Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Bab 1

Langit mulai meredup ketika seorang wanita berlari memasuki koridor rumah sakit. Napasnya tersengal, rambutnya berantakan, dan kedua tangannya gemetar saat memeluk tubuh kecil di dadanya.

“Sus … tolong … tolong anak saya…”

Suaranya bergetar, nyaris putus di tengah kalimat.

Beberapa perawat yang berjaga langsung menoleh. Salah satu dari mereka segera menghampiri, wajahnya berubah serius saat melihat kondisi anak yang digendong wanita itu.

“Bu, tenang dulu. Kita bantu, ya. Anaknya kenapa?” tanya perawat itu lembut, sambil mengarahkan mereka ke ruang penanganan.

Wanita itu menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Dari siang demam … tinggi banget. Tadi sempat kejang… saya takut, Sus… saya takut terjadi apa-apa…”

Langkahnya hampir tersandung, tapi ia tetap memeluk anaknya erat, seolah takut kehilangan.

“Tidak apa-apa, Bu. Kita tangani sekarang,” jawab perawat itu menenangkan.

Mereka masuk ke ruang penanganan dengan cepat. Seorang perawat lain segera membantu membaringkan anak itu di atas ranjang pemeriksaan.

Tubuh kecil itu tampak lemah. Napasnya cepat, keningnya panas, dan sesekali tangannya bergerak lemah.

“Nama anaknya, Bu?” tanya perawat sambil menyiapkan alat pemeriksaan. Wanita itu mengusap air matanya, mencoba mengatur napasnya yang masih kacau.

“Sahir … Sahir Arayan…”

“Usianya?”

“Empat tahun…”

Perawat itu mengangguk, lalu mencatat dengan cepat.

“Nama Ibu?”

Wanita itu terdiam sejenak. Bibirnya bergetar, seolah ada sesuatu yang berat hanya untuk menyebutkan namanya sendiri.

“Sahira … Sahira Alamsyah…”

Perawat itu kembali mengangguk.

“Suhu anaknya sangat tinggi,” gumamnya pada rekannya. “Kita butuh dokter anak.”

Perawat lain tampak ragu.

“Poli anak sudah tutup dari jam dua, Sus…”

Sahira langsung panik mendengarnya. Ia mendekat, suaranya nyaris memohon.

“Tidak ada dokter sama sekali? Tolong … anak saya butuh penanganan…”

Perawat itu berpikir sejenak, lalu berkata cepat, “Ada dokter baru yang tadi masih di ruang praktik. Saya coba panggil, ya, Bu.”

“Mohon, Sus … tolong cepat…” suara Sahira melemah.

Perawat itu segera keluar ruangan.

Sementara itu, Sahira kembali ke sisi ranjang. Tangannya menggenggam tangan kecil Sahir yang terasa panas.

“Sayang … kamu harus kuat, ya…” bisiknya lirih. “Ibu di sini … ibu nggak ke mana-mana…”

"Ibu..." rengek Sahir dalam tidurnya.

Matanya kembali berkaca-kaca. Wajahnya penuh kecemasan dan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam, setiap detik dipenuhi rasa takut.

Hingga akhirnya pintu ruang penanganan terbuka. Seorang dokter masuk bersama perawat tadi. Langkahnya tenang, namun tegas. Wajahnya serius, menunjukkan profesionalitas yang tak diragukan.

Sahira yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat kepalanya. Dan dalam satu detik dunia seolah berhenti berputar.

Tatapan mereka bertemu, Sahira membeku napasnya tertahan.

“S… Saga?” Namanya terucap lirih, hampir seperti bisikan yang tak disengaja.

Di hadapannya berdiri pria yang selama ini berusaha ia lupakan. Namun, tak pernah benar-benar bisa, Saga Mahendra. Kini bukan lagi remaja yang ia kenal. Melainkan seorang dokter dengan tatapan yang jauh lebih dingin.

Saga menatap Sahira tanpa ekspresi. Namun di dalam dirinya, sesuatu bergetar hebat.

Lima tahun, dan takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling tidak pernah ia bayangkan. Pandangan Saga perlahan beralih ke anak kecil di atas ranjang.

Wajahnya serius.

“Sejak kapan demamnya?” tanyanya datar, profesional. Seolah mereka tidak pernah saling mengenal. Sahira terdiam sejenak, menahan segala gejolak di dadanya.

“Dari siang…” jawabnya pelan.

Dan sejak detik itu bukan hanya tubuh kecil Sahir yang membutuhkan penanganan. Tetapi juga dua hati yang pernah hancur dan belum pernah benar-benar sembuh.

