Lampu neon di gudang supermarket itu berkedip-kedip, menciptakan bunyi dengung rendah yang memekakkan telinga jika suasana sedang sepi.
Ashela Safira menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan sedikit noda debu di kulit wajahnya yang putih pucat.
Di hadapannya, belasan kardus berisi susu kaleng menunggu untuk disusun ke rak depan.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 11 malam dan ini adalah pekerjaan keduanya hari ini.
Pagi hari ia bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor logistik kecil, dan malamnya, ia berubah menjadi buruh angkut di toko swalayan 24 jam.
"Asha, kamu belum pulang?" suara berat Pak Damar, kepala gudang menginterupsi gerakannya.
Ashela menoleh, memberikan senyum tipis yang tulus meski matanya memancarkan kelelahan yang luar biasa.
"Sedikit lagi, Pak. Tanggung, tinggal rak bagian minuman nutrisi." seru Ashela dengan semangatnya uang dipaksa.
Pak Damar menggelengkan kepala, merasa iba. Ia tahu gadis di depannya ini bukan sembarang gadis.
Di balik seragam supermarket yang kebesaran itu, Ashela memiliki kecantikan yang alami yaitu mata bulat dengan bulu mata lentik, hidung kecil yang proporsional, dan bibir merah muda yang jarang sekali mengeluh.
Namun, kecantikan itu seolah tertutup oleh beban hidup yang ia pikul sendirian sejak kedua orang tuanya meninggal dunia.
Semua Ashela jalani dengan sukarela, mungkin ini memang sudah jalannya. kalau bisa memilih maka Ashela juga ingin ikut orang tuanya saja dari pada harus bersusah payah, namun Ashela tahu mengeluh tidak akan melunasi semua hutangnya.
"Jangan terlalu diforsir. Kamu itu perempuan, Sha. Nanti kalau sakit, malah biayanya lebih mahal daripada gajimu," nasihat Pak Damar.
Ashela terkekeh kecil sambil mengangkat satu kardus lagi.
"Kalau saya berhenti sekarang, bunga hutangnya yang nggak akan berhenti tumbuh, Pak. Saya nggak mau dikejar-kejar orang berwajah seram lagi ke kosan." ucap gadis tangguh dan pekerja keras itu, sebuah tanggung jawab yang begitu berat harus dia emban.
Kalimat itu diucapkan dengan nada bercanda, namun Pak Damar tahu itu adalah kenyataan pahit.
Ayah Ashela meninggalkan hutang dalam jumlah fantastis pada rentenir sebelum meninggal akibat kecelakaan medis beberapa tahun lalu.
Sebagai anak tunggal yang yatim piatu, Ashela mewarisi beban itu tanpa pilihan.
Dia diharuskan dewasa sebelum usianya, jika anak-anak usianya masih sering manja-manja ke orang tuanya dan liburan seru, maka Ashela sudah dituntut dengan tanggung jawab yang begitu besar dengan kepergian kedua orang tuanya dan juga hutang ayahnya yang semakin tahun semakin menggunung.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya pukul 12 malam, Ashela mengganti seragamnya. Ia mengenakan jaket lusuh untuk menutupi tubuhnya dari angin malam. Ia berjalan kaki menuju kosannya yang sempit untuk menghemat ongkos.
Di sepanjang jalan, ia seringkali harus menunduk, menghindari tatapan pria-pria iseng di pinggir jalan. Meski hidupnya sulit, Ashela tetap menjaga kehormatannya dengan sangat ketat.
Baginya, satu-satunya hal berharga yang ia miliki dan tidak bisa dibeli dengan uang adalah harga dirinya.
Sesampainya di kamar kos berukuran 3x3 meter, Ashela tidak langsung tidur. Ia membuka sebuah buku catatan kecil. Di sana tertera angka-angka yang dicoret.
"Tinggal delapan puluh juta lagi." gumamnya pelan.
Angka itu mungkin kecil bagi orang kaya, tapi bagi Ashela, itu setara dengan keringat dan darah yang harus ia kucurkan selama bertahun-tahun lagi. Ia menghela napas panjang, lalu merebahkan tubuhnya di kasur tipis.
