***
Bau antiseptik yang menyengat adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Aurelia. Kelopak matanya terasa seberat beton, namun ia memaksa untuk membukanya. Cahaya lampu putih yang terang benderang sempat membuatnya pening, memaksa Aurelia mengerjap berkali-kali.
"Gue... masih hidup?" bisiknya parau.
Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri lebih lembut dan merdu, seperti denting porselen mahal.
Ingatan terakhirnya melintas seperti kilatan film horor. Jalanan yang basah setelah hujan, senyum lebar karena saldo ATM baru saja terisi penuh setelah gajian, lalu... BRAAAK!
Truk tangki raksasa itu menghantam tubuh kecilnya hingga terpental. Harusnya ia sudah menjadi bubur sekarang, atau setidaknya sedang mengantre di depan gerbang akhirat.
"Ibu? Alhamdulillah, Ibu sudah sadar?"
Aurelia menoleh ke samping. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan yang sangat rapi berdiri di sana dengan raut wajah cemas yang berlebihan.
Aurelia mengernyit. Ibu? Siapa yang dia panggil Ibu? Gue baru dua puluh dua tahun, wey! Nikah aja belum pernah, pacaran aja selalu gagal di tengah jalan!
"Mbak... panggil siapa ya?" tanya Aurelia bingung.
Pelayan itu tampak terkejut, matanya berkaca-kaca. "Tentu saja memanggil Ibu. Ibu Nadia, ini saya, Bi Sum. Ibu sudah pingsan selama dua hari sejak terjatuh di tangga mansion. Ya Allah, saya takut sekali terjadi apa-apa pada Ibu."
"Nadia? Mansion?" Aurelia tertawa garing.
"Mbak, kayaknya Mbak salah orang. Nama saya Aurelia. Saya tinggal di kosan gang sempit, bukan mansion. Dan tolong, jangan panggil Ibu, panggil 'Kak' atau 'Nona' biar lebih estetik sedikit."
Bi Sum tampak semakin pucat. "Ibu jangan bercanda... Dokter bilang Ibu mungkin sedikit syok, tapi—"
"Saya memang syok! Syok kenapa saya nggak mati padahal ditabrak truk segede rumah!" potret Aurelia emosional.
"Truk? Ibu jatuh di tangga saat hendak membawakan teh untuk Tuan Raditya," sahut Bi Sum bingung.
Aurelia terdiam. Raditya? Siapa lagi itu? Ia mencoba bangkit untuk duduk, namun ia merasakan sesuatu yang aneh. Ada beban yang tidak biasa di bagian tengah tubuhnya. Perutnya terasa berat dan... kencang.
"Aduh, perut gue kenapa kram ya? Kayaknya usus gue melilit gara-gara ketabrak tadi," keluh Aurelia sambil memegang perutnya.
Wajah Bi Sum langsung berubah panik. Ia segera mendekat. "Aduh, Ibu! Jangan ditekan perutnya! Nanti bayinya kaget! Perlu saya panggilkan dokter sekarang Bu, jika ada apa-apa dengan kandungan ibu?"
Detik itu juga, jantung Aurelia serasa berhenti berdetak.
"Apa? Tunggu... kandungan? Siapa yang hamil?"
Bi Sum menatap Aurelia dengan tatapan seolah-olah majikannya itu baru saja kehilangan akal sehat. "Ibu... Ibu sedang mengandung empat bulan, Bu. Apa Ibu lupa? Dokter bilang janinnya sangat kuat meski Ibu sempat jatuh."
"EMPAT BULAN?!" teriak Aurelia hingga suaranya melengking memenuhi ruangan VVIP itu.
Tanpa memedulikan rasa pening di kepalanya, Aurelia langsung menyibakkan selimut putih yang menutupi tubuhnya. Matanya membelalak sempurna. Di balik piyama sutra yang ia kenakan, perutnya tidak lagi rata seperti biasanya. Ada gundukan nyata yang sudah menonjol. Perut buncit yang sangat nyata!
Ia meraba gundukan itu dengan tangan gemetar. Ini bukan lemak gorengan... ini... ini isi bayi?!
"Enggak, enggak! Ini pasti mimpi!" Aurelia mulai histeris. Ia menjambak rambutnya sendiri. "Mbak! Ambilkan cermin! Sekarang!"
"Ba-baik, Bu!" Bi Sum berlari kecil mengambil cermin rias dari atas meja.
