Brak!
Sebuah map plastik tebal mendarat keras di atas meja Bayu. Beberapa lembar kertas di dalamnya tumpah berhamburan.
"Ini hasil kerja kamu selama sebulan, Bayu? Data klien berantakan, laporan pengeluaran tidak sesuai dengan nota kas. Kamu mau merampok perusahaan?"
Suara Pak Handoko, manajer operasional yang perutnya selalu membuncit di balik kemeja ketatnya, menggema di seluruh ruangan divisi. Suasana kantor yang awalnya dihiasi suara ketikan mendadak hening. Semua mata tertuju pada meja Bayu di sudut ruangan.
Bayu mendongak perlahan. Wajahnya tenang, tidak ada raut panik atau ketakutan. Ia merapikan kertas-kertas yang berserakan, lalu menatap angka-angka di sana sekilas.
"Maaf, Pak. Tapi data pengeluaran ini bukan saya yang menyusun. Ini dokumen dari divisi lapangan yang diserahkan Reza tadi pagi. Saya hanya diminta merekapitulasi bagian akhirnya saja."
Di seberang meja, Reza yang sedang memegang cangkir kopi langsung tersedak. Ia menaruh cangkirnya dengan kasar.
"Loh, kok jadi gue, Bay? Jelas-jelas dari kemarin lo yang pegang file mentahnya. Jangan lempar batu sembunyi tangan dong. Kalau emang lo ada butuh uang tambahan, nggak gini caranya bikin laporan fiktif."
Tari, yang duduk tak jauh dari Bayu, menggebrak mejanya pelan.
"Bohong. Kemarin sore gue lihat sendiri Reza minta file itu dari Bayu dengan alasan mau dicek ulang," bela Tari dengan nada tajam.
"Cukup!" bentak Pak Handoko. Wajahnya merah padam. Ia menunjuk tepat ke depan hidung Bayu. "Saya tidak mau dengar alasan. File ini keluar dari mejamu, tanda tanganmu ada di bawah. Sebagai hukuman atas kerugian waktu ini, gaji kamu bulan ini saya potong tiga puluh persen. Dan kamu tidak akan dapat uang lembur. Titik."
Pak Handoko berbalik dan melangkah pergi menuju ruangannya, diikuti senyum miring kemenangan dari bibir Reza.
Bayu masih terdiam di kursinya. Tiga puluh persen. Bagi seorang manajer, itu mungkin hanya uang rokok dan bensin. Tapi bagi Bayu, itu adalah garis tipis antara bisa makan nasi warteg atau hanya mengganjal perut dengan air putih selama sepuluh hari ke depan.
"Lima puluh ribu. Itu sisa uang di rekeningku sekarang setelah bayar sewa kos," batin Bayu. Kepalanya mulai menghitung cepat. "Pemotongan gaji ini ilegal secara kontrak, tapi kalau aku protes ke HRD, Pak Handoko akan membuat hidupku lebih menderita sampai aku memilih mengundurkan diri tanpa pesangon."
Ia menghela napas panjang. Marah tidak akan mengubah saldonya. Naif jika ia berpikir keadilan selalu ada untuk karyawan rendahan sepertinya. Ia butuh kekuatan. Ia butuh uang.
Jam pulang kantor tiba. Hujan turun sangat deras, seolah langit Jakarta ikut menertawakan nasibnya hari ini.
Syuuuutt... Byaaarr!
Cipratan air dari ban mobil mewah yang melintas hampir mengenai celana bahan Bayu yang sudah mulai pudar warnanya. Ia berdiri merapat di bawah atap Halte TransJakarta Sudirman yang bocor di beberapa titik. Angin malam menusuk tulang.
Bayu merogoh saku celananya yang dingin. Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah retak membelah diagonal. Ia membuka aplikasi perbankan.
Saldo: Rp 50.000.
Bayu tersenyum getir.
"Malam ini makan mi instan pakai telur. Besok pagi jalan kaki ke stasiun. Masih bisa hidup," batinnya menyemangati diri sendiri, meski perutnya mulai berbunyi minta diisi.
