Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Bab 1--Reuni Terkutut Memutusan Dari Jaringan Toxic

“hah, sialan … aku baru saja dipecat,” keluh pemuda tersebut.

Nama pemuda itu Aris. Di usia 24 tahun, wajahnya terlihat lebih dewasa dari seharusnya—guratan lelah tercermin jelas dari matanya yang kurang tidur. 

Aris adalah definisi dari pemenang yang jatuh. Dulu, dia adalah siswa berprestasi, ketua OSIS yang dikagumi, dan kekasih dari Tata, gadis paling populer di sekolahnya.

Namun, dunia berputar terlalu cepat. Kematian kakeknya yang mendadak, putus kuliah karena kendala biaya, hingga dipaksa menjadi buruh pabrik demi menyambung hidup, membuat Aris perlahan menghilang dari radar teman-temannya.

Dan sekarang satu-satunya jalan hidup sebagai buruh pabrik pun dihilangkan oleh tuhan seolah rezeki dia sangat seret.

“Sekarang gue kerja dimana coba?”

 hp dia tiba-tiba bergetar. Hari ini, sebuah undangan digital mampir ke ponselnya yang layarnya sudah retak seribu.

“Apaan ini?” Gumam dia sembari membuka undangan dari layar hp dia.

"Reuni Akbar & Syukuran Kelulusan Angkatan SMA - Hotel Grand Merapi."

Aris ragu. Namun, secercah harapan muncul; mungkin dengan bertemu teman lama, dia bisa mendapatkan info pekerjaan yang lebih baik setelah pemecatannya kemarin.

***

Aris tiba dengan motor bebek tua peninggalan kakeknya yang mengeluarkan bunyi pos-pos setiap kali gas ditarik. 

Di parkiran, motornya terjepit di antara deretan mobil mewah; Honda Civic terbaru, BMW, hingga pajero sport milik teman-temannya yang kini tampak seperti "orang sukses".

“Gila, angkatan gue udah pada sukses semua.” Kagum dia.

Aris masuk ke aula hotel dengan jas yang sedikit kebesaran—itu jas pinjaman dari tetangga kontrakannya.

Sontak kemunculan Aris membuat semua orang di sana menatapnya. Sebuah jenis tatapan tak enak dipandang, tatapan dari atas sampai bawah, tatapan merendahkan.

Mereka semua di sana terlihat sangat berwibawa dan sukses sementara Aris? Mereka baru saja melihat dia mengendarai motor bebek sementara mereka semua sudah pada naik mobil.

"Eh, ini Aris? Aris si Ketua OSIS?"

Suara tawa pecah di pojok ruangan. Seorang pria bernama Dani, yang dulu selalu berada di bawah bayang-bayang Aris, kini berdiri dengan setelan jas slim-fit dan jam tangan emas yang sengaja ia pamerkan saat memegang gelas sampanye.

Ia dulu merasa sangat tertinggal oleh Aris karena kepintarannya namun sekarang? Ternyata Aris cuma jadi gembel doang. Jabatan dan kepintaran memang gak bisa mengalahkan satu hal : harta! Orang miskin memang sulit untuk menaikan derajat, modal pintar doang mah gak cukup.

​"Gila, Ris! Aku pikir tadi ada tukang ojek nyasar masuk hotel. Ternyata kamu!"

“Gue setuju!”

“Hahaha kasihan banget, kukira siapa ternyata ketua OSIS kita … tapi dengar-dengar kamu putus kuliah karena kendala biaya? Susah ya jadi orang gak mampu.”

Aris mengepalkan tangan. Mereka semua teman angkatan SMA-nya, ia tidak menyangka setelah sukses meraka mala terbuai oleh harta dan lupa diri! Padahal dulu mereka masih asik nongkrong bareng, masalah PR juga Aris yang bantu selesaikan, pendispilan siswa pula, namun sekarang? Mereka berubah

 Dani menepuk bahu Aris dengan keras, seolah ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Aris kini berada di bawah levelnya.

​"Lama nggak kelihatan, Dani. Kamu makin sukses ya," jawab Aris berusaha tetap tenang, meski ia tahu tepukan itu lebih mirip penghinaan.

Dan juga semua tatapan yang kini menghujani dia seperti penghinaan, ia tetap bersikap santai.

