring. “Harusnya saat penempatan kemarin, bapak jangan terima dia disini, biarlah dia ditempatkan oleh perusahaan brand hpnya di tempat lain.”
Naufal mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Ia kira ini semua gara-gara siapa? Setiap dia mendapatkan customer, Andre selalu datang merusuh merebut pelanggannya, merebut stok miliknya, bahkan pelanggan janjian dia pun direbut pula.
Padahal itu termasuk seri flagship tinggi, sekali jual seharga belasan juta dan direbut oleh senior kaparat ini.
"Tapi Pak, kemarin ada pelanggan yang mau ambil dua unit R 14, tapi Kak Andre merebut user saya—-”
BRAK!
"Kamu berani memfitnah saya?!" Andre membentak, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari hidung Naufal. “Emang kamu ada bukti.”
“Bukti cukup jelas, pak … dia bilang stok r-14 disini gak ada.”
“Kenyataan memang gak ada.”
“Ada, kak … kan aku udah ambil jauh-jauh dari pusat!”
“Itu kelamaan, makanya aku setir ke brandku … A-56 juga lebih bagus dari seri r-14 milikmu.”
Manajer itu mengibaskan tangan, tidak peduli. "Sudah, sudah! Jangan buat keributan! keluar! Selesaikan target mu atau angkat kaki, siap-siap untuk dipecat Naufal.”
Naufal mengepal tangan erat, wajah emosi keluar. Ia butuh uang sekarang, jangan bercanda kalau dia keluar siapa yang menafkahi orang rumah.
Ia berjalan keluar ruangan dengan bahu merosot. Di lantai toko yang megah dengan lampu-lampu LED berkilauan, ia merasa seperti debu. Padahal, ia butuh pekerjaan ini. Ibunya baru saja keluar dari rumah sakit dan tabungannya nyaris nol.
Waktu sudah semakin larut malam, belum ada pelanggan masuk ke toko. Naufal menghela napas, toko setengah jam lagi sudah mau tutup, Andre bahkan sudah siap-siap untuk melepaskan hp demo—display yang terpasang di meja, sembari membawa kunci dan tempat khusus hp demo.
Andre menatap Naufal yang berdiri mematung di toko ini, lalu tertawa sinis. “Hahaha, belum jualan ya, Naufal? Kasihan sekali! Ya, mau jualan pun mustahil … habisnya itu 12 juta! itu bukan angka yang bisa dituntaskan satu malam … manajer juga jahat sekali.”
Naufal menggeram kesal. “Kak, kalau saja kakak tidak merebut pelangganku terus, tidak mengambil user janji ku ini semua tidak akan terjadi …”
“Ha?!” Andre adalah orang yang bringas menatap Naufal garang. “Ngomong apa lo barusan, anjing! Bocah fresh graduate kemarin sore aja belagu!”
Siska yang juga jaga toko, cuma cuek saja masih sibuk main sosmed. Sekarang mata dia menatap Naufal.
Siska mengalihkan pandangannya sejenak dari layar iPhone miliknya, menatap Naufal dari atas ke bawah.
"Lagian lo juga sih, Fal. Udah tahu kerja sebagai sales tuh yang penting closing. Kalau lo nggak bisa jaga user lo sendiri, ya jangan nyalahin Kak Andre. Di sini tuh siapa yang cepat dia yang dapat," cetus Siska pedas.
“Siska lo sebenarnya ada di pihak siapa sih?”
“Gue gak ada dipihak siapa-siapa … cuma netral doang.”
Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Naufal yang sedang tertunduk, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh pemuda itu.
"Dunia nggak bakal kasihan sama air mata lo, Fal. Cowok itu dinilai dari hasilnya, bukan dari seberapa banyak dia ditindas. Makannya kalau gak mau diinjak-injak kamu harus injak balik! Kalau lo emang punya tanggung jawab di rumah, ya tunjukin mental lo! Jangan cuma pasrah kayak keset di depan mereka."
Naufal membelalakan mata lebar. Seperti biasa ini cewek suka bikin dia bingung sebenarnya dia ngapain sih? Mulut tajem gak bisa direm, tapi dibilang kaya peduli .. dia gak begitu yakin.
