Indonesia
NovelToon NovelToon

Kebohongan Besar Di Balik PernikahanKu

Kebenaran Dan Kebohongan

"Ibu Arini?" Panggilan petugas loket memecah konsentrasi Arini yang sedang mengawasi pergerakan pasar saham di ponselnya.

Arini berdiri dan melangkah maju, "Iya, Pak. Saya ingin mengurus penerbitan Kartu Keluarga baru. "Ia lalu memberikan berkas-berkas yang diperlukan kepada petugas itu.

Petugas pria berkacamata itu menerima dokumen Arini dan jemarinya mulai menari di atas keyboard. Keheningan yang mengikuti proses itu terasa lama bagi Arini. ia memperhatikan wajah petugas yang perlahan berubah dari datar menjadi berkerut penuh kebingungan.

" Maaf, Bu. saya sudah memeriksa Nik atas nama Galang Pramudya di sistem nasional." ujar petugas itu pelan, matanya masih Menatap layar monitor dengan serius. "Tapi di data kami status pernikahan Bapak Galang dan ibu belum terdaftar secara negara."

Arini tersenyum kecut, dia merasa pasti ada kesalahpahaman. "Mungkin ada kesalahan input, Pak. Kami sudah menikah lima tahun. Dan surat nikah kami yang asli disimpan suami."

Petugas itu menggeleng perlahan, ekspresinya kini berubah menjadi Iba. "Bukan itu masalah utamanya, Bu. Nama Bapak Galang Pramudya sudah terdaftar dalam sebuah kartu keluarga yang aktif sejak 6 tahun lalu. Di sini tercatat istrinya bukan atas nama Ibu melainkan seorang wanita bernama Dita Amalia. dan yang mengejutkan ada seorang anak laki-laki bernama Galih Pramudya yang terdaftar sebagai anak mereka dalam kartu keluarga tersebut.

Dunia Arini seketika berhenti berputar. Udara di ruangan ber-ac itu mendadak hilang, dan membuatnya sesak nafas. Fakta dan Kenyataan ini begitu mengejutkan.

" Apa maksud bapak? Dita? Itu... itu adalah nama pengasuh anak saya." suara Arini bergetar hebat. " Dan Galih, gali itu anak saya! Mana mungkin!"

" Saya hanya menyampaikan data di sistem, Bu. " petugas itu memutar komputernya mengarah ke Arini agar dia bisa melihat dan membaca sendiri, " Galih tercatat sebagai anak kandung dari Galang dan Dita. pernikahan mereka sah secara negara. sedangkan nama ibu... tidak muncul sama sekali dalam silsilah keluarga ini."

Kalimat itu menghantam Arini seperti petir yang menyambar tepat di ulu hati, menghancurkan seluruh bangunan jiwanya hingga berkeping-keping. Lima tahun... Lima tahun Ia hidup dalam bayang-bayang kebohongan yang sangat rapi. Pernikahan yang ia sakralkan, rumah tangga yang ia rawat dengan peluh dan doa, ternyata hanyalah sebuah panggung sandiwara di mana ia adalah satu-satunya orang yang menjadi peran pembantu yang bodoh.

Apakah semua ini bohong? Janji Suci di depan penghulu, malam-malam penuh tawa dan duka yang pernah mereka rasakan. Apakah semua itu palsu?

Dengan langkah gontai dan pandangan yang mengabur oleh air mata yang belum sempat jatuh, Arini keluar dari kantor tersebut. Ia tidak ingat bagaimana Ia bisa sampai ke rumah dengan taksi, pikirannya kosong namun hatinya meraung hancur, sedih kecewa dan sakit hati.

Selama lima tahun ini Arini selalu mengandalkan Galang. Setiap kali ia menanyakan perihal Kartu Keluarga dan akte kelahiran Galih yang asli Galang selalu punya jawaban yang sama. "Sabar ya, Sayang. Pekerjaanku lagi banyak aku masih belum bisa mengurusnya nanti kalau sudah agak longgar aku pasti akan mengurus semuanya."

