Indonesia
NovelToon NovelToon

Pendekar Mulut Sampah

Sistem Pembicara Sampah Surgawi Aktif

Langit di Benua Awan Surgawi memancarkan warna jingga kemerahan yang sangat menyilaukan pandangan mata telanjang. Awan-awan tebal berbentuk pusaran badai menggantung sangat rendah di atas puncak-puncak gunung berbatu tajam.

Angin kencang bertiup membawa aroma karat dan bau tanah basah yang langsung menyengat rongga hidung. Daun-daun bambu bergesekan dengan kasar, menghasilkan suara melengking yang terdengar seperti jeritan roh-roh penasaran.

Di bawah salah satu lereng gunung yang terpencil, berdiri sebuah gubuk kayu reyot yang nyaris runtuh tertiup angin. Dinding-dinding kayunya sudah lapuk dimakan usia, penuh dengan lubang sebesar kepalan tangan manusia dewasa.

Li Zhen terbangun dengan napas yang tersedak hebat di tenggorokannya. Tangannya langsung mencengkeram dadanya sendiri, meremas jubah kain kasarnya karena jantungnya berdetak sangat liar.

Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya, membuat kain jubah itu menempel tidak nyaman pada kulitnya yang pucat. Dia mengerjap-erjapkan matanya yang terasa sangat perih, berusaha memfokuskan pandangan pada langit-langit gubuk yang bocor.

Sensasi pusing yang luar biasa menghantam kepalanya, seolah-olah ada seseorang yang memukul tengkoraknya dengan palu besi raksasa. Li Zhen mengerang kesakitan dengan suara serak, memiringkan tubuhnya di atas ranjang kayu yang langsung berderit keras.

Tangannya yang gemetar meraba permukaan ranjang, merasakan tekstur kayu kasar yang penuh dengan serpihan tajam. Ini jelas bukan kasur empuk di apartemen modernnya yang selalu dia rapikan setiap pagi.

Ingatan-ingatan asing tiba-tiba membanjiri otaknya seperti air bah yang menjebol bendungan rapuh. Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangan, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan jeritan rasa sakit.

Gambaran tentang sebuah dunia di mana manusia bisa terbang di atas pedang dan membelah gunung terlintas jelas di benaknya. Di dunia ini, kekuatan bela diri dan kultivasi adalah satu-satunya hukum mutlak yang menentukan hidup matinya seseorang.

Sialnya, dia menyadari bahwa dia baru saja bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang memiliki nama yang sama dengannya. Li Zhen di dunia ini dikenal sebagai sampah terbesar di seluruh wilayah Sekte Teratai Angin.

Pemilik tubuh asli ini tidak memiliki sedikit pun bakat kultivasi dan meridiannya cacat sejak lahir. Dia selalu menjadi sasaran empuk pukulan para murid luar lainnya yang ingin melampiaskan amarah mereka.

Li Zhen modern mengusap wajahnya dengan kasar, meninggalkan noda debu hitam di kedua pipinya yang tirus. Dia menatap kedua telapak tangannya yang kurus kering, tidak percaya dengan nasib buruk yang menimpanya.

"Dari miliaran orang di bumi, kenapa harus aku yang dilempar ke tempat terkutuk yang tidak memiliki internet ini?" gumamnya dengan nada penuh keputusasaan. Bahunya merosot turun, menunjukkan betapa hancur mentalnya menghadapi kenyataan yang tidak masuk akal ini.

Dia mencoba duduk perlahan, namun rasa nyeri di sekujur tubuhnya memaksanya untuk kembali berbaring. Tubuh ini dipenuhi oleh memar berwarna keunguan akibat pukulan yang diterimanya kemarin sore dari saudara sepupunya sendiri.

Rasa lapar yang sangat menyiksa mulai meremas perutnya, membuatnya merasa mual dan ingin muntah. Li Zhen menoleh ke samping, menatap sebuah kendi tanah liat retak yang tergeletak di atas lantai tanah yang kotor.

Dengan sisa tenaganya yang sangat sedikit, dia merangkak turun dari ranjang kayu yang keras tersebut. Lututnya membentur lantai tanah, menciptakan suara debuk pelan yang menggema di dalam gubuk sunyi itu.