​"Yah, begitulah. Setelah lulus aku langsung pegang bisnis properti bokap. Eh, denger-denger kamu kerja jadi buruh pabrik ya? Wah, sayang banget otak Ketua OSIS cuma buat angkut barang," sindir Dani yang diikuti tawa kecil dari teman-teman di sekelilingnya.

“Ternyata pinter doang gak cukup!”

“Sayang sekali dunia memang gak adil Aris, ginilah cara mainnya. Selama punya kuasa dan relasi, kita bisa gampang naik derajatnya!”

ucapan itu membuat Aris naik pikam. Ia bisa saja mengamuk dan menghajar mereka satu-satu, tapi dia sabar. Mereka sekarang jadi orang sukses beberapa punya relasi dengan orang besar, ia malah bisa kena sendiri.

Tapi yang paling buat dia jengkel adalah itu semua diucapkan oleh orang yang gak pernah merintis dari bawah, alias modal uang bapak sama ibu! Dasar anak maja!

​Namun, suasana tiba-tiba hening saat seorang wanita cantik dengan gaun merah elegan mendekat. Tata. Mantan kekasih yang dulu berjanji akan menemaninya dari nol, namun menghilang saat Aris mulai jatuh miskin dan berhenti di tengah kuliah, datang.

​"Aris?" Tata menatap Aris dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya bukan lagi tatapan cinta, melainkan rasa kasihan yang menusuk. "Kamu... benar datang dengan motor tua yang di parkiran itu? Aku pikir setidaknya setelah beberapa tahun, kamu sudah punya kemajuan."

"Aku baru saja di PHK. belum punya kemajuan apa pun, Ta. Masih begini-begini saja," jawab Aris singkat. Suaranya datar, tanpa ada nada ingin membela diri.

Tata mendesah pelan, menyilangkan tangan di depan dadanya yang dihiasi kalung berlian berkilau. 

"Seharusnya kamu dengerin aku dulu, Ris. Kalau kamu mau sedikit lebih 'pintar' cari celah, mungkin kamu nggak akan semalang ini. Lihat kamu sekarang, jas  itu bahkan nggak cocok di badanmu."

“Aku bersyukur telah putus denganmu, coba lihat dani … dia sekarang menjadi ratusan kali lebih baik dari kamu! Dasar pengangguran miskin!”

Dani tertawa kecil, melingkarkan tangannya di bahu Tata dengan gerakan posesif. 

"Sudahlah sayang, nggak perlu dikasih nasihat. Orang kayak dia ini tipikal yang terlalu idealis tapi nggak sadar realita. Percuma pintar kalau dompet kosong."

Aris hanya menatap tangan Dani yang nangkring di bahu mantan kekasihnya itu. Tidak ada amarah yang meledak, hanya ada rasa hambar yang menyakitkan. Ia menyadari bahwa tempat ini bukan untuknya. 

Harapannya mencari relasi pekerjaan di sini adalah sebuah kesalahan besar. Mereka bukan lagi teman yang ia kenal, melainkan sekumpulan orang asing yang mabuk akan status.

“Sudahlah, daripada nganggur sini kukasih kerjaan … kamu kerja jadi petugas kebersihan di kantorku saja, gimana?"

“Ambil saja Aris, daripada ngangur!”

“Pekerjaan sebagai pembersih sampah juga dermawan!”

Tata tertawa. “Dani itu terlalu berlebihan!”

“Ada tapinya … tapi.” Potong Dani. “Berlutuk sama aku dulu, bilang ‘tolong jadikan aku bawahamu’ dan akan kupertimbangkan untuk menjadi kamu staf petugas kebersihan.”

​Darah Aris mendidih. Itu jelas adalah sebuah penghinaan level tertinggi. Ia melihat Tata yang malah tertawa dan ikut mengolok-ngolok dirinya, membiarkan dani mempermalukannya. Harapannya untuk mencari info pekerjaan di sini pupus. Mereka bukan teman, mereka hanya burung pemakan bangkai yang senang melihat singa yang terluka.

​Tanpa sepatah kata, Aris berbalik. Dia tidak butuh relasi beracun ini.

​"Terima kasih tawarannya. Tapi aku lebih suka mengurus 'sampah' milikku sendiri daripada melihat 'sampah' yang pakai jas seperti kalian," ucap Aris dingin sebelum melangkah keluar aula.

 Ia mengabaikan panggilan ejekan Dani dan tatapan iba dari Tata yang terasa lebih menyakitkan daripada makian, dia baru sadar bahwa tindakan barusan sudah terlalu berlebihan. Ia berjalan keluar dari aula mewah itu, langkah kakinya terasa berat namun mantap.