Saga bergerak cepat di sisi ranjang, tangannya terampil memeriksa kondisi Sahir. Termometer digital menunjukkan angka yang membuat rahangnya mengeras.

“Tiga puluh sembilan koma delapan,” ucapnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Ia mengalihkan pandangan pada perawat.

“Pasang kompres hangat, siapkan obat penurun panas, dan observasi kejangnya. Saya mau infus juga.”

“Baik, Dok,” jawab perawat sigap.

Sahir merengek lemah saat perawat mulai menangani tubuh kecilnya. Sahira spontan mendekat, menggenggam tangan anaknya erat-erat.

“Ibu di sini … nggak apa-apa, ya…” bisiknya dengan suara bergetar.

Saga memperhatikan sekilas, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya tak sepenuhnya bisa menyembunyikan sesuatu yang bergejolak di dalam.

Setelah memastikan penanganan awal berjalan, Saga menarik napas pendek dan berdiri tegak.

Ia menoleh pada perawat.

“Tolong siapkan satu kamar untuk rawat inap. Anak ini harus diobservasi semalaman.”

Perawat itu mengangguk.

“Baik, Dok. Saya urus sekarang.”

Langkah kaki perawat menjauh dari ruangan, menyisakan keheningan yang terasa canggung.

Kini hanya ada mereka bertiga. Saga menatap berkas di tangannya sejenak, seolah mencari jeda sebelum akhirnya berbicara.

“Anaknya perlu dirawat satu malam,” ucapnya datar, profesional. “Suhu tubuhnya terlalu tinggi, dan ada riwayat kejang. Kita harus pantau sampai kondisinya stabil.”

Sahira mengangguk pelan, dia tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah pucat Sahir, sementara tangannya terus mengusap lembut rambut anak itu.

“Kalau besok demamnya sudah turun dan tidak ada kejang lagi, baru boleh pulang,” lanjut Saga.

“Ya…” suara Sahira hampir tak terdengar. “Saya mengerti, Dok…”

Kata Dok itu terdengar asing di antara mereka. Saga terdiam sesaat. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya saat mendengar panggilan itu, tapi ia menahannya Saga tidak berhak bereaksi.

Seorang perawat kembali masuk.

“Dok, kamar inap sudah siap.”

Saga mengangguk singkat.

“Baik, pindahkan pasien sekarang, dan lanjutkan observasi tiap satu jam. Kalau ada perubahan kondisi, segera lapor.”

“Siap, Dok.”

Sahira mundur sedikit saat perawat mulai memindahkan Sahir ke ranjang dorong. Tangannya sempat terlepas, tapi dengan cepat ia kembali menggenggam jari kecil itu.

“Ibu ikut…” ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Saga berdiri di tempatnya, memperhatikan tanpa suara saat Sahira berjalan mengikuti ranjang yang membawa anaknya keluar ruangan.

Pintu perlahan tertutup.

Saga menghembuskan napas panjang, lalu meremas pelan jembatan hidungnya. Ia seharusnya hanya menjadi dokter. Hanya itu, namun kenyataannya, masa lalu yang ia kira sudah terkubur, kini berdiri tepat di hadapannya.

Bab 2

Malam turun perlahan, menyelimuti Rumah Sakit Kasih Ibu dengan suasana yang lebih tenang, namun tidak bagi beberapa orang di dalamnya.

Di salah satu kamar rawat inap, lampu temaram menyala lembut. Suara alat medis terdengar pelan, berpadu dengan napas kecil seorang anak yang masih terbaring lemah di atas ranjang.

Sahir Arayan akhirnya tertidur setelah obat mulai bekerja. Demamnya belum sepenuhnya turun, tapi setidaknya tubuhnya tidak lagi bergetar seperti sebelumnya.

Di samping ranjang, Sahira duduk diam.

Tangannya masih menggenggam tangan kecil anaknya, seolah takut melepaskannya walau hanya sesaat. Matanya tampak lelah namun bukan hanya karena hari yang panjang.

Melainkan karena pertemuan yang tak pernah ia siapkan. Saga, nama itu kembali hadir bukan lagi sebagai kenangan, melainkan kenyataan yang berdiri tepat di hadapannya.

Sahira menunduk, menarik napas panjang.

“Kenapa harus sekarang…” bisiknya lirih.

Air matanya jatuh perlahan, namun cepat ia hapus. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di tempat seperti ini.

Pintu kamar tiba-tiba diketuk pelan.

Tok! tok!

Sahira segera mengangkat wajahnya.

“Masuk…”

Pintu terbuka.