Dia meraih kendi itu dengan tangan gemetar, lalu menenggak sisa air keruh di dalamnya dengan sangat rakus. Air itu terasa berpasir dan berbau lumut, namun dia tidak memiliki pilihan lain untuk meredakan dahaganya.

Setelah meletakkan kendi itu kembali, Li Zhen bersandar pada kaki ranjang sambil mengatur napasnya yang memburu. Matanya menatap kosong ke arah pintu gubuk yang engselnya sudah terlepas sebelah.

"Dunia kultivasi yang kejam, tubuh yang cacat, dan status sebagai samsak tinju berjalan," bisiknya dengan senyum sinis yang getir. "Ini bukan cerita petualangan pahlawan, ini adalah hukuman mati yang ditunda eksekusinya."

Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan rasa marah pada ketidakadilan takdir. Tidak ada artefak dewa, tidak ada kakek misterius di dalam cincin, dia benar-benar terdampar tanpa modal apa pun.

Tepat ketika keputusasaan mulai menelan seluruh kewarasannya, sebuah suara dentingan tajam bergema di dalam kepalanya. Suara itu terdengar sangat mekanis, persis seperti suara notifikasi dari sistem komputer canggih.

[Ting!]

Li Zhen tersentak kaget, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik mencari sumber suara aneh tersebut. Jantungnya kembali berdegup kencang, takut jika ada kultivator jahat yang sedang menyusup ke dalam gubuknya.

Sebuah layar transparan berwarna biru neon tiba-tiba muncul di udara, melayang tepat sepuluh sentimeter di depan wajahnya. Cahaya biru dari layar itu menerangi wajahnya yang pucat, membuat bayangannya menari-nari di dinding kayu gubuk.

Li Zhen memundurkan kepalanya secara refleks, matanya membelalak lebar melihat fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh logika tersebut. Dia menggosok kedua matanya dengan punggung tangan, memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi karena kelaparan.

Namun layar biru itu tetap ada di sana, menampilkan deretan teks bercahaya yang bergerak dari bawah ke atas. Suara mekanis itu kembali terdengar, kali ini bergema langsung di pusat pikirannya.

[Inisiasi selesai. Sistem Pembicara Sampah Surgawi berhasil mengikat inang: Li Zhen.]

Mulut Li Zhen terbuka sedikit, napasnya tertahan saat membaca nama sistem yang tertulis di layar tersebut. "Sistem Pembicara Sampah? Nama macam apa itu, apakah sistem ini menyuruhku bekerja sebagai pemulung?" protesnya dengan dahi berkerut tajam.

Layar biru itu berkedip sekali, lalu barisan teks baru muncul menggantikan teks yang lama.

[Menjawab Inang: Sistem ini dirancang untuk menyerap Energi Emosi Negatif dari target melalui provokasi verbal. Semakin hancur mental dan Dao Heart target akibat ucapan Anda, semakin besar Poin Sampah yang Anda dapatkan.]

Li Zhen membaca penjelasan itu dengan sangat lambat, mencoba mencerna setiap kata yang terpampang di depannya. Matanya yang tadinya memancarkan keputusasaan kini mulai menunjukkan secercah harapan yang licik.

"Jadi, pada dasarnya aku hanya perlu menghina dan memaki orang-orang di dunia kultivasi ini sampai mereka gila?" tanyanya untuk memastikan. Sebuah senyuman lebar perlahan mengembang di wajahnya, mengubah ekspresinya dari seorang korban menjadi seorang predator.

Di kehidupan masa lalunya, Li Zhen adalah seorang raja debat internet yang tangannya bisa mengetik ribuan kata cacian dalam semenit. Dia tidak pernah kalah dalam adu argumen, dan mulutnya terkenal sangat kejam dalam menguliti kelemahan lawan.

[Tepat sekali, Inang. Poin Sampah dapat ditukarkan di Toko Sistem untuk meningkatkan atribut fisik, membeli teknik kultivasi, atau menyembuhkan luka.]

Mendengar penjelasan tambahan itu, Li Zhen tertawa kecil hingga bahunya berguncang pelan. Tawanya terdengar agak menakutkan di dalam gubuk reyot itu, seolah seorang penjahat besar baru saja menemukan senjata pemusnah massal.

