Cahaya putih monitor memantul di kedua bola mata hitam Calypsa yang dihiasi bulu mata hitam panjang miliknya. Cekungan hitam di bawah mata dan lebih dari 5 kali ia menguap, menunjukkan rasa kantuk dan lelah karena tidak tidur lebih dari 15 jam. Sesekali ia meregangkan tubuhnya dan melihat ke luar jendela kecil tepat di samping ia duduk, pemandangan malam kota Aethelgard yang sendu dan tenang dalam guyuran hujan.
Kota Aethelgard memiliki otonomi daerah khusus di mana mafia dan pemerintah pusat bekerja sama melindungi kota lewat jaringan underground yang dikuasai oleh para mafia. Bagaimana para mafia dan pejabat pemerintah bertemu? Dunia digital yang dilindungi cyber security khusus yang kuat yang sulit sekali diretas adalah jawabannya, The Iron Digi.
Calypsa menyelesaikan pekerjaan terakhirnya dengan menggantikan sosok berbaju hitam dengan orang lain pada sebuah video CCTV milik client khususnya dari deep web. Siapa saja client khususnya itu? Ya, para mafia Aethelgard.
Seluruh penghuni Aethelgard mengetahui jika Calypsa adalah seorang freelancer video editor yang mengedit video para content creator sehingga lebih menarik untuk diunggah pada social media. Namun, hanya gelapnya malam yang mengetahui jika ia menerima client mafia untuk menghapus jejak digital mereka dalam merencakan misi. Silent Queen, itulah inisialnya di deep web.
Calypsa mengecek sekali lagi video hasil editannya. Ia memastikan tidak ada yang terlewat, karena jika lalai dalam tugas ini, nyawa taruhannya. Sesekali ia menyeruput kopi hitam yang sudah tidak panas lagi itu. Tiba-tiba , ia melihat ada bagian yang tertinggal, tapi ada yang aneh pada video itu. Lelaki tampan berkemeja hitam dengan mata tajamnya melihat langsung ke arah CCTV, seakan-akan melihat langsung ke arah Calypsa. Pria di layar itu memiliki rahang yang tegas dan mata yang mendinginkan suhu kamarnya seketika. Ada kegelapan yang pekat di sana, jenis kegelapan yang seharusnya Calypsa hindari, tapi entah kenapa malah membuatnya terpaku. Tubuhnya bergidik, menyadari aura berbahaya dari lelaki tersebut. Calypsa tahu betul lelaki itu, Cyrus, ketua geng mafia yang paling besar di seantero Aethelgard.
Segera ia hilangkan sosok itu, sehingga hanya tembok berbata merah saja yang terlihat. Dia memastikan tidak ada pantulan kaca yang menangkap sosok tersebut. Sekali lagi, Calypsa melakukan cek ulang sebelum merender pekerjaannya. Setelah dirasa aman, Calypsa mengupload kembali video editannya ke dalam file deep web clientnya. Sambil menunggu video terupload sempurna, Calypsa mencari foto Cyrus di dalam deep web, diamatinya sosok penuh karisma yang memiliki aura dingin tersebut. Tanpa sengaja, mata Calypsa melihat tato geng berbentuk ular yang sama dengan tato geng kakaknya dibalik jam tangan yang Cyrus kenakan. Ia baru tahu sekarang, setelah kejadian brutal 2 tahun yang lalu bahwa kakaknya, Apo, anak buah dari Cyrus.
Ingatannya kembali pada kejadian berdarah 2 tahun yang lalu, kejadian yang menjadi alasan ia memilih pekerjaan beresiko ini, karena sekali lengah, lokasinya akan mudah terlacak. Kakaknya meninggal dalam insiden penyerangan mafia asing di Aethelgard. Aethelgard adalah kota yang bersih dari narkoba, oleh karena itu banyak sekali mafia asing yang ingin membangun dan menguasai bisnis narkoba di Aethelgard.
