Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Bukan Anak Kuntilanak

Maryani

Hujan turun begitu deras di kampung cadas, sebuah kampung yang masih memegang teguh adat istiadat di sana, bahkan untuk masuk ke dalam kampung itu di butuhkan perjalanan yang begitu panjang melewati banyaknya jurang batu dan jalan yang begitu licin.

"Aakhhhh! Perutku sakit Bu" ucap seorang perempuan yang sedang menahan rasa sakit karena dia terjatuh di kamar mandi setelah mencuci piring.

"Tahan nak, Mbah Rumi dan dokter Nurdin sudah di panggil sejak sore, tapi mereka belum sampai, pasti terjebak hujan" ucap sang ibu mertua yang bernama Saidah begitu terlihat khawatir.

"Darahnya semakin banyak Saidah, bagaimana kalau terjadi sesuatu, kamu jaga Maryani aku akan menyusul Mbah Rumi ke kampung bukit Mahoni" ucap suami dari Saidah yang bernama Jamal.

"Tapi ini sudah malam kang, bagaimana kalau terjadi sesuatu, di rumah tidak ada siapapun, Kaelan masih belum pulang dari kota" ucap Saidah khawatir

"Mau bagaimana lagi, rumah kita jauh dari tetangga, mereka juga pasti ketakutan dengan hujan petir di luar, aku harus melakukan sesuatu untuk cucu kita dan Maryani, kasihan mereka" jawab Jamal dan akhirnya Saidah mengangguk setuju

"Maryani, kamu tahan ya nak, kamu kuat karena ibu di sini, kamu pegang golok ini, ibu mau mengunci semua pintu dan jendela dulu, nanti bapakmu bawa kunci cadangan" bujuk Saidah

"Jangan lama Bu, perut Maryani sakit sekali" lirih Maryani

"Iya nak, ibu akan cepat" jawab Saidah mengusap keringat dingin yang keluar dari kening Maryani.

Maryani Sujana adalah seorang perempuan muda berusia dua puluh satu tahun, dia menikah dengan Kaelan Rahmadi yang sekarang berusia dua puluh lima tahun, mereka menikah sejak tiga tahun lalu dan itu adalah kehamilan pertamanya. Di kampung cadas memang para remaja sering di nikahkan di usia dini, namun Kaelan yang bersekolah di kota memilih untuk menikah di usia yang menurutnya cukup karena dia tidak mau terikat dengan adat yang menurutnya terlalu mengikat dan tidak masuk akal.

Para warga juga kurang menyukai Kaelan yang sempat ingin membuka sekolah di sana tapi tetua di sana menolak keras, hingga Kaelan menyerah dan memilih menjadi seorang karyawan di sebuah resort di Jakarta.

Kembali ke keadaan Maryani, Saidah sudah menyiapkan air panas di termos, selimut dan beberapa kain untuk berjaga jaga apabila menantunya itu melahirkan, semuanya sudah di siapkan sejak awal karena memang kehamilan Maryani sudah masuk bulan ke sembilan.

"Aakhhhh... Bu sakit sekali!" lirih Maryani

"Sabar nak, ibu juga tidak tahu harus bagaimana, harusnya kalau mau melahirkan kamu sudah mulai pecah ketuban tapi kamu juga tidak mengeluarkan darah" ucap Saidah

"Sakit Bu...."

Saidah semakin panik, apalagi tubuh Maryani juga terlihat lemas karena terus menahan rasa sakit yang tak tertahankan, keringatnya bahkan sudah membasahi pakaian yang dia pakai sampai Saidah harus beberapa kali mengganti pakaian Maryani.

"Haus..."

"Ini nak, kamu minum dulu air gula merahnya"

"Bu..."

"Iya nak"

"Kapan kang Kaelan pulang?"

"Kata pak RT dua hari lagi, gerbang resort kan di buka seminggu sekali di hari Jum'at"

"Dua hari.... Apa Maryani bisa bertahan"

"Jangan bicara sembarangan, kamu pasti akan bertahan, melahirkan anak kalian dan merawatnya bersama"

"Maryani ngantuk Bu..."

"Jangan tidur, kamu pegang tasbih ini, baca bacaan tasbih bersama ibu"

"Maryani.... Nak" panggil Saidah mengusap pipi Maryani yang terasa dingin.