Padahal dia tidak perlu mengurusnya sendiri, dia bisa meminta bantuan asistennya untuk mengurus hal kecil itu. Dan hari ini semuanya menjadi jelas. Galang tidak mengurusnya karena ada kebohongan besar yang sudah dia sembunyikan darinya selama ini.

Dan bodohnya Arini, ia selalu patuh dan menjadi istri yang mencintai suaminya tanpa syarat. Namun mungkin sudah saatnya Tuhan memberikan jalan kebenaran kepadanya. Saat mengurus pendaftaran Galih, ia harus segera mengurus kartu keluarga sebagai persyaratan. Dan akhirnya semua kebohongan yang mereka sembunyikan terungkap sudah.

Sesampainya di depan rumah mereka, Arini berhenti dan menatap rumah yang telah Ia tinggali selama ini. rumah yang ia kira penuh cinta, Ternyata semuanya palsu. Arini melangkah perlahan memasuki rumah. Namun langkahnya berhenti saat mendengar percakapan dua orang yang sangat ia kenal.

"Mas, Aku khawatir," itu adalah suara Dita. suara yang biasanya terdengar lembut dan sopan sebagai pengasuh, ini terdengar begitu manja,

"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Galang dengan kening berkerut.

"Galih sudah semakin besar. Wajahnya semakin hari semakin mirip denganmu. Orang-orang mungkin tidak akan curiga tentang anak kita. Tapi bagaimana dengan Arini. Cepat atau lambat dia akan mencurigai kemiripan wajah Galih denganmu. "

Arini membeku di balik dinding pembatas, tangannya mencengkram erat tasnya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kamu tenang saja, sudah lima tahun kita bermain cantik. Dan dia tidak tahu apa-apa. Dia selalu mempercayai semua kata-kataku, karena dia sangat mencintaiku. Kamu tidak perlu khawatir. "

" Tapi sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi begini? Aku lelah pura-pura menjadi pelayan di depan istri palsumu itu. Apalagi mendengar anakku memanggilnya mama. Ingin sekali ku sumpal mulutnya." ucap Dita kesal.

"Sebentar lagi. Aku masih membutuhkannya. Semua proyek di perusahaan dia yang menangani. Dan semua investor sangat mempercayainya. Aku tidak mungkin membuangnya begitu saja. Dia masih sangat berguna untuk perusahaan ku. Bersabarlah sedikit lagi. Kalau semua berjalan sesuai rencana, kita akan menjadi pasangan romantis di runah ini. " Galang mencoba menenangkan Dita istrinya.

"Baiklah aku akan menuruti keinginanmu itu. Selama ini apa sih yang enggak buat kamu. Kamu nikah pura-pura sama dia aja aku turutin, Anakku memanggil dia mama aja aku bolehin walau rasanya sakit sekali, saat anak kita memanggil wanita lain dengan panggilan mama. Tapi janji tidak akan lama lagi. Aku sudah bosan dengan peran ini. " kata Dita manja sambil mengusap dada Galang.

"Iya, tenang saja. Dan ingat, selalu kasih tau Galih jangan memanggilmu mama kalau ada Arini. Aku tidak mau semua rencanaku gagal karena kesalahan kecil anakmu itu. " Galang memperingatkan.

"Iya... iya, semua terkendali. Galih sangat bisa di ajak kerjasama. "

Mereka berdua berciuman dan berakhir melakukan hal panas itu di siang bolong di ruang keluarga tanpa rasa malu sedikitpun. Ini mungkin alasan Galang tidak mau melakukan hubungan ekstrem seperti itu, karena takut istrinya melihatnya dan menyakiti hatinya. Lalu bagaiman dengan dirinya yang sekarang? Saat mengetahui semua kebenaran dan kebohongan mereka.

Tawa kecil penuh luka menyusul kalimat kejam itu. Arini menyandarkan tubuhnya ke dinding tembok yang dingin. Kebenaran itu sudah terkuak, dan itu benar-benar menyakitkan.

Dia bukanlah ratu di rumah ini. Dia hanyalah orang asing yang dimanfaatkan, seorang figuran dalam keluarga kecil bahagia milik Galang dan Dita. Di dalam sana mereka merayakan kebahagiaan di atas kehancurannya, sementara ia berdiri sendiri hancur tak bersisa. dan tak lagi memiliki tempat untuk pulang nyaman.

