Indonesia
NovelToon NovelToon

Lembayung Di Batas Timur

Bab 1 Nenek moyangku seorang pelaut

Hay, apa kabar kesayangan klan Ananta? Masih tetep stay tune kan? Ayokk merapat!

Tak bosan aku komat-kamit ini ya. Cerita ini hanya karya tulis fiktif belaka. So, bijak untuk tidak membawa-bawa nama instansi terkait atau menyandingkan semua peristiwa di dalam karya ini dengan kenyataan. Semua tokoh, penokohan, latar, setting hanya berdasarkan imajinasi penulis saja. Dan dibuat sebagai penghidup jalannya cerita saja.

Keep reading ya sampai akhir, 💞

...****************...

Blurb

...Mayra bukan hanya punya Panji. Dan Ivy, mau-maunya menjadi merpati yang menyampaikan pesan bahwa dirinya tengah sakit. Sementara Panji melihat itu.......

...Pengabdian yang melibatkannya, membawa Ivy pada takdir menikmati lembayung senja di batas timur bersama seseorang yang terjerat benang kusut...Ketika manis mulai mereka nikmati, akankah cita-cita membuat goyah tali yang mulai dirajut? Atau mimpinya hanya sebatas, mengarungi samudra khatulistiwa bersama yang terkasih?...

**Teuku Pandjie Ikram**

*Jalesveva Jayamahe*..ia tenggelam di kedalaman laut Nusantara, demi menjaga kedaulatan bumi pertiwi. Menjaga warisan nenek moyang dan seluruh rakyat Nusantara.

*Nenek moyangku seorang pelaut*!

*Gemar mengarung luas samudra*

*Menerjang ombak tiada takut*

*Menempuh badai sudah biasa*...

*Suara nyanyian dengan suara cempreng dan lantang bergema di sebuah taman kanak-kanak, diantara siang yang belum begitu panas, dan angin sepoi-sepoi yang sopan* *berhembus*.

Namun kini, suara itu sayup terdengar di pikiran, tersamarkan oleh arus bawah laut yang cukup kencang.

Kode sandi telah diberikan kapten Samudra, dan ia mengangguk diantara alat bantu nafas dan kaki katak yang mulai ia lepaskan satu persatu.

Oke, Panji menatap jam tangan diantara sinar matahari yang redup menembus lautan. Waktunya hanya 60 detik untuk muncul dan melumpuhkan.

Lambung kapal berwarna putih pudar ditumbuhi teritip, kerang-kerangan dan organisme laut lain itu menandakan jika sang pemilik jarang membersihkannya.

Yeah!

*Target dalam jangkauan*...

Satu unit detasemen Raden Arung yang dikepalai kapten Samudra kini bersiap menyergap.

"*Moray*, on position..." Kelana naik memperpendek jarak disusul yang lain termasuk Panji.

"*Orca, ready*..." Dena menempelkan pelacak di bawah sana.

Lalu Panji, dengan sekali tarikan nafas di alat nafas yang kemudian ia lepaskan, naik ke permukaan tanpa suara, senyap diantara kedamaian laut, "*Wolf-eel ready to shot*."

"Go."

Unit Denarung I naik, dan langsung membuat damainya siang di perairan timur Nusantara mendadak chaos, yeah! Ketika tim yang sedang patroli perbatasan menemukan kapal dengan bendera negri sebrang menjejakan lambung kapalnya di zona Nusantara, saat itu juga tak ada ampun untuk mereka.

"Hand's up!"

"Soldierrr! Marine!"

Dan obrolan bahasa negri serumpun yang sudah tentu bukan bahasa ibu pertiwi kini menghiasi kapal sambil terjerit jerit.

Zea mengubah nama grup Arisan anak-anak Soleh menjadi Ananta gen 2

(Russel) Acara 4 bulanan Gala di rumah umma. Nji @ Panji, bisa kagak lu? Masih nugas luar?

(Ryu) Nji lagi nyari pacar sewaan 🤣

(Kalingga) mau ngga, gue bantu sewain dari kota tua?

(Cle) Nji, Abi Lo bilang jangan datang tanpa calon mantu.