Besok adalah hari Sabtu. Ia mendapat tawaran pekerjaan tambahan sebagai tenaga bantuan di sebuah acara gala dinner mewah di sebuah hotel bintang lima.
Bayarannya tiga kali lipat dari gajinya di supermarket hanya untuk satu malam.
Ashela tidak tahu bahwa keputusan untuk mengambil pekerjaan itu besok akan mengubah seluruh garis takdirnya.
...****************...
Di sisi lain kota, di sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu Jakarta, seorang pria berdiri di balkon dengan segelas wiski di tangannya.
Elvano Gavian Narendra baru saja menyelesaikan operasi bedah jantung selama sepuluh jam.
Wajahnya yang tegas, dengan rahang yang kokoh dan mata tajam yang dingin, tidak menunjukkan ekspresi apapun meski ia adalah pahlawan bagi pasien yang baru saja ia selamatkan.
Bagi Elvano, hidup adalah hitungan presisi. Tidak ada ruang untuk emosi, tidak ada ruang untuk kesalahan.
Ia adalah pewaris tunggal Narendra Hospital Group, rumah sakit swasta terbesar di negeri ini.
Namun, posisi itu tidak membuatnya merasa senang. Baginya, itu hanyalah tanggung jawab yang harus ia jalani dengan kaku.
"Dokter Elvano," suara asisten pribadinya terdengar dari dalam ruangan.
"Mama Zoya menelepon lagi. Beliau mengingatkan tentang acara besok malam. Beliau ingin Anda hadir tepat waktu." lanjut sang asisten.
Elvano menyesap minumannya, merasakan cairan hangat itu membakar tenggorokannya.
"Katakan padanya aku akan datang. Tapi jangan biarkan dia membawa daftar gadis-gadis itu lagi ke depanku."
"Baik, Dok."
Elvano memejamkan mata. Ia membenci keramaian, ia membenci basa-basi sosial, dan ia sangat membenci rencana perjodohan yang terus dipaksakan ibunya.
Ia tidak tahu bahwa esok malam, di acara yang ia benci itu, ia akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena sebuah pengkhianatan kecil, dan seorang gadis asing dengan mata lelah akan menjadi satu-satunya pelabuhan bagi gairahnya yang tak tertahankan.
Malam itu, di dua tempat yang berbeda, dua jiwa yang tidak saling mengenal sedang menunggu pagi.
Yang satu tertidur karena kelelahan setelah bekerja keras, yang satu terjaga karena tuntutan dunia yang dingin.
Mereka belum tahu, bahwa dalam waktu kurang dari 24 jam, hidup mereka akan terikat selamanya dalam satu malam yang penuh gairah dan penyesalan sebelum badai menerjang.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
Cerita baru lagi nihhhh,,, yukkk baca dan semoga suka sama ceritanya...
Jangan lupa untuk follow akun author yaaa dan favorikan ceritanya biar kalian tidak ketinggalan update bab nyaaaaa
Kritik saran boleh ya selagi masih dengan bahasa yang sopan bakalan author terima yaaaa
Matahari baru saja naik di ufuk timur, namun bagi Elvano Gavian Narendra, hari sudah dimulai sejak empat jam yang lalu.
Di pusat kebugaran pribadinya yang berdinding kaca, Elvano melakukan deadlift dengan beban yang sanggup membuat pria biasa mengerang kesakitan.
Keringat membasahi kaos hitamnya, menonjolkan otot-otot punggung yang kokoh dan lengan yang penuh urat menonjol yaitu tanda dari disiplin diri yang sangat ekstrem.
Elvano bukan sekadar anak pemilik rumah sakit. Di usianya yang menginjak 30 tahun, ia telah menyandang gelar spesialis bedah toraks dan kardiovaskular. Ia adalah aset paling berharga di Narendra Hospital.