Saat itu, kakaknya sudah bersimbah darah namun tetap melawan para mafia asing. Seorang rekan mafia kakaknya segera menarik Apo untuk keluar dari medan berbahaya tersebut. Calypsa yang mengikuti Apo tanpa bisa berbuat apa-apa, segera keluar dari tempat persembunyiannya saat ia merasa kondisi sudah aman. Namun terlambat, takdir berkata lain. Tubuh Apo sudah terlalu lelah untuk bertahan. Calypsa hanya bisa menangis tertahan, ia tidak ingat siapa yang menolong Apo. Ia hanya ingat tato yang sama dengan milik Apo, terlukis di tangan kiri di bawah jam tangan hitamnya. Selain itu, suara dingin yang mengatakan, "Rekan kami akan mengurus pemakamannya, kamu nggak usah khawatir." setelah itu, pria itupun pergi. Dari dalam hati kecilnya, Calypsa bertekad, ia harus mencari tahu siapa yang telah menolong Apo dan berusaha untuk membantu para mafia tanpa harus menjadi anggota geng sebagai balas budinya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, tanpa curiga, Calypsa mengangkatnya. "Got you Silent Queen. Keluarlah, saya sudah di depan pintu rumahmu." ujar suara dingin yang sangat mengejutkan Calypsa. Calypsa segera memutuskan sambungan dan memeriksa security laptopnya. "Sial." ujarnya pasrah. Security sistem pada laptopnya lupa ia nyalakan, sehingga mudah untuk para client deep web menemukan lokasinya. Tanpa banyak alasan dan pasrah, Calypsa berjalan gontai menuju pintu rumahnya, pikirannya kosong, tidak mau memikirkan apa-apa. Ia membuka pintu, ia terkesiap dan reflek menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.
Di depannya berdiri seseorang yang wajahnya baru saja dia lihat di layar monitor laptopnya, Cyrus, dengan rahang tegas dan tajam, mata coklat tua, rambut pendek hitam yang berantakan. Sosok aslinya lebih tampan daripada foto itu berdiri di hadapan Calypsa.
Di depannya berdiri seseorang yang wajahnya baru saja dia lihat di layar monitor laptopnya, Cyrus, dengan rahang tegas dan tajam, mata coklat tua, rambut pendek hitam yang berantakan. Sosok aslinya lebih tampan daripada foto itu berdiri di hadapan Calypsa.
Cyrus mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang dilipat hingga siku, celana hitam, dan sepatu kulit yang berkilat meski malam ini hujan turun cukup deras. Bahunya yang lebar menutupi sebagian besar bingkai pintu, membuat koridor sempit di depan rumah kontrakan Calypsa terasa semakin pengap. Di belakangnya, dua pria berpostur besar berdiri diam seperti patung, wajah mereka kosong dan tangan mereka terselip di dalam jaket masing-masing.
Calypsa tidak bergerak. Kakinya terasa disemen ke lantai.
"Kamu tidak mengundangku masuk?" ujar Cyrus, suaranya rendah dan tenang, tidak ada nada ancaman di sana. Justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Calypsa meremang lebih dari ancaman sekalipun.
Calypsa menelan ludah keras. Otaknya yang biasanya bekerja cepat mendadak berhenti berfungsi. Selama dua tahun ia bekerja di dunia bawah tanah digital Aethelgard, ia selalu berhasil menjaga jarak antara dirinya dan para klien. Tidak ada yang pernah tahu wajahnya. Tidak ada yang pernah mengetuk pintu kontrakannya yang terletak di sudut paling ujung gang Westhallow, jauh dari jangkauan kamera umum.
Sampai malam ini.
Calypsa melangkah mundur satu langkah, memberi ruang bagi Cyrus untuk masuk. Ia tidak punya pilihan lain. Menolak pria dengan dua bodyguard di belakangnya di tengah malam buta adalah keputusan paling bodoh yang bisa ia ambil.