"Iya Bu..."

"Baca tasbih"

"Subhanallah...."

"Kalau tetua tahu kita ikut agama orang orang di kampung mahoni, mereka pasti murka" ucap Saidah

"Kita pindah saja ke sana Bu, Maryani ingin anak Maryani bisa sekolah dan berkumpul dengan anak anak yang baik" ungkap Maryani

"Nanti kita bahas dengan bapak kamu ya"

"Iya..."

Saidah terus membaca tasbih dengan mata yang mulai mengantuk, dia tidak menyadari kalau Maryani juga sudah mulai memejamkan matanya bahkan tasbih yang dia pegang sudah terjatuh. Hingga suaranya ketukan mengagetkan Saidah yang sudah tertidur.

Tok. Tok. Tok.

"Bu... Aku lupa kunci rumah di dalam jaket!" teriak Jamal

"Astagfirullah, pak itu kamu?" tanya Saidah masih tidak menyadari kalau Maryani sudah memejamkan matanya.

"Iya ini aku, buka pintunya Mbah Rumi sudah di sini bersama dokter Nurdin" jawab Jamal

Saidah segera berdiri dan menuju ke ruang tamu, dia membuka pintu dan begitu senang ketika melihat suaminya sudah datang bersama Rumi seorang dukun beranak dan anaknya Nurdin yanh seorang dokter dari kampung Mahoni.

"Mana anakmu?" tanya Rumi

"Di kamar Mbah, sudah saya minta memegang golok" jawab Saidah

"Ayo ke sana, perasaanku tidak enak" ucap Rumi

"Bu, biar Nurdin tunggu di sini saja" ucap Nurdin

"Iya, nanti kalau ada luka yang harus di jahit ibu akan panggil kamu" jawab Rumi.

Saat masuk ke dalam kamar, Rumi dan Saidah begitu terkejut karena melihat Maryani sudah terpejam dan tubuhnya sedikit membiru, bibirnya bahkan sudah begitu pucat dan Rumi segera memeriksa perut Maryani.

"Bayinya sungsang, kalian tidak pernah periksa kandungan?" tanya Rumi

"Tidak pernah Mbah, jalan ke kampung mahoni terlalu jauh dan warga di sini tidak ada yang mau meminjamkan delman ataupun gerobak sapi mereka.

"Ini salahku, harusnya saat Kaelan mengatakan kalian di musuhi di sini aku meminta tetua kampung Mahoni membawa kalian" ungkap Rumi mencoba menyadarkan Maryani yang semakin lemah denyut nadinya.

"Lalu bagaimana Mbah?"

"Panggil Nurdin"

"Baik Mbah"

Saidah kembali berdiri untuk keluar kamar, dia memanggil Nurdin yang sedang mengobrol dengan Jamal, setelah Nurdin masuk dia langsung memeriksa kondisi tekanan darah dan jantung Maryani. Semuanya dia cek dengan alat yang dia bawa.

Matanya terbelalak karena dari hasil pemeriksaan yang dia lakukan, jantung Maryani sudah berhenti berdetak dan bisa di bilang meninggal.

"Maaf Bu, biar Nurdin periksa detak jantung bayinya" ucap Nurdin dan Rumi yang sedang menyelimuti Maryani bergeser.

"Bagaimana?"

"Detak jantung bayi masih ada, maaf Bu Saidah saya harus menyampaikan ini, tapi Maryani sudah meninggal" ucap Nurdin

"Tidak, itu tidak mungkin! Tadi dia masih membaca tasbih bersama saya" kaget Saidah bahkan Jamal juga ikut masuk ke dalam.

"Ada apa Mbah?" tanya Jamal

"Maryani meninggal, tapi bayinya masih bisa di selamatkan" jawab Rumi

"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un, bagaimana ini Mbah, adat di sini kalau seorang ibu hamil meninggal, maka bayinya harus di kubur bersama ibunya" ucap Jamal menitikkan air matanya bahkan Saidah sudah menangis sambil memeluk Maryani yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.