Namanya seringkali muncul di jurnal medis internasional, bukan karena koneksi ayahnya, melainkan karena tangannya yang dikenal sangat presisi dan dingin di meja operasi.
Selesai berlatih, Elvano melangkah menuju kamar mandi. Guyuran air dingin menghantam kulitnya yang tegap. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang beruap. Rambut hitam pekat yang selalu tertata rapi, alis tebal yang hampir selalu bertaut, dan sepasang mata elang yang seolah bisa menembus apa pun yang ia lihat. Wajahnya adalah perpaduan antara ketampanan aristokrat dan ketegasan militer. Namun, di balik itu semua, ada sebuah tembok besar yang ia bangun untuk menjauhkan semua orang.
"Satu hari lagi yang membosankan," gumamnya dengan suara bariton yang rendah.
Pukul delapan pagi, Elvano sudah berada di rumah sakit. Ia melangkah menyusuri koridor VIP dengan langkah lebar dan berwibawa.
Setiap perawat yang berpapasan dengannya otomatis menunduk hormat, sebagian dari mereka tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipi saat melihat dokter paling tampan sekaligus paling ditakuti itu lewat.
"Dokter Elvano, laporan pasien di kamar 402 menunjukkan penurunan saturasi oksigen semalam," lapor seorang dokter residen yang mengekor di belakangnya dengan gugup.
Elvano tidak berhenti melangkah. Ia mengambil papan jalan dari tangan residen tersebut, membacanya sekilas dengan kecepatan luar biasa.
"Beri dia dosis tambahan furosemide dan pantau fungsi ginjalnya setiap dua jam. Jika dalam empat jam tidak ada perbaikan, siapkan ruang operasi. Dan satu lagi..." Elvano berhenti mendadak, membuat si residen hampir menabrak punggungnya.
Elvano berbalik, menatap tajam juniornya itu. "Kenapa laporan ini baru sampai ke tanganku sekarang? Apakah kamu menunggu pasien itu berhenti bernapas baru melapor?"
"Ma-maaf, Dok, semalam dokter jaga mengira..."
"Aku tidak butuh perkiraanmu. Di rumah sakit ini, kita bekerja dengan data, bukan asumsimu," potong Elvano dingin. "Perbaiki kinerjamu, atau jangan pernah masuk ke ruang operasiku lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Elvano melanjutkan langkahnya. Ia dikenal sebagai Dokter Es bukan tanpa alasan.
Baginya, empati yang berlebihan hanya akan mengaburkan logika medis. Pasien butuh kesembuhan, bukan simpati yang tidak berguna.
Siang harinya, ketenangan Elvano terusik oleh sebuah panggilan telepon. Di layar ponselnya tertera nama Mama Zoya. Ia menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.
^^^Elvano: [Ya, Ma?]^^^
Mama Zoya: [Elvano! Kenapa nadamu seperti sedang bicara dengan pasien?] suara wanita di seberang sana terdengar ceria namun menuntut.
Mama Zoya: [Jangan lupa, malam ini adalah anniversary ke-30 Narendra Hospital. Seluruh dewan komisaris akan hadir. Dan kau, sebagai wajah masa depan rumah sakit ini, tidak boleh terlambat.]
^^^Elvano: [Aku punya jadwal visit pasien malam ini, Ma.] ^^^
Elvano mencoba memberi alasan, meski ia tahu itu sia-sia.
Mama Zoya: [Bohong. Mama sudah mengecek jadwalmu pada sekretarismu. Kau kosong setelah pukul tujuh malam. Dan Elvano... Mama sudah mengundang putri dari keluarga Handoko. Dia cantik, lulusan manajemen bisnis dari London, dan dia sangat...]
^^^Elvano: [Ma, Aku datang untuk acara rumah sakit, bukan untuk mencari istri. Jika Mama terus memaksakan ini, aku tidak akan datang sama sekali.] potong Elvano dengan nada tegas.^^^
Mama Zoya: [Baiklah, baiklah! Dasar keras kepala,] keluh Mama Zoya.