(Zea) Abi lo--abi Lo, 😒 Abi lo juga Cle.

(Russel) Lo berdua so iye...kaya yang punya gandengan aja. @Kalingga @Ryu. Anemia ya kalo Lo berdua juga jomblo.

(Zea) wkwkwkwk si Alan. Insomnia.

(Ryu) 😆😆 gue ngga anemia atau insomnia tapi anemonia, Lingga Anemon laut.

(Cle) Amnesia ba cot. Yang bener kalo pada ngomong ihhh.

Panji baru saja mandi, setelah mencari makan di sekitaran dermaga, ia kembali ke mess dan merebahkan diri yang cukup lelah.

Melihat grup chat yang berisi kakak dan adik sepupu cukup membuat matanya semakin berat meski kemudian ia berusaha mencari kontak sang kekasih, Mayra...yang saat ini adalah seorang mahasiswi FKIP di salah satu universitas ternama di ibukota, dan mereka sudah menjalin hubungan sejak tiga bulan yang lalu.

Berawal dari acara pernikahan yang Panji datangi bersama teman teman kesatuan, sementara Mayra, adalah teman dari adik rekan Panji.

Mayra ❤️‍🔥

Sayang.

Namun tidak menunggu balasan, Panji justru langsung menempelkan ponsel di telinganya dan melakukan panggilan telepon pada May.

Sedikit lama, bahkan Panji mengulangi panggilannya untuk kemudian panggilan itu diangkat. namun----

"Hallo...ini aku lagi sibuk banget di rumah. Ada banyak sodara, ngga enak...nanti aku telfon lagi ya.."

Mata yang semula sudah mengantuk dan lelah itu mendadak waspada dan penuh perasaan janggal mendengar suara May dari sebrang telfon. Terlalu sunyi untuk kondisi yang katanya disebut ramai. Panji mendengar selintas suara bicara tapi sepertinya itu televisi karena yang ada, suara May dengan nafas yang tersengal macam habis berlari.

"Kamu dimana?" suara Panji dalam dan berat.

"Ya di rumah lah. Udah ya...nanti aku telfon lagi." Tuutt...

"Hallo, May...Mayra..." Panggilan terputus dari sebrang.

"Ahh Zein! Touch me again, faster and deep!" suaranya menthesah nyaring mengisi setiap sudut kamar kost-annya.

"My pleasure baby, aahhhh gue mau keluar May..."

"Barengan...come-come!!" erang keduanya.

~~

Ivy

Ia menatap laptopnya nyalang, laman resmi website salah satu agency ternama sedang membuka pendaftaran calon model baru untuk masuk asrama. Berkali-kali ia hanya bisa menghela nafasnya, sejak dulu....ia harus menekan egonya untuk menjadi apa yang ia mau.

Di sampingnya beberapa tumpuk tugas makalah dengan judul

...Tugas makalah...

...Early Childhood Character Building...

...Oleh : Pravita Ayudisa...

...FKIP UNJANA...

Lalu tatapnya jatuh ke arah frame foto di atas meja kayu putih dimana deretan make up dan skin care berdiri memenuhi atas meja rias itu.

Frame foto biasa, tapi di dalamnya menampilkan sosok beberapa orang, ada papa seorang yang bekerja di kantor pemerintahan, mama yang seorang dosen, dan abang yang seorang dokter.

Dengan berat hati, ia menutup kembali laman web itu dan laptopnya. Beberapa lomba modeling termasuk majalah sampul, menjadi brand ambassador ketika SMA pernah ia geluti dan raih, tapi ....

"Papa ngga suka! Ngga ada bibitnya disini jadi penghibur atau entertain begitu, Ivy....masuk kedokteran kaya abangmu atau jadi tenaga pendidik seperti mama."

Krincing--krincing....meoooww!

Kucing dengan mata coklat dan keabuan itu langsung melompat ke atas ranjang Ivy, menaruh pan tat dan badan gembul disertai bulu lebat nan halus sebab rajin di grooming, tak lupa kalung tulang ikan dengan nama Velvet dan nomor ponselnya tercantum disana.

