"Alya." panggil seorang gadis padanya. "Kau ditunggu kepala pelayan di ruangannya, sekarang." lanjutnya memberi informasi.
"Untuk apa?" tanya Alya heran. "Aku tidak merasa melakukan kesalahan."
"Aku juga tidak tahu. Sebaiknya cepat pergi ke sana. Kepala pelayan terlihat serius." jelas gadis itu padanya.
"Baiklah." sahut Alya, mendadak cemas.
*
*
Ruangan kepala pelayan berada di bagian ujung mansion ini. Biasanya ruangan itu dijadikan tempat untuk' mendidik' para pelayan yang tidak disiplin ataupun membuat masalah.
Karena hal tersebut juga menjadi salah satu tugas dari kepala pelayan.
Alya, gadis cantik berusia dua puluh tahun itu, menyusuri lorong sepi yang mengarah ke ruangan kepala pelayan dengan perasaan khawatir, sekaligus gelisah.
Ini pertama kalinya ia di panggil ke ruangan tersebut setelah beberapa bulan bekerja.
Ia tidak punya pekerjaan lain yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dan juga membayar biaya rumah sakit yang jumlahnya tidak sedikit.
Gaji yang ia terima dengan bekerja di rumah ini lumayan besar. Cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga membayar biaya pengobatan ibunya yang di vonis menderita kanker payudara stadium tiga.
Ibunya harus menjalani beberapa kali sesi kemoterapi untuk memperkecil sel kanker yang telah menyebar di bagian sekitar. Setelah ukurannya menyusut, baru bisa menjalani operasi untuk membersihkan sel kanker tersebut.
Dan biaya yang diperlukan tentunya tidak sedikit.
Ia harus bekerja dengan baik agar bisa tetap bekerja di sini.
Namun, kini ia malah di panggil ke ruang kepala pelayan.. Hatinya terus berdebar-debar tak karuan di sepanjang perjalanan.
Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan kepala pelayan. Ia mengetuk pintu itu dengan tangan yang gemetar.
"Ya, masuklah!" sahut seseorang dari dalam ruangan tersebut.
Alya lalu membuka pintu tersebut, dan melangkah masuk.
"Permisi Tuan." ucap Alya sopan, sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Silahkan duduk, Alya." ucap kepala pelayan datar.
Alya duduk tegak di hadapannya.
"Saya ingin membicarakan sesuatu kepadamu." lanjutnya, tampak serius.
"Minggu depan, Tuan muda akan kembali ke rumah ini." ucapnya, mulai menjelaskan. "Selama ini, ibumu yang biasanya bertugas untuk mengurusi segala kebutuhannya. Mulai dari menyiapkan makanan, pakaian dan juga keperluan lainnya."
Alya hanya diam mendengarkan.
"Tuan muda sudah tahu bagaimana kondisi ibumu. Dan saya juga sudah mengatakan padanya jika kau lah yang akan menggantikan ibumu untuk mengurus segala keperluannya." lanjutnya.
Ia lalu menatap Alya tajam. "Tuan muda bukan lah seseorang yang sulit di urus. Tapi... dia tidak suka dengan orang yang terlalu banyak bicara. Apalagi seseorang yang terang-terangan berniat untuk menggodanya."
Kata-kata itu lebih terdengar seperti sebuah peringatan keras, dari pada sekedar informasi biasa.
"Saya mengerti, Tuan." sahut Alya, mengangguk mengerti. "Saya benar-benar ingin bekerja di sini." ucapnya yakin.
"Saya tahu, dan saya yakin jika kau adalah seseorang yang sangat bertanggung jawab pada pekerjaan mu. Sama seperti ibumu." ucap kepala pelayan, tegas.
"Terima kasih, Tuan."
"Baiklah. Kau boleh pergi dan melanjutkan pekerjaan mu." ucapnya mengakhiri pembicaraan.
"Baik, Tuan. Saya mohon izin undur diri." pamitnya, lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
...🌺🌺🌺...