Cyrus masuk tanpa permisi lebih lanjut. Kedua bodyguard-nya tetap berdiri di luar, namun salah satu dari mereka menutup pintu dari sisi luar. Calypsa mendapati dirinya terkunci di dalam rumahnya sendiri bersama ketua mafia terbesar di Aethelgard.
Cyrus berjalan perlahan mengelilingi ruang kerja Calypsa yang sempit. Matanya menyapu tiga monitor yang masih menyala, tumpukan hard disk eksternal yang tersusun rapi di rak kayu, kabel-kabel yang diikat dengan pengikat plastik berwarna hitam, serta satu cangkir kopi yang sudah dingin di sudut meja. Ekspresinya tidak berubah, tapi Calypsa bisa merasakan bahwa pria itu sedang mencatat setiap detail ruangan ini ke dalam kepalanya.
"Lebih rapi dari yang aku bayangkan." gumam Cyrus, lebih ke diri sendiri daripada kepada Calypsa.
Calypsa memilih diam, berdiri di dekat pintu dapur dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya. Ia menghitung jarak antara dirinya dan pintu belakang. Terlalu jauh. Dan terlalu bodoh untuk dicoba.
Cyrus akhirnya berhenti di depan monitor utama. Di layar itu masih terbuka file video yang sudah ia selesaikan, lengkap dengan layer-layer editing yang ia susun selama berjam-jam. Cyrus menundukkan kepala sedikit, mengamati tampilan software editing tersebut dengan tatapan yang membuat Calypsa merasa seperti semua kerja kerasnya sedang dibedah satu per satu.
"Kamu pakai frame-by-frame AI inpainting." bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Cyrus berbalik menghadap Calypsa. "Siapa yang mengajarimu?"
Calypsa mengerutkan dahi tipis-tipis, tidak menduga pertanyaan itu yang keluar pertama. "Otodidak."
Cyrus menatapnya selama beberapa detik tanpa berkedip. Calypsa menahan diri agar tidak memalingkan wajah karena tatapan itu terasa seperti sorotan lampu penyidik yang menelanjangi setiap kebohongan yang pernah ia ucapkan dalam hidupnya.
"Kamu tahu kenapa aku di sini." Cyrus akhirnya berkata.
"Security sistem laptopku lupa aku nyalakan." jawab Calypsa datar.
Sudut bibir Cyrus bergerak hampir tidak terlihat. Bukan senyum sepenuhnya, lebih kepada pengakuan singkat atas kejujuran yang tidak ia duga dari wanita di hadapannya. "Kelalaian yang mahal."
"Saya tahu." Calypsa menunduk sebentar, menahan tarikan napas panjang yang ingin sekali ia lepaskan. "Jadi, apa yang akan Anda lakukan sekarang?"
Cyrus tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi kerja Calypsa tanpa permisi dan duduk di sana dengan santai, satu tangannya bertumpu di lutut dan matanya tetap terpaku pada Calypsa. Ia terlihat sangat tidak asing di ruangan ini, padahal baru beberapa menit yang lalu ia belum pernah menginjakkan kaki ke sini. Ada sesuatu yang sangat mengganggu dari ketenangan itu.
"Pekerjaan yang kamu kerjakan untuk kami malam ini adalah yang terbaik yang pernah kami terima dari siapapun." ujar Cyrus. "Tidak ada celah. Tidak ada artefak visual. Tidak ada satu piksel pun yang mencurigakan." ia berhenti sejenak. "Hampir."
Hampir.
Calypsa merasakan perutnya turun tiba-tiba. Cyrus mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan layarnya kepada Calypsa dari jarak yang cukup dekat sehingga ia harus melangkah maju dua langkah untuk melihatnya. Di layar itu adalah tangkapan layar dari video yang sudah ia kira sempurna, diperbesar pada satu titik di sudut bawah kanan, tepat di permukaan jam tangan mewah milik Cyrus yang tertangkap kamera dari sudut yang sangat tidak terduga.
Di pantulan kecil yang hampir tidak terlihat oleh mata biasa itu, ada bayangan layar monitor dan siluet seseorang yang sedang duduk di depannya.