"Hay sayangkuhhh, apa nihhh kamu minta digarukin mami ya?" jemari lentik dengan kuku-kuku kinclong itu menggaruk bawah dagu sang kucing yang manja dan rebahan di pangkuan. Sama dengan si empunya yang begitu pemalasan.

Meooww...begitu ia langsung merasa keenakan dan telentang sehingga Ivy dapat dengan bebas menciuminya sambil terus menggaruk-garuk pelan dagunya, hrrr--hrrrr begitu suara yang terdengar bak mesin motor dari tenggorokan Velvet.

"Udah ah, awas...mami mau mandi, udah telat ke kampus..." Ia melirik jam yang menunjuk ke angka 6 pagi, benar terlambat untuk seorang seperti Ivy yang mandi saja harus menghabiskan waktu hampir sejam, disusul dengan bersolek setengah jam. Voalahhhh! alhasil ia selalu masuk di waktu mepet-mepet.

Velvet dengan wajah ditekuk hanya bisa membuat gestur patung spinx di atas kasur Ivy sembari mengibas-ngibaskan ekor lebatnya melihat si pemilik menyambar handuk dan masuk kamar mandi. Mungkin jika bisa bicara Velvet akan berteriak, mamiii, gue mau dimanja...makan, spa, grooming, rebahan, dipijitin!

.

.

.

.

.

Bab 2 Mendua

Panji baru saja menginjak ibukota malam itu. Berbeda jalur dari kawan-kawannya yang sudah berjalan atau berkendara menuju mess masing-masing, Panji tetap tinggal bersama kedua orangtuanya di rumah dinas Abi Rayyan.

Tapi rupanya putaran jarum jam yang menunjuk angka 8 belum cukup malam untuk keramaian di rumahnya.

Sorakan seru menggema di carport rumah perwira angkatan bersenjata ini, diantara sunyinya malam batalyon.

"Umma, Abang Arraznya!" jerit bocah perempuan yang tak asing di pendengaran Panji.

"Apa! Cuma dipegang doang juga...Seera lebay abba!" kini adu si jagoan tak mau kalah.

"Ehh---kebiasaan kalo udah berantem begini. Hayoo udah malam, kata ayah pulang." Clemira bahkan sudah menenteng dua tas sekolah kecil berwarna pink dan biru bukti jika ia sudah disini sesiang tadi.

"Dianter siapa, Tama ngga jemput kah?" dan suara bass nan dalam itu adalah om Pramudya. Sementara seruan mengaduh diantara suara beradunya koin karambol di atas papan kayu, "sahhh! Ahhh, dikit lagi padahal."

"Dijemput om Irsyad barusan." Tunjuk Clemira ke arah gawang pintu dimana bawahan Tama baru saja keluar dari toilet.

"Misi ndan." ia membungkuk ketika melintas, "ya. Hati-hati bawa mobilnya Syad. Lecet kamu ditembak Tama." Itu Langit yang berseloroh.

"Mas Tama kayanya baru balik nugas luar. Katanya masih di jalan."

"Om Njiii!" Farraz adalah sosok pertama yang notice kedatangannya, disusul tatapan-tatapan lain penghuni disana.

"Weheyy kamu ngapain ke rumah aku terus, ngga punya rumah pasti!" selorohnya yang memancing tawa si jagoan, lantas lengkingan suara cerewet tak mau kalah menyeru dari dalam, "om Njiiii!"

Ia langsung menyambut dan menggendong Farraz, "berat lah." meski kemudian menurunkannya lagi, "masa? Ayah aja gendong aku ngga keberatan. Katanya tentara....tapi loyo."

Rayyan tertawa dan menunjuk Panji, "loyo..."

"Nah, bang Toyib baru balik juga..." cibir Cle melihat adiknya itu.

"Bukan, Nji brand ambassador kue kaleng lebaran..." kini Rayyan telah menepuk-nepuk bubuk putih di tangannya untuk kemudian menjitak koin karambol.

Panji menggeleng, memang seenggak ada kerjaan itu para perwira tua ini, waktu malam bukannya dipakai ngaji kaya Abi Fath...