Mama Zoya: [Tapi setidaknya pakai jas yang sudah Mama kirimkan ke apartemenmu. Jangan pakai jas putih doktermu itu ke pesta dansa!]
Elvano menutup telepon tanpa berpamitan. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Dunia medis yang penuh darah dan ketegangan baginya jauh lebih mudah dipahami daripada permainan politik keluarga dan perjodohan.
...****************...
Sementara itu, di sudut lain kota yang jauh lebih berisik dan berdebu, Ashela Safira sedang berjuang dengan rasa kantuknya di kantor logistik. Ia baru saja menyelesaikan laporan pengiriman barang saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari agen penyalur tenaga kerja paruh waktu masuk.
[Asha, posisi server untuk Gala Dinner di Hotel Grand Hyatt malam ini masih tersedia. Shift pukul 6 sore sampai 1 pagi. Gaji 1,5 juta plus tips kalau kamu beruntung. Mau ambil?]
Mata Ashela langsung membelalak. 1,5 juta untuk satu malam? Itu hampir setengah dari gaji bulanannya di supermarket. Tanpa berpikir dua kali, jemarinya yang lentik segera mengetik balasan.
^^^Ashela: [Saya ambil, Kak. Kirimkan detail seragam dan lokasinya.]^^^
Ashela menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. Ia menghitung cepat dalam kepalanya. Uang itu bisa ia gunakan untuk membayar cicilan hutang bulan ini lebih awal, dan mungkin ia bisa menyisihkan sedikit untuk membeli sepatu baru.
Menjadi pelayan panggilan seperti ini sering Ashela lakukan yang sering kali gajinya lebih besar dari pada pekerjaan nya.
Sepatu kerjanya yang sekarang sudah sangat tipis solnya, bahkan ia bisa merasakan panasnya aspal jalanan saat berjalan kaki.
Ia tidak tahu apa itu Narendra Hospital atau siapa itu Elvano. Baginya, hotel bintang lima hanyalah sebuah gedung megah di mana orang-orang kaya membuang uang mereka, sementara ia berdiri di sana hanya untuk memastikan gelas-gelas mereka tetap terisi.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Hotel Grand Hyatt sudah dipenuhi oleh mobil-mobil mewah berplat nomor cantik.
Karpet merah membentang dari lobi hingga ke ballroom utama. Harum parfum mahal dan denting gelas kristal mulai memenuhi udara.
Elvano tiba dengan mobil Lamborghini hitamnya yang elegan. Ia keluar mengenakan jas hitam custom-made yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna.
Setiap gerakannya memancarkan aura kekuasaan dan kemewahan yang tenang. Begitu ia memasuki ruangan, perhatian hampir seluruh tamu tertuju padanya.
"Dokter Elvano, selamat atas keberhasilan operasi transplantasi minggu lalu!" sapa seorang kolega.
Elvano hanya mengangguk sopan, memberikan senyum formal yang tidak sampai ke mata. Ia segera memisahkan diri ke sudut yang lebih sepi, mencoba menghindari kerumunan. Namun, matanya terus berpendar, merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang begitu semu ini.
Di area persiapan pelayan, Ashela sedang sibuk mengancingkan kemeja putihnya. Ia mengenakan rompi hitam dan rok kain yang pas di tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Tanpa riasan yang tebal, kecantikan alaminya justru terpancar dengan kuat.
"Ingat semuanya," instruksi kepala pelayan malam itu. "Tamu kita malam ini adalah orang-orang paling berpengaruh di negeri ini. Jangan ada kesalahan sedikit pun. Terutama untuk meja utama, di sana ada keluarga Narendra."
Ashela menarik napas dalam-dalam. "Keluarga Narendra," bisiknya pelan. Ia hanya berharap pekerjaannya cepat selesai agar ia bisa segera pulang dan tidur.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
Ia mengambil nampan peraknya, lalu mulai melangkah masuk ke dalam ballroom.
Di antara ratusan orang yang hadir, matanya tanpa sengaja menangkap sosok pria yang berdiri sendirian di dekat balkon dalam ruangan.