Calypsa.
"Resolusi kamera CCTV di lorong itu ternyata lebih tinggi dari spesifikasi yang dicantumkan klienmu di brief." ujar Cyrus dengan nada yang tetap datar. "Kesalahan informasi dari pihak mereka. Bukan kamu."
Calypsa menatap layar itu dan merasakan dingin yang menjalar dari ujung jari hingga ke tengkuk lehernya. Selama dua tahun ia tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun. Dan satu malam dengan satu ketidakakuratan data dari klien, seluruh identitasnya terancam.
"Tapi itu sudah cukup bagiku untuk menemukanmu." lanjut Cyrus, menarik kembali ponselnya dan memasukkannya ke saku kemeja. "Aku menggunakan sistem facial reconstruction dari bayangan itu. Butuh dua jam."
Calypsa tidak berkata apa-apa. Dua jam. Hanya dua jam bagi pria ini untuk menemukan wajah yang selama ini ia jaga dengan sangat ketat.
"Jadi kamu di sini untuk membungkam saya." suara Calypsa keluar lebih stabil dari yang ia perkirakan.
Cyrus memiringkan kepalanya sedikit. "Kalau itu tujuanku, aku tidak perlu repot-repot mengetuk pintu."
Calypsa mengakui logika itu dalam diam.
Cyrus berdiri dari kursi, tinggi badannya yang menjulang kembali memenuhi ruangan sempit itu. Ia berjalan mendekati Calypsa perlahan, berhenti pada jarak yang cukup jauh untuk tidak terasa mengancam secara fisik, namun cukup dekat untuk membuat Calypsa sangat sadar akan kehadirannya.
"Aku butuh seseorang sepertimu bekerja secara eksklusif untuk geng kami." ujarnya. "Bukan lagi sebagai kontraktor lepas dari deep web. Tapi sebagai bagian langsung dari operasional kami."
Calypsa mengangkat matanya, menatap langsung wajah Cyrus untuk pertama kalinya dengan tatapan yang tidak melarikan diri. "Itu bukan tawaran. Itu perintah."
"Kamu cerdas." jawab Cyrus singkat, tanpa nada mengejek.
Calypsa menarik napas perlahan. Pikirannya berputar dengan cepat, menimbang semua kemungkinan yang ada. Ia bisa menolak dan berakhir dengan cara yang tidak ingin ia bayangkan. Ia bisa pura-pura setuju lalu kabur, tapi dengan sistem pelacakan yang bisa menemukan bayangannya di pantulan jam tangan dalam dua jam, kemungkinan berhasil nyaris nol. Atau ia bisa menerima, dan menggunakan posisi ini untuk menemukan apa yang selama ini ia cari.
Tato ular di pergelangan tangan kiri Cyrus.
Tato yang sama persis dengan yang ada di tangan kiri kakaknya, Apo.
Tato yang sama dengan yang terlihat samar-samar di tangan seorang pria yang berusaha menyelamatkan Apo dua tahun lalu di malam penyerangan itu.
Selama ini Calypsa mencari identitas pria penolong itu di antara ribuan file deep web yang melintas di mejanya. Dan malam ini, jawaban itu berdiri di depannya dengan kemeja hitam dan mata coklat tua yang dingin.
Apakah Cyrus adalah pria itu? Atau ia hanya satu dari banyak anggota geng kakaknya yang mengenakan tato yang sama?
Calypsa membutuhkan waktu di dalam lingkaran itu. Ia membutuhkan akses. Dan Cyrus baru saja menawarkan keduanya dengan cara yang tidak ia duga.
"Baik." ujar Calypsa akhirnya, suaranya tetap rata. "Tapi ada syaratnya."
Alis Cyrus terangkat tipis, pertanda pertama bahwa pria itu sedikit terkejut.
"Saya tetap bekerja dari jarak jauh. Tidak ada yang tahu wajah saya. Identitas Silent Queen tidak berubah."