"Nih gue pasti masuk." Lagi, aki-aki dengan dua cucu itu mulai fokus pada koin karambolnya, bersiap mencetak poin, dimana Pramudya mengganggunya dengan mencibir.

"Masih juga nih main beginian, udah siap dihisab ngga ada niatan ngaji di masjid komplek? Sama mantan-mantan jendral?" cibir Panji membuat Rayyan menggeleng, "besok."

Eyi datang dan tertawa mendengar jawaban template sang suami, "besoknya Abi kamu itu tahun gajah, biasanya justru yang begini yang panjang umur, disisain buat liat dunia kiamat."

Hahaha! Langit tertawa, memang antara suami---istri---anak tak ada yang benar-benar waras, kalem, pendiam, "umur boleh kaya mantan jendral, tapi jiwa muda .." bahkan kini opa-opa bercucu satu itu sudah menepuk-nepuk dada dengan kepalan tangan.

"Mana oleh-oleh..." kini Yaseera menengadahkan tangannya pada Panji, yang memancing Panji untuk menaruh ranselnya di depan sang keponakan, "nih, cuciin ya..."

Hahahah! Farraz tertawa sementara wajah Seera kecut tanpa ampun, "es krim om Nji bukan ini...."

"Besok. Es krim terus nanti batuk."

"Kata abba yang bikin batuk itu merokok, makan permen sama makanin dedak ayam." Jawab Seera, Rayyan menjempoli cucu perempuannya itu, "bener cucu abba."

Panji berdecak, ck!

"Emang sesat nih abi. Ngajarin anak aku..." Clemira mencebik.

"Ahhh cape ahh!! Kelonin aku yukkk, pengen bobo .." ajaknya pada Seera.

"Ihhhh, kaya aku dikelonin bunda!" tawa Seera.

Ia melengos ke dalam setelah salam pada umi, meski masih samar terdengar gerutuan kakanya, Cle... yang mengomeli Abi Ray sebab bedak milik anak-anaknya justru dipakai bermain karambol.

"Abi ihhh, ini sampe habis begini bedak Seera..."

Benar, ia terlalu lelah bertugas. Jika tugas luar begini, sudah pasti ia akan kencan terlebih dahulu dengan kasurnya, hoamm....

Sampai pagi menjelang, Panji mendengar sayup-sayup adzan berkumandang mengisi pendengarannya.

Ada umi yang masih sibuk mengikat rambut, mencepol satu atas sambil mengerjakan tugas harian ibu-ibu. Lantas bibirnya mencebik sebal kala pacar ibunya itu mengganggunya dengan memeluk dari belakang, cihhh! Dunianya diciptakan emang ngga jauh-jauh dari pasangan bucin itu.

"Mi, bilang dong pacarnya. Udah tua jangan begitu, malu kalo diliat cucu..." cibirnya.

"Ngga usah di dengerin sayang, jomblo abadi. Sirik tanda tak mampu. Lagian Seera sama Arraz belum datang lagi." Kecupan terakhir Rayyan sarangkan di tengkuk Eyi dan ia bergegas menikmati kopi paginya di meja.

Di usia yang sudah tak muda lagi itu, memang kedua orangtuanya kadang tak sadar tempat untuk mesra mesraan begitu, melebihi anak muda yang tengah kasmaran.

Meski tak ia pungkiri lebih senang melihat mereka begitu, tak jarang keduanya itu layaknya ABG labil yang masih berpacaran dan tak punya buntut, bertengkar meributkan hal sepele dan tak penting di depan anak-anaknya terutama Panji, berujung baikan dan mesra-mesraan lagi.

Ngga inget sudah ada uban. Apa memang begitu kehidupan berumah tangga?

Eyi tersenyum, "jangan bilang kamu putus lagi, hubungan rumit? Makin jauh, Ucel udah siap jadi bapak loh. Ini yang paling tua pacar aja masih ngambang, mau dicariin jodoh?"