Pria itu terlihat sangat berbeda yaitu begitu dingin, begitu asing, namun memancarkan daya tarik yang mematikan.
Pria itu adalah Elvano.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu di tengah keramaian. Elvano hanya menatap datar pelayan kecil itu, sementara Ashela merasa jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena intensitas tatapan pria tersebut.
Ashela segera menunduk dan melanjutkan tugasnya, tidak menyadari bahwa pria yang baru saja ia lihat adalah pria yang akan menghancurkan sekaligus membangun kembali seluruh dunianya hanya dalam hitungan jam ke depan.
Malam baru saja dimulai, dan di balik kemewahan ini, sebuah minuman dari orang terdekat Elvano sudah disiapkan.
Sebuah minuman yang sudah dibubuhi sesuatu sedang menunggu untuk diantarkan, dan Ashela, tanpa sengaja, akan menjadi orang yang terlibat di dalamnya.
Malam semakin larut di ballroom Grand Hyatt, namun suasana justru semakin memanas. Denting piano klasik telah berganti dengan alunan saksofon yang rendah dan sensual.
Di sudut meja VVIP, Elvano merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Suhu ruangan yang disetel pada 18 derajat Celsius seharusnya membuat siapa pun merasa sejuk, namun Elvano merasa darahnya mulai mendidih.
Ia melonggarkan dasinya dengan kasar. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Pandangannya sedikit kabur, dan setiap suara di sekitarnya terdengar seperti dengung yang menjauh.
"Dokter Elvano, Anda baik-baik saja?" tanya seorang kolega bisnis ayahnya.
Elvano hanya mengangguk kaku, tidak sanggup mengeluarkan suara. Ia tahu ini bukan sekadar kelelahan.
Sebagai seorang dokter, ia mengenali gejala ini yaitu jantung yang berdegup abnormal, napas yang memburu, dan sensasi terbakar yang menjalar dari perut bagian bawah ke seluruh tubuh. Ia telah dijebak. Seseorang telah memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang menipis, Elvano beranjak dari kursinya. Ia harus pergi ke kamarnya di lantai atas sebelum ia kehilangan kendali sepenuhnya di depan publik.
Sementara itu, Ashela sedang membereskan baki di lorong sepi yang menuju lift staf. Ia baru saja diminta oleh supervisornya untuk mengantarkan sebotol air mineral dan handuk kecil ke suite nomor 1802 yaitu kamar milik keluarga Narendra.
"Kenapa harus aku? Tugasku kan di bawah," keluh Ashela pelan. Namun, mengingat bayaran tambahan yang dijanjikan, ia hanya bisa patuh.
Ashela berdiri di depan pintu lift khusus tamu. Saat pintu lift terbuka, seorang pria keluar dengan langkah sempoyongan. Tubuhnya besar dan atletis, hampir menabrak Ashela jika gadis itu tidak segera menghindar.
"Tuan? Anda tidak apa-apa?" Ashela bertanya dengan nada khawatir. Ia mengenali pria itu. Itu adalah pria dingin yang tadi sempat menatapnya di ballroom.
Elvano tidak menjawab. Ia hanya mencengkeram bahu Ashela untuk menyeimbangkan tubuhnya. Sentuhan itu seperti sengatan listrik bagi Elvano. Kulit Ashela yang dingin di bawah telapak tangannya terasa seperti oase di tengah padang pasir yang membakar.
Aroma tubuh Ashela ialah perpaduan antara sabun mandi murah yang segar dan wangi alami tubuhnya masuk ke indra penciuman Elvano, merusak pertahanan terakhirnya.
"Kamar... 1802..." geram Elvano dengan suara serak yang sangat rendah.
Ashela, yang melihat pria itu tampak kesakitan, segera memapahnya. "Mari, Tuan. Saya juga akan ke sana. Bertahanlah."
Begitu pintu kamar suite terbuka dan terkunci secara otomatis, suasana berubah drastis. Belum sempat Ashela menyalakan lampu utama, Elvano sudah menyudutkannya ke pintu kayu yang kokoh.