Saga berdiri di sana, masih dengan jas dokternya, masih dengan sikap tenangnya… namun ada jarak yang begitu terasa.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Saga, suaranya datar. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, matanya langsung tertuju pada Sahir.

“Sudah tidur…” jawab Sahira pelan. “Demamnya masih ada, tapi tadi tidak kejang lagi…”

Saga mengangguk kecil.

Ia mendekat, memeriksa suhu tubuh Sahir dengan punggung tangannya, lalu melihat catatan medis di ujung ranjang.

“Observasi kita lanjutkan malam ini,” ucapnya singkat. “Kalau tidak ada kejang ulang dan suhu turun, besok bisa dipertimbangkan pulang.”

“Terima kasih … Dok…” kata Sahira, ragu.

Kata itu kembali menggantung di udara, membuat suasana semakin canggung. Saga berhenti sejenak, lalu menutup berkas di tangannya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hingga akhirnya,

“Empat tahun?” tanya Saga tiba-tiba.

Sahira tertegun, pertanyaan itu datang tanpa peringatan.

“Umurnya…” lanjut Saga, kali ini menatap langsung ke arah Sahira. “Empat tahun, kan?”

Jantung Sahira berdegup kencang.

“Iya…” jawabnya singkat.

Saga mengangguk pelan, namun sorot matanya berubah.

“Namanya … Sahir Arayan,” ucapnya lagi, seolah mengulang untuk memastikan.

Sahira menggenggam tangannya sendiri di atas pangkuan.

“Iya…”

Saga terdiam. Lalu, tanpa ia sadari, tatapannya kembali jatuh pada wajah kecil yang tertidur itu.

“Bapaknya dimana?” tanya Saga akhirnya. Seolah ia tidak ingin memberi waktu bagi Sahira untuk bersembunyi.

Sahira membeku.

Pertanyaan itu terasa jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Bibirnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar.

Beberapa detik berlalu.

“Dia … tidak ada,” jawabnya akhirnya, pelan.

Saga mengernyit.

“Tidak ada, atau tidak datang?” Nada suaranya berubah sedikit.

Sahira menunduk.

“Memang tidak ada…” ulangnya, kali ini lebih pelan. Hening kembali memenuhi ruangan, Saga menatapnya lama. Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.

Namun Sahira tetap diam, menutup dirinya rapat-rapat. Saga menarik napas panjang. Ia tahu percakapan ini tidak akan membawa ke mana-mana.

“Kalau ada apa-apa, panggil perawat,” ucapnya akhirnya, kembali ke nada profesional. “Saya masih di ruangan sampai malam ini.”

Sahira mengangguk.

“Iya…”

Saga berbalik, melangkah menuju pintu. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang,

“Saga…”

Langkahnya terhenti, Sahira menggigit bibirnya, ragu. Tapi akhirnya ia tetap melanjutkan,

“Terima kasih…”

Saga tidak langsung menoleh, beberapa detik ia hanya berdiri diam. Lalu, tanpa berbalik, ia menjawab singkat,

“Itu tugas saya.”

Pintu terbuka dan tertutup kembali.

Menyisakan Sahira dalam diam, dia menatap pintu itu lama.

Sementara di luar kamar, Saga berdiri sejenak di koridor yang sepi, tangannya mengepal.

Pintu kamar kembali terbuka beberapa menit setelah Saga pergi. Seorang perawat masuk sambil mendorong tiang infus, langkahnya pelan agar tidak mengganggu Sahir yang sedang tertidur.

“Permisi, Bu. Saya ganti infusnya, ya,” ucapnya ramah.

Sahira mengangguk pelan, sedikit bergeser memberi ruang. Perawat itu mulai menyiapkan alat, lalu sekilas melirik ke arah pintu yang tadi tertutup.

“Tumben, ya … Dokter Saga belum pulang,” katanya ringan, seolah hanya berbasa-basi. “Padahal jam kerjanya sudah habis dari siang tadi.”

Tangan Sahira yang semula menggenggam selimut Sahir langsung menegang.

“Begitu, ya…” jawabnya pelan, berusaha terdengar biasa.

Namun, jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari seharusnya. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya. Ada sesuatu yang berdesir di dalam dadanya. Rasa yang seharusnya sudah lama hilang tapi ternyata masih ada. Rindu yang tidak pernah benar-benar pergi. Namun, Sahira tahu, ia tidak punya hak untuk merasakannya lagi.

Lima tahun lalu, ia sendiri yang menghancurkan segalanya. Dan ia tahu betul bagaimana Saga menatapnya tadi, dingin, jauh, tanpa sisa kehangatan seperti dulu.

Perawat itu selesai memasang infus, lalu merapikan selang dengan hati-hati.