Rayyan terkekeh hampir tersedak kopi miliknya, "kaya botol plastik, ngambang....tenang, sayang ngga usah buru-buru. Stok wanita di muka bumi masih bejibun. Bibit unggul Abang ngga akan kebuang percuma. Umur anak kita baru menginjak kepala tiga, belum mau menginjak kepala orang." Ia menyendok nasi lalu berpindah ke gorengan jagung.

"Siapa pacar kamu sekarang? Ajak main ke rumah lah..." ujar Rayyan, "kalo bisa langsung ketemu umma, kira-kira ACC engga, kalo Yang Mulia Umma sudah ACC, udah ngga usah dilamain...."

Eyi menaikan kedua alisnya terkejut, "gampang banget kaya ngawinin anak ayam. Jangan langsung ke umma lah. Kesini dulu, ini Nji lagi mau cari calon mantu buat Eyi bukan calon indukan kambing, kalo zonk, Abang sama Eyi yang malu...Panji bawa-bawa hadiah ciki ke rumah umi." Ia tak terima jika harus langsung berhadapan dengan sang mertua. Setidaknya ia dulu yang menyeleksi layak ataukah tidak untuk diboyong ke keluarga besar mereka.

"Minimal cewek baik-baik. Beneran sayang dan mau terima profesi Panji. Cewek jaman sekarang susah loh yang mau sama prajurit. Takut ditinggal nugas...takut di luar dia jajan. Takut kdrt, lebih milih cari aman."

Panji, dengan kaos yang masih kusut itu sudah duduk di sebrang Rayyan, pusing mendengarkan keduanya berdebat pasal calon pendamping. Entahlah ia malas membahas Mayra. Terakhir ia dan Mayra----

Dan hari ini ia akan menyambangi kampus UNJANA, kampus pacarnya itu sekaligus dimana Gala sedang menuntut ilmu.

"Iya." Tanpa mendebat Panji menyanggupinya. Toh Mayra perempuan berpendidikan dan lahir dari keluarga yang bisa dibilang adem ayem.

Tanpa mengabari terlebih dahulu sebelumnya, ia melakukan motor trail miliknya ke arah UNJANA siang itu. Biasanya jam-jam makan siang Mayra baru selesai mengikuti sesi materi, cocok juga untuk makan siang bersama seraya membicarakan hal serius.

**Panji** ❤️‍🔥

*Sayang, aku ada di depan*.

Ivy masih memperhatikan kuku-kukunya, "ini gue mumpung lagi haid, bagusnya bunga sakura atau bunga Lily ya motifnya?"

"Lagi pada happening bikin abstrak loh Vy...coba deh cocok kayanya." Angguk Mayra, berjalan diantara fakultas pendidikan dan FP MIPA.

Dan Ivy sempat terkejut dengan kehadiran seseorang dari belakang, pasalnya bukan hanya menyasar pada Mayra saja melainkan, lelaki itu nyosor di tengah-tengah antara dirinya dan Mayra, "sayang."

"Bang ke ihhh!" umpat Ivy refleks, ia bahkan menjauh dan mendorong bahu Zein pelan yang malah terkekeh memeluk Mayra dari belakang. Keduanya itu---*ishh ngga punya malu*! Tempat umum nih, bukan kamar.

Mayra tertawa melihat aksi kekasihnya itu dan refleks sang teman.

"Sorry." Senyumnya seperti ada makna terselubung, dan Ivy sungguh tak suka.

"Ck, Lo kalo mau begitu posisi Lo langsung ke May dong, ah gimana sih! Kaget gue!" omel Ivy. Pasalnya Zein cukup membuatnya sebal karena telah ikut mencolek pinggangnya juga, dasar cowok mesum! Bisa-bisanya Mayra memiliki kekasih semesum itu.

"Jadi jalan sekarang?" alis Zein naik turun.

"Jadi."

Alis Ivy berkerut melihat mereka, jijik deh ah! Ia sudah bergidik.

Namun tiba-tiba, langkah Mayra tersentak, "mampus..."

"Kenapa?" kompaknya dan Zein.

Mayra menurunkan ponsel dan menariknya sejenak.

"Vy, tolongin gue..."