"Tuan? Apa yang Anda..."
Kalimat Ashela terputus. Elvano menerjang bibirnya dengan ciuman yang haus dan menuntut. Itu bukan ciuman yang lembut tapi itu adalah ciuman penuh gairah dari seorang pria yang sedang bertarung dengan insting liarnya. Ashela terkesiap, matanya membelalak kaget. Ia mencoba mendorong dada bidang Elvano, namun pria itu seperti gunung karang yang tak tergoyahkan.
Obat yang bekerja di dalam tubuh Elvano membuat setiap sarafnya menjadi ribuan kali lebih sensitif.
Saat lidah mereka bertemu, Elvano mengerang rendah di sela ciumannya. Tangan besarnya merangkup wajah Ashela, sementara tangan satunya lagi mencengkeram pinggang kecil gadis itu, menariknya hingga tidak ada jarak sedikit pun di antara tubuh mereka.
"Panas... kau sangat dingin..." bisik Elvano di telinga Ashela, suaranya bergetar karena menahan gejolak yang menyiksa.
Ashela merasa otaknya membeku. Ini adalah pertama kalinya seorang pria menyentuhnya seperti ini. Harusnya ia berteriak, harusnya ia lari. Namun, ada sesuatu dari keputusasaan Elvano yang membuatnya luluh. Ia bisa merasakan jantung Elvano yang berdegup kencang di dadanya, seolah pria itu sedang sekarat dan hanya Ashela yang bisa menyelamatkannya.
Elvano beralih ke leher jenjang Ashela. Ia menghujani kulit putih itu dengan kecupan-kecupan basah dan panas.
Setiap sentuhan bibir Elvano meninggalkan jejak kemerahan yang membara. Ashela mendongak, napasnya mulai tersengal. Tangannya yang tadi mencoba mendorong, kini tanpa sadar meremas kemeja mahal Elvano, mencari pegangan karena kakinya terasa lemas seperti jeli.
"Tuan... tolong... berhenti..." rintih Ashela, namun suaranya sendiri terdengar tidak yakin.
Elvano tidak mendengarkan. Ia seperti predator yang telah menemukan mangsanya. Ia membawa Ashela menuju ranjang besar di tengah ruangan dengan langkah yang masih sedikit goyah. Ia membaringkan tubuh mungil itu di atas sprei sutra yang halus.
Dalam remang cahaya lampu kota yang masuk dari jendela besar, Elvano menatap Ashela. Gadis itu tampak begitu cantik dan rapuh. Rambut sanggulnya sudah berantakan, jatuh menutupi sebagian wajahnya yang memerah. Elvano membuka jasnya dan melemparkannya ke lantai, lalu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu dengan tangan gemetar.
Ia kembali mendekat, merangkak di atas tubuh Ashela. Ia mencium setiap inci wajah gadis itu dahinya, kedua kelopak matanya, hingga turun kembali ke bibirnya.
Tangannya mulai menjelajahi lekuk tubuh Ashela di balik seragam pelayannya yang tipis. Setiap sentuhan tangan Elvano di atas kulit perut dan pinggang Ashela membuat gadis itu gemetar hebat.
"Siapa namamu?" bisik Elvano parau, wajahnya hanya berjarak beberapa milimeter dari wajah Ashela.
"A-Ashela..."
"Ashela..." Elvano mengulang nama itu seolah itu adalah mantra pemujaan.
"Kau... kau adalah obatku malam ini." liriknya lagi.
Elvano kembali mencium bibir Ashela, kali ini lebih dalam dan lebih menggebu. Tangannya mulai menarik lepas ikatan rambut Ashela, membiarkan rambut hitam panjang gadis itu tergerai di atas bantal putih.
Entah apa yang dipikirkan Elvano sekarang, tapi yang jelas ini adalah kenikmatan yang tiada tara, rasa sakit yang menyiksa berganti sebuah sensasi yang luar biasa.
Gairah di dalam kamar itu semakin memuncak, memenuhi udara dengan aroma hasrat yang tak tertahankan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!