“Seperti biasa … lo bikin orang bingung.”
“Itu terserah lo.”
Siska kembali menjauh, suaranya kembali meninggi dan ketus. "Udah sana, mending lo siap-siap beresin barang di loker. Lo udah pasti dipecat malam ini kalau cuma bisa melamun kayak orang bego. Gue capek lihat muka pecundang lo itu!"
Meskipun kata-katanya menyakitkan, Naufal bisa melihat tangan Siska sedikit gemetar saat menggenggam ponselnya—sebuah tanda bahwa ia sebenarnya muak melihat ketidakadilan Andre, namun ia sendiri harus bersikap keras untuk bertahan di toko itu.
Naufal merasakan dadanya sesak. Ketidakadilan ini begitu nyata. Ia menatap deretan kotak ponsel di belakang etalase yang kini terasa seperti ejekan. Ia butuh uang untuk biaya kontrol ibunya besok, tapi dunia seolah sepakat untuk menghancurkannya malam ini.
Tiba-tiba, pintu toko yang sudah hampir dikunci terbuka. Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah gontai. Penampilannya sangat biasa, hanya memakai kaos oblong pudar dan sandal jepit yang sudah tipis. Di bahunya tersampir tas kain lusuh. Pria itu terlihat seperti orang yang tersesat di kemegahan mal.
Andre yang biasanya sigap menyambut orang, hanya melirik sekilas lalu membuang muka. Ia lanjut mencabuti kabel alarm di HP demo.
"Fal, tuh ada 'ikan teri' datang. Urus sana. Paling cuma mau tanya harga charger atau numpang tanya jalan keluar. Pas banget buat perpisahan lo sama toko ini," cibir Andre.
Siska melirik pria tua itu, lalu menatap Naufal dengan tajam seolah memberi kode 'Ini kesempatan terakhir lo, jangan sampai lo lepas lagi'.
'Kalau lo lepas gue bakal maki lo mati-matian!’
Namun di mulut, ia tetap berkata sinis.
"Duh, udah mau tutup kok datang ke sini... udah miskin sok mau ke toko HP lagi. Sono Fal, urus gih. Jangan sampai lo dipecat dengan kondisi nol closing hari ini. Malu-maluin lulusan SMK aja! Lo lupa slogan SMK .. ? Ayo sebutin bareng- bareng, SMK bisa … SMK Bisa …”
“Iya, bisa gila maksudnya.”
Naufal tidak membantah. Dengan senyum profesional yang dipaksakan, ia mendekat.
"Selamat malam Pak, ada yang bisa saya bantu? Sedang mencari tipe smartphone seperti apa?"
Pria itu melihat-lihat hp demo–display dengan ragu, sesekali menyentuh dan mencoba hp-hp tersebut. "Saya cari yang kameranya bagus untuk anak saya sekolah, tapi... anggarannya terbatas."
"Halah, paling juga mau cari cicilan tanpa DP," gumam Andre keras-keras dari kejauhan, memancing tawa sales lainnya.
Wajah pria itu memerah, ia tampak malu dan hendak berbalik pergi. Menjadi bahan gosip di toko ia jadi sangat malu.
Naufal merasa hatinya teriris. Ia tahu rasanya dipandang rendah karena penampilan. Tapi ini terlalu keterlaluan, mentang-mentang Manajer tidak ada mereka bicara sembarangan.
"Jangan didengarkan, Pak. Mari saya tunjukkan tipe yang paling sesuai dengan kebutuhan Bapak," ujar Naufal tulus.
Naufal menatap layar-layar ponsel di depannya, tapi pandangannya kosong.
Angka target itu seperti menghantuinya, berputar-putar di kepalanya tanpa henti.
Dua belas juta… dalam setengah jam? Mustahil. Naufal tidak bermaksud menghina, namun meski bapak tua ini benar-benar membeli hp palingan cuma seri 2 jutaan dan belum cukup.
Dadanya terasa berat. Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang selama ini ia tolak mati-matian… muncul begitu saja.