Saat ia bersandar pada tiang halte yang karatan, matanya menangkap sesuatu. Sebuah stiker hitam kecil tertempel di tiang itu, tepat sejajar dengan matanya.
Sebuah barcode QR.
Tidak ada tulisan iklan. Tidak ada logo pemerintah. Hanya stiker kode biasa yang terlihat sedikit bercahaya aneh di bawah remang lampu halte.
Orang biasa mungkin akan mengabaikannya. Tapi Bayu, yang sedang mencari pengalih perhatian dari rasa lapar dan dingin, membuka kamera ponselnya. Ia hanya iseng. Mungkin itu tautan untuk mendapatkan voucher diskon makanan cepat saji atau semacamnya.
Tit!
Kamera ponselnya memindai kode tersebut. Sedetik kemudian, layarnya berkedip hitam.
"Yah, mati. Sialan, jangan bilang ini virus malware," umpat Bayu pelan. Ia menepuk-nepuk bagian belakang ponselnya.
Tiba-tiba, layar kembali menyala. Namun bukan gambar latar belakang aslinya yang muncul, melainkan sebuah layar pemuatan berwarna emas elegan.
[Mengunduh Sistem Perdagangan Dunia... 100%]
[Instalasi Aplikasi Toko Ajaib Berhasil.]
[Menautkan DNA dan Saldo Keuangan Pengguna... Selesai.]
Bayu mengerutkan dahi. Di layar utamanya kini bertengger sebuah aplikasi baru dengan ikon koin emas bersayap. Nama aplikasinya: Toko Ajaib.
Ia mencoba menekan lama ikon tersebut untuk menghapusnya, takut jika itu adalah aplikasi pinjaman online ilegal yang bisa menyedot sisa uangnya.
[Aplikasi Sistem Utama tidak dapat dihapus.]
Peringatan itu muncul dengan tegas. Bayu menghela napas panjang. Karena tidak ada pilihan, ia membuka aplikasi tersebut untuk melihat seberapa jauh penipuan ini bekerja.
Antarmukanya sangat bersih, mirip platform investasi kelas atas. Namun, daftar barang yang dijual di halaman utama membuat Bayu nyaris tertawa keras di tengah halte.
[Hak Kepemilikan 51 Persen Saham PT Bumi Karya]
Deskripsi: Menjadikan Anda pemegang saham mayoritas dan direktur utama perusahaan tambang terbesar. Dokumen legal akan disiapkan oleh Sistem tanpa celah hukum.
Harga: 50.000 Koin Sistem
[Sertifikat Hak Milik Lahan Komersial SCBD 2 Hektar]
Deskripsi: Lahan strategis di pusat kota. Bebas sengketa.
Harga: 100.000 Koin Sistem
[Pil Penyembuh Segala Penyakit]
Deskripsi: Menyembuhkan kanker, gagal ginjal, dan regenerasi sel dalam hitungan menit.
Harga: 5.000 Koin Sistem
"Aplikasi halusinasi tingkat dewa," gumam Bayu. "Siapa developer yang bikin game ginian? Buat ngejek orang miskin?"
Ia berniat mematikan layar ponselnya. Namun, ada sebuah spanduk kecil berkelap-kelip di bagian atas aplikasi bertuliskan: Flash Sale Harian - Tersisa 10 Menit!
Bayu mengeklik spanduk itu. Halaman berpindah ke sebuah etalase dengan hanya satu barang yang ditampilkan.
[Kacamata Penilai Barang Antik]
Deskripsi: Memungkinkan pengguna melihat usia asli, material, dan nilai pasar dari setiap benda bersejarah. Sangat akurat.
Harga Normal: 1.000 Koin Sistem.
Harga Flash Sale: Rp 10.000.
Bayu terdiam. Sepuluh ribu rupiah? Harga itu tidak menggunakan embel-embel Koin Sistem seperti barang gila lainnya. Itu menggunakan nominal uang nyata.
Sifat analitisnya bekerja. Jika aplikasi ini adalah penipuan yang ingin menguras rekening, biasanya mereka akan memotong ratusan ribu atau jutaan. Sepuluh ribu terlalu kecil untuk sebuah kejahatan siber yang rumit. Di sisi lain, harga itu sangat pas untuk membuat orang yang putus asa mencoba peruntungannya.