"Dunia kultivasi ini sangat mengagungkan Dao Heart dan ketenangan batin yang kuat," gumam Li Zhen sambil mengusap dagunya. "Jika aku bisa menghancurkan ketenangan mereka hanya dengan kata-kata, maka aku memiliki kekuatan yang lebih mematikan dari pedang mana pun."

2

Layar biru itu kembali berbunyi Ting! dan menampilkan panel status karakternya saat ini.

[Status Inang][Nama: Li Zhen] [Kultivasi: Manusia Fana (Cacat Meridian)] [Kekuatan Fisik: 3 (Sangat Lemah)] [Poin Sampah: 0]

Li Zhen mendecakkan lidahnya melihat angka tiga pada kekuatan fisiknya yang menyedihkan itu. Dia melipat tangannya di dada, merasa sedikit tersinggung dengan kejujuran sistem yang terlalu brutal tersebut.

[Paket Hadiah Pemula telah tersedia. Apakah Inang ingin membukanya sekarang?]

"Buka, tentu saja buka!" jawab Li Zhen dengan nada tidak sabar, matanya menatap layar biru itu dengan penuh nafsu. Dia sangat membutuhkan sesuatu untuk menyembuhkan rasa sakit di sekujur tubuhnya ini.

Sebuah animasi kotak kado emas terbuka di layar, memancarkan cahaya terang yang membuat Li Zhen harus menyipitkan matanya.

[Ding! Selamat Inang mendapatkan: 'Mata Penilai Kelemahan' (Pasif) dan 1 Pil Penyembuh Tingkat Rendah.]

Li Zhen segera memberikan perintah mental untuk mengekstrak pil penyembuh tersebut dari inventaris sistem. Sebuah pil kecil berwarna hijau pucat muncul entah dari mana dan jatuh tepat ke telapak tangannya.

Pil itu mengeluarkan aroma herbal yang sangat menyegarkan, seketika menghilangkan bau apak di dalam ruangan tersebut. Tanpa ragu sedikit pun, Li Zhen langsung melempar pil itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.

Aliran energi hangat langsung meledak di dalam perutnya, menyebar dengan cepat ke seluruh jalur nadinya yang rusak. Sensasi gatal yang nyaman terasa di area kulitnya yang memar, menandakan bahwa sel-sel tubuhnya sedang diperbaiki dengan kecepatan kilat.

Li Zhen menghela napas panjang penuh kelegaan, otot-otot wajahnya yang tadinya tegang kini mengendur sepenuhnya. Rasa sakit yang menyiksanya sejak dia membuka mata tadi telah hilang tanpa bekas.

Dia bangkit berdiri dengan mudah, tidak ada lagi rasa gemetar atau lemas pada kedua kakinya. Dia mengepalkan tangannya, merasakan energi yang cukup solid mengalir di balik kulit kasarnya meskipun dia belum memiliki kekuatan spiritual.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki berat yang mendekat dari luar gubuk. Suara langkah itu sengaja dihentakkan dengan keras ke tanah, menunjukkan arogansi si pemilik kaki.

"Li Zhen! Keluar kau, dasar sampah tidak berguna!" teriakan kasar seorang pria memecah keheningan lereng gunung tersebut. Suara itu terdengar sangat familier di ingatan pemilik tubuh asli, memicu rasa takut yang refleks muncul dari alam bawah sadarnya.

Li Zhen mengerutkan kening, tangannya terkepal menahan emosi sisa dari tubuh yang dihuninya ini. Itu adalah suara Zhao Wei, saudara sepupunya yang gemar menjadikannya karung tinju setiap kali suasana hatinya sedang buruk.

Dia tidak bersembunyi di bawah kolong ranjang seperti yang biasanya dilakukan oleh Li Zhen asli. Pemuda itu justru membusungkan dadanya, melangkah dengan tenang menuju pintu gubuk yang rusak.

Saat dia menyingkirkan sisa pintu kayu itu, sinar matahari jingga langsung menerpa wajahnya. Di halaman tanah di depan gubuknya, berdiri tiga orang pemuda dengan jubah murid luar Sekte Teratai Angin.