“Kalau ada apa-apa, tekan bel saja, Bu,” katanya.

“Iya, terima kasih…” sahut Sahira pelan.

Perawat itu tersenyum singkat, lalu keluar dari kamar.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sahira tersentak kecil, segera meraih tasnya dan mengambil ponsel itu.

Satu pesan masuk dari Revano.

[Bagaimana kondisi Sahir? Sudah ditangani dokter?]

Jari Sahira sempat menggantung di atas layar, belum sempat membalas, ponselnya kembali berdering. Nama yang sama muncul di layar, Revano.

Sahira menarik napas, lalu mengangkat panggilan itu.

“Halo…”

[Sahira?] suara Revano terdengar jelas dari seberang. [Gimana kondisi Sahir? Kamu sudah sampai rumah sakit, kan?]

“Iya … sudah,” jawab Sahira pelan. “Dia sudah ditangani. Sekarang sudah lebih tenang … tadi sempat kejang, tapi sudah dikasih obat."

Revano terdiam sejenak, terdengar menghela napas lega.

[Syukurlah … Aku khawatir banget dari tadi.]

Sahira melirik ke arah Sahir, memastikan anak itu masih tertidur.

“Sekarang dia harus dirawat inap semalam,” lanjutnya. “Dokternya bilang harus diobservasi dulu.”

[Baik itu,] jawab Revano cepat. [Kamu jangan sendirian, Ra. Perlu aku pulang sekarang?]

Sahira langsung menggeleng, meskipun ia tahu Revano tidak bisa melihatnya.

“Nggak usah,” ucapnya lembut. “Kamu fokus saja sama kerjaan kamu di Singapura. Di sini aku masih bisa handle.”

[Yakin?] suara Revano terdengar ragu.

“Iya,” jawab Sahira, kali ini lebih tegas. “Sahir juga sudah lebih baik. Kamu nggak perlu khawatir.”

Hening sejenak, seolah ada hal lain yang ingin dikatakan, tapi tertahan.

[Kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku,] ujar Revano akhirnya.

“Iya … pasti.”

[Jaga diri kamu juga."

Sahira menunduk.

“Iya…”

Panggilan terputus.

Perlahan, Sahira menurunkan ponselnya, tatapannya kosong beberapa detik. Lalu tanpa sadar, matanya kembali mengarah ke pintu kamar. Ke arah di mana Saga tadi pergi, dadanya terasa sesak. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Begitu banyak yang ingin ia jelaskan. Namun, ia tahu tidak semua kebenaran bisa diungkapkan.

“Maaf…” bisiknya lirih, entah untuk siapa, utuk anaknya atau untuk seseorang yang masih ia cintai, tapi tak lagi bisa ia miliki.

Bab 3

Malam semakin larut.

Lorong rumah sakit mulai lengang, hanya beberapa perawat yang sesekali berlalu-lalang. Di salah satu ruangan di lantai dua, lampu masih menyala.

Saga Mahendra belum pulang. Ia duduk di kursinya, jas dokter masih melekat di tubuhnya. Berkas-berkas di meja sudah rapi, pekerjaannya selesai sejak tadi. Namun, ia tetap di sana, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk pergi. Tangannya perlahan meraih dompet miliknya dan membukanya, lalu di sana terdapat foto lamanya.

Foto yang seharusnya sudah ia singkirkan sejak bertahun-tahun lalu. Di dalamnya, dua remaja tersenyum lepas. Seorang laki-laki dengan seragam SMA yang rapi, berdiri di samping seorang gadis dengan senyum cerah yang sederhana. Saga dan Sahira. Diambil saat mereka masih percaya bahwa masa depan akan berjalan sesuai rencana.

Saga menatap foto itu lama. Ujung bibirnya tak bergerak, namun matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Harusnya … aku buang foto ini sejak dari dulu,” gumamnya pelan. Namun, kenyataannya, ia tidak pernah benar-benar mampu.

Kenangan itu perlahan berubah menjadi bayangan lain. Hari di mana dia dan Sahira memutuskan hubungan untuk selamanya, lima tahun yang lalu.

Hujan turun deras malam itu, seolah langit ikut merasakan sesuatu yang akan hancur.

Di depan kontrakan sederhana itu, Saga Mahendra berdiri dengan napas memburu. Kemeja putihnya basah kuyup, menempel di tubuhnya, tapi ia tak peduli. Yang memenuhi pikirannya hanya satu hal Sahira.

Pintu itu terbuka, dan dalam satu detik, dunia Saga runtuh. Di dalam sana, Sahira berdiri berpelukan dengan seorang pria.