Calypsa menatap Cyrus langsung. "Dan saya tidak memegang senjata."
Keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Suara hujan di luar semakin keras, mengetuk kaca jendela kecil di samping meja kerja Calypsa dengan ritme yang tidak teratur.
Cyrus mengangguk sekali, singkat dan tegas. "Disetujui."
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Tangannya menyentuh gagang pintu, lalu ia berhenti tanpa berbalik.
"Besok malam, seseorang akan menghubungimu melalui jalur baru. Ikuti instruksinya." ujar Cyrus. Lalu ia membuka pintu dan melangkah keluar, hilang ke dalam malam yang basah bersama kedua bayangannya seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Calypsa berdiri diam di tengah ruangannya sendiri selama hampir satu menit penuh setelah suara langkah kaki itu menghilang.
Kemudian ia duduk di kursi kerjanya yang masih hangat karena baru saja diduduki Cyrus, menatap tiga layar yang masih menyala, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Calypsa merasa sesuatu yang aneh bersarang di dadanya.
Bukan ketakutan.
Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu.
Harapan.
Calypsa tidak tidur malam itu.
Bukan karena ia tidak mengantuk. Kantuknya sudah mencapai batas yang membuat kelopak matanya terasa seperti diisi pasir. Tapi setiap kali ia mencoba memejamkan mata di atas kasur tipisnya, bayangan mata coklat tua itu muncul di balik gelap, menatapnya dengan ketenangan yang lebih mengusik daripada ancaman terang-terangan manapun yang pernah ia terima.
Ia akhirnya menyerah pada jam empat pagi.
Calypsa bangkit, menyeduh kopi baru, dan duduk kembali di kursi kerjanya. Ia mulai melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan, mengaudit seluruh sistem keamanannya dari nol. Ia mengaktifkan kembali firewall berlapis yang sengaja ia matikan kemarin karena mengira malam itu hanya akan menjadi malam kerja biasa. Kesalahan yang hampir merenggut segalanya.
Hampir.
Ia menelusuri log sistem laptopnya dengan teliti, mencari jejak bagaimana Cyrus masuk. Dua jam, katanya. Hanya dua jam menggunakan facial reconstruction dari bayangan sekecil pantulan di jam tangan untuk menemukan alamat tempat tinggalnya. Calypsa menggigit bagian dalam pipinya pelan. Itu bukan kemampuan sembarangan. Artinya geng Cyrus punya akses ke teknologi pengenalan wajah yang jauh melampaui apa yang tersedia untuk publik, bahkan untuk komunitas deep web sekalipun.
Calypsa membuat catatan di buku kecil yang selalu ia simpan di laci paling bawah mejanya, buku yang tidak pernah ia sentuh menggunakan perangkat digital apapun. Ia menuliskan satu pertanyaan di sana.
"Siapa yang menyuplai teknologi itu?"
Karena kalau Cyrus punya akses ke sistem seperti itu, maka musuh-musuh Cyrus juga mungkin punya. Dan jika Calypsa sekarang bekerja langsung untuk geng Cyrus, maka ia secara otomatis masuk ke dalam radar musuh-musuh itu juga.
Ia menutup buku kecil itu dan memasukkannya kembali ke laci.
Satu masalah dalam satu waktu.
Siang harinya, Calypsa menyelesaikan dua proyek editing video biasa, sebuah video ulang tahun dengan transisi yang berlebihan sesuai permintaan klien dan satu video promosi warung makan dengan filter yang terlalu cerah. Pekerjaan yang membosankan, tapi itulah wajah publik yang ia jaga dengan sangat hati-hati. Calypsa si editor video freelance yang tidak menarik, yang tinggal di gang sempit, yang menyeruput kopi murahan sambil mengedit klip ulang tahun orang lain.
Tidak ada yang perlu curiga pada seseorang seperti itu.