Pria di tengah adalah Zhao Wei, pemuda bertubuh besar dengan otot-otot yang menonjol menembus kain jubah ketatnya. Wajahnya dipenuhi senyum mengejek yang merendahkan, sementara kedua tangannya dilipat angkuh di depan dada.

"Aku dengar kau belum mati setelah kupukul kemarin, rupanya nyawamu sekeras kecoa selokan," ejek Zhao Wei sambil meludah ke tanah. Dua pengikutnya di belakang langsung tertawa terbahak-bahak, suara mereka terdengar sangat sumbang dan menyakitkan telinga.

Li Zhen tidak langsung membalas, matanya justru fokus pada sebuah teks merah melayang yang muncul di atas kepala Zhao Wei. Kemampuan 'Mata Penilai Kelemahan' dari sistemnya mulai bekerja secara otomatis.

[Target: Zhao Wei. Kelemahan Mental: Sangat tidak aman dengan garis rambutnya yang mulai mundur di usia muda dan fakta bahwa dia menggunakan ramuan penumbuh rambut palsu.]

Melihat informasi rahasia tersebut, senyum iblis perlahan terbentuk di sudut bibir Li Zhen. Matanya berkilat dengan niat jahat yang sangat kental, siap untuk menghancurkan musuh pertamanya.

Zhao Wei yang melihat senyuman aneh itu merasa sangat tidak nyaman, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. "Kenapa kau tersenyum seperti orang gila? Apakah pukulan kemarin membuat otakmu yang cacat itu semakin rusak?" bentaknya marah.

Zhao Wei melangkah maju, mengangkat kepalan tangannya yang sebesar batu kali untuk memberikan pelajaran. Dia bersiap memukul wajah Li Zhen hingga hidung pemuda kurus itu patah menjadi dua.

Li Zhen sama sekali tidak bergeser dari posisinya, dia menatap lurus ke arah dahi Zhao Wei dengan tatapan yang sangat mengasihani. Dia menghela napas panjang yang terdengar sangat berlebihan.

"Aku hanya merasa kasihan padamu, Zhao Wei," ucap Li Zhen dengan nada datar yang menusuk. "Kau bersusah payah melatih ototmu agar terlihat mengancam, tapi semua orang terlalu sibuk menertawakan dahimu yang semakin luas layaknya lapangan latihan sekte."

Langkah Zhao Wei terhenti seketika secara tiba-tiba di udara, kepalan tangannya kaku tak bisa digerakkan. Matanya membelalak lebar, memancarkan kengerian yang membuat lututnya lemas seketika.

Dua pengikut di belakangnya langsung menghentikan tawa mereka, menelan ludah dengan susah payah karena suasana tiba-tiba menjadi sangat canggung. Mereka diam-diam melirik ke arah dahi bos mereka, menyadari bahwa apa yang dikatakan Li Zhen adalah fakta yang selama ini mereka tutupi.

"A-apa yang kau bicarakan, sampah?!" teriak Zhao Wei dengan suara bergetar, tangannya secara refleks naik untuk menutupi dahinya. Wajahnya yang tadinya merah karena marah kini berubah pucat pasi seolah kehabisan darah.

Li Zhen tidak memberinya kesempatan untuk bernapas, dia kembali menyerang dengan rentetan kata-kata mematikan. "Berhentilah berpura-pura, bau ramuan penumbuh rambut palsu dari kepalamu itu lebih menyengat daripada kotoran kuda."

"Kau tahu mengapa para murid perempuan selalu menghindarimu?" lanjut Li Zhen sambil mengambil satu langkah maju. "Bukan karena kau kurang kuat, tapi karena pantulan sinar matahari di dahimu yang botak itu membuat mata mereka sakit."

Kata-kata itu menghantam mental Zhao Wei layaknya godam raksasa yang tidak kasat mata. Rahasia terdalam yang paling membuatnya tidak aman kini dibongkar di depan umum tanpa belas kasihan sedikit pun.

Dao Heart Zhao Wei yang rapuh seketika retak, tidak mampu menahan tekanan emosional yang begitu brutal dan tiba-tiba. Jalur meridiannya bergejolak hebat, energi spiritualnya berbalik menyerang organ dalamnya sendiri karena emosinya benar-benar hancur.

