Indonesia
NovelToon NovelToon

AKHIR DARI PENYESALAN

SATU

"Baju untuk hari ini udah ku pilihin, Mas. Gih, cepet mandi dan siap-siap. Nanti terlambat ke kantor lho, ini udah siang."

Kanaya Ambar Evelyn, ia mengguncang dengan lembut tubuh suaminya yang masih terbaring nyenyak di atas ranjang dan terbalut selimut tebal.

"Hmmmmm,..."

Kanaya tersenyum tipis saat suaminya itu hanya menggeram, tapi tak bangun dan masih dalam posisi tidurnya.

"Mas,... Udah siang lho ini, katanya ada acara penting di kantor."

Kanaya berusaha menarik selimut yang menutupi suaminya, membiarkan cahaya lampu kamar menyorot dan mengganggu kenyenyakan tidur pria itu.

"Andra Gumelar!" Kanaya memanggil nama lengkap suaminya, ia sengaja memasang nada suara seolah dirinya marah dan caranya itu berhasil.

Andra membuka matanya seketika, menatap sang istri yang berdiri tak jauh darinya dengan ekspresi wajah memicing dan tangan bertengger di kedua pinggangnya.

"Iya, iya. Ini aku udah bangun, Sayang." Andra menarik lengan Kanaya, membuat wanita itu jatuh ke dalam pelukannya dan memeluk sang istri dengan sangat erat.

Terdengar gelak tawa memenuhi kamar mereka, cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah jendela menambah kesan hangat pasangan tersebut.

"Oops! Nope! No morning kiss sebelum mandi. Mandi dulu, baru cium."

Kanaya meletakan jari telunjuknya di bibir Andra yang hendak mencium bibirnya, ia mendorong lembut sang suami untuk menjauh.

Wajah cantiknya tampak riang, senyum manis di

bibirnya yang penuh semakin menegaskan pesonanya.

"Satu kali aja,..."

Andra memasang wajah memelas yang membuat Kanaya kembali tertawa, wanita itu kemudian menggelengkan kapalanya sambil masih tersenyum manis.

"No,... Mandi dulu."

Kanaya menyilangkan kedua tangannya di atas dada, menatap Andra yang cemberut karena permintaannya tak dituruti.

Bukan apa-apa, bukannya ia tak sudi dicium oleh sang suami saat pria itu baru saja bangun dari tidurnya.

Akan tetapi, jika ia membiarkan Andra menciumnya sekarang, maka pria itu pasti akan menariknya kembali ke atas ranjang dan melakukan aktivitas yang justru akan membuat pria itu semakin terlambat.

"Ayo, mandi. Janji, nanti cium kalo udah selesai mandi."

Kanaya menarik lengan Andra, memaksanya untuk

Segera bangun dari atas ranjang dan bergegas ke kamar mandi karena waktu terus berjalan.

Sinar matahari dari celah jendela juga tampak semakin terik di luar, pertanda bahwa hari semakin siang.

"Janji?" Kanaya mengangguk.

Dengan malas dan enggan, Andra bangun kemudian turun dari ranjang.

Ia kembali memeluk sang istri erat dan menciumi

leher wanita itu sebelum akhirnya benar-benar bergegas

masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Kanaya menggelengkan kepalanya sambil berdecak, tapi senyum bahagia masih terukir di bibir penuhnya.

Wanita itu membuka lebar gorden jendela dan membiarkan cahaya matahari yang hangat masuk semakin leluasa menerangi kamarnya.

Sambil bersiul lembut, Kanaya membersihkan dan merapikan ranjang yang berantakan.

Suara getar ponsel milik Andra di atas meja nakas sedikit menarik perhatiannya, ia melirik sekilas ke arah benda tersebut dan seketika terdiam.

Kanaya sebenarnya bukan tipe pasangan yang suka mengotak-atik dan memeriksa isi ponsel suaminya, tapi nama yang muncul di layar benda canggih tersebut membuat wanita itu penasaran sekaligus,.... Curiga.

Kanaya menatap ke arah pintu kamar mandi lama, kemudian kembali menatap ponsel di atas meja nakas seolah tengah berpikir dan menimbang tentang hal apa yang akan dirinya lakukan.

