Indonesia
NovelToon NovelToon

SENTUHAN PAPA MERTUA

SATU

Ruang tamu rumah besar milik Lukas dan Adelia pagi itu terasa teduh. Tirai putih bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Aroma kayu manis dari lilin aromaterapi buatan Adelia menyatu dengan wangi kopi yang baru diseduh.

Di tengah ruangan, Bastian Erlangga duduk dengan posisi santai di sofa kulit abu-abu, tangannya menggenggam ponsel yang tadi ia letakkan di meja.

Matanya menatap sekeliling dengan penuh penilaian-dinding dengan pajangan foto pernikahan Lukas dan Adelia, vas bunga di pojok ruangan, dan detail-detail kecil yang menggambarkan suasana rumah tangga muda yang damai.

Tak lama, langkah lembut terdengar dari arah dapur.

Adelia muncul dengan nampan berisi dua cangkir teh hangat dan beberapa kue kering buatan Bik Vivi. Senyum kecil menghiasi wajahnya meski sebenarnya hatinya masih diliputi rasa canggung.

"Ini, Pa, tehnya! Diminum dulu selagi masih hangat," ucapnya sopan sambil meletakkan nampan di atas meja.

Bastian menatap menantunya itu dengan pandangan hangat, senyum tipis muncul di wajahnya yang masih terlihat tampan di usia empat puluh lima tahun itu.

"Terima kasih, Adel. Kamu memang selalu tahu bagaimana caranya membuat orang betah," ucap Bastian.

Adelia tersenyum kikuk. "Ah, Papa bisa saja. Saya cuma... ya, berusaha jadi tuan rumah yang baik."

Saat ia hendak duduk di kursi seberang, Bastian tiba-tiba bergeser sedikit ke samping, memberi ruang di sisi sofa yang ia duduki. "Duduk di sini aja, Del! Biar enak ngobrolnya."

Adelia sempat ragu. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa tidak nyaman, tapi ia tidak ingin membuat papa mertuanya tersinggung. Akhirnya, ia menuruti permintaan itu dan duduk menjaga jarak secukupnya.

Bastian mengambil cangkirnya, meniup permukaannya sebentar, lalu menyesap perlahan. "Kamu tahu, Del," katanya pelan. "Akhir-akhir ini Papa sering ngerasa rumah Papa terlalu sepi."

Adelia menoleh, mendengarkan dengan sopan.

"Sepi gimana maksudnya, Pa?"

Bastian menarik napas dalam, pandangannya menerawang ke arah jendela. "Setiap sudut rumah itu masih menyimpan kenangan sama mamanya Lukas... sama almarhumah. Setiap pagi Papa bangun, yang Papa lihat cuma foto-foto dia. Kadang Papa pikir, mungkin Papa harus mulai hidup di tempat baru."

Nada suaranya berat, dan untuk pertama kalinya, Adelia melihat sisi rapuh dari sosok mertua yang selama ini dikenal tenang dan berwibawa itu. Wajah Bastian tampak berubah sendu, matanya memerah menahan emosi.

"Papa kangen banget sama dia, Del..." ucap Bastian, suaranya bergetar. "Papa pikir Papa udah kuat. Tapi, ternyata nggak. Semakin tua, semakin susah buat Papa ngelupain dia."

Adelia terdiam, ikut merasakan kesedihan itu. Ia tahu kehilangan orang yang dicintai memang bukan hal yang mudah.

"Papa... saya turut berduka, ya. Tapi, Mamanya mas Lukas pasti pengin lihat Papa bahagia, bukan terus bersedih kayak gini," katanya lembut.

Bastian mengusap ujung matanya. "Mungkin kamu benar. Tapi, Papa nggak kuat kalau harus terus tinggal di rumah itu."

Ia menatap Adelia, senyumnya kembali muncul, kali ini sedikit samar. "Itu sebabnya Papa ke sini. Papa pengin ngomong sama kalian berdua."

Adelia menatapnya penuh tanya. "Ngomong apa, Pa?"