Saat cermin itu berada di depan wajahnya, Aurelia nyaris melempar benda itu. Wajah yang terpantul di sana bukanlah wajah Aurelia yang kusam karena debu jalanan dan kurang tidur. Wajah itu... sangat cantik. Kulitnya putih bersih, glowing alami seolah tidak pernah terpapar sinar matahari langsung. Rambutnya hitam legam, panjang, dan halus. Matanya bulat dengan bulu mata lentik yang sempurna.
"Gila... ini siapa? Cantik banget kayak bidadari turun mandi," gumamnya takjub, namun segera tersadar. "Eh, tapi tunggu! Nama gue siapa tadi? Coba ulangi pelan-pelan!"
"Ibu Nadia Atmaja, Bu," jawab Bi Sum dengan suara bergetar. "Istri dari Bapak Raditya Hadiwinata sekaligus calon ibu dari anak beliau."
Aurelia ternganga. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. Jadi, fiksi transmigrasi yang sering ia baca di aplikasi novel itu nyata? Ia masuk ke tubuh wanita kaya raya bernama Nadia Atmaja yang sedang hamil empat bulan, sementara jiwanya yang asli si Aurelia perawan ting ting mungkin sudah dikubur dalam tanah.
"Nadia Atmaja... kaya, cantik, tapi bumil," Aurelia bergumam pada dirinya sendiri. "Tapi sebentar, gue kan nggak pernah begituan sama cowok. Kok bisa langsung hamil empat bulan? Ini namanya buy one get one atau gimana?"
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Oke, setidaknya ia tidak jadi penghuni kubur. Setidaknya ia jadi orang kaya yang kulitnya licin kayak perosotan TK.
"Lalu... di mana suami saya? Siapa tadi namanya? Raditya?"
Bi Sum menunduk, wajahnya tampak ragu. "Bapak sedang berada di kantor, Bu. Ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan, katanya."
Mendengar itu, sisi "barbar" Aurelia langsung mendidih. "Apa?! Istrinya baru saja bangun dari koma, perutnya buncit bawa anaknya, dan dia lebih milih rapat? Dia manusia atau robot kulkas?"
Bi Sum tersentak mendengar nada bicara Nadia yang mendadak kasar. Biasanya Nadia hanya akan menangis dalam diam jika diabaikan oleh suaminya.
"T-tapi bapak sudah membayar semua biaya rumah sakit, Bu..."
"Halah! Uang mah bisa dicari, perasaan istri mana ada di toko bangunan!" semprot Aurelia. "Mm, dasar laki-laki nggak punya perasaan. Mentang-mentang kaya, seenaknya sendiri."
Aurelia menyandarkan punggungnya di bantal empuk. Ia memandangi perut buncitnya lagi. Meskipun ia bingung dan syok setengah mati, ada getaran aneh di hatinya saat merasakan "sesuatu" bergerak pelan di dalam sana.
"Oke, Nadia. Kalau ini takdir gue, gue nggak bakal jadi Nadia yang lemah lembut dan nangisan," tekad Aurelia dalam hati. Matanya berkilat penuh rencana. "Mansion mewah, suami kaya tapi dingin, dan perut buncit... Mari kita lihat seberapa kuat Raditya Hadiwinata menghadapi Nadia versi baru yang bakal bikin darah tingginya naik tiap hari."
Aurelia menoleh pada Bi Sum yang masih berdiri mematung. "Bi! Saya lapar. Saya nggak mau bubur rumah sakit yang rasanya kayak kertas semen. Saya mau nasi padang, rendangnya dua, pake perkedel, dan es jeruk yang gulanya asli! Sekarang!"
Bi Sum melongo. "Tapi Bu... dokter bilang—"
"Dokter bukan Tuhan! Cepat pesan atau saya loncat dari kasur ini sekarang juga!"
"Ba-baik Bu! Segera!" Bi Sum berlari keluar dengan panik, sementara Aurelia menyunggingkan senyum miring.
Selamat datang di dunia baru, Aurelia. Eh, maksud gue, Nadia Atmaja.
****
Bersambung
***
Setelah perdebatan sengit dengan dokter yang akhirnya menyerah karena ancaman Aurelia yang ingin "demo masak di kantin RS", Nadia atau kita sebut saja Aurelia akhirnya diperbolehkan pulang.
Mobil mewah Mercedes-Benz kelas atas menjemputnya. Aurelia duduk di kursi belakang yang empuknya melebihi kasur busa di kosan lamanya. Sepanjang jalan, ia tak henti-hentinya mengelus perut buncitnya yang mulai terasa aktif.