"Sepuluh ribu. Kalau ini hilang, aku masih punya empat puluh ribu untuk bertahan hidup. Tapi kalau ini game simulasi, lumayan buat hiburan," batin Bayu.
Jarinya menyentuh tombol beli.
[Konfirmasi Pembelian: Kacamata Penilai Barang Antik seharga Rp 10.000?]
Bayu menekan tombol ya.
Tidak ada jendela keamanan yang meminta kata sandi bank. Tidak ada kode OTP. Layar hanya memuat selama dua detik.
[Transaksi Berhasil.]
[Saldo Anda telah dipotong Rp 10.000.]
Notifikasi dari aplikasi bank di ponsel Bayu langsung muncul beriringan.
[Debit: Rp 10.000 - Transfer ke: Unknown Merchant.]
Mata Bayu membulat. Jantungnya berdetak kencang. Itu bukan angka simulasi. Uangnya benar-benar terpotong secara ajaib tanpa melewati sistem keamanan bank mana pun di dunia.
"Sialan! Beneran kena retas gue!" Bayu setengah berteriak. Ia bersiap menekan nomor pusat layanan bank untuk memblokir rekeningnya saat itu juga.
Tuk!
Sesuatu yang keras dan ringan tiba-tiba jatuh dari atas kepalanya, mengenai hidungnya, lalu mendarat mulus ke dalam telapak tangannya yang terbuka.
Bayu terpaku. Panggilan teleponnya terhenti sebelum sempat tersambung.
Di telapak tangannya, tergeletak sebuah kacamata berbingkai kawat tipis bergaya klasik. Lensa kacamatanya jernih, namun jika diperhatikan dengan saksama, ada kilau biru samar yang mengalir di dalamnya.
Tangan Bayu gemetar. Ia menatap kacamata itu, lalu menatap layar ponselnya bergantian. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Halte itu cukup ramai, tapi tidak ada satu pun orang yang melemparinya kacamata. Benda itu seolah tercipta dari udara kosong.
"Tidak masuk akal. Ini melanggar hukum fisika," pikir Bayu. Otaknya yang sangat rasional menolak percaya, tapi bukti fisik itu nyata di tangannya.
Dengan napas tertahan, Bayu membuka gagang kacamata itu dan memakainya.
Dunia di sekitarnya tidak berubah. Hujan masih turun, mobil masih berlalu-lalang. Namun, saat ia menatap ke arah jam tangan imitasi yang dipakai oleh seorang bapak tua di sebelahnya, sebuah jendela informasi kecil berwarna biru transparan melayang di udara, tepat di atas jam tangan tersebut.
[Jam Tangan Merk Palsu. Material: Baja ringan murahan. Usia: 2 Tahun. Nilai Pasar: Rp 35.000.]
Bayu menelan ludah. Ia menunduk menatap sepatu kulitnya sendiri yang sudah usang.
[Sepatu Kulit Sintetis. Material: Poliuretan. Usia: 3 Tahun. Nilai Pasar: Rp 0 (Tidak Layak Jual).]
Ini nyata. Kacamata ini berfungsi sempurna. Aplikasi itu bukan penipuan, bukan juga sekadar game simulasi. Itu adalah toko sungguhan yang bisa memanipulasi realitas dunia.
Bayu melepas kacamata itu dengan cepat, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya bagian dalam, menempel di dadanya. Jantungnya bergemuruh hebat, mengalahkan suara hujan badai Jakarta malam itu.
Bus TransJakarta akhirnya datang dan membuka pintunya. Orang-orang berdesakan masuk.
Bayu melangkah ke dalam bus dengan perasaan yang benar-benar berbeda. Setengah jam yang lalu, ia hanyalah seorang budak korporat yang gajinya dipotong semena-mena. Ia merasa seperti sampah yang siap dibuang kapan saja oleh kota ini.
Tapi sekarang? Ia meraba saku dadanya. Kacamata itu masih di sana.