"Papa pengin tinggal di sini aja."

Suara itu keluar begitu tenang, tapi membuat Adelia nyaris menjatuhkan cangkir di tangannya.

"Di... di sini? Maksud Papa, di rumah saya sama mas Lukas?" Wajahnya berubah kaget.

Bastian mengangguk pelan. "Iya. Kalau Lukas setuju, Papa pengin gabung di sini. Papa janji nggak akan ganggu kalian. Papa cuma pengin suasana yang baru, pengin dekat juga sama keluarga Papa."

Adelia terdiam lama. Otaknya berusaha menimbang. Rumah ini memang besar, tapi keputusan sebesar itu seharusnya dibicarakan dengan Lukas. Ia tahu suaminya sangat menghormati Bastain, tapi juga sangat menjaga privasi rumah tangganya.

"Papa..." akhirnya Adelia bicara. "Saya senang Papa mau dekat sama kami, tapi sebaiknya saya bicarakan ini dulu sama mas Lukas, ya? Biar kami bisa pertimbangkan semuanya."

Bastian tersenyum, anggukannya pelan. "Tentu, Papa ngerti. Papa cuma... pengin kamu tahu dulu aja." Ia menatap Adelia dalam, pandangan itu lembut tapi entah kenapa terasa terlalu lama.

Adelia mencoba mengalihkan topik, meraih cangkir tehnya dan menyesap sedikit. Tapi saat ia melakukannya, Bastian bersandar sedikit lebih dekat.

"Kamu tahu, Del," katanya tiba-tiba, "Mamanya Lukas dulu sering bilang kamu itu perempuan yang spesial. Sekarang Papa ngerti maksudnya."

Adelia menoleh, keningnya berkerut. "Maksud Papa?"

"Ya lihat aja," Bastian tersenyum, kali ini dengan nada yang sulit diartikan. "Kamu cantik, lembut, sabar. Lukas beruntung banget punya istri kayak kamu."

Wajah Adelia mulai memanas. Ia merasa canggung, tak tahu harus menjawab apa. "Terima kasih, Pa... tapi, saya rasa Papa terlalu berlebihan."

"Enggak kok, Papa cuma jujur," jawab Bastian santai. "Kecantikan kamu itu bukan cuma di luar. Papa bisa lihat dari caramu ngomong, caramu memperhatikan orang. Ada sesuatu yang menenangkan di situ."

Adelia tertawa kecil, gugup. "Papa bisa aja..."

Bastian ikut tertawa pelan. Tapi di balik tawa itu, matanya tetap terpaku pada wajah menantunya.

Keheningan mendadak menyelimuti ruangan. Hanya suara jam dinding yang terdengar.

Saat Adelia hendak mengambil kue dari meja, tiba-tiba jari Bastian bergerak-menyentuh punggung tangan Adelia secara tak sengaja... atau mungkin sengaja.

Gerakan itu cepat, tapi cukup untuk membuat Adelia membeku. Ia menarik tangannya perlahan, menatap Bastian dengan mata membesar.

"Oh, maaf..." ucap Bastian, pura-pura tersenyum canggung. "Nggak sengaja."

Adelia hanya bisa mengangguk pelan, meski hatinya berdebar keras. Ada sesuatu yang berubah di udara. Sesuatu yang tidak ia mengerti-tapi membuatnya merasa tak nyaman.

Dari luar, suara Pak Sukir yang sedang berbicara dengan Mbak Sisil terdengar samar, seolah menjadi pengingat bahwa rumah itu tidak sepenuhnya sepi. Namun di ruang tamu, suasana justru terasa terlalu sunyi, terlalu dekat, terlalu berbahaya.

Adelia tersenyum paksa. "Saya ke dapur dulu, Pa. Mau ambilkan buah."

Bastian hanya mengangguk, matanya mengikuti langkah Adelia yang berjalan menjauh.

Ketika pintu dapur tertutup, senyum samar muncul di bibir Bastian. Entah kenapa, pagi itu, rasa sepinya seolah menghilang begitu saja.