Alya bukanlah gadis yang banyak tingkah. Ia benar-benar datang ke mansion mewah ini untuk bekerja. Ia tidak pernah membuat masalah, ataupun terlibat permasalahan dengan rekan sesama pelayan.
Namun, bukan berarti pekerjaannya selalu lancar. Selalu saja ada yang berniat untuk mencari masalah dengannya. Bukan karena pekerjaannya yang selalu terlihat sempurna dan mendapat pujian, melainkan karena kecantikannya yang dianggap melebihi 'standart' seorang pelayan.
Ia sendiri selalu merasa bingung, bagaimana sebenarnya 'standart' yang selalu mareka sebutkan itu.
Alya terlahir dengan kulit putih bersih, bak porselen. Tubuhnya tinggi semampai, dengan berat badan yang ideal. Sorot matanya tajam, dengan warna cokelat yang menunjukkan kepercayaan diri tinggi, dan kehangatan yang memikat.
Ia mungkin lebih cocok berprofesi sebagai seorang model, daripada menjadi seorang pelayan. Namun pada kenyataannya, ia hanyalah seorang pelayan biasa, sama seperti mereka.
Ia bahkan tidak pernah memperdulikan segala pujian dan rayuan yang di lontarkan oleh beberapa pelayan pria kepadanya. Karena hal tersebut, Alya kerap kali di cap sebagai gadis yang sombong.
Namun, ia tak pernah menghiraukan hal tersebut. Karena di mansion ini, tidak semua orang membencinya. Bagi yang sudah mengenal dirinya dan ibunya, ia selalu di anggap sebagai anak yang berbakti dan juga pekerja keras.
Mereka tahu jika beban yang di tanggungnya tidaklah kecil. Di usia yang masih terbilang muda, ia harus menjadi tulang punggung dan berjuang keras untuk bertahan hidup serta membiayai pengobatan ibunya.
Ia punya beberapa teman di rumah ini. Mira dan Desi, temannya sesama pelayan. Bibi Sari, di bagian dapur, dan paman Herman si tukang kebun.
Mereka semua sangat baik kepadanya.
Terkadang Bibi Sari sengaja membungkuskan sisa makanan yang masih layak dimakan, untuk ia bawa pulang. Tubuh rampingnya bukan terbentuk karena sengaja dilatih, melainkan karena ia terlalu mengirit pengeluaran.
Terkadang, ia bahkan sengaja melewatkan sarapan dan juga makan malamnya, untuk sekedar menghemat sedikit pengeluarannya.
Beruntung ia bisa mendapatkan jatah makan siang di rumah ini.
Sebenarnya ia bisa saja mendapatkan sarapan, makan siang sekaligus makan malam setiap hari jika tinggal dan menetap di mansion ini. Namun, jika ia tinggal di sini, ia tidak bisa menjaga dan merawat ibunya di rumah dan ketika ibunya di rawat di rumah sakit.
Sehingga, ia terpaksa menghemat jatah makannya, untuk ongkos pulang-pergi dari mansion menuju rumahnya.
Walaupun semua ini terasa sulit baginya. Namun ia tidak pernah menyerah, apalagi mengeluh. Ia harus tetap kuat menjalani kehidupan demi ibunya, wanita yang telah melahirkan dan merawatnya selama ini dengan tetesan keringat dan air mata.
Banyak orang yang tidak tahu, bahwa Alya terlahir tanpa seorang ayah. Ibunya tak pernah menceritakan siapa ayahnya dan di mana keberadaannya saat ini.
Bahkan, Alya tidak tahu apakah ayahnya saat ini masih hidup, atau justru sudah meninggal.
Namun, Alya tidak pernah bertanya kepada ibunya. Karena kesedihan ibunya, sudah cukup menjelaskan semuanya.
"Alya, makanlah dulu, Nak." ucap Bibi Sari, menyodorkan piring berisi makanan ke hadapan Alya yang sedang duduk beristirahat di halaman belakang. "Jam istirahat akan segera berakhir."