Ia meletakan bantal di tangannya dan memutuskan untuk memeriksa benda elektronik tersebut.

Dengan sedikit gemetar Kanaya mengambil ponsel tersebut dan membuka pesan yang baru saja masuk, keningnya mengernyit dalam bersamaan dengan dadanya yang bergemuruh saat melihat isi pesan tersebut.

Jantungnya seketika berpacu dengan sangat cepat,

Kanaya bahkan bisa mendengar suara debarnya dengan sangat jelas.

"Hari ini beneran jadi berkunjung ke sini kan, Mas?

Aku udah masak masakan kesukaan kamu, aku tunggu ya.

Aku udah nggak sabar ketemu sama kamu, Mas. Aku kangen."

Begitu lah isi pesan yang baru saja masuk ke ponsel suaminya.

Sebuah pesan yang tidak mungkin dikirim oleh teman atau sekedar rekan kerja. Pesan seperti itu hanya dikirim oleh seseorang dengan hubungan spesial.

Tangan Kanaya semakin gemetar, dadanya sesak bukan main.

Tapi wanita itu menguat dan memberanikan diri, ia menggulir layar ponsel dan memeriksa seluruh riwayat pesan antar suaminya dengan perempuan tersebut.

Dugaannya semakin kuat, suaminya memar benar-benar telah mendua.

Setiap kata dan kalimat dari percakapan mereka yang ia baca, setiap foto yang saling mereka kirim dan riwayat panggilan di antara mereka yang berlangsung cukup lama benar-benar meruntuhkan dunianya.

Andra telah mengkhianatinya, dan tidak hanya sampai di situ, pria itu bahkan sudah menikahinya

Suara air yang berhenti dari kamar mandi menarik kesadaran Kanaya kembali, ia dengan cepat mengambil screenshoot riwayat chat mereka kemudian mengirimkan semua bukti itu ke nomor miliknya.

Setelah menghapus bukti kirim dari ponsel suaminya, ia kembali meletakan benda tersebut tepat saat pintu kamar mandi terbuka.

Wajah sumringah dan ceria Andra menyapanya, tapi yang ia rasakan saat ini pada pria itu hanyalah marah dan kecewa.

"Ayo, sini cium. Tadi udah janji, kan? Sini."

Andra berjalan riang sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, bibirnya mengerucut bersiap untuk mencium Kanaya.

Kanaya jelas menghindar, ia jijik bukan main.

Wanita itu tidak sudi disentuh kembali oleh tangan dan tubuh suaminya yang sudah dia pakai untuk menyentuh perempuan lain.

"Eyy, kok gitu sih. Tadi kan janji kalo udah mandi boleh cium-cium." Suaminya berucap manja, tapi yang muncul di hati Kanaya adalah rasa jijik yang semakin besar.

Bagaimana mungkin suaminya bisa bersikap seperti ini padanya dan tetep mendua di luar sana?!

"Sini, cium. Kamu nggak bisa kabur, aku-"

Andra menghentikan aksinya saat melihat ekspresi

sang istri yang jelas jauh berbeda dengan sebelum ia masuk ke kamar mandi.

"Sayang, kamu nggak apa-apa?"

Andra bertanya dengan penuh rasa khawatir, ia melangkh semakin cepat dan hendak menarik lengan Kanaya mendekat padanya tapi lagi-lagi wanita itu menghindari sentuhannya.

"Kanaya? Kenapa? Ada apa, Sayang?"

Andra menatap sang istri dengan bingung, ia jelas tidak mengerti dengan perubahan tiba-tiba wanita itu.

Baru saja, sebelum ia masuk ke kamar mandi wanita itu masih bersikap manja dan manis, lalu sekarang Kanaya bertingkah laku dan bahkan menatapnya seolah Andra adalah orang yang paling dirinya benci.

"Sejak kapan?"

Kening Andra mengernyit bingung, ia jelas tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan tiba-tiba Kanaya.

"Apanya yang sejak kapan, Sayang? Kamu kenapa begini tiba-tiba? Ada apa, hmm?"

"Sejak kapan kamu menikah sama perempuan itu?"

Wajah Andra seketika memucat, ekspresi bingung pria itu perlahan menghilang dan berganti dengan kesadaran.