÷÷÷

Suasana kantor Vander Group pagi menjelang siang

itu terasa berbeda. Setelah dua jam penuh presentasi dan negosiasi, akhirnya Lukas Ivander bisa bernapas lega. Klien dari Tokyo yang sempat hampir batal bertransaksi, akhirnya menyetujui kerja sama baru dengan nilai kontrak besar. Sebuah pencapaian penting bagi Lukas dan timnya.

DUA

Di ruang meeting, kursi-kursi masih berantakan, sisa gelas kopi dan berkas proposal berserakan di meja. Para klien sudah meninggalkan ruangan dengan senyum puas. Lukas berdiri sambil melepas jasnya, menyampirkannya di bahu, lalu menatap Sean Affansyah-asisten sekaligus sahabatnya.

"Kerja bagus, Sean. Kalau kamu nggak cepat kasih solusi soal pengiriman itu, mungkin kontrak kita udah gagal," ucap Lukas sambil menepuk bahu pria itu.

Sean tersenyum lebar. "Ya, Bos. Tapi tetap aja, ide dasarnya dari Bos. Saya cuma bantu nyusun kata-kata biar nggak kaku di telinga orang Jepang."

Lukas tertawa kecil, lalu berjalan keluar ruangan. Di belakangnya, Ririn Tamara, sang sekretaris, membawa map tebal berisi dokumen hasil meeting. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya memancarkan sesuatu yang berbeda. Tatapan itu-hangat, penuh kekaguman, sekaligus... sesuatu yang lebih dalam dari sekadar profesionalitas.

"Pak Lukas," ucap Ririn pelan saat mereka berjalan berdampingan menuju ruang kerja utama. "Tadi waktu Bapak jelaskan soal sistem distribusi itu... keren banget. Kliennya sampai terdiam semua."

Lukas menoleh sebentar, menatapnya sekilas. "Itu hasil kerja tim, Rin. Jangan terlalu memuji saya!"

"Tapi tetap aja, Bapak itu punya aura yang bikin orang yakin sama keputusan Bapak," kata Ririn lagi, senyum tipis muncul di bibirnya.

Sean yang berjalan di belakang mereka menahan tawa kecil. Ia sudah tahu betul kalau Ririn memang menyimpan rasa pada bosnya sejak lama. Tapi ia juga tahu, Lukas terlalu fokus pada pekerjaan dan istrinya, Adelia, untuk menyadari hal-hal seperti itu.

Begitu sampai di depan pintu ruang kerjanya, Lukas menghela napas panjang. "Oke, saya mau istirahat sebentar. Kamu siapkan laporan tambahan buat rapat internal jam dua nanti, ya, Sean. Ririn, tolong pastikan semua dokumen sudah diarsip dengan benar!"

"Siap, Pak!" jawab keduanya hampir bersamaan.

Namun, sebelum Lukas sempat membuka pintu ruangannya, langkahnya terhenti. Matanya menyipit.

Di depan pintu kaca itu, berdiri seorang wanita dengan gaun merah marun, potongan body fit yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Rambut panjang bergelombang jatuh indah ke bahu. Bibirnya dilapisi lipstik merah menyala, sama seperti dulu-gaya yang selalu membuat kepala para pria menoleh dua kali.

Wanita itu tersenyum menggoda. "Hai, Luk!"

Lukas membeku sejenak. "Intan?"

Intan Vadella.

Nama itu saja sudah cukup membuat satu bagian dari masa lalu Lukas bergetar. Mantan kekasihnya. Wanita yang dulu sempat menjadi bagian besar dari hidupnya, sebelum ia bertemu Adelia.

Sean dan Ririn saling berpandangan. Ririn menunduk, jelas merasa tak nyaman, sementara Sean diam-diam berusaha menahan ekspresi kagetnya.

Intan melangkah maju, suara hak sepatunya berdetak lembut di lantai marmer. "Udah lama ya kita gak ketemu, Luk. Aku kangen lihat kamu pakai jas kerja kayak gini. Masih segagah dulu."