"Maryani bangun nak, kamu harus melahirkan anak kamu, merawatnya sampai besar, Kaelan akan marah kalau kamu pergi Maryani" panggil Saidah

"Saidah... Jangan berteriak nanti tetangga dengar, mereka bisa tahu kalau Maryani meninggal" bisik Jamal

Masalah

‎Saidah masih terus berteriak dan Rumi memaklumi itu, Saidah pasti merasa bersalah karena dia tidak menjaga Maryani dan ketiduran di saat seharusnya dia terbangun. Untuk memastikan Maryani tetap membuka matanya.

‎"Saidah sudah cukup atau nanti para tetangga kesini, mereka akan mendengar suara kamu meskipun jarak rumah kita dan tetangga cukup jauh, apalagi Mbah Narno pasti mengirimkan jinnya keliling kampung ini" bujuk Jamal

‎"Iya Saidah, kita bantu anak yang ada dalam kandungan Maryani dulu setelah itu baru kita katakan pada penduduk kalau Maryani meninggal setelah melahirkan, tidak akan ada yang bisa mengubur bayi itu kalau sudah ada di luar kandungan ibunya" bujuk Rumi

‎"Bagaimana pak, bu?" tanya Nurdin yang akan melakukan pembedahan pada perut Maryani

‎"Silahkan nak, lakukan secepatnya dan selamatkan cucu kami" jawab Jamal

‎"Usahakan perutnya jangan sampai terlihat warga ya pak, nanti saya minta bantuan ibu saya untuk membantu memandikan Maryani" ucap Nurdin dan keduanya mengangguk.

‎Baru saja Jamal mengajak Saidah untuk pergi dari kamar karena Nurdin sudah mulai mempersiapkan peralatan bedah yang dia bawa dari klinik miliknya di kampung mahoni, pintu rumah Jamal sudah di dobrak beberapa orang yang menerobos masuk dan membuat Jamal juga Saidah tidak bisa berkutik.

‎Rumi segera meminta Nurdin merapikan alat alatnya kembali ke dalam tas yang dia bahwa, dia tidak mau anaknya di amuk warga karena melanggar adat di kampung yang terkenal tidak mau menerima modernisasi dari kampung lain ataupun kota lain.

‎"Kenapa aku mendengar suara istrimu menangis kencang Jamal!" bentak Narno, tetua paling dihormati di kampung itu.

‎"Itu Mbah... Maryani menantu saya... dia meninggal" jawab Jamal

‎"Apa! meninggal saat hamil! ini bencana!" teriak salah seorang warga

"Ini bencana karena ibu hamil kalau tidak jadi sundel bolong pasti jadi kuntilanak!" ucap yang lain

‎"Siapa yang ada di dalam kamar?" tanya Narno

‎"Ada Mbah Rumi dari kampung Mahoni dan anaknya Mbah" jawab Jamal sementara Saidah sudah kembali menangis karena takut kalau Maryani akan di kubur bersama bayinya.

‎"Beno, lihat ke dalam dan minta Rumi pergi dari kampung ini karena tugasnya sudah selesai!" perintah Narno

‎"Baik pak" jawab putra dari Narno yang bernama Beno

‎Pintu kamar di buka, Rumi sudah berdiri di depan pintu bersama Nurdin yang sudah merapikan alat alatnya, keduanya keluar dan mengangguk sopan pada Narno karena kedudukan Narno lebih tinggi meskipun Rumi juga adalah tetua dari kampung bukit Mahoni.

‎"Kapan kamu datang?" tanya Narno

‎"Saat hujan deras sekitar satu jam yang lalu" jawab Rumi

‎"Tidak ada ijin dari penjaga kampung? ini sudah malam dan orang asing tidak di ijinkan masuk" ucap Narno

‎"Aku bukan orang asing, Jamal ini masih saudara jauhku dan untuk apa aku minta ijin, semua warga di sini juga tahu aku tetua dari kampung Mahoni, bahkan aku masih di hormati di sana meskipun sudah di gantikan putraku Nurdin" jawab Rumi.