Aku Menyerah, Pa!

Dinding pembatas di ruang tamu itu terasa dingin saat Arini menyandarkan punggungnya di sana. Nafasnya tertahan, rasanya benar-benar sesak setelah tahu kebenaran yang baru saja menghantam seluruh sendi kehidupannya. Setiap kata yang terlontar dari mulut Galang dan Dita di ruangan itu bagaikan belati yang meneliti harga dirinya. Pernikahan yang selama ini ia Bela mati-matian, ternyata hanyalah sebuah Panggung Sandiwara yang naskahnya telah disusun rapi oleh mereka.

Tanpa suara, Arini menarik diri. Ia melangkah mundur, keluar dari rumah yang kini terasa seperti penjara yang penuh dengan tipu daya. Ia harus pergi sebelum air matanya jatuh dan menunjukkan kelemahannya. Ia ingin mencari udara segar dan menghirup oksigen banyak-banyak yang tidak terkontaminasi oleh aroma penghianatan mereka.

Deru ombak di cafe pinggir laut itu sedikit meredam kebisingan dan kemarahan di kepala Arini. Ia duduk mematung, menatap hamparan laut biru yang membentang tanpa batas. Di sana, di antara aroma garam dan angin yang membawanya pertahanan Arini pun akhirnya runtuh juga. Arini menangis dalam diam untuk meluapkan semua kekecewaan dan rasa sakit yang ia rasakan.

Dengan tangan gemetar, Arini merogoh ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang selama ini ia hindari demi menjaga gengsi.

"Papa...! " suara Arini tercekat.

"Arini? Ada apa sayang? " suara berat di seberang sana langsung berubah menjadi cemas.

" Aku menyerah, Pa. Aku mau pulang! "

Hening sejenak. Arini bersiap untuk mendapat rentetan kalimat 'Papa bilang juga apa' atau penghakiman lainnya dari Papanya.Tapi sang Papa hanya menghela nafas panjang, sebuah nafas yang mungkin bisa merasakan kesedihan anaknya saat ini.

"Pulanglah! Pulanglah jika kamu lelah. Kamu masih memiliki keluarga yang bisa menerimamu untuk kembali. Papa sudah menyiapkan tempat untukmu."

" Makasih Pah. Tapi... Aku butuh waktu, Aku ingin membalas mereka dan tidak akan membiarkan mereka menang begitu saja, Aku tidak akan membiarkan mereka tertawa di atas kebohongan yang sudah mereka ciptakan. Aku akan mengambil kembali apa yang sudah aku berikan kepada mereka." ucap Arini dengan tatapan tajam lurus ke depan.

"Baiklah Papa mengerti. Papa tidak akan bertanya apapun sekarang, papa akan mencari tahu sendiri apa yang sudah membuat putri Papa menyerah pada pilihannya. Lakukan apa yang harus kamu lakukan hari ini. Papa akan mendukungmu dari belakang."

" Terima kasih, Pa. Aku merasa lega karena sudah bicara dengan papa."

Waktu Seolah berhenti sampai hari ini merasa cukup kuat untuk menginjakkan kaki lagi di rumah itu. Saat ia membuka pintu, sebuah pemandangan yang seharusnya terlihat hangat, kini tampak memuakkan di mata Arini.

di ruang tengah terlihat kita duduk dengan tenang menemani Galih. di sofa lain Galang tampak fokus dengan laptopnya. Mereka terlihat seperti potret keluarga kecil yang sempurna. Sementara Arini sendiri merasa seperti orang asing, seorang pengganggu dalam cerita yang mereka ciptakan.

Tanpa sepatah kata pun, dan tanpa menyapa mereka Arini berjalan lurus melewati mereka menuju kamarnya.

"Arini, kamu baru pulang?" suara Galang terdengar, namun hari ini terus melangkah tak menghiraukannya sama sekali hingga masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.

Di dalam kamar ia merosot dibalik pintu. Rasa sesak itu kembali datang . Mengingat kembali bahwa setiap pelukan dan setiap perhatian Galang kepadanya hanyalah bagian dari rangkaian rencana busuknya dengan Dita.