"Iya, Bibi. Terima kasih." ucap Alya, lalu memakan makanan itu dengan segera. Ia sudah sangat lapar karena menahannya sejak pagi.
"Bibi dengar, tadi kau di panggil ke ruangan kepala pelayan. Apa ada masalah?" tanyanya khawatir.
"Tidak, Bibi. Kepala pelayan hanya memberitahukan padaku, bahwa aku yang akan menggantikan tugas Ibu untuk mengurus keperluan Tuan muda setelah ia kembali nanti." jelasnya.
"Oh, karena itu. Iya, Tuan muda memang akan kembali minggu ini." jelasnya tenang. "Kau harus menjaga sikapmu di depannya. Jangan sampai membuat masalah." lanjutnya menambahkan.
"Iya, Bibi." sahutnya, lalu segera menghabiskan makan siangnya.
Pekerjaan barunya nanti sepertinya tidaklah mudah. Ia hanya berharap tidak akan mendapatkan masalah apapun ke depannya.
...🌺🌺🌺...
Hai semua!
Ini karya terbaru ku. Semoga ceritanya bisa menghibur kalian ya.
Jangan lupa mampir dan memberi dukungan pada karya ini ya.
Tekan tombol ❤️ agar cerita ini masuk di daftar favorit kalian. Kalian bisa mendapatkan update terbaru dari cerita ini.
Jangan lupa juga like, komentar dan gift, rate nya ya... 😅😅 Biar aku tetap semangat nulisnya...
Ceritanya ini tidak ada artinya tanpa dukungan dari kalian semua...
Terima kasih... 🤗❤️
Seorang pria tampan turun dari pesawat pribadinya, dengan menggunakan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya. Ia memakai setelan jas tiga potong, yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Langkahnya cepat dan tegas, menuruni setiap anak tangga menuju mobil sedan yang sudah menunggu di bawah sana.
Malam itu langit tampak cerah, namun berbanding terbalik dengan hatinya yang sedang kesal.
Rahangnya mengeras, menahan marah.
"Selamat datang kembali, Tuan." ucap seorang pria muda, memberi sapaan hormat ke arahnya.
Ia menurunkan sedikit kaca matanya, menatap pria muda itu. "Siapa kau?" tanyanya dingin, karena tidak merasa mengenalnya.
"Oh, maafkan Saya, Tuan. Saya Jordi, asisten Anda yang baru." ucapnya, memperkenalkan diri.
"Oh, jadi kau yang akan menjadi asisten ku."
"Iya, Tuan Maxime." sahut Jordi tampak gugup.
Maxime, pria itu, menaikkan kembali kaca matanya. "Oke." sahut Max singkat. Lalu masuk ke dalam mobil.
Disusul oleh Jordi yang duduk di kursi depan.
*
*
Perjalanan menuju rumah tidak berakhir dalam keheningan, melainkan percakapan serius antara Maxime dan Jordi, terkait pekerjaannya.
Jordi tampak menjelaskannya secara terperinci, sehingga Maxime bisa menangkap maksudnya dengan mudah.
"Oke. Lanjutkan saja sesuai dengan apa yang sudah kau jelaskan barusan. Namun, untuk peluncuran varian seri terbaru dari make-up kita, majukan lebih cepat jadi minggu depan." ucap Maxime tegas, memberi penekanan pada setiap kata-katanya.
"Jangan sampai ditunda lagi!"
"Baik, Tuan." sahut Jordi patuh.
Tanpa terasa, mobil itu sudah berhenti tepat di depan teras rumah Maxime yang megah.
Pria itu lalu turun dari mobil, sambil membuka kaca matanya.
"Selamat datang kembali ke rumah, Tuan." sapa kepala pelayan, penuh hormat padanya.
"Selamat malam , Pak Dul." sapanya balik, tanpa menghentikan langkahnya yang lebar dan cepat, seolah sedang terburu-buru.
"Apa Anda ingin di siapkan makan malam, Tuan?" tanya Pak Dul, sopan.