Ia akhirnya sadar apa yang meniadi penyebab perubahan mendadak sang istri. Kanaya sudah tau.

"Kamu,... Kamu tau dari mana? Kamu cek-cek handphone-ku?"

Dua

Tanya Andra sambil menatap ponsel miliknya yang tersimpan di atas meja nakas, kemudian kembali menatap Kanaya.

"Nggak penting aku tau dari mana. Jawab aja, sejak kapan kamu menikah sama perempuan itu?" Kanaya menjawab dengan suara tegas.

"Sayang, ayo kita duduk dulu. Kita bicarain ini baik-baik ya, aku-"

Andra menelan ludahnya saat ucapannya yang belum selesai itu terpotong tajam oleh suara Kanaya.

"Nggak usah banyak basa-basi, Mas. Jawab aja pertanyaanku langsung ke intinya, to the point. Sejak kapan kamu menikah sama dia?"

Andra terdiam, ia terlihat ingin menjawab tapi ragu dan takut.

Bibirnya beberapa kali terbuka tapi tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya, pria itu terlihat seperti ikan megap-megap karena dilempar paksa keluar dari air.

Andra terdiam, ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang pelan nyaris seperti berbisik.

"Belum lama, baru beberapa bulan lalu. Sejak bulan Maret."

Kanaya mendengus, ia menatap langit-langit kamarnya berusaha menahan air mata yang terasa menusuk-nusuk ingin keluar.

Bukan, Kanaya menangis bukan karena sedih. Tapi

Karena dirinya marah.

Wanita itu sangat marah karena merasa dirinya dipermainkan dan diperlakukan seperti orang bodoh oleh suaminya sendiri.

"Kamu menikah sama dia sejak bulan Maret, tapi sejak kapan kalian mulai berhubungan? Nggak mungkin kamu baru kenal dan langsung menikah, kan?

Pasti sebelum itu kalian menjalin hubungan pacaran.

Jadi sejak kapan tepatnya kamu mengkhianati aku, Mas?"

Andra kembali terdiam, ia kembali menarik nafas panjang yang berat seolah dirinya lah yang kesakitan karena dikhianati.

"Aku nggak inget kapan tepatnya, tapi sejak tahun

lalu."

Andra akhirnya berterus terang. Pria itu sadar bahwa berbohong dalam keadaan seperti ini bukan lah pilihan yang tepat dan sudah terlalu terlambat.

Ia menatap Kanaya dengan pandangan memelas, sorot tenang sang istri kini berubah sinis dan tajam.

"Tega kamu, Mas. Siang malam aku di rumah mendo'akan kamu, kamu malah mengkhianati aku dari belakang." Andra mendekat hendak meraih lengan sang istri dan memeluknya erat, tapi jelas Kanaya tak sudi.

Wanita itu menghindar dan menjauh darinya, menciptakan jarak di antara mereka yang membuat Andra merasa panik dan juga takut.

"Aku minta maaf, Sayang. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa menerima

pernikahanku sama dia. Aku janji, cinta dan perasaan aku ke kamu nggak akan berubah sedikit pun meski sudah ada dia. Posisi kamu sebagai yang pertama nggak akan pernah tergantikan."

Kanaya kembali mendengus sinis, tertawa sinis seolah mengejek ucapan Andra.

Wanita itu menggelengkan kepalanya tak habis pikir, semua kalimat yang terucap dari mulut sang suami seolah menyepelekan perasaan dirinya.

"Waw, kalimat kamu itu sangat menghibur dan menenangkan. Harus kah aku merasa tersanjung, Mas? Harus kah aku merasa tersipu karena kamu tetap menjadikan aku sebagai yang pertama meski jelas-jelas kamu berkhianat? Wah,...."

Kanaya tertawa maniak sebelum suara gelak itu menghilang dan berganti keheningan. Mereka berdua berdiri saling berhadapan, saling menatap dengan sorot mata yang berlawanan.

Andra menatapnya nanar, sedangkan Kanaya menatapnya sinis.

"Kumpulkan semua keluarga kamu, termasuk Ibu sama Ayah. Aku mau masalah ini dibicarakan di depan mereka semua." Tanpa menunggu jawaban sang suami, Kanaya berlalu pergi meninggalkannya sendirian.