Tok, tok, tok.

"Arini! Kamu kanapa? Kamu baik-baik saja kan? " Galang berdiri di balik pintu, suaranya terdengar sangat perhatian, sungguh akting yang luar biasa. Dia pantas mendapatkan hadiah nobel.

"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah. Tolong jangan ganggu aku, aku ingin istirahat. " kata Arini sedikit berteriak

"Oh, ya sudah kalau begitu, istirahatlah. Aku akan membeli makanan untuk makan malam kita nanti." kata Galang lalu segera pergi dari sana. kembali ke ruang tengah menemui Dita.

"Apa katanya, mas? " tanya Dita penasaran.

"Dia cuma kecapean. Dan butuh istirahat, kita tidak boleh mengganggunya. " kata Galang dengan wajah lesu.

"Apa jangan-jangan Arini tau sesuatu mas, " tebak Dita, wajahnya menyiratkan kegugupan yang luar biasa..

Galang menggeleng pelan, mencoba menenangkan wanita di hadapan nya. Ia mengusap bahi Dita dengan lembut.

"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kita sudah bermain cantik selama ini, san Arini tidak mencurigai apa pun. Arini... dia hanya sedang kecapean dan butuh istirahat. Tinggal sedikit lagi Dita, dan setelah semua selesai, kita tidak perlu bersandiwara lagi. " ucap Galang dengan yakin.

Dia mengajak Dita kembali ke ruang tengah dan menemani Galih belajar mewarnai.

"Papa, gambar ini bagus nggak? " Galih menunjukkan sebuah gambar keluarga kecil disana ada seorang pria dan wanita juga anak kecil.

"Bagus sekali, Galih sudah pintar mewarnai sekarang. " Galang memberikan pujian kecil untuk mengapresiasi anaknya. "Kalau boleh tau, ini gambar siapa saja sayang? "

"Ini Papa, Ini Aku dan ini ibu Dita. " ucapnya polos sambil menunjuk gambar itu.

Galang dan Dita saling berpandangan dan tersenyum. Bahkan dalam senyum Dita tersirat sebuah kemenangan, karena selama ini dia selalu mengatakan kepada Galih kalau ibunya adalah Dita bukan Arini. Dan anak kecil yang masih polos itu bisa menerima Informasi itu dengan baik. Dia memangggil Dita dengan panggilan ibu sedangkan Arini dengan panggilan mama.

"Kenapa ini ibu Dita, bukan Mama Arini? " tanya Galang menyembunyikan senyumnya.

"Karena selana ini Ibu Dita yang bersama Galih, sedangkan mama hanya sibuk kerja. Jadi aku lebih suka sama ibu Dita daripada mama Arini. "

Galang tersenyum tipis mendengar itu, dia merasa kalau selama ini rencana sempurna dan Arini tidak pernah tau apa-apa. Dia tidak tau saja kalau Arini sudah merencanakan berbagai pembalasan yang akan dia lakukan kepada para penghianat ini untuk menghancurkan senyuman mereka.

***

Di sisi lain, Bayu papa Arini tersenyum penuh kepuasan kepada seseorang di hadapannya. Karena pada akhirnya anaknya menyerah setelah lima tahun begitu keras kepala pada pilihannya.

"Kau dengar itu Kevin." ucapnya pada sosok pria tampan di hadapannya.

"Ya, aku dengar semua, om. " jawab Kevin.

"Dasar anak bodoh. Kenapa harus butuh waktu lima tahun yang sia-sia untuk mengetahui kebusukan pria yang dia cintai. " Bayu geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan sifat anaknya yang satu ini. "Kini aku serahkan padamu, Kevin. Jika dia datang padamu, bantu dia membalas semua penipuan yang sudah dilakukan Galang kepadanya. Dan setiap kerja kerja keras yang dilakukan anakku harus dia bayar mahal. "

"Baik, Om. Aku mengerti. Aku pasti akan membantu Arini, dan kali ini aku tidak akan melepaskannya lagi." ucap Kevin penuh tekad.

"Bagus... Hanya kau pria yang pantas untuk anakku."