Bayu tersenyum. Bukan senyum pasrah yang biasa ia tunjukkan pada Pak Handoko, melainkan senyum tajam yang dipenuhi ambisi yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Reza, Pak Handoko... kalian pikir kalian bisa menginjakku sesuka hati karena aku miskin?" batin Bayu. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela bus yang basah. "Tunggu saja. Permainan baru saja dimulai."
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar kos Bayu yang tipis, menyilaukan matanya. Pemuda itu terbangun dengan perut keroncongan. Ia melirik jam di ponselnya yang layarnya retak. Pukul delapan pagi di hari Sabtu.
Bagi kebanyakan pekerja kantoran di Jakarta, hari Sabtu adalah waktunya balas dendam untuk tidur seharian atau nongkrong di kafe estetik. Tapi bagi Bayu, hari ini adalah penentuan hidup dan mati.
Ia bangkit dari kasur busanya yang menipis, meraih dompet kulitnya yang sudah mengelupas. Ia mengeluarkan dua lembar uang dua puluh ribuan.
"Empat puluh ribu rupiah. Kalau aku gagal hari ini, besok aku benar-benar puasa mutih sampai gajian turun," batin Bayu.
Ia menatap kacamata berbingkai kawat yang tergeletak di atas meja lipatnya. Benda itu tampak sangat biasa, persis seperti kacamata minus murah yang dijual di pinggir jalan. Namun, Bayu tahu bahwa benda itu adalah tiketnya untuk keluar dari neraka kemiskinan.
Setelah mandi seadanya dan menenggak air putih untuk mengganjal perut, Bayu segera berangkat. Tujuannya hanya satu: Pasar Poncol, surga barang bekas dan loak di Jakarta Pusat.
Perjalanan menggunakan angkot memakan biaya lima ribu rupiah. Kini uangnya tersisa tiga puluh lima ribu.
Sesampainya di Pasar Poncol, udara panas Jakarta langsung menyambutnya. Aroma karat, debu, dan peluh bercampur menjadi satu. Ratusan pedagang menggelar lapak mereka di atas terpal, trotoar, bahkan di pinggir rel kereta api. Mulai dari sepatu bekas, jam tangan mati, onderdil motor karatan, hingga guci-guci kusam yang diklaim sebagai barang antik.
Suasana sangat bising. Suara tawar-menawar terdengar di setiap sudut.
"Ayo, Mas! Sepatunya masih mulus ini, kulit asli, baru dipakai bule sekali!" teriak seorang pedagang paruh baya sambil memukul-mukul sol sepatu bot kusam.
"Alah, kulit asli dari mana, Bang? Ini mah imitasi, lemnya aja udah ngelupas. Dua puluh ribu deh angkut," tawar seorang pembeli.
Bayu berjalan menyusuri lorong sempit di antara lapak-lapak itu. Ia menarik napas panjang, menenangkan debar jantungnya, lalu memakai kacamata dari sakunya.
Begitu gagang kacamata itu terselip di telinganya, pandangannya berubah.
Dunia di depannya kini dipenuhi oleh kotak-kotak informasi biru transparan yang melayang di atas setiap benda. Bayu menoleh ke arah sepatu bot yang sedang ditawar tadi.
[Sepatu Pabrikan Massal. Material: Kulit Sintetis Kualitas Rendah. Usia: 4 Tahun. Nilai Pasar: Rp 15.000.]
Bayu tersenyum tipis. Penawaran si pembeli tadi ternyata masih kemahalan lima ribu rupiah.
Ia mulai berjalan lebih dalam, menyisir lapak demi lapak. Matanya bergerak cepat, memindai ratusan barang dalam hitungan menit. Harapannya melambung tinggi, namun kenyataan menamparnya dengan cepat.
[Jam Tangan Tembaga. Usia: 10 Tahun. Nilai Pasar: Rp 50.000.]
[Kamera Analog Rusak. Usia: 15 Tahun. Nilai Pasar: Rp 30.000.]
[Guci Tanah Liat Replika. Usia: 2 Bulan. Nilai Pasar: Rp 20.000.]