"Sabar ya, Nak. Kita mau ke istana. Jangan nendang-nendang dulu, nanti Mama muntah di mobil mahal ini, sayang bayarnya," bisik Aurelia pada perutnya.
Begitu mobil memasuki gerbang raksasa berlapis emas, rahang Aurelia hampir jatuh ke lantai mobil. Sebuah bangunan megah bergaya klasik modern berdiri kokoh di hadapannya. Air mancur dengan patung marmer menghiasi halaman depan yang luasnya mungkin setara dengan tiga lapangan sepak bola.
"Gila... ini rumah atau bandara?" gumam Aurelia takjub. "Bi Sum, ini beneran rumah si Kulkas—eh, maksud saya, suami saya?"
Bi Sum terkekeh pelan. "Iya, Bu. Ini Mansion Hadiwinata. Rumah pribadi Bapak dan Ibu."
Saat kaki Aurelia menginjak lantai marmer di lobi utama, ia merasa seperti Cinderella yang baru saja menang lotre. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya ke segala penjuru ruangan. Namun, kekagumannya terhenti saat ia mendengar suara cempreng yang sangat tidak merdu dari arah ruang tengah.
"Oh, akhirnya si pembawa sial ini pulang juga? Kirain mau selamanya di rumah sakit biar dapet perhatian Raditya!"
Aurelia menghentikan langkahnya. Di atas sofa beludru merah, duduk seorang wanita paruh baya dengan perhiasan yang beratnya mungkin bisa buat beli satu unit ruko, bersama seorang gadis muda yang memakai riasan setebal tembok yang sedang asyik memoles kuku.
Itulah Nyonya Sekar, ibu mertua Nadia, dan Siska, sepupu Raditya yang sudah lama mengincar posisi di mansion ini.
Aurelia menoleh ke arah Bi Sum dengan dahi berkerut. "Bi, bukannya Bibi bilang ini mansion pribadi suami saya? Kenapa ada dua ulat keket ini di sini?" bisiknya ketus.
Bi Sum kaget setengah mati mendengar istilah 'ulat kekek', ia berbisik balik dengan gemetar, "I-iya Bu. Nyonya Sekar dan Non Siska memang sering datang ke sini tanpa diundang. Mereka bilang ingin bertemu Bapak Raditya, tapi ujung-ujungnya hanya memerintah para pelayan."
"Kenapa nggak ke kantornya aja langsung?" tanya Aurelia heran.
"Karena... mereka merasa seperti penguasa di sini, Bu. Maaf," Bi Sum menunduk.
Aurelia mendengus. "Lalu selama ini, Nadia—eh, saya, maksudnya sikap saya gimana kalau mereka berulah?"
"Ibu selalu diam saja, menghormati Ibu Mertua agar tidak ada pertengkaran. Ibu bahkan sering membuatkan teh tapi malah disiramkan ke lantai oleh mereka..."
Mata Aurelia membelalak. "Disiram ke lantai? Wah, fix. Nadia yang dulu emang terlalu malaikat. Sekarang, iblisnya yang bangun."
Aurelia berjalan mendekat ke arah sofa dengan gaya yang sangat anggun namun sorot matanya tajam. Ia mengelus perut buncitnya dengan dramatis.
"Aduh, sayang... denger nggak? Tadi ada suara berisik banget, kayak suara burung gagak minta makan," ucap Aurelia dengan suara keras sambil menatap Nyonya Sekar.
Nyonya Sekar tersentak, ia berdiri dengan wajah merah padam. "Nadia! Apa kamu bilang? Kamu berani menghina Ibu mertuamu?!"
Siska pun ikut menimpali, "Eh, Kak Nadia, sadar diri dong! Kamu itu cuma istri pajangan yang hamil nggak jelas asal-usulnya. Mas Raditya aja ogah pulang, kenapa kamu yang jadi berisik?"
Aurelia tersenyum manis, sangat manis sampai membuat Siska merinding. "Eh, ada Siska ya? Duh, maaf ya, mataku agak silau lihat mansion semegah ini, jadi ulat-ulat kecil di sofa nggak kelihatan."
"Nadia! Kurang ajar kamu!" Nyonya Sekar berteriak sambil mengangkat tangannya, hendak menampar.