3. Pemeran Figuran

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden tidak lagi terasa hangat bagi Arini. Cahaya itu kini seperti lampu sorot yang memaksanya bangun untuk naik ke panggung sandiwara dan menjalankan perannya sebagai figuran. Matanya sedikit sembab namun sorot matanya telah berubah tak lagi layu dan tak berdaya. Kehancuran yang sudah meluluh lantakkan hidupnya kini telah membeku, dan merubah arah hidupnya.

Ia memakai setelan kerja berwarna merah dan lipstik dengan warna yang sama. Sebuah warna yang lebih berani dan jarang ia sentuh selama ini. Arini sudah bertekad akan mengakhiri semua ini.

Dengan langkah tenang ia keluar dari kamar menuju ruang makan. Aroma nasi goreng dan gelak tawa kecil menyapa indra penciuman dan pendengarannya. Disana ia lagi-lagi melihat pemandangan yang sama, sebuah keluarga kecil bahagia. Galang sedang membaca laporan di ponselnya, sedangkan Dita sedang menyuapi Galih dengan telaten. Merekan tampak begitu serasi, seolah-olah disana tidak ada tempat untuknya.

Arini menarik nafas panjang dan mendekati meja makan. Menarik kursi dan duduk di depan mereka. Membuat suasana yang tadi terlihat natural berubah menjadi tegang.

Galang berdehem tampak sedikit gugup saat melihat Arini sudah rapi dengan pakaian formalnya yang sedikit berbeda dari biasanya. Biasanya dia hanya menggunakan pakaian berwarna hitam, putih atau warna soft lainnya. Tapi kali ini, Arini terlihat sangat berbeda, sangat berani dan... Cantik.

"Selamat pagi, sayang. Kamu sudah siap ke kantor. " sapa Galang terdengar sangat basa basi. "Kemarin kamu terlihat sangat lelah, aku jadi tidak tega membangunkanmu. "

Arini tidak menjawab .Iya meraih piring dan mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai coklat, tanpa sepatah katapun.

"Emmm, Oh, ya, " Galang melirik Dita, "Semalam Dita menginap di sini. Galih sangat rewel, dan aku tidak tega membangunkanmu. Karena itu aku meminta Dita untuk menemaninya dan tidur bersamanya. Kamu tidak keberatan kan? "

Kalimat itu meluncur begitu mulus dari mulut Galang, sebuah kebohongan yabg dibalut dengan alasan demi kebaikan bersama. Sungguh luar biasa, tapi Arini tetap diam. Matanya masih fokus pada kegiatan mengoles selai lalu memakannya dengan perlahan. Ia sama sekaki tidak menggubris ucapan Galang, bahkan tidak melirik ke arah Dita dengan curiga sedikitpun.

Suasana berubah menjadi canggung. Galang sudah merasa sangat kedal dengan pengabaian dari Arini. Dia yang sudah terbiasa memegang kendali di rumah atau di kantor merasa Arini tidak sopan karena sudah mengabaikan.

"Arini, Aku sedang bicara padamu. Apa kau tuli? Suasana menjadi tidak nyaman saat kau bersikap acuh seperti itu. Dita merasa tidak nyaman, padahal dia hanya ingin membantu. "

Arini meletakkan rotinya dan menatap mereka satu persatu. Wajah Galih yang terlihat sangat polos, lalu beralih ke wajah Dita yang seolah merasa tidak nyaman, tapi mungkin di dalam hatinya dia berteriak penuh kemenangan. Dan yang terakhir ia menatap Galang, pria yang sudah menulis skenario ini selama ini. Benar-benar kisah yang luar biasa.

"Apa kamu tidak pernah mempelajari table manners? Di meja makan di larang banyak bicara, nanti tersedak. " ucap Arini datar. "Dan Terserah apa yang ingin kalian lakukan di rumah ini, aku tidak peduli."

Arini segera beranjak dari duduknya dan menyampirkan tasnya di pundak, "Aku sudah kenyang, silahkan kalian lanjutkan saja sarapannya. "

Tanpa menunggu balasan dari mereka, Arini segera meninggalkan meja makan itu. Galang dan Dita saling berpandangan. Ada kilat kepanikan di mata Dita saat melihat sikap Arini pagi ini. Sementara Galang merasa harga dirinya sudah di cabik-cabik oleh perlakuan dingin Arini, Ia segera bangkit dari duduknya dan mengejar Arini.