Dua jam berlalu. Keringat mulai membasahi kemeja flanel usang yang dipakai Bayu. Matahari semakin terik. Perutnya berbunyi semakin nyaring. Dari ratusan barang yang ia pindai, tidak ada satu pun yang nilainya melebihi cepek atau seratus ribu rupiah. Kebanyakan memang murni sampah.
"Mencari barang antik asli di antara tumpukan sampah di era modern ini memang seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Para pedagang ini tidak bodoh, mereka pasti sudah memilah barang yang bagus untuk dijual ke kolektor," batin Bayu mulai frustrasi.
Ia duduk sejenak di sebuah bangku kayu kosong di dekat perlintasan kereta, melepas kacamatanya, dan mengusap wajahnya yang kotor oleh debu. Sisa uangnya hanya tiga puluh lima ribu. Jika ia tidak menemukan apa-apa sampai siang ini, ia harus menyerah dan pulang.
"Minum, Mas? Es teh manisnya segar, cuma tiga ribu!" seorang ibu penjual minuman asongan menyodorkan botol plastik ke arahnya.
Bayu menelan ludah. Tenggorokannya sangat kering. Ia mengambil satu botol dan memberikan uang lima ribu.
"Kembaliannya, Mas," kata ibu itu.
"Makasih, Bu," jawab Bayu sambil menerima dua lembar uang seribu. Saldo: Rp 32.000.
Air dingin itu sedikit menjernihkan pikirannya. Ia tidak boleh menyerah. Kacamata ini adalah keajaiban. Kalau ia menyia-nyiakannya, ia pantas menjadi karyawan rendahan seumur hidup.
Bayu memakai kembali kacamatanya dan berjalan menuju area paling ujung pasar. Area ini lebih sepi, biasanya ditempati oleh pedagang tua yang hanya menjual rongsokan murni yang tidak laku di lapak depan.
Ia berhenti di depan sebuah lapak terpal biru yang sangat kotor. Penjualnya adalah seorang kakek kurus bertopi pudar yang sedang mengantuk sambil merokok kretek. Barang dagangannya sangat menyedihkan. Ada radio transistor yang bodinya pecah, setrika arang berkarat, tumpukan paku bekas, dan majalah-majalah era sembilan puluhan yang sudah dimakan rayap.
Bayu memindai asal-asalan lapak tersebut.
[Setrika Arang. Usia: 40 Tahun. Nilai Pasar: Rp 40.000.]
[Radio Rusak. Usia: 25 Tahun. Nilai Pasar: Rp 5.000.]
Bayu menghela napas, bersiap untuk berbalik pergi. Namun, sudut matanya menangkap sesuatu dari ujung pandangannya. Ada sebuah cahaya keemasan yang sangat terang, berbeda dari warna biru transparan yang biasa ia lihat.
Jantung Bayu seakan berhenti berdetak.
Ia menoleh perlahan ke arah sumber cahaya itu. Cahaya itu berasal dari sebuah mangkuk kusam berwarna abu-abu kehitaman yang tergeletak di pojok terpal. Mangkuk itu tertutup debu tebal, noda tanah, dan sialnya, sedang digunakan oleh si kakek penjual sebagai asbak. Beberapa puntung rokok dan abu berserakan di dalamnya.
Bayu memusatkan pandangannya ke mangkuk kotor itu. Kotak informasi sistem perlahan terbuka, menampilkan teks berwarna emas yang membuat napas Bayu tercekat di tenggorokan.
[Mangkuk Porselen Kekaisaran Ming - Era Xuande]
[Material: Porselen Glasir Biru dan Putih Kualitas Tinggi]
[Usia: 590 Tahun]
[Status: Terlapisi kerak lumpur dan getah, kondisi fisik 95 persen utuh tanpa retak.]
[Nilai Pasar Perkiraan: Rp 450.000.000 - Rp 600.000.000]
Setengah miliar.
Angka nol di belakang angka enam itu seolah menari-nari di depan mata Bayu. Kepalanya mendadak pening. Lututnya terasa lemas. Enam ratus juta rupiah tergeletak begitu saja di atas terpal rongsokan, digunakan sebagai tempat membuang abu rokok.
Bayu memalingkan wajahnya dengan cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan.