Tepat sebelum tangan itu mendarat, Aurelia tiba-tiba memegang perutnya dan berakting lemas. "ADUH! ADUH! SAKIT! ADUH, ANAKNYA RADITYA STRES DENGER TERIAKAN NENEKNYA!"
Aurelia hampir terduduk di lantai, membuat para pelayan berlarian panik.
"Bi Sum! Telepon Mas Raditya! Bilang ke dia, kalau bayinya keguguran sekarang juga, itu gara-gara ibunya mau nampar menantunya yang lagi hamil empat bulan!" teriak Aurelia dengan nada yang sangat meyakinkan.
Nyonya Sekar seketika membeku. Tangannya gemetar di udara. Raditya adalah putra yang sangat ia takuti jika sudah menyangkut reputasi keluarga. Jika berita 'Nyonya Sekar membunuh cucunya sendiri' tersebar, dia akan diusir dari daftar ahli waris.
"Ka-kamu... kamu jangan akting ya, Nadia!" Siska membela ibunya, meski suaranya mulai ciut.
"Akting? Kalian mau coba?" Aurelia berdiri tegak kembali dengan kecepatan kilat, wajah lemasnya hilang seketika. "Dengar ya, ulat-ulat cantik. Mulai hari ini, peraturan di mansion ini berubah. Saya adalah Nyonya di sini. Dan bayi di perut saya ini adalah pewaris tunggal Hadiwinata."
Aurelia mendekat ke arah Siska, menatap kuku merahnya yang baru dipoles. "Siska, kuku kamu bagus. Tapi sayang, otaknya nggak sebanding. Daripada kamu asyik di sini nungguin suami orang, mending kamu cari kerjaan. Atau mau saya carikan lowongan jadi pembersih kolam renang di sini?"
"Kak Nadia! Mas Raditya nggak akan tinggal diam lihat kamu jadi kasar begini!"
"Oh, si Kulkas itu? Di mana dia sekarang?" tanya Aurelia pada Bi Sum, sengaja mengabaikan Siska.
"Bapak masih di kantor, Bu," jawab Bi Sum takut-takut.
Aurelia mendengus kasar. "Ya Tuhan... punya suami modelan kayak gitu. Istri pulang dari rumah sakit dibiarin hadepin ulat kekek sendirian. Bi! Siapkan kamar saya. Dan tolong, buang semua barang-barang di ruang tamu ini yang pernah diduduki oleh orang yang bukan penghuni rumah. Saya nggak mau aura negatif ulat-ulat ini bikin anak saya lahir jadi buncis."
Nyonya Sekar hampir pingsan mendengar perintah itu. "Nadia! Kamu mengusir kami?!"
Aurelia menguap lebar, lalu mengelus perutnya lagi. "Aduh sayang, Mama capek ya denger suara bising. Ayo kita ke kamar, biar ulat-ulat ini pulang ke sarangnya sendiri sebelum Mama panggil satpam untuk 'membantu' mereka keluar."
Aurelia berjalan melewati mereka begitu saja, bahunya menyenggol Siska hingga gadis itu hampir terjungkal ke sofa. Dengan kepala tegak, ia menaiki tangga mewah itu, meninggalkan Nyonya Sekar dan Siska yang mematung dengan mulut menganga.
"Mulai hari ini," gumam Aurelia sambil memandang luasnya mansion dari atas tangga, "Saya bukan Nadia yang lemah. Saya adalah ratu di sini. Dan Raditya... siap-siap aja kamu akan di bikin pusing tujuh keliling."
***
Bersambung
Hai man teman, ini cerita terbaru dari author semoga kalian suka ya,,😚
jangan lupa mampir di cerita author yangain, banyak juga kok cerita cerita bagus yang engga kalah menarik pastinya, hehehe....
Lopp sekebonnn ❤️❤️❤️
***
Matahari sudah hampir tenggelam saat mobil Rolls-Royce hitam metalik memasuki pelataran Mansion Hadiwinata. Raditya Hadiwinata melangkah keluar dengan raut wajah yang tampak sangat lelah. Kerutan di dahinya menandakan hari yang panjang di kantor, mengurus merger perusahaan yang cukup menguras energi.
Namun, ketenangan yang ia cari di rumah langsung sirna saat ia baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah.
"Raditya! Akhirnya kamu pulang, Nak!" Nyonya Sekar berlari menghampiri putranya dengan tisu yang sudah basah oleh air mata (yang tentu saja dibuat-buat).
Raditya menghentikan langkah, memijat pangkal hidungnya. "Ada apa lagi, Mah? Radit baru sampai."