"Tidak perlu. Aku sedang terburu-buru. Suruh pelayan menyiapkan pakaianku segera, selagi aku mandi." ucapnya, lalu menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Baik, Tuan." ucapnya.
Ia lalu meminta pelayan lain untuk memanggil Alya segera.
🌺🌺
Alya kini berdiri di depan pintu kamar Maxime bersama dengan kepala pelayan.
Pria paruh baya itu lalu membuka pintu kamar. Tidak terlihat seorang pun di sana. Namun, dari arah dalam kamar mandi terdengar suara percikan air.
"Sepertinya Tuan belum selesai mandi. Ayo, ikuti Saya!" perintah kepala pelayan dengan nada memerintah yang kental.
Alya berjalan di belakang, mengikutinya. Mereka memasuki area walk-in closet.
Di sana, semua pakaian dan aksesoris milik Maxime tersimpan rapi di setiap sudut ruangan.
"Tuan tidak suka jika ada seseorang yang melihatnya setelah mandi. Jadi, pastikan kau keluar dari kamar, sebelum Tuan selesai." jelas Pak Dul, memberi arahan pada Alya.
"Tapi... saya tidak bisa melakukan sesuatu dengan terburu-buru, karena hasilnya akan berantakan, Tuan." sahut Alya, menjelaskan.
"Jika begitu, segera ubah kebiasaan mu itu. Kita tidak mungkin meminta Tuan muda untuk mengerti kesulitan kita, bukan?" tanya pria itu tegas.
"Baik, Tuan." jawab Alya patuh.
Alya mulai memilih kemeja, jas juga aksesoris untuk melengkapi penampilannya. Ia sama sekali tidak kesulitan melakukannya, karena sebelumnya ia sempat diajarkan oleh ibunya.
Tuan muda tidak suka warna yang soft. Ia lebih suka warna-warna gelap yang netral. Seperti hitam, putih, biru navy dan juga abu-abu tua.
Sehingga Alya tidak terlalu kesulitan untuk menyiapkannya. Ia hanya perlu mencari jam tangan dan dasi yang sesuai.
"Selesai." ucapnya setelah meletakkan sepatu pantofel di lantai.
Ia lalu bersiap untuk segera keluar. Namun sebelumnya, ia lebih dulu memastikan situasi di luar ruangan.
Aman.
Belum terlihat adanya orang di sana. Ia lalu melangkah keluar dengan hati-hati dan perlahan.
Namun... saat ia baru melangkahkan kakinya keluar, pintu kamar mandi itu terbuka.
Ah, sial.
Dengan gerakan cepat, Alya masuk kembali ke dalam walk-in closet. Ia tampak panik, dan bingung. Ia lalu melihat ke sekeliling ruangan, mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk bersembunyi.
Ia masuk ke lemari yang dipenuhi oleh jas di sudut ruangan. Ia bersembunyi di sela-sela jas yang menggantung, memeluk lututnya sendiri, berharap jika Tuannya itu tidak menyadari keberadaannya di sana.
Ia tampak mengintip dari celah dan melihat tuannya mulai membuka lilitan handuk di pinggangnya.
Alya refleks menutup celah itu dengan hati-hati dan memejamkan mata.
Semoga ini tidak menjadi hari terakhir ku bekerja di sini. Harapnya dalam hati.
Sementara itu, Maxime mulai memakai celana dan juga kemeja yang telah di siapkan di sana.
"Seleranya boleh juga." gumamnya pelan, tampak puas dengan hasil kerja pelayannya.
Ia lalu memakai jas dan dasinya.
Namun... ketika ia ingin memakai sepatunya, ia melihat salah satu jasnya terlihat bergoyang, walau samar-samar.
"Apa aku salah lihat?" gumamnya bingung.
Alisnya sedikit bertaut. Ia tampak penasaran dan berjalan mendekat ke arahnya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
Di dalam lemari, Alya mulai panik. Keringat dingin mulai mengalir dari dahinya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Mulutnya tak berhenti berdoa, memohon pertolongan Tuhan untuk menyelamatkan dirinya.