Bukan orang asing melainkan seseorang yang sangat ia kenal.

“Revano?” Suara Saga terdengar serak, seperti sesuatu di dalam dadanya baru saja retak.

Pelukan itu terlepas. Sahira tampak panik, sementara Revano menatap Saga dengan wajah tegang.

“Apa-apaan ini?” suara Saga meninggi, emosinya meledak tanpa bisa ditahan. “Kalian … di belakang gue?”

“Saga, dengerin dulu—” Revano mencoba maju.

Bugh!

Tinju Saga hampir melayang kembali, tapi terhenti. Sahira berdiri di depan Revano.

“Jangan, Saga!” teriak Sahira, matanya berkaca-kaca. “Jangan pukul dia!” Kalimat itu seperti pisau yang menghujam tepat ke jantung Saga.

Ia tertawa kecil, “Gila…” bisiknya. “Lo lindungin dia?”

“Saga…” suara Sahira melemah, tapi tubuhnya tetap tegap di depan Revano. Saga menggeleng, rahangnya mengeras.

“Jadi ini alasan lo minta putus, Ra?” suaranya berat, penuh luka. “Bukan karena mimpi kita beda … tapi karena lo selingkuh sama sahabat gue sendiri?”

“Gue nggak—”

“Cukup!” potong Saga. “Gue liat sendiri!”

Hanya suara hujan yang menghantam atap dan tanah. Saga menatap Sahira lekat-lekat, seolah berharap semua ini hanya mimpi buruk.

“Gue tanya sekali lagi…” suaranya lebih pelan, tapi jauh lebih menyakitkan. “Lo serius mau ninggalin gue?”

Sahira menggigit bibirnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, dia ingin berteriak. Ingin mengatakan semuanya, ingin memeluk Saga dan meminta maaf. Tapi yang keluar dari bibirnya justru,

“Iya.” Satu kata, yang menghancurkan segalanya. Tatapan Saga berubah kosong.

“Kenapa?” suaranya hampir tak terdengar. Sahira memejamkan mata sejenak, lalu berkata dengan suara dingin yang dipaksakan.

“Karena gue benci sama lo.”

Saga terdiam.

“Gue capek hidup di bawah bayang-bayang keluarga lo,” lanjut Sahira. “Lo selalu punya segalanya, sementara gue? Gue cuma cewek miskin yang numpang mimpi sama lo.”

“Ra…” Saga menggeleng, tak percaya.

“Udah cukup,” potong Sahira cepat. “Gue nggak mau lagi sama lo. Gue … lebih milih Revano.”

Revano langsung menatap Sahira, terkejut. Tapi Saga hatinya benar-benar hancur. Tak ada lagi yang bisa ia pertahankan. Tak ada lagi alasan untuk tetap berdiri di sana. Dengan langkah berat, Saga mundur, matanya masih terpaku pada Sahira. Wanita yang ia cintai, wanita yang seharusnya menjadi masa depannya.

“Mulai hari ini…” ucapnya pelan, “lo bukan siapa-siapa gue lagi!” teriak Saga dan pergi meninggalkan kontrakan kecil milik Sahira malam itu.

Begitu Saga menghilang dari pandangan, tubuh Sahira langsung lemas. Ia jatuh terduduk di lantai, tangisnya pecah.

“Gue jahat…” isaknya. “Gue jahat banget…” Revano segera memeluknya erat.

“Sahira … lo nggak punya pilihan,” bisiknya pelan. “Kalau Saga tahu yang sebenarnya—”

“Dia bakal hancur lebih parah…” Sahira menyambung dengan suara bergetar. Ia menggenggam bajunya sendiri, dadanya sesak.

Tok! Tok! Tok!

“Dok?” Suara itu menarik Saga kembali ke masa kini, dia tersentak kecil. Foto di tangannya masih tergenggam. Seorang perawat berdiri di depan pintu ruangannya.

“Maaf mengganggu, Dok. Pasien anak di kamar 203 sudah lebih stabil. Suhunya mulai turun.”

Saga terdiam sejenak, mengatur napasnya. Lalu perlahan ia meletakkan kembali dompet itu ke meja. Wajahnya kembali datar.

“Baik,” jawabnya singkat. “Lanjutkan observasi.”

“Siap, Dok.” Perawat itu pergi.

Ruangan kembali hening, Saga menatap meja di depannya. Saga menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya.

“Jangan mikir yang aneh-aneh…” gumamnya pelan. "Saat ini dia sudah bahagia sama orang lain, yang dia pilih. Meskipun itu hasil dari menyakitiku," lanjut Saga menatap foto itu kembali.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!