Zhao Wei memuntahkan seteguk darah segar yang membasahi tanah di depan sepatu Li Zhen. Pria berotot itu jatuh berlutut, kedua tangannya memegangi kepalanya sendiri sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan mainan.

[Ding! Target Zhao Wei mengalami kerusakan mental parah. Mendapatkan +500 Poin Sampah.]

Li Zhen melihat notifikasi poin yang masuk dengan perasaan sangat puas yang mengalir hangat di dadanya. Dia melirik ke arah dua pengikut Zhao Wei yang kini gemetar hebat dengan wajah penuh teror.

"Dan kalian berdua, apakah kalian ingin aku membongkar alasan mengapa kalian selalu gagal lulus ujian sekte dalam?" ancam Li Zhen dengan suara rendah dan dingin. Matanya menyipit, memancarkan aura intimidasi yang membuat kedua pemuda itu merasa seperti ditatap oleh monster kuno.

Kedua pengikut itu menjerit ketakutan, berbalik arah dan berlari tunggang langgang meninggalkan bos mereka yang masih menangis di tanah. Mereka berlari begitu cepat hingga salah satu dari mereka tersandung akar pohon dan bergulingan di tanah berlumpur.

Li Zhen berdiri dengan angkuh di depan gubuknya, menikmati pemandangan menyedihkan dari orang-orang yang dulu menindas tubuh ini. Angin gunung kembali bertiup, namun kali ini terasa sangat menyejukkan di kulitnya.

Dia menyilangkan tangannya di dada, menatap langit Benua Awan Surgawi dengan pandangan menantang. Dengan Sistem Pembicara Sampah di kepalanya, dia bersumpah akan membuat seluruh kultivator di dunia ini memuntahkan darah hanya dengan bermodalkan mulutnya.

Mengeksplorasi Sekte dan Mengemis di Aula Makan

Li Zhen berdiri mematung di halaman gubuknya yang berdebu tipis. Matanya menatap tajam ke arah sosok berotot yang masih tersungkur menangis di atas tanah merah.

Zhao Wei, pemuda bertubuh raksasa itu, meremas kepalanya sendiri dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Air mata dan ingus bercampur menjadi satu, menodai kerah jubah sektenya yang tadinya terlihat sangat rapi.

Bahu Zhao Wei berguncang keras seiring dengan isak tangisnya yang terdengar menyayat hati. Dia sama sekali tidak mempedulikan citranya lagi sebagai salah satu preman yang paling ditakuti di area murid luar.

Rahasia tentang kebotakan dininya telah menghancurkan seluruh harga diri yang dia bangun susah payah selama bertahun-tahun. Dengan sisa tenaganya, Zhao Wei merangkak mundur menjauhi Li Zhen seolah sedang menghindari iblis pencabut nyawa.

Dia akhirnya bangkit berdiri dengan kaki yang saling beradu karena lemas tak bertulang. Zhao Wei berlari tertatih-tatih menuruni lereng bukit tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Li Zhen menyilangkan tangannya di dada, senyum sinis kembali menghiasi wajahnya yang pucat dan tirus. Dia menghela napas panjang, menikmati sensasi kemenangan pertamanya di dunia kultivasi yang sangat tidak masuk akal ini.

Angin sore Benua Awan Surgawi bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering yang berputar-putar di sekitar kaki Li Zhen. Langit di atas sana menampilkan pusaran awan ungu yang tampak seperti tumpahan tinta raksasa di atas kanvas jingga.

Dua matahari kembar di ufuk barat mulai merendah, memancarkan sinar hangat yang menusuk celah-celah daun bambu pelangi. Hutan bambu pelangi itu mengeluarkan suara gemerisik merdu setiap kali batangnya yang berwarna-warni saling bergesekan.

"Dunia ini memang indah, tapi sayangnya dihuni oleh orang-orang yang mentalnya lebih rapuh dari kerupuk," gumam Li Zhen sendirian. Dia melonggarkan kerah jubah kasarnya yang terasa mencekik leher, merasa sedikit gerah setelah melakukan konfrontasi emosional.

Sebuah dentingan tajam kembali bergema di dalam kepalanya, memecah lamunannya tentang keindahan alam di sekitarnya. Layar biru neon transparan muncul tepat sejengkal di depan hidungnya, memancarkan cahaya yang membuat matanya sedikit silau.