"Mas Radit! Kamu harus lihat apa yang dilakukan Kak Nadia tadi!" Siska ikut menimpali dengan nada dramatis, seolah-olah dia baru saja selamat dari bencana alam. "Dia mengusir kami! Dia bilang kami ini 'ulat kekek'! Dia bahkan mengancam akan menggugurkan kandungannya hanya untuk menyalahkan Tante Sekar!"
Raditya terdiam sejenak. Sorot matanya dingin, sedingin es kutub. Ia melirik Bi Sum yang berdiri ketakutan di pojok ruangan, lalu beralih kembali ke ibunya.
"Nadia mengusir Mama?" tanya Raditya datar.
"Iya! Dia berubah, Radit! Dia seperti kerasukan setan pasar! Kasar, tidak tahu sopan santun, dan sangat berani! Kamu harus menceraikannya setelah anak itu lahir!" seru Nyonya Sekar penuh emosi.
Raditya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Bukannya marah atau langsung naik ke atas untuk melabrak istrinya, ia justru melonggarkan dasinya. "Mah, Siska... Raditya lelah. Kalau Nadia memang mengusir kalian, mungkin ada alasannya. Sebaiknya kalian pulang dulu. Kepalaku mau pecah."
"Radit! Kamu membela wanita itu?!"
"Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya butuh tenang," jawab Raditya dingin sambil berjalan melewati mereka begitu saja menuju tangga.
Baginya, drama antara ibu mertua dan menantu adalah hal yang biasa, meski ia sedikit merasa aneh. Nadia? Si penakut itu bisa mengusir orang? pikirnya skeptis.
**
Sementara itu di lantai atas, di kamar utama yang luasnya menyerupai suite hotel bintang tujuh, Aurelia sedang terkapar di atas ranjang king size. Jiwa barbar-nya ternyata tidak sebanding dengan stamina tubuh Nadia yang sedang hamil.
"Duh, laper lagi... capek lagi... Kenapa jadi bumil se-jompo ini sih?" gumamnya sambil memeluk bantal guling sutra.
Aurelia tidak sadar bahwa pintu kamar terbuka perlahan. Ia tertidur sangat pulas, kelelahan setelah sesi adu mulut yang menguras kalori tadi siang.
Namun, sebuah pergerakan di dekat ranjang membuatnya terusik. Bau parfum maskulin yang sangat mahal campuran antara kayu cendana dan citrus yang segar menusuk indra penciumannya. Aurelia membuka matanya perlahan, menguceknya sebentar, dan saat penglihatannya fokus...
"AAAAHHH!" Aurelia memekik, hampir terjungkal dari ranjang.
Di depannya, berdiri seorang pria tinggi dengan bahu lebar yang dibalut kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya yang hitam disisir rapi meski sedikit berantakan karena lelah. Rahangnya tegas, dan matanya menatap Aurelia dengan tatapan tajam namun menyimpan rasa lelah yang dalam.
"Apa yang membuatmu begitu terkejut?" suara berat itu menggema, terdengar sangat bariton dan seksi.
Aurelia mengerjap-ngerjap. Gila... ini orang atau patung Yunani? Ganteng banget! batinnya menjerit. Namun, otak barbarnya segera mengambil alih.
"K-kamu... kamu siapa? Maling ya? Ganteng-ganteng kok jadi maling!" seru Aurelia sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Raditya terkekeh sinis, sebuah tawa pendek yang tidak sampai ke mata. "Apakah otakmu juga rusak setelah pulang dari rumah sakit? Sampai-sampai kamu tidak mengenali suamimu sendiri?"
Aurelia tersentak. Suami? Jadi ini si Kulkas Hadiwinata?
"Oh... Mas Raditya?" Aurelia segera merubah raut wajahnya. Ia teringat misi penyamarannya. Ia harus terlihat sedikit "Nadia" agar tidak langsung dicurigai sebagai alien. "Maaf Mas, Nadia sedikit... pusing. Baru bangun tidur jadi agak linglung."
Raditya menyipitkan mata, memperhatikan istrinya. Ada yang berbeda. Nadia biasanya akan menunduk atau gemetar jika menatap matanya secara langsung. Tapi wanita di depannya ini justru menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar, bahkan sempat-sempatnya melirik ke arah dadanya yang tercetak di balik kemeja.
"Pantas saja," sahut Raditya ketus. "Apakah kamu membuat masalah hari ini?"