‎"Kamu masih saja sombong Rumi, ingat kampung mahoni sekarang sudah banyak berubah, sudah tidak menjunjung tinggi adat istiadat kita! banyak orang lalu lalang ke sana dan banyak orang sudah tidak percaya pengobatan tradisional!" ucap Narno

‎"Kami melakukan dua duanya Narno, pengobatan tradisional juga tetap kami lakukan, buktinya aku masih di percaya sebagai dukun beranak di kampung kampung sekitar, bahkan meksipun ada bidan aku yang di panggil, itu membuktikan kalau mereka masih percaya padaku" jawab Rumi

‎"Kasman harusnya mengusir kalian dari kampung, kalian menodai kesucian kampung di sini!" bentak Narno

‎"Kamu yang menodainya dengan menekan para warga, anak anak yang harusnya bermain malah kamu nikahkan! mereka harusnya bersekolah tapi para laki laki di paksa bekerja di kebun!" jawab Rumi

‎"Jangan bicara omong kosong! pergi dari kampung kami!" bentak Beno

‎"Kami memang akan pergi, tapi setelah Maryani di makamkan!" jawab Rumi

‎"Mbah, orang hamil harus di kubur dengan bayinya, kalau tidak nanti jasad itu akan jadi kuntilanak dan mengikuti anaknya terus menerus" ucap warga lain.

‎"Iya, kita harus melakukan ritual dengan benar Mbah, kami tidak mau kampung kami di teror hantu kuntilanak yang pasti akan menggangu para bayi di rumah rumah warga" ungkap yang lain

‎"Bayinya masih hidup" ucap Nurdin

‎"Bayi yang di keluarkan dari rahim perempuan yang meninggal akan mati di ambil ibunya lagi, dia akan gentayangan sampai anak itu di kembalikan dan jangan berusaha mengeluarkan bayi itu!" bentak Narno membuat suasana semakin panas.

‎Nurdin tetap berusaha membujuk Narno untuk melakukan pembedahan dan Narno tetap pada keputusannya, mengubur Maryani bersama bayi yang dia kandung. Sampai Rumi dan Nurdin kalah jumlah, mereka merelakan Maryani di urus oleh warga untuk memakamkan Maryani di pemakaman kampung cadas karena mereka tidak percaya kalau Maryani di makamkan di halaman belakang rumah Jamal.

‎"Tancapkan jarum di kakinya supaya dia tidak bisa keluar dari dalam kubur, tancapkan di kepalanya juga, masing masing tiga buah jarum!" perintah Narno saat seorang warga meminta kain kafan.

‎"Maryani seorang muslim, biarkan dia di makamkan sebagai seorang muslim" ucap Rumi

‎"Tidak ada yang punya agama di kampung ini, kami hanya percaya pada leluhur kami dan itu sudah terjadi sejak jaman dulu!" jawab Narno

‎"Kamu berniat dzalim pada jasad ini Narno, dan kamu pasti akan mendapatkan karma!" ucap Rumi

‎"Aku yang memberikan Karma pada orang orang yang melanggar hukum di kampung ini!" sinis Narno

‎"Bu, sebaiknya kita pulang, kita minta bantuan mbah Karman, mereka tidak akan mendengarkan kita" bisik Nurman

‎"Tolong, tolong cucu saya, biarkan cucu saya di ambil dan kami rawat" ucap Saidah

‎"Aku akan melakukan sesuatu, kamu tenanglah Saidah, aku akan meminta Mbah Karman melakukan sesuatu" bisik Rumi

‎Sebelum Rumi dan Nurdin pergi, Rumi menyelipkan bunga kantil di dalam mulut Maryani tanpa di ketahui semua orang, itu akan membuat jasad Maryani tetap utuh dalam satu minggu karena bunga kantil itu bukan bunga biasa, itu Adak bunga kantil dari pohon yang di tanam Abidin yang pastinya bukan tanaman biasa.

‎"Kami pamit, Kaelan akan kembali, Karna tidak mungkin membiarkan anak angkatnya bersedih, besok aku akan kembali untuk berziarah bersama Mbah Karman dan suamiku" ucap Rumi

‎"Terima kasih mbah, kami akan percaya pada kalian" jawab Jamal.

‎Setelah Rumi dan Nurdin pulang, pemakaman Maryani segera di lakukan setelah matahari terbit, para warga mulai menggali tanah dan Jamal juga Saidah tidak di ijinkan mengurus jenazah Maryani dengan cara yang benar. semuanya di lakukan secara adat kampung cadas, bahkan kain kafan Maryani tidak di buka, tetap di biarkan tertutup dan terikat dengan perut Maryani yang di tusuk tiga jarum oleh Narno.