Langkah kaki Maxime terdengar semakin dekat. Bahkan Alya bisa mendengar suara pintu lemari yang di geser perlahan.
Namun...
Dering ponsel tuannya, menyelamatkan dirinya.
"Iya. Aku akan segera ke sana. Tunggulah sebentar!"
Maxime terdengar terus mengumpat tidak senang kepada si penelepon.
"Dasar cerewet! Aku bahkan belum sempat makan malam, si*lan!" umpatan kasar itu menggema di seluruh ruangan, membuat jantung Alya seketika hendak melompat keluar dari tubuhnya.
Ia bahkan menyumbat telinganya dengan jemari, untuk meredam suara tuannya yang terdengar begitu kesal.
Maxime terlihat berbalik dan menjauh dari lemari. Ia dengan segera mengenakan sepatunya. Lalu keluar dari ruangan itu.
Alya terdiam sejenak, sembari menunggu suara pintu kamar yang tertutup.
Blam!!
Pintu itu tampaknya sengaja dihempas dengan kasar. Alya bisa mendengar jelas bunyinya, walau teredam pintu ruangan.
Hah!!
Alya seketika bernapas lega. Seolah jiwanya yang baru saja di cabut paksa keluar, masuk kembali ke tubuhnya.
Ia keluar dari dalam lemari dengan hati-hati. Langkahnya sedikit berjingkat pelan, membuka pintu ruangan dan mengintip untuk memastikan kondisi di luar.
Aman.
Dengan gerakan cepat, ia segera meninggalkan kamar tersebut dan turun ke bawah sebelum ada orang lain yang melihatnya.
Ia pergi ke kamarnya, untuk mengganti pakaian dan bersiap untuk pulang ke rumah.
Karena pekerjaan barunya, ia terpaksa pulang terlambat hari ini.
Memang ada saudara yang biasa ia titipkan untuk melihat ibunya. Kebetulan rumah mereka berdekatan. Hanya berjarak dua rumah dari rumah Alya.
Namun, tetap saja ia merasa khawatir. Apalagi Ibunya baru saja menjalani kemoterapi kemarin. Sehingga kondisinya belum terlalu fit untuk ditinggal seorang diri.
Meninggalkannya seorang diri di malam hari, membuat Alya selalu merasa tidak tenang. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga harus keluar untuk mencari nafkah.
Yang bisa ia lakukan hanya berdoa, agar Tuhan selalu menjaga ibunya.
Dengan langkah cepat, ia segera pulang dan meninggalkan mansion mewah itu.
🌺🌺
Alya mempercepat laju jalannya ketika tiba di depan rumahnya yang sederhana. Ia menghela napas lega, ketika melihat ibunya tengah duduk di meja makan, menunggunya untuk makan malam bersama.
Di meja makan kecil yang sederhana itu, sudah tersaji nasi dan lauk sederhana yang terasa lezat di mata Alya.
"Ibu sudah makan?" tanya Alya, mendekat ke arah ibunya. Ia mencium puncak kepalanya dan memeluknya hangat.
"Belum, Nak. Ibu sengaja menunggumu pulang."
"Bagaimana jika aku tidak pulang, apa itu artinya Ibu tidak akan makan?" tanya Alya, tampak menggerutu pada ibunya.
Bukan karena marah, namun karena rasa khawatir yang besar.
"Ibu tahu kau akan pulang, apapun yang terjadi." ucapnya lembut, dengan senyum lebar yang terasa hangat.
"Baiklah." Sahut Alya ikut tersenyum pada ibunya.
"Ayo, kita makan." lanjutnya mengambilkan nasi untuk ibunya. "Bibi Sari juga membungkuskan ayam panggang yang lezat untuk kita. Masih hangat."
Gadis itu tampak ceria dan bersemangat. Namun, hal itu justru membuat hati Junita, ibunya, merasa teriris.