Andra menghembuskan nafas panjang sambil meremas rambutnya frustasi, ia tak pernah berpikir kalau Kanaya pada akhirnya akan mengetahui tentang Nisrin-istri keduanya.

Dengan pikiran yang kalut, Andra memakai baju dan

Celananya kemudian berlalu mencari sang istri berharap wanita itu masih bisa diajak berbicara dengan tenang.

"Sayang, please kita bicarain dulu baik-baik. Jangan melibatkan orang lain apalagi-"

"Aku udah telfon semua keluarga kamu, aku tau kamu nggak bakalan mau telfon mereka buat ke rumah ini.

Mereka datang ke sini sebentar lagi." Kanaya memotong dengan suara dingin yang tenang.

Tatapannya lurus ke depan, enggan melihat wajah sang suami.

***

"Ada apa, Naya? Kenapa tiba-tiba telfon terus nyuruh ke sini mendadak? Apa ada masalah?" Kanaya menatap Samirah, ibu mertuanya dengan sorot mata yang tidak terbaca.

"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama Ibu dan Ayah. Penting. Silahkan duduk dulu,..." Jawab Kanaya dengan suara tenang sambil menunjuk sopan soffa di hadapannya.

Meskipun bingung dan tak mengerti, Samira tetap duduk menuruti permintaan Kanaya.

Ia menatap wajah putra dan menantunya bergantian, Samira jelas bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres di antara mereka berdua.

Wajah Andra yang tegang dan tak henti-hentinya susah payah menelan ludah semakin menegaskan bahwa keadaan mereka memang sedang tidak baik-baik saja.

"Ada apa, Nak?" Kali ini Daris, ayah mertuanya yang

bertanya.

Pria itu juga bisa merasakan atmosfer yang tidak nyaman di rumah ini.

"Sebelumnya aku minta maaf karena mendadak menghubungi Ayah dan Ibu tanpa kejelasan dan meminta kalian cepat-cepat ke sini. Tapi ada hal yang sangat penting yang perlu aku bicarakan, ini tentang Mas Andra."

Samira dan Daris sontak menatap putranya, kedua mata mereka memicing penuh selidik sebelum kembali menatap Kanaya yang masih memasang wajah tenang tak terbaca.

"Kenapa sama Andra, Nak? Dia bikin masalah?" Tanya Daris, pandangannya bergantian menatap wajah Andra dan Kanaya.

"Mas Andra,.... Mas Andra sudah menikah lagi. Tanpa sepengetahun aku dan pernikahan kedua dia sudah berlangsung cukup lama." Ucap Kanaya berterus terang.

Ia memperhatikan raut wajah ibu dan ayah mertuanya, berpikir kalau mereka akan sama terkejutnya dengan dirinya saat mengetahui masalah ini.

Tapi tidak.

Ibu dan ayah mertuanya itu tampak tenang dan tak terkejut sama sekali seolah mereka sudah mengetahui semuanya.

"Mas Andra menikah lagi, dia punya istri kedua tanpa sepengetahuan aku." Kanaya mengulang kalimatnya kembali, berpikir kalau ibu dan ayah mertuanya tidak mendengar dengan baik apa yang ia ucapkan sebelumnya.

Ia menatap wajah Samira dan Daris bergantian lekat-lekat, tapi ekspresi keduanya tidak berubah sama sekali.

"Ibu sama Ayah denger yang aku bilang, kan?"

Kanaya tanpa sadar menahan nafasnya saat Samira dan Daris menganggukan kepala, tapi raut wajahnya masih persis sama.

"Ibu sama Ayah udah tau?" Kanaya akhirnya menyimpulkan ketenangan kedua mertuanya.

"Kalian tau dan membiarkan Mas Andra melakukan ini?" Kanaya bertanya tak habis pikir, suaranya memelan parau.

Gemuruh di dadanya yang sempat padam kini kembali berkobar, jauh lebih hebat dari sebelumnya.

Kedua matanya kembali terasa panas, air mata menggenang dan siap untuk tumpah. Ia tidak hanya dikhianati oleh Andra, tapi juga oleh kedua orangtua pria itu yang ia sayangi seperti orangtua kandungnya sendiri.