Malam tiba dengan perlahan. Hujan yang kemarin mengguyur Aethelgard sudah berhenti sejak siang, digantikan oleh langit mendung yang rendah dan angin lembab yang menyelinap masuk melalui celah jendela. Calypsa menyalakan lampu meja, memanaskan sisa kopi dari tadi siang, dan menunggu.
Tepat pukul sembilan malam, sebuah notifikasi masuk ke salah satu akun deep web-nya yang sudah lama tidak aktif, akun yang bahkan ia hampir lupa pernah ia buat tiga tahun lalu sebagai cadangan darurat.
Pesan itu pendek.
"Ganti jalur enkripsi ke protokol yang terlampir. Hapus pesan ini setelah membaca. Kamu punya dua menit."
Terlampir adalah serangkaian kode yang panjangnya membuat Calypsa mengerutkan dahi. Ia membacanya dengan cepat, menganalisa strukturnya, dan merasakan sesuatu yang tidak terduga muncul di dadanya karena decak kagum yang ia tahan agar tidak keluar secara nyata.
Protokol ini bukan buatan sembarangan orang.
Calypsa bekerja dengan cepat, mengikuti instruksi, mengatur ulang jalur enkripsi di perangkat kerjanya, memindahkan semua komunikasi aktif ke saluran baru yang terbentuk dari protokol tersebut. Tepat sebelum dua menit habis, ia menghapus pesan awal itu hingga tidak meninggalkan satu byte pun di server manapun.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan baru masuk melalui jalur yang baru saja ia buat.
"Bagus. Kamu cepat."
Calypsa mengetik balasan. "Siapa ini?"
"Sebut saja Voss. Aku yang akan jadi penghubungmu dengan operasional kami mulai sekarang."
"Dimana Cyrus?"
Ada jeda beberapa detik sebelum balasan masuk.
"Ketua tidak berkomunikasi langsung dengan aset lapangan."
Calypsa menatap kalimat itu. Aset lapangan. Menarik pilihan katanya. Ia tidak mau memikirkan terlalu jauh apa implikasi dari label itu untuk posisinya sekarang.
"Baik." ketiknya. "Apa tugasku?"
Voss mengirimkan sebuah file terenkripsi. Calypsa membukanya setelah melalui tiga lapisan dekripsi dan mendapati isinya adalah rekaman CCTV dari sebuah pertemuan yang terjadi tiga hari lalu di sebuah restoran kelas atas di distrik utara Aethelgard. Di dalam rekaman itu, terlihat dua pria sedang berbicara di meja sudut yang jauh dari kamera. Kualitas video cukup baik, tapi wajah salah satu pria terlalu gelap karena posisi pencahayaan restoran yang tidak menguntungkan.
"Kami butuh identitas pria yang duduk di sebelah kanan. Wajahnya harus bisa dikenali dengan jelas." tulis Voss. "Deadline, sebelum tengah malam."
Calypsa melihat jam di sudut layarnya. Tiga jam.
Ia meletakkan jarinya di atas keyboard dan mulai bekerja.
Ini berbeda dari pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Dulu ia menghapus jejak, menghilangkan sosok dari rekaman, membuat sesuatu yang ada menjadi seolah tidak pernah ada. Tapi sekarang ia diminta melakukan kebalikannya, memperjelas sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh pencahayaan dan sudut kamera.
Calypsa membuka software AI enhancement miliknya, memilah frame per frame, menganalisa sumber cahaya dalam setiap gambar, lalu mulai membangun ulang detail wajah pria itu menggunakan algoritma rekonstruksi yang ia kembangkan sendiri selama dua tahun terakhir. Prosesnya lambat dan membutuhkan konsentrasi penuh karena setiap keputusan yang ia buat dalam memilih parameter enhancement akan menentukan apakah hasilnya akurat atau justru menciptakan wajah yang salah.
Ia tidak bisa salah. Bukan di pekerjaan pertama ini.
Satu jam berlalu. Calypsa tidak beranjak dari kursinya kecuali sekali untuk mengambil segelas air karena tenggorokannya mulai kering. Matanya sudah terasa perih lagi, mengingatkannya pada malam-malam panjang sebelum ini, tapi ia tidak memperlambat langkahnya.