Lukas tidak membalas senyumnya. Ia hanya menatap datar. "Ada urusan apa kamu ke sini, Intan? Setahu saya, kamu udah nggak ada hubungan lagi sama Vander Group."

Intan tersenyum, matanya berkilat. "Langsung to the point, ya. Nggak ada sapaan ramah dulu buat mantan kekasih kamu yang cantik ini nih?"

Lukas membuka pintu ruangannya, melangkah masuk, lalu menoleh ke arah Sean dan Ririn. "Tolong, jangan biarkan siapa pun masuk dulu!"

Ririn sempat ingin berkata sesuatu, tapi menahan diri. Intan menatapnya sekilas, matanya tajam-seolah ingin menegaskan siapa yang sebenarnya punya pengaruh pada Lukas dulu.

Pintu tertutup, meninggalkan keduanya berdua di dalam ruangan.

Lukas berjalan ke arah mejanya, menaruh jas, lalu bersandar di tepi meja kerja. "Aku tanya lagi, kamu ke sini mau apa?"

Intan melangkah mendekat. "Tenang aja, aku nggak bawa masalah kok. Aku cuma... kangen ngobrol sama kamu."

"Kangen ngobrol?" Lukas menatapnya datar. "Setelah

semua yang kamu lakukan waktu itu?"

Intan tertawa kecil. "Kamu masih dendam ya?

Padahal, dulu aku cuma... memilih realita. Kamu terlalu sibuk waktu itu, Luk. Dan aku butuh seseorang yang hadir, bukan cuma lewat telepon."

"Dan kamu milih ninggalin aku tanpa penjelasan," balas Lukas tajam.

Intan mendesah pelan. "Ya, dan kamu malah nikah cepat banget. Cuma butuh beberapa bulan buat gantiin aku sama perempuan lain. Cantik sih, istrimu. Aku lihat fotonya di media. Tapi jujur aja, dia nggak seanggun aku, kan?"

Lukas menatap tajam, rahangnya mengeras. "Jaga omongan kamu, Intan!"

Intan tersenyum, langkahnya makin dekat hingga jarak mereka tinggal beberapa jengkal. "Kenapa? Kamu takut aku ganggu rumah tanggamu? Aku cuma pengin ngobrol kok, nggak lebih."

"Tapi, kamu datang dengan pakaian kayak gitu ke kantor aku, nyatain 'kangen', dan nyindir istri aku. Itu bukan ngobrol, Intan!" kata Lukas, nadanya dingin. "Itu provokasi!"

Tatapan Intan sedikit berubah. Ia tersenyum samar, tapi matanya menyimpan rasa sakit yang tak ia tunjukkan. "Kamu selalu keras, Luk. Tapi, justru itu yang bikin aku nggak pernah bisa bener-bener lupa sama kamu."

Lukas diam. Ia tahu Intan sedang bermain emosi. Ia tahu perempuan itu berbahaya-bukan karena apa yang bisa ia lakukan, tapi karena ia tahu betul bagaimana cara menggoyahkan ketenangan Lukas.

Namun kali ini, Lukas bukan pria yang sama seperti dulu. Ia sudah beristri, sudah punya komitmen yang tak bisa diusik siapa pun.

"Kamu sudah dapat waktu kamu dulu, Intan," katanya datar. "Sekarang aku cuma minta kamu pergi!"

Intan tersenyum pahit, lalu mendekat satu langkah lagi. "Kalau suatu hari kamu sadar kalau dia nggak sekuat kelihatannya... kamu tahu ke mana harus datang."

Ia menatap Lukas sekali lagi-tajam, dalam, penuh maksud-lalu berbalik menuju pintu. Saat membukanya, pandangan mata Ririn yang menunduk membuatnya tersenyum sinis.

"Cantik juga sekretarismu, Luk. Selera kamu emang nggak berubah," katanya dengan nada setengah menggoda, setengah menohok.

Lukas tak menanggapi. Ia hanya berdiri diam di balik meja, menatap punggung wanita itu yang perlahan menjauh.