[Ting! Membuka Toko Sistem Pembicara Sampah Surgawi. Inang memiliki 500 Poin Sampah yang belum digunakan.]

Li Zhen mengangkat sebelah alisnya, raut wajahnya menunjukkan ketertarikan yang sangat besar. Dia memfokuskan pandangannya pada deretan menu bercahaya yang melayang-layang di layar virtual tersebut.

Jari kurusnya bergerak di udara, menyentuh menu toko yang langsung terbuka menampilkan ratusan gulungan bercahaya. Matanya membelalak lebar melihat daftar harga yang tertera di bawah setiap item kultivasi tingkat dewa.

[Teknik Pernapasan Naga Kuno: 1.000.000 Poin Sampah][Pedang Pembelah Langit Ke-Tujuh: 5.000.000 Poin Sampah] [Pil Keabadian Tingkat Kaisar: 10.000.000 Poin Sampah]

Li Zhen mendengus keras, bahunya merosot turun menunjukkan rasa kecewa yang amat sangat. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa dipermainkan oleh sistem yang baru saja memberinya sedikit harapan.

"Lima ratus poin ini bahkan tidak cukup untuk membeli bungkus permen di toko ini," gerutunya dengan dahi berkerut kesal. "Apakah kau sengaja memamerkan barang-barang ini hanya untuk mengejek kemiskinanku saat ini?"

Layar biru itu berkedip perlahan, seolah sedang merespons omelan inangnya yang tidak pernah merasa puas.

[Menjawab Inang: Poin Sampah 500 dapat ditukarkan dengan peningkatan Kekuatan Fisik sebanyak 5 poin, atau membeli 5 Pil Penyembuh Tingkat Rendah.]

"Simpan saja poin itu, kekuatanku sudah cukup untuk berjalan tanpa harus pingsan di tengah jalan," tolak Li Zhen mentah-mentah. Dia mengibaskan tangannya ke udara, memerintahkan layar biru itu untuk menghilang dari pandangannya.

Tepat saat layar itu lenyap, perut Li Zhen mengeluarkan suara keroncongan yang sangat panjang dan memekakkan telinga. Suara itu begitu keras hingga seekor burung gagak spiritual di dahan pohon langsung terbang menjauh karena terkejut.

Li Zhen memegangi perutnya yang kempis, meremas kain jubahnya karena rasa perih akibat asam lambung kembali menyerang. Pil penyembuh tadi memang memperbaiki meridiannya yang rusak, namun sama sekali tidak memberikan kalori untuk tubuhnya yang kelaparan.

"Sistem bodoh, kau bisa menyembuhkan luka dalamku tapi tidak bisa memberikan sepotong roti?" keluhnya dengan bibir cemberut. Dia menendang sebuah kerikil putih di dekat kakinya untuk melampiaskan rasa frustrasi yang menumpuk.

Kerikil itu melayang melintasi halaman dan membentur batang bambu pelangi dengan suara pletak yang nyaring. Li Zhen akhirnya memutuskan untuk keluar dari area gubuknya, niatnya kini sepenuhnya terfokus untuk mencari makanan.

Langkahnya diseret dengan malas menyusuri jalan setapak yang terbuat dari tanah merah padat. Jalan itu berliku-liku menuruni lereng bukit, diapit oleh jurang tak berdasar yang memancarkan kabut putih tebal.

Di seberang jurang, pulau-pulau batu melayang di udara, dihubungkan oleh jembatan akar pohon raksasa yang tampak rapuh. Air terjun berwarna perak jatuh dari pulau melayang itu, airnya menguap menjadi awan sebelum sempat menyentuh dasar jurang.

Li Zhen menatap pemandangan ajaib itu dengan tatapan mata yang sangat kosong dan tidak peduli. Perutnya yang kosong membuatnya kehilangan apresiasi terhadap segala bentuk keajaiban dunia kultivasi.

Dia terus berjalan memutar, menghindari genangan air lumpur yang memancarkan aroma belerang menyengat. Hidungnya berkerut menahan bau tidak sedap itu, tangannya sesekali mengibaskan udara di depan wajahnya.