"Tenang, Bayu. Tenang. Jangan bertingkah aneh. Pedagang loak sangat peka terhadap bahasa tubuh pembeli. Kalau aku langsung menunjuk mangkuk itu dengan mata berbinar, kakek ini pasti akan curiga dan menaikkan harganya secara gila-gilaan, atau malah tidak jadi menjualnya," batin Bayu, otaknya bekerja pada kecepatan maksimal.
Ia harus menggunakan taktik pengalihan.
Bayu melangkah maju mendekati lapak itu dengan gaya santai, berjongkok, dan mulai memilah-milah majalah bekas.
"Cari apa, Dek? Silakan dilihat-lihat, barang tua semua ini," sapa si kakek, suaranya serak. Ia mematikan rokoknya, menekan puntungnya tepat ke dasar mangkuk setengah miliar itu.
Bayu meringis dalam hati melihat porselen kekaisaran itu diperlakukan seperti tempat sampah, namun wajahnya tetap datar.
"Nyari majalah otomotif lama, Kek. Buat kliping tugas kampus adik saya. Ada nggak ya?" tanya Bayu santai.
Kakek itu mengaduk-aduk tumpukan kertasnya. "Wah, kalau otomotif kurang tahu ya. Kebanyakan ini majalah politik sama resep masakan. Coba aja dicari."
Bayu berpura-pura mencari selama beberapa menit. Lalu tangannya beralih mengambil radio transistor yang pecah.
"Ini radionya masih nyala, Kek?" tanyanya.
"Mati total itu, Dek. Dalemannya udah karatan. Cuma laku buat rongsok atau yang suka iseng benerin barang."
Bayu meletakkan radio itu, lalu mengambil sebuah jam saku tembaga yang rantainya sudah putus. Jendela informasi menunjukkan nilai jam itu sekitar lima puluh ribu.
"Nah, kalau jam ini gimana, Kek? Mati juga ya?" Bayu memutar-mutar jam itu di tangannya.
Kakek itu menyipitkan mata. "Itu jam lama, Dek. Mati sih, pernya kayaknya lepas. Tapi antik itu. Kalau buat pajangan di kamar mah bagus. Kakek lepas lima puluh ribu deh buat kamu."
"Waduh, lima puluh ribu mahal amat, Kek. Udah mati, kaca depannya juga baret-baret begini," keluh Bayu, mulai memainkan perannya. Ia tahu sisa uangnya hanya tiga puluh dua ribu. Ia harus mendapatkan jam ini beserta mangkuk itu dengan uang yang ia miliki.
"Namanya juga barang antik. Ya udah, empat puluh ribu aja. Udah mentok itu, Dek. Kakek belum pelaris dari pagi," si kakek mencoba membujuk.
Bayu terdiam sejenak, berpura-pura berpikir keras. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan semua uang yang ia miliki, dan menunjukkannya kepada si kakek.
"Duit saya sisa tiga puluh dua ribu, Kek. Nih, dua ribu buat ongkos angkot pulang. Jadi yang bisa saya pakai cuma tiga puluh ribu pas. Kalau boleh tiga puluh ribu, saya ambil jamnya sekarang."
Kakek itu menatap lembaran uang di tangan Bayu, lalu menghela napas panjang. "Ya sudahlah. Daripada Kakek pulang tangan kosong. Sini tiga puluh ribu."
Bayu tersenyum lebar. Ia menyerahkan uang itu. "Makasih, Kek."
Saat si kakek menerima uang itu, Bayu tiba-tiba menunjuk ke arah mangkuk kotor yang penuh puntung rokok.
"Eh, Kek. Saya boleh minta mangkuk buluk itu sekalian nggak? Buat wadah baut-baut jam ini nanti kalau saya bongkar di rumah. Sayang kalau bautnya berceceran," pinta Bayu dengan nada memelas yang sangat natural.
Kakek itu melirik mangkuk asbaknya. "Oh, mangkuk tanah itu? Itu mah Kakek nemu di pinggir selokan deket stasiun minggu lalu. Buat asbak doang. Ya udahlah, ambil aja. Tapi bersihin sendiri ya, bau rokok itu."