Begitu pintu tertutup kembali, Lukas menghela napas berat. Ia tahu, kedatangan Intan bukan kebetulan.

Dan entah kenapa, firasatnya mengatakan... masa lalunya baru saja membuka pintu menuju masalah baru.

TIGA

Langit sore berwarna jingga lembut ketika sinar matahari terakhir menembus tirai tipis ruang tamu. Udara di rumah itu terasa tenang, tapi pikiran Adelia Octavia justru berkecamuk.

Sejak pagi, pikirannya tak bisa berhenti memutar ulang kejadian aneh yang terjadi-kedatangan Bastian Erlangga, papa mertuanya, yang tiba-tiba muncul tanpa kabar dan mengucapkan niat tinggal bersama dirinya dan Lukas.

Dan bukan cuma itu. Tatapan mata Bastian, cara bicaranya yang terlalu lembut, pujiannya yang terasa pribadi... hingga sentuhan tangan di punggung tangannya yang membuat Adelia sempat kaget dan salah tingkah.

Ia mencoba mengusir pikiran itu, berusaha berpikir positif. Mungkin Papa cuma kangen keluarga. Mungkin aku cuma salah paham.

Tapi perasaan tidak nyaman itu tetap ada, menempel seperti bayangan yang tak mau hilang.

Adelia duduk di sofa ruang tamu dengan segelas teh hangat di tangan, menatap kosong ke arah taman depan. Suara burung mulai mereda, digantikan suara mesin kendaraan dari kejauhan. Lalu, beberapa detik kemudian, terdengar suara khas gerbang besi dibuka dari luar.

Pak Sukir tampak dari jendela, melambaikan tangan. Dan sesaat setelah itu, suara mobil hitam memasuki halaman rumah.

Wajah Adelia langsung berubah. Hatinya hangat seketika. "Mas Lukas pulang..." gumamnya sambil buru-buru meletakkan gelas, lalu berdiri dan merapikan rambutnya di pantulan kaca. Ia mengecek dasternya-memastikan tampilannya rapi-kemudian berjalan cepat ke arah pintu.

Benar saja, Lukas Ivander baru saja keluar dari mobil. Jasnya sedikit kusut, dan wajahnya terlihat lelah. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan matanya sore itu. Bukan dingin seperti biasanya, tapi lebih... tegang. Seolah pikirannya masih terjebak di tempat lain.

Adelia segera menghampiri. "Sore, Mas! Kamu capek, ya? Mau minum dulu atau mandi dulu?" ucapnya lembut, mencoba menjaga nada suaranya tetap ceria. Tangannya dengan sigap membantu Lukas melepas jas dan menggantungkannya di lengannya sendiri.

Lukas tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak seperti biasanya. Ia hanya mengangguk, lalu menunduk sedikit dan mengecup kening istrinya.

"Makasih, sayang!" katanya pelan.

Adelia menatapnya dengan senyum kecil. "Hari ini gimana? Meeting-nya lancar?"

"Lancar," jawab Lukas pendek sambil melangkah masuk ke rumah, merangkul bahu istrinya.

Tapi, langkahnya tampak berat. Di dalam pikirannya, bayangan wajah Intan Vadella muncul lagi-mantan kekasih yang tadi siang tiba-tiba datang ke kantornya, berpakaian mencolok dan bicara seolah masa lalu mereka tak pernah berakhir.

Lukas menutup matanya sejenak, mencoba menghapus bayangan itu. Ia tak mau membiarkan kenangan lama merusak kedamaian yang telah ia bangun bersama Adelia. Ia mencintai Adelia sepenuhnya. Tapi, kenangan masa lalu punya cara aneh untuk menyelinap di antara celah pikiran yang paling kuat sekalipun.

Adelia memperhatikan suaminya dari samping.

Ada hal yang mengganggunya. Lukas memang tipe pria tenang, tapi Adelia sudah cukup mengenalnya untuk tahu-kali ini ada sesuatu yang tidak ia ceritakan. Gerakan Lukas lebih kaku, ekspresinya sedikit kosong.