Tiba-tiba, suara tawa nyaring sekelompok perempuan memecah keheningan jalan setapak yang sepi tersebut. Li Zhen menghentikan langkahnya, matanya menyipit menatap tiga orang murid perempuan berpakaian sutra hijau yang berjalan dari arah berlawanan.

Ketiga perempuan itu memiliki wajah yang dipoles riasan tebal, rambut mereka dihiasi tusuk konde giok yang berkelap-kelip. Mereka menghentikan tawa mereka seketika saat melihat Li Zhen berdiri di tengah jalan dengan jubah gembelnya.

Gadis yang berdiri di tengah langsung menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra bersulam bunga teratai. Matanya memancarkan rasa jijik yang luar biasa, seolah dia baru saja melihat kotoran hewan di tengah jalan.

"Menyingkir dari jalan, dasar sampah bau," ucap gadis itu dengan nada arogan yang melengking tinggi. Dua temannya di belakang ikut menatap sinis, membuang muka untuk menunjukkan betapa rendahnya status Li Zhen di mata mereka.

Li Zhen tidak bergeser satu inci pun dari posisinya, kakinya berdiri kokoh menantang tatapan merendahkan tersebut. Kemampuan 'Mata Penilai Kelemahan' di dalam kepalanya langsung aktif secara otomatis tanpa perlu diperintah.

Sebuah teks merah melayang tepat di atas kepala gadis sombong yang berada di tengah itu.

[Target: Lin Xia. Kelemahan Mental: Menggunakan bantalan silikon di balik jubahnya untuk memalsukan bentuk tubuhnya agar dilirik oleh para murid senior pria.]

Senyum miring yang sangat kejam langsung terbentuk di sudut bibir Li Zhen saat dia membaca teks tersebut. Dia melipat tangannya di dada, menatap gadis bernama Lin Xia itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan pandangan menilai.

Lin Xia merasa risih ditatap seperti itu oleh seorang murid sampah yang biasanya selalu menunduk ketakutan. Dia mencengkeram gagang pedangnya yang menggantung di pinggang, wajahnya memerah karena amarah mulai tersulut.

"Apa yang kau lihat, manusia rendahan? Apakah kau ingin matamu itu kucungkil keluar sekarang juga?" ancam Lin Xia dengan suara bergetar menahan emosi.

Li Zhen mendecakkan lidahnya berkali-kali, menggelengkan kepalanya dengan gerakan dramatis yang dibuat-buat. Dia menghela napas panjang, memasang raut wajah penuh penyesalan yang sangat palsu.

"Aku hanya bingung, Nona Lin," ucap Li Zhen dengan nada datar yang mengiris keheningan. "Kau memakai sutra hijau yang sangat mahal, tapi kenapa kau harus mengisinya dengan kapas murahan di bagian dadamu?"

Wajah Lin Xia seketika berubah sepucat kertas HVS, matanya membelalak lebar seolah melihat hantu di siang bolong. Tangannya yang memegang gagang pedang seketika lemas, kakinya mundur selangkah secara refleks karena terkejut luar biasa.

Dua temannya di belakang langsung menoleh ke arah dada Lin Xia dengan tatapan penuh tanda tanya. Suasana di jalan setapak itu mendadak menjadi sangat sunyi dan canggung, hanya terdengar suara hembusan angin gunung.

"Jangan menatapnya seperti itu, bantalan silikonnya bisa bergeser jika dia terlalu banyak bergerak saat berjalan," lanjut Li Zhen tanpa memberikan ampun sedikit pun. Dia menunjuk tepat ke arah kerah jubah gadis itu dengan jari telunjuknya yang kotor.

Lin Xia menjerit histeris, kedua tangannya langsung menyilang menutupi dadanya dengan gerakan panik. Air mata kemarahan dan rasa malu langsung menetes deras membasahi riasan wajahnya yang tebal.

Dao Heart gadis itu seketika retak parah, tekanan mental karena rahasia terbesarnya terbongkar di depan teman-temannya membuat aliran energinya kacau. Dia terbatuk keras, memuntahkan sedikit darah yang menodai sapu tangan sutranya.

[Ding! Target Lin Xia mengalami kerusakan mental parah. Mendapatkan +400 Poin Sampah.]

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!