‎"Makananmu Malak, bisa kamu ambil besok malam" batin Narno menyeringai.

Menyusun rencana

Setelah Rumi dan Nurdin pulang, pemakaman Maryani segera di lakukan setelah matahari terbit, para warga mulai menggali tanah dan Jamal juga Saidah tidak di ijinkan mengurus jenazah Maryani dengan cara yang benar. semuanya di lakukan secara adat kampung cadas, bahkan kain kafan Maryani tidak di buka, tetap di biarkan tertutup dan terikat dengan perut Maryani yang di tusuk tiga jarum oleh Narno.

‎"Makananmu Malak, bisa kamu ambil besok malam" batin Narno menyeringai.

‎Tidak ada yang tahu di balik adat pemakaman ibu hamil yang meninggal di sana, Narno berperan besar dalam adat dan cara memakamkan jenazah ibu hamil, itu karena dia membutuhkan bayi untuk tumbal kejayaan yang dia anut, dan itu tidak mungkin dia dapatkan dengan cara menculik bayi warga, dia menggunakan cara memberikan bayi bayi yang di kubur bersama ibunya untuk santapan jin peliharaannya yang bernama Malak.

‎"Aku pikir aku harus seperti tiga tahun lalu, sengaja meracuni seorang ibu hamil, tapi ternyata Maryani mati sendiri, itu lebih bagus" sinis Narno

‎"Kasihan Maryani, dia hamil besar dan meninggal tapi suaminya kerja di kota" ucap seorang warga

‎"Itulah sebabnya aku meminta warga di sini tetap tinggal di kampung cadas, biarkan orang masuk tapi kita tidak akan menganggap mereka, lihat! ini adalah bukti kalau keberadaan laki laki sebagai suami itu penting di sisi istrinya!" teriak Narno dan semuanya setuju.

‎"Lihat Jamal siapa yang membantumu mengurus jenazah Maryani! kami! dan orang orang yang kamu sanjung itu justru meninggalkan kalian!" ejek warga

‎"Dasar warga tidak berguna! kalau saja kalian bukan keturunan Arsana, kalian sudah aku usir sejak lama dari sini!" bentak Narno lalu pergi setelah pemakaman selesai.

‎Saidah kembali menangis, dia mengusap nisan Maryani yang hanya berupa sebuah batu, Saidah bahkan menciumi batu itu karena dia merasa sudah tidak becus menjaga Maryani.

‎"Maafkan ibu nak, ibu sudah salah pada kamu, Kaelan pasti marah pada ibu karena ibu sudah membunuh kamu" lirih Saidah

‎"Apa yang kamu katakan Bu, kamu tidak salah, ini musibah, harusnya kita ucapkan innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, bukannya malah meratapi semuanya, kita tunggu apa yang akan di lakukan Mbah Rumi dan Nurdin, Mbah Rumi benar, Kaelan kita itu anak angkatnya Karna, nama anak kita sama dengan nama putranya, dia pasti akan menolong kita" bujuk Jamal

"Kaelan pasti datang hari ini pak, Kaelan kita pasti bisa merasakan kalau istrinya sudah tiada dan anaknya dalam bahaya" ungkap Saidah

"Dia harus datang Saidah, dia harus datang" jawab Jamal mengusap rambut istrinya yang masih memeluk nisan Maryani.

‎°°°°°°°°°°°°

‎Di kampung Mahoni, lima tetua sedang berkumpul membahas masalah Maryani yang bayinya jelas masih hidup, Rumi bahkan tidak tidur dan meminta Abidin untuk membantunya bicara dengan Karman, Karna dan Panca. mereka merupakan tetua yang di hormati di sana dan memiliki kemampuan gaib yang tidak di miliki orang biasa.

‎"Berani sekali mereka menguburkan menantuku dengan cara yang tidak benar, akan aku hancurkan kampung itu!" kesal Karna.

‎"Sabar nak, kamu jangan emosi, bapak tahu kamu marah karena Kaelan sudah menitipkan istrinya pada kamu dan kedua orang tuanya, tapi Rumi yang seorang tetua kampung di sini saja tidak di hormati di sana, apalagi mereka yang tidak punya kemampuan apapun" bujuk Karman ayah dari Karna.