"Mas," panggil Adelia pelan, "Kamu kenapa, sih? Ada masalah di kantor?"

Lukas menatapnya sekilas, lalu menggeleng. "Nggak, aku cuma capek aja. Klien dari Tokyo tadi lumayan keras kepala."

Adelia mengangguk, meski ia tahu jawaban itu tidak sepenuhnya jujur. Ia lalu berjalan ke dapur, mengambilkan air putih dingin untuk Lukas. "Kalau gitu kamu istirahat dulu, ya! Aku siapkan air hangat buat kamu mandi. Setelah itu kita makan bareng."

Lukas duduk di sofa, melepas dasi dan membuka dua kancing atas kemejanya. Ia menatap istrinya yang berjalan ke arah dapur-gerakannya lembut, sederhana, tapi penuh perhatian.

Rasa bersalah tiba-tiba muncul di dada Lukas. Ia merasa kotor hanya karena membiarkan wajah Intan mampir di pikirannya.

"Del," panggilnya saat Adelia kembali membawa air.

"Makasih, ya. Kamu selalu tahu gimana bikin aku tenang."

Adelia tersenyum. "Tentu dong, itu kan udah tugas seorang istri."

Ia duduk di samping Lukas, jarak mereka dekat, tapi di antara mereka terasa ada sesuatu yang tak kasatmata-seolah ada rahasia kecil yang menghalangi ketulusan momen itu.

Setelah beberapa menit keheningan, Adelia akhirnya bicara lagi. "Mas, tadi pagi... Papa datang ke sini."

Lukas menoleh, sedikit heran. "Papa? Pagi-pagi banget?"

"Iya," jawab Adelia, berusaha terdengar santai.

"Katanya Papa butuh tempat tinggal baru. Di rumahnya terlalu banyak kenangan sama almarhumah Mama kamu, Mas."

Lukas mengangguk pelan. "Aku tahu. Belakangan Papa memang sering bilang begitu. Dia kesepian."

"Tapi..." Adelia menatap gelas di tangannya, ragu melanjutkan. "Papa juga bilang, kalau dia mau tinggal di sini. Bersama kita."

Lukas langsung terdiam. Pandangannya menajam.

"Tinggal di sini? Papa bilang gitu?"

Adelia mengangguk, menelan ludah. "Iya, aku udah bilang nanti aku bahas sama kamu dulu."

Lukas mengusap pelipisnya, berpikir keras. "Kalau Papa sampai datang sendiri ngomong kayak gitu, berarti dia serius. Tapi... rumah ini memang cukup besar. Aku cuma khawatir kamu nanti kurang nyaman."

Adelia tersenyum samar. "Selama Papa nggak keberatan aku sibuk di rumah, aku nggak masalah, Mas."

Namun, jauh di dalam hatinya, ia tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri. Bayangan tangan Bastian yang menyentuh tangannya pagi tadi muncul lagi tanpa diundang.

Lukas menarik napas panjang. "Ya udah, nanti aku telepon Papa. Kita bicarakan baik-baik."

Adelia mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri. Ia tahu Lukas tipe pria yang rasional, tapi entah kenapa kali ini ia takut. Takut kalau kehadiran Bastian di rumah mereka nanti justru akan membawa masalah yang tidak pernah ia bayangkan.

Malam mulai turun perlahan. Lampu ruang tamu menyala, dan aroma masakan Bik Vivi mulai memenuhi udara. Lukas bangkit untuk mandi, sementara Adelia menyiapkan meja makan.

Namun, saat Lukas sudah naik ke kamar, Adelia mendengar sesuatu dari luar-bunyi mesin mobil berhenti tepat di depan gerbang.

Ia menoleh, langkahnya refleks menuju jendela.

Di balik kaca, tampak mobil hitam berhenti perlahan... dan dari dalamnya keluar sosok Bastian Erlangga dengan kemeja santai dan sebuah koper besar di tangan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!