"Cowok gue yang tentara itu tiba-tiba datang..."

"Hah?! Lo---" Ivy melirik Panji di belakang Mayra, benar mereka menepi, hampir merapat diantara tanaman rambat yang ada di taman kampus dengan sesekali Ivy menepis dahan dan daunnya yang mengenai badan, *ishhh risih*!

"Lo punya cowok berapa May?" tanya Ivy sewot.

Mayra malah meringis, "nanti gue ceritain, tapi...please! Ini orang psycho udah di depan. Gue sebenernya udah pengen putus sih, tapi---"

"May, baby..." panggil Zein membuat May dan Ivy ikut menoleh, "ntar dulu! Babyy Lo masih ada urusan sama gue elah!" omel Ivy.

"Ngga mau ahhh!" cebik Ivy.

"Please, gue tau lo bisa diandalkan zeyenggg..." wajah Mayra memelas memasang tampang menyedihkan membuat Ivy menggaruk kepalanya mendadak gatal.

"Gue mesti bilang gimana? Repot amat sih, ya udah sih ngga usah ditemuin..."

"Tapi dia pasti cari Lo."

"Hah?!" Ivy kembali terkejut dengan kenyataan jika Mayra telah memberikan nomornya pada Panji dan rupanya Mayra sering beralasan sedang bersama Ivy selama ini pada Panji jika sedang tak ingin menemui perwira itu.

.

.

.

Bab 3 Terjerat pinjol

"Sakit Lo, Mayyy!" salak Ivy, alih-alih tersinggung Mayra justru terkekeh.

"Bilang aja gue sakit, ngga masuk. Bye Vy...thanks mamet. Nanti gue traktir."

"Lo yang jamet." Wajah Ivy tak bisa lebih kusut dan keruh lagi menatap sepasang sejoli yang tengah saling bergandengan tangan menuju gerbang lain dari fakultas teknik. Seolah sedang melakukan dosa indah bersama.

"Ihh, si alan. Pacar siapa, yang repot siapa...so laku banget Mayra.." lebih tepatnya, Ivy merasa harga dirinya tercolek saja, toh dibandingkan dengan Mayra ia jelas lebih cantik, lebih kece, lebih segalanya. Mayra adalah bentuk nyata--jika tak selamanya wajah oke itu bernasib mujur, punya banyak kekasih. Buktinya, pacar Mayra berserakan dimana-mana, seperti sampah plastik, sementara dirinya? Terlalu pemilih.

Lelaki jorok, ia tak mau. Lelaki tengil, ia tak mau. Lelaki galak, pelit, tidak penyayang, seram, apalagi tak punya dompet mencukupi alias mokon do, Ivy menutup pintu mata dan hatinya.

Apalagi jika ia tak memiliki wajah rupawan yang bisa Ivy pamerkan di museum, ia akan langsung menghempasnya, menolaknya mentah-mentah.

Dan benar saja, nomor tak tersave memanggil dirinya tak lama setelah itu. Ivy berdecak, jengkel, sebal...

"Mayra ngeselin ahh! Dia yang enak enakan punya pacar, gue yang repotnya begini. Tumbal banget..."

Ia menatap sekeliling, dimana tak ada ide yang bisa ia temukan sekarang. Kata psycho itu...ah! Seolah Mayra sedang mengatakan---tuh, gue kasih maut buat Lo! Mayra memang harus ia tendang ke neraka.

Ivy memutuskan untuk tidak mengangkat panggilannya, membiarkan itu terus menggelepar di dalam tasnya.

Panji berdecak kesal di tempat ia bersandar, tepat di samping motornya. Dimana riak gelombang mahasiswa mulai terlihat lalu lalang sibuk keluar masuk tanda bubarnya beberapa sesi prodi fakultas. Oke, ia terpikirkan Gala.

Bang Panji

La, ini gue. Lo tau Mayra kan? FKIP semester 6?

Jenggala

Oh, Mayra? FKIP semester 6? Ngga tau 😅 sorry. Soalnya aku jarang nyolek anak anak yang ambil S1. Beda gedung bang.