Terdengar helaan nafas panjang dari Samira sebelum akhirnya wanita itu membuka mulut dan mengucapkan kalimat yang membuat hati Kanaya terluka semakin dalam.

"Ibu sama Ayah sudah tau karena memang kami lah yang mengizinkan Andra untuk menikah lagi. Kami juga yang memilihkan istri keduanya. Perempuan itu adalah perempuan pilihan kami."

Kanaya menatap Samira tak percaya, penglihatannya terasa semakin buram karena air mata yang semakin menggenang.

TIGA

Dadanya sesak bukan main.

"Kenapa? Apa kurangnya aku sebagai istri Mas Andra dan menantu kalian selama ini?"

"Nggak ada, Naya. Kamu nggak kurang apapun. Tapi untuk melaksanakan poligami kan nggak harus karena pasangan punya kekurangan, yang penting Andra mampu maka itu udah cukup sebagai alasan. Apalagi Andra sekarang juga udah sukses dan stabil kan bisnisnya, nggak ada salahnya berbagi kekayaan sama orang lain." Jawab Daris.

"Sebenarnya,...." Samira kembali menimpali, ia menjeda ucapannya sesaat dan menarik nafas panjang sambil menatap wajah Kanaya dalam.

"Ibu jujurnya aja sama kamu ya, Naya. Sebenarnya, alasan utama kenapa Ibu sama Ayah mengizinkan Andra untuk menikah lagi adalah karena anak. Ibu sama Ayah udah nggak sabar untuk punya cucu, apalagi usia kami juga udah nggak lagi muda. Setiap harinya Ibu sama Ayah semakin tua dan kami takut nanti nggak punya kesempatan untuk menimang cucu." Samira berterus terang.

"Tapi aku sama Mas Andra juga baru menikah dua tahun, Bu. Kita juga sekarang lagi menjalani program kehamilan. Aku dan Mas Andra udah periksa dan kemi berdua sehat. Aku belum hamil karena memang belum Tuhan kehendaki, kenapa nggak bisa sabar sedikit lebih lama lagi?" Suara Kanaya semakin serak parau.

"Ya karena alasan itu, karena Ibu sama Ayah udah muda lagi. Kalau sampai nanti kamu juga hamil, ya nggak apa-apa. Bagus. Keluarga kita bisa makin besar dan ramai.

Kalau kamu nggak hamil-hamil juga ya nggak masalah, nanti kamu bisa bantuin Nisrin untuk urus anak. Kan anak dia sama Andra juga nantinya jadi anak kamu."

Samira berucap dengan begitu enteng, seakan dia sedang membicarakan permainan di taman kanak-kanak.

Seolah-olah perasaan dan hati Kanaya sebagai perempuan juga istri tidak lah penting.

"Terus kenapa kalian nggak kasih tau aku? Kenapa nggak ada satu pun di antara kalian yang memikirkan perasaan aku?" Ucap Kanaya.

Suaranya yang serak dan parau perlahan terdengar lebih lugas, sorot mata terluka wanita itu berubah tegas dan tajam.

"Ya karena begini lah kalau kamu tau. Kamu pasti marah dan bahkan mungkin bakalan berusaha menggagalkan pernikahan kedua Andra. Tapi sekarang kamu udah terlanjur tau, Ibu sama Ayah harap kamu bisa menerima adik madu kamu. Semuanya udah terlanjur terjadi, lagi pula Nisrin itu perempuan yang baik. Kalau kamu bisa menerima dia, kalian pasti bisa jadi sahabat baik."

Kanaya menatap Samirah tak habis pikir, bertahun-tahun ia mengenal wanita itu dan Kanaya baru tau bahwa ibu mertuanya adalah wanita tidak berperasaan.

Kanaya menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak nyeri seperti diiris setiap kali ia menghirup oksigen.

"Okey kalau gitu, nggak ada gunanya lagi aku tinggal di sini. Nggak ada gunanya aku tinggal di rumah dan keluarga yang orang-orangnya nggak pernah menghargai atau memikirkan perasaanku." Ucap Kanaya sambil mengusap air matanya.

"Sayang, jangan begitu. Kamu nggak bisa memutuskan pernikahan kita sepihak begitu aja." Andra yang sejak tadi diam menutup mulutnya bak pengecut akhirnya berbicara.