Ia seharusnya masih menikmati masa-masa muda yang bahagia. Berkumpul dengan teman-teman seusianya, belajar dan meraih mimpi setinggi mungkin.
Namun, ia malah menghabiskan waktunya untuk bekerja dan merawat dirinya yang tidak berguna ini.
"Kenapa Ibu menangis? Apa ada yang sakit?" Alya bertanya dengan panik, ketika melihat air mata ibunya tiba-tiba mengalir.
"Ah, tidak, Nak." Junita dengan cepat menyeka air matanya. "Ibu hanya kelilipan."
"Oh, aku kira Ibu menangis." sahut Alya lega.
Mereka lalu melanjutkan makan malam mereka yang sederhana, namun penuh kehangatan.
*
*
Sementara itu di klub malam yang mewah, tempat di mana kau jetset ibu kota seringkali berkumpul, Maxime duduk di sudut ruangan VIP yang remang-remang, menyesap cocktail-nya sambil mengamati musik dentuman musik house yang menggetarkan lantai dansa.
Tatapan dingin namun tajam, seolah sedang menganalisis setiap gerak-gerik para sosialita dan para pengusaha muda yang sibuk pamer pengaruh, acuh tak acuh pada bisingnya dunia luar.
"Kenapa kau diam saja sejak tadi? Apa ada masalah?" tanya Jonathan pada Maxime.
"Tidak ada. Aku hanya sedang kesal. Jadi, jangan menggangguku! Pergilah!" usirnya kasar pada sahabat baiknya itu.
Bukannya marah, Jonathan malah terkekeh pelan melihat sikapnya itu. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk, karena keinginannya tidak di turuti.
"Dasar kau ini! Jangan marah-marah terus, nanti lekas tua." ejek Jonathan sambil tertawa.
Maxime seketika menghunuskan tatapan tajam ke arah Jonathan.
"Sudahlah,Max. Di sini kita sedang bersenang-senang." lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya, penuh makna.
"Ada banyak gadis cantik di sini. Tubuh mereka juga... wih... seksi..." Jonathan sengaja menggoda Maxime.
Bukannya tertarik, Maxime malah menendang bahu Jonathan hingga terjatuh dari sofa. "Brengs*k kau, Jo! Pergilah dari hadapanku sekarang!!" usir Maxime kesal.
Namun, Jonathan lagi-lagi tidak marah, ia malah tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit.
Ia tahu pasti jika sahabatnya itu tidak pernah tertarik pada wanita lain, sejak putus dari Amanda, mantan kekasihnya yang berselingkuh di belakangnya setahun yang lalu.
Ia memang senang sekali menggoda Max. Jonathan bahkan pernah dengan sengaja menjebak Max dengan seorang wanita malam di dalam kamar. Namun, wanita itu malah berakhir di usir setelah Max melemparkan beberapa ikat uang ke arahnya.
Jonathan bukan hendak bermaksud jahat padanya, melainkan ingin membantu Maxime untuk melupakan Amanda sepenuhnya, dan tidak berlarut-larut dalam kemarahan seperti ini.
Melupakan cinta pertama itu memang berat, namun bukan berarti kau harus terus tenggelam di dalamnya kan?
Namun, sikap Max yang keras kepala memang sulit di hadapi.
Pria yang berprofesi sebagai seorang pengacara itu, lalu duduk kembali di samping Maxime yang masih tampak kesal.
Raut wajahnya yang sedari tadi tampak santai, kini berubah serius.
"Sampai kapan kau mau seperti ini terus, hem?" tanya Jonathan dengan raut wajah penuh keseriusan.
Namun Max tidak menjawab, ia hanya diam, menyesap kembali minuman di tangannya.
"Sementara kau sedang bersedih di sini, wanita itu kini sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Apa kau tahu itu?" lanjutnya tegas, mencoba menyadarkan Max yang masih terjebak pada masa lalu.
"Ck! Aku tahu. Tapi tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak kenangan indah yang tidak bisa ku lupakan begitu saja." Max akhirnya bersuara. "Hah... jomblo seperti mu tidak akan mengerti."lanjutnya, sengaja mengejek Jonathan.