"Maksud Mas?" Aurelia bertanya dengan wajah polos yang dibuat-buat.
"Jangan berakting. Mama dan Siska menangis di bawah. Mereka bilang kamu mengusir mereka dengan kata-kata kasar. Apakah kamu benar-benar bodoh sekali, Nadia? Mencari musuh di dalam keluargaku sendiri?"
CK, pria ini kasar sekali! Pengen banget gue tabok pake bantal! geram Aurelia dalam hati.
Namun, ia justru memasang wajah sedih dan sedikit bergetar.
"Oh... maksud Mas tentang Mama Sekar dan Siska ya?" Aurelia menunduk, memainkan ujung selimutnya. "Tadi Nadia memang bertemu mereka. Tapi karena Nadia baru pulang dari rumah sakit dan masih sangat lemas, Nadia tidak sempat menyapa mereka terlalu lama. Mungkin... mereka salah paham karena Nadia buru-buru ingin istirahat. Apakah Mama tersinggung?"
Aurelia berusaha bangkit dari ranjang, berpura-pura kesusahan karena perut buncitnya. "Kalau memang iya, Nadia bakal turun dan minta maaf langsung sekarang juga meskipun kepala Nadia masih muter-muter..."
Saat Aurelia bangkit, selimutnya merosot. Ia mengenakan baju tidur satin pendek berwarna champagne yang tipis. Karena perutnya yang sudah menonjol 4 bulan, bagian bawah baju tidur itu terangkat sedikit, memperlihatkan kakinya yang jenjang dan putih mulus. Kulitnya terlihat sangat kontras dengan seprai gelap.
Raditya tertahan di tempatnya. Ia menelan salivanya dengan susah payah saat matanya tanpa sengaja memindai lekuk tubuh istrinya yang kini terlihat lebih berisi dan... sangat menggoda. Ada aura sexy mommy yang memancar kuat, yang sebelumnya tidak pernah ia sadari dari sosok Nadia yang selalu memakai daster longgar.
"Tidak perlu," potong Raditya cepat, suaranya sedikit serak. "Mereka sudah pulang."
"Benarkah Mas? Sayang sekali... padahal aku merasa bersalah. Besok jika mereka berkunjung, aku akan minta maaf secara langsung dan membuatkan teh kesukaan Mama," ucap Aurelia dengan nada sangat lembut, namun di dalam hatinya ia tertawa jahat. Minta maaf? Iya, gue minta maaf sambil nyiram air tehnya ke muka mereka!
Raditya masih berdiri mematung, matanya tertuju pada bibir Nadia yang merah alami tanpa riasan. Ia merasa ada yang aneh dengan suhu tubuhnya sendiri.
"Kenapa Mas? Apa Mas butuh sesuatu?" Aurelia mendekat, aroma tubuhnya yang harum bayi bercampur melati tercium oleh Raditya. "Perlu aku siapkan air hangat untuk Mas berendam? Pasti Mas capek sekali mengurus perusahaan."
"Tidak perlu," jawab Raditya dingin, berusaha mengembalikan kewarasaannya. "Saya tidak mau dirawat oleh pasien rumah sakit."
Aurelia memanyunkan bibirnya, terlihat sangat menggemaskan namun juga licik. "Nadia sedih dengernya... Padahal aku sakit juga gara-gara kepikiran Mas yang nggak pernah pulang. Aku juga sedang hamil anaknya Mas, tapi Mas ketus banget."
Raditya menatap perut buncit itu, lalu menatap mata Aurelia dengan tajam. "Jangan gunakan anak itu sebagai tameng, Nadia. Kita berdua tahu bagaimana pernikahan ini dimulai."
Setelah mengatakan itu, Raditya berbalik dan masuk ke kamar mandi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Aurelia yang langsung meletus tawanya tanpa suara.
"Tameng katanya? Heh, Tuan Kulkas... belum tahu dia kalau tameng ini bisa berubah jadi meriam kalau dia macam-macam!" Aurelia kembali merebahkan diri dengan puas. "Tapi asli, gantengnya kelewatan. Kalau dia nggak galak, mungkin udah gue terkam dari tadi."
Di dalam kamar mandi, di bawah kucuran air dingin, Raditya menyandarkan kepalanya di dinding marmer. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ada apa dengan dia? Kenapa dia jadi begitu berani... dan kenapa aku merasa terganggu hanya karena melihatnya memakai baju tidur itu?
****
Bersambung
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!