Aris memacu motor bebeknya membelah kemacetan, meninggalkan gemerlap lampu hotel menuju arah pinggiran kota yang gelap. 

Pikirannya melayang pada kenangan masa kecil, saat ia berlari di antara pohon-pohon rindang di lahan kakeknya. 

Lalu dia punya sebuah pikiran yang terlintas, bukankah dia memiliki sebuah lahan milik kakeknya? 

Setelah kakek itu meninggal itu resmi jadi miliknya bahkan sang kakek juga sudah berpesan, namun saat itu Aris masih mengadu nasib di pusat kota, berkuliah—yang pada akhirnya putus kuliah karena kedala biaya dan berakhir jadi buruh pabirk.

Itupun dia baru saja dipecat.

'Cucuku … aku wariskan lahan itu untukmu, kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka kalau sedang membutuhkan.’

Aris itu anak desa sebelum dia mengadu nasib ke pusat kota, dia tentu tahu tentang bertani dan lain-lain. Daripada meneruskan hidup di kota, bagaimana kalau dia mencoba mengadu nasib dengan lahan milik kakeknya?

Aris melajukan motornya semakin menjauh dari kerlip lampu gedung-gedung pencakar langit. Angin malam menerpa wajahnya, mendinginkan sisa-sisa emosi yang masih bergejolak di dada. Pikiran tentang Tata yang tertawa dan Dani yang memintanya berlutut perlahan ia buang ke aspal yang ia lalui.

​“Kakek benar, kota ini tidak ramah untuk orang sepertiku,” bisiknya di balik helm.

​Pikirannya kini terpusat pada satu tujuan: Desa Suka cita. Di sana, di pinggiran kabupaten, terletak sebidang lahan seluas satu hektar milik kakeknya. Dalam ingatan Aris, lahan itu adalah tanah subur dengan pohon-pohon buah yang rimbun dan udara yang bersih.

“Kurasa ini saatnya pulang … menjadi warga biasa dan bertani,” dia menetapkan tekad untuk pulang dan mengadu nasib.

Namun dia belum tahu, kenyataan pahit yang menunggu di desa itu. Kenyataan bahwa lahan indah dan subur itu kini menjadi lahan kosong dan penuh polusi.

Bab 2--Mafia Sampah Lahan Yang Terambil

Aris berdiri di depan sebuah bengkel motor tua di pinggiran kota. Tabungan sekarang nol hampi kinclong, untuk kembali ke desa itu artinya dia butuh uang, dan sampingnya, motor bebek—satu-satunya kawan setianya selama mengadu nasib—kini berpindah tangan.

"Tiga juta, Ris. Itu sudah harga paling tinggi karena mesinnya sudah sering mati," ucap pemilik bengkel sambil menyerahkan beberapa lembar uang merah.

Aris menghela napas, menatap motor itu untuk terakhir kali. "Nggak apa-apa, Pak. Terima kasih."

Dengan uang itu, Aris membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju Desa Sukacita. Sisanya? Hanya cukup untuk makan beberapa minggu ke depan. Untuk membeli bibit unggul, traktor tangan, atau sistem irigasi yang ia impikan, uang itu tidak ada harganya. Ia butuh modal banyak lagi.

Dia agak malu untuk melakukan ini, namun satu-satunya harapan adalah pinjaman dari bank untuk modal usaha. Dia percaya diri dengan kemampuan bertani semoga dengan bantuan pinjaman dia bisa merintis.

"Aku butuh modal bank. Sertifikat lahan ini adalah jaminan terbaikku," gumam Aris sambil mengeratkan pegangan pada tas ranselnya yang berisi surat tanah kakeknya.

Tanah itu lahan yang subur, pasti pihak bank sangat setuju dengan permintaan peminjaman bisnisnya.

Keesokan Harinya, Kantor Bank Cabang Kecamatan.

Setelah menempuh perjalanan panjang dan menginap semalam di stasiun karena dia gak punya uang untuk menginap, Aris tiba di bank saat pintu baru saja dibuka. Tentu saja dengan jalan kaki, sepanjang jalan dia menyeret koper yag isinya baju-baju ganti, jarak antar stasiun dan desa suka cita jauhnya kayak bumi dan bulan.