"Sialan kau!"umpatnya. "Aku memang jomblo, tapi aku punya banyak teman wanita. Apa kau mau ku kenalkan satu?" tanyanya menawarkan.
"Tidak perlu. Aku tidak percaya dengan selera mu yang rendah itu." jawab Max tegas, menatap malas ke arah sahabatnya itu.
"Kali ini aku akan memperkenalkan mu dengan wanita terhormat yang normal." sanggah Jonathan, membela diri.
Ingatan Max seketika kembali kepada wanita yang terakhir kali di bawa Jonathan ke hadapannya. Belum lagi deretan wanita-wanita sebelumnya yang jauh dari kata "normal".
"Tunggu, aku punya fotonya di ponselku." jelas Jonathan, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya.
Max lalu menatap foto yang diperlihatkan Jonathan itu lekat-lekat, seolah sedang menilai penampilan dari fotonya.
"Kau mau menjodohkan ku dengan nenek mu?" tanya Max sinis. "Aku tahu nenekmu single, tapi bukan berarti aku berminat jadi kakekmu."
Jonathan lalu terkekeh ketika menyadari bahwa ia salah menunjukkan foto. "Aku juga tidak rela jadi cucu mu. Bisa-bisa aku mati muda."
Ia menggeser layar ponselnya, lalu menunjukan foto seorang gadis cantik berambut panjang yang terlihat cantik.
"Cantik juga. Tapi... aku tidak berminat." tolak Max.
"Memangnya kenapa? Apa yang salah?"
"Tidak ada. Aku cuma tidak berminat saja. Sudahlah! Tidak usah membahas wanita lagi. Kepalaku pusing."
Ia lalu memanggil pelayan dan memesan sebotol wine untuk menjernihkan kepalanya yang terasa penuh.
Jonathan hanya bisa menghela napas berat, melihat keadaan Max yang memprihatinkan.
🌺🌺
Cahaya matahari yang menyilaukan, menyusup melalui celah-celah kain yang terbuka, mengusik Max yang masih tampak terlelap di ranjangnya.
Pria itu lalu membuka mata dan mengerjab perlahan, menatap ke sekeliling ruangan yang tidak asing baginya.
Kamar tidurnya. Ia mencoba untuk duduk, namun kepalanya terasa berat. Sisa-sisa alkohol semalam sepertinya belum sepenuhnya hilang.
Ia ingat berada di klub bersama Jonathan kemarin malam. Ia pasti mabuk lagi, dan pria itu yang mengantarkannya pulang ke rumah.
Ia lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi. Ia tidak tahan dengan bau badannya yang dipenuhi oleh alkohol, terasa begitu menyengat.
Ia ingat ada pertemuan penting pagi ini dengan klien.
Setelah mandi, ia memakai pakaiannya yang sudah tertata rapi di atas meja seperti biasa. Lengkap dengan sepatunya.
Ia merasa cukup puas dengan hasil kerja pelayan baru yang ditugaskan untuk menggantikan pekerjaan Bibi Junita. Ia dengar pelayan itu adalah putrinya yang baru bekerja setahun di sini.
Max lalu keluar dari kamarnya untuk sarapan di ruang makan.
Kepala pelayan sudah berdiri di sana, untuk menyambutnya.
"Selamat pagi, Tuan." sapanya penuh hormat seperti biasa.
"Pagi, Pak Dul. Di mana sarapan ku?" tanya Max.
Langkah sepatu yang terdengar tegas dan seirama, menggema pelan di sepanjang ruang makan yang sunyi.
"Letakkan di sini, Alya!" perintah Pak Dul pada seorang gadis muda yang membawa nampan berisi sarapan, menunjuk meja di hadapan Max.
Aroma mawar yang lembut seketika menyeruak di penciuman Max yang tajam. Ia menoleh ke arah gadis itu dan... terpaku di tempatnya.
🌺🌺
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!