Apa… gue memang gak cocok di sini?
Bayangan wajah ibunya dan para adik yang menunggu di rumah dengan perut kelaparan muncul lagi. Dan ucapan Siska yang selalu tajam, pedas, tapi berupa motivasi kalau diambil hikmahnya.
Nafasnya tercekat. Kalau dia mundur siapa yang akan mengurus mereka!?
“Gue… gak boleh kalah sekarang…” gumamnya lirih, hampir tidak terdengar.
Tangannya gemetar saat meraih hp demo di meja— saat tangan Naufal menyentuh hp demo untuk melakukan probing (perkenalan produk), tiba-tiba dia tersetrum oleh sengatan listrik.
“Aduh!”
kepalanya mendadak berdenyut hebat. Sebuah suara dingin, jernih, dan tanpa emosi bergema di otaknya.
[Ding!]
[Selamat sistem analisis Nilai kembali aktif]
[Menemukan inang yang cocok]
[Progres wairsan 60% … 80 % … 100%]
[Proses pewarisan sistem berhasil!]
[Progres penyatuan dengan tuan rumah]
[Sistem Analisis Nilai Sedang Sinkronisasi... 10%... 50%... 100%!]
[Selamat! Inang telah mengaktifkan saya
[ sistem analisis nilai Kembali aktif!]
Tiba-tiba, pandangan Naufal berubah. Di atas kepala pria bersandal jepit itu, muncul sebuah panel transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.
> [Target: Budi Santoso]
> [Identitas: Pemilik yayasan pendidikan sekolah dasar yatim piatu (Menyamar)]
> [Budget: Rp 150.000.000 (seratus lima puluh juta)]**
> [Kebutuhan: 50 Unit Smartphone untuk CSR Pendidikan]**
> [Tingkat Kepercayaan pada Sales: 5%]
> [Menurun drastis atas penghinaan di toko, Budi berencana untuk mencari toko lain]
Mata Naufal membelalak hampir keluar dari kelopaknya. Apa-apaan ini!? Tiba-tiba data muncul di kepala nya, namun yang paling terkejut adalah nominal yang dia butuhkan dan banyaknya unit hp
"Mas? Kenapa melamun? Kalau memang tidak ada yang murah, saya permisi saja," ujar pria itu, suaranya terdengar kecewa.
Naufal tersentak. Ini kan layar notifikasi yang dia lihat kemarin malam, kok kembali lagi? Ia sangat tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi jika barisan tulisan data itu benar. Ini adalah kesempatan. Tahu ini adalah satu-satunya kesempatannya. Jika ia berhasil menutup penjualan ini, Andre dan manajer sombong itu akan sujud di kakinya.
"Tunggu, Pak!" Naufal menahan langkah pria itu. "Bapak tidak butuh smartphone murah. Bapak butuh perangkat yang tahan lama untuk jangka panjang, dan kebetulan... saya tahu persis apa yang Bapak cari untuk lima puluh anak di yayasan Bapak."
Langkah pria itu terhenti. Ia menoleh dengan tatapan tajam yang sangat berbeda dari sebelumnya. "Bagaimana kamu tahu saya butuh lima puluh unit?"
Naufal tersenyum, auranya mendadak berubah menjadi sangat tenang dan penuh percaya diri. "Karena saya tidak hanya melihat penampilan Bapak, saya melihat kemungkinan saja."
Dari kejauhan, Andre tertawa meremehkan. "Lihat si bodoh itu, malah membual! Siap-siap berkemas, Naufal. Malam ini kamu jadi pengangguran! Hahaha!”
Siska tidak ikut mengolok-ngolok, dari tatapan itu dia tahu satu hal. Akhirnya orang yang dia hormati kembali berjaya seperti sedia kala! Ia tersenyum samar-samar. 'Nah bagus gue suka semangat itu .. itu baru Naufal yang kukenal!’
Naufal tidak membalas. Ia hanya menatap panel sistem yang kini berkedip - kedip.
[Tingkat Kepercayaan Target Meningkat: 45%... 60%...]
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!