Butuh beberapa jam. Panas yang menyengat membuat Aris mengumpat mengatakan kata-kata kasar dalam hati. Ponsel dia mati total, dia gak bisa hubungi adiknya Emi untuk membantu mejemput.

Setelah berjalan kurang lebih satu jam, ia sampai di pinggir desa. Sebuah bank, dia datang kesini dulu saja.

Ia mengenakan kemeja terbaiknya—yang meski bersih, tetap terlihat usang.

"Selamat pagi, saya ingin mengajukan kredit usaha rakyat untuk sektor pertanian. Saya punya jaminan lahan satu hektar di blok utara Desa Sukacita," ucap Aris sopan kepada petugas di meja kredit.

Petugas itu, seorang pria dengan kacamata berbingkai emas, mengambil sertifikat tanah yang disodorkan Aris. 

Ia memasukkan data nomor lahan tersebut ke komputer. Tak butuh waktu lama sampai dahi petugas itu berkerut, lalu ia menatap Aris dengan tatapan yang sangat familiar bagi Aris Tatapan merendahkan

"Mas Aris... Anda bercanda?" petugas itu terkekeh sinis, lalu memutar layar monitornya ke arah Aris.

Aris tertengun, perasaan tidak ada yang aneh dengan lahan milik kakek dia terus kenapa gerutan si petugas seolah mengatakan bahwa ini tidak layak untuk dipertimbangkan sebagai peminjam bisnis.

"Maksud Bapak?"

"Lihat ini. Lahan yang Anda jaminkan ini masuk dalam red zone. Secara administratif memang lahan pertanian, tapi statusnya saat ini adalah 'Lahan Mati Non-Produktif'. Berdasarkan laporan penilaian terbaru, tanah di sana sudah terkontaminasi limbah kimia berat."

Petugas itu menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada. "Bank tidak akan memberikan pinjaman bahkan seribu rupiah pun untuk tanah yang sudah jadi TPA liar. Mas mau bertani apa di sana? Menanam plastik? Atau memanen ban bekas?"

Beberapa orang di antrean belakang mulai berbisik sambil tertawa. 

“Apaan itu?”

“Orang miskin yang mencoba beradu nasib?”

“Sungguh merusak suasana, coba panggil petugas keamanan, sudah membuat antrean panjang menganggu suana pula.”

Aris merasakan terhina. Ini semua salah, dia terpaku dan membantah.  "Tapi Pak, itu lahan subur... kakek saya dulu—"

"Dulu itu beberapa tahun yang lalu, Mas!" potong petugas itu kasar

. "Sekarang lahan itu ladang sampah!”

Ladang sampah? Mustahil. Dia punya sertifikatnya dan meski dia tidak mejaga untuk waktu lama, masih ada keluarganya di sana. Emi dan ibu, gak mungkin ada orang yang berani main-main.

Kecuali jika itu selevel orang bos dan pejabat korup!

Aris menyambar sertifikatnya. Ia tidak percaya dengan perkataan pemilik bank karena dia rasa gak mask akal sama sekali!

Aris melangkah keluar dari bank dengan napas yang memburu. Tawa para nasabah di dalam tadi masih terngiang, menusuk-nusuk harga dirinya yang sudah compang-camping.

"Penipu! Mana mungkin tanah Kakek jadi ladang sampah!" maki Aris tertahan.

Ia kembali menyeret kopernya di atas jalanan aspal yang panas. Kakinya yang lecet tidak lagi ia rasakan. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: rumah. Ia ingin melihat Ibu dan Emi, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bank bisa berkata sekeji itu tentang tanah mereka?

Langkah Aris melambat saat ia memasuki gapura Desa Sukacita. Namun, ada yang aneh. Desa yang dulu asri dan sejuk itu kini terasa pengap. 

“Apa-apaan bau ini!?!”

Bau menyengat seperti karet terbakar dan amonia tercium samar di udara. Beberapa warga yang duduk di depan rumah menatap Aris dengan pandangan iba, seolah mereka dia melihat hantu yang baru pulang dari kubur.

"Aris? Itu kamu, le?" tanya seorang tetangga tua, Wak Darmo, dengan suara gemetar.

"Iya, Wak. Aris pulang," jawabnya singkat. Aris ingin bertanya, tapi wajah Wak Darmo tampak ketakutan seolah ada yang mengawasi mereka. 

Pria tua itu segera masuk ke rumah dan mengunci pintu. “Maaf, nak. Kurasa saya gak bisa bicara panjang lebar dengan kamu, le maaf. Nanti kamu bakal paham sendiri.”