"Siap, Kek! Makasih banyak ya. Semoga laris manis hari ini," ucap Bayu dengan nada riang.
Ia mengambil jam saku itu, lalu meraih mangkuk kotor tersebut dengan tangan telanjang. Tangannya sedikit gemetar saat merasakan tekstur keramik di balik lumpur dan debu itu, namun ia segera menyembunyikannya dengan berdiri cepat.
Bayu membalikkan badan dan berjalan menjauh dari lapak. Langkahnya biasa saja di awal, namun semakin jauh ia berjalan, langkahnya semakin cepat. Saat ia akhirnya keluar dari area Pasar Poncol dan berdiri di trotoar jalan raya, ia nyaris tidak bisa bernapas.
Ia memegang mangkuk kotor itu erat-erat di dadanya, tidak peduli kemejanya menjadi hitam terkena jelaga.
"Berhasil. Ya Tuhan, aku berhasil," batin Bayu. Kepalanya terasa ringan. Ia baru saja membeli barang seharga setengah miliar rupiah hanya sebagai hadiah tambahan gratis dari jam rongsokan seharga tiga puluh ribu.
Ia tidak peduli dengan rasa lapar. Ia tidak peduli dengan sisa uangnya yang tinggal dua ribu rupiah. Ia bahkan rela berjalan kaki sejauh lima kilometer kembali ke kosannya di Palmerah, menyusuri pinggiran jalan di bawah terik matahari Jakarta.
Satu jam kemudian, Bayu mengunci pintu kamar kosannya rapat-rapat.
Ia langsung bergegas ke kamar mandi kecil di ujung lorong kosan. Untung sedang sepi. Bayu menyalakan keran air di wastafel. Ia mengeluarkan mangkuk kotor itu dan mulai membersihkannya dengan sangat hati-hati.
Ia tidak menggunakan sikat yang kasar. Ia hanya menggunakan jari-jarinya, menggosok perlahan lumpur dan tanah liat yang menempel kuat di permukaan mangkuk. Ia menggunakan sedikit sabun cuci piring cair untuk meluruhkan noda minyak dan getah.
Seiring dengan lumpur yang larut ke saluran pembuangan, keindahan asli dari benda bersejarah itu mulai terungkap.
Tangan Bayu gemetar semakin hebat.
Warna dasar mangkuk itu putih susu, sangat halus dan tembus cahaya jika diarahkan ke lampu. Di atas warna putih itu, tergambar motif bunga lotus dan naga melingkar dengan warna biru kobalt yang sangat tajam dan elegan. Permukaan glasirnya terasa sangat dingin dan sempurna, tanpa ada cacat atau retakan sehelai rambut pun.
Bayu membalik bagian bawah mangkuk. Di sana, tertulis enam karakter huruf Tiongkok kuno dengan tinta biru yang sama.
"Da Ming Xuan De Nian Zhi," bisik Bayu, membaca pelan terjemahan yang diberikan oleh kacamata sistemnya. Dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Xuande dari Dinasti Ming Agung.
Bayu membungkus mangkuk itu dengan handuk bersihnya yang paling lembut, membawanya kembali ke kamar, dan meletakkannya di atas kasur dengan sangat pelan seolah benda itu adalah bayi yang baru lahir.
Ia duduk bersila di lantai, menatap mangkuk itu dalam diam.
Dua hari yang lalu, ia diinjak-injak oleh manajernya. Ia diancam potong gaji. Ia dipaksa memikirkan cara bertahan hidup dengan lima puluh ribu rupiah.
Tapi besok, ia akan berjalan ke balai lelang terbesar di Jakarta Pusat.
Bayu mengambil ponselnya yang layarnya retak, membuka aplikasi Toko Ajaib, dan menatap saldo Koin Sistemnya yang masih nol.
"Ini baru permulaan," gumam Bayu, matanya memancarkan ketajaman yang tak pernah ada sebelumnya. "Dengan modal dari mangkuk ini, aku akan membongkar seluruh katalog rahasia di toko ini. Reza, Handoko, bersiaplah mencari pekerjaan baru. Karena hidup kalian di perusahaan itu tidak akan lama lagi."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!