Ia menggenggam lengan Kanaya yang kali ini untungnya tak menghempaskan tangannya kasar.

"Lho, kenapa? Kamu aja menikah lagi karena keputusan sepihak, kan? Tanpa sepengetahuan aku sama sekali. Terus kenapa sekarang nggak terima aku melakukan hal yang sama?"

Pertanyaan Kanaya membuat Andra bungkam

seketika.

"Coba pikir baik-baik, Naya. Jangan memutuskan hal besar dalam keadaan emosi, jangan sampai kamu menyesal nantinya. Ayah tau kamu kecewa dan pasti sulit menerima hal ini, Ayah paham. Tapi bercerai tetap bukan solusi, seenggaknya tenangkan diri dulu dan jangan terburu-buru." Daris berusaha untuk membujuk Kanaya.

"Iya, Naya. Kita kasih kamu waktu untuk berpikir lebih tenang sebelum memutuskan."

"Oh, nggak perlu. Mau kalian kasih waktu aku berapa lama pun, keputusan aku akan tetap sama dengan yang sekarang." Raut sedih dan sorot nanar telah sepenuhnya hilang dari wajah Kanaya.

"Apa salahnya menurunkan ego, Naya? Toh posisi kamu sebagai istri pertama Ibu yakin nggak akan pernah berubah di hati Andra."

Kanaya menatap Samira lekat-lekat, masih tak percaya dengan ibu mertuanya yang seolah-olah tak mampu menghargai perasaan orang lain.

"Naya? Kanaya?!" Kanaya tersentak, ia tanpa sadar melamun dan tenggelam di dalam pikirannya sendiri.

"Okay,..." Mata Andra seketika membola terkejut mendengar jawaban Kanaya.

"Kamu,.... Kamu mau terima? Kamu nggak keberatan, Sayang?" Andra bertanya antusias, penuh dengan harapan. Kedua mata pria itu tampak berbinar menatap wajah Kanaya.

"Hmm,..." Kanaya hanya bergumam pelan, tapi jawaban singkatnya mampu membuat ketiga orang yang mengelilinginya bahagia.

"Dengan satu syarat." Ucap Kanaya membuat mertua dan suaminya kembali menatap ia dengan penuh kehati-hatian.

"Apa, Sayang? Bilang aja, kamu mau minta apapun pasti aku bakalan penuhi." Andra menjawab tanpa ragu.

"Semua asset dan harta Mas Andra harus atas nama aku. Tanpa terkecuali." Ucap Kanaya tegas, suaranya mengisyaratkan bahwa ia tak mau menerima bantahan.

"Kamu nggak bisa minta hal seperti itu, Kanaya. Harta dan asset Andra-" Samira tak sempat menyelesaikan ucapannya saat Andra memotong dengan cepat.

"Iya, Sayang. Aku nggak keberatan. Semua harta dan asset milik aku bakalan jadi milik kamu sepenuhnya, atas nama kamu." Andra menjawab tanpa memperdulikan delikan tajam kedua orangtua terutama ibunya.

Ia tak akan ragu untuk melakukan apapun dan menyerahkan semua yang dia miliki jika hal itu bisa membuat Kanaya tetap berada di sampingnya.

"Andra, kamu-" Lagi, ucapan Samira terpotong saat sang putra menjawab tanpa ragu.

"Nggak apa-apa, Bu. Aku nggak keberatan. Toh Naya istriku, hartaku memang milik dia juga." Jawab Andra.

Samira mendengus, ia menatap tak setuju pada Kanaya dan Andra bergantian tapi tetap memilih untuk tutup mulut karena wanita itu tau keputusan putranya tidak akan berubah.

Tanpa mereka sadari, Kanaya yang terdiam duduk tampak tersenyum menyeringai. Hanya ada satu alasan kenapa ia memilih untuk mengiyakan, yaitu untuk membalas dendam atas sakit hatinya.

Kanaya akan memastikan sendiri kehancuran keluarga ini dan ia akan menontonnya dengan suka cita.

Kanaya akan pastikan mertua juga suaminya akan merasakan sakit dan kecewa yang lebih dalam dari yang ia rasakan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!