‎"Tapi pak, mereka sudah keterlaluan, Mbah Rumi sudah bilang kalau Maryani itu seorang muslim tapi mereka malah memakamkan Maryani secara adat kampung cadas" jawab Karna

‎"Kita lakukan sesuatu untuk mengambil kembali jasad Maryani, setelah itu periksa kembali bayinya karena biasanya, saat ini meninggal maka si bayi juga akan ikut meninggal" ucap Panca

"Panca benar, kita ambil jasadnya dan kita kuburkan dengan layak" jawab Abidin

‎"Aku sudah memasukkan kantil milik Abidin pada mulut Maryani, harusnya jasadnya bisa utuh dalam satu minggu" ucap Rumi

‎"Itu cukup, malam ini juga kita ambil jasad Maryani" ucap Abidin

‎"Bagaimana Mbah?" tanya Panca

‎"Aku setuju, kita makamkan Maryani di kampung Mahoni" jawab Karman

‎"Karna akan panggil Kalana untuk melindungi kita dan dia yang akan mengambil jasad Maryani" ucap Karna

‎"Tidak, kampung itu juga di jaga oleh makhluk bernama Malak, jangan kirim Kalana atau Narno akan tahu kalau itu ulah kita, kita harus kirim Kaelan, Kaelan yang akan membawa jasad istrinya itu" jawab Karman

‎"Mbah Karman benar, Narno mengenal kita dan jin pelindung kita, sebaiknya kirim Kaelan, dia mampu" jawab Panca

"Kapan Kaelan sampai? tadi kamu menelepon Kaelan kan?" tanya Karman

"Katanya sudah sampai di hutan kampung sukun pak, sekitar dua jam lagi dengan menaiki motor" jawab Karna

"Dua jam cukup untuk kita menyusun rencana, aku akan meminta Prawira anakku untuk menjemput Kaelan di perbatasan kampung cadas dan kampung Mahoni, kita katakan rencana kita pada Kaelan dan setelah itu kita siapkan pemakaman secara langsung setelah Kaelan berhasil membawa jasad Maryani di perbatasan" ungkap Panca

"Sampai di perbatasan?" tanya Karna

"Kita minta Kalana dan Ireng bersiap di sana membawa Kaelan dan Maryani supaya lebih cepat, dengan begitu Narno tidak akan bisa menuduh kita karena dia tidak bisa mengejar Kaelan" jawab Panca

"Aku akan ke kampung cadas lagi dengan alasan melayat, aku dan kang Abidin akan ke sana membawa buah buahan untuk di bagikan pada warga atas nama Maryani" ucap Rumi

"Buah itu tidak akan mereka terima Rumi, bagi warga kampung cadas, makanan dari rumah yang orangnya baru meninggal itu adalah sesuatu yang menjijikan, mereka menganggap makanan itu sudah di cicipi arwah orang yang meninggal itu" ucap Karman

"Tapi aku tidak punya alasan lain ke sana selain itu" jawab Rumi

"Tidak apa apa Rumi, ayo kita ke sana sekarang, perjalanan ke sana cukup jauh karena kita berjalan kaki" ucap Abidin

Panca pulang ke rumahnya untuk bicara dengan sang putra yang bernama Prawira, usia Prawira memang lebih muda hari Kaelan karena Prawira baru berusia enam belas tahun, tapi Prawira adalah tetua muda di kampung yang nantinya akan menggantikan Panca, jadi dia akan di libatkan dalam setiap urusan warga di kampung Mahoni.

Prawira juga langsung berangkat ke perbatasan kampung Mahoni dan kampung cadas untuk menjemput Kaelan, dia menunggu di sama sampai satu jam lebih dan akhirnya Kaelan tiba, Lelaki berperawakan tinggi dengan rambut panjang sebahu karena dia memang menyukai rambut panjang setelah Maryani sering mengusap rambutnya saat mereka duduk berdua ataupun tidur bersama.

"Kak Kaelan" sapa Prawira memeluk Kaelan yang matanya terlihat sembab.

"Antar aku langsung ke makam Maryani, aku ingin membawa istri dan anakku bersamaku" ucap Kaelan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!