Ha!? Apaan coba absurd juga ada batasnya. Wak darmo terkenal dengan orang paling ramah di desa dan sekarang bersikap gini?

Aneh sesuatu makin gak beres!

Perasaan tidak enak itu makin menjadi-jadi. Aris mempercepat langkahnya menuju rumah peninggalan Kakek yang berada tak jauh dari batas lahan satu hektar tersebut. Begitu sampai di depan pagar, jantung Aris mencelos.

Rumahnya tampak kusam. Kaca jendela samping pecah dan hanya ditutup dengan karton bekas. Di teras, ibunya duduk di kursi bambu dengan kain basah yang menutupi hidung dan mulutnya. Dia berdarah dan penuh luka. Tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka melakukan panggilan video.

"Ibu!" Aris melemparkan kopernya dan berlari memeluk wanita tua itu.

"Aris? Kamu... kamu pulang, Nak?" Ibu Aris terbatuk hebat, suaranya parau. "Kenapa nggak kabar-kabar?"

"Ponsel Aris mati, Bu. Ada apa ini? Kenapa Ibu sakit? Dan tadi di bank..." Aris menggantung kalimatnya, matanya memerah menahan amarah. "Mereka bilang tanah Kakek jadi ladang sampah? APA MAKSUDNYA IBU!?”

Ibunya hanya bisa menunduk, air mata jatuh mengenai punggung tangan Aris. Tepat saat itu, pintu rumah terbuka. Emi, adik perempuannya, keluar dengan wajah yang kusam karena debu. Matanya yang dulu ceria kini redup dan penuh rasa lelah.

"Kak Aris sudah tahu?" tanya Emi pelan. "Emi mau cerita, tapi Ibu melarang. Ibu takut Mas Aris nekat pulang dan malah celaka di tangan mereka."

"Mereka siapa, Mi?!" bentak Aris, tidak sabar.

Emi menunjuk ke arah belakang rumah, ke arah lahan satu hektar milik Kakek. “Kalau kakak lihat sendiri, mungkin kakak tahu maksudku.”

 "Mafia sampah, kak. Sejak setahun lalu, truk-truk besar datang setiap seminggu sekali. Mereka menyuap orang-orang penting di sini. Saat Ibu dan aku protes, mereka melempari rumah kita dengan batu, bahkan ibu dihajar kak!. Mereka mengancam akan membakar rumah juga kalau kita lapor polisi. Tapi Mau lapor juga percuma orang kayak kita sejak awal gak punya kuasa, kak! Polisi mah gampang banget disuap sama duit.”

Aris tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia berlari menuju lahan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana. Begitu melewati pagar pembatas, langkah Aris terhenti total.

Dunianya serasa runtuh.

Lahan hijau yang dulu penuh dengan pohon buah dan rumput segar kini telah lenyap. Berganti menjadi lembah limbah yang mengerikan. plastik setinggi dua meter berjejer. Di tengahnya, terdapat kubangan air hitam pekat yang mengeluarkan asap tipis berbau kimia menyengat. Tanah itu tidak lagi cokelat, melainkan hitam berminyak dan mati.

"Woi! Siapa itu?! Dilarang masuk!"

Sebuah bentakan keras datang dari sebuah gubuk beton permanen yang berdiri di sudut lahan. Tiga pria kekar dengan tato di lengan dan wajah sangar keluar sambil membawa balok kayu berlubang paku. Di belakang mereka, sebuah truk tangki sedang membuang cairan keruh langsung ke tanah Aris.

"Ini tanah saya!" teriak Aris dengan suara parau, urat lehernya menegang. "Keluar kalian dari sini!"

Salah satu preman itu maju, meludah tepat di depan kaki Aris. "Tanahmu? Telat, Tong! Tanah ini sudah dikontrak oleh Boss Malik untuk kepentingan 'pembangunan'. Kalau kamu pemiliknya, mana bukti kamu bisa bayar uang keamanan selama lahan ini kami jaga?"

"Persetan dengan Boss Malik! Siapa pula dia! Saya tidak pernah mengizinkan sampah ini ada di sini!"

*Brakk!*

Sebuah dorongan keras di dada membuat Aris terjungkal ke belakang, jatuh tepat di atas tumpukan botol plastik dan cairan limbah yang lengket.