Bang Panji

Kalo Ivy, temennya. Pravita Ayudisa FKIP juga.

Jenggala

Pravita Ayudisa, oh kalo itu tau. Soalnya pernah beberapa kali dia ikut program kampus, relawan, dia juga pernah jadi kandidat Miss kampus.

Bang Panji

Bisa bantu?

Jenggala melambai, dari lain arah. Jenggala memang tengah mengambil gelar magisternya disini, jadi ia datang dari gedung yang cukup berbeda dan jaraknya pun lumayan mengingat luasnya area kampus UNJANA yang telah mengalami renovasi beberapa tahun belakangan ini.

"Bang, udah ketemu?"

Panji menggeleng, "bantu cari bisa ngga?"

Gala, bumil Russel yang belum kentara terlihat membuncit ini meringis, "duh, ngga tau jadwalnya sih tapi ntar dicoba deh...nyari siapanya Ivy bang?"

Dan kini Gala membawa Panji yang terlihat dengan wajah---waw tak bisa dijabarkan, cukup keruh, resah juga sedikit berkeringat diantara kulit yang sudah matang cenderung over cook itu.

"Makin eksotis aja bang, mateng ya di laut?" Dan hahahah mereka bercanda sepanjang perjalanan ke arah gedung FKIP setelah Panji memarkirkan motornya terlebih dahulu.

Panji tertawa, "matengan gue apa Ucel?"

Gala berdecak, "matengan Abang lah. Duta air mineral banyaknya main di hutan, di lapang, di kamar." Keduanya tertawa sepanjang ayunan langkah yang sesekali diperhatikan orang-orang disana.

Beberapa mungkin mengenal siapa Jenggala yang kini tengah berjalan dengan Hanoman from Tanah Abang.

Mata Panji yang seperti elang itu mengedar, memperhatikan area dalam radarnya, jiwa prajurit, Intel dan anggota unit khususnya tentu tak terbantahkan. Sementara Gala mencari seraya mengoceh, "aku ngga begitu hafal juga sih, soalnya jarang kesini."

/

Ivy menghela nafas, lalu membuangnya kasar, menghelanya lagi kemudian membuangnya lagi, "ah dasar bucin si alan! Ck!"

"Ngapain juga gue yang mesti repot dan takut sih. Elah..."

"Vy...jalan sendirian aja?" bukan Mayra bukan Julian bukan pula Arga, yang selalu mencari perhatiannya melainkan Imel yang kini berjalan menyamai langkahnya, "hey Mel, dari mana?"

"Pak Drajat. Dosen pembimbing."

Oh! Ivy mengangguk ingat, ia pun seharusnya sudah mulai mendaftarkan namanya.

"Daftar?" Langkahnya mengayun santai, menjejak setiap lantai koridor kampus, dimana cuaca hari ini terlalu sayang jika dilewatkan dengan segala ke-tergesaan.

Imel mengangguk, "harusnya Lo juga kan?"

"Besok kayanya, ini baru rehat bentar abis nyerahin tugas makalah sama Bu Dara."

Oh iya....Angguk Imel.

"Oke deh kalo gitu gue duluan ya, Vy..."

"Bye..."

Bye! Ivy bergumam dan melambai, tapi kemudian langkah yang sempat terhenti itu kini kembali terhenti sempurna kala suara seorang perempuan tak asing memanggilnya, "Ivy! Pravita Ayudisa!"

Ia dapati Kahiyang Jenggala mahasiswi fakultas seni yang tengah bersama seorang lelaki tegap, berbadan atletis bak----tatapan Ivy tentu saja tidak sedang mencermati Gala atau matahari yang sedang menyengat-menyengatnya membakar bumi. Tapi pada sosok asing yang seketika membuatnya kedinginan, merasa dilucuti meski wajahnya nampak ada manis-manisnya, membuatnya merasa ditusuk padahal tidak sedang membawa pisau.

Seketika instingnya menajam dan mengatakan jika ia adalah ancaman, feeling-nya berkata jika itu....Ivy membalikan badannya, "ngga bener nih!" entah kenapa kaki-kakinya itu mengajaknya untuk....lariiii!

Mammaaaa !!!!

Tentu saja Panji yang menyadari gelagat aneh Ivy langsung mengambil langkah seribu mengejar Ivy.

"Excuse me...excuse me....sorry kasih jalan buat air panasss!" ia membelah koridor yang mendadak ramai menurutnya.

"Vy! Weyyy, Lo yang namanya Ivy! Temennya Mayra?!" Panji berteriak memanggil-manggil tapi sosok gadis dengan perawakan semampai, berambut panjang itu justru berlari menghindar.

Fix, Panji merasa semua kejanggalan itu beralasan. Ia bukan orang biasa yang tak tau gelagat penjahat begini.

Sementara Gala di belakang justru mengernyit meski tak urung ikut mengejar, menyusul dengan langkah cepat tanpa berlari mengingat kondisinya yang tengah berbadan dua, "ada apa sih ini?"

"Mam pus, kemana nih?!" Ivy celingukan mencari celah berlari saat angin justru membawa langkahnya ke tempat mentok, oke...jadi salahkan angin! Angin yang membawa langkahnya ke tempat mentok, angin juga yang menghembuskan si buta dalam cerita rakyat Timun Mas ke UNJANA.

Langkahnya sedikit buntu, terlalu lama berpikir efek sarapan pake pasta, agree! Pasta bikin dia lemot. Salahkan pasta juga.

Grepp!

Ivy terhenyak saat tangannya diraih seseorang, "Mayra, saya hanya mau bertanya tentang Mayra. Kenapa kamu harus lari?" Panji nafasnya cukup diburu pagi ini, meski itu tak ada seujung kukunya latihan fisiknya di kesatuan atau Puslatpur.

"Ampun mas, bang, akang, aa...gue----"

"Kamu tau sesuatu tentang Mayra, makanya kamu kabur? Atau apa alasan kamu kabur, apa kamu tau siapa saya?"

Ivy berusaha melepas cengkraman tangan besar dan kuat di tangannya, matanya cukup tajam menatap tangannya terkunci, tangan putih yang kontras dengan tangan coklat Panji.

"Sorry buat ini, bukan saya mau kurang ajar tapi----"

Bugh!

Ivy melayangkan tas selempangnya ke arah Panji yang di halau si anggota pasukan khusus militer negri ini hingga tasnya hanya mentok dan jatuh terkulai lagi karena menabrak lengan Panji.

"Pergi Lo!"

Tentu saja sasaran yang tak kooperatif begini sangat dipahami Panji, menurut SOP jika seseorang tak bisa bekerja sama itu harus dibekuk...

"Lah, saya pernah bikin salah sampai kamu harus berlari, kabur? Coba katakan kenapa kamu harus kabur? Kamu tau siapa saya?"

Ivy langsung tersentak, iya juga! Kenapa harus kabur ...ketauan sekali ia tau sesuatu, pasta---salah pasta dan susu kambing. Tapi dia Ivy, yang Mayra percaya jika ia bisa diandalkan.

"Ekhem." Ivy masih berontak dan berusaha melepas tangannya dari genggaman Panji, membuang wajah ke arah dedaunan pucuk merah yang sempat berguguran tertiup angin siang lalu jatuh berserakan menyatu dengan debu terinjak-injak dan tergilas ban ban kendaraan warga kampus.

"Gue kira..." ia menelan saliva sulit, tapi kemudian memberanikan diri memandang sepasang mata dengan iris coklat tua yang indah, anjirrrr! Nih mata cowok indah bangettt. Bisa-bisanya Ivy dong-dong!

Dan retina dengan sorot tajam tapi tak sepenuhnya itu memandang Ivy, tepat, menyergap penuh intimidasi.

Wajahnya sedikit mendongak menunjukan jika ia tak mudah untuk digertak, diintimidasi dan, angkuh...gengsinya setinggi Himalaya.

"Gue tebak Lo debt collector pinjol kan?!"

Ada kernyitan di alis tajam Panji, ada sedikit rasa geli juga yang menggelitik, "kamu terjerat pinjol?"

.

.

.

.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!