"Arini! Tunggu! " Galang menarik lengan Arini sebelum wanita itu membuka pintu mobil. "Kamu kenapa sih? Kenapa sejak semalam sikapmu berubah? Kalau ada masalah, katakan padaku jangan kau simpan sendiri. Bagaimana pun kita kan suami istri. "

Ingin sekali Arini tertawa mendengar ucapan pria dihadapanya ini. Dia menepis cekalan tangan Galang, dan menatap pria itu lekat-lekat. Mencari sisa-sisa cinta dari pria yang dulu sangat ia cintai, hingga harus mengabaikan perasaan papanya. Namun dia tidak menemukannya. Yang ia lihat hanyalah seorang penipu ulung yang sudah menjungkir balikkan hidupnya.

"Kamu tanya, apa yang terjadi? " ucap Arini dengan senyum sinisnya, "Bukankah kamu yang paling tau, apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, mas. "

"Apa maksudmu? " Suara Galang sedikit bergetar.

"Sebaiknya, kamu pikirkan saja sendiri. Aku harus pergi, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. " kata Arini dan langsung masuk ke dalam mobil, menjalankannya meninggalkan halaman rumah mewah itu, meninggalkan Galang yang diam berdiri mematung dengan berbahai pertanyaan yang berputar di kepalnya.

Dari belakang ia meraskan sebuah tangan melingkari perutnya, " Bagaimana, Apa yang dia katakan? " tanya Dita dengan sedikit godaan.

"Tidak ada, hanya saja ada sedikit yang aneh. "

Galang menceritakan pembicaraannya dengan Arini tadi. Dan disini lagi-lagi Dita mengambil satu kesimpulan.

"Jangan-jangan dia tau tentang kita, mas. "

"Sudahlah, jangan berfikir yang tidak-tidak. Mungkin dia hanya kelelahan banyak pekerjaan yang belum selesai, jadi membuatnya bersikap seperti itu. " Galang masih berpositif thinking. "Ayo masuk, aku juga harus bersiap ke kantor. "

Mereka berdua masuk kedalam rumah dan melanjutkan sarapannya yang sudah tak lagi sama. Galang memandangi piring yang berisis sisa roti milik Arini. Lagi-lagi ia menghela nafasnya.

"Arini terlihat sangat berbeda sejak semalam." gumam Dita yang masih terdengar Galang.

"Diamlah, Dita, jangan mengatakan hal yang sama. Itu membuatku pusing. " bentak Galang yang mengejutkan Dita dan Galih.

Sementara itu, Sepanjang jalan menuju ke kantor Galih, tangan Arini mencengkeram kemudi dengan kuat. Ia tau ini adalah awal dan akhir dari semua keputusannya. Sampai di kantor, Arini segera masuk kedalam ruangannya, menyalakan komputer dan mengetik sebuah dokumen yang sudah ia susun di kepalanya sejak semalam. Sebuah surat pengunduran diri.

Ia segera mencetaknya, membubuhkan tanda tangan dan menyerahkannya ke bagian HRD. Staf disana tampak terkejut saat menerima surat pengunduran Arini, karena yang mereka tau, Arini adalah istri dari Galang pemilik perusahaan ini. Dan posisi Arini sangat penting di perusahaan ini.

"Kami tidak berani menerima surat pengunduran diri ini, Bu Arini. Karena... "

"Segera proses pengunduran diri saya, tidak perlu menunggu konfirmasi dari Pak Galang. Saya tidak memiliki kontrak di perusahaan ini dan saya bebas mengundurkan diri kapan saja. Jika perusahaan mempersulit saya, saya tidak segan-segan melaporkan perusahaan ini karena sudah membatasi hak saya. " kata Arini menatap tajam ke arah direktur HRD.

"Baiklah, akan segera saya proses. Mungkin besok anda akan menerima gaji terakhir anda. " ucap direktur hrd itu dengan ragu.

"Saya tidak membutuhkan uang itu, simpan saja untuk bapak. "

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!