"Zea! buruan dong, nanti kita telat masuk gerbang!" teriak Mita sambil menarik tangan Zea agar berlari lebih cepat.
Zea tertawa kecil berusaha mengikuti langkah sahabatnya itu. "Iya-iya, pelan-pelan dong mit. Nanti jatuh lho."
Mereka akhirnya berhasil masuk ke area sekolah tepat sebelum bel berbunyi. Suasana pagi di SMA Bintangku selalu begitu, ramai dan penuh semangat. Namun, suasana itu seketika menjadi lebih heboh saat beberapa siswi berteriak pelan dan mulai berbisik-bisik.
"Eh itu Bara! Kak Bara lewat situ!"
"Wih ganteng banget sih hari ini!"
Refleks, Zea menghentikan langkahnya. Matanya otomatis mencari arah yang ditunjuk oleh teman-temannya. Dan benar saja, di ujung koridor utama, tampak seorang pemuda tengah berjalan santai bersama teman-temannya.
Itu Bara Wijaya.
Kakak kelas yang paling populer se-sekolah. Tinggi, atletis, dengan seragam yang dikenakan dengan gaya santai namun tetap rapi. Wajahnya tampan dengan tatapan yang teduh namun terlihat keren. Dia adalah kapten basket, Ketua OSIS, dan jelas saja idola semua siswi dari angkatan bawah sampai atas.
"Gila sih, makin hari makin ganteng aja tuh cowok," gumam Mita sambil melotot takjub.
"Ze, lo lihat nggak? Senyumnya itu lho... bikin meleleh!". Lanjutnya.
Zea hanya tersenyum tipis, jantungnya mulai berdetak lebih kencang dari biasanya. "Iya... kelihatan kok." kata Zea yang berusaha untuk tenang.
"Lo nggak seneng apa gimana? biasanya juga lo paling anteng sih," tanya Mita sambil menatap heran sahabatnya.
Zea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ngapain heboh Mit ? kita kan tahu sendiri, dia itu kak Bara. Puncak gunung, kita di bawah. Ngapain juga berharap lebih, kan dia nggak bakal pernah peduli sama kita." Ujar zea.
Sepersekian detik tiba-tiba zea melamun, entah sedang memikirkan apa. Mita keheranan.
" Yah elah, ngelamun lagi nih anak. Ya udah ayo masuk kelas, nanti Pak Budi marah lho," ajak Mita sambil menarik tangan Zea.
Namun, saat mereka berjalan melewati koridor, langkah Zea tiba-tiba tercekat. Bara dan teman-temannya berjalan berlawanan arah, dan kini mereka hanya berjarak beberapa langkah saja.
Aroma parfum pria itu sangat wangi dan maskulin. Zea bisa melihat jelas rahang tegas dan mata indahnya.
"Hei, hati-hati!" seru salah satu teman Bara saat tas Zea hampir tersenggol.
Zea buru-buru mundur dan menunduk dalam. "Ma-maaf kak ..." gumamnya pelan, wajahnya langsung memerah padam.
Bara yang sempat menoleh, kini berhenti melangkah. Dia menatap gadis yang menunduk itu dengan tatapan penasaran.
" Mita?" panggil Bara pada sahabat Zea.
"I-iya Kak Bara!" jawab Mita langsung kaku dan salah tingkah.
Bara tersenyum kecil, senyum yang selalu berhasil membuat seluruh siswi klepek-klepek.
"Masuk kelas aja sana, nanti telat lho." Matanya lalu beralih menatap Zea yang masih menunduk. "Kamu juga Zea, jangan melamun terus."
Deg!
Jantung Zea serasa mau copot. Suara berat dan lembut itu terdengar sangat jelas.
"I-iya, makasih Kak..." jawab Zea terbata-bata tanpa berani mengangkat wajah.
Bara pun kembali berjalan pergi bersama teman-temannya, meninggalkan Zea yang kini terpaku dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
"Astaga Zea! dia ngomong sama kita lho! Sumpah! Eum, tadi dia juga perhati'in lo!" Mita langsung mengguncang-guncangkan bahu Zea dengan heboh.