Perlahan, wajah pria di rekaman itu mulai terbentuk.
Calypsa memperbesar hasilnya dan mengamatinya dengan seksama. Pria berusia sekitar lima puluhan, rambut beruban di pelipis, bekas luka tipis di dagu sebelah kiri. Ia menjalankan hasil enhancement ini melalui database yang ia miliki, kumpulan foto-foto yang ia kumpulkan dari berbagai sumber selama bertahun-tahun bekerja di dunia bawah tanah digital Aethelgard.
Sistem membutuhkan beberapa menit untuk mencocokkan.
Saat hasilnya muncul, Calypsa menghentikan gerakan tangannya sejenak.
Pria itu adalah Direktur Biro Keamanan Siber Aethelgard yang baru dilantik enam bulan lalu, pejabat pemerintah yang namanya sering muncul di media lokal sebagai sosok yang katanya akan "membersihkan" jaringan kriminal digital di kota ini.
Ia sedang duduk bersama salah satu petinggi geng mafia asing yang sejak setahun terakhir mencoba merangsek masuk ke Aethelgard.
Calypsa memandangi dua wajah di layarnya itu dalam diam selama beberapa detik.
Kemudian ia mengetik laporan singkat yang menyertakan nama, jabatan, dan seluruh data yang ia temukan, mengenkripsinya dengan protokol Voss, dan mengirimkannya tepat satu jam dua puluh menit sebelum tengah malam.
Balasan dari Voss datang dalam waktu kurang dari tiga menit.
"Luar biasa. Akurasi tinggi dan waktu pengerjaan di bawah ekspektasi."
Calypsa tidak membalas pujian itu.
"Ada pertanyaan." ketiknya.
"Apa?"
"Pria di rekaman itu, direktur Biro Keamanan, apakah ini berkaitan dengan penyerangan dua tahun lalu?"
Kali ini jedanya lebih panjang. Calypsa menghitung hampir dua menit berlalu sebelum balasan muncul.
"Kenapa kamu tanya itu?"
Calypsa menatap pertanyaan balik itu. Ia menimbang seberapa banyak yang ingin ia ungkapkan, seberapa jauh ia bisa mendorong tanpa menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu.
"Saya punya kepentingan pribadi pada insiden itu." ketiknya akhirnya. "Kakak saya salah satu korbannya."
Lagi-lagi jeda panjang. Calypsa sudah hampir mengira Voss tidak akan membalas ketika kalimat itu akhirnya muncul di layarnya.
"Sampaikan pertanyaan itu langsung kepada ketua."
Calypsa mengerutkan dahi. "Kamu bilang ketua tidak berkomunikasi langsung dengan aset lapangan."
"Aku tahu apa yang aku bilang." jawab Voss. "Tapi ini pengecualian. Besok malam, kamu dipanggil ke markas."
Calypsa menelan ludah pelan.
Selama ini ia bekerja di balik layar, di balik enkripsi berlapis, di balik identitas yang tidak punya wajah. Sekarang ia diminta hadir secara fisik di tempat yang paling berbahaya yang bisa ia bayangkan, jantung dari operasional geng mafia terbesar di Aethelgard.
Ia mengetik satu kata.
"Baik."
Voss mengirimkan alamat dan instruksi protokol keamanan yang harus ia ikuti sebelum tiba. Kemudian, seperti biasa, percakapan itu berakhir tanpa basa-basi penutup, seperti sambungan telepon yang diputus di tengah kalimat.
Calypsa menutup laptop dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap langit-langit kamarnya yang retak di beberapa bagian, diam, membiarkan keheningan malam Aethelgard yang lembab menyelimutinya.
Besok malam ia akan masuk ke kandang macan.
Dan entah kenapa, untuk pertama kali sejak dua tahun, Calypsa merasa ia sudah cukup siap untuk melakukannya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!