"Dengar ya, bocah miskin," preman itu berjongkok di depan Aris, menatapnya dengan pandangan buas. "Polisi sudah kami suap, pejabat desa sudah makan uang kami. Keluarga kamu itu cuma debu. Pergi sekarang, atau besok Ibu dan adikmu akan kami timbun hidup-hidup di bawah sampah ini!"

Aris terdiam di tengah genangan limbah. Bau busuk plastik terbakar seolah membakar otaknya. Di kota ia menjadi sampah, dan di sini pun hartanya dijadikan tempat sampah. Rasa benci dan keputusasaan yang luar biasa mendidih di dalam dadanya.

Kenapa orang besar selalu bertindak seenaknya ini tanah dia! Bakan penjabat dan orang orang penting disuap, keluarga dia yang miskin bahkan gak punya kausa untuk melawan.

Aris merasa sangat gagal. Di kota dia gak berhasil mengadu nasib, disini pun gak bisa? Asw emang. Dunia gak ada keadilan sama sekali!

*Kakek... maafkan Aris... Aris benar-benar tak berguna...*

Tepat saat ia meremas tanah hitam yang beracun itu, sebuah kilatan cahaya biru terang menyambar penglihatannya. Suara mekanis yang dingin namun berwibawa bergema di kepalanya.

[Ding! Mendeteksi Kondisi Inang yang Mencapai Titik terendah...]

[Sinkronisasi Sistem 'Petani Sultan' Proses penggunaan sistem: 20 % … 40%]

Bab 3--Alat Penyuling Cairan Emas

 Malam hari. Udara Sukacita masih terasa sangat pengap oleh bau sampah, namun suasana di lahan satu hektar itu jelas tampak sepi. Beberapa preman yang menjaga lahan ini untuk dijadikan sampah telah pergi, meninggalkan Aris seorang diri yang masih tidak terima.

 Di depannya, papan kayu bertuliskan 'Milik Keluarga H. Mansur' sudah patah, tergeletak di bawah tumpukan ban bekas yang terbakar. Kebun jati yang hijau telah hilang, berganti menjadi lembah sampah. Aris menggertakan gigi.

 Mana mungkin dia membiarkan lahan miliknya jadi begini! Dia berbeda dengan Rara dan ibunya, dia anak lelaki satu-satunya harapan di keluarga. Dia tidak takut denga mafia sampah dan bos Malik yang entah berantah itu.

 Mereka menutup mulut para petinggi desa? Ia tidak peduli! Ia akan menuntut keadilan versi dia sendiri.

 “Yosh, saatnya bersih-bersih. Kakek gak aka tidur tenang kalau lahannya gini … maaf, kek. Ini salah Aris karena meninggalkan di pusat kota untuk kuliah.”

 Aris melipat lengan bajunya, siap-siap untuk membersihkan sampah.

 Dan itu detik itu pula, layar notifikasi ala hologram kembali muncul di kepalanya.

 [Sinkronisasi Sistem 'Petani Sultan' Proses penggunaan sistem: 60% ... 80% ... 100%!]

​[Ding! Sinkronisasi Berhasil!]

​[Selamat Datang, Inang Aris. Anda telah mengaktifkan Sistem 'Petani Sultan'—Satu-satunya sistem yang mampu mengubah kotoran peradaban menjadi kemilau kekayaan.]

“Gi!” Aris terkejut pasalnya suara itu tiba-tiba muncul dari entah suatu tempat. apa-apaan ini? Situasi absurd juga ada batasnya.

“Siapa disana, keluar anjing! Antek antek malik ya?”

Aris memasang kuda-kuda, matanya yang tajam mengawasi setiap sudut kegelapan di balik tumpukan ban bekas. Namun, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada hening malam yang sesekali dipecahkan oleh suara jangkrik yang terdengar parau karena polusi.

Jendela hologram itu tetap melayang, mengikuti ke mana pun arah pandangan Aris. Warnanya biru neon, berpendar tenang di tengah kegelapan lembah sampah.

[Ding! Harap tenang, Tian Aris. Saya adalah 'AI-Navigator System' yang terikat langsung dengan kesadaran Anda. Saya ada di dalam kesadaran, tuan. Tidak ada antek Boss Malik dalam radius 500 meter.]**

"H-Hologram? Sistem?" 

Aris menurunkan kepalan tangannya. Napasnya masih menderu. Sebagai lulusan SMA yang pernah menjadi anak kuliah—-walau ujung ujungnya putus karena gak ada duit, ia akrab dengan fiksi ilmiah, terutama beberapa cerita novel seperti ginian. tapi mengalaminya sendiri di atas tumpukan sampah adalah hal lain.

Apa dia jadi stres karena baru dipecat dan mengalami halusinasi?

 "Jadi... suara ini cuma aku yang dengar?"

[Benar. Sistem ini dirancang khusus untuk mengubah energi negatif (sampah) menjadi energi positif. Anda berada di lokasi dengan akumulasi limbah B3 tertinggi di wilayah ini. Potensi pengembangan: Tak Terbatas.]

Aris terdiam sejenak. Ia melihat ke arah tangannya yang kotor terkena oli bekas, lalu melihat kembali ke layar itu. "Mengubah sampah... jadi energi positif?"

Lalu Aris tertawa. “Apaan itu? Apa aku jadi kosuke Ueki dari the law of ueki?”

Ia jadi teringat akan cerita kartun yang dia tonton. Itu menceritakan tentang pertarungan antar bakat anak SMP, dimana MC memiliki kemampuan mengubah sampah menjadi pohon.

[Ding!]

[Analogi yang menarik. Meskipun mekanismenya mirip, 'Sistem Petani Sultan' tidak dirancang untuk turnamen antar pemilik bakat, melainkan untuk dominasi ekonomi dan pemulihan ekologi.]

​Aris menyeringai lebar. Kalau dia benar-benar menjadi seperti Ueki, setidaknya dia tidak perlu bingung mencari material. Di depannya bukan lagi tumpukan polusi, tapi "amunisi" yang melimpah.

​ "Oke, oke. Kalau ini bukan halusinasi, buktikan. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aris, nada suaranya kini penuh dengan rasa penasaran yang mendesak.

​ [Misi Pemula: Langkah Pertama Sang Sultan]

[Tujuan: Kumpulkan 10 kg Sampah Plastik (Botol, kantong, atau limbah industri).]

[Hadiah: Alat penyuling cairan emas Lv 1

Bonus 50ml "Cairan Dewa - Nutrisi Purifikasi" Lv.1

Kemampuan bela diri tingkat tinggi]

[Batas Waktu: Sebelum Matahari Terbit.]

“Alat penyuling esensi cairan emas? Apaan itu?”

[Ding! Alat esensi penyuling cairan emas adalah alat penyuling dari sistem, dengan alat ini anda bisa mengubah tumpukan sampah jadi cairan dewa tingkat 1]

[Kemampuan cairan dewa tingkat 1 itu luar biasa mampu menetralkan racun di tanah dalam radius 1x1 meter secara instan. Selain itu, tanaman yang disiram dengan cairan ini akan mengalami percepatan pertumbuhan sebesar 100% dan menghasilkan buah dan hasil berkebun dengan kualitas super yang tidak ada di dunia medis saat ini.]

[Penjelasan tingkat cairan dewa tingkat 1 dapat menetralkan racun dalam 1x1 meter dan  membuat lahan subur 100x lipat dari tanah biasa, setiap tetes cairan.]

[ cairan dewa tingkat 2 dapat menetralkan racu dalam radius 2x2 meter setiap tetesan cairan dewa]

[Cairan dewa tingkat 3 dapat menetralkan racun dan meningkatkan kesuburan dalam radius 5x5 meter setiap satu tetesan]

[Dan yang terakhir! Caira tingkat 5 dapat menetralkan racun dan meningkatkan kesuburan dalam radius 10x10 m setiap tetesan air!]

[Karena level tuan rumah masih kecil, tuan rumah cuma bisa akes radius 1x1 meter saja.]

​Aris menelan ludah. Hitungan 1x1 meter mungkin terdengar kecil, tapi tunggu sebentar. Dia kan bakal dapat 50 ml cairan dewa tingkat satu, dan 10 kg yang bisa dijadikan 100 ml itu artinya dia punya 150 ml.

150 ml jika digunakan semuanya secara matematika! Itu berati hampir 50% dari lahannya bakal kembali subur dong!

Terus hadiah lainnya

"Sepuluh kilo plastik untuk kemampuan bela diri dan cairan ajaib? Ini bukan cuma untung, ini namanya mukjizat tuhan!”

​Tanpa membuang waktu, Aris langsung bergerak. Rasa lelah akibat perjalanan jauh dari kota seketika menguap, digantikan oleh adrenalin yang memuncak. Ia memunguti botol-botol mineral yang sudah menghitam, bungkus-bungkus kemasan deterjen, hingga sisa pipa PVC yang berserakan.

​Setiap kali tangannya menyentuh sampah plastik, sebuah bar indikator di hologramnya meningkat.

​[Proses Pengumpulan: 3kg... 6kg... ]

Namun lahan itu luas, sampah juga berjamaah. Di malam hari yang pekat itu tindakan Aris mengundang beberapa keterkejutan warga desa—yang masih pada asik nongkrong termasuk pak wak darmo.

“Itu si Aris, kan?” bisik salah satu pemuda desa yang sedang nongkrong di pos ronda tak jauh dari batas lahan.

​ Wak Darmo yang sedang menyeruput kopi hitamnya nyaris tersedak. Ia menyipitkan mata, memperhatikan bayangan seorang pemuda yang sedang sibuk membungkuk dan memunguti sampah di tengah kegelapan malam yang beracun itu.

​ “Gila... apa dia sudah putus asa?” gumam warga lain. “Baru sehari pulang, mentalnya sudah kena. Kasihan si Aris, dulu ketua OSIS, sekarang jadi pemulung sampah di tanahnya sendiri yang sudah hancur.”

​ Wak Darmo mendesah berat, matanya memancarkan rasa iba yang mendalam. “Mungkin dia tidak terima lahan kakeknya jadi begitu. Tapi kalau dia ketahuan anak buah Boss Malik, nyawanya bisa hilang. Sampah itu sudah jadi ladang uang buat mereka.”

​Aris tidak peduli dengan bisikan-bisikan itu. Tangannya lebih fokus untuk mengumpulkan sampah dan menyelesaikan pembersihan ini.

Ia memunguti botol-botol mineral yang sudah menghitam, bungkus-bungkus deterjen, hingga sisa pipa PVC yang patah. Setiap kali ia memasukkan sampah ke dalam karung, layar sistem di sudut penglihatannya terus menghitung.

​"Kak Aris! Apa yang kamu lakukan?!"

​Suara melengking Emi terdengar dari kejauhan. Adiknya itu berlari mendekat dengan wajah penuh ketakutan, namun ia berhenti tepat di batas lahan, tak berani menginjak tanah yang berminyak itu.

​"Pulang, kak! Kalau mereka datang dan lihat kakak di sini, mereka nggak akan segan-segan menghajar kakak lagi!" tangis Emi pecah. "Ibu menangis di dalam, Mas. Jangan buat kami makin takut."

​ Aris menoleh, menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pulanglah, Emii. Jaga Ibu. Bilang sama Ibu... mulai hari ini, kakak bakal lakuin sesuatu. Kakak gak akan membiarkan lahan ini diambil oleh siapapun! Kakak akan tuntut keadilan.”

 Menuntut keadilan? Sungguh ucapan yang terlalu idealisme, adiknya sudah putus asa selama bertahun-tahun melihat ibu da para warga yang tidak bisa membantu apapun karena bos mereka Malik adalah salah satu anak dari pejabat kaya raya.

 Kemampuan uang adalah segalanya di dunia mereka menyuap beberapa petinggi untuk menutup mulut, mau melawan pun rakyat kecil seperti mereka gak bakal mampu.

 Namun tatapan dan semangat juang dari sang kakak yang muncul membuat bara api di hati Emi berkibar. Kakaknya sudah pulang! Hal yang selama ini ditunggu-tunggu, rekan untuk melengserkan si malik anak pejabat korup.

 Melihat itu Emi tersenyum dan menangis. 

 Aris melihat adiknya yang masih berdiri terpaku di batas lahan, air mata masih mengalir namun bibirnya tersenyum. Semangat yang terpancar dari Aris seolah menular, memberikan harapan baru bagi Emi yang selama ini hidup dalam ketakutan.

​"Kak..." Emi menghapus air matanya dengan punggung tangan. "Emi nggak mau cuma diam dan nangis lagi. Emi mau bantu Kakak. Lahan ini milik kita, dan kita akan ambil balik semuanya!"

​ Tanpa menunggu persetujuan Aris, Emi melangkah masuk ke area lahan. Meskipun bau busuk itu masih menyengat, ia mulai memunguti botol-botol plastik di dekatnya. Ia tidak lagi peduli dengan ancaman Malik atau preman-premannya; keberadaan kakaknya di sana sudah cukup menjadi perisai baginya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!