Zea terdiam, karena masih shock ketika bara mengenali namanya.
"Gila ya! Kak Bara yang dingin itu ngomong sama kita! Lo sadar nggak sih?!" kata Mita, dengan nada bicara yang penuh semangat.
Zea memegangi dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. Dia mendongak perlahan, menatap punggung Bara yang semakin menjauh.
"Dia... ngomong sama gue ?" tanya Zea pelan, tak percaya.
"Iyalah! meskipun cuma sebentar, itu tetep aja interaksi! Woy Zea, jangan melamun terus dong!" seru Mita.
Zea tersenyum kecil, menyimpan rasa bahagia itu sendirian di dalam hati.
Terima kasih sudah menyapa, Kak Bara... batinnya.
Bagi dunia, Bara adalah idola yang sempurna. Tapi bagi Zea, Bara adalah dunianya. Cinta diam-diam pada kakak kelas yang mulai tumbuh subur, yang ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia terindahnya.
Suasana di lapangan basket sekolah sangat ramai dan panas. Matahari siang bersinar terik, tapi tidak menyurutkan semangat para siswa yang berkerumun di pinggir lapangan.
Hampir setengah sekolah datang hanya untuk menonton latihan rutin tim basket, dan semua tahu alasannya yaitu Bara Wijaya.
"Itu dia! Itu dia Kak Bara!" seru Mita sambil menarik-narik lengan Zea dengan antusias. "Cepet Ze, kita cari tempat yang jelas biar bisa lihat secara jelas!" lanjutnya yang benar-benar tidak mau ketinggalan menonton Bara.
Zea tersenyum kecil dan mengikuti langkah sahabatnya. Mereka berdiri di pagar pembatas, tidak terlalu dekat tapi cukup untuk melihat jelas ke tengah lapangan.
Di sana, Bara sedang melakukan pemanasan.
Dia sudah mengganti seragamnya dengan jersey basket berwarna biru tua yang agak ketat, memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk sempurna.
Keringat mulai membasahi dahi dan lehernya, membuat penampilannya terlihat semakin maskulin dan seksi.
"Gila sih, makin dewasa aja gantengnya," gumam Mita takjub. "Lihat tuh postur tubuhnya... tinggi banget dan atletis banget ya."
Zea tidak menjawab, dia hanya terpaku menatap sosok itu.
Bara terlihat sangat berbeda saat di lapangan. Jika saat di koridor dia terlihat tenang dan dingin, saat memegang bola basket matanya berubah menjadi tajam dan penuh semangat.
"Yo, Bar! Ayo warming up shooting!" teriak salah satu teman setimnya.
Bara hanya mengangguk singkat, lalu mulai menggiring bola.
Duk.. duk.. duk..
Suara bola memantul lantai terdengar berirama.
Tanpa banyak bicara, Bara berlari kecil, lalu melompat tinggi ke udara. Gerakannya sangat luwes dan kuat. Dengan satu tangan, dia menepuk bola keras-keras ke arah ring.
BRAKK!
SHOOT!
Bola masuk dengan sempurna tanpa menyentuh besi ring sedikitpun.
Swish!
"WOHOOO! KEREN KAK BARA!" teriak para siswi bersorak heboh.
Bara hanya tersenyum tipis, menyeka keringat di dahinya dengan ujung jersey-nya. Dia lalu berjalan santai mengambil bola kembali. Matanya menyapu sekilas ke arah penonton.
Dan lagi-lagi... tatapan itu bertemu dengan mata Zea.
Zea yang sedang memandangi dengan wajah memerah langsung kaget dan buru-buru membuang muka, pura-pura melihat ke arah lain. Jantungnya berdegup kencang bukan main.
"Eh Ze! Tadi dia lihat ke arah kita lho!" Mita memekik kecil. "Lo sadar nggak sih?! Pasti dia lihat lo!"
"Apasih Mit.... mungkin dia lihat ke arah lain. Lagian yang nonton bukan cuma kita berdua saja" jawab Zea gugup, meski dalam hati dia berharap apa yang dikatakan Mita itu benar.
Latihan pun dilanjutkan. Bara memimpin timnya dengan sangat baik. Dia memberi instruksi, menolong teman yang kesulitan, dan selalu menjadi yang paling menonjol. Setiap kali dia berhasil memasukkan bola atau melakukan dribble yang keren, sorakan penonton makin keras.
Zea berdiri di sana, di antara kerumunan penggemar lainnya. Menjadi salah satu bayangan yang diam-diam menyimpan rasa kagum yang luar biasa pada kakak kelasnya itu.
Bagi Zea, melihat Bara bermain basket adalah hiburan terbaiknya . Melihat sang idola tersenyum, dan terlihat bahagia... itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hari Zea terasa sangat indah.
Keren banget... batin Zea tersenyum sendiri.
Dalam lamunan zea, dia ingin Bara menghampirinya bahkan sambil mengajaknya mengobrol.
Namun lamunan itu dibuyarkan oleh Mita, secara tak terduga.
"Duhhhh mitaaaaa!!" seru zea, sambil menatap kesal ke arah Mita.
"Lo ngelamunin siapa? kak Bara ya?" goda Mita sampai membuat wajah zea merah.
Suasana kantin cukup ramai. Di satu meja, terlihat Bara dan Rega sedang duduk santai menikmati makan siang mereka. Rega terlihat sering mencuri pandang ke arah meja Naya yang tidak jauh dari situ.
"Bro, gue serius deh," kata Rega sambil menghela napas panjang, matanya tak lepas dari Naya. "Gue ngerasa Naya itu cocok banget sama gue. Cantik, kalem, satu angkatan pula. Kayaknya dia juga baik orangnya."
Bara hanya tersenyum tipis sambil membuka tutup air mineralnya. "Iya, kalau lo suka ya tembak aja, Ga. Gue dukung kok."
"Rencana sih mau nembak minggu depan pas ulang tahun dia." Sahut Rega bersemangat. "Doain ya Bro!" Lanjutnya.
“Sedetail itu?” Bara menatapnya heran. “Lo nembak atau bikin proposal nikah?”
Namun, semangat Rega seketika pudar saat melihat apa yang terjadi di hadapan mereka.
Naya yang sedang berbincang dengan teman-temannya, tiba-tiba berhenti bicara. Matanya tidak melihat ke arah Rega yang sedang memandangnya, melainkan menatap lurus ke arah Bara dengan tatapan yang sangat berbeda. Tatapan yang penuh harap dan binar cinta yang begitu jelas.
Bahkan saat Bara tertawa kecil mendengar cerita teman lainnya, Naya ikut tersenyum lebar seolah dia yang sedang diajak bicara.
Wajah Rega perlahan berubah pucat. Dia menurunkan pandangannya, menyadari kenyataan yang pahit.
"Ga..." panggil Bara menyadari perubahan wajah sahabatnya. "Lo kenapa?"
Rega tertawa kecil, tapi tawanya terdengar hambar dan penuh kekecewaan. Dia menggeleng pelan lalu menatap Bara.
“Nggak jadi, Bro…” gumam Rega pelan, pandangannya jatuh ke lantai.
“Hah? Maksud lo apa?” Bara langsung menoleh, keningnya berkerut.
“Gue nggak perlu nembak Naya minggu depan,” lanjut Arga pelan. Suaranya terdengar tegas, tapi ada yang patah di dalamnya.
Rega tertawa hambar. “Karena gue baru sadar… cewek yang gue taksir itu ternyata nggak pernah lihat gue sama sekali.”
Bara mengernyit bingung. “Maksud lo?”
“Dia liatnya lo, Bar… bukan gue,” ucap Rega pelan, tapi tegas.
Ia menghela napas panjang. “Dari tadi gue perhatiin. Selama lo di sini, matanya nggak pernah geser dari wajah lo.”
Senyumnya terbit tipis, nyaris dipaksakan. “Gue berdiri di sebelah lo aja… dia nggak sadar.”
Bara terkejut mendengarnya. Dia spontan menoleh ke arah Naya.
Mendadak tatapan mereka bertemu. Naya yang ketahuan mengintip langsung tersipu malu dan tersenyum manis ke arah Bara, seolah memberi kode.
Bara langsung membuang muka dengan wajah datar, tidak ada senyum sedikitpun.
“Gila ya…” gumam Bara pelan, lalu menatap sahabatnya. “Maaf ya, Ga.”
“Ngapain minta maaf? Bukan salah lo.” Rega menghela napas, berusaha terdengar santai.
Ia tersenyum tipis. “Ya udahlah… gue sadar diri. Posisi gue sama lo kan beda jauh.”
Tatapannya kosong sejenak. “Wajar kalau cewek secantik dia lebih milih lo---yang ganteng, ketua OSIS, kapten basket lagi”
Lalu rega terkekeh pelan, hambar. “Daripada gue… yang cuma penumpang kereta api.”
"Jangan gitu dong, lo juga ganteng kok," kata Bara mencoba menghibur.
" Yaelahhh, stop. Gue udah ikhlas kok," Rega mencoba tersenyum walau terpaksa. "Cuma ya... gue nggak nyangka bakal sejelas ini sih. Sakit juga bro, tapi ya udah lah."
Melihat Rega yang sudah pasrah, Bara pun mengambil keputusan. Dia tidak ingin sahabatnya sedih, dan dia juga tidak ingin memberi harapan palsu pada siapa pun.
Tiba-tiba Bara berdiri, membuat Rega kaget.
"Eh lo mau ke mana?"
Bara tidak menjawab, dia justru berjalan mendekati meja Naya. Jantung semua orang yang melihat berdegup kencang. Naya terlihat sangat senang dan salah tingkah menyambut kedatangan kakak kelas idamannya itu.
"Ka-Kak Bara..." sapa Naya lembut.
Bara berdiri tegap di hadapan mereka, wajahnya terlihat serius dan dingin.
"Naya," panggil Bara dengan suara tegas. "Boleh ngomong sebentar?"
"Iya Kak, boleh banget!" jawab Naya antusias.
“Saya cuma mau meluruskan satu hal di sini,” ucap Bara lantang, tapi tetap sopan—cukup agar Rega dan teman-temannya mendengar.
“Mungkin ada kesalahpahaman. Tapi… jangan sampai ada yang memberi atau menerima harapan yang salah.”
Naya terlihat bingung. “Maksud Kak Bara?”
Bara menatapnya tenang. “Rega, sahabat saya, dia orangnya baik dan serius sama kamu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih tegas.
“Tapi kalau ternyata kamu lebih tertarik ke saya… saya minta maaf.”
Tatapannya lurus, tanpa ragu. “Karena sampai saat ini, saya tidak memiliki perasaan apa pun ke kamu. Dan saya tidak bisa membalas perasaan itu.”
JLEB!
Wajah Naya langsung memerah padam karena malu dan kaget. Teman-temannya pun ikut terdiam.
"Jadi, tolong jangan melihat saya seperti itu lagi. Karena yang pantas dapat senyum kamu itu dia, bukan saya. Saya tidak tertarik," tegas Bara lagi tanpa ragu.
Setelah mengatakan itu semua, Bara pun berbalik badan dan kembali berjalan menuju tempat dimana Rega berdiri, dia meninggalkan Naya yang terpaku menahan malu.
Bara duduk kembali di hadapan Rega yang masih melongo tak percaya.
"Bro... lo..." Rega terlihat bingung antara sedih atau terharu.
"Udah gue bilang kan?" Bara menepuk bahu Rega kuat-kuat. "Gue nggak suka dia. Dan gue nggak mau sahabat gue sakit hati cuma karena hal kayak gini. Anggap aja urusan selesai, ya."
Rega tersenyum lebar kali ini, rasa kecewanya perlahan hilang digantikan rasa bangga punya sahabat seperti Bara.
“Makasih ya, Bar. Lo emang the best!”
Bara terkekeh kecil. “Santai aja, lebay.”
Di sudut lain, Zea yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal sampai akhir ikut terpaku.
Kak Bara menolaknya... batin Zea tak percaya. Padahal Naya kan cantik dan populer... tapi Kak Bara bilang tidak tertarik?
Hati kecil Zea tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Ada rasa lega, tapi sekaligus makin penasaran dengan sosok